• Tidak ada hasil yang ditemukan

Saya ingin ke Pak Putu, saya merasa senang sekali ada Pak Putu sebagai mantan penyelenggara pemilu yang cukup lama sebelum di tingkat pusat juga sudah jadi penyelenggara di tingkat provinsi di Bali.

Nah, tentu Pak Putu akrab dengan regulasi-regulasi sebagai penjabaran dari undang-undang yang berkaitan dengan pemilu, termasuk PKPU-PKPU untuk menjabarkan norma yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

Pertanyaan saya, Pak Putu, ini kan Pak Putu sebagai mantan penyelenggara, apakah ketika di dalam norma undang-undang yang kemudian dijabarkan ke dalam norma yang lebih … apa … lebih operasional, katakanlah seperti PKPU. Itu kemudian ternyata di lapangan oleh bawahan KPU, misalnya KPU tingkat kabupaten/kota atau tingkat PPK atau di tingkat lebih bawah lagi, ternyata tidak tunduk pada norma itu. Katakanlah KPPS, KPPS sudah diberitahu bahwa pada saat penghitungan suara untuk menentukan suara mana yang sah, saya yakin KPU sudah memberi apa … memberi pengarahan seperti itu. Tapi kemudian, ternyata di lapangan … ternyata di lapangan sebagai contoh misalnya KPPS ketika menghitung suara ada yang mestinya menurut norma itu, ini suara sudah tidak sah gitu, tapi kemudian oleh KPPS atau petugas di lapangan tetap saja dianggap sah. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap itu, Pak Putu?

80. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Maka yang paling pertama bertanggung jawab pada saat pemungutan suara adalah saksi dari pasangan calon. Merekalah yang pada forum ketika Berita Acara itu ingin ditandatangani membuat catatan keberatan berapa dia melihat fakta bahwa misalnya surat suara dilubangi, atau matanya diambil, atau tidak. Karena nanti eksekusi hukumnya adalah surat suara itu wajib dinyatakan tidak sah. Tidak ada urusan dengan pemungutan suara ulang. Jadi, ketika surat suara itu tidak dicoblos sesuai dengan aturan, maka surat suara itu dinyatakan tidak sah dan itu ada implikasi pidananya. Saya sekaligus menjawab pertanyaan Majelis tadi kepada Prof. Saldi. Maka ketika orang kemudian mendokumentasikan di situ dan itu misalnya, sekali lagi misalnya benar, maka itu ada urusannya dengan pidana karena pasti ada urusan kemudian dengan melanggar prinsip rahasia dan politik uang di situ.

Kenapa KPU … saya kebetulan suasana kebatinannya menangkap aturan itu ketika masih saya, kenapa tidak boleh di bilik membawa kamera? Karena praktiknya sebelum-sebelum itu dia potret, lalu ditukar dengan uang di luar. Nah, maka untuk mencegah itu tidak boleh ada kamera di dalam bilik, tetapi begitu selesai pemungutan suara, boleh bawa kamera oleh saksi lalu memotret C-1 Plano, boleh. Aturannya jelas mengatur. Memotret DPTb-2 boleh, aturannya mengatur. Tapi memotret hasil pilihan masing-masing itu yang tidak boleh. Demikian, Majelis.

81. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Lagi, Pak … Pak yang terhormat, Pak Putu. Ini di dalam permohonan Pemohon, di dalam permohonan Pemohon ini halaman 15.

Pemohon mendalilkan ada TPS di Desa Sungai Pinang, ya, DPT-nya itu 313. Tapi kemudian, kertas suara yang ada di sana hanya ada 221.

Sementara normanya adalah kertas suara harus sesuai dengan jumlah DPT, plus 2,5%, gitu. Nih, kalau terjadi gini gimana, Pak?

82. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Seharusnya ketika rapat pemungutan suara dibuka pukul 07.00, maka saksi memperoleh DPT, dan di situ ada 313, itu tidak boleh dilakukan proses pemungutan suara, dan saksi harus melakukan komplain pada saat itu.

83. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Baik, satu lagi Pak Putu. Saya setuju dengan apa yang Pak Putu katakan tadi bahwa mestinya filosofi yang … salah satu filosofi yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 15 … Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 itu adalah ingin memberi apa … memberi peran kepada lembaga-lembaga yang terlibat di dalam pemilihan kepala daerah ini. Mulai dari tingkat desa ada apa … pengawas lapangan, ada petugas di tingkat kecamatan, di tingkat kabupaten, di tingkat kota, dan seterusnya, serta ada kepolisian, Gakkumdu, dan sebagainya. Salah satu filosofinya dan itu kita sudah setir di dalam putusan kita bahwa kita mau supaya itu bekerja secara optimal.

Pertanyaannya, mungkin Pak Saldi juga bisa mengomentari, ini yang terakhir. Pertanyaannya, ketika lembaga-lembaga yang diberi kewenangan untuk memproses itu katakanlah Bawaslu, tempatnya masyarakat mengadu dan masyarakat sudah mengadukan. Kemudian panwas ada 2 kemungkinan, dia tindak lanjuti atau tidak ditindaklanjuti, yang ditindaklanjuti pun juga ada beberapa kemungkinan, misalnya tindak lanjutnya dalam bentuk rekomendasi kepada KPU untuk

Apakah menurut Pak Putu bahwa sebenarnya persoalan ini enggak boleh lagi diperiksa oleh MK, sudah selesai, gitu? Itu kira-kira gimana, Pak Putu?

84. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Jawaban saya tergantung derajad persoalannya, Majelis. Saya ingin mengatakan begini, filosofi yang harus kita tegakkan di sini. Ketika tanggal pemungutan suara, maka tokoh kunci yang sangat sentral di situ bukan pasangan calon, bukan anggota KPU, tapi saksi pasangan calon.

Ia melebihi kewenangan siapapun pada saat itu, bahkan oleh pasangan calon. Filosofi ini yang sama sekali di berbagai pilkada tidak dipahami, sehingga sering pasangan calon menganggap persoalan saksi itu persoalan yang sangat sederhana.

Contoh misalnya, ketika kita menganggap bahwa saksi itu saksi kunci, maka siapa yang diharuskan di situ, apa tugas mereka, harus jelas. Perdebatan-perdebatan di Majelis ini kita bicara soal C-6 DPTb-2, maka kalau saksinya di … dibimtek dengan baik, dia pasti punya foto, foto dari ATb-2, daftar absen DPTb-2 itu. Sehingga bisa di situ di-cross-check, apa betul yang bawa DPTb-2 apa namanya … jumlahnya sekian, siapa orangnya, sehingga dari situ bisa di-cross-check, kemudian dia memenuhi syarat atau tidak dia sebagai pemilih. Nah, saya ingin mengatakan bahwa figur saksi inilah yang kemudian menjadi sangat sentral.

Terkait dengan pertanyaan Majelis tadi, maka tergantung tingkat persoalan yang terjadi, apakah kemudian bisa dibawa ke Majelis atau tidak. Contoh sederhana, ketika itu terjadi di level pemungutan suara, maka sudah ada mekanisme komplain berjenjang. Katakanlah misalnya, ada saya membaca di permohonan “Oh, surat suaranya bertambah lagi sekian,” apa … “Surat suaranya kurang, surat suaranya ditambah,”

segala macam. Komplainnya selesai kok, ringan di situ. Di TPS dibuat catatan keberatan, lalu diklarifikasi di PPK, tuntas di TPS itu. Maka karena dia tidak ada urusannya dengan hasil pemilihan apakah sah atau tidak, seharusnya sudah selesai di situ.

Politik uang misalnya, ketika bicara soal politik uang dan itu terjadi pada saat pemungutan suara, maka harus segera diproses sehingga sebelum rekapitulasi pada tanggal berapa, misalnya tanggal 18, tanggal 19, sudah ada setidak-tidaknya kajian Gakkumdu, dan itu silakan dibawa ke Mahkamah Konstitusi sebagai satu dokumen tambahan. Tapi yang fatal kemudian adalah kalau misalnya ada di satu tempat, KPU-nya kemudian yang bermain-main menyangkut masalah pencalonan.

Katakanlah ke sini saja kita pakai soal PPP atau apa misalnya, maka seharusnya di situ bagi pasangan calon segera proses itu di Bawaslu. Oh, mentok di Bawaslu, segera bawa ke PTUN apapun hasilnya karena pada hari ke-69 akan final. Anak-anak ini kalau memang nakal, bawa segera

ke DKPP karena DKPP juga akan memeriksa itu benar atau tidak, sehingga sebetulnya pasangan calon punya dua amunisi, kalau ia bisa tuntas di DKPP dan di DKPP dinyatakan bersalah misalnya, amunisi inilah yang bisa dibawa ke forum ini untuk menjustifikasi putusan Majelis nanti atau misalnya di PTUN. Itu kira-kira apa … gambaran penyelesaiannya.

Tapi kalau pada level di level bawah, maka sebetulnya kalau itu terjadi masif, saya kira mungkin saja akan terjadi mungkin 100 pemungutan suara ulang, kalau misalnya terbukti ada satu, dua orang hadir di situ memberikan suara lebih dari sekali atau mengambil C-6 milik orang lain dan … dan seterusnya.

Saya kira demikian penjelasan saya, Majelis.

85. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Baik, terima kasih. Ini karena Pak Putu adalah Ahli yang sangat mendalami soal pemilihan, ya, terima kasih banyak sekali yang kami bisa tangkap. Barangkali Prof. Saldi juga ada tadi?

86. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Ya, ini soal putusan Mahkamah Konstitusi memang mengatakan agar institusi-institusi yang didesain oleh undang-undang itu bisa bekerja secara optimal dan secara tuntas.

Pertanyaan kita adalah pertanyaan yuridisnya, kalau institusi-institusi itu tidak bisa optimal dan tidak bisa melakukan sesuatu secara tuntas, tentu harus ada institusi yang bisa menyelesaikan itu.

Nah, saya menganggap, makanya yang rujukkan saya utama adalah mengapa Mahkamah Konstitusi begitu men-dismiss yang tidak lolos ambang batas, lalu mengatakan yang lolos ambang batas itu akan diperiksa seca apa … semua, Pak, semua tahapan. Jadi, akan tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh karena ada kekhawatiran di diri Mahkamah Konstitusi sendiri bahwa mereka yang lolos itu, itu mungkin apa namanya … institusi-institusi yang diberi otoritas untuk menyelesaikan segala soal, itu belum bisa bekerja secara optimal sehingga persoalannya belum tuntas. Nah, di sinilah tempatnya untuk menuntaskan soal-soal seperti itu, Yang Mulia.

Misalnya begini, tadi kan disebutkan kalau ada yang dicongkel matanya, itu kan bisa dianggap memberikan tanda, bisa juga itu cara untuk mengontrol, dan ini akan mudah terjadi di daerah-daerah yang tertentu yang dikuasai oleh pasangan calon. Kita tidak tahu siapa pasangan calonnya, misalnya saya pasangan calon itu meng … mengusai lokasi tertentu untuk memastikan orang-orang memilih saya. Saya katakan, “Anda kalau memilih saya, buktinya harus dilakukan cara yang begini.”

Dulu saya masih ingat ketika Bang Yusril ikut jadi calon presiden di MPR tahun 1999, ya, Bang, ya? Itu ada calon yang memilih nama tertentu, lalu menulis OY di situ. Itu kan artinya menginformasikan dengan tanda itu kepada orang lain bahwa dia memilih itu dan jangan-jangan itu sudah diberikan isyarat, “Kalau Anda memilih ini, harus tandanya begini.”

Nah, ini menurut saya salah satu cara yang apapun putusannya nanti, saya berharap Mahkamah Konstitusi bisa memberikan warning bahwa cara-cara seperti ini adalah cara yang tidak dibenarkan karena itu memengaruhi salah satu prinsip dasar dalam penggunaan hak pilih.

Terima kasih.

87. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Satu lagi, Pak, ini menyambung tadi yang … menarik tadi yang Pak Putu sampaikan. Bahwa memang ada indikasi pasangan calon tertentu sebenarnya sudah memahami atau mengetahui ada sejumlah dugaan-dugaan pelanggaran, tapi kemudian dia biarkan saja dengan harapan ini nanti kita tumpuk sebagai alasan untuk ke MK. Nah, itu yang pertama.

Yang kedua. Ada juga kejadian-kejadian yang memang pasangan calon tahu bahwa ada pelanggaran dan pasangan calon itu sudah berusaha untuk melakukan sesuai dengan mekanisme, misalnya melaporkan ke panwas atau ke Bawaslu, dan sebagainya, tapi kemudian tidak ada tindakan yang dilakukan secara kongkrit atau tidak ada tindak lanjut yang dilakukan oleh Bawaslu atau panwaslu. Itu menurut Prof.

gimana, Prof.? Ini yang terakhir, Prof.

88. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Ya, kalau ada yang sengaja menumpuk itu tidak benar juga pekerjaan seperti itu. Jadi, kan ini bukan tempat untuk … tempat apa namanya … keranjang sampah. Oleh karena itu menurut saya, upaya pihak-pihak untuk menempuh jalan itu mesti menjadi salah satu poin yang harus dilihat oleh Mahkamah Konstitusi. Jadi, harus diperiksa semua, membiarkan saja atau telah melakukan. Karena begini, ada juga kekhawatiran … apa namanya … bagi apa … peserta Pemilu karena mungkin sudah satu, dua pengalaman, ini kalau didorong juga terus begitu, ndak jalan-jalan juga. Dia tidak mau melakukan, memperlambat waktu, dan segala macamnya. Jadi, itu sangat mungkin terjadi.

Jadi, dua-duanya bisa dilihat secara fair, Yang Mulia. Ada mungkin orang yang sengaja menumpuk. Tapi ada orang juga yang kemudian sudah berupaya, tapi karena kecewa atau khawatir proses itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jadi, bisa dilihat saja dalam proses persidangan ini.

Jadi, kalau boleh saya mengusulkan. Ini karena agak apa … rumit.

Mungkin pemeriksaannya bisa dilakukan bukan mendalam dan segala macam, dan tidak perlu juga buru-buru di apa … diselesaikan sidang ini, mungkin bisa beberapa kali untuk membuktikan semua dalil yang ada.

Sehingga itu bisa jadi pelajaran bagi kita ke depan. Nah, kalau orang main-main datang ke sini, ini bisa disikat saja oleh Mahkamah Konstitusi.

Terima kasih.

89. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Terima kasih, Prof. Sardi. Saya mau ke Kuasa Pemohon dulu. Di halaman 15 permohonan Saudara, itu di TPS 2 Desa Sungai Bawang, Kecamatan Singingi. Berdasarkan kesaksian saksi Pemohon di TPS yang membuat catatan dengan teliti, perolehan suara Pemohon sebanyak 164 suara. Namun, di C-1 hanya 64 suara. Ya, betul ya di situ?

90. KUASA HUKUM PEMOHON: HERU WIDODO

Dokumen terkait