BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Pertumbuhan Fase Vegetatif
Setelah dilakukan uji statistika dengan uji ANOVA dan diperoleh
analisisnya bahwa jenis tanah pasir merupakan jenis tanah yang dapat
memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan saat fase vegetatif. Fase
vegetatif yang diamati pada pertumbuhan tanaman cabai rawit (Capsicum
frutenscens Linn.) adalah meliputi tinggi batang serta jumlah daun.
Berdasarkan hasil data yang telah diperoleh terlihat bahwa pada pertumbuhan
tinggi batang tanaman cabai rawit telah mengalami pertambahan tinggi pada
setiap minggunya. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian campuran pasir
memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan tanaman cabai rawit. Hal
ini ditunjukkan pada kelompok tanaman pada P3 dengan komposisi
perbandingan tanah dengan pasir adalah 75 : 25 % jika dibandingkan dengan
tanam tanahnya 100 %. (Waskito, 2014) tanah pasir merupakan jenis media
tanam tambahan yang bersifat anorganik. Pasir memiliki kemampuan airase
dan drainase yang baik, meskipun demikian media pasir tidak dapat dijadikan
sebagai media tunggal, tetapi lebih cocok dijadikan sebagai media tambahan
dikarenakan tanah jenis pasir mampu menyerap banyak air namun mudah juga
untuk kering. Apabila tanah pasir dijadikan sebagai media tunggal, maka akan
terjadi kesulitan dalam mengatur nutrisi dan air yang dibutuhkan oleh tanaman.
Dapat dilihat bahwa pada kelompok tanaman P1 yang memiliki komposisi
media pasir 75 % lebih banyak dibandingkan komposisi media tanah 25 %.
Pertumbuhan tinggi tanaman pada P1 memiliki rata – rata terendah, setelah itu diikuti oleh kelompok tanaman P2 yang memiliki komposisi seimbang antara
media pasir 50 % dengan media tanah 50 % yang memiliki rata – rata rendah setelah kelompok tanaman P1. Dapat dilihat bahwa kelompok tanaman P1 dan
P2 memiliki rata – rata pertumbuhan tinggi batang dibawah rata – rata dari pertumbuhan tinggi tanaman pada kelompok kontrol. Hal tersebut dapat
disebabkan oleh pemberian air yang berlebihan bagi kelompok P1 dan P2. Hal
tersebut dikarenakan struktur pasir yang mudah menyerap air, sehingga
kandungan air pada kelompok P1 dan P2 lebih banyak dibandingkan dengan
kelompok P3 yang hanya memiliki komposisi pasir yang lebih sedikit.
Menurut Munandar (1995) dalam Jasminarni (2008) mengatakan bahwa
kelebihan air menyebabkan kurangnya aerase yang akan berdampak hampir
sama dengan kekurangan air terhadap tanaman yang menyebabkan pori tanah
negatif terhadap pertumbuhannya karena mengganggu proses fotosintesa dan
metabolisme dari tanaman. Dampak tersebut berpengaruh terhadap efek
morfologis pada tanaman. Efek morfologisnya adalah daun tanaman akan
mengalami klorosis dan senesens lebih awal, pemanjangan batang berkurang
dan pertumbuhan akar menjadi terbatas. Berdasarkan gejala – gejala yang ditimbulkan pada kelompok tanaman P1 dan P2, terlihat bahwa pertumbuhan
tinggi batang pada setiap tanaman mengalami pertumbuhan panjang batang
yang sangat lambat jika dibandingkan dengan kelompok tanaman lainnya.
Adanya kelebihan air dikarenakan pemberian pupuk yang berjenis cair di setiap
minggunya disamping itu juga harus dilakukan penyiraman dengan pemberian
air. Oleh karena itu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jenis
tanah pasir mampu menyerap banyak air, maka dapat dikatakan pada tanaman
P1 dan P2 mengalami cekaman air yang berlebihan.
Fase vegetatif yang dialamai oleh tumbuhan selain ditunjukkan dengan
pertumbuhan tinggi batang yaitu jumlah daun yang tumbuh. Berdasrkan hasil
data yang diperoleh ditunjukkan bahwa pada kelompok tanaman P3 memiliki
jumlah daun terbanyak dibandingkan dengan kelompok tanaman lainnya. Hal
tersebut disebabkan terpenuhinya nutrisi yang diperlukan oleh tanaman
tersebut. Sedangkan pada kelompok tanaman P2 dan kontrol telah mengalami
penurunan jumlah daun dimulai pada minggu ke- 7.Kelompok tanaman P2
mengalami kerontokan daun yang terus menerus. Hal tersebut dikarenakan
tanaman terkena serangan penyakit yang menyebabkan daun menjadi berwarna
layu fusarium. Akibat terserangnya penyakit tersebut, maka dilakukan
pencegahan dengan pemberian fuingisida. Selain dilakukan pencegahan,
pemberian pupuk cair pun rutin diberikan guna memacu kembali pertumbuhan
vegetatifnya.
Pada kelompok tanaman kontrol telah mengalami penurunan jumlah
daun yang sangat signifikan., tanaman kontrol mengalami kerontokan daun
akibat menguningnya warna daun dan akhrinya mengalami kerontokan.
Kejadian tersebut dapat dikatakan gejala defisiensi hara tanaman. Berubahnya
warna daun yang semula berwarna hijau segar kemudian berubah seketika
menjadi warna kekuningan dan keadaan daun seperti terbakar. Gejala seperti
ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya unsur N (Nitrogen) yang merupakan
unsur makro yang sangat dibutuhkan banyak bagi tanaman. Menurut Sutedjo
(2010) gejala yang timbul akibat kekurangan unsur hara N dapat terlihat
dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau agak kekuning – kuningan selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap. Jaringan daun mati dan hal
tersebut yang menyebabkan daunselanjutnya menjadi kering dan berwarna
(a) (b)
Gambar 4 : (a) Tanaman kekurangan unsur hara N daun mulai menguning
(b) Daun menguning menyeluruh dan kering
Pemberian pupuk cair yang berasal dari limbah dapur organik memberikan
pengaruh yang baik bagi pertumbuhan tinggi batang dan jumlah daun (fase
vegetatif), hal tersebut dapat ditunjukkan berdasarkan hasil data yang telah
diperoleh pada minggu pertama hingga minggu kelima. Setelah minggu kelima
kemudian tanaman mulai menimbulkan gejala – gejala yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu pada kelompok tanaman P2 yang mulai terserang penyakit
yang disebabkan oleh virus. dan pada kelompok tanaman kontrol telah
mengalami gejala defisiensi unsur hara. Oleh sebab itu, dilakukan tindakan
lanjutan dengan melakukan pemberian pupuk cair yang berasal dari urine sapi.
Pemberian pupuk cair dilakukan karena pada gejala yang muncul pada
kelompok tanaman kontrol mengalami kekurangan unsur hara N (Nitrogen).
Tindakan pemberian pupuk cair dari urine sapi diberikan pada minggu ke tujuh
dan diharapkan pada kelompok tanaman kontrol dapat memberikan dampak
segar sedangkan pada kelompok tanaman P2 pemberian pupuk urin sapi yang
memiliki kandunga N tinggi memberikan dampak yang positif yaitu dapat
memacu kembali pertumbuhan vegetatif yang berupa tunas pucuk sehingga
tanaman mampu bertahan hingga masa panen.
Setelah diberi perlakuan pupuk cair urine sapi, memberikan dampak yang
positif bagi pertumbuhan jumlah daun khususnya pada kelompok tanaman P2
telah kembali muncul tunas dan berkembang menjadi daun baru. Begitu juga
pada kelompok tanaman kontrol memberikan dampak yang positif. Hanya saja
efek yang ditimbulkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
memulihkan kembali kedalam kondisi normal tanaman cabai tersebut. Tetapi,
dapat dijelaskan secara kualitatif yaitu daun yang masih bertahan mulai
berkurang warna kuningnya dan selain itu mulai munculnya tunas baru dan
berkembang menjadi daun baru yang berwarna hijau segar.