• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB X DIMENSI PSIKOLOGISDIMENSI PSIKOLOGIS

C. Hakikat Puasa

1. Pengertian Puasa Wajib

Saum atau puasa dalam Islam secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata mata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (QS Al-Baqarah 183)”

Puasa dalam bahasa Arab di sebut al-shaum yang berarti menahan (imsak). Sedangkan secara terminologis, puasa adalah suatu ibadah yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dengan cara mengendalikan diri dari syahwat makan, minum, dan hubungan seksual serta perbuatan-perbuatan yang merusak nilai puasa pada waktu siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

Wajib (fardhu) adalah suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapat dosa.

Puasa wajib (fardhu) adalah puasa yang harus dilaksanakan ber-dasarkan ketentuan syariat Islam.

2. Rukun Puasa

Niat puasa sejak malam hari –sebelum masuk waktu fajar/subuh.

“Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Dawud).

sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. “Dan makan dan minumlah

hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, lalu sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (QS. Al-Baqarah:187).

3. Adab Berpuasa

a) Niat karena Allah swt semata.

Niat ini cukup dalam hati tanpa diucapkan. Akan tetapi banyak ulama yang berbeda pendapat tentang hal ini. Yang pertama ialah menurut imam hanbali, menurut beliau niat cukup pada awal puasa saja untuk satu bulan penuh. Kedua, ialah menurut imam Maliki yang mengatakan niat bisa dimulai ketika awal ramadhan sekaligus. Yang terakhir yaitu menurut imam Syafii yang mengatakan bahwa niat dilakukan setiap malam atau bertepatan dengan terbitnya fajar shadiq. Bahkan jika semisal ada seseorang yang berniat puasa satu tahun yang lalu itupun sebenarnya sudah bisa dikatakan niat.

Berbeda halnya dengan puasa wajib, untuk puasa sunat kebanyakan ulama membolehkan berniat puasa pada siang hari, sebagaimana riwayat dari Aisyah bahwa Rosululloh saw pernah datang kepadanya dan bertanya “ apakah kamu punya sesuatu (maksudnya makanan?) jawab Aisyah “ tidak! Kata Nabi saw “ kalau begitu saya puasa saja”. Dan dari riwayat tersebut dapat disimpulkanb bahwa niat puasa sunat bisa dilakukan pada siang hari.

b) Makan sahur

Hukum makan sahur adalah sunnah muakkadah. Berkata Ibnul Mundzir: “Umat ini telah bersepakat bahwa makan sahur hukumnya sunnah dan tidak ada dosa bagi yang tidak melakukannya berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Artinya: “Makan sahurlah, karena

sesungguh-nya pada makan sahur itu ada barakahsesungguh-nya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari riwayat tersebut sudahlah jelas bahwa sahur pada saat akan berbuasa sangatlah dianjurkan. Sedangkan waktu makan sahur yang disunatkan dan yang paling baik menurut Nabi saw yaitu diakhir malam.

c) Menjauhi Hal-Hal yang Dapat Membatalkan Puasa atau Mengurangi Nilai Puasa.

Selain yang telah disebutkan di atas berkumur secara berlebihan saat berwudu juga termasuk salah satu hal yang bisa mengurangi nilai puasa. Seperti sabda Nabi saw yang artinya “sempurnakanlah dalam berwudhu, sela-selailah diantara jari-jemarimu dan smpikanlah (ke dalam-dalam) dalam berkumur, kecualai kamu berpuasa”. (HR. Imam yang lima, dari Laqith bin Shabirah).

Orang yang menjalankan ibadah puasa diharuskan menjauhkan perkataan dusta sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bersabda Rasulullah SAW: “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka tidak ada keinginan Allah pada puasanya” (HR. Bukhari)

4. Hal hal yang membatalkan Puasa

a) Makan dan minum dengan sengaja

Allah subhanallahu wata’ala berfirman dalam QS Al-Baqarah 187, Artinya:“Makan dan minumlah hingga jelas bagi kalian benang

putih dari benang hitam dari fajar kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”

Namun jika seseorang lupa maka puasanya tidak batal, berdasar-kan hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, artinya, “Jika

ia lupa lalu makan dan minum maka hendaklah dia sempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah yang memberinya makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

b) Keluar darah haidh dan nifas

Hal ini sebagaimana dikatakan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Adalah kami mengalami (haidh), maka kami diperintahkan

untuk meng-qadha puasa dan tidak diperintahkan meng-qadha shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

c) Melakukan hubungan suami istri di siang hari Ramadhan Hal ini berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan kesepakatan

para ulama. Bagi yang melakukannya diharuskan membayar kaffarah yaitu membebaskan budak, bila tidak mampu maka berpuasa dua bulan secara terus-menerus, dan bila tidak mampu juga maka memberi makan 60 orang miskin. Hukum ini berlaku secara umum baik bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun bila seseorang melakukan hubungan suami istri karena lupa bahwa dia sedang berpuasa, maka pendapat yang kuat dari para ulama adalah puasanya tidak batal, tidak ada qadha dan tidak pula kaffarah. Hal ini sebagaimana hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Artinya, “Barangsiapa yang berbuka sehari di bulan Ramadhan

karena lupa, maka tidak ada qadha atasnya dan tidak ada kaffarah (baginya).” (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)

d) Berbekam

“Telah berbuka (batal puasa) orang yang berbekam dan yang dibekam.”

(HR. At-Tirmidzi)

Ada beberapa perkara lain yang juga disebutkan sebagian para ulama yang termasuk pembatal puasa, di antaranya:

e) Muntah dengan sengaja

“Barangsiapa yang dikalahkan oleh muntahnya maka tidak ada

sesuatu atasnya dan barangsiapa yang sengaja muntah maka hendaklah dia meng-qadha.” (HR. Ahmad)

f) Menggunakan cairan penngganti makanan seperti infus

Terjadi perselisihan di kalangan para ulama, dan yang rajih bahwa suntikan terbagi menjadi dua bagian, Suntikan yang kedudukannya sebagai pengganti makanan maka hal ini membatalkan puasanya, sebab nash-nash syari’at bila didapatkan pada sesuatu yang termasuk dalam penggambaran yang sama maka dihukumi sama seperti yang terdapat dalam nash. Dan Suntikan yang tidak berkedudukan sebagai pengganti makanan, maka hal ini tidaklah membatalkan puasa sebab gambarannya tidak seperti yang terdapat dalam nash baik lafadz maupun