• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hambatan Kegiatan Sosial : Desain Progam dan Kualitas Pelaksana Program PNPM

BAB 5 HASIL PELAKSANAAN KAJIAN

B. Hasil Temuan Umum di Enam Lokasi Penelitian

5. Hambatan Kegiatan Sosial : Desain Progam dan Kualitas Pelaksana Program PNPM

Keberlanjutan program merupakan bagian dari harapan ambisius program PNPM. Dengan kegiatan yang didisain bottom up, partisipatif sejak identifikasi persoalan, perencanaan dan pelaksanaan program, diharapkan merupakan proses belajar sehingga kegiatan ini melembaga. Walaupun demikian, selama penelitian lapangan, belum tampak indikasi ke arah itu. Hal itu dapat dilihat dari kenyataan bahwa masyarakat maupun pengelola kegiatan mulai KSM, UPS, dan BKM masih selalu mengharapkan turunnya dana dari atas sebagai penggerak kegiatan. Seolah olah kegiatan tidak dapat dijalankan apabila tidak ada kucuran BLM.

Beberapa faktor yang diidentifikasi menyebabkan kurangnya prospek keberlanjutan program tersebut antara lain dari faktor: kesesuaian pendekatan administrasi dengan

kebutuhan orientasi program secara ideal, fasilitator, relawan, masyarakat sendiri dan lembaga penyelenggara mulai KSM, UPS sampai BKM.

Dilihat dari disain programnya PNPM termasuk sebuah program yang cukup ambisius oleh karena berusaha melakukan perubahan dalam orientasi pembangunan dari yang bersifat top down menjadi bottom up. Oleh sebab itu walaupun merupakan lembaga yang diinisiasi dari atas, BKM melalui proses belajar sosial diharapkan menjadi sebuah institusi masyarakat yang mampu melakukan pengelolaan pembangunan pada tingkat komunitas

68

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP secara mandiri. Untuk maksud tersebut semestinya pendekatan yang digunakan mengutamakan pendekatan proses. Hal ini disebabkan oleh karena tumbuhnya BKM menjadi lembaga yang mandiri hanya mungkin terwujud melalui proses belajar sosial sehingga terjadi proses institusionalisasi. BKM dalam jangka panjang bukan sekedar sebuah organisasi, melainkan organization that are institution. Dalam kenyataannya pendekatan proses ini ternyata tidak didukung oleh sistem administrasi dalam pelaksanaannya. Program ini harus mengikuti sistem administrasi reguler yang berorientasi target. Dengan demikian kegiatan yang dilakukan baik oleh fasilitator maupun masyarakat terikat oleh target waktu yang ketat, dan mengutamakan pertanggungjawaban administratif bukan substansinya. Kondisi seperti itu tidak memberikan iklim yang kondusif bagi pendekatan proses, sehingga program-programnya dimunculkan sekedar untuk merespon turunnya BLM dengan sekedar mengikuti persyaratan proyek. Oleh sebab itu, yang tampak adalah bagaimana mengikuti prosedur yang sudah ditentukan tanpa memperhatikan substansinya.

Sistem administrasi yang tidak kondusif tersebut, juga diperparah oleh adanya rotasi fasilitator yang relatif cepat. Fasilitator yang mulai berhasil menjalin hubungan yang mapan dengan masyarakat segera diganti oleh fasilitator yang baru sehingga harus mulai lagi dengan penyesuaian baru. Padahal, dalam pendekatan proses yang bersifat bottom up dan mengutamakan partisipasi masyarakat perlu dibangun saling percaya antara masyarakat dengan fasilitator. Di samping itu juga dibutuhkan kemampuan empati dari fasilitator dengan kehidupan dan persoalan aktual masyarakatnya. Kesemuanya itu membutuhkan proses, yang dibangun melalui interaksi yang intensif dan kontinyu antara masyarakat dan fasilitator. Di dalam interaksi tersebut terdapat proses saling belajar di antara kedua belah pihak. Dari informasi yang diberikan KMW, rotasi yang cepat ini merupakan sesuatu yang sulit dihindarkan. Persoalannya dimulai dari banyaknya fasilitator yang karena berbagai pertimbangan mengundurkan diri. Dengan demikian posnya tersebut harus segera diisi, dan untuk itu perlu merotasi fasilitator dari daerah lain.

Seperti sudah disinggung dalam pembahasan sebelumnya, dalam program PNPM ini relawan mempunyai kedudukan yang cukup strategis. Bagi masyarakat dengan kelompok warga miskin yang belum terbiasa mengungkapkan aspirasi dan kebutuhannya, relawan dapat berfungsi untuk menjembataninya. Dalam hal ini relawan dapat berfungsi sebagai alat pendengar sekaligus pengeras suara bagi aspirasi dan kepentingan warga miskin. Untuk maksud tersebut dibutuhkan kemauan dan kemampuan guna melakukannya.

69

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP Kemauan dapat dipoeroleh apabila pada relawan sudah timbul kesadaran akan fungsinya sebagai relawan yang memperjuangkan kepentingan warga miskin. Di samping itu juga perlu dedikasi sebagai aktivis sosial yang tanpa pamrih. Pada umumnya, relawan yang direkrut dapat dibedakan menjadi dua. Pertama relawan yang sebelumnya sudah merupakan aktivis sosial di berbagai lembaga masyarakat misalnya kader posyandu, kader PKK. Kedua, relawan yang merupakan aktivis sosial baru. Mereka merupakan bagian dari warga masyarakat yang merespon tawaran untuk menjadi relawan pada tahap sosialisasi program. Sebagian dari mereka menyatakan dirinya menjadi relawan karena tertarik pada program dan menyadari posisinya sebagai relawan, sementara sebagian yang lain tertarik karena program PNPM ini dapat memperoleh dana yang dalam ukuran mereka cukup besar. Dari realitas tersebut dapat dikatakan bahwa para relawan belum semua teruji kapasitasnya karena tidak semuanya pernah menjadi aktivis sosial. Selain itu sebagian menjadi relawan bukannya tanpa pamrih. Pada kelompok yang terakhir tersebut banyak di antaranya yang kemudian mengundurkan diri di tengah jalan. Sementara itu kemampuan sebagai relawan yang berfungsi strategis dalam menjembatani kepentingan warga miskin dapat diperoleh melalui proses belajar, baik melalui pelatihan maupun pengalamannya sebagai relawan. Mengingat fungsinya yang cukup strategis semestinya kemampuan ini perlu selalu diasah. Dalam kenyataannya usaha untuk selalui meningkatkan kemampuan relawan ini belum banyak dilakukan.

Pada tingkat disain program, PNPM mencoba menerapkan pendekatan bottom up dan partisipatif. Sementara itu dalam periode waktu yang cukup panjang masyarakat sudah terbiasa bekerja dalam program-program pembangunan yang bersifat top down. Bahkan bersamaan dengan dilaksanakannya program PNPM ini dalam masyarakat yang sama juga masih berlangsung program-program lain yang bersifat top down dan karitatif. Kesemuanya itu akan menjadi hambatan dalam mendorong perubahan orientasi berfikir masyarakat tentang program-program pembangunan khususnya dari pemerintah. Mereka pada umumnya masih memahami proyek pembangunan adalah kucuran dana dari atas. Implikasinya dalam program kegiatan sosial BKM adalah, masyarakat masih beranggapan bahwa berbagai kegiatan yang mereka lakukan tidak lebih merupakan respon atas program dan kucuran dana dari atas.

Kesemuanya itu pada gilirannya juga akan mempengaruhi proses perkembangan BKM dengan perangkat pelaksananya seperti UPS dan KSM. Kenyataan tersebut merupakan salah satu hambatan dalam proses menjadi lembaga milik masyarakat yang mengakar dan terinstitusioanlisasi. Berdasarkan hasil penelitian lapangan, belum tampak indikasi yang

70

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP kuat bahwa BKM akan menjadi lembaga masyarakat yang merupakan wadah partisipasi masyarakat dalam identifikasi masalah, perencanaan dan pelaksanaan program secara melembaga. Mekanisme tersebut belum terinstitusionalisasi dalam wadah BKM sesuai namanya sebagai badan keswadayaan masyarakat. Dengan demikian belum ada jaminan bahwa mekanisme dan kegiatan yang selama ini berlangsung akan tetap berjalan apabila BLM dihentikan.

Tabel V.5

Faktor Penghambat Kegiatan Sosial

Kota Kelurahan Jenis Kegiatan Faktor Penghambat

Pemberian makanan tambahan untuk korban gizi buruk

SDM BKM berpendidikan rendah, Anggota BKM kebanyakan ijazah SLTP, didominasi pengurus BKM, partisipasi warga miskin kurang karena orientasi hanya menerima bantuan

Panggungrejo

Pemberian seragam

sekolah Partisipasi warga miskin kurang karena orientasi hanya menerima bantuan

Kursus menjahit Pelaksanaan program masih didominasi BKM.

Proses pemasaran pasca kursus yang masih kurang dan sarana prasarana mesin jahit kurang. Kejar paket B Kesan bahwa program tersebut

berasal dari program PNPM kurang terlohat , karena Muslimat NU telah eksis sebelumnya cukup lama.

Pembinaan posyandu

Pembelian sarana untuk senam lansia Pasuruan

Kepel

Dana sosial ibu bersalin

Beasiswa pendidikan Partisipasi masyarakat kurang Pendidikan anak

usia dini (PAUD) Bantuan sembako

untuk lansia Partisipasi masyarakat kurang. Surabaya Gundih

Pelatihan pengembangan keterampilan dan

Belum ada upaya kongkret terkait dengan kegiatan pasca pelatihan.

71

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP kewirausahaan

Pelestarian

lingkungan dengan pembuatan kompos rumah tangga

Beasiswa pendidikan Pemilihan program yang cenderung karitatif, Dominasi BKM, partisipasi masyarakat kurang

Penyuluhan ibu

hamil Dominasi partisipasi masyarakat kurang. masyarakat dan Sawunggaling

Pemberian asupan makanan bergizi untuk balita

Dominasi masyarakat dan

partisipasi masyarakat kurang. Pemberian santunan

pada lansia Dominasi cenderung menunggu bantuan BKM, masyarakat tanpa tau arti keberlanjutan program, PJOK hanya menunggu laporan, partisipasi masyarakat rendah.

Pemberian Beasiswa

pendidikan Partisipasi masyarakat rendah.

Bantuan untuk

Rukun Duka Partisipasi masyarakat rendah. Pelatihan

keterampilan salon Tidak berlanjut padahal sudah membeli peralatan salon. Limba B

Pembelian kursi Kecenderungan terjadinya

konspirasi antara BKM dengan pengusaha yang dititipi dapat terjadi. Penentuan pengusaha tersebut dari ketua BKM.

Pemberian beasiswa

pendidikan Dominasi cenderung menunggu bantuan BKM, masyarakat tanpa tahu arti dari program. Rehabilitasi rumah

warga Masyarakat cenderung menunggu bantuan tanpa tahu arti dari program Gorontalo Lekobalo Peningkatan gizi balita kurang mampu

Masyarakat cenderung menunggu bantuan tanpa tahu arti dari program

Santunan lansia Tidak semua anggota aktif, masyarakat lebih memilih diam atas kebutuhannya.

Bantuan pemugaran rumah

Beasiswa pendidikan Makassar Rappokaling

Kursus komputer Kegiatan pasca pelatihan belum digarap. Kegiatan kursus

72

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP kebutuhan utama masyarakat. Beasiswa pendidikan Dominasi BKM, pemilihan peserta

dan penerima bantuan tidak transparan, kurang harmonisnya hubungan dengan pemerintah setempat, keaktifan faskel kurang

karena kerap berganti

kepengurusan dalam waktu dekat Santunan untuk

orang jompo dan orang cacat

Pembinaan TPA

Kursus komputer Kegiatan pasca pelatihan belum digarap. Kegiatan kursus

komputer belum menjadi

kebutuhan utama masyarakat. Bunga Ejaya

Kursus menjahit Kegiatan pasca pelatihan belum digarap. Kegiatan ini belum

mendorong kewirausahaan

masyarakat. Persewaan

perlengkapan pesta Didominasi masyarakat sedangkan partisipasi BKM dan tokoh rendah. Relawan juga sering berganti karena merasa tidak timbal balik bagi mereka tidak sesuai dengan yang diharapkan. Laporan kegiatan sosial persewaan pesta belum dikoordinasi di tingkat BKM.

Panorama

Kursus dan

pembinaan rental komputer

Tidak ada keberlanjutan pasca pelatihan komputer.

Bantuan kepada

orang jompo Partisipasi masyarakat rendah Bantuan beasiswa Partisipasi masyarakat rendah Bengkulu Pasar Melintang Perbaikan rumah warga kurang mampu

Partisipasi masyarakat rendah Santunan untuk

lansia dan yatim piatu

Dominasi pengurus dan anggota BKM, informasi kegiatan kurang terbuka, faskel sering berganti Rehabilitasi rumah

Belawan

Kursus komputer Kegiatan pasca pelatihan belum digarap.

Medan

Sukaraja Santunan bagi janda

miskin Pengurus BKM didominasi wanita akibatnya penerima program

cenderung ke perempuan,

transparansi pemilihan peserta kurang, faskel sering berganti, adanya segregasi antara

pribumi-73

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP

0 1 2 3 4 5 6 Panggungrejo, Pasuruan Kepel, Pasuruan Gundih, Surabaya Sawunggaling, Surabaya Limba B, Gorontalo Lekobalo, Gorontalo Rappokaling, Makassar Bunga Ejaya, Makassar Panorama, Bengkulu Pasar Melintang, Bengkulu Belawan, Medan Sukaraja, Medan

Belum ada tindak lanjut Kapasitas SDM kurang Masih bergantung pada Faskel Berpotensi Korupsi Terkesan program organisasi lama Belum bersifat bottom-up Tidak teridentifikasi

tionghoa.

Pelatihan tata boga SDM BKM berpendidikan rendah, Anggota BKM kebanyakan ijazah SLTP, didominasi pengurus BKM, partisipasi warga miskin kurang karena orientasi hanya menerima bantuan

Dari faktor penghambat kegiatan sosial menunjukkan faktor yang variatif antar daerah yang dapat dilihat pada grafik V.12. berikut ini :

Grafik V.12

Faktor Penghambat kegiatan sosial

Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009

Dilihat dari prosentasenya, 34% hambatan kegiatan sosial dikarenakan kegiatan sosial tersebut yang belum bersifat bottom-up. Kemudian juga 20% kegiatan sosial belum ada tindak lanjut. Di beberapa daerah juga dapat ditemukan berbagai faktor penghambat kegiatan sosial seperti masih tergantung pada faskel (10%), berpotensi korupsi (7%), kapasitas sumber daya manusia yang kurang (5%), dan terkesan program organisasi lama (2%). Hal ini dapat dijelaskan dalam diagram V.3 berikut ini :

74

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP

21% 5% 10% 7% 2% 34% 21%

Belum ada tindak lanjut Kapasitas SDM kurang Masih bergantung pada Faskel Berpotensi Korupsi Terkesan program organisasi lama Belum bersif at bottom-up Tidak teridentif ikasi

Diagram V.3

Faktor Penghambat Kegiatan Sosial

Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009