• Tidak ada hasil yang ditemukan

PIHAK TERKAIT : KOMJEN I MADE MANGKU WASTIKA (KOLAKHAR BNN)

31. PIHAK TERKAIT : KOMJEN I MADE MANGKU WASTIKA (KOLAKHAR BNN)

Terima kasih Yang Mulia, Ketua dan para anggota Mahkamah Konstitusi yang kami hormati, yang mewakili Pemerintah serta para Pemohon, para hadirin yang berbahagia.

Pertama-tama kami menyampaikan terima kasih karena BNN ditetapkan sebagai pihak terkait langsung sehingga di satu pihak kami dapat menyampaikan kepada Mahkamah yang sangat mulia ini berbagai hal yang kita sedang hadapi saat ini khususnya kami yang mengemban

tugas sebagai aparat Pemerintah dalam pencegahan penyalahgunaan dan pemberantasan peredaran gelap narkoba di Republik ini. Kita semua menyadari tadi sepintas selalu telah disampaikan oleh Bapak Menteri Hukum dan HAM tentang bahaya narkoba itu. Oleh karena itu kami akan memulai paparan ini dari situasi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh BNN bekerja sama dengan Universitas Indonesia, maka para pengguna dan pecandu narkoba di Indonesia telah mencapai angka 1,5% dari penduduk Indonesia. Kalau kita hitung kira-kira 3,2 juta orang, tetapi karena kejahatan narkoba ini semacam penelitian terhadap penyalahgunaan narkoba itu banyak hidden population-nya, maka kemungkinan besar angka itu jauh lebih besar dari angka yang bisa dijangkau oleh para peneliti, sehingga diperkirakan antara 3,2 juta sampai empat juta orang pengguna dan pecandu dari narkoba itu.

Kita melihat dalam lima tahun terakhir yang sudah pasti, yang bisa dideteksi adalah kasus perkara, karena perkara ini yang ditangkap polisi kemudian di sidang dan kemudian masuk penjara, sehingga dengan demikian angkanya menjadi lebih jelas. Dalam lima tahun terakhir ini, dari tahun 2001 sampai 2006, telah terjadi peningkatan rata-rata 34,4 persen per tahun perkara narkoba, misalnya tahun 2001 perkara berjumlah 3.617, maka tahun 2006 menjadi 17.355 kasus. Begitu juga orang yang ditangkap kalau tahun 2001, 4.924 orang maka pada tahun 2005, menjadi 31.635 orang, itulah yang dikatakan oleh Bapak Menteri Hukum dan HAM, rata-rata angka nasional tiga puluh persen di seluruh Indonesia, rata-rata nasional. Itu yang dituduhkan, didakwakan dengan Undang-Undang Narkotika dan Undang-Undang Psikotropika, tapi yang related kepada drugs offences mungkin lebih banyak lagi, misalnya orang mencuri karena ketagihan narkoba, yang dihukum karena pencurian, orang membunuh karena sakaw itu juga dituduh pembunuhan, bukan karena sakaw-nya. Sehingga angkanya lebih besar lagi sebenarnya, kalau kita lihat dari apa yang terjadi seperti itu, dari aspek barang bukti misalnya atau narkoba, kami singkat narkoba itu berarti termasuk psikotropika yang disita 2001 sampai 2006, ganja saja sebanyak 155,935 ton ganja. Dengan jumlah batangnya satu juta lebih dan areanya 610 hektar di Aceh, dan di Jambi, dan di Sumatera Utara, dan di Bengkulu 610 hektar. Heroin sebanyak 102,439 gram, jadi 102 kilogram, dan kokain 69 kilogram, sedangkan jenis narkoba psikotropika seperti ekstasi dan shabu yang terakhir saja adalah yang paling mengejutkan—di akhir 2006—satu ton shabu yang disita di Teluk Naga.

Kemudian, kami juga melakukan riset tentang biaya ekonomi dan sosial dari penyalahgunaan narkoba sebesar satu setengah persen—tadi sudah dikatakan—berarti masih ada 98,5% orang Indonesia yang bebas narkoba, termasuk kita yang berada di ruangan ini, 98,5%.

Kita harus menjaga jangan sampai 98,5% ini berkurang, itulah kira-kira misinya kita, ini yang satu setengah persen bagaimana kita mengurangi? Perlahan-lahan sambil yang mati lima belas ribu pertahun atau 41 orang sehari, hari ini akan mati empat puluh satu orang karena overdosis. Jadi, pada saat Alda Risma meninggal, ada empat puluh orang lainnya yang menemani yang bersangkutan, sebenarnya pada hari itu. Hanya memang luput dari pemberitaan. Jadi kalau lima belas ribu yang meninggal, maka hari ini ada 41 orang yang meninggal karena overdosis dan terjangkit HIV/AIDS. Selama setahun ini hampir tidak ada saya kira yang dieksekusi mati, selama ini dari 62 orang yang sudah dijatuhi hukuman mati, baru tiga orang yang dieksekusi, itulah sebabnya seakan-akan hukuman mati itu menjadi tidak efektif, karena dijatuhi hukuman mati tapi tidak dieksekusi-eksekusi, itu juga satu hal yang sekaligus kami jelaskan tadi bagaimana relevansinya antara hukuman mati dengan kejahatan narkoba? Tokh tidak menurun, memang karena tidak sempat dieksekusi-eksekusi sampai sekarang, itu yang selalu ditanyakan oleh masyarakat kepada saya, kepada para penegak hukum jika bertemu dengan masyarakat, apalagi kalau bertemu dengan korban narkoba atau keluarga dari korban narkoba.

Kita hitung misalnya—tadi dikatakan IDU (Injecting Drugs User)— itu kalau BNN menghitung jumlahnya 572.000 orang, artinya mengunakan putaw atau heroin, kita tidak usah menghitung ini, KPA mengatakan, Komisi Penanggulangan AIDS, ada 36.000 orang saat ini yang menggunakan jarum suntik dan ini yang berpotensi sangat berpotensi menyebarkan HIV/AIDS. Oleh karena itu diperlukan 360 ribu jarum steril setiap hari, berarti ada 36 ribu gram heroin yang diperlukan, karena tidak mungkin yang disuntikkan itu vitamin c atau yang lainnya, harus heroin. Satu gram heroin harganya satu juta rupiah, kalau 36 ribu gram berarti 36 ribu juta atau Rp. 36 miliar yang diperlukan hanya untuk pecandu heroin sehari. Jika kita bandingkan dengan anggaran BNN 250 miliar setahun, maka itu tidak akan sampai sepuluh hari bisnis narkoba itu, hanya untuk heroin. Belum ekstasi, belum sabu, belum ganja, belum kokain, belum hasis. Jadi kita bisa menghitung berapa sebenarnya uang yang harus dibelanjakan oleh bangsa ini untuk memenuhi kebutuhan narkobanya? Belum karena akibatnya. Tadi dikatakan tiga puluh persen dari yang di penjara itu adalah narkoba, kita harus kasih makan, satu orang yang di penjara itu delapan ribu lima ratus rupiah per hari kalau tidak salah, uang makannya mereka. Kita bisa kalikan berapa banyak yang diakibatkan oleh itu, belum lagi hal-hal yang lainnya.

Oleh karena itu, kami juga melaporkan kasus narkoba yang menonjol tahun 2006-2007, kita lihat bagaimana Polri telah mengungkap dengan Satgas BNN berbagai kasus besar mengenai psikotropika dan ganja, khususnya yang sangat mencengangkan penyelendupan sabu satu ton melalui Teluk Naga dan itu kita percaya telah dilakukan berkali-kali, tetapi karena mereka dengan cerdiknya berlabuh di lautan bebas kemudian menggunakan kapal nelayan, berlabuh di tempat yang tidak

semestinya sehingga seringkali lolos. Ini kaitannya dengan luasnya wilayah geografis kita yang harus kita awasi dan tidak mungkin bisa dicegah oleh angkatan laut atau Polri kita. Karena dengan lihainya mereka berlabuh di lautan bebas, sehingga tidak terjangkau oleh angkatan laut kita, oleh hukum kita, dan kemudian mereka menggunakan kapal-kapal nelayan berlabuh di tempat-tempat bukan pelabuhan yang semestinya. Begitu juga terungkapnya kasus “Cikande”. Cikande merupakan pabrik ekstasi dan sabu terbesar di dunia setelah Fiji dan Cina. Sebelumnya, tahun 2005 diungkap juga kasus di Tangerang yang melibatkan Saudara Ang Kiem Swie, itu merupakan juga pabrik ekstasi terbesar di dunia.

Bapak-Bapak Hakim Mahkamah Konstitusi yang kami muliakan. Di Jakarta ada kira-kira dua ratus tempat hiburan malam. Seandainya satu tempat hiburan malam memerlukan seribu butir ekstasi sehari, sudah ada dua ratus ribu butir ekstasi diperlukan untuk di Jakarta ini. Sehingga tidak ada jadinya bisnis yang lebih menguntungkan dari bisnis narkoba ini. Biaya membuat satu butir ekstasi tidak lebih dari lima ribu rupiah, sedangkan dijual di tempat-tempat disko seharga seratus ribu hingga seratus lima puluh ribu rupiah, sehingga dengan demikian kejahatan ini masih akan terus mengganggu dan mengancam bangsa kita. Kemudian pandangan BNN terhadap hukuman mati.

Kami melihat dari aspek filosofis, yakni sudut pandangan agama. Dimana mayoritas bangsa Indonesia beragama Islam oleh karena itu kami mengutip yang pertama;

Dari sudut agama Islam

Dalam syariat Islam konsep hukuman dikenal dengan qishas dan diyat. Qishas menurut bahasa, artinya pembalasan yang sepadan. Membalas atau mengambil balasan. Qishas menurut pengertian syar’i adalah pembalasan untuk pelaku kejahatan setimpal dengan kejahatannya. Kalau kita lihat, satu hari orang Indonesia mati empat puluh orang, belum yang menderita, yang tidak mati, setengah mati, dan sebagainya. Berapa banyak orang-orang yang harus bertanggung jawab sebenarnya untuk orang-orang ini? Apabila seseorang melakukan pembunuhan, maka pelakunya akan dihukum mati. Apabila seseorang melukai anggota tubuh korbannya, maka pelaku akan mendapat balasan dengan dilukai anggota tubuhnya, seperti luka yang diterima korbannya. Sebab jika pembunuh diganjar hanya dengan penjara enam atau tujuh tahun saja, selain terasa tidak setimpal juga dapat menimbulkan kejahatan baru, dimana keluarga terbunuh tidak merasa puas atas hukuman itu. Akibatnya pelampiasan rasa dendam tidak dapat dihindari untuk membunuh si pelaku pembunuhan. Namun apabila kejahatan itu terasa ringan, maka yang membuat orang-orang yang lemah imannya tidak takut melakukan pembunuhan. Padahal dalam pandangan Islam menghilangkan nyawa orang lain hanya boleh karena dua faktor,

pertama karena kehendak Allah, yang kedua konsekuensi penegakan hukumnya, eksekusi atas putusan hakim.

Dari sudut ideologi dan politis

Sebagaimana uraian di atas, betapa terancamnya masa depan bangsa ini karena begitu banyaknya generasi muda kita yang telah menjadi korban dan akan menjadi korban dalam kesia-siaan akibat perbuatan yang terjadi. Secara dramatis kita mendengar pernyataan akan terjadi lost generation—untuk menggambarkan betapa mengkhawatirkan keadaan yang kita hadapi ini. Oleh karena itu sepantasnya kita menyebut bahwa para pengedar dan produsen narkoba sebagai pembunuh massal, karena perbuatan mereka telah menyebabkan kematian demi kematian yang mencapai jumlah kematian dalam jumlah besar. Maka untuk menyelamatkan bangsa Indonesia cara yang paling tepat adalah dengan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya, termasuk hukuman mati kepada para perusak atau pembunuh masal tersebut.

Tujuan hukuman pidana harus memperhatikan tujuan pembangunan nasional. Atau mewujudkan masyarakat adil dan makmur, yang merata, materil, dan spiritual berdasarkan Pancasila. Sehubungan dengan ini penggunaan hukuman pidana bertujuan untuk menanggulangi kejahatan demi memenuhi rasa keadilan dari kejahatan yang tidak beradab serta pengayoman kepada masyarakat. Kemudian hukuman harus sesuai dengan rasa keadilan. Rasa keadilan di sini yang dijadikan parameter adalah rasa keadilan berdasarkan ideologi Pancasila. Aspek keadilan, penjatuhan hukuman akan dirasa adil atau seimbang dengan kejahatan yang dilakukan; misalnya terorisme, narkoba, pembunuhan berencana, pelanggaran HAM berat, dan lain-lain. Salah satu tujuan hukuman setimpal adalah untuk menanamkan rasa takut kepada setiap orang yang ingin melakukan perbuatan yang tidak beradab. Secara filosofis hukuman mati bertujuan untuk kepentingan prevensi umum, agar orang lain tidak ikut melakukan kejahatan tersebut. Di samping itu, seorang dihukum mati berdasarkan hukum yang berlaku supaya orang lain tidak ikut melakukan kejahatan yang sama dan meresahkan. Hal ini apabila dikaitkan dengan sumber hukum positif yang berasal dari nilai-nilai hukum adat, dimana keseimbangan harus tetap dijaga jangan sampai rusak hanya oleh kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang.

Aspek yuridis konstitusional

Saya kira saya tidak ulas lagi karena tadi sudah dijelaskan isinya sama, yakni Pasal 28J Undang-Undang Dasar 1945, “bahwa dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil

sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis”. Di samping itu penerapan pidana mati telah mempunyai legitimasi secara konstitusional, bahkan dalam penjatuhan hukuman mati masih dalam tahapan-tahapan proses peradilan yang panjang. Inilah satu hal juga yang menyebabkan mengapa pidana mati menjadi tidak efektif. Karena terlalu panjang prosesnya, menunggu terlalu lama, ini satu hal yang selalu dipersoalkan dan tidak jarang putusan hukuman mati yang sudah pengadilan negeri, tahu-tahu di Mahkamah Agung menjadi lima belas tahun, ini juga satu hal. Sehingga menimbulkan kekecewaan yang sangat meluas di tengah-tengah masyarakat dan mulai adanya sangkaan-sangkaan miring terhadap para penegak hukum kita.

Aspek sosiologis

Masyarakat Indonesia menerima adanya hukuman mati, bahkan dalam berbagai acara seminar dan pertemuan termasuk dalam acara rapat dengar pendapat dengan DPR-RI, selalu ditanyakan tentang eksekusi, kapan dieksekusi terhadap terpidana kejahatan narkoba? Bahkan ketika mereka mendengar bahwa Samin Iwan alias A Kwang, yakni yang menyelundupkan narkoba sebanyak satu ton itu, rencananya akan dituntut lima belas tahun oleh jaksa, maka Pansus RUU Narkotika menjadi emosional, kebetulan kami berada di sana, saat yang mendengar hanya akan dituntut pidana lima belas tahun.

Mereka mengatakan, satu ton itu akan berapa orang yang akan mati? Kenapa hanya dituntut lima belas tahun? Seperti itu, sehingga kami tidak bisa menjawab karena memang dalam Undang-Undang Psikotropika maksimum hukuman ancaman pidana bagi psikotropika golongan dua memang lima belas tahun. Sehingga mereka minta, kenapa tidak disamakan dengan narkotika saja? Atau naikkan golongannya sabu itu menjadi golongan satu supaya bisa dihukum mati. Pemberlakuan hukuman mati di Indonesia masih sangat diperlukan, apabila hukuman mati ditiadakan, dikhawatirkan situasi Indonesia makin memburuk, khusus untuk perkara narkotika dan psikotropika.

Jika hukuman mati ditiadakan, Indonesia telah mengirim pesan yang salah kepada para pengedar—ini ucapannya Bapak Jaksa Agung pada tanggal 14 Sepetember 2006 yang kami kutip. Pesan salah kepada para pengedar, juga kepada calon pengguna, dan calon pengedar. Kami dapat ilustrasikan, Singapura pada tahun 2001 terdapat hampir lima ribu pengguna narkoba, tetapi tahun 2004 tinggal seratus lima puluh orang. Ini karena memang hukumnya yang sangat tegas. Mereka menganut asas kuantitas. Lebih dari lima belas gram heroin, hukuman mati. Malaysia dan Singapura sama. Sehingga dengan demikian kalau kita bebaskan dari hukuman mati, maka berbondong-bondonglah sindikat-sindikat dari Singapura dan Malaysia itu akan hijrah ke Indonesia. Kemudian merosotnya nilai moral dan agama, pecahnya keluarga, hilangnya masa depan anak bangsa dan seterusnya, dan seterusnya.

Selain itu penyalahgunaan narkoba sering terkait dengan perilaku anti sosial seperti kenakalan remaja, kejahatan, dan kekerasan yang memiliki dampak negatif bagi individu yang bersangkutan, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Aspek ekonomis

Seperti sedikit telah kami singgung tadi, bahwa bisnis narkoba adalah bisnis yang paling menjanjikan saat ini, apalagi pada saat perekonomian terpuruk. Di Bali—saya mantan Kapolda Bali—akibat bom Bali kemudian banyak travel, hotel yang collapse, para pegawai itu kemudian menjadi pengedar narkoba. Mereka bisa berhasil menjual ekstasi dua butir saja sudah cukup untuk hidup mereka, karena sudah dapat seratus ribu rupiah untungnya. Dan lama kelamaan mereka bukan hanya menjadi pengedar, tetapi juga menjadi pengguna, ini yang terjadi. Sehingga luar biasa dari aspek ekonomi sangat menjanjikan. Seperti kami katakan tadi, misalnya ganja di Aceh harganya dua ratus ribu satu kilo sudah di-pack, sudah rapi. Tiba di Jakarta harganya dua setengah juta, sehingga kalau berhasil menyelundupkan ganja satu ton dari Aceh ke Jakarta dan itu tidak jarang terjadi, maka kita sudah mengantongi uang dua miliar dalam dua minggu saja. Jadi begitu menjanjikannya bisnis narkoba ini, sehingga untuk mendapatkan keuntungan besar tanpa kerja keras, dengan sedikit nyali dan moral bejat, maka akan menghasilkan keuntungan yang luar biasa besarnya.

Para sindikat melakukan penetrasi pasar dan giat memperluas jangkauan bisnisnya dengan menghalalkan segala cara termasuk memperalat anak-anak, kaum gelandangan, dan kaum perempuan terutama. Kami di sini ada daftar nama-nama perempuan kita yang ditangkap di luar negeri termasuk di Rio de Janeiro, di Pakistan, di Cina karena menjadi kurir yang diperalat oleh para sindikat ini. Dan dengan sedikit penyelidikan kita, kemudian kita bisa juga membongkar jaringan yang ada di Indonesia. Kami katakan tadi termasuk gelandangan, jadi gelandangan diberikan dulu secara cuma-cuma mereka, setelah menjadi ketagihan kemudian menjadi pengedar. Dan kalau mereka tidak mau menjadi pengedar dibunuh. Jadi mereka menghalalkan segala cara untuk masuk ke segala lapisan masyarakat Indonesia, dengan dana yang tidak terbatas. Saya katakan tadi, “satu hari jual heroin, itu bisa mengantongi 36 miliar rupiah, satu hari”. Seperti itulah keuntungannya, sehingga kalau ada suatu pepatah, mohon maaf para hakim yang kami muliakan, ada satu pepatah Cina yang mengatakan begini “qui pen sengi wuren cuo, sato sengi yuren cuo” [sic!], sengi artinya bisnis, kuipen itu artinya rugi. Jadi kalau bisnis yang merugi, tidak ada orang kerja, tetapi kalau bisnis yang menguntungkan, menghasilkan uang dipotong kepala pun mereka mau. Jadi begitu menariknya bisnis narkoba ini kalau kita lihat.

Dampak ekonomis akibat penyalahgunaan narkoba

Jumlah uang yang dibelanjakan, biaya perawatan bagi pecandu, termasuk yang terkena virus HIV/AIDS ini luar biasa. Tadi dikatakan, 30% dari yang napi, itu Rp. 8.800/hari uang makannya saja, kalau misalnya kami cek di Lapas Pak, itu hanya segitu, tapi itu kalau dikalikan dan bertahun-tahun, bayangkan berapa besar yang harus kita keluarkan untuk itu. Belum lagi kalau kita hitung kerugian akibat menurunnya kinerja pengguna dan pecandu narkoba di dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Hal yang terakhir kami sampaikan,

Aspek kemampuan aparat Pemerintah

Kita harus mengakui BNN berdiri tahun 2002, padahal persoalan narkoba sudah mulai tahun 70-an, kalau tidak salah. Jadi kita memang agak telat, sehingga sudah besar seperti ini baru ada upaya-upaya untuk menanggulanginya, kita jika kita lihat penanggulangan terhadap peredaran narkoba oleh aparat memang masih belum memadai. Pertama karena luasnya wilayah geografis seperti kami katakan tadi, delapan puluh ribu kilometer panjangnya pantai kita itu, bagaimana kita harus mengawasinya semua? Dengan modus operandi seperti kami katakan tadi. Sabu itu datang dari Guangchou, berlabuh di lepas pantai kita, dengan kapal besar dan bahkan katanya sekarang pabrik itu di kapal Pak. Jadi dia berproduksi di tengah laut internasional, bagaimana kita mau tangkap? Kemudian dengan kapal-kapal kecil, nelayan-nelayan masuk ke wilayah kita. Istilah mereka mother ships operation, ini sudah terjadi sekarang ini. Siapa tidak tergiur dengan pasar yang 3,2 juta orang itu Pak? Itu pasar yang luar biasa, 3,2 juta. Kalau orang ini kita tidak matiin Pak, ya saya tidak tahu bagaimana kita harus mengatasinya?

Kemudian banyaknya penduduk yang relatif pendidikannya masih rendah dan disparitasnya yang begitu luar biasa. Gap antara satu dengan yang lain, pendidikan masih rendah, keterjangkauan kita dalam menyampaikan program-program pencegahan masih sangat terbatas. Dukungan anggaran yang kecil dihadapkan dengan sindikat yang dananya unlimited. Saya katakan tadi, anggarannya BNN 250 miliar setahun, dihadapkan dengan sindikat yang seperti itu, bagaimana kita melakukan upaya-upaya? Memang hampir tidak memadai upaya-upaya ini jika dibandingkan dengan luasnya penetrasi pasar mereka. Beroperasinya sindikat narkoba yang merupakan transnational organized crime, dengan memanfaatkan teknologi canggih dan jaringan yang sulit dilacak, yang bahkan sering beroperasi dengan cara-cara teror dan menggunakan kekerasan bersenjata, di samping melakukan kejahatan seperti pencucian uang, human trafficking, penyelundupan senjata api, dan lain-lain.

Tadi kami mendengar dari Pemohon sedikit tentang beberapa rapporteur yang menjelaskan bahwa drugs, kejahatan-kejahatan narkoba tidak lagi dijatuhi hukuman mati dan sebagainya, tapi yang dimaksudkan di sana, istilah yang dipakai di sana adalah drugs related

offences seperti money laundering, pemalsuan paspor, dan sebagainya memang itu tidak dihukum mati, tetapi drugs offences yang berkaitan dengan produksi, peredaran gelap, yang secara terorganisir tidak direkomendasikan untuk dicabut.

Kesimpulan

Dengan adanya perbedaan atau kontroversi bahkan timbulnya berbagai interpretasi terhadap hukuman mati, maka Badan Narkotika Nasional sebagaimana uraian di atas, bersikap atau berpandangan sebagai berikut; apabila berbicara tentang hukuman mati maka tentulah hukuman tersebut diperuntukkan bagi para pengedar, produsen narkotika dan psikotropika golongan satu sebagaimana diatur di dalam undang-undang tersebut yang terorganisir, b. kejahatan tersebut merupakan tindak pidana yang digolongkan sebagai extra ordinary crime, maka dalam penanganannya harus dilakukan secara ekstra keras sebagai bentuk prevensi negara terhadap dampak ancaman destruktif dari kejahatan itu sendiri untuk deterrent effect bagi yang lainnya. Pelaku kejahatan narkoba tidak hanya menghilangkan hak untuk hidup orang lain, kematian pecandu seperti kami katakan tadi lima belas ribu per tahun dan sulitnya para pecandu ini kalau mau cari rumah sakit, tidak ada rumah sakit yang mau terima karena mereka juga mengidap

Dokumen terkait