Terima kasih Yang Mulia.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada para Pemohon yang telah menyampaikan beberapa hal. Ada pertanyaan, ini sudah ada hukuman mati kenapa kejahatan naik terus? Kita bisa bayangkan kalau tidak ada, mungkin kita semua tidak hadir di sini pada hari ini, kita pun sudah teler semua saya kira itu. saya kira begitu. Jadi memang, itulah kita ini, jadi sudah diancam hukuman mati pun masih banyak, apa lagi kalau tidak? Saya katakan tadi maka berbondong-bondonglah orang akan bisnis itu.
Kemudian, apa kalau sudah dieksekusi nanti ternyata tidak bersalah dan sebagainya? Untuk khusus kasus narkoba, ini pembuktiannya sangat kuat, karena physical evidence-nya pasti ada. Hampir tidak ada kasus narkoba yang dijatuhi pidana mati, tapi alat buktinya tidak lengkap, atau meragukan, atau dan sebagainya. Bahkan pasti sangat kuat, pembuktiannya pasti sangat kuat. Oleh karena itu hampir tidak ada kasus narkoba yang di SP3, tidak ada, tidak ada itu kasus narkoba yang di-SP3, itu tidak ada, artinya yang dihentikan dalam penyidikan itu tidak ada. Semua pasti maju, karena jelas. Barang buktinya ada, kesaksian lengkap, dan sebagainya. Sehingga untuk salah itu kecil sekali kemungkinannya. Kemudian mengapa datanya 2001-2006? Memang dulu terus terang saja kita tidak terlalu serius menangani persoalan narkoba, kita terlambat. BNN saja baru dibentuk tahun 2002. Selama ini hanya ditangani oleh Bakolak Inpres dulu namanya, bersambilan dengan uang palsu dan lain-lain, dan dulu kita menganggap Indonesia itu daerah transit, kalaulah yang kena morfin, istilah dulu morfinis tahun 70-an, 80-an, itu hanya orang-orang kaya yang bisa beli morfin. Sekarang tidak, jadi memang, mengapa angkanya sangat naik? Karena memang operasinya ini sangat giat sejak tahun 2005. Jadi Polres-polres, Polda-polda, itu digenjot oleh Bapak Kapolri (Bapak Sutanto) harus, karena kita sudah telat ini, kalau aspek penegakan hukumnya tidak gencar, maka makin berat bahaya yang akan kita hadapi
ini. Sehingga kebijaksanaan nasional, aspek penegakan hukum betul-betul digenjot. Itupun jelas masih banyak hidden population-nya yang tidak tertangkap, saya yakin masih banyak sekali.
Itulah saya katakan tadi ada satu aspek yang kami sampaikan, aspek kesiapan atau kemampuan aparat Pemerintah dalam menanggulangi ini, memang kita masih belum mampu seratus persen dihadapkan dengan berbagai hal-hal tadi. Apalagi kalau piranti hukumnya tidak keras, seperti itu kira-kira. Jadi kenapa data terakhir meningkat? Kasusnya yang saya katakan meningkat, karena operasinya makin banyak dilakukan. Sama dengan pelanggaran lalu lintas, makin rajin polisinya operasi, banyak angka pelanggaran, begitu juga di sini, makin rajin polisinya menangkapi, makin banyak kasusnya. Untuk rajin menangkap itu harus ada piranti hukum yang mendukung, harus ada dukungan anggaran yang cukup, harus ada keterpaduan criminal justice system, dan seterusnya.
Terus mengapa juga angkanya terus naik? Karena kita masih belum bisa menjangkau misalnya aset atau hasilnya mereka, ini yang akan kita masukkan, kita usulkan untuk dimasukkan dalam rancangan undang-undang yang baru tentang narkotika. Jadi walaupun itu dibuat tahun 1997, ternyata undang-undang itu banyak yang harus kita tingkatkan. Seperti misalnya persoalan penangkapan, di sana hanya satu hari karena sesuai dengan KUHAP. Padahal untuk kasus narkotika kita memerlukan pemeriksaan laboratorium yang kadang lebih satu hari, dua hari, bahkan beberapa hari. Apalagi kalau terjadi di kabupaten, dimana tidak ada laboratorium khusus narkoba. Ini juga memerlukan persoalan. Oleh karena itu kita mengusulkan waktu penangkapannya menjadi bertambah. Tidak lagi satu hari sesuai KUHAP, tetapi lima hari. Begitu juga perluasan atau pengertian dari pemufakatan jahat yang selama ini kita mengacu kepada KUHAP. Padahal dalam sindikat narkoba ini, hal-hal yang diatur atau konspirasi seperti itu sudah ke luar dari kriteria yang diatur dalam KUHP kita. Itulah sebabnya gembong-gembongnya tidak pernah bisa tertangkap. Karena begitu rupa pengaturannya, misalnya sindikat heroin itu tidak diatur di Indonesia, tapi entah di mana yang namanya invisible hand itu? Tapi membanjirlah orang-orang Nigeria atau orang Afrika hitam ke Indonesia dengan kedok berjualan tekstil di Tanah Abang, akhirnya mereka juga merupakan orang-orang yang akhirnya menjadi pengedar-pengedar narkotika di Indonesia dan memperalat kaum perempuan kita. Selalu dikawini dan sebagainya kemudian mereka mejadi kurir di manca negara. Sedemikian rupa mereka berorasi, sehingga dari aspek operasionalnya memang kita harus punya hukum yang keras untuk mereka itu.
Banyak hal yang kita ajukan untuk direvisi, seperti misalnya perampasan aset bagi para sindikat ini. Sekarang ini mereka ditangkap, ya dikorbankan saja. Selama sindikat itu bisa beroperasi, karena duitnya masih banyak. Dan mereka mengatur semua, mengatur polisi tadi, mengatur jaksa, mengatur hakim, mengatur advokat. Kita tidak tahu
karena mereka punya unlimited budget, karena kita tidak bisa buat dia bangkrut. Oleh karena itu di Amerika berlakulah yang namanya Asset Prefecture Act, sehingga asetnya para sindikat itu dirampas oleh negara, digunakan untuk memerangi kejahatan narkoba, sehingga Drugs Enforcement Administration (DEA—BNN-nya Amerika Serikat) punya unlimited budget dia tidak perlu ganggu APBN, ini yang sedang kita perjuangkan juga di Pansus sekarang ini. Sekarang ini dalam rancangan Undang-Undang Narkotika yang baru, seperti itu. Kita kekurangan uang—kami katakan tadi—anggaran kami ini hanya 250 miliar termasuk gaji, memerangi sindikat yang satu hari menghasilkan ratusan miliar di Indonesia. Bagaimana kita harus perang melawan seperti itu? Ini mengapa makin tinggi terus? Memang kami akui kemiskinan juga mempengaruhi, kalau dulu yang mengkomsumsi narkoba orang kaya, sekarang orang miskin pun, tapi dengan syarat harus jual sepuluh dapat satu untuk dia nikmati. Seperti itulah mereka memasuki, bahkan kami curiga mereka memasuki area kebijakan nasional, seperti misalnya pembagian jarum suntik steril dengan dalih membatasi beredarnya HIV/AIDS. Saya katakan tadi kalau 36 ribu jarum suntik steril yang dibagikan sehari, berarti ada 36 gram heroin yang harus ada pada hari itu. Berarti ada 36 miliar yang harus dibelanjakan, itu juga menjadi persoalan. Sekarang polisi mau bertindak tidak bisa karena legal membagikan jarum suntiknya, tapi siapa tahu di kanan jarum suntik di kiri heroin?
Jadi sindikat untuk masuk mulai dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling canggih, termasuk menyusupi peraturan-peraturan yang ada di suatu negara, seperti itulah mereka bekerja, sehingga bagaimana tidak makin besar ini? DPR menghendaki BNN itu ditingkatkan menjadi setingkat kementerian, karena tidak mungkin dengan kewenangan yang berdasarkan Keppres Nomor 7, hanya Keppres kita memerangi sindikat ini, seperti itu keadaannya sehingga kenapa naik terus? Saya bilang, ya kalau tetap polanya seperti ini undang-undang itu tidak segera diselesaikan, kita juga sulit. Istilah sekarang dalam pemberantasan penyalahgunaan narkoba dan trafficking ini adalah follow the money, misalnya supaya proceed of crime itu tidak bisa dinikmati oleh mereka. Undang-Undang Anti Money Laudering kita belum bisa menjangkau itu, karena terus terang saja misalnya Bapak-Bapak pernah mendengar kasus Wawan yang M-3 di Bali, yang punya M-3 itu sindikat luar biasa untuk sabu dan ekstasi. Sampai sekarang kita tidak bisa menangkap Wawan, tapi kita juga tidak bisa menyita gedungnya itu yang di Bali itu, padahal kita tahu persis berdasarkan aliran dana uangnya masuk ke sana karena para hakim berpendapat bahwa itu harus ada kejahatan pokoknya, tidak bisa kita menyita itu, seperti itu misalnya. Jadi dia tetap punya uang banyak, bengkel tetap berjalan, uang tetap berjalan, dia bisa berkeliling dunia dan mengendalikan perdagangan di Indonesia sampai sekarang, ini persoalan
hukum, sehingga, ya terus terang saja ada beberapa hal tadi yang kami sampaikan. Jadi memang itulah situasi peredaran narkoba.
Mengenai kematian yang empat puluh orang, ini berdasarkan riset BNN dan UI tahun 2005 dan kita melihat faktanya dari laporan-laporan kematian, dari RSCM, dan lembaga pemasyarakatan, memang hanya tidak pernah disebutkan orang ini mati karena AIDS, misalnya. Karena keluarganya menganggap itu sebagai aib, jadi akibatnya mati karena hepatitis, mati karena yang lain, padahal jelas itu karena overdosis atau karena apalagi dia misalnya anak seorang yang mempunyai posisi tertentu dan sebagainya, sehingga ya tidak mungkinlah dikatakan anaknya mati karena narkoba karena pasti marah. Jadi ini ada faktor-faktor sosiologis, fisiologis yang juga harus disampaikan. Kita tidak mungkin mengungkapkan data persisnya, tetapi itulah yang terjadi yang meninggal di RSCM, kami katakan tadi lima belas orang per minggu, sekurang-kurangnya dari sal itu mati dan tidak pernah diumumkan bahwa itu mati karena overdosis atau karena HIV/AIDS. Begitu juga dari penjara, hampir tiap hari dari Cipinang itu ada dua mati per hari dari Lapsustik di Cipinang, dua orang mati per hari karena narkotika. Demikian saya kira yang menjadi porsi kami, terima kasih.
Kemudian satu hal tadi mengenai peribahasa Cina mohon maaf, jadi memang begitu nekadnya mereka ini jadi harus kita artikan begitu, tidak takut apa-apa, mati pun dia tidak takut, saking nekadnya karena iming-imingnya ekonominya yang begitu besar. Untuk menghadapi orang seperti ini saya kira tidak ada jalan lain memang harus dimatiin, terima kasih. Mohon maaf, kami punya sebenarnya data Bapak Hakim tentang orang yang sudah dijatuhkan hukuman mati, persisnya kapan dijatuhi dan sebagainya, ini kalau perlu disampaikan sebelum menunggu dari Bapak Jaksa Agung kami sangat concern dengan ini karena Pihak Terkait langsung dan ini selalu ditanyakan dimana pun kami pergi. Jadi kami siap dengan datanya ini, berapa yang sudah dijatuhi? Di mana saja? Namanya siapa? Kasus apa? Kapan dijatuhkan? Dan sedang dalam proses apa sekarang mereka ini?
Terima kasih.
50. KETUA : Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H.
Baik, nanti melalui Panitera tolong disampaikan saja dan supaya nanti Pemohon pun akan kami beri, maka itu tolong dua belas rangkap. Mudah-mudahan anggaran ini cukup untuk dua belas rangkap itu, karena biaya perkara di Mahkamah Konstitusi ini gratis jadi oleh karena itu biaya foto kopi ditanggung masing-masing.
Baik terakhir saya persilakan kepada Pemohon, tadi juga ada yang pertanyaan yang diarahkan kepada Pemohon, silakan Pemohon satu dulu.
51. KUASA HUKUM PEMOHON : Dr. TODUNG MULYA LUBIS, S.H., LL.M.
Terima kasih,
Majelis Hakim yang kami muliakan, tadi ada beberapa pertanyaan yang diajukan kepada kami, tapi mungkin sebagian akan kami jawab nanti ketika kami menyampaikan kesimpulan. Tapi saya ingin mulai lebih dulu dengan pertanyaan mengenai legal standing yang diajukan tadi oleh Hakim Mahkamah Konstitusi Palguna, sejauh yang menyangkut mengenai warga negara asing. Tadi dalam paparan kami, kami memang menjelaskan bahwa Pasal 51 yang membatasi Pemohon judicial review hanya kepada perorangan warga negara Indonesia dan mempertanyakan apakah itu ketentuan yang absolut atau tidak? Dalam kaitannya dengan dua kategori hak yang tadi kami coba jelaskan, kategori hak pertama adalah hak warga negara—citizen right. Kategori kedua adalah human right atau hak asasi manusia.
Tidak semua hak itu tentu bisa diakses atau dimiliki oleh warga negara asing. Seperti kami sudah kemukakan tadi hak untuk ikut dalam Pilkada, dalam pemilihan presiden, dan sebagainya. Tapi dalam konteks hak asasi manusia karena kita menganut universality of human right, asas universal dalam hak asasi manusia dan kami mengkaitkan ini dengan beberapa hak-hak yang pada diri Pemohon ada kepentingan hukumnya, karena itu adalah layak dan adil bagi siapapun tanpa membeda-bedakan suku bangsa, agama, jenis kelamin, latar belakang politik, sosial, dan budaya untuk juga bisa memperjuangkan kepentingan hukumnya legal recost, legal remedy yang ada pada dia. Apakah ini bisa dilakukan di negara lain? Di negara lain dilakukan, tidak semua negara mempunyai Mahkamah Konstitusi tapi warga negara asing yang dirugikan hak-hak asasinya bisa memperjuangkan haknya, di pengadilan-pengadilan di Australia kita melihat banyak sekali kasus-kasus semacam ini dan di Amerika dalam konteks pemberantasan terorisme, kita melihat ada Patriot X, kemudian banyak sekali yang ditahan. Warga negara asing di penjara yang disebut Guantanamo. Di penjara Guantanamo itu praktis hak-hak hukum dan warga negara asingnya yang diduga atau dituduh melakukan tindak pidana terorisme itu, itu dihilangkan sama sekali. Apa yang terjadi? Ini di-challenge di pengadilan sampai kepada Mahkamah Konstitusi. Satu kasus yang menjadi landmark, adalah kasus Hamdan seorang warga negara Yaman yang dihilangkan haknya dalam proses pemeriksaan di Guantanamo, kemudian diberikan haknya oleh Mahkamah Agung.
Jadi kemungkinan-kemungkinan ini diberikan dalam sistem peradilan di negara yang lain, sekali lagi kami ingin kemukakan bahwa tidak semua negara mempunyai Mahkamah Konstitusi. Persoalan-persoalan constitutional right seperti ini di Amerika sampai kepada Mahkamah Agung, yang juga majelisnya juga sembilan orang. Jadi kalau dari sisi ini kami melihat bahwa legal standing dalam batas-batas
tertentu yang menyangkut hak-hak asasi manusia itu adalah hak-hak yang juga seharusnya universal dimiliki tanpa membeda-bedakan suku bangsa, etnis, agama, dan jenis kelamin.
Yang kedua, ini kaitannya dengan hak-hak yang sifatnya non derogable yang tidak bisa dicabut kembali. Sejauh yang kami pahami, pengertian non derogable itu seperti yang dirumuskan pada Pasal 28I ayat (1), itu adalah hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan pun, termasuk dalam keadaan perang, tidak bisa hak ini dikurangi. Ini pengertian yang baku di dalam literatur hak asasi manusia. Kita punya tujuh kategori hak asasi dalam Pasal 28I ini. Tujuh pasal ini juga ada pada International Covenant on Civil and Political Rights, tadi dikutip beberapa pasal dari International Covenant on Civil and Political Rights. Pasal 6 ayat (2), (3), (4), dan (5) oleh beberapa penanggap tadi, tapi kalau kita membaca ayat (6) dari Pasal 6 ini di sini dikatakan bahwa, ”nothing in this article shall be invoked to delay or to prevent the abolition of capital punishment by any State Party to the present Covenant”. Saya kira juga kita harus melihat dalam konteks keseluruhan pasal-pasal ini dan kalau ini dikaitkan dengan penjelasan kami tadi bahwa Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 menerapkan standar yang lebih tinggi ketimbang ICCPR, seharusnya ini bisa dijadikan sebagai rujukan dan kami akan dengan senang hati melengkapi argumentasi kami nantinya pada kesempatan berikutnya.
Terakhir Majelis Hakim yang saya muliakan, kalau kita melihat Pasal 28I ayat (1), ini dan tadi berkali-kali ditekankan, kenapa tidak membaca Pasal 28J ayat (2)? Satu pertanyaan yang bagus, tapi Pasal 28J ini keberlakuannya tidak terhadap tujuh kategori hak asasi yang sifatnya non derogable. Untuk hak-hak asasi yang lain, itu Pasal 28J ini relevan untuk kita persoalkan, tetapi untuk Pasal 28I ayat (1) dimana ada tujuh hak yang non derogable, Pasal 28J ini dengan sangat menyesal harus mengatakan tidak bisa dilakukan dan tidak relevan. Ini beberapa yang ingin kami kemukakan Majelis Hakim yang kami muliakan, satu hal yang kami ingin tambah kepada—kalau boleh Majelis Hakim—kepada BNN, karena tadi ada satu argumen yang dikemukakan dengan hukuman mati saja jumlah kejahatan termasuk kejahatan narkotika itu bertambah, apalagi kalau tidak ada hukuman mati, ini kalau saya tidak salah tadi Pak, saya kira statement semacam ini tentu memang harus dilihat secara kontekstual karena sekali lagi soal data, soal debate semacam ini akan bisa menghasilkan kesimpulan yang berbeda tergantung pada situasi dan konteksnya. Kami tadi mengatakan dan mengutip dalam presentasi kami, data misalnya mengenai laju pembunuhan di Eropa dan Amerika. Di Jerman, Inggris, Italia, Prancis, Selandia, dan Swedia yang sudah menghapuskan hukuman mati, angka pembunuhan itu tidak sampai dua untuk seratus ribu orang, tapi di Amerika yang masih menganut hukuman mati untuk sebagian di negara bagian, untuk seratus ribu orang itu 6,26 angka pembunuhan yang terjadi setiap tahun.
Jadi ini menunjukkan bahwa kalau kita bicara mengenai data memang ada masalah, tadi disebutkan Singapura dan Malaysia, tapi banyak contoh lain juga yang bisa dikemukakan dan tanpa ingin masuk lebih jauh kepada data ini, karena kami bisa menampilkan data-data tambahan nantinya. Kami hanya ingin appeal, sebetulnya data ini bisa di lihat dalam konteks yang lain, dalam kaitannya dengan hal yang lain termasuk yang kami dikemukakan tadi infallibility, ketidaksempurnaan sistem peradilan pidana yang bisa salah. Seorang jaksa di Texas itu sangat getol memperjuangkan hukuman mati dan akhirnya menjatuhkan hukuman mati kepada beberapa terpidana, tapi jaksa yang saya tidak ingat namanya persis—nanti bisa saya berikan— ketika dia menyadari bahwa dua orang yang dijatuhi pidana mati itu bukan pelaku sesungguhnya dari tindak pidana yang terjadi, akhirnya dia jadi proponent untuk penghapusan hukuman mati yang sangat getol di Amerika. Jadi saya hanya ingin mengatakan bahwa sangat mungkin kesalahan, sangat mungkin terjadi kekeliruan dalam proses pidana. Apakah kita tidak ingin melihat aspek ini sebagai satu isu? Karena ini irrevocable sifatnya, hukuman mati semacam ini dan itu tidak bisa dihidupkan kembali.
Saya kira itu saja jawaban sementara, nanti untuk jawaban untuk Pak Hakim Siahaan ini mengenai apakah sistem pemidanaan di negara yang sudah menghapuskan hukuman mati? Itu bisa dijelaskan lebih jauh karena ada sistem-sistem yang misalnya kumulatif, bisa menghasilkan hukuman sampai 120 tahun, 130 tahun, kami akan susulkan nantinya kepada Majelis pada kesempatan berikutnya, terima kasih.
52. KETUA: Prof. Dr. JIMLY ASSIDDIQIE, S.H.
Baik, terakhir saya persilakan Pemohon dua, ya nanti jawaban yang belum dilengkapi dengan yang tertulis, tokh masih ada sidang berikutnya nanti.
Silakan.
53. KUASA HUKUM PEMOHON : J. ROBERT KHUANA, S.H.
Terima kasih Bapak Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, terima kasih juga kepada Pemerintah dan Pihak Terkait. Saya hanya ingin menambahkan dan tidak bersifat menjawab terhadap pertanyaan yang disampaikan, dengan harapan tanggapan ini bisa diberikan selanjutnya oleh pihak Pemerintah ataupun Pihak Terkait, yaitu Pemerintah dalam hal ini tadi sudah dijelaskan melalui Bapak Menteri dan Bapak Jaksa Agung perihal angka-angka pelaku kejahatan narkotika, tetapi mungkin kita perlu juga memperoleh penjelasan dari Pemerintah. Sebab kita tahu bahwa angka-angka yang dipaparkan tadi juga dari Kalakhar Badan Narkotika itu berangkat dari sifat kausalitas, antara lain juga seberapa
jauh Pemerintah dalam hal ini sistem pemidanaan yang sudah kita miliki (...)
54. PEMERINTAH : Dr. HAMID AWALUDIN, S.H.(MENTERI HUKUM DAN HAM )
Interupsi Majelis yang mulia,
Saya kira sesi ini adalah sesi jawaban Pemohon terhadap pertanyaan hakim bukan lagi ada kaitannya dengan appeal kepada Pemerintah atau permohonan seperti itu, ini adalah sesi jawaban Pemohon dua terhadap pertanyaan hakim kalau masih ada yang tersisa, terima kasih Yang Mulia.
55. KETUA: Prof. Dr. JIMLY ASSIDDIQIE, S.H.
Ya, begitu saja untuk dijawab, kalau tidak bisa dijawab secara lisan nanti tertulis saja. Nanti selanjutnya, jadi tidak usah tanya lagi, begitu maksudnya. Kalau tidak ada yang bisa disampaikan, cukup nanti ditambahkan saja secara tertulis atau nanti Saudara bisa tambah keterangannya melalui pembuktian, yaitu misalnya dengan menghadirkan ahli dan lain-lain sebagainya. Walaupun demikian, nanti pun ada kesempatan lagi untuk mengajukan pertanyaan yang semacam itu, misalnya mengajukan pertanyaan kepada ahli yang diajukan oleh Pemerintah, bisa saja tokh sidangnya masih ada beberapa kali lagi.
Jadi tidak usah sekarang, begitu ya? Jadi jawab saja dulu apa yang tadi ditanyakan kalau ada yang ingin dijawab.
56. KUASA HUKUM PEMOHON : J. ROBERT KHUANA, S.H.
Kalau masalah pertanyaan tadi, rekan kami sudah menjawab, sehingga khususnya bagi Pemohon dua tidak ada pertanyaan yang disampaikan, terima kasih.
57. KETUA: Prof. Dr. JIMLY ASSIDDIQIE, S.H.
Baik, kalau begitu saya anggap sudah cukup ini. Artinya untuk sidang hari ini kita anggap selesai kecuali dari pihak Pemerintah masih ada yang perlu disampaikan? Pak Jaksa Agung, cukup ya? Dan untuk selanjutnya sidang ini akan kita teruskan karena masih harus masuk ke tahap pembuktian dan di situ nampaknya hak Saudara Pemohon mau mengajukan saksi atau ahli, tetapi melihat sifat dari perkara ini yang kiranya lebih diperlukan adalah ahli. Mungkin saksi tidak terlalu perlu,