• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 65/PHP.BUP-XIV/2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 65/PHP.BUP-XIV/2016"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

(1)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

--- RISALAH SIDANG

PERKARA NOMOR 65/PHP.BUP-XIV/2016

PERIHAL

PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI KUANTAN SINGINGI

ACARA

MENDENGARKAN KETERANGAN SAKSI/AHLI PEMOHON, TERMOHON, PIHAK TERKAIT, DAN KETERANGAN BAWASLU

(III)

J A K A R T A

(2)

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

---

PERKARA NOMOR 65/PHP.BUP-XIV/2016

PERIHAL

Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Kuantan Singingi

PEMOHON

Indra Putra dan Komperensi

TERMOHON

KPU Kabupaten Kuantan Singingi

ACARA

Mendengarkan Keterangan Saksi/Ahli Pemohon, Termohon, Pihak Terkait, dan Keterangan Bawaslu (III)

Senin, 1 Februari 2016, Pukul 14.00 – 15.31 WIB Pukul 16.13 – 18.27 WIB Pukul 19.11 – 20.00 WIB

Ruang Sidang Panel II, Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat

SUSUNAN PERSIDANGAN

1) Anwar Usman (Ketua)

2) Aswanto (Anggota)

3) Maria Farida Indrati (Anggota)

Achmad Dodi Haryadi Panitera Pengganti

(3)

Pihak yang Hadir:

A. Pemohon:

1. Indra Putra 2. Komperensi

B. Kuasa Hukum Pemohon:

1. Heru Widodo 2. Dhimas Pradana

C. Ahli dari Pemohon:

1. Saldi Isra

D. Saksi dari Pemohon:

1. Delfi 2. Muajir 3. Ali Usman 4. Rudi Setiawan 5. Masdar

E. Termohon:

1. Firdaus 2. Indri Sukri 3. Ilham

F. Kuasa Hukum Termohon:

1. Mayandri Suzarman 2. Deprianda

3. Missiniaki Tolmi

G. Saksi dari Termohon:

1. Wigati Iswandhiari 2. Junedi

3. Mardius Adi Saputra 4. Saptono

5. Lilik Suhartono H. Pihak Terkait:

(4)

1. Mursini

I. Kuasa Hukum Pihak Terkait:

1. Yusril Ihza Mahendra 2. Agus Dwi Warsono 3. Asep Ruhiat 4. Fitri Andrison 5. Rozy Fahmi

6. Nur Syamsiati Duha

J. Ahli dari Pihak Terkait:

1. I Gusti Putu Artha

K. Saksi Pihak Terkait:

1. Suyitno 2. Masriadi 3. Febrion Putra 4. Aprisal

5. Asnaldi

L. BAWASLU:

1. Rusdi Ruslan

M. Panwaslu Kuantan Singingi 1. Alpias

(5)

1. KETUA: ANWAR USMAN

Sidang Perkara Nomor 65/PHP.BUP-XIV/2016 dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua. Dari sekian banyak perkara pilkada yang diajukan ke MK, hanya sekian, ya, sangat terbatas yang persidangannya diteruskan termasuk Perkara Nomor 65/PHP.BUP-XIV/2016 ini.

Perlu kami sampaikan, ya seperti halnya pada persidangan yang lalu, ada informasi yang cukup mengganggu terkait dengan perkara ini.

Ada salah satu media, tempo hari, dan sudah disampaikan pada sidang ini. Kami ulangi lagi, ya. Dimohon dengan sangat untuk kita semua, terutama Pemohon, Termohon, dan Pihak Terkait untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum, ya. Tidak hanya hukum negara, lebih- lebih hukum agama, dalam rangka untuk mencapai tujuan masing- masing. Insya Allah, ya kita semua tentu … terutama Majelis, ya, tidak berharap terjadinya peristiwa yang pernah menggemparkan dan membuat MK terpuruk. Maka, kewajiban kita untuk menjaga, untuk meraih kembali marwah Mahkamah Konstitusi.

Baik, kita mulai dengan memperkenalkan diri. Silakan, Pemohon.

2. KUASA HUKUM PEMOHON: HERU WIDODO

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera.

Pemohon dalam Perkara Nomor 65/PHP.BUP-XIV/2016, hadir Pasangan Calon Nomor Urut 1, Bapak Indra Putra dan Ibu Komperensi selaku Calon Bupati dan Wakil Bupati, didampingi kami Kuasa Hukumnya, Yang Mulia. Saya Heru Widodo, sebelah kanan saya, Dhimas Pradana. Terima kasih, Yang Mulia.

3. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, baik. Lanjut ke Termohon?

4. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera buat kita semua. Kami dari Termohon, hadir, Pak

SIDANG DIBUKA PUKUL 14.00 WIB

KETUK PALU 3X

(6)

saya, Mayandri Suzarman sebagai Kuasa Hukum, ada Deprianda, ada Missiniaki Tolmi, dan ada beberapa orang Komisioner KPU. Terima kasih.

Assalamualaikum wr. wb.

5. KETUA: ANWAR USMAN Ya. Pihak Terkait?

6. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: YUSRIL IHZA MAHENDRA

Terima kasih, Yang Mulia. Kami yang hadir mewakili Pemohon, pertama saya sendiri Yusril Ihza Mahendra, kemudian Saudara Agus Dwi Warsono … Pihak Terkait, mohon maaf. Agus Dwi Warsono, kemudian Nur Syamsiati Duha, Rozy Fahmi, Asep Ruhiat, dan paling ujung adalah Fitri Andrison. Hadir juga pada kesempatan ini, Pak I Gusti Putu Artha, yang kalau ada kesempatan untuk memberikan keterangan Ahli.

Sedangkan Pihak Terkait, Prinsipal Pak H. Mursini juga hadir pada kesempatan ini. Demikian, Yang Mulia.

7. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, terima kasih. Pihak Pemohon mengajukan lima Saksi dan satu Ahli, ya?

8. KUASA HUKUM PEMOHON: HERU WIDODO

Benar, Yang Mulia. Sebagaimana diberitahukan oleh Kepaniteraan, hari ini ada lima Saksi yang diminta dihadirkan meskipun sebenarnya kami sudah siap 59 saksi, Yang Mulia. Mana kala nanti tidak ada kesempatan, kami mohon izin kesaksian tertulis disampaikan dipersidangan.

9. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, ya, silakan. Bisa kalau saksi yang tertulis.

10. KUASA HUKUM PEMOHON: HERU WIDODO Ya.

11. KETUA: ANWAR USMAN

Dari Pihak Termohon, lima Saksi, Ya?

(7)

12. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Ya.

13. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, Pihak Terkait tadi sudah disampaikan oleh Kuasa Hukum, lima Saksi dan satu Ahli.

Ya, kita sumpah semua dulu. Silakan, Pak Saldi, Pak Delfi, Muajir, Ali Usman, Rusi Setiawan, Pak Masdar. Kemudian dari Termohon, Wigati Iswandhiari, Junedi, S.E., Mardius Adi Saputra, Saptono, Lilik Suhartono.

Kemudian dari Pihak Terkait, Ahli I Gusti Putu Artha, Saksi Suyitno, Masriadi, Febrion Putra, Afrizal, dan Asnaldi.

Pak … apa … Ibu, ya? Wigati Iswandhiari, ya … anu … KPU, ya?

Tidak, tidak, tidak bisa jadi Saksi. Justru ini kan sebagai Termohon.

Ya, coba diganti yang lain. Ibu posisinya sebagai Termohon masa mau jadi Saksi, ya? Silakan duduk dulu. Bagaimana ini dari Kuasa Hukum Termohon?

14. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Terima kasih, Yang Mulia.

Seyogianya memang keterangan Ibu Wigati ini adalah menerangkan tentang (...)

15. KETUA: ANWAR USMAN

Bukan, tidak. Ada mau diganti atau tidak?

16. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Baik, ada, nanti kami ganti, Yang Mulia.

17. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, sekalian disumpah sekarang, kalau ada sekarang.

18. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Sekarang tidak ada.

19. KETUA: ANWAR USMAN

Udah tidak … udah tidak bisa lagi kesempatan ini sebenarnya. Ya

(8)

Silakan, Yang Mulia, ya, untuk Ahli dahulu yang beragama Islam, Pak Saldi silakan.

20. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Prof, mohon ikuti lafal yang saya bacakan,

“Bismillahirrahmaanirrahiim.”

Untuk Ahli dahulu, kita ulangi. Yang Saksi mohon maaf tadi tidak saya sampaikan, ini khusus untuk Ahli dahulu, ya.

Kita ulangi Prof. “Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.”

21. AHLI BERAGAMA ISLAM BERSUMPAH:

Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.

22. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Terima kasih, Prof.

23. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, untuk Pak Putu, silakan, Yang Mulia.

24. HAKIM ANGGOTA: MARIA FARIDA INDRATI Agama Hindu? Ya.

Ikuti saya, “Om Ata Parama Wisesa. Saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya. Om Shanti Shanti Shanti Om.”

25. AHLI BERAGAMA HINDU BERSUMPAH:

Om Ata Parama Wisesa. Saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.

Om Shanti Shanti Shanti Om

26. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, terima kasih. Untuk Ahli, silakan duduk dahulu. Selanjutnya, Para Saksi. Silakan, Yang Mulia.

(9)

27. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Saya ingin ketegasan lagi, semua beragama Islam? Baik, ikuti lafal yang saya tuntunkan. “Bismillahirrahmaanirahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.”

28. PARA SAKSI BERAGAMA ISLAM BERSUMPAH:

Bismillahirrahmaanirahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya."

29. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Terima kasih, Pak.

30. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, terima kasih, duduk kembali di tempat masing-masing.

31. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Mohon izin, Yang Mulia.

32. KETUA: ANWAR USMAN Ya.

33. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Pada kesempatan ini, sebelum pemeriksaan Saksi dilanjutkan, kami dari Pihak Termohon ada perbaikan alat bukti dan ada tambahan alat bukti. Apakah kami diperkenankan untuk mengajukannya?

Kemudian tadi, kami juga sudah menyampaikan ada perbaikan dan tambahan keterangan saksi.

34. KETUA: ANWAR USMAN

Bukti kan sudah selesai bukti tertulisnya, perbaikan yang (...) 35. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Ada perbaikan yang perlu kami renvoi, Yang Mulia, terhadap bukti

(10)

36. KETUA: ANWAR USMAN Apanya?

37. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Ada kesalahan penulisan, Yang Mulia, ada beberapa kesalahan penulisan yang pertama adalah di bukti kita nomor 36, halaman 11, di situ tertulis TC Kuantan Tengah, Sungai Jering 004, seharusnya itu adalah TC Benai Talontam 004.

38. KETUA: ANWAR USMAN Oh, kesalahan angka, ya?

39. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Kesalahan penulisan, Yang Mulia. Kemudian, di nomor 37 tertulis di situ TC Kuantan Tengah, Sungai Jering, seharusnya adalah TC Benai Talontam.

40. KETUA: ANWAR USMAN Sudah?

41. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Ada lagi, Yang Mulia. Kemudian, di bukti nomor 204, di halaman 28, itu tertulis TC Singingi, Beringin Jaya, seharusnya adalah TC Singingi Hilir, Beringin Jaya.

Kemudian, TC Sing … nomor 205, TC Singi Hilir Beringin Jaya, jenis buktinya Formulir C1-KWK berhologram TPS 2 Desa Beringin Jaya, Kecamatan Singingi Hilir.

Kemudian, nomor 206 tertulis di situ TC Singingi, Beringin Jaya, seharusnya adalah TC Singingi Hilir, Beringin Jaya. Di jenis buktinya, Formulir C-1 KWK berhologram TPS 5 Desa Beringin Jaya, Kecamatan Singingi Hilir.

Kemudian, 207 tertulis TC Singingi, seharusnya TC Singingi Hilir.

Kemudian, jenis bukti Formulir C-1 KWK berhologram TPS 1 desa (…)

42. KETUA: ANWAR USMAN

Atau begini, itu banyak. Nanti saja habis sidang nanti diparaf saja nanti, ya. Ya?

(11)

43. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Baik. Terima kasih, Yang Mulia.

44. KETUA: ANWAR USMAN Baik, kita (…)

45. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Terus persoalan penambahan alat bukti, Yang Mulia.

46. KETUA: ANWAR USMAN

Sudah cukup, lah. Sudah cukup alat-alat buktinya enggak usah.

Tadi hanya perbaikan. Nanti kan sana juga minta lagi, nanti kan tidak selesai.

47. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN Ya, terima kasih.

48. KETUA: ANWAR USMAN

Baik, kita dengarkan dulu keterangan Ahli dari Pihak Pemohon.

Silakan, Prof.

49. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Terima kasih, Yang Mulia, Ketua dan Anggota Panel Hakim Konstitusi yang saya muliakan, Kuasa Pemohon, Kuasa Termohon, Pihak Terkait yang saya hormati, Hadirin sekalian yang berbahagia.

Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang dan salam sejahtera untuk kita semua.

Saya akan menyampaikan, membacakan keterangan ini sebagiannya akan diringkas karena terlalu panjang, ada 10 halaman.

50. KETUA: ANWAR USMAN Ya.

51. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Itu dianggap sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan dari

(12)

52. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, poin-poin yang penting, Prof. Silakan.

53. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Dalam penyelenggaraan Pilkada Serentak Tahun 2015, terjadi beberapa perubahan mendasar yang membedakan pilkada sekarang dengan pilkada-pilkada sebelumnya.

Di antara perubahan itu, termasuk di situ menyangkut adanya ambang batas pengajuan permohonan sengketa ke Mahkamah Konstitusi. Ihwal ambang batas pengajuan sengketa permohonan penyelesaian hasil pilkada, sebagaimana diatur dalam satu … Pasal 158 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015. Banyak pandangan atau kasus- kasus tertentu, jikapun tidak memenuhi ambang batas, tetapi apabila terdapat bukti awal yang kuat adanya pelanggaran, saya termasuk orang mengatakan harusnya dibuka ruang untuk dibuktikan dalam proses persidangan ini. Tetapi, Mahkamah Konstitusi sudah mengambil sikap bahwa tetap mempertahankan putusan … apa … rumusan yang ada dalam Pasal 158 tersebut.

Apa dasarnya? Misalnya bisa kita lacak dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 8/PHP.BUP-XIV/2016 dalam halaman 60 sampai 61.

Pada prinsipnya, Mahkamah Konstitusi hendak melembagakan proses penyelesaian di tahapan-tahapan sebelumnya oleh instansi yang berwenang. Ini bisa dilihat di halaman 60 sampai 61 putusan dimaksud.

Berdasarkan pertimbangan di atas, sepintas akan dipahami bahwa MK telah memberi batasan tegas ihwal kewenangan yang terbatas pada perselisihan menyangkut penetapan hasil penghitungan perolehan suara, bukan ihwal masalah hukum pilkada selain itu. Sebab, penyelesaian masalahnya selain perselisihan hasil merupakan kewenangan lembaga lain.

Namun, jika serangkaian putusan dalam penyelesaian perselisihan hasil Pilkada Serentak 2015 di atas dibaca lebih komprehensif, pertimbangan sebagaimana dikutip itu hanyalah dalil yang kemudian meneguhkan Pasal 158.

Dikatakan begitu, pertimbangan lainnya dimana MK tetap membuka diri untuk memeriksa permohonan secara menyeluruh, bukan hanya terbatas pada perselisihan terkait perbedaan hasil penghitungan suara.

Hal ini dapat dibaca dalam putusan di atas, halaman 66 yang menyatakan, “Dengan pendirian Mahkamah demikian, tidaklah berarti Mahkamah mengabaikan tuntutan keadilan substantif sebab Mahkamah akan tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap perkara yang telah memenuhi persyaratan tenggang waktu, kedudukan hukum

(13)

atau legal standing, objek permohonan, serta jumlah persentase selu … selisih perolehan suara antara Pemohon dengan Pihak Terkait.”

Pertimbangan ini sebetulnya memberi makna bahwa MK tidak hendak sedang memposisikan diri, hanya memeriksa perbedaan selisih hasil penghitungan perolehan suara antara Pemohon dengan Termohon atau Pihak Terkait, melainkan tetap memeriksa hal-hal yang mempengaruhi hasil pilkada berupa pelanggaran terhadap proses pilkada. Asalkan syarat formal pengajuan permohonan, yaitu soal waktu, legal standing, ambang batas permohonan telah dipenuhi.

Oleh karena itu, dengan mengikuti keyakinan hukum yang telah dibangun Mahkamah Konstitusi dalam putusan-putusan terdahulu, Pemohon dalam perkaran perselisihan hasil pemilihan yang pemo … yang permohonan memenuhi syarat formil, sebagaimana ditentukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015, tentunya masih memiliki harapan besar untuk memperoleh keadilan dalam penyelesaian perselisihan hasil pilkada di Mahkamah Konstitusi, termasuk dalam perkara ini, dimana Pemohon yang diajukan Pemohon telah memenuhi syarat tenggang waktu, legal standing, dan syarat pengajuan permohonan sebagaimana ditentukan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 juncto PMK nom … Pasal 6 PMK Nomor 1 Tahun 2015.

Hadirin sekalian yang berbahagia. Dalam perkara ini apabila pemo

… permohonan Pemohon dibaca secara saksama, pokok permohonan yang diajukan adalah terkait dengan perselisihan hasil pilkada yang dilatarbelakangi berbagai dugaan pelanggaran yang terjadi dalam pemilihan. Mulai dari pencalonan, hingga pelanggaran-pelanggaran yang terjadi secara serius dalam proses pilkada. Meski demikian berdasarkan keyakinan hukum yang dinyatakan MK dalam putusan-putusan sebelumnya sebagaimana di kutip di atas, maka berbagai persoalan yang diajukan Pemohon tentu akan diperiksa lebih jauh oleh Mahkamah Konstitusi. Menguatkan hal itu, sejumlah alasan berikut patut dipertimbangkan Mahkamah Konstitusi untuk dapat memeriksa perkara ini secara lebih komperhensif. Pertama, meski Undang-Undang Nomor 1 juncto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 telah mengatur secara cukup menyeluruh tentang mekanisme lembaga yang berwenang untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum yang terjadi dalam proses pilkada, namun pada faktanya lembaga-lembaga serta mekanisme yang ada belum cukup efektif untuk memberikan kepastian dan keadilan pada konstestan pilkada.

Kedua, aturan hukum yang menjadi dasar penyelenggaraan pilkada merupakan undang-undang yang lahir secara tidak normal, sehingga mempunyai berbaga celah atau loophole yang amat potensial memicu terjadinya berbagai pelanggaran dalam penyelenggaraan pilkada. Saat yang sama berbagai dinamika di internal partai politik yang terjadi menjelang dan selama proses penyelenggaraan pilkada ikut

(14)

Ketiga, berbagai pelanggaran serius yang bisa dikategorikan TSM sebagaimana pernah digunakan MK dalam putusan-putusan terdahulu, sesungguhnya masih terjadi dalam jumlah pilkada serentak. Sehingga sebagai pengadilan terakhir yang berwenang memeriksa dan mengadili sengketa hasil pilkada, MK bisa mendedikasikan dirinya untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan tersebut.

Setidaknya ada bebera … tiga alasan tersebut dapat diperkuat alasan bahwa sudah tempatnya berbagai dalil terkait dengan pelanggaran yang bersifat serius sebagaimana dikemukakan permohon diperiksa Mahkamah lebih jauh. Untuk itu guna membantu proses pemeriksaan perkara ini terkait dengan berbagai dugaan pelanggaran serius sebagaimana dikemukakan Pemohon dalam permohonannya, saya akan memberikan pandangan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pencalonan dan pemaknaan pelanggaran yang serius yang dikemukakan oleh Pemohon.

Ketua dan Anggota Panel Hakim Konstitusi yang saya muliakan, Kuasa Hukum Pemohon, Kuasa Hukum Termohon, Kuasa Hukum Pihak Terkait, yang saya hormati, Hadirin sekalian yang berbahagia. Pertama, terkait dengan tahap pencalonan, masalah pencalonan dalam Pilkada Serentak Tahun 2015 tidak hanya terjadi di Kabupaten Kuantan Singingi atau Kuansing, melainkan juga terjadi di berbagai daerah lain. Salah satu penyebab utama munculnya masalah pencalonan faktor terbelahnya kepengurusan dua partai politik. Pembelahan ini mulai dari pengurus tingkat pusat sampai ke daerah, konflik internal di kedua partai berimbas pada terjadinya aturan kompromis yang walau bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tetapi tetap di introduksi oleh KPU menjadi norma dalam Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015.

Jika dibaca lebih jauh mekanisme partai politik mengajukan pasangan calon itu adalah pasangan yang didaftarkan oleh partai politik yang ditandatangani oleh ketua dan sekretaris partai politik di tingkat kabupaten/kota, kalau ini kabupaten/kota, beserta surat keputusan pengurus pusat partai politik tingkat pusat tentang persetujuan, bisa dibaca dalam Pasal 42 ayat (5). Atau jikalau diajukan oleh gabungan partai politik, maka pendaftaran itu harus ditandatangani oleh gabungan partai politik termasuk persetujuan pengurus DPP dari partai politik yang bersangkutan.

Pasal 42 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 secara limittaif menentukan pendaftaran calon hanya dilakukan oleh ketua dan sekretaris partai poilitik pada setiap tingkatan yang disetujui oleh pimpinan pusat partai politik. Artinya, subjek yang memiliki hak untuk menandatangani pengajuan calon adalah ketua dan sekretaris partai politik. Dengan demikian, dalam satu badan hukum partai politik tertentu, tentu hanya ada satu orang ketua dan satu orang sekretaris.

Berdasarkan pemahaman tersebut, norma undang- undang tersebut sama sekali tidak memberi ruang bahwa dalam satu partai

(15)

politik terdapat dua ketua dan dua sekretaris yang mengajukan pasangan calon. Faktanya, kesulitan menyatukan dualisme kepengurusan Partai Golkar dan PPP yang masih bersengketa di pengadilan, diberi jalan keluar melalui putus … peraturan KPU tersebut.

Pengabaian di atas adalah alasan untuk tetap mengakomodir partai politik untuk dapat mengajukan pasangan dalam Pilkada Serentak Tahun 2015.

Dalam Pasal 36 ayat (6) Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015 menyatakan sebagai berikut, “Dalam hal kepengurusan partai politik di tingkat provinsi atau kabupaten/kota terdapat dua kepengurusan, masing-masing pengurus partai politik mengajukan satu pasangan calon, sama sesuai dengan persetujuan partai politik di tingkat pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (4).” Walaupun ketentuan tersebut sesungguhnya tak sejalan dengan Pasal 42, namum realitas politik dan perkembangan masyarakat menerima aturan itu begitu adanya. Norma tersebut sama sekali tidak pernah digugat, artinya ia memperoleh legitimasi keberlakuannya lewat pengakuan masyarakat politik terhadap keberadaannya. Bukan karena norma tersebut lahir karena perintah peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Ketika norma dimaksud telah diterima sebagai aturan main dalam pencalonan pilkada berbagai masalah pun muncul kemudian, dimana pasangan calon yang diusung pada satu kasus tertentu hanya memperoleh dukungan dari salah satu kepengurusan saja, atau dua pasang calon memperoleh dukungan dari dua kepengurusan yang berbeda, atau dua pasangan calon memperoleh dukungan dari ke dua kepengurusan yang berbeda dalam satu partai. Salah satu contoh yang dampak dari aturan main yang demikian adalah terjadi dalam Pilkada Kuansing apa … Kabupaten Humbang Hasudutan, Sumatera Utara, dimana dalam proses pencalonan Partai Golkar mengusung dua pasangan calon secara bersamaan. Persoalan ini sesungguhnya juga diajukan ke Mahkamah Konstitusi yang terdaftar melalui Perkara 36 dan 70, hanya saja karena selisih suara dalam pilkada kabupaten tersebut tidak memenuhi syarat, MK menyatakan permohonan tidak dapat … Pemohon tidak memiliki legal standing, padahal jika seandainya perkara tersebut sampai pada pemeriksaan pokok perkara tentu akan dikemukakan masalah serius yang terkait dengan pencalonan di Humbang Hasudutan tersebut. Pencalonan oleh dua kepengurusan berbeda juga terjadi dalam Pilkada Kuansing yang diperiksa dalam Perkara ini dimana PPP yang salah satu kepengurusannya versi Djan Faridz telah mengajukan pasangan Pemohon untuk didaftarkan KPU Kuansing, namun ditolak karena tidak sesuai dengan pengajuan yang sama dari kepengurusan PPP versi Romi atau Rohamuzzy, walaupun demikian tanpa adanya pencabutan dukungan terhadap Pemohon kepengurusan PPP Djan Faridz juga mengajukan Pihak Terkait sebagai

(16)

Terlepas ada tidaknya kejanggalan dalam surat dukungan kepengurusan Djan Faridz kepada Pihak Terkait yang pasti kepengurusan PPP Djan Faridz telah memberikan dukungan kepada dua pasangan calon berbeda.

Hal ini tentu bertentangan dengan ketentuan melarang satu partai mengajukan dua pasang calon di dalam proses pencalonan.

Sesuai dengan Pasal 36 Peraturan KPU di atas dukungan satu kepengurusan partai politik yang memiliki dua kepengurusan pada dua pasangan calon berbeda seharusnya juga ditolak oleh KPU daerah, sebab syarat sahnya pengajuan calon oleh dua kepengurusan berbeda adalah mengajukan satu pasangan calon yang sama. Bila pada faktanya salah satu kepengurusan mengajukan dua pasangan calon yang berbeda pengajuan calon tersebut sesuai dengan ketentuan yang ada harus ditolak oleh penyelenggara. Penolakan tersebut juga harus didasarkan kepada KPU Kabupaten Kuansing pada konsep bahwa proses pencalonan oleh dua kepengurusan berbeda dalam satu partai tidak menegasikan syarat bahwa pencalonan diajukan oleh ketua dan sekretaris partai politik di tingkat kabupaten dan dilengkapi dengan surat keputusan masing-masing pengurus partai politik tingkat pusat tentang persetujuan atas calon yang diajukan oleh pengurus partai politik di tingkat provinsi.

Dalam hal syarat tersebut tidak terpenuhi maka calon dimaksud pun harus ditolak.

Oleh karena itu, dengan tidak terpenuhinya syarat pencalonan Mahkamah Konstitusi dapat menyatakan bahwa Pilkada Kuansing cacat yuridis karena itu sangat beralasan dilakukan pemungutan suara ulang untuk seluruh Kabupaten Kuansing dengan tanpa mengikutsertakan pasangan calon yang tidak memenuhi syarat tersebut. Hal mana putusan yang sama pernah dikeluarkan Mahkamah Konstitusi dalam Perkara Nomor 57/PHPU-VI/2008 terkait dengan perselisihan hasil pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bengkulu Selatan, dimana putusan tersebut dikeluarkan karena Calon Bupati Kabupaten Bengkulu Selatan terbukti tidak memenuhi syarat sebagai calon.

Kedua, terkait dengan hal yang berhubungan pelanggaran serius di dalam permohonannya Pemohon mengemukakan terjadi pelanggaran serius dalam pelaksanaan Pilkada Kabupaten Kuansing, membaca uraian dalil Pemohon terkait dengan maksud pelanggaran serius dapat dipahami bahwa yang dimaksud adalah sama atau sebangun dengan pelanggaran yang bersifat TSM, sebagaimana dijadikan indikator yang dinilai Mahkamah Konstitusi di dalam menyelesaikan perkara perselisihan pilkada sebelum tahun 2015.

Pertanyaan kemudian yang muncul dengan adanya perubahan regulasi pilkada, apakah masih sangat relevan bagi MK untuk memeriksa masalah-masalah yang berhubungan dengan pelanggaran yang bersifat TSM? Sebelumnya telah dikemukakan sejumlah alasan mengapa MK mesti memeriksa sengketa hasil pemilihan yang dilatar belakangi adanya dugaan pelanggaran yang bersifat TSM. Sekalipun terjadi perubahan

(17)

regulasi yang demikian mendasar peran MK guna memastikan proses dan hasil pilkada sesuai dengan asas penyelenggaraan pemilihan umum sebagaimana dinyatakan Pasal 22E ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 tentu tidak dapat dinafikan, meski MK berpandangan bahwa pilkada bukanlah rezim pemilu, namun dikarenakan pilkada dilaksanakan secara langsung maka asas pemilihan langsung sebagaimana dimuat dalam Pasal 22E ayat (1) tetap melekat dan harus dijadikan acuan dalam menilai fairness pilkada.

Dalam konteks itu pemeriksaan dengan menggunakan postulat TSM untuk permohonan menyelesaikan perselisihan hasil Pilkada Serentak Tahun 2015 tetap masih sangat relevan untuk dipergunakan.

Terkait dengan itu salah satu wujud konkrit dugaan pelanggaran yang bersifat terstruktur dalam perkara ini dapat dilacak dan dikaitkan dengan proses pencalonan yang telah disinggung sebelumnya. Ikhwal ini proses pemeriksaan perkara harus sampai pada menggali fakta tentang kejanggalan proses pencalonan dan hubungannya dengan tetap diterimanya pengajuan Pihak Terkait sebagai calon partai politik yang memberikan dukungan yang bersangkutan untuk memberikan dukungan kepada Pemohon.

Saya berpikir untuk soal ini mungkin akan jauh lebih baik kalau Mahkamah Konstitusi bisa mengundang pengurus partai politik yang ada tersangkut dalam kasus ini untuk dimintai penjelasan soal-soal yang terkait dengan ini.

Pemeriksaan secara komprehensif terhadap dalil terkait dengan pancalonan, tentu akan memberikan kepastian sehubungan dengan ada tidaknya pelanggaran yang bersifat terstruktur dengan melibatkan penyelenggara ketika dalam proses pencalonan. Apabila kejanggalan berupa pelanggaran proses pencalonan mengandung kebenaran, ini saya tekankan, apabila kejanggalan berupa pelanggaran proses pencalonan mengandung kebenaran, dimana terdapat unsur lalai atau kesengajaan penyelenggara, fakta ini tentu dapat dikualifisir sebagai pelanggaran yang bersifat terstruktur. Lebih jauh jikalau hal itu di desain dari awal, maka pelanggaran dimaksud juga bisa dikualifisir telah terjadi secara sitematis, sehingga beralasan hukum untuk mengabulkan permohonan.

Jadi, kalau itu bisa dibuktikan, makanya tadi saya mengatakan akan jauh lebih baik kalau … jikalau partai politik yang tersangkut dengan ini dihadirkan di Sidang Mahkamah Konstitusi.

Selain itu, terhadap dalil-dalil Pemohon yang berhubungan dengan berbagai dugaan pelanggaran lainnya seperti dugaan politik uang dan pelanggaran administrasi pemilihan. Sekali pun dugaan pelanggaran yang dimaksud juga telah dilaporkan kepada pengawas pilkada, namun karena telah dibawa ke dalam proses penyelesaian perselisihan hasil pilkada di Mahkamah Konstitusi, maka demi untuk menjaga keadilan pemilu, juga memberikan kepastian hukum bagi

(18)

semua proses penyelenggaraan pilkada, MK seyogianya memeriksa dalil- dalil tersebut.

Lagi pula, merujuk salah satu pertimbangan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dikutip sebelumnya. Bahwa terhadap permohonan penyelesaian perselisihan hasil pilkada yang memenuhi syarat tenggang waktu, legal standing, dan syarat ambang batas selisih suara, MK tetap akan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Maka, berbagai permasalahan yang dikemukakan Pemohon yang dinilai mempengaruhi hasil pilkada layak diperiska secara menyeluruh, guna memastikan integritas penyelenggaraan Pilkada di Kuansing.

Terlebih lagi, untuk dalil yang apabila terbukti berimplikasi pada keharusan melakukan pemungutan suara ulang, seperti lebih dari satu pemilihan mencoblos di satu kali TPS yang sama atau TPS yang berbeda, warga negara yang tidak memiliki hak pilih menghunakan hak pilih dan pemilih yang memiliki hak pilih namun tidak dapat menggunakan hak pilihnya, dalil-dalil tersebut benar terbukti adanya, maka beralasan untuk MK mendalami apa yang diajukan oleh Pemohon.

Ketua dan Panel Hakim Konstitusi yang saya muliakan, Kuasa Pemohon, Kuasa Termohon, dan Kuasa Pihak Terkait yang saya hormati, Hadirin sekalian yang berbahagia. Sebelum menyudahi keterangan ini, perkenankanlah saya memberikan titik penekanan. Oleh karena pemeriksaan ini telah sampai pada pemeriksaan pokok permohonan, diman soal-soal formalitas pengajuan permohonan telah dianggap selesai, sepatutnya MK mempertimbangkan dalil yang relevan dengan dugaan terjadinya pelanggaran yang bersifat TSM. Hal itu amat diperlukan guna menjaga agar MK bisa menyelesaikan perkara ini dengan adil.

Demikianlah keterangan ini disampaikan, semoga dapat membantu Majelis Hakim, Yang Mulia, dalam memeriksa, memutus permohonan penyelesaian perkara di Kabupaten Kuantan Singingi.

Terima kasih. Mohon maaf. Assalamualaikum wr. wb.

54. KETUA: ANWAR USMAN Ya, terima kasih, Prof.

Kita langsung dengarkan keterangan Ahli dari Pihak Terkait.

Silakan, Pak Putu.

55. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Terima kasih. Om swastiastu. Assalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Mulia, Para Hadirin yang saya hormati. Sebelum pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2015 ini, landasan hukum pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah

(19)

Daerah sebagaimana diubah yang kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008. Sedangkan pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2015 diatur dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang dan seterusnya.

Ada perbedaan cukup mendasar antara Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015. Perbedaan pertama pada aspek filosofis yuridis tentang terminologi pemilihan kepala daerah, dalam hal mana pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana diubah menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 dan berbarengan dengan itu keluar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu, maka pemilihan kepala daerah dimaknai sebagai pemilihan umum yang menjadi rezim pemilu.

Oleh karena itu, penyebutannya menjadi pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah yang kita kenal dengan pemilukada.

Itu lah sebabnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 memberi mandat khusus secara permanen kepada Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan umum kepala daerah dan wakil kepala daerah.

Sedangkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 dan dibarengi dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilu, tidak lagi menempatkan pilkada serbagai rezim pemilu. Penyebutannya pun tidak lagi pemilukada, namun pemilihan gubernur, bupati, dan walikota atau disingkat pemilihan.

Posisi Mahkamah Konstitusi hanyalah lembaga transisi yang diberikan mandat oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 sebagai lembaga yang menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan, hingga terbentuknya badan peradilan khusus yang bersifat permanen.

Dari sisi fungsi kelembagaan dalam penyelesaian pelanggaran pemilihan, pembagian tugasnya jauh lebih jelas. Pelanggaran yang bersifat administratif dan sengketa pemilihan menjadi ranah Bawaslu di semua tingkatan, pelanggaran kode etik menjadi ranah DKPP, sengketa tata usaha negara menjadi ranah PTUN, pelanggaran pidana menjadi ranah Kepolisian Republik Indonesia, dan perselisihan hasil pemilihan menjadi ranah badan peradilan khusus atau sementara ini didelegasikan oleh undang-undang kepada Mahkamah Konstitusi.

Dari sisi batas waktu penyelesaian perkara pemilihan, Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2015 makin memberi kejelasan lembaga, perkara yang ditangani, dan batas waktu penyelesaiannya. Hal ini merupakan kemajuan dalam penyusunan regulasi pemilihan dibandingkan undang-undang sebelumnya. Saat ini, semua jenis pelanggaran dengan batasan waktu penyelesaian perkaranya diatur secara rinci, penyelesaian pelanggaran administrasi misalnya menjadi ranah Bawaslu dan KPU di semua tingkatan dengan retang waktu penyelesaian perkara di Bawaslu maksimal lima hari dan di KPU sudah

(20)

harus ditindaklanjuti dalam tempo tujuh hari setelah perkara itu diteruskan oleh Bawaslu.

Penanganan sengketa pemilihan telah harus diputus oleh Bawaslu dalam tempo 12 hari, pengangan pelanggaran pidana pemilihan memerlukan waktu 40 hari sejak perkara dilaporkan ke Bawaslu diteruskan ke Kepolisian hingga diputus dan berkekuatan hukum tetap oleh pengadilan tinggi. Bahkan, secara khusus Pasal 150 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 menyebutkan, “Putusan pengadilan terhadap kasus tindak pidana pemilihan yang menurut undang-undang ini dapat mempengaruhi proses suara peserta pemilihan harus sudah diselesaikan paling lama lima hari sebelum KPU provinsi dan/atau kabupaten/kota menetapkan hasil pemilihan.”

Penyelesaian sengketa tata usaha negara juga demikian, objek perkara yang paling krusial dijadikan sengketa adalah keputusan KPU provinsi kabupaten/kota mengenai pasangan calon yang dinyatakan memenuhi syarat pencalonan dan saya kira poin ini relevan dengan kasus yang kita bahas pada siang hari ini.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2015 memberi batas waktu yang amat tegas. Sejak laporan sengketa diterima oleh Bawaslu di semua tingkatan hingga putusan berkekuatan hukum tetap di Mahkamah Agung, maksimal dalam tempo 69 hari telah selesai. Sedangkan, Pleno penetapan pasangan calon oleh KPU provinsi kabupaten/kota hingga tanggal pemungutan suara memiliki rentan waktu 105 hari.

Oleh karena itu, jika semua pemangku kepentingan konsisten menjalankan undang-undang sesuai dengan tenggat waktu yang diatur seharusnya tidak perlu ada persoalan menyangkut pencalonan dan/atau yang sekarang terjadi di lima daerah Indonesia sampai harus ada pemilihan susulan gara-gara pencalonan, seharusnya tidak perlu terjadi karena sudah diatur sangat rigid di undang-undang.

Dengan uraian tersebut di atas, kami ingin menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 ini sebetulnya telah mengatur secara tegas fungsi tiap-tiap kelembagaan pemangku kepentingan pemilihan dengan batasan waktu penyelesaian pelanggarannya. Dengan demikian, menjadi tepat pula jika badan peradilan khusus yang menangani perselisihan hasil pemilihan yang untuk sementara ini wewenang itu ditugaskan kepada Mahkamah Konstitusi memang berfokus pada hasil pemilihan yang sifatnya kuantitatif, mengingat pelanggaran yang bersifat kualitatif menjadi wewenang lembaga lain untuk menyelesaikannya dan batas waktu penyelesaian perkara diatur … telah diatur sebelum rekapitulasi suara.

Dengan penjelasan ini, kami ingin menyatakan bahwa problem- problem, masalah-masalah kualitatif sebetulnya tidak dinafikan di Mahkamah Konstitusi, tetapi yang disertakan proses pembuktiannya adalah hasil final yang telah diputus oleh lembaga-lembaga yang diberi mandat oleh undang-undang untuk menjalankan kewajibannya.

(21)

Katakanlah kalau di perkara ini ada putusan DKPP, silakan dipakai bukti, kalau ada perkara menyangkut pencalonan dan sudah diputus di PTUN, silakan dipakai bukti, atau ada ranah pidana, silakan dipakai bukti dan seterusnya. Karena term waktunya sudah sangat rigid diatur di undang- undang.

Sehingga, sesungguhnya suasana kebatinan itulah yang disusun oleh … yang dimaksudkan di undang-undang ini untuk memberi tempat secara proporsional tiap lembaga menyelesaikan kasusnya masing- masing. Sehingga, statement beberapa kali Ketua MK saya kira tepat.

Mahkamah Konstitusi tidak lagi menjadi “keranjang sampah”.

Persoalan menjadi muncul ketika tataran ideal normatif tersebut dalam implementasi ini di lapangan sering tidak selaras. Para pemangku kepentingan terhadap lahirnya pemilihan yang berkualitas dan berintegeritas kurang memiliki derajat pemahaman yang sama, respons yang sebangun, dan komitmen yang sungguh-sungguh untuk menjalankan amanat undang-undang. Derajat paling rendah terjadi pada peserta pemilihan. Acap kali terjadi peserta pemilihan sibuk dengan urusa domestik masing-masing, sehingga respons atas tahapan penyelenggaraan pemilihan termasuk kontrol di dalamnya amat rendah.

Saya mengambil contoh soal kualitas daftar pemilih misalnya, tidak ada satupun pasangan calon di Pilkada Serentak Tahun 2015 ini yang menyusun team hingga level TPS untuk mengontrol dan memverifikasi kualitas daftar pemilih. Akibatnya, jika muncul persoalan mutu daftar pemilih kembali, maka hal itu juga menjadi tanggung jawab peserta pemilihan. Padahal, forum dan mekanisme untuk memutakhirkan daftar pemilih ada 3 tahap, sejak daftar pemilih ditetapkan, kemudian ada daftar pemilih tambahan, sampai kemudian DPTb-2.

Di berbagai daerah, peserta pemilihan melakukan semacam kegenitan politik dengan mencoba mempengaruhi, mengatur, dan mengintervensi pembentukan dan ritme kerja penyelenggara di level bawah seperti KPPS dan PPK. Tujuannya jelas, agar penyelenggara di level bawah ini bertindak partisan dan menguntungkan peserta pemilihan. Pada sisi lain, keterlambatan penyusunan undang-undang dan peraturan dibawahnya memang telah berimplikasi pada keterlambatan penyusunan perangkat penyelenggara hingga level bawah, persoalannya adalah para penyelenggara di semua level akhirnya dipaksa oleh situasi waktu, pada waktu yang sama belajar memahami undang-undang sambil menyosialisasikan regulasi tersebut kepada pemangku kepentingan.

Intinya, ruang dan waktu untuk memahami dan mensosialisasikan aturan memang amat terbatas. Akibatnya, kualitas sumber daya penyelenggara, terutama di level KPPS memang relatif masih perlu ditingkatkan. Inilah yang menjelaskan problem-problem sejumlah kesalahan administratif dalam pengisian Formulir C-1, terutama Sertifikat Formulir C-1.

Kembali ke soal penanganan perselisihan hasil pemilihan oleh

(22)

hasil pemilihan itu, saya stressing, kualitas derajat akurasi hasil pemilihan itu yang seyogianya menjadi bahan pengujian dalam proses persidangan ini.

Apakah betul hasil rekapitulasi suara yang telah ditetapkan oleh KPU setempat adalah angkanya akurat dan benar? Apakah hasil rekapitulasi suara yang telah akurat dan benar itu berasal dari bahan baku yang bersih atau dari proses pemungutan suara tanggal 9 Desember yang berjalan dengan luber dan jurdil? Parameternya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebetulnya sederhana, dalam konteks data yang benar, apabila data rekapitulasi suara per TPS yang dimiliki oleh Pemohon, Termohon, Pihak Terkait dan panwaslih sama, maka hemat saya, rekapitulasi hasil pemilihan di tempat itu telah memiliki akurasi dan kebenaran.

Persoalannya kemudian, apakah data yang akurat dan benar itu dihasilkan oleh proses pemungutan suara yang luber dan jurdil?

Berdasarkan data dan fakta yang terjadi di lapangan, sekurang- kurangnya kalau kita lihat masa waktu dari masa pemu … masa tenang hingga pengumuman rekapitulasi hasil pemilihan, saya berkeyakinan Majelis akan dapat mengambil kesimpulan, apakah proses rekapitulasi suara tersebut akurat dan benar, serta dihasilkan dari proses pemungutan suara yang luber dan jurdil atau sebaliknya karena pembuktian fakta dan saksi dalam persidangan inilah yang akan menjawabnya.

Proses hem … verifikasi dan cross-check dugaan kualitas proses pra pemungutan suara dan pemungutan suara itu dapat pula dilihat dari mekanisme komplain berjenjang yang telah diatur dalam setiap tahapan rekapitulasi suara di tiap jenjang, baik di tingkat TPS, PPK, dan KPU kabupaten.

Apabila dalam Formulir C-1 dan Formulir C-2 tidak terdapat kekeliruan penghitungan suara dan tidak terdapat catatan keberatan atas hasil tersebut, serta ditandatangani oleh semua saksi pasangan calon, patut diduga proses pemungutan suara di TPS itu berjalan tanpa ada masalah.

Ketika proses rekapitulasi suara di jenjang PPK juga akan dapat dinilai apakah dalam proses rekapitulasi itu ada upaya perbaikan atas kekeliruan administrasi Berita Acara, terutama Sertifikat C-1 yang selama ini sering ada masalah. Sertifikat dan Lampiran C-1 nya atau tidak ada perbaikan. Jika telah dilakukan perbaikan dan angkanya tidak berubah, maka seluruh persoalan administrasi Formulir C-1 relatif telah tuntas pada saat rekapitulasi berjenjang.

Dengan dua indikator ini, kami ingin menegaskan parameter untuk menilai apakah sebuah hasil pemilihan di satu tempat memiliki akurasi dan kebenaran hasil dan proses yang mengiringinya, sekurang- kurangnya dari masa tenang sampai masa rekapitulasi.

(23)

Demikianlah keterangan saya dalam persidangan ini yang saya pertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala kekurangan, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Sekian, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Om Shanti Shanti Shanti Om. Wassalamualaikum wr. wb. Salam sejahtera untuk kita semua. Terima kasih.

56. KETUA: ANWAR USMAN

Ya. Terima kasih, Pak Putu.

Kuasa Pemohon dipersilakan untuk mungkin ada beberapa hal, paling dua atau tiga pertanyaan yang bisa diajukan, baik ke Saksi ya … apa … ke Ahli Pemohon?

57. KUASA HUKUM PEMOHON: HERU WIDODO

Baik, terima kasih, Yang Mulia. Mohon izin bertanya langsung.

Pertama, pertanyaan untuk Saksi Prof. Saldi Isra, tadi sebagaimana penjelasan dan uraian Ahli yang dikemukakan tentang adanya pelanggaran persyaratan calon yang sudah cacat dari awal, kemudian Ahli menyampaikan bahwa ada alasan yang cukup bagi Mahkamah untuk mendiskual … melak … memerintahkan pemungutan suara ulang dengan mendiskualifikasi pasangan calon yang tidak memenuhi syarat tersebut.

Yang ingin kami pem … Pemohon perdalam adalah apa yang menjadi dasar dari Ahli menyampaikan demikian oleh karena ketika Undang-Undang Nomor 3 … Mahkamah … Mahkamah Konstitusi dalam putusan-putusan sebelumnya mengadili berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014. Sedangkan, sekarang jelas undang … Mahkamah mengadili berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015? Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004, mohon maaf.

Kemudian pertanyaan yang kedua, pertanyaan yang kedua ditujukan kepada Prof. Saldi dengan Pak … Ahli dari Pihak Terkait, Pak Putu Artha. Sebagaimana sudah kita dengarkan bersama dari keterangan Pak Putu bahwa memang ada lembaga-lembaga yang sudah ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 untuk menyelesaikan sesuai dengan tahapannya. Namun demikian bahwa penyelenggaraan pemilihan itu tidak sepenuhnya sempurna. Ada fakta misalnya penghilangan hak untuk memilih ketika orang datang ke TPS belum pukul 13.00 WIB, ternyata TPS sudah ditutup dan tidak bisa memilih. Ada orang yang datang dengan menggunakan kartu keluarga karena TPS itu sudah tutup juga tidak bisa memilih. Kemudian juga ada kondisi, dimana pemilih mencoblos lebih dari satu, ada juga kondisi dimana pemilih mendokumentasi surat suaranya dengan mencongkel mata pasangan calon di bilik suara, padahal itu dilarang, dan itu terjadi. Namun,

(24)

panwas hanya berupa sanksi administrasi kepada penyelenggara di tingkat KPPS. Padahal jelas tindakan itu adalah merugikan pasangan calon.

Nah, itu adalah fakta yang terjadi. Pertanyaan adalah … pertanyaan kepada kedua Ahli terhadap hal-hal yang belum diselesaikan tersebut yang merupakan cacat … apa … mencederai demokrasi. Ke mana keadilan bisa dimohonkan? Sementara ketika diajukan ke panwas hanya berupa rekomendasi, sanksi administrasi, tetapi hendak diajukan kepada lembaga yang lain, tidak ada, dan satu-satunya hanya ada di Mahkamah Konstitusi.

Demikian dua pertanyaan itu. Mohon pendapatnya. Terima kasih.

58. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, sekaligus Pihak Terkait, silakan. Langsung, dua atau tiga pertanyaan untuk Ahli Terkait dan Ahli Pemohon.

59. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: ASEP RUHIAT

Terima kasih, Yang Mulia. Untuk Prof. Sasis … Sahli, ya … Saldi.

Tadi masalah pencalonan yang cacat dari awal sesuai dengan ketentuan yang sudah ada, apakah hal itu belum di proses secara mekanisme sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 masalah pencalonan tersebut sudah diputus oleh KPU, lantas dari si pihak-pihak yang merasa dirugikan belum pernah memproses secara administrasi ke PTUN, apakah ini layak juga untuk dilanjutkan ke Mahkamah Konstitusi?

Terus yang kedua, untuk yang kaitannya tadi apa yang ditanyakan oleh Pihak Kuasa ter … Pemohon, itu mengenai pelanggaran- pelanggaran dan pelanggaran-pelanggaran tersebut yang tadi disampaikan oleh Kuasa Pemohon dan itu memerlukan pembuktian yang mana kejadian-kejadian tersebut setelah diproses, setelah diikuti dan memang saksi-saksi dari pihak-pihak tertentu juga belum dipanggil terhadap prosedur tersebut, apakah sudah ada kepastian hukumnya ketika hal tersebut juga belum diproses selama ini? Itu.

Terus, selanjutnya ke Pak Putu. Dari penjelasan Ahli tadi, Ahli menyampaikan bahwa suatu proses pemilihan yang dianggap jujur, adil, dan memang hal tersebut juga sudah bisa dikategorikan sebagai tidak ada permasalahan ketika yang ada dalam proses hukumnya di TPS-TPS tersebut dalam rentang waktunya pemungutan suara sampai adanya penghitungan suara, tidak ada indikasi atau keberatan-keberatan dari saksi, baik saksi-saksi Pemohon, Pihak Terkait, atau saksi yang lainnya yang tidak menuliskan keberatan dalam C-2, lantas semuanya sudah ditandatangani. Tadi Ahli menyampaikan bahwa tadi di situ sudah dianggap tidak ada permasalahan.

(25)

Nah, yang jadi permasalahannya sekarang ini, ketika Ahli tadi menyampaikan bahwa ini sudah ada pengkotak-kotakan prosesnya bahwa Mahkamah Konstitusi itu adalah proses final, akhir. Ketika instansi-instansi terkait sudah memutuskan di situ, maka putusan itu bisa dijadikan bukti ke Mahkamah Konstitusi. Nah, sekarang apabila hal-hal yang tersebut semua itu, dalam contoh kasus pelanggaran administrasi di situ kasus pencalonan dari dukungan dua parpol. Semestinya tadi Ahli menyampaikan itu harus di proses dulu dari tata usaha. Nah, sekarang permasalahannya, apabila itu belum diproses dari tata usaha maka apakah hal tersebut juga bisa MK di situ menindak lanjuti sementara institusi terkait belum memutus? Terima kasih.

60. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, makasih. Dari Termohon silakan.

61. KUASA HUKUM TERMOHON: MAYANDRI SUZARMAN

Baik, Terima kasih, Yang Mulia. Kepada Prof. Saldi Isra. Saya ingin menanyakan bagaimana pendapat Ahli, di kabupaten Kuantan Singingi itu Pemohon sudah mengajukan permohonan kepada panwaslih untuk memeriksa tentang dukungan Partai PPP terhadap Pemohon dan juga terhadap Pihak Terkait.

Panwaslih Kabupaten Singingi itu sudah menolak permohonan dari Pemohon dan Pemohon tidak mengajukan upaya hukum terhadap itu. Pemohon tidak mengajukan banding kepada pengadilan tinggi tata usaha negara. Nah, apakah menurut pendapat Ahli, Mahkamah Konstitusi berwenang untuk memeriksa dan mengadili persoalan ini?

Yang kedua, ada fatwa Mahkamah Agung yang menyatakan bahwa pihak yang tidak dirugikan di dalam persoalan lolosnya pasangan calon bupati dan wakil bupati itu tidak punya legal standing untuk mengajukan keberatan terhadap lolosnya pasangan calon.

Nah, di Kabupaten Kuantan Singingi Pemohon adalah pihak yang diloloskan oleh KPU, kemudian mengajukan keberatan kepada panwaslih terhadap lolosnya Pihak Terkait. Nah, bagaimana pendapat Ahli tentang hal ini? Terima kasih.

Ada fatwa Mahkamah Agung yang isinya mengatakan bahwa pihak yang diloloskan sebagai calon bupati dan wakil bupati itu tidak punya legal standing untuk mengajukan keberatan terhadap lolosnya pasangan calon yang lain. Pemohon ini mengajukan keberatan kepada panwaslih terkait lolosnya Pihak Terkait karena didukung oleh Partai PPP itu tadi. Nah, sementara fatwa Mahkamah Agung mengatakan bahwa yang lolos itu tidaklah pihak yang dirugikan, tapi tetap mengajukan keberatan kepada Panwaslih Kabupaten Kuantan Singingi. Nah,

(26)

62. KETUA: ANWAR USMAN

Ya, terima kasih. Jadi, silakan mulai dari Prof. Saldi dulu sekaligus menjawab dari Kuasa Pemohon, Kuasa Pihak Terkait, dan Termohon.

Silakan, Prof.

63. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Terima kasih. Pertama ini soal diskualifikasi, kalau itu dilakukan ada enggak dasar hukumnya? Kalau dibaca Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang kemudian itu jadi dasar juga untuk penyelesaian sengketa pemilukada sebelumnya, itu juga tidak ada instrument hukum diskualifikasi di situ. Jadi ternyata kemudian Mahkamah Konstitusi melakukan diskualifikasi. Karena apa? Karena memang ada hal yang mengharuskan untuk bekerja ke arah itu.

Dalam catatan saya misalnya … apa namanya … itu pernah terjadi di apa … di Bengkulu Selatan soal syarat. Nah, saya menggunakan dalil ini, ini namanya … sejalan dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang mengatakan bahwa kalau pasangan calon itu memenuhi ambang batas masuk ke tahap berikutnya maka Mahkamah Konstitusi mengatakan secara eksplisit Mahkamah akan tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Jadi ini menjadi dasar menurut saya untuk memeriksa secara menyeluruh soal benar atau tidaknya sidang inilah yang akan membuktikan dengan … apa namanya … saksi-saksi yang ada.

Jadi apa pentingnya saya menjadi Ahli menjelaskan ini agar ruang untuk memastikan sesuatu yang sedang diperdebatkan itu jangan ditutup, jadi diperdebatkan di sini dilihatkan bukti-buktinya nanti semua pihak harus menghormati apa yang diputuskan terhadap proses yang berlangsung secara terbuka dan itu menurut saya cara yang fair karena putusan Mahkamah Konstitusi memang bilang begitu, mereka akan apa namanya … akan tetap melakukan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap perkara yang telah memenuhi. Apa yang dikatakan menyeluruh? Dalam pemahaman saya mungkin Pak Putu dulu pernah jadi Komisioner KPU, pemeriksaan menyeluruh tentu meliputi semua tahapan. Mengapa ini penting dikatakan? Karena kalau di kotak-kotak itu ada fase kemudian yang sulit bisa di jangkau. Misalnya, setelah waktu yang disebutkan Pak Putu tadi dihitung, sudah selesai, orang ikut pemilihan, bagaimana kalau ada pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada masa tenang dan segala macamnya? Instrument hukum apa yang bisa menjangkau?

Jadi saya membayangkan semua keberatan itu menjadi tempat di sini untuk menyelesaikannya, tentu semuanya harus didasarkan kepada bukti-bukti yang dibentangkan dalam Sidang Yang Mulia ini. Itu yang pertama.

(27)

Ini soal apa namanya … soal lembaga-lembaga yang sudah ditetapkan sesuai dengan tahapan namun ada fakta … apa namanya … fakta lain yang muncul, soal hak pilih, orang, dan segala macamnya.

Nah, ini menurut saya kalau ini terjadi secara masif dan itu pasti melanggar prinsip-prinsip, dan sekali lagi ini harus dibuktikan dalam proses persidangan, bagaimana itu bekerja? Misalnya, saya merasa aneh juga kalau apa namanya … ada proses apa namanya … pencoblosan itu lalu kemudian beberapa puluh itu punya coblos yang khas, kan kita bisa menduga bahwa itu terkait dengan proses … apa namanya … penandaan dan itu akan menghilangkan atau melunturkan salah satu prinsip pemilihan yang umum, bebas, dan rahasia itu.

Nah, ini menurut saya bagian yang bisa dijadikan catatan bersama. Soal apa … soal bagaimana misalnya, ini soal apa … soal pencalonan yang menyangkut partai politik yang bersengketa itu memang tidak sederhana, saya tidak memiliki kemampuan bisa menjelaskan semua karena saya juga tidak tahu fakta semuanya, makanya saya tadi menguncinya kalau ini masih ada pertanyaan soal pencalonan dan itu harusnya partai politik yang terkait dengan itu bisa dihadirkan di persidangan.

Nah, kan ada pertanyaan berikutnya bagaimana kalau pencalonan itu sebetulnya … apa … sesuai dengan fatwah Mahkamah Agung tadi, tidak … dia tidak memiliki legal standing karena tidak berpengaruh. Gini, soal dukungan itu kan penting, kalau orang tidak … apa … tidak memenuhi dukungan dari partai politik dengan presentase tertentu karena dia tidak direkomendasi partai politik, itu kan bisa tidak menjadi pasangan calon. Nah, kalau ada pasangan … apa … dua … satu partai mencalonkan dua, ini kan mestinya salah satu harus gugur karena itu akan berimplikasi kepada keterpenuhan syarat di tempat lain yang di … yang tidak digugurkan itu.

Jadi, menurut saya ini penting untuk jadi perhatian karena … apa namanya … presentase itu akan menjadi alasan orang bisa terus dicalonkan atau tidak. Misalnya, kalau ini ada dua yang dicalonkan salah satu dicoret, itu kan bisa mengurangi presentase yang di sini dan dia bisa saja tidak masuk dalam pencalonan karena presentasenya tidak mencukupi. Jadi, itu pengaruh tidak langsungnya kenapa ini bisa dipersoalkan. Terima kasih.

64. KETUA: ANWAR USMAN Silakan, Pak Putu.

65. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Terima kasih. Saya mencoba menjawab pertanyaan Mas Heru

(28)

seperti hak memilih dihilangkan, tidak bisa memilih, mencoblos lebih dari satu kali, dan seterusnya.

Berdasarkan penjelasan yang telah saya sampaikan tadi, maka kita harus memilah persoalan-persoalan tersebut terjadi di fase yang mana. Kami telah menyampaikan dan saya sebetulnya sependapat dengan Bung Saldi Isra bahwa tidak … tidak berarti kemudian persoalan- persoalan ketika masa tenang itu terjadi dan pada hari pemungutan suara tidak bisa diproses dan tidak bisa dibawa ke Mahkamah Konstitusi, bisa. Karena forum penyelesaiannya di situ belum tuntas. Berbeda halnya kalau kemudian fase itu terjadi di awal, saya memberi contoh dari kasus-kasus yang disampaikan tadi soal hak memilih misalnya.

Sebetulnya undang-undang yang ada sekarang sudah sangat longgar, sampai tiga kali proses pemuktahiran itu. Tapi, fakta juga di lapangan, hampir semua calon itu lalai untuk membangun infrastruktur.

Saya kebetulan sempat ada di Bali lama, kemudian di Lombok, dan dibeberapa tempat, saya meninjau. Di Bali misalnya, di Karangasem ada salah satu pasangan calon sampai menugaskan per TPS dua orang, satu bulan diupah untuk menyisir DPT, lalu ditemukan 1.600 DPT yang bermasalah. Saya ingin mengatakan, itulah seharusnya yang kita lakukan oleh pasangan calon untuk memuktahirkan DPT maka bersama-sama dengan KPU dan panwaslih melakukan proses permuktahiran itu karena saya juga tidak ingin manafikan bahwa proses politisasi DPT sangat bisa terjadi. Karena itu, calon harus merespon itu.

Pertanyaannya, kalau calon tidak melakukan itu, ya jangan salahkan juga penyelenggara dan pengawas karena bagian dari partisipasi calon untuk membuat pemilu ini berintegritas terabaikan. Ini yang sering kita lihat.

Nah, termasuk soal misalnya, ketika ada kasus-kasus di lapangan pada saat pemungutan suara. Kita mulai misalnya dari masa pemberian

… apa namanya … pembagian Formulir C-6 surat pemberitahuan. Maka seharusnya, tim kampanye yang baik harus mem-backup infrastruktur KPPS untuk menanyakan konstituennya sudah dapat C-6 atau tidak?

Kalau tidak, punya inisiatif untuk langsung kemudian meminta kepada ketua KPPS, dan ikut membantu, mengawal, dan membagikan.

Ketika … saya juga tidak menafikan bahwa punya potensi C-6 itu apakah karena problem teknis atau politis, tidak terdistribusi dengan baik. Nah, kalau di situ kemudian terjadi persoalan pelanggaran karena persoalan politis, maka segera pada saat itu juga dilaporkan ke panwas.

Di beberapa daerah, setidak-tidaknya saya sudah searching di lima daerah, Boyolali segala macam, itu memang ditemukan fakta ada misalnya di Karangasem membagikan C-6 sambil membawa baju kaos pasangan calon, ya, tetapi segera dilaporkan mekanismenya ke panwas, lalu segera dalam satu hari KPU setempat mengganti KPPS itu.

Sebentulnya respons cepat seperti ini yang diharapkan oleh undang-undang, partisipasi cepat, respons cepat, sehingga tidak

(29)

kemudian menjadi persoalan dikemudian hari. Sama halnya ketika menyangkut masalah disebutkan tadi, kalau ada orang memberikan pilihan lebih dari dua kali, jelas melanggar. Pasal 112 ayat (2) jelas mengatakan salah satu unsur saja dari itu terjadi, bisa pemungutan suara ulang di tempat itu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah forum ini bisa membuktikan bahwa di situ ada dua kali pemilihan?

Pertanyaan yang kedua, apakah forum ini kemudian proses pelanggaran itu sudah diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku di lapangan?

Saya memberi contoh di beberapa tempat yang terjadi di … di … di … seperti katakanlah di Denpasar ada enam orang, kemudian menggunakan C-6 orang lain memilih, diproses langsung hari itu, lalu enam orang masuk penjara. Nah, itu artinya respon dari pasangan calon dengan cepat. Tetapi, kalau kemudian ada pelanggaran semacam itu dibiarkan, maka saya mengkritik pasangan calon, kemudian menumpuk masalah dibawa ke MK karena saya juga harus mengkritisi pasangan calon. Kadang-kadang, Majelis, pasangan calon banyak yang bikin jebakan batman, jebakan batman yang saya maksud sengaja dibuat posisi itu terbuka longgar, pelanggaran-pelanggaran itu untuk dia tahu sepertinya itu pelanggaran, lalu mau dibawa ke MK, ini yang saya sebut jebakan batman dan Majelis harus melihat apakah itu jebakan batman atau murni karena terjadi pelanggaran, lalu tidak terjadi. Ini fakta-fakta yang terjadi di lapangan. Sehingga sebetulnya dengan seluruh pelanggaran itu, maka persidangan hari ini membawa hasilnya, oh, benar sudah dilaporkan ke panwas, lalu ka … KPPS-nya sudah dipecat, dibawa dalam sebagai bukti persidangan. Oh, benar, kemudian di proses di situ terjadi pemungutan suara ulang. Saya yakin pemungutan suara ulang kalau dilakukan di situ sudah terjadi karena limit waktunya tujuh hari untuk diproses dalam rekapitulasi di PPK, PPK merespons kemudian dengan pemungutan suara ulang. Sehingga, tidak perlu diminta di Mahkamah Konstitusi, pemungutan suara ulang misalnya. Ini … ini yang

… apa namanya … kita ingin jelaskan, hal-hal bagaimana sebetulnya persoalan-persoalan teknis di lapangan itu di setiap level, di setiap tahapan, dicoba oleh undang-undang ini diatur dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak semua bermuara ke belakang.

Kemudian, menyangkut masalah PTUN dari cerita yang berkembang tadi itu masalah pencalonan. Sebetulnya, semua pihak sudah melaksanakan mekanisme sesuai dengan undang-undang, saya tangkap. Saya lihat kalau tidak salah, mohon dikoreksi, pasangan calon yang merasa dirugikan sudah mencoba melapor ke panwas. Artinya mekanisme itu sudah berjalan bahwa kemudian panwas nanti barangkali Bawaslu bisa memberikan keterangan bagaimana proses itu, silakanlah.

Kalau ternyata tidak memenuhi persyaratan kemudian gugur berarti dalam konteks yuridis, pokok perkara masalah itu memang tidak memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga

(30)

memang menurut hemat saya menjadi tidak layak lagi. Apalagi, naik ke tingkat MK, harusnya masuknya dulu ke PTUN.

Sehingga menurut saya, Majelis memang tidak berwenang lagi mengadili persoalan itu ketika prosedur-prosedur awal yang seharusnya dilalui, itu tidak dilalui dengan baik, tetapi saya lihat malah tadi sudah melapor ke panwas dan tidak ada masalah. Kalau diangkat lagi sekarang di forum ini, dengan berat hati saya harus mengatakan, ya, memang untuk menambah-nambah pokok perkara, begitu.

Ya, ini … apa namanya … kemudian, menyangkut masalah soal politik uang dan seterusnya, saya kira tadi sudah saya sampaikan beberapa poin bahwa semua persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran yang sifatnya kualitatif itu diselesaikan sesuai dengan tingkatan yang berlaku di sana. Sehingga, forum Sidang hari ini hanya kemudian, bayangan saya, membaca, “Oh, suara Pemohon berapa, suara Termohon berapa, suara calon lain berapa. Apa benar apa tidak.”

Menjawabnya kemudian, cek, adu data, “Oh, C1-nya bagaimana para pihak?”

“Oh, sama, selaras.”

“Oke, benar.”

Tetapi kita jangan percaya angka ini dahulu, bahwa angka ini benar. Betulkah bahan baku menuju angka ini benar? Lah karena itulah kemudian dilakukan proses cross-check. Ada namanya C-2, ada namanya fakta-fakta pelanggaran daripada … pada saat masa tenang sampai proses verifikasi. Sejauh mana kemudian, aspek-aspek yang bersifat kualitatif pelanggaran dari masa tenang sampai pemungutan suara itu.

Kemudian, bisa kita mengambil kesimpulan bahwa angka yang benar itu diperoleh melalui bahan baku yang kotor, atau yang bersih, atau yang agak kotor. Nah, pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana bahan baku yang mungkin agak kotor atau apa ini mempengaruhi keterpilihan.

Karena bisa saja, misalnya kemudian di satu tempat akan ada masalah,

“Oh C-6 tidak dibagikan sekian, sekian begitu dijumlah.” Tidak ada lagi laporan yang lain, tetapi selisihnya terlalu jauh. Sehingga kemudian sudahlah kita kasih C-6 itu milik Anda semua, toh juga tidak mengejar, misalnya. Nah, saya kira nanti … saya kira, Majelis … karena pengalaman yang sudah luar biasa dari sidang ke sidang cukup cakap untuk menilai setiap persoalan. Tugas kami, sebagai Ahli untuk menjelaskan bagaimana sebetulnya undang-undang ini memberikan pembelajaran dan saya sepakat dengan pertimbangan hukum, Majelis dan saya juga punya keyakinan bahwa di tahun 2017 nanti, saya kira Majelis akan sepi perkara, begitu. Karena orang sudah paham semua, bagaimana harus menjalankan kewajibannya sebagai pasangan calon peserta pemilihan dan instrumen-instrumen yang ada di lapangan.

(31)

Demikian seluruh jawaban, saya mohon maaf apabila mungkin tidak menyenangkan semua Pihak dan tidak bisa memuaskan karena saya bukan alat pemuas. Terima kasih.

66. KETUA: ANWAR USMAN

Terima kasih, ada tambahan dari Majelis Panel. Silakan, Yang Mulia.

67. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Terima kasih, Yang Mulia. Kami bersyukur ada dua Ahli, Prof. Saldi dan Pak I Gusti Putu Artha. Karena setelah kami membaca dokumen- dokumen baik yang disampaikan oleh Pemohon, oleh Termohon, dan oleh Pihak Terkait, ya, terus terang ada … apa, ya … ada masing-masing punya versi, begitu.

Nah, tentu kehadiran Prof. Saldi dan kehadiran Pak Putu, kita berharap bisa memberikan keyakinan kepada kami, sehingga kami tidak salah dalam memutus.

Pertama, ke Prof. Saldi, kalau kita membaca permohonan Pemohon secara garis besar kita bisa menyimpulkan bahwa Pemohon merasa banyak pelanggara-pelanggaran yang dilakukan oleh Pihak Termohon, tetapi pada sisi lain ketika kita membaca jawaban Termohon.

Termohon mengatakan, “Tidak, tidak benar itu. Kami tidak melanggar.”

Gitu.

Nah, kita berharap kami mendapat … apa … informasi yang bisa meyakinkan kami. Yang pertama Prof. Saldi, Prof. Saldi di dalam permohonan ini, tadi Prof menyampaikan bahwa ya mestinya kita tunduk pada norma-norma yang sudah ditentukan di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 yang kemudian dijabarkan ke dalam peraturan KPU antara lain Peraturan KPU Nomor 10 Tahun 2015.

Nah, saya ingin dari sisi hukumnya meminta klarifikasi ke Prof.

Saldi, misalnya di dalam undang-undang yang kemudian dijabarkan Undang-Undang Nomor 8 yang kemudian dijabarkan dalam PKPU 10 itu, ditegaskan bahwa mencoblos itu harus dengan … kalau kita baca, saya bacakan saja biar Prof. bisa me … supaya apakah tafsir kami tidak salah.

Saya minta tafsir dari Prof. Saldi di … ditegaskan di dalam undang- undang bahwa mencoblos itu atau pemungutan suara itu adalah proses pemberian suara oleh pemilih di TPS, ini Pasal 1, Prof., Pasal 1 poin ke 21 dari PKPU Nomor 10 Tahun 2015 yang sebenarnya ini adalah penjabaran dari norma yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

Di butir 21 atau poin 21, “Pemungutan suara adalah proses pemberian suara oleh pemilih di TPS dengan cara mencoblos pada

(32)

Nah, kemudian di bagian lain ditegaskan bahwa surat-surat suara yang bisa dianggap sah itu adalah surat suara yang dicoblos sesuai dengan norma yang ditentukan di dalam … apa … Pasal 1, butir 21 tadi.

Apa makna yang bisa kita tarik dari situ, Prof.? Itu yang pertama, silakan, Prof. Langsung saja supaya lebih ini, Prof.

68. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Ya, kita kan kalau karena itu mencoblos kan punya instrumen atau alat.

69. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Ya.

70. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Jadi, kalau dia bisa di nomor, di gambar, yang penting kan masih dalam kotak itu. Nah, kan ada instrumennya … paku ya, kurang lebih ini.

71. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Ya, ya.

72. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Artinya, kalau itu kita cobloskan, itu kan jelas secara teknis, tetapi kalau kemudia yang muncul robekan, itu kan tidak dicoblos, dalam makna tekstualnya tidak dicoblos lagi. Nah itu.

Itu artinya, menurut saya, ada perbedaan prinsip antara dampak dari dicoblos. Sekarang kan bisa dicoba saja, Yang Mulia, kalau ini kertas kita coblos kan paling-paling sebesar itu yang akan muncul. Kalau kemudian dia bisa diberi tanda itu bukan dicoblos lagi menurut saya, itu pasti sudah dirobek atau disegalamacamkan.

Walaupun secara prinsip, pemilih tetap menggunakan hak pilihnya, tetapi dengan cara yang tidak wajar itu sebetulnya kan ada prinsip dasar dari penggunaan hak pilih itu yang menurut saya terganggu. Paling tidak, ini bisa dilacak berapa sih sebetulnya yang memilih calon ini dan segala macamnya. Nah, itu yang saya anggap.

Jadi, itu mungkin bisa dimaknai bahwa bukan dengan cara yang benar dengan sesuai dengan butir 21 tadi.

(33)

73. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Kita lanjut, Prof. Di dalam undang-undang dan kemudian juga jabarannya di dalam PKPU, di dalam bilik, bilik tempat mencoblos itu tidak boleh dilakukan dokumentasi. Kira-kira makna apa yang ingin dicapai sehingga ada larangan untuk mendokumentasikan kegiatan yang dilakukan di dalam bilik suara? Silakan, Prof.

74. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Ya, itu bisa … apa … berhadapan dengan prinsip rahasia karena dokumentasi itu kan bisa menjadi alat. Kenapa sesuatu didokumentasikan? Dia bisa digunakan untuk kepentingan lain.

Nah, kalau orang mendokumentasikan itu, lalu dilihat pihak lain, prinsip kerahasiaan pemberian suara kan menjadi hilang.

75. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Oke, saya ingin me … mempertegas. Tadi, Prof. sudah menyinggung tadi soal … apa … pengambilan bagian tertentu pada foto pasangan calon. Tadi juga Kuasa Hukum Pemohon sudah menyampaikan dan menganggap … tadi Prof. Saldi kalau enggak salah, tolong di … dibetulkan kalau saya salah. Kalau enggak salah, tadi Prof. Saldi mengatakan bahwa sebenarnya dengan mengambil bagian tertentu dari foto pasangan calon, sebenarnya itu bisa dikualifikasi sebagai tindakan untuk mendokumentasikan apa yang ada atau apa yang dikerjakan oleh pencoblos, pemilih di dalam bilik suara, gitu.

Nah, kalau terjadi seperti itu, Prof., terjadi seperti itu, dimana sang pemilih mencongkel mata, mencongkel mata, misalnya pasangan calon tertentu, apakah itu ada kaitannya dengan soal dokumentasi bahwa saya pilih ini, lho. Kira-kira gitu, Prof.

76. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Saya tidak bisa menjelaskan itu, Yang Mulia. Apakah itu terkait dengan dokumentasi, tetapi kalau itu bagian dari penandaan bisa dianggap.

77. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO

Kalau itu dianggap penandaan terhadap apa yang dipilih itu bisa dianggap dokumentasi?

(34)

78. AHLI DARI PEMOHON: SALDI ISRA

Saya tidak bisa menjawabnya, Yang Mulia.

79. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Baik, terima kasih.

Saya ingin ke Pak Putu, saya merasa senang sekali ada Pak Putu sebagai mantan penyelenggara pemilu yang cukup lama sebelum di tingkat pusat juga sudah jadi penyelenggara di tingkat provinsi di Bali.

Nah, tentu Pak Putu akrab dengan regulasi-regulasi sebagai penjabaran dari undang-undang yang berkaitan dengan pemilu, termasuk PKPU-PKPU untuk menjabarkan norma yang ada di dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

Pertanyaan saya, Pak Putu, ini kan Pak Putu sebagai mantan penyelenggara, apakah ketika di dalam norma undang-undang yang kemudian dijabarkan ke dalam norma yang lebih … apa … lebih operasional, katakanlah seperti PKPU. Itu kemudian ternyata di lapangan oleh bawahan KPU, misalnya KPU tingkat kabupaten/kota atau tingkat PPK atau di tingkat lebih bawah lagi, ternyata tidak tunduk pada norma itu. Katakanlah KPPS, KPPS sudah diberitahu bahwa pada saat penghitungan suara untuk menentukan suara mana yang sah, saya yakin KPU sudah memberi apa … memberi pengarahan seperti itu. Tapi kemudian, ternyata di lapangan … ternyata di lapangan sebagai contoh misalnya KPPS ketika menghitung suara ada yang mestinya menurut norma itu, ini suara sudah tidak sah gitu, tapi kemudian oleh KPPS atau petugas di lapangan tetap saja dianggap sah. Siapa yang harus bertanggung jawab terhadap itu, Pak Putu?

80. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: I GUSTI PUTU ARTHA

Maka yang paling pertama bertanggung jawab pada saat pemungutan suara adalah saksi dari pasangan calon. Merekalah yang pada forum ketika Berita Acara itu ingin ditandatangani membuat catatan keberatan berapa dia melihat fakta bahwa misalnya surat suara dilubangi, atau matanya diambil, atau tidak. Karena nanti eksekusi hukumnya adalah surat suara itu wajib dinyatakan tidak sah. Tidak ada urusan dengan pemungutan suara ulang. Jadi, ketika surat suara itu tidak dicoblos sesuai dengan aturan, maka surat suara itu dinyatakan tidak sah dan itu ada implikasi pidananya. Saya sekaligus menjawab pertanyaan Majelis tadi kepada Prof. Saldi. Maka ketika orang kemudian mendokumentasikan di situ dan itu misalnya, sekali lagi misalnya benar, maka itu ada urusannya dengan pidana karena pasti ada urusan kemudian dengan melanggar prinsip rahasia dan politik uang di situ.

Referensi

Dokumen terkait

Publikasi tersebut diberikan kepada BPS RI, BPS Se Provinsi Kalimantan Selatan dan instansi/dinas/badan Pemerintahan yang ada di Kabupaten Tanah Laut berupa soft

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian dari persyaratan yang diperlakukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada

Lingkungan bisnis sekarang sangat kompetitif dan turbulen sehingga diperlukan suatu pendekatan manajemen yang dapat mengakmodasi permasalahan tersebut, untuk

Mengingat BAPETEN saat ini belum memiliki peraturan/ketentuan maupun standar/kode mengenai material yang digunakan untuk bejana reaktor terutama dalam hal

kursi pakai tangan, sandaran tinggi, sandaran dan dudukan beralas karet atau busa dibungkus imitalisir atau kain bludru warna coklat atau wam a lain yang

Praktikan melakukan prosedur pengolahan dengan kurang baik dan kurang lancar dengan sedikit kesalahan ketika melakukan persiapan maupun proses pengolahan dan

Berdasarkan lembar angket yang diberikan kepada MIS. MIS memberikan skor jarang pada permasalahan tentang belajar dia di luar sekolah. dan jika dilihat dari

Sanjaya (2006: 175) mengatakan’ “Yang dimaksud dengan metode ekspositori adalah metode yang digunakan guru dalam mengajar keseluruhan konsep, fakta dan