BAB V PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
E. Materi Pendidikan Islam Untuk Anak Usia 0-6
Materi pendidikan Islam dapat diartikan sebagai pelajaran-pelajaran agama yang mengandung prinsip-prinsip Islam yang ditanamkan sejak dini oleh orang tua kepada anak di dalam keluarga Muslim. Sedang keluarga adalah unsur terkecil dari kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian, pemberian materi pendidikan agama di dalam keluarga pada anak, harus disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan (Patmonodewo, 2000: 19), fisik maupun psikis anak. Hal ini dimaksud untuk memudahkan pendidik (orangtua), dalam menginternalisasikan materi pendidikan agama yang sesuai dan pantas diberikan pada anak dalam jenjang pertumbuhan dan perkembangan tersebut.
Para orangtua dan Pendidik harus menyadari, bahwa pendidikan agama bukanlah sekedar mengajarkan pengetahuan agama dan melatih keterampilan anak dalam melaksanakan ibadah. Pendidikan agama jauh lebih luas dari pada itu, yakni meliputi pembentukan kepribadian anak sesuai dengan ajaran agama. Pembinaan sikap, mental dan akhlak, jauh lebih penting dari pada pandai menghafal dalil-dalil dan
hukum-hukum agama, yang tidak dihayatinya ke dalam hati.
Pendidikan agama seharusnya dapat mewarnai kepribadian anak, sehingga agama itu benar-benar menjadi bagian dari kepribadian yang kelak menjadi pengendali dalam kehidupnya dikemudian hari. Dari itu, seharusnya orangtua dan Pendidik di dalam dirinya hendaknya juga tercermin kepribadian agama, baik dari sikap, tingkah laku, gerak-gerik, cara berpakaian, cara berbicar, cara menghadapi persoalan-persoalan hidup dan sebagainya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pendidikan akan sukses, apabila materi agama atau ajaran agama itu hidup dan tercermin dalam pribadi pendidik/orangtua, sebelum diajarkan kepada anak-anak didiknya.
Agar materi pendidikan agama yang diberikan orang tua/ pendidik kepada anak, berhasil guna dan berdaya guna, maka materi tersebut harus disesuaikan dengan kondisi obyektif menurut jenjang usia perkembangan anak. Dalam konteks ini, Zakiah Daradjat membagi tingkat usia perkembangan jiwa anak pada anak-anak menjadi: Anak-anak pada tahun pertama (0-6), Anak-anak-Anak-anak pada usia sekolah (6-12), masa remaja pertama (13-16), masa remaja terakhir (17-21) (1996: x). Masing-masing anak perlu dididik dan diperlakukan (treatment) sesuai dengan tingkat perkembangannya. Hal ini tentunya dimaksudkan untuk memudahkan para orangtua dan pendidik dalam memberikan materi agama pada anak, sehingga materi tersebut dapat diserap dan terinternalisasi dengan mudah dalam diri dan kepribadian anak. Namun Tulisan ini pembahasannya di batasi pada anak usia 0-6 tahun, sedangkan selebihnya akan dibahas dalam bab selanjutnya.
1. Materi Pendidikan Agama untuk Anak Usia 0-2 Tahun
Pendidikan dalam keluarga terjadi sebelum anak masuk sekolah, tidak secara formal. Pemberian materi pendidikan agama pada usia ini melalui semua pengalaman anak, baik melalui ucapan yang didengarnya, tindakan, perbuatan, dan sikap yang dilihatnya maupun perlakuan yang dirasakannya. Karena itu, kondisi orangtua dalam kehidupan sehari-hari mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembinaan kepribadian anak. Hal ini disebebkan pada
tahun-tahun pertama dari pertumbuhan si anak belum mampu berpikir dan perbendaharaan kata-kata yang mereka kuasai masih sangat terbatas, serta mereka belum mampu memahami kata-kata abstrak. Akan tetapi mereka dapat merasakan sikap, tindakan dan perasaan orangtua. Mereka merasa disayangi atau dibenci oleh orangtua. Mereka senang kalau orangtua rukun dan sebaliknya mereka akan sedih bila orangtua cekcok. Gerak-gerik orangtua menjadi perhatian anak pada usia ini (Daradjat:109-110).
Dalam Islam, proses pendidikan anak sebenarnya sudah harus dimulai sedini mungkin, yaitu sejak proses pemilihan jodoh, kemudian sebelum bayi dilahirkan (pra natal), samapi saat kelahiran dan seterus-nya.
a) Pemilihan Jodoh
Pada proses pemilihan jodoh, Islam menganjurkan agar pria atau wanita mencari jodoh dari kalangan orang baik-baik, terutama dalam hal konteks keberagamaannya (Daradjat,1992:54). Hal ini dimaksudkan agar, suami-suami memiliki kapasitas untuk menjalankan peranannya sebagai pendidik anak-anaknya sesuai dengan ajaran Islam.
b) Menghiasi Diri dengan Amal Ibadah
Selanjutnya, ketika anak dalam kandungan, Islam menganjurkan agar orang tua mendidik calon bayi dengan menghiasi diri mereka dengan amal ibadah, seperti shalat wajib, dan sunnah, puasa, memperbanyak membaca ayat al-Quran, sedekah dan lain-lain. Semua ini dimaksudkan sebagai proses pembiasaan kepada calon bayi, agar kelak setelah lahir terbiasa melakukan amal ibadah. Ringkasnya, materi pendidikan agama pra natal adalah orangtua, terutama ibu, membiasakan dirinya dengan berbagai amal ibadah, baik yang wajib yang sunnah, sebagai penciptaan kondisi awal menyambut kelahiran bayinya.
c) Menyebarkan Berita Suka Cita Kelahiran Anak
Setelah itu, kehadiran anak yang baru lahir itu hendaknya disampaikan kepada keluarga dan sanak famili, sehingga semua akan bersuka cita dengan berita gembira ini. Diceritakan dalam Al-Quran
kisah tentang Nabi Ibrahim as, bersama Malaikat pada surah Hud ayat 71 sebagai berikut: Artinya: “Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu
dia tersenyum, maka Kami (Allah) sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq (akan lahir putranya) Ya’qub”.
Dari firman Allah tentang kisah Nabi Zakariyah as, dalam surah Ali-Imran ayat 39, Artinya: “Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil
Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya), ”Sesungguhnya Allah menggembirakan kami dengan kelahiran (seorang putranya) Yahya.”
Adapun Tahni’ah (ucapan selamat), tidak ada nas khusus dari nabi saw, dalam hal ini, kecuali apa yang disampaikan Aisyah ra yang diriwayatkan Muslim dan Abu Daud sebagai berikut:
مهكنحيو ةكربلاب مهل وعديف نايبصاب يتؤي معلص الله لوسر ناك
Artinya: “Rasulullah SAW., apabila dihadapkan kepada beliau anak-anak
bayi, maka beliau mendoakan keberkahan bagi mereka dan mengolesi langit-langit mulutnya dengan korma atau madu (Nasih ‘Ulwan,1987:76).”
d) Memperdengarkan Azan
Setelah semua diberikan kabar gembira ini, lalu orangtua (ayah) hendaknya memperdengarkan azan di telinga anak yang baru lahir tersebut, agar kalimat yang pertama sekali didengarnya adalah kalimat tauhid, kalimat suci yang mengagungkan Allah. Tujuan mem-perdengarkan azan ini adalah untuk penanaman jiwa taqwa ke dalam diri anak. Hal ini dimaksudkan dapat menjadi prisai kepribadian yang dipenuhi keyakinan beragama itulah yang menjadi polisi, pengawas dari segala tindakannya (Zakiah Daradjat, 1982: 44). Selain itu, azan berpengaruh untuk mengusir dan menjauhkan setan dari bayi yang baru lahir. Setan senantiasa berupaya untuk mengganggu dan mencelakakannya. Kondisi ini telah diperaktikkan Rasul saw, ketika Fatimah melahirkan Hasan, sebagaimana hadist yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmizi berikut ini: