• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KERANGKA TEORI

B. Hukum Perjanjian Syariah

5. Hal-hal yang Dapat Merusak dan Berakhirnya Akad

Berakhirnya akad karena adanya fasakh (pihak-pihak akad sepakat membatalkan akad) atau infisakh (membatalkan akad karena adanya sebab-sebab darurat).

a. Berakhirnya akad dengan fasakh 1) Akad yang tidak lazim (jaiz)

Merupakan akad yang memungkinkan para pihak untuk membatalkan akad walaupun tanpa persetujuan pihak yang lain selama tidak terkait hak orang lain.

2) Khiyar

Dalam akad lazim semisal akad ba‟i dan ijarah bisa difasakh dengan hak khiyar yang dimiliki pihak akad, baik khiyar yang timbul karena ijab qabul maupun karena adanya syarat atau kesepakatan pihak akad. 3) Iqalah

Yaitu kesepakatan bersama antara kedua belah pihak untuk memutuskan akad yang telah disepakati. Iqalah biasanya dilakukan

37

karena salah satu pihak menhyesal dan ingin mencabut kembali kontrak yang telah dilakukannya.

4) „Uyub ridha (cacat ridha)

Apabila salah satu pihak tidak ridha seperti ketika terjadi ghoban,

tadlis, galath maka pihak yang dirugikan memilik hak untuk

memfasakh akad atau melanjutkannya. 5) Syarat dan sebab fasakh

Kontrak diperbolehkan dilakukannya fasakh apabila terpenuhinya syarat-syarat berikut:

a) Tidak terpenuhinya unsur kerelaan dalam kontrak.

b) Kontrak yang difasakh bersifat mengikat kedua belah pihak.

c) Adanya pelanggaran dan tidak terpenuhinya syarat yang telah ditetapkan dalam kontrak oleh salah para pihak.

b. Berakhirnya akad dengan infisakh

Berakhirnya akad dengan infisakh yaitu putus dengan sendirinya (dinyatakan putus atau putus demi hukum). Kontrak dinyatakan putus apabila isi kontrak tidak mungkin dapat dilaksanakan (istihalah al-tanfidz) disebabkan afat samawiyah/force majeure.

1) Selesai masa kontrak

Dengan berakhirnya masa kontrak maka akad telah berakhir. Apabila akad tersebut ditentukan waktunya dan jika waktu yang ditentukan tersebut telah berakhir atau tujuan akadnya telah tercapai maka dengan ssendirinya akad tersebut berakhir.

2) Kontrak tidak mungkin dilanjutkan

Apabila akad tidak mungkin lagi dilanjutkan seperti objek yang diperjualbelikan rusak maka dengan sendirinya akad itu berakhir. 3) Pelaku akad meninggal

Apabila salah satu pihak meninggal dunia maka dengan sendirinya akad telah berakhir.

4) Akad yang fasid

Suatu akad yang fasid dapat difasakh oleh kedua belah pihak yang berakad atau oleh pengadilan untuk menghindari fasid dalam akad.38

6. Prinsip-prinsip Pembuatan Akad Perjanjian Syariah

a. Dari Segi Subjek Hukum atau Para Pihak yang Membuat Perjanjian 1) Para pihak yang terlibat melakukan perbuatan hukum harus cakap

hukum.

2) Kedudukan dan identitas para pihak harus jelas.

3) Syarat dan tempat perjanjian harus disebutkan dengan jelas. b. Dari Segi Tujuan dan Objek Akad

1) Harus disebutkan dengan jelas tujuan dari dibuatnya akad misalnya sewa-menyewa, jual beli dan lain sebagainya.

2) Meskipun diberikan kebebasan dalam hal menentukan objek akad, namun jangan sampai menyalahi ketentuan syariat dalam artian obejk akad harus halal.

c. Adanya Kesepakatan dalam Hal yang Berkaitan

1) Objek yang telah diperjanjikan dan cara pelaksanaannya

2) Jumlah dana yang dibutuhkan, nisbah/margin yang telah disepakati, biaya-biaya yang diperlukan serta hal-hal lainnya yang diperlukan. 3) Waktu perjanjian, yaitu ketika bermula atau berakhirnya perjanjian,

jangka waktu angsuran dan berakhirnya harus disepakati diawal akad oleh kedua belah pihak serta tidak boleh berubah ditengah maupun diujung perjalanan kesepakatan kecuali hal tersebut disepakati oleh kedua belah pihak.

4) Jaminan, yaitu bagaimana dengan kedudukan jaminan, berapa besar jumlah dan kegunaan jaminannya serta hal lain yang berkaitan.

38Oni Sahroni, dan Hasanuddin, Fikih Muamalah Dinamika Teori Akad dan Implementasinya

5) Mekanisme kerja, yaitu disepakati sejauh mana diperbolehkan melakukan pengawasan dan penilaian terhadap suatu usaha misalnya dalam hal pembiayaan dengan skema mudharabah dan musyarakah. 6) Dalam hal penyelesaian, apabila terjadi penyelesaian atau

ketidaksesuaian antara kedua belah pihak, cara penyelesaian yang disepakati, serta tahapan apa saja yang harus dilakukan selanjutnya. d. Pilihan Hukum

Berkaitan dengan hukum manakah yang akan digunakan dalam pembuatan kontrak tersebut, dalam hal ini perihal pilihan hukum harus ditegaskan dengan jelas.39

Selain itu hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan kontrak syariah antara lain:

a. Objek dan hal yang diperjanjikan harus sesuai syariat dan halal. b. Kedua belah pihak tidak mendzalimi dan tidak didzalimi.

c. Tidak ada unsur ketidakjelasan dalam rumusan akad maupun prestasi yang diperjanjikan.

d. Transaksi harus adil dan tidak mengandung unsur perjudian/maysir.

e. Adanya prinsip kehati-hatian. f. Tidak mengandung riba.

g. Tidak membuat barang najis dan tidak bermanfaat dalam Islam. Dan beberapa prinsip lainnya yang harus dijadikan pedoman dalam membuat kontrak syariah yaitu prinsip kehati-hatian atau al-ikhtiyat, prinsip saling rela atau „an-taradhin, prinsip tanggungjawab sosial atau

al-takaful al-ijtima‟i, prinsip transparansi dan administrasi keuangan yang

benar atau al-idariyah, prinsip saling menguntungkan dalam hal yang

39

bermanfaat atau at-ta‟a wwun, prinsip kemudahan atau al-tasysir, dan Prinsip tanggungjawab atau al-mas‟uliyah.40

7. Asas-Asas Dalam Perjanjian Hukum Islam a. Kebebasan/Al-Hurriyah

Para pihak yang akan melakukan akad mempunyai kebebasan untuk membuat perjanjian, kebebasan membuat perjanjian dibenarkan selama tidak bertentangan dengan hukum Islam. Landasan asas ini terdapat pada ayat-ayat Al-qur‟an dalam surat Al-Baqarah ayat 256, Al-Maidah ayat 1, Al-Hijr ayat 29, Ar-Rum ayat 30, At-Tin ayat 4, dan Al- Ahzab ayat 72.

Apabila suatu akad telah disepakati bentuk dan isinya, maka perikatan tersebut mengikat para pihak yang menyepakatinya dan harus dilaksanakan segala hak dan kewajibannya. Sepanjang tidak bertentangan dengan syari‟ah Islam, maka perikatan tersebut boleh dilaksanakan. Disebutkan bahwa syari‟ah Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang yang melakukan akad sesuai dengan yang diinginkan.41

b. Kesetaraan/Al-Musawah

Kedua belah pihak yang hendak melakukan perjanjian mempunyai kedudukan yang sama dan setara serta kedudukan para pihak dalam perjanjian harus seimbang namun faktanya terdapat keadaan dimana salah satu pihak mempunyai kedudukan lebih tinggi dibanding pihak lainnya seperti dalam hal hubungan pemberi fasilitas dengan penerima fasilitas serta adanya kontrak baku. Meskipun secara praktiknya hal-hal diatas terjadi kedepannya perlu ada peraturan untuk melindungi pihak yang kedudukannya lebih lemah dan pelaksanaan asas kesataraan pun sangat

40 A. Djazuli, Fikih Siyasah Implementasi Kemaslahan Umat Islam dalam Rambu-Rambu

Syariah, (Jakarta: Kencana, 2003), h.207-208

41 Syamsul Anwar, Kontrak Dalam Islam (Studi Tentang Teori Akad dalam Fiqh Muamalah), (Jakarta: Rajawali Pers, 2007), h. 12.

penting adanya. Dasar hukum dari asas ini yaitu qur‟an surat Al-Hujurat ayat 13.

c. Keadilan/Al-Adalah

Pihak-pihak yang melakukan akad dituntut untuk berlaku benar dalam pengungkapan kehendak dan keadaan, memenuhi perjanjian yang telah dibuat serta memenuhi semua kewajibannya. Al-qur‟an bahkan menempatkan keadilan lebih dekat kepada taqwa, itu artinya Al-qur‟an menekankan agar manusia menjadikan keadilan sebagai ideal moral. Dasar hukum dari asas ini yaitu Al-qur‟an surat An-Nahl ayat 90, Al-A‟raf ayat 29, Asy-Syura ayat 15, Maidah ayat 8-9, Baqarah ayat 177, Al-Mu‟minun ayat 8, dan Al-Maidah ayat 1.

d. Kerelaan/Al-Ridhaiyyah

Perjanjian itu bersifat kerelaan atau konsensualisme dalam hukum Islam, kerelaan para pihak merupakan prasyarat terwujudnya semua transaksi. Dasar hukum asas ini yaitu Al-qur‟an surat An-Nisa‟ ayat 29. e. Kejujuran dan Kebenaran/Ash-Shidq

Kejujuran itu merupakan nilai dasar dalam Islam dan Allah memerintahkan semua muslim agar jujur dalam segala urusan termasuk dalam bermuamalah. Nilai kejujuran dan kebenaran pada asas ini agar para pihak tidak berdusta, menipu dan melakukan pemalsuan. Dasar hukum asas ini yaitu Al-qur‟an surat Al-Imran ayat 95 dan Al-Ahzab ayat 70.

f. Kemanfaatan/Al-Manfaat

Asas kemanfaatan ini berkenaan dengan objek akad, asas ini menghendaki bahwa akad yang dilakukan para pihak bertujuan mewujudkan kemaslahatan untuk para pihak dan tidak menimbulkan kerugian maupun keadaan yang memberatkan. Dasar hukum asas ini yaitu Al-qur‟an surat Al-Baqarah ayat 168 dan An-Nahl ayat 114.

g. Tertulis/Al-Kitabah

Asas ini menghendaki agar akad yang dilakukan benar-benar dalam kebaikan bagi semua pihak sehingga akad itu harus dibuat secara tertulis dan sangat dianjurkan bagi akad yang dilakukan dalam bentuk tidak tunai atau kredit. Dasar hukum asas ini yaitu Al-qur‟an surat Al-Baqarah ayat 282-283.42 Dalam surat Al-Baqarah ayat 282- 283 Allah SWT menganjurkan kepada manusia agar suatu perjanjian dilakukan secara tertulis, dihadiri para saksi dan diberikan tanggung jawab individu yang melakukan perjanjian dan yang menjadi saksi tersebut dan itu dianjurkan pula jika suatu perjanjian dilaksanakan tidak secara tunai maka dapat dipegang suatu benda sebagai jaminannya.43

8. Format dan Susunan Akta Perjanjian

a. Judul Kontrak atau Perjanjian (Heading)

harus disebutkan dan dituliskan dengan jelas dibagian judul misalnya pembiayaan musyarakah.

b. Bagian Pembukaan (Opening)

Dalam bagian pembukaaan biasanya dimulai dengan tulisan “Bismillahirrahmanirrahiim” serta dicantumkan pula landasan syariah tentang ayat Al-Qur‟an dan hadits yang berkaitan dengan judul kontrak. c. Pendahuluan

Dalam pendahuluan biasanya memuat hal tentang:

1) Tempat dan waktu penyusunan kontrak diadakan. Misalnya, “pada hari ini Jum‟at, 08 Maret 2015 bertempat di Jakarta, kami yang bertanda tangan dibawah ini.”

2) Komparasi bagian yang memuat identitas para pihak yang melakukan perjanjian kontrak seperti nama, alamat, nomor KTP dan dari pihak

42

Fathurrahman Djamil, Penerapan Hukum Perjanjian dalam Transaksi di Lembaga

Keuangan Syariah, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 14-27. 43

mana mereka disebutkan, apakah bertindak atas nama perorangan atau atas nama perusahaan dan sebagainya.

3) Konsideran yang memuat tentang pernyataan maksud atau tujuan dari masing-masing pihak yang menjadi bahan pertimbangan untuk mengadakan penyusunan kontrak.

Contohnya:

Dengan ini terlebih dahulu menerangkan bahwa, dalam rangka pengadaan alat kedokteran, Bambang sebagai nasabah pembiayaan bermaksud mengajukan kerja sama untuk mengadakan kontrak pembiayaan musyarakah dengan sistem bagi hasil dengan PT……. Bahwa untuk mencapai maksud tersebut, PT……… bersedia mengikatkan diri untuk memberikan pembiayaan kepada nasabah dengan mengacu pada persyaratan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam akad musyarakah.

Selanjutnya para pihak sepakat untuk membuat perjanjian dengan ketentuan dan syarat-syarat sebgai berikut:………..

d. Isi atau Materi Kontrak/Perjanjian

Isi atau materi kontrak perjanjian biasanya berupa ketentuan umum yang berisi tentang definisi istilah-istilah penting yang digunakan dalam kontrak.

Contohnya:

Pasal 1 Ketentuan Umum

Dalam kontrak perjanjian ini perlu dijelaskan istilah-istilah sebagai berikut:

1) PT………….. adalah……….. 2) Nasabah adalah………... 3) Akad musyarakah adalah………

e. Isi Perjanjian

Dalam bagian ini para pihak mencantumkan segala hal atau isi pokok-pokok klausul yang dianggap perlu yang merupakan kehendak para pihak. Dalam klausul-klausul ini dicantumkan secara detail mengenai objek perjanjian, hak dan kewajiban para pihak, uraian secara lengkap tentang prestasi, asuransi, pengawasan serta penyelesaian sengketa.

f. Penutup (Closure)

Bagian ini biasanya memuat tentang: perjanjian ini dibuat dua lembar dan keduanya mempunyai kekuatan hukum yang sama, perjanjian ini dibuat dengan materai yang cukup.

g. Penandatanganan (Atteestation)

Pada bagian ini perjanjian ditandatangani oleh para pihak dan dua orang saksi.44

41 BAB III

GAMBARAN UMUM ASTRA CREDIT COMPANIES (ACC) DAN ASTRA CREDIT COMPANIES SYARIAH (ACCS) BINTARO

A. Profil Singkat Astra Credit Companies

Astra Credit Companies atau yang lebih familiar dengan sebutan ACC merupakan perusahaan pembiayaan kendaraan dan alat berat, perusahaan ini berdiri pada tanggal 15 Juli 1982 dengan nama PT Rahardja Sedaya yang kemudian melakukan perluasan dibeberapa bidang seperti investasi, pembiayaan modal kerja, pembiayaan multiguna dan sewa operasi atau operating lease. Semua bidang perluasan tersebut beserta produk lainnya terdahulu dapat dilakukan pembiayaan dengan skema konvensional maupun syariah.

Pada tahun 1990 PT. Rahardja Sedaya Finance berganti nama menjadi PT. Astra Sedaya Finance. Seiring perkembangannya PT. Astra Sedaya Finance mempunyai penyertaan saham pada perusahaan asosiasi yaitu PT.Swadharma Bhakti Sedaya Finance, PT. Bhakti Sedaya Finance, PT. Pratama Sedaya Finance, PT. Staco Estika Sedaya Finance dan PT. Astra Auto Finance yang semuanya telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta mendapatkan izin dari Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan dengan nomor izin usaha sebagai berikut:

1. PT Astra Sedaya Finance dengan nomor izin usaha 1093/KMK.013/1989. 2. PT Swadharma Bhakti Sedaya Finance dengan nomor izin usaha

1095/KMK.013/1989.

3. PT Astra Auto Finance dengan nomor izin usaha 437/KMK.017/1995. 4. PT Staco Estika Sedaya Finance dengan nomor izin usaha

42

PT. Astra Sedaya Finance dan perusahaan asosiasinya mengembangkan merek Astra Credit Companies dalam rangka mendukung usahanya sejak tahun 1994, Astra Credit Companies kemudian berkomitmen penuh untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat. Astra Credit Companies menyediakan berbagai fasilitas pembiayaan untuk pembelian mobil dan alat berat baik dalam kondisi baru maupun bekas, selain itu terdapat pula fasilitas pembiayaan investasi, pembiayaan modal kerja, multiguna dan sewa operasi, dan ACC juga mendukung penjualan mobil melalui jaringan delaer showroom maupun perseorangan diberbagai wilayah diseluruh In donesia. Astra Credit Companies memiliki jaringan yang hampir tersebar diseluruh kota besar di Indonesia, hingga saat ini sudah ada 75 kantor cabang yang tersebar di 59 kota dan kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah seiring dengan perkembangan bisnis dan kebutuhan masyarakat. Reputasi Astra Credit Companies sebagai perusahaan pembiayaan terkemuka di Indonesia selalu baik dan mampu bertahan dan melewati krisis ekonomi yang melanda kala itu serta mampu melunasi pinjaman ditahun 1999 tanpa restrukturisasi.

B. Visi, Misi, dan Nilai

Visi Astra Credit Companies yaitu “Become the 1st choice financing company with total solution” dan dengan misi “To promote credit for a better living.” Selain visi dan misi ada pula nilai-nilai yang ditanamkan diantaranya

yaitu: Integrity (berani mentaati peraturan berlandaskan asas dan etika yang berlaku serta menunjukkan sikap profesional dan bertanggung jawab), teamwork (bersinergi melalui interaksi yang positif dan terbuka dengan komitmen mencapai target perusahaan), quality (proses yang cepat dan akurat dengan mentalitas perbaikan secara terus menerus untuk hasil yang terukur dan terbaik), serta customer satisfaction (memberikan pengalaman terbaik bagi pelanggan melalui pelayanan yang handal dan terpercaya).

43

C. Struktur Organisasi Astra Credit Companies Bintaro

Skema 2.1 C. Struktur Organisasi Astra Credit Companies Bintaro

BRANCH MANAGER

Heri Rahmanto

AR COLLECTION

Edwin Sinasa. S

SALES HEAD

Michael Anderson Sianipar Muhammad Hanif SALES OPERATION HEAD Hendri Kurniawan ARMH Jimmy Hutapea OPERATION Ema Mawada NEW CAR USED CAR MULTI GUNA TELLER CSR MESSENGER UNDERWRITING

44

D. Produk dan Layanan Pembiayaan Astra Credit Companies

Astra Credit Companies diseluruh cabang diberbagai kota di Indonesia memliki beberapa jenis produk dan layanan yang sama diantaranya yaitu:

1. ACC Credit Protection (ACP)

ACP adalah produk perlindungan asuransi jiwa yang diperuntukkan bagi seluruh nasabah ACC, dan ACP ini memiliki peranan yang sangat penting selama berjalannya proses pelunasan kendaraan nasabah di ACC. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti mennggal dunia, cacat total sementara atau cacat total tetap maka nasabah ACC atau ahli warisnya akan terbebas dari kewajiban pembayaran angsuran sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku selain itgu ACP juga memberikan proses klaim yang lebih mudah dan premi yang ringan. Persyaratan untuk keikutsertaan dalam ACP cukup mudah antara lain:

a. Nasabah ACC perorangan b. Usia 18-60 tahun

c. Jangka waktu pinjaman 1-5 tahun d. Fotokopi Kartu Keluarga

e. Fotokopi KTP f. Slip gaji

2. Cars and Commercial Financing

Dalam jenis pelayanan ini ACC menawarkan kemudahan dalam kepemilikan kendaraan baru maupun bekas dengan berbagai jenis kendaraan seperti sedan, pick up, jeep, truck dan minibus. Jangka waktu pembayaran dapat disesuaikan dengan kemampuan nasabah, system pembiayaannya pun bisa menggunakan sistem konvensional dan syariah. Kemudahan yang ditawarkan dalam produk ini antara lain:

45

b. Pembiayaan bisa dilakukan terhadap berbagai jenis dan merk mobil

c. Terdapat jasa perpanjang STNK

d. Persyaratan hanya fotokopi KTP, KK dan slip gaji 3. C2C Financing

C2C Financing merupakan produk ACC yang membantu dan memberikan kemudahan bagi nasabah yang ingin membeli mobil teman atau kenalan secara kredit. Dalam produk ini jangka waktu kredit dapat disesuaikan dengan kemampuan nasabah dan persyaratannya sangat mudah cukup dengan fotokopi KTP, KK dan slip gaji.

4. FLEET (FLEET COMERCIAL & BUSINESS)

Dalam memenuhi kebutuhan pelanggan akan pembiayaan komersial dan bisnis maka pada tahun 1995 membentuk divisi Fleet Commercial

and Business yang sangat mendukung industri seperti agribisnis,

konstruksi, distribusi, transportir, rental, servis, dan transportasi publik. Fasilitas pembiayaan yang disediakan dalam produk ini yaitu:

a. Pembiayaan kendaraan transportasi dan distribusi perusahaan (baru atau bekas).

b. Pembiayaan alat berat (baru atau bekas).

c. Pembiayaan kendaraan operasional perusahaan (baru atau bekas). d. Pembiayaan alat industri dan manufaktur seperti traktor, forklift

dan lain-lain.

e. Pembiayaan Car Ownership Program (COP) perusahaan.

Dalam produk pembiayaan ini nasabah atau pelanggan bisa mendapatkan kemudahan dan fleksibilitas seperti stepping payment yaitu nilai angsuran yang menaik atau menurun berdasarkan kebutuhan nasabah sepanjang masa pembayaran dan baloon payment yaitu nilai angsuran yang lebih rendah dari angsuran normal biasanya selama masa

46

pembiayaan serta USD Financing yaitu pembiayaan yang dilakukan dengan mata uang asing.

5. Travel Financing

Travel Financing merupakan salah satu jenis produk yang

memberikan layanan pembiayaan perjalanan untuk kebutuhan wisata, pengobatan, maupun ibadah. Pembiayaan diberikan dalam bentuk voucher wisata senilai Rp 30.000.000,- hingga Rp 100.000.000,- dengan masa pembiayaan 1 sampai 3 tahun yang dapat dimanfaatkan untuk pembelian tiket hotel, tiket pesawat, paket wisata, dan kebutuhan perjalanan lainnya.

E. Astra Credit Companies (ACC) Syariah

Astra Credit Companies Syariah/ACC syariah adalah Unit Usaha Syariah (UUS) dari PT. Astra Sedaya Finance yang merupakan salah satu perusahaan pembiayaan yang tergabung dalam grup pembiayaan Astra Credit Companies yang mulai beroperasi pada Juli 2012. ACC syariah juga merupakan diversifikasi produk dengan prinsip syariah yang telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Pembiayaan atau fasilitas yang ditawarkan pada ACC syariah yaitu dapat membiayai berbagai sektor usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan peraturan perundangan yang berlaku. Akad yang digunakan dalam ACC syariah ini adalah akad jual beli murabahah, sedangkan untuk pembiayaan kendaraan mekanismenya adalah ACC syariah terlebih dahulu membeli kendaraan pada dealer kemudian menjualnya kembali kepada nasabah dengan menyebutkan biaya yang telah dikeluarkan serta margin keuntungannya secara jelas.45

47 BAB IV

KONTRAK MURABAHAH PADA ACC SYARIAH BINTARO DITINJAU DARI FATWA (DSN-MUI), POJK, DAN SEOJK

A. Substansi Kontrak Pembiayaan Murabahah di ACC Syariah Bintaro

Substansi dan isi kontrak perjanjian pembiayaan murabahah yang ada di Astra Credit Companies Bintaro antara lain terdiri dari:

1. Bagian Pendahuluan a. Sub bagian pembuka

Sub ini terdiri dari: 1) Nomor perjanjian

Nomor perjanjian pembiayaan yang tertulis yaitu “16.100.178.00.161333.3”

2) Judul perjanjian

Judul yang tertera didalam kontrak yaitu “Perjanjian Pembiayaan

Syariah Dengan Prinsip Murabahah dan Dengan Jaminan Fidusia”

3) Tanggal Perjanjian

Perjanjian ini dibuat pada tanggal “Kamis, 10 Maret 2016.” b. Sub bagian subjek hukum kontrak/identitas para pihak

48 Nama : Andri Irfananto Jabatan : Branch Manager

Alamat : Komp. Bintaro Trade Center (BTC) Jl. Jend. Sudirman Blok A1 No. 3 Bintaro Tangerang 15224

Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama perseroan yang selanjutnya disebut “PIHAK PERTAMA”.

Nama : Santi Priyani

No. KTP : 3674065407810006

Alamat : Pamulang Permai II E 65/13 Rt/Rw 004/015 Benda Baru Pamulang Tangerang Selatan

No. NPWP : 452276330411000 Selanjutnya disebut “PIHAK KEDUA”. c. Sub bagian recital (latar belakang kontrak)

Pada bagian ini menjelaskan tentang latar belakang mengapa diadakannya perjanjian. Bunyi dari recital dalam perjanjian pembiayaan ini yaitu “Bahwa PIHAK KEDUA telah mengajukan permohonan

fasilitas pembiayaan syariah dengan prinsip murabahah kepada PIHAK PERTAMA untuk membeli kendaraan bermotor (selanjutnya disebut “BARANG”) dan selanjutnya PIHAK PERTAMA menyetujui permohonan fasilitas tersebut dan dengan perjanjian ini mengikatkan diri untuk menyediakan fasilitas pembiayaan sesuai dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagaimana dinyatakan dalam perjanjian ini.”

49 1) Bagian Isi

a) Klausul transaksi

Bagian klausul ini berisi tentang transaksi yang akan dilakukan, dalam perjanjian pembiayaan ini kalusul transaksi tertera pada pasal 1 sampai dengan pasal 18 yang berisi mengenai kalusul pembiayaan, klausul pembayaran yang melewati jatuh tempo, klausul larangan bagi nasabah, klausul wanprestasi, klausul force

majeur, klausul jaminan dan klausul pernyataan.

b) Klausul spesifik

Bagian klausul ini mengatur mengenai hal-hal yang lebih spesifik dalam perjanjian. Klausul spesifik yang tertera dalam perjanjian pembiayaan ini antara lain mengenai:

Informasi pembiayaan

(1) Akad pembiayaan : Murabahah (2) Harga beli murabahah : Rp 155.000.000,- (3) Nilai uang muka : Rp 31.130.000,- (4) Biaya administrasi : Rp 1.850.000,-

(5) Biaya provisi : Rp 0,-

(6) Biaya asuransi kendaraan : Rp 17.187.833,- (7) Biaya asuransi lain : Rp 3.570.300,-

(8) Ganti kerugian & sanksi : Rp 20.000,- dan 0,3% Rincian Fasilitas Pembiayaan

(1) Margin : Rp 69.819.856,-

(2) Harga jual murabahah : Rp 194.339.856,- (3) Tarif premi asuransi : Rp 20.508.144,-

Dokumen terkait