JENIS DAN DOSIS APLIKATOR
14.3. Kriteria Matang Panen
14.3. Kriteria Matang Panen
a. Standar kematangan minimum yang ditetapkan adalah paling sedikit 5 (lima) brondolan segar per janjang yang jatuh secara alami ditemukan di piringan dan atau di bawah tandan buah sebelum dipanen. Brondolan tersebut bukan brondolan parthenocarpy atau berondolan muda yang jatuh karena serangan tikus atau penyakit
b. Dengan standar kematangan minimum maka diperoleh 5 – 7 % berondolan dari total bobot TBS di TPH dan setelah buah diangkut ke PKS akan menjadi 10 – 12 % berondolan dari total bobot TBS di loading ramp PKS. 14.4. Mutu dan Pengawasan Panen 14.4.1. Mutu Panen a. Tugas Karyawan Panen 1) Memotong Tandan Buah Segar (TBS) - Semua TBS masak harus dipanen - TBS yang sudah dipanen tetap berada di piringan sambil menunggu diangkut ke TPH dan tidak dibenarkan untuk ditumpuk sementara di sepanjang jalan panen - Gagang TBS dipotong rapat minimum 2 cm dari pangkal TBS tetapi jangan sampai terkena tandan
- TBS disusun lima baris ke arah dalam secara teratur di TPH dan diberi nomor pemanen. Susunan TBS dibuat terpisah untuk pemanen yang berlainan, kendati pada TPH yang sama.
2) Mengutip Brondolan
- Brondolan di pelepah harus “disogrok”, terutama pada areal yang sudah menggunakan egrek
- Brondolan dikumpulkan di dalam jaring plastik di dekat susunan TBS
- Brondolan harus bebas dari sampah dan pasir. 3) Memotong Pelepah
- Pelepah harus dipotong sesuai dengan songgo yang telah ditentukan. Diusahakan seminimal mungkin memotong pelepah untuk tanaman yang masih muda. Standar jumlah pelepah per pohon yang harus dipertahankan berdasarkan umur tanaman dapat dilihat pada Tabel 14.2.
Tabel 14.2. Standar jumlah pelepah per pohon yang harus dipertahankan berdasarkan umur tanaman Umur tanaman Lingkaran pelepah Jumlah Pelepah/pohon 3 – 8 6 48 – 52 9 – 12 5 40 – 44 >12 4 32 – 36
- Bila terpaksa harus memotong pelepah, pelepah di potong rapat ke batang untuk mencegah tersangkutnya brondolan, dan menghindarkan kesulitan panen.
- Pelepah disusun memanjang di tengah gawangan mati yang tidak ada jalan panennya (atau parit).
- Untuk tujuan konservasi tanah dan air terutama pada daerah ‐ daerah bergelombang/miring maka pelepah harus dipotong dan disusun dalam satu rumpukan di antara pohon dalam barisan dan bergantian pada bulan berikutnya disusun dalam rumpukan di gawangan mati.
- Untuk memudahkan mengingat urutan perumpukan pelepah maka dapat disusun sebagai berikut : panen dan pemotongan pelepah pada bulan ganjil , pelepah disusun dalam rumpukan di antara baris tanaman, sedangkan panen dan pemotongan pelepah pada bulan genap, pelepah disusun dalam rumpukan di gawangan mati. - Rumpukan seperti pada areal miring ini nantinya akan berbentuk
huruf L pada satu pohon dan menjadi seperti kotak‐kotak pada baris tanaman.
- Rumpukan model L dapat mencegah erosi tanah karena aliran air permukaan dapat tertahan dan pada akhirnya akan terbentuk tapak kuda di piringan pokok kelapa sawit.
- Potong pelepah “sengkleh”.
b. Tugas pengawas panen - Mengawasi proses panen agar semua buah masak terpanen - Memastikan semua buah yang sudah dipanen terangkut ke TPH dan tidak ada yang tertinggal di piringan atau di jalan panen - Memastikan gagang buah harus dipotong pendek minimum 2 cm dari pangkal TBS dan tidak terikut bagian tandan yang terisi buah
- Buah mentah yang terlanjur dipanen, tidak dibenarkan untuk ditinggal dalam blok, apalagi diperam. Buah mentah tersebut harus dibawa ke TPH kemudian dibenamkan di dekat TPH - Memastikan semua brondolan dikutip dan dikumpulkan serta dibawa ke TPH. 14.4.2. Pengawasan Panen a. Pemeriksaan terhadap panen meliputi : 1) Kualitas buah
- Kematangan buah (matang, kelewat matang atau busuk, dan mentah) - Kualitas brondolan (ada atau tidak yang busuk) - Panjang tangkai buah (≤ 2 cm atau ≥ 2 cm) - Pemakaian jaring (ada atau tidak jaring) - Penyusunan buah di TPH (didalam atau diluar) 2) Kualitas ancak - Pokok yang dipanen (tuntas atau tidak tuntas) - Pengutipan brondolan (semua dikutip atau tidak) - Pemotongan pelepah (ada atau tidak yang sengkleh) - Penyusunan pelepah (model L atau tidak) b. Setiap janjang di TPH harus dihitung dan diperiksa mutunya.
c. Semua TBS yang telah diperiksa dan diterima dicap pada gagangnya (pakai kepala gancu). Setiap buah mentah ditulis A dan nomor pemanen pada gagangnya dengan pensil merah. Buah yang kelewat matang = E harus dikeluarkan brondolannya (diketrek) dan janjangan kosong dibuang di gawangan
d. Tidak diperkenankan membuat buku catatan lain, selain “buku penerimaan buah”
e. Bila terjadi kesalahan mencatat, halaman tersebut tidak boleh dirobek atau dihapus, cukup dicoret yang salah atau jika sering salah dibiarkan saja dan pakai halaman berikutnya
f. Menentukan ancak panen untuk setiap pemanen pada pagi hari, sambil membagikan ”buku notes panen” kepada pemanen
h. Memastikan semua buah yang dipanen diangkut ke TPH, tidak ada buah matang yang tertinggal di piringan atau di jalan panen = M2 i. Memastikan tidak ada tandan buah yang ikut terpotong pada saat
pemotongan gagang = M3 j. Tidak dibenarkan buah mentah = A, yang terlanjur dipanen ditinggal di dalam blok, atau buah mentah disembunyikan = M1 k. Buah yang busuk tetap dipanen dan dibenamkan di dekat TPH l. Memastikan semua brondolan dikutip m. Setelah pulang dari ancak segera menghitung kerapatan buah di ancak besar yang akan dipanen esok hari
Jenis alat yang umum digunakan untuk pemeriksaan panen dapat dilihat pada Tabel 14.3.
Tabel 14.3. Jenis alat yang dipergunakan untuk pemeriksaan pekerjaan panen
No Jenis alat Keterangan
1 Gancu Untuk menghitung dan memeriksa mutu
buah
2 Gancu dengan stempel Untuk menandai buah yang sudah
dihitung krani panen
3 Pinsil lilin merah Untuk memeriksa mutu buah
4 Bolpoint Untuk menulis pada buku penerimaan
buah dan buku notes panen
5 Buku pemeriksaan mutu buah Untuk memeriksa mutu buah dan ancak
6 Buku penerimaan buah Untuk mencatat jumlah janjang
pendapatan karyawan panen.
7 Buku notes panen Untuk mencatat premi tiap karyawan
panen.