Tadi sudah disinggung oleh BNN bagaimana angka-angka hukuman mati yang sudah berkekuatan belum dieksekusi. Oleh karena itu, mungkin tidak bisa disajikan hari ini pada Pak Jaksa Agung, bisakah kami memperoleh berapa dari terpidana narkoba tersebut yang dihukum mati dan sudah mempunyai kekuatan dan kemudian sampai saat ini belum dieksekusi? Dapatkah misalnya diberikan beberapa alasan kenapa sampai saat ini belum dilaksanakan? Dan kira-kira jarak antara berkekuatan dengan sampai saat ini belum dilaksanakan, bisakah dibuatkan datanya berapa lama jangka waktu tersebut? Kita menganggap penting ini, oleh karena beberapa hari yang lalu kita
membaca satu—apakah berita atau artikel—dimana seorang sudah dihukum mati, tetapi setelah begitu lama belum juga dieksekusi, sehingga dia menganggap bahwa dua hukuman terhadap terpidana itu, satu hukuman penjara setelah sekian lama kalau tidak keliru—apakah benar saya kurang tahu, agak fantastis dua puluh enam tahun menunggu, tapi nanti juga akan dihukum mati. Jadi ada dua hukuman yang dijatuhkan kepada yang bersangkutan.
Yang kedua, kalau boleh Bapak Jaksa Agung pertanyaan kita juga bagaimanakah tata cara pelaksanaan hukuman mati itu yang kita anut menurut undang-undang yang menjadi pedoman dan hukum positif bagi pelaksana atau eksekutor? Pertanyaan ini tentunya berkaitan juga dengan tadi sudah disinggung bagaimana dasar negara kita tentu mengenal apa yang disebut perikemanusiaan atau kemanusiaan yang adil dan beradab. Dapatkah, misalnya kalau Pemerintah mempertahankan hukuman mati itu akan terus menjadi satu bagian dari hukum positif? Dapatkah dijelaskan bagaimana menselaraskan pidana mati itu dengan falsafah kemanusiaan yang adil dan beradab itu? Tentu dengan satu asumsi bahwa kalaupun misalnya terpidana-terpidana itu orang-orang yang tidak mengenal perikemanusiaan dan seperti dikatakan tadi Pemohon, tentu falsafah yang kita anut—mungkin saya kurang tahu—dalam realitasnya apakah memang pembalasan? Tetapi kualitas dari pemerintahan yang berpedoman kepada Pancasila mungkin akan berbeda dengan kualitas terpidana yang tidak mau mempedomaninya?
Tetapi kalau kita mempertahankan hukuman mati bagaimana menselaraskannya? Yang kedua juga kalau ini dipertahankan, apakah ada satu wacana atau pemikiran untuk melaksanakan hukuman mati itu dengan mencoba menserasikannya juga dengan apa yang disebutkan prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab? Saya teringat beberapa pelaksanaan hukuman mati sebelum atau mungkin di Amerika dengan satu little injection yang mungkin tidak menimbulkan sesuatu hal yang sangat dramatis di dalam pelaksanaannya, mungkin saya kurang tahu apakah metode itu bisa menjadi suatu dasar untuk memperkuat pendirian Pemerintah bahwa hukuman mati itu akan dipertahankan?
Kepada BNN, saya juga kurang tahu apakah di dalam apakah tadi saya kurang bisa baca terlalu kecil tadi di dalam sajian data itu apakah bisa diverifikasi atau bagaimana cara memverifikasi angka bahwa ada kematian 41 orang setiap hari disebabkan oleh narkoba? Mungkin untuk gambaran menyeluruh saya pribadi menganggap ini merupakan sesuatu yang penting untuk mengukur. Tadi dikatakan oleh Pemohon dua bahwa ukuran the most serious crime yang mengacu kepada ICC Statue of Rome mungkin kita memiliki satu kriteria yang lain untuk menyatakan bahwa the most serious crime itu? Kira-kira tolok ukur apa yang kita pakai? Bagi saya pribadi ini merupakan sesuatu data yang kita perlukan juga.
Kepada Pemohon yang telah mengutip tadi sistem pengapusan pidana mati di Amerika, Amerika Latin, dan di Eropa. Bolehkah dilengkapi dengan data bagaimanakah sistem pemidanaan yang dianut oleh sistem hukum negara-negara yang telah menghapuskan hukuman mati? Pertanyaan saya berkaitan dengan adanya suatu kesenjangan seandainya, misalnya kita mempertahankan sistem pidana kita pidana pokok di dalam KUHP, dihapuskan hukuman mati antara seumur hidup dengan hukuman penjara maksimum dengan kewenangan-kewenangan remisi, tadi dikatakan di sana kemungkinan sentence without parole itu, tetapi di kita dengan sistem itu dia menjadi sesuatu yang sangat penting untuk dipikirkan secara komprehenshif dengan sistem pemidanaan. Pertanyaan saya bagaimanakah di dalam suatu perbandingan, dalam sistem negara hukum yang menghapuskan hukuman mati sistem pemidanaan itu dianut?
Jadi misalnya, apakah dia tidak lagi menganut sistem absorsi atau dia hanya akumulatif saja, sehingga seperti yang kita dengar kita sering juga mendengar hukuman penjara delapan puluh tahun, ini sangat erat kaitannya karena ini merupakan suatu sistem yang tidak bisa dipisahkan secara menyeluruh.
Saya pikir ini pertanyaan saya, mungkin tidak bisa disajikan sekarang barangkali bisa disusulkan, terima kasih.
40. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.
Baik dicatat dulu, bagian yang sebelah kiri silakan.
41. HAKIM KONSTITUSI : I DEWA GEDE PALGUNA, S.H.,M.H. Terima kasih Bapak Ketua.
Pertanyaan saya yang pertama saya akan tujukan kepada Pemerintah, tapi karena sudah ditanya, yaitu menyangkut data tentang eksekusi jadi saya tidak akan bertanya lagi mengenai soal itu. Yang kedua mohon klarifikasi kepada Pemohon, khususnya kepada Pemohon satu berkenaan dengan cara berpikir dari Pemohon satu khususnya mengenai standing, yang mengakibatkan Pasal 51 dimohonkan pengujian di Mahkamah Konstitusi ini, maka saya ingin klarifikasi satu hal, apakah dengan penjelasan Saudara—karena kalau saya ulang akan menjadi panjang lagi ceritanya yang tadi itu—apakah dengan penjelasan Saudara, Saudara hendak mengatakan bahwa khusus mengenai hak hidup dan khusus mengenai hukuman mati, khususnya dalam kasus in casu, itu prinsip bahwa seorang warga negara asing boleh mempersoalkan hukum asing di negara asing itu sendiri, berlaku? Apakah di situ telah hilang, artinya asas yang selama ini kita kenal yang membedakan hukum internasional dengan hukum nasional, yaitu bahwa par in parem non habet imperium, di situ kehilangan maknanya. Yang kedua, artinya juga apakah dengan penjelasan Saudara Pemohon tadi,
itu berarti prinsip personnel hebeid [sic!] dan richten hebeid [sic!] juga sudah dilewati? Khusus dalam konteks hukuman mati dan khususnya dalam mempersoalkan Pasal 51, artinya orang asing boleh mempersoalkan hukum negara lain di wilayah negara lainnya sendiri untuk soal itu. Apakah itu pendirian dari Saudara Pemohon?
Terima kasih Pak Ketua.
42. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.
Baik, yang terakhir yang berhormat Hakim Natabaya. 43. HAKIM KONSTITUSI : Prof. H.A.S. NATABAYA, S.H.,LLM.
Ini kepada Pemohon yang mempersoalkan Pasal 51 mengenai warga negara asing. Adalah menarik bagi saya apakah memang benar bahwa seseorang asing itu dapat mempersoalkan mengenai kebijakan di dalam sesuatu negara? Sebab ini bukan permasalahan mengenai sistem hukumannya, tetapi di dalam persidangan Mahkamah Konstitusi ini adalah mempersoalkan apakah norma daripada undang-undang itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar? Apakah orang asing dapat mempersoalkan norma di suatu negara itu bertentangan dengan undang-undang? Ini adalah sesuatu hal yang menarik, karena apa? Karena Pemohon telah mendalilkan Pasal 28D, “setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”, dan ini seolah-olah berlaku untuk seluruh orang, berlaku untuk semua persoalan.
Berkaitan dengan persoalan yang Pemohon ajukan mengenai masalah hukuman mati, di dalam ICCPR jelas, Pasal 6 ayat (4), saya akan bacakan, “anyone sentenced to death shall have the right to seek pardon or commutation of the sentence. Amnesty, pardon or commutation of the sentence of death may be granted in all cases”, artinya apa? Artinya persoalan ini mereka bisa persoalkan di dalam proses peradilan di dalam pengadilan negeri, tidak di dalam masalah persoalan antara norma terhadap Undang-Undang Dasar.
Jadi pasal mengenai ini harus dibaca di dalam article 6 ayat yang keempat itu, di dalam ICCPR itu, jadi jelas. Kedua, Pemohon saya kenal betul sebagai seorang ahli daripada human rights, bahwasanya Pemohon mempersoalkan Pasal 28E ayat (1). Permasalahan ayat (1) ini pada kaitannya dengan Pasal 3 daripada Universal Declaration of Human Rights yang ada kaitannya dengan everyone has the right to life dan ini dikembangkan di dalam ICCPR Pasal 6, tetapi juga Pemohon tidak mengutip Pasal 29 yang sudah dikemukakan oleh Pak Jaksa Agung, bahwa terhadap, “in the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations…..”, artinya ada determinasi. Kedua, juga Pemohon di dalam permohonannya itu hanya melihat Pasal 28I ayat (1), tidak juga mempersoalkan Pasal 28J ayat (2), apakah
pembatasan dalam (Pasal) 28J ayat (2) itu berlaku? Sedangkan Pemohon hanya mempersoalkan right to life, itu tidak serta merta ada kaitannya dengan hukuman mati. Karena di dalam beberapa Undang-Undang Dasar—dari beberapa negara—bahwa dinyatakan bahwa selalu kalimat akhirnya itu dimasukkan mengenai kalimat larangan hukuman mati, tidak otomatis.
Jadi barangkali nanti dalam pemeriksaan itu nanti kita akan bisa lihat mengenai itu Pak.
44. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.
Oke, tolong nanti dicatat, masing-masing dijelaskan, ini cara bertanya ini, selalu saya sebut ini. Jadi biasa dan kami sembilan cukup tiga saja, supaya jangan kelihatan pula nanti pendapatnya. Jadi tolong masing-masing sesuai dengan arah pertanyaan tadi, maksudnya untuk meminta keterangan lebih mendalam, lebih luas, mengenai pokok persoalan ini dari masing-masing pihak. Dari Pemerintah juga begitu, dari BNN juga demikian, dan juga dari Pemohon juga demikian.
Saya persilakan dulu kepada Pemerintah.
45. PEMERINTAH : Dr. HAMID AWALUDIN, S.H.(MENTERI HUKUM DAN HAM )
Yang mulia Majelis Hakim, para Pemohon, para Pihak Terkait, memang benar bahwa data yang kami sajikan adalah data yang terakhir untuk menunjukkan penegasan kami bahwa kecenderungan kejahatan narkoba ini semakin meningkat. Pada tahun 1997—ketika undang-undang ini dibuat—data tentang ini belum sedahsyat seperti sekarang. Dengan data yang ada saja pada tahun itu, Pemerintah dan DPR sudah shocking, bahwa betapa urgen kita membuat undang-undang seperti ini. Pada saat itu kecanggihan teknologi komunikasi dalam berinteraksi masih biasa-biasa saja, tokh orang sudah sangat concern, apalagi kalau sekarang? Point-nya Yang Mulia adalah bahwa data yang ada saja pada tahun 1997 itu sudah mengagetkan, sudah menjadi concern Pemerintah dan wakil rakyat, apalagi data yang ada sekarang ini kita punyai dan kita buat undang-undang baru mungkin saya tidak tahu bagaimana lagi hasilnya?
Itu jawaban saya kepada Pemohon, terima kasih Yang Mulia. 46. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.
47. PEMERINTAH : ABDURRAHMAN SALEH, S.H., M.H (JAKSA