PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT DI TBM DAN TM
11.2. Hama Tikus
11.2. Hama Tikus 11.2.1. Istilah dan Definisi Dalam Pengumpanan Tikus a. Pokok Terserang Baru (PTB) 1) Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Adanya keratan baru berwarna putih kekuningan pada pangkal pelepah.
2) Tanaman Menghasilkan (TM)
Dalam satu pokok terdapat 5 atau lebih buah kelapa sawit dari beberapa TBS dengan keratan baru yang terjadi 2 – 3 hari sebelumnya. Buah dengan serangan baru tersebut masih dapat berada di tandan dan atau telah membrondol.
b. Ambang Ekonomi
Merupakan tingkat serangan kritis, dimana di atas nilai tersebut pengumpanan harus segera dilakukan.
c. Kampanye Pengumpanan
1) Setiap kampanye pengumpanan harus terdiri minimum 3 ‐ 4 rotasi pengumpanan dan dilakukan sebagai berikut :
- Rotasi I, letakkan satu butir racun tikus untuk setiap pokok, racun tikus diletakkan pada piringan dekat dengan pangkal batang yang mengarah ke jalan panen. Hindari pemberian racun tikus dengan pelemparan
- Pada rotasi II, gantilah racun tikus yang hilang setiap 3 – 4 hari untuk racun tikus AG I atau setiap 7 hari untuk racun tikus AG II (lihat butir 11.2.2.4)
- Pada rotasi III, racun yang hilang dimakan tikus sudah < 20 %, maka pengumpanan dapat dihentikan. Akan tetapi apabila setelah rotasi III jumlah racun tikus yang hilang masih > 20 %, maka sensus terhadap pokok terserang baru (PTB) harus segera dilakukan
- Apabila persentase pokok terserang baru < 5 %, maka pengumpanan harus dihentikan, walaupun jumlah racun tikus yang hilang masih > 20 %
- Apabila persentase pokok terserang > 5 % maka lakukan pengumpanan rotasi IV dan seterusnya
2) Umumnya setelah 3 – 4 kali rotasi pengumpanan, hama tikus sudah terkendali. Akan tetapi untuk areal dengan populasi tikus yang tinggi diperlukan rotasi pengumpanan yang lebih banyak
3) Pengumpanan yang terputus dan tidak lengkap, mengakibatkan pengendalian hama tikus tidak efektif dan dapat menyebabkan hama tikus resisten terhadap racun tersebut. 11.2.2. Pengendalian Hama Tikus 11.2.2.1. Tanaman Belum Menghasilkan (umur 0 – 12 bulan) a. Penanaman Umumnya pada areal tanaman baru banyak dijumpai serangan hama tikus. Kampanye pengumpanan harus segera dilakukan setelah penanaman bibit
b. Tanah Gambut, Rendahan dan Rawa‐rawa
- Pada umumnya pada tanah gambut, rendahan, dan rawa‐rawa serta areal banjir rutin berpotensi tingkat serangan tikus tinggi - Kampanye pengumpanan dilakukan setiap tiga bulan tanpa harus
melakukan sensus c. Areal Datar
Pada umumnya pada areal datar tingkat serangan tikus rendah. Setelah penanaman, lakukan kampanye pengumpanan satu rotasi. Apabila ditemukan 1 pokok tanaman terserang, maka harus lakukan “deteksi dan aplikasi” dengan tahapan sebagai berikut :
- Letakkan 3 butir racun tikus/pokok, terhadap tanaman yang menunjukkan gejala serangan baru dan ditambah 6 pokok disekelilingnya, masing‐masing 3 butir racun tikus
- Apabila dalam pengumpanan dijumpai ≥ 4 pokok terserang baru/ha maka lakukan kampanye pengumpanan pada areal tersebut.
11.2.2.2. Tanaman Belum Menghasilkan (umur 13 – 24 bulan)
a. Pengendalian hama tikus dilakukan pada semua jenis areal
b. Pada tanaman berumur ≥ 12 bulan lakukan “deteksi dan aplikasi” (lihat butir 11.2.2.1 untuk areal datar)
c. Untuk tanaman sisipan berumur < 1 tahun, letakkan 3 butir racun tikus.
11.2.2.3. Tanaman Menghasilkan (> 24 Bulan)
a. Burung hantu Tyto alba merupakan predator hama tikus yang potensial
b. Pemberian racun tikus digunakan, apabila populasi burung hantu < 1 pasang burung hantu/ha
c. Sistem pengendalian hama tikus pada TM dapat berupa Response
Baiting dan Routine Baiting
1) Response Baiting
- Diterapkan pada areal dengan serangan rendah sampai dengan sedang
- Pengumpanan hama tikus dilakukan berdasarkan hasil sensus sebagai berikut :
• Lakukan sensus terhadap pokok terserang baru, sebelum panen dilaksanakan
• Apabila hasil sensus menujukkan pokok terserang baru > 5 %, kampanye pengumpanan dapat dimulai
• Kampanye pengumpanan hanya dilakukan pada blok yang terserang
2) Routine Baiting
- Diterapkan pada areal serangan hama tikus yang kronik dan persisten
- Pengumpanan dilakukan secara rutin dengan interval 4 – 6 bulan per tahun.
11.2.2.4. Informasi Racun Tikus
Berdasarkan cara kerjanya, racun tikus digolongkan dalam dua kelompok, yaitu yang bersifat acute (mematikan) dan chronic (bersifat antikoagulan yang menyebabkan pendarahan terus‐menerus).
Contoh racun tikus yang bersifat acute adalah : Phosphide, Endrin, dan Bidrin. Sedangkan contoh racun tikus yang bersifat chronic untuk pengendalian tikus dapat dilihat pada Tabel 11.7.
Tabel 11.7. Jenis dan dosis racun yang bersifat chronic untuk pengendalian tikus
Nama dagang Bahan aktif Konsentrasi
(ppm) Bobot racun per butir (g) Tipe racun tikus Coumarin Tikumin Ramortal Klerat Strorm Coumatetralyl Coumatetralyl Bromadiolon Broadifacoum Flocumaten 375 375 50 50 50 10 10 4 4 4 AG I* AG I AG II AG II AG II *AG = Anticoagulan Generasi 11.3. Hama Rayap Coptotermes curvignathus 11.3.1. Lokasi dan Potensi serangan
a. Merupakan hama rayap yang sangat merugikan pada tanaman kelapa sawit di lahan gambut
b. Serangan hama rayap dapat terjadi mulai dari pembibitan sampai dengan tanaman menghasilkan
c. Serangan hama ini dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat bahkan dapat mematikan. 11.3.2. Sensus a. Prosedur Sensus - Petugas sensus harus terpisah dengan petugas aplikasi pestisida. - Amati seluruh pokok sepanjang jalan panen (dua jalur)
- Pokok yang terserang harus ditandai (X) dengan cat warna kuning pada pangkal batang yang menghadap ke jalan panen
- Untuk barisan tanaman yang didalamnya terdapat pokok terserang, pokok pertama pada baris tersebut harus diberi tanda panah ( ) - Di bawah tanda panah ditulis jumlah pokok yang diserang hama
Coptotermes curvignathus
- Aplikasi pestisida hanya dilakukan hanya pada tanaman yang ditandai (X).
b. Frekuensi Sensus
Frekuensi sensus berdasarkan kondisi areal serta jumlah pokok yang terserang per ha, seperti yang tercantum pada Tabel 11.8.
Tabel 11.8. Frekuensi sensus berdasarkan tingkat serangan hama rayap Coptotermes curvignathus
Kondisi areal Jumlah pokok terserang/ha Frekuensi sensus
Bermasalah ≥ 4 Setiap bulan
Normal ≤ 4 Setiap 3 bulan
11.3.3. Pengendalian Beberapa pestisida yang digunakan untuk pengendalian hama rayap dapat dilihat pada Tabel 11.9. Tabel 11.9. Nama dagang, bahan aktif dan formula aplikasi pestisida untuk pengendalian hama rayap Coptotermes curvignathus
Nama dagang Bahan aktif (%) Formula aplikasi (ml b.a.*/ltr air)
Dursban 20 EC Chlorpyriphos (0,25) 12,5 Lentrex 400 EC Chlorpyriphos (0,25) 6,25 Termiban 400 EC Chlorpyriphos (0,25) 6,25 Regent 50 SC Fipronil (0,125) 2,5 Rope 25 EC Fipronil (0,125) 5,0 *b.a. = bahan aktif 11.3.4. Prosedur Perlakuan a. TBM - Seluruh jalur rayap berupa tanah yang menempel di pangkal pelepah harus dihancurkan dan dibersihkan
- Setelah bersih, disemprot larutan pestisida secara merata dengan volume 1 – 2 liter formula aplikasi/pokok
- Kemudian siramkan lagi 2 liter formula aplikasi/pokok di sekitar pokok pada radius 30 cm
- Untuk tindakan pencegahan, siramkan 2 liter formula aplikasi/pokok pada radius 30 cm, untuk 6 pokok di sekeliling tanaman terserang. - Setelah 2 minggu aplikasi harus dilakukan pengamatan untuk
memastikan efektifitas pestisida tersebut - Ulangi perlakuan tersebut jika belum efektif. b. TM
- Seluruh jalur rayap berupa tanah yang menempel di pangkal pelepah harus dihancurkan dan dibersihkan
- Setelah bersih, disemprot larutan pestisida secara merata dengan volume 1 – 2 liter formula aplikasi/pokok
- Kemudian siramkan lagi 3 liter formula aplikasi/pokok di sekitar pokok pada radius 30 cm
- Untuk tindakan pencegahan, siramkan 3 liter formula aplikasi/pokok pada radius 30 cm, untuk 6 pokok di sekeliling tanaman terserang - Setelah 2 minggu aplikasi harus dilakukan pengamatan untuk
memastikan efektifitas pestisida tersebut - Ulangi perlakuan tersebut jika belum efektif.
c. Pokok mati
- Tanaman yang mati disebabkan oleh rayap harus dibongkar termasuk pangkal batangnya, kemudian hasil bongkaran tersebut diletakkan di gawangan
- JIka pangkal batang dan jalur rayap tersebut masih dihuni oleh rayap lakukan penyemprotan secara merata dengan 2 – 3 liter formula aplikasi pada batang yang telah mati dan lubang bongkaran, dan hasil bongkarannya.
d. Sisipan
Penanaman sisipan harus diaplikasikan pestisida, untuk mencegah serangan rayap, dengan cara sebagai berikut :
- Taburkan 50 g pestisida Marshal 5 G di dalam lubang tanam
- Setelah bibit ditanam, taburkan 50 g Marshal 5 G di sekitar pangkal batang bibit.
11.3.5. Penandaan
a. Setelah pokok terserang diaplikasi pestisida, dituliskan bulan dan tahun aplikasi pestisida tepat di bawah tanda (X)
b. Kemudian pokok di sekeliling pokok ber tanda (X) diberi tanda titik (.) untuk menunjukkan bahwa pokok tersebut telah diaplikasi pestisida.