BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Tanaman Cabai Rawit
6. Hama dan Penyakit Tanaman Cabai Rawit
a. Hama Tanaman Cabai Rawit
Menurut Haryoto (2009) hama adalah semua binatang yang
mengganggu dan merugikan tanaman yang diusahakan manusia.
Sebagian besar hama yang dijumpai oleh tanaman cabai rawit ialah
berupa kutu, serangga, ulat, dan kumbang.
Diantaranya hama yang memungkinkan menyerang tanaman cabai
rawit :
1) Kutu daun Persik (Myzus persicae Sulz.)
Ciri – ciri pada hama ini adalah sebagai berikut :
a) Ukuran kutu daun yang sangat kecil, yang dewasa besarnya
sekitar 2 mm (Haryoto, 2009), selain itu mempunyai
sepasang antena yang panjang, dan pada ujung abdomennya
b) Serangga dewasa memiliki dua bentuk, yaitu kutu daun
bersayap (alatae) yang berwarna hitam,serta tidak bersayap
(apterae) yang berwarna bervariasi merah, kuning, dan hijau.
c) Hama ini berkembangbiak secara tak kawin (partenogenesis)
d) Lama periode nimfa lebih kurang 6 hari, sedangkan
imagonya 6-17 hari. Selama hidupnya, imago mampu
melahirkan 32 nimfa.
e) Siklus hidup hama ini berkisar antara 6 – 7 hari (Rukmana, 2002)
Menurut Rukmana (2002) adapun gejala serangan yang
ditimbulkan olehkutu daun persik, adalah sebagai berikut :
a) Kutu daun persik menyerang tanaman inang dengan cara
mengisap cairan daun. Gejala serangan ditandai dengan daun
yang menjadi keriput, berwarna kekuning – kuningan, terpuntir, dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil).
b) Serangan berat dapat menyebabkan tanaman kayu, daun
mengering seperti terbakar sinar matahari,dan akhirnya
tanaman mati.
c) Kutu daun persik menyebabkan kerugian secara tidak
langsung, karena peranannya lebih sebagai vektor penyakit
2) Thrips (Thrips parvispinus Karny)
Hama thrips merupakan hama yang berukuran kecil. Thrips
yang telah dewasa sekitar 1 mm panjangnya. Warna hama ini
kuning – cokelat kehitaman. Binatang kecil ini berkembang biak secara partnogenesis, tanpa pembuahan telur. Serangga tersebut
meletakkan telurnya di permukaan daun secara terpencar. Hama
thrip menyerang daun tanaman, terutama daun – daun muda.Serangga ini kadang – kadang juga berperan sebagai vektor (penular penyakit yang disebabkan oleh virus).
Ledakan populasi hama ini terjadi pada musim kemarau. Jika
terjadi pada musim kemarau. Jika terjadi hujan lebat, jumahnya
agak berkurang dengan sendirinya. Penyebaran hama ini
berlangsung cepat atas bantuan angin ataupun manusia. Ciri – ciri tanaman yang terserang hama thrips mula – mula timbul bintik –
bintik putih keperakan, mirip bekas tusukan jarum. Noda yang tak
beraturan ini akibat dimakan serangga tersebut. Beberapa waktu
kemudian, noda tersebut berubah warna menjadi cokelat tembaga.
Akibat selanjutnya, daun yang terisap cairannya akan keriput dan
menggulung keatas. Helaian daun dan pucuk yang terserang akan
mengeriting, berwarna cokelat, dan akhirnya mati (Haryoto, 2009)
3) Tungau Teh Kuning (Polyphagotarsonemus latus Banks.)
Tungau teh kuning memiliki ukuran panjang lebih kurang 0, 25
kekuning – kuningan, dan kaki langsing yang mampu bergerak dengan lincah (cepat). Telurnya berukuran kecil, berdiameter lebih
kurang 0,1 mm, berwarna kemerah – merahan, yang diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada permukaan bawah daun atau
celah – celah ranting. Nimfanya terlihat berwarna putih dan transparan (tembus cahaya). Siklus hidupnya berlangsung selama
lebih kurang 6 minggu.
Gejala serangan yang ditimbulkan oleh tungau teh kuning
biasanya menyerang daun – daun muda (pucuk) yang biasanya menunjukkan perubahan warna dari hijau menjadi cokelat
mengilap pada permukaan bagian bawah. Kemudian daun akan
menjadi kaku dan melengkung ke bawah, menyerupai sendok
terbalik. Akibatnya, pertumbuhan pucuk terhambat, kemudian
berubah warna menjadi cokelat seperti terbakar, dan akhurnya
daun menjadi rontok (Rukmana, 2002).
4) Ulat Grayak (Spodoptera litura Fabricius)
Hama ini disebut ulat grayak sebab selalu beramai – ramai jika menyerbu tanaman, menjarah bareng layaknya perampok (Jawa:
grayak ). Serangannya terjadi pada malam hari sehingga pagi
harinya tanaman sudah rusak.
Ciri – ciri ulat grayak yaitu memiliki panjang sekitar 5 cm pada saat berumur 2 minggu. Warna ulat bervariasi, yakni hijau
muda memakan epidermis daun bagian bawah, sedangkan bagian
atasnya ditinggalkannya. Namun,setelah tua serangannya bisa
membabi buta, melahap seluruh bagian daun, ranting, batang muda,
bunga, maupun buah. Stadium ulat berlangsung sekitar 13 – 19 hari, kemudian berkepompong di dalam tanah selama 6 – 10 hari, dan akhirnya berubah wujud menjadi ngengat.
Serangan awal ulat grayak ditandai dengan adanya bercak
putih yang menerawang pada daun bagian bawah yang dilahapnya.
Tahap berikutnya, serangan dapat mengganas dantanaman menjadi
gundul tanpa daun. Pada tahap ini buah cabai pun ikut diserbu,
ditandai dengan adanya lubang tak beraturan pada permukaan buah
(Haryoto,2009).
5) Lalat Buah (Bactrocera dorsalis Hendel)
Lalat buah dapat menyerang banyak tanaman hortikultura
terutama sayur – sayuran dan buah – buahan, sehingga sulit sekali dikendalikan. Buah cabai yang terserang oleh lalat buah nantinya
akan menjadi busuk dan berjatuhan ke tanah.
Serangan dilakukan oleh lalat buah betina dewasa yang
meletakkan telurnya dengan menyucukkan ovipositor ke dalam
buah cabai dan stadia yang merusak buah adalah larva. Larva lalat
buah berkembang di dalam buah cabai, sehingga menyebabkan
buah menjadi rusak. Kerusakan yang diakibatkan hama ini akan
diinginkan, sehingga produksi baik kualitas maupun kuantitasnya
menurun (Balitsa, 2014).
b. Penyakit Tanaman Cabai Rawit
1) Patek atau Antraknosa
Penyakit ini disebabkan oleh serangga cendawan atau jamur
Colletrotricum capsici atau Gloesporium piperatum.
Serangannya sangat mengganas di kala musim hujan.
Cendawan C. capsici menginfeksi cabai dengan membentuk
bercak hitam kecokelatan yang kemudian meluas menjadi
busuk lunak. Gejalanya terjadi apabila pada fase pembibitan
penyakit ini menyebabkan layu kecambah saat disemaikan
sedangkan pada fase dewasa menyebabkan mati pucuk,
serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering.
Sementara itu apabila serangan berlanjut, maka buah cabai pun
akan juga terserang dengan ciri – ciri buah cabai kering dan mengerut seperti mummi. Biasanya cendawan G. piperatum
mulai menyerang cabai sejak buah masih hijau dan
menyebabkan mati ujung (die back). Buah cabai yang
terserang cendawan ini tampak berbintik – bintik kuning yang akan membesar membentuk seperti lingkaran konsetrasi
2) Penyakit Layu
Penyakit layu merupakan penyakit yang disebabkan oleh
beragam jasad pengganggu , antara lain nematoda, cendawan
(jamur), bakteri dan serangga. Nematoda merupakan jasad
pengganggu tanaman yang berbentuk seperti cacing, tetapi
berukuran sangat kecil, bahkan tidak dapat terlihat oleh mata
telanjang. Nematoda betina meletakkan telur di dalam
perakaran, nematoda ini akan berkembang sehingga
menyebabkan luka. Di dalam perakaran, nematoda ini akan
berkembang sehingga akan menghambat aliran makanan dari
dalam tanah. Akibatnya, tanaman akan tampak segar pada pagi
hari, sedangkan siang harinya akan menjadi layu. Sedangkan
beberapa cendawan seperti Fusarium oxysporum, Verticillium
sp., dan Pellicularia sp. Menyebabkan kelayuan pada cabai
(Prajnanta, 2011).
3) Bercak Daun Serkospora
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora capsici
Heald & Wolf. Siklus hidup cendawan ini ialah hidup pada
sisa – sisa tanaman dan biji. Penyebaran penyakit ini dibantu oleh angin, alat – alat pertanian, dan aktivitas pekerja. Perkembangan penyakit akan dipacu pada kondisi kelembapan
Gejala serangan penyakit bercak daun serkospora yaitu daun
berbercak – bercak bulat, bagian tengahnya berwarna abu –
abu tua, sedangkan bagian luar berwarna coklat tua, seperti
bintik – bintik yang disebut penyakit “bintik mata kodok”.
Serangan berat menyebabkan daun berbercak mengerng dan
retak, dan akhirnya daun gugur atau jatuh ke tanah (Rukmana,
2002).
4) Penyakit Virus atau Mosaik
Virus yang menyerang tanaman cabai berasal dari virus
yang bisa menyerang tanaman lain, seperti virus mentimun
(Cucumber Mosaic Virus / CMV), virus kentang (Potatto Virus
/ CMV), atau virus tembakau (Tobacco Mosaic Virus/TMV).
Penularan terjadi melalui biji yang tercemar virus, alat – alat kerja, akar tanaman yang tercemar, manusia, maupun serangga
penular (vektor).
Gejala umum yang tampak antara lain pertumbuhan tanaman
terhambat, ukuran daun mengecil, daun berbelang – belang hijau tua dan hijau muda, serta tepinya bergelombang
(Haryoto, 2009).