Ekonomi politik, dalam arti paling luas, adalah ilmu mengenai hukum- hukum yang menguasai produksi dan pertukaran kebutuhan- kebutuhan hidup material dalam masyarakat manusia. Produksi dan pertukaran adalah dua fungsi yang berbeda. Produksi dapat terjadi tanpa pertukaran, tetapi pertukaran –yang tidak-bisa-tidak adalah suatu pertukaran produk- produk– tidak dapat terjadi tanpa produksi. Masing-masing dari kedua fungsi ini tunduk pada aksi pengaruh-pengaruh eksternal yang khusus, yang hingga batas jang jauh khas baginya dan karena sebab ini masing- masing mempunyai, juga hingga batas yang jauh, hukum-hukum khususnya sendiri. Tetapi di pihak lain, mereka secara terus-menerus menentukan dan mempengaruhi satu sama lain hingga suatu batas sehingga mereka dapat diistilahkan absis (abscissa) dan ordinat dari lengkung ekonomi.
Kondisi-kondisi dalam mana manusia berproduksi dan melakukan pertukaran bervariasi dari negeri ke negeri, dan di dalam setiap negeri bervariasi pula dari generasi ke generasi. Ekonomi politik, oleh karenanya, tidak dapat sama untuk semua negeri dan untuk semua kurun sejarah. Suatu jarak yang luar-biasa jauhnya memisahkan busur dan panah, pisau dari batu dan tindak-tindak pertukaran di kalangan orang- orang biadab yang hanya terjadi lewat kecualian-kecualian, dari mesin uap yang seribu-kuda dayanya, mesin-pintal mekanik, jalan-jalan kereta api dan Bank of England. Penduduk Tierra del Fuego belum sampai sejauh produksi massal dan perdagangan dunia, belum pula sampai pada pengalaman kerja-penagihan atau suatu kehancuran Bursa Saham. Siapa saja yang berusaha membawa ekonomi politik Tierra del Fuego ke bawah hukum-hukum yang sama seperti yang beroperasi di Inggris masa-kini jelas tidak akan menghasilkan sesuatu apapun kecuali kelumrahan- kelumrahan yang paling dangkal. Oleh karenanya, ekonomi politik pada dasarnya adalah suatu ilmu-pengetahuan “sejarah.” Ia membahas bahan- bahan yang sejarah, yaitu, yang terus-menerus berubah; ia pertama-tama mesti menyelidiki hukum-hukum khusus dari setiap tahap individual
di dalam evolusi produksi dan pertukaran, dan hanya jika ia telah menyelesaikan penyelidikan ini, barulah ia akan dapat menetapkan sejumlah hukum umum yang berlaku bagi produksi dan pertukaran pada umumnya. Pada waktu bersamaan sudah jelaslah bahwa hukum-hukum yang sahih bagi cara-cara produksi dan bentuk-bentuk pertukaran tertentu berlaku bagi semua periode sejarah di mana cara-cara produksi dan bentuk-bentuk pertukaran itu terutama berlaku. Demikian, misalnya, diperkenalkannya uang logam melahirkan pemberlakuan serangkaian hukum yang tetap sahih bagi semua negeri dan kurun sejarah di mana uang logam itu merupakan suatu medium pertukaran.
Cara produksi dan pertukaran dalam suatu masyarakat sejarah tertentu, dan kondisi-kondisi sejarah yang telah melahirkan masyarakat ini, menentukan cara pendistribusian produk-produknya. Dalam komunitas suku atau desa dengan hak-pemilikan bersama atas tanah –yang dengannya, atau dengan peninggalan-peninggalannya yang mudah dikenali, semua rakyat beradab memasuki sejarah– suatu pendistribusian yang cukup sama-rata dari produk-produk adalah suatu hal yang dengan sendirinya; di mana ketidak-samaan yang mencolok dalam pendistribusian di kalangan para anggota komunitas itu dimulai, ini merupakan suatu tanda bahwa komunitas itu sudah mulai pecah- berantakan (runtuh).
Baik agrikultur besar maupun yang berskala-kecil memungkinkan berbagai bentuk distribusi yang banyak sekali, bergantung pada kondisi- kondisi sejarah yang darinya mereka itu berkembang. Tetapi sudah jelas sekali bahwa pengusahaan-pertanian skala-besar selalu menimbulkan suatu pendistribusian yang berbeda sekali dari pengusahaan-pertanian berskala-kecil: bahwa agrikultur skala-besar mengandaikan atau menciptakan antagonisme kelas –para pemilik budak dan para budak, para bangsawan-feodal dan para sahaya/hamba, kaum kapitalis dan kaum-buruh upahan– sedangkan agrikultur berskala-kecil tidak mesti melibatkan perbedaan-perbedaan kelas di antara para individu yang terlibat dalam produksi agrikultur, dan bahwa sebaliknya sekedar keberadaan perbedaan-perbedaan seperti itu menandakan bakal bubarnya ekonomi berskala-kecil itu.
Diberlakukannya dan penggunaan uang logam secara sangat luas dalam sebuah negeri di mana hingga saat itu ekonomi alamiah berlaku univer- sal atau lebih-dominan, senantiasa dibarengi suatu revolu-sionerisasi yang kurang-lebih cepat dari cara distribusi sebelumnya, dan ini terjadi sedemikian rupa hingga ketidak-samaan pendistribusian di kalangan para individu dan karenanya pertentangan antara kaya dan miskin menjadi kian dan semakin mencolok.
Produksi kerajinan tangan/pertukangan lokal yang dikontrol gilda-gilda dari Abad-abad Pertengahan meniadakan keberadaan kaum kapitalis besar dan kaum pekerja-upahan yang seumur-hidup tepat sebagaimana ini secara tidak-terelakkan melahirkan keberadaan industri modern berskala-besar, sistem perkreditan jaman sekarang, dan bentuk pertukaran yang sesuai dengan perkembangan kedua di atas itu – persaingan bebas.
Tetapi dengan perbedaan-perbedaan dalam distribusi, timbul “perbedaan- perbedaan kelas.” Masyarakat terbagi dalam kelas-kelas: yang berhak- istimewa dan yang tidak-bermilik, para penghisap dan yang terhisap, para penguasa dan para yang dikuasai; dan negara, yang pada awalnya dibangun/dicapai oleh kelompok-kelompok komunitas-komunitas primitif hanya agar dilindungi kepentingan-kepentingan mereka bersama (yaitu, irigasi di Timur) dan untuk perlindungan terhadap musuh-musuh eksternal, dari tahap ini seterusnya memperoleh fungsi yang sama untuk dengan kekerasan mempertahankan kondisi-kondisi kehidupan dan dominasi kelas yang berkuasa terhadap kelas yang ditundukkan. Namun distribusi tidak sekedar suatu hasil passif dari produksi dan pertukaran; ia pada gilirannya bereaksi atas kedua-duanya. Setiap cara produksi atau bentuk pertukaran baru pada awalnya dihambat tidak saja oleh bentuk-bentuk lama dan kelembagaan-kelembagaan politik yang bersesuaian dengannya, tetapi juga oleh cara distribusi lama; ia dapat menjamin pendistribusian yang cocok baginya hanya dalam proses suatu perjuangan panjang. Tetapi, semakin aktif suatu cara produksi dan pertukaran tertentu, semakin mampu ia akan kesempurnaan dan perkembangan, semakin pesat distribusi mencapai taraf di mana ia melampaui leluhurnya, dan berkonflik dengannya. Komunitas-
komunitas lama yang sudah disebutkan dapat tetap ada untuk ribuan tahun –seperti di India dan di antara kaum Slav hingga dewasa ini– sebelum pergaulan dengan dunia luar menimbulkan –di tengah-tengah mereka– ketidak-samaan ketidak-samaan pemilikan yang sebagai akibatnya mereka mulai bubar. Sebaliknya, produksi kapitalis modern, yang nyaris tiga-ratus tahun usianya dan telah menjadi berdominasi hanya sejak diperkenalkannya industri modern, yaitu, hanya dalam seratus-tahun terakhir, dalam waktu singkat ini telah melahirkan antitesis-antitesis dalam distribusi –konsentrasi kapital dalam beberapa tangan di satu pihak dan konsentrasi massa-massa yang tidak-bermilik di kota-kota besar di lain pihak– yang mau-tidak-mau akan mengakibatkan keruntuhannya.
Keterkaitan antara distribusi dan kondisi-kondisi material kehidupan masyarakat pada sesuatu periode sangat tergantung dalam sifat segala sesuatu yang selalu dicerminkan dalam naluri populer. Selama suatu cara produksi masih menggambarkan suatu garis lengkung perkem- bangan yang naik, ia selalu disambut dengan antusias bahkan oleh pihak- pihak yang akan bernasib paling buruk dari cara distribusi bersangkutan. Inilah kasus kaum pekerja Inggris pada awal industri modern. Dan bahkan sementara cara produksi ini tetap normal bagi masyarakat, terdapat, pada umumnya, kepuasan dengan distribusinya, dan jika keberatan-keberatan terhadapnya mulai disuarakan, ini datang dari dalam kelas berkuasa sendiri (Saint-Simon, Fourier, Owen) dan tidak mendapatkan sambutan apapun di kalangan massa yang tereksploitasi. Hanya ketika cara produksi bersangkutan sudah menggambarkan sebagian besar dari garis-lengkungnya yang menurun, ketika ia sudah setengahnya melampaui usia hidupnya, ketika kondiasi-kondisi keberadaannya untuk sebagian besar telah lenyap, dan penggantinya sudah mengetuk pintu – hanya pada tahap inilah ketidak-samaan distribusi yang terus meningkat tampil sebagai ketidak-adilan, hanya pada saat itulah seruan dibuat dari kenyataan-kenyataan yang telah dilalui untuk sampai pada yang dinamakan keadilan abadi. Dari satu titik-pandangan ilmiah, himbauan pada moralitas dan keadilan ini tidak membantu kemajuan kita seincipun; kejengkelan moral, betapapun ia dibenarkan, tidak dapat melayani ilmu-ekonomi sebagai sebuah
argumen, tetapi hanya sebagai suatu simptom. Tugas ilmu-ekonomi adalah untuk lebih menunjukkan bahwa kekejaman-kekejaman sosial yang telah berkembang akhir-akhir itu merupakan keniscayaan konsekuensi-konsekuensi cara produksi yang berlaku, tetapi sekaligus juga tanda-tanda dari pembubarannya yang sedang mendekat; dan untuk menyingkapkan, di dalam bentuk gerak ekonomi yang sedang melarut, unsur-unsur dari organisasi produksi dan pertukaran baru masa depan yang akan mengakhiri kekejaman-kekejaman itu. Kegusaran yang menciptakan sang penyair secara mutlak pada tempatnya dalam melukiskan kekejaman-kekejaman ini, dan juga dalam menyerang para rasul keserasian yang mengabdi kelas yang berkuasa, yang menolak atau membela mereka; tetapi betapa kecilnya ia “terbukti” dalam sesuatu kasus tertentu nyata benar dari kenyataan bahwa dalam “setiap” kurun sejarah masa lalu tidak terdapat kekurangan-kekurangan bahan untuk kemurkaan seperti itu.
Namun ekonomi politik, sebagai ilmu mengenai kondisi-kondisi dan bentuk-bentuk yang dengannya berbagai masyarakat manusia telah memproduksi dan bertukar dan atas dasar ini telah mendistribusikan produk-produk mereka – ekonomi politik dalam pengertian lebih luas ini masih harus dilahirkan. Ilmu-ekonomi seperti yang kita miliki hingga sekarang hampir secara eksklusif/khususnya terbatas pada asal-muasal dan perkembangan cara produksi kapitalis: ia dimulai dengan suatu kritik terhadap sisa-sisa peninggalam bentuk-bentuk produksi dan pertukaran feodal, menunjukkan keharusan pergantian mereka oleh bentuk-bentuk kapitalis, kemudian mengembangkan hukum-hukum cara produksi kapitalis dan bentuk-bentuk pertukar-annya yang bersesuaian di dalam aspek-aspek mereka yang positif, yaitu, aspek-aspek di mana mereka memajukan tujuan-tujuan umum masyarakat, dan berakhir dengan suatu kritik sosialis mengenai cara produksi kapitalis itu, yaitu, dengan suatu pemaparan hukum-hukumnya dalam aspek-aspek mereka yang negatif, dengan suatu demonstrasi bahwa cara produksi ini, karena perkembangannya sendiri, mendorong ke arah titik di mana ia membuat dirinya sendiri tak-mungkin (dipertahankan). Kritik ini membuktikan bahwa bentuk-bentuk produksi dan pertukaran kapitalis menjadi kian dan semakin suatu belenggu yang tak-dapat ditenggang oleh produksi