• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Stakeholders Di Masing-Masing Lokasi 1. Kota Pasuruan

BAB 5 HASIL PELAKSANAAN KAJIAN

E. Peran Stakeholders Di Masing-Masing Lokasi 1. Kota Pasuruan

Melihat pelaksanaan PNPM secara umum, dapat diidentifikasi beberapa unsur yang dapat saling berinteraksi dan mempengaruhi keberhasilan program. Unsur unsur tersebut dapat dibedakan menjadi tiga hal. Unsur pertama adalah perangkat dari PNPM sebagai program, unsur kedua adalah pemerintah dan masyarakat dengan berbagai institusinya merupakan unsur ketiga.. Pada tingkat mikro/lokal terutama yang berkaitan dengan program sosial perangkat program PNPM direpresentasikan dalam keberadaan BKM, UPS, KSM dan fasilitator. Sementara pemerintah kelurahan merupakan representasi unsur pemerintah pada level lokal ini, dan keberadaan PJOK merepresentasikan keterlibatan pemerintah tingkat kecamatan. Di lain pihak, masyarakat di wilayah kelurahan yang bersangkutan dengan berbagai institusi dan potensinya merepresentasikan unsur ketiga.

Dilihat dari setting masyarakatnya, Kelurahan Panggungrejo memiliki warga masyarakat miskin yang jumlahnya cukup besar. Kondisi kemiskinan di Kelurahan Panggungrejo juga tercermin dari lingkungan pemukiman yang kumuh, kondisi kesehatan lingkungan rendah dan tingkat pendidikan rata rata penduduknya rendah.. Kurangnya warga masyarakat yang memiliki wawasan luas mempengaruhi pengisian kepengurusan BKM, UPS, KSM maupun relawan. Kondisi ini pada gilirannya juga tercermin dari kurangnya kreativitas dalam mengembangkan jenis program kegiatan sosial. Sementara itu, Kelurahan Kepel walaupun memiliki warga miskin tetapi tidak sebanyak Kelurahan Panggungrejo. Di samping itu, kondisi kehidupan sosial ekonomi warga yang tidak miskin di Kelurahan Kepel relatif lebih baik. Di Kelurahan Kepel, antara warga yang kondisinya miskin dan tidak miskin jarak sosial di antara kedua lapisan tersebut tidak terlalu lebar, sementara lokasi permukiman kedua lapisan tersebut juga tidak bersifat eksklusif. Jarak sosial yang tidak terlalu lebar, dan didukung oleh keberadaan institusi sosial yang dapat mewadahai dan memfasilitasi kegiatan bersama terutama PKK dan Posyandu, menyebabkan partisipasi lapisan tidak miskin dalam program kegiatan sosial BKM cukup menonjol. Pada umumnya mereka terlibat baik sebagai relawan maupun sebagai pengurus KSM.

Hal itulah yang menyebabkan terdapat perbedaan dilihat dari kuantitas dan kualitas jenis kegiatan sosial di kedua kelurahan tadi. Walaupun demikian, baik di Kelurahan Kepel maupun Panggungrejo terdapat berbagai potensi yang tersedia dalam realitas kehidupan masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung program BKM

178

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP khususnya program kegiatan sosial. Seperti yang sudah dilaporkan pada bagian terdahulu, yang sudah dimanfaatkan dan bersifat mendukung kegiatan sosial adalah keberadaan berbagai institusi yang sudah ada sebelumnya terutama PKK dan posyandu. Barangkali yang patut menjadi catatan adalah bahwa kedua lembaga tersebut aktivisnya banyak didominasi kaum perempuan. Kenyataan ini agaknya juga mempengaruhi warga masyarakat yang terlibat baik sebagai relawan, pengurus KSM maupun UPS untuk program sosial yang juga didominasi oleh perempuan. Padahal sebetulnya kegiatan sosial tidak harus bias gender. Di samping itu, potensi lokal yang dapat dimanfaatkan adalah keberadaan modal sosial. Walaupun masih belum optimal, dalam pemanfaatan modal sosial ini dibandingkan Kelurahan Panggungrejo Kelurahan Kepel sudah mulai tampak secara embrional, dalam pelaksanaan program kursus menjahit dan donatur tetap dari warga masyarakat. Dengan pengembangan kapasitas kelembagaan dapat memungkinkan lebih banyak potensi yang dapat digali dan dimanfaatkan.

Oleh sebab itu idealnya program sosial BKM ini juga perlu memperluas jaringan pelibatannya kepada institusi dan potensi yang lain yang ada dalam masyarakat. LPMK(Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kota) yang dulu bernama Lembaga Ketahanan Masyarakat merupakan lembaga yang jauh lebih lama eksis dalam masyarakat dibandingkan BKM. Walaupun tidak untuk keseluruhan, kedua lembaga ini mempunyai beberapa kesamaan fungsi. Dalam posisi seperti itu, maka kemungkinan yang dapat terjadi dalam hubungan di antara keduanya adalah (1) persaingan atau bahkan konflik, (2) koeksistensi dan (3) integrasi. Di kedua kelurahan, Kepel dan Panggungrejo yang terjadi adalah koeksistensi. Masing masing pihak berprogram dan menjalankan aktivitasnya sendiri. Dengan demikian sinergi di antara kedua lembaga tersebut dalam melaksanakan kegiatan sosial tidak terjadi. Agaknya baik pada tingkat masyarakat lokal di kedua kelurahan tersebut, maupun sebagai kebijakan di tingkat yang lebih tinggi belum dipikirkan kejelasan tentang bentuk hubungan yang ideal dari kedua lembaga tersebut.

Dalam hubungannya dengan pemerintah kelurahan, terutama dilihat dari proses terbentuknya, BKM memang berbeda dengan LPMK. Sebagai realisasi untuk menempatkan BKM sebagai lembaga masyarakat, dalam proses pembentukannya memang tidak melibatkan pemerintah desa. Di kedua kelurahan, kenyataan tersebut tidak menyebabkan pemerintah kelurahan menjadi tidak mendukung kegiatannya. Paling tidak hal ini diindikasikan dari kenyataan bahwa kantor BKM baik di Kelurahan Kepel maupun Panggungrejo menempati salah satu ruang milik pemerintah kelurahan. Hanya saja memang terkesan bahwa pemerintah kelurahan tidak begitu aktif berinisiatif untuk

179

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP memfasilitasi terbentuknya jaringan antara BKM dengan berbagai stakeholder yang ada.

Sementara itu, dari hasil penelitian lapangan terkesan ketidak jelasan peran PJOK sebagai representasi pemerintah tingkat kecamatan. Secara kebetulan dua kelurahan sasaran penelitian Kepel dan Panggungrejo berada di wilayah kecamatan yang sama yaitu Bugul Kidul. Pada saat wawancara, staf kecamatan yang berfungsi sebagai PJOK baru saja menjabat posisi itu. Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap peneliti juga mewawancarai PJOK yang menjabat sebelumnya. Dari wawancara dengan kedua informan tersebut diperoleh kesan yang sama. Keduanya merasakan kedudukannya sebagai PJOK hanya diperlukan sebagai syarat administratif untuk mencairkan dana BLM. Mereka merasa tidak pernah dimintai konsultasi ataupun diberi laporan tentang pelaksanaan kegiatannya. Dengan demikian tidak banyak informasi yang dapat digali dari mereka tentang perkembangan BKM dan pelaksanaan program-programnya.

Walaupun demikian, kenyataan posisi PJOK yang tidak jelas, setidak tidaknya menurut orang yang sedang atau pernah menjabatnya, sebetulnya merupakan informasi tersendiri. Di satu sisi hal itu dapat dipahami dari kedudukan BKM yang didesain sebagai lembaga masyarakat sesuai dengan namanya badan keswadayaan masyarakat, sehingga diharapkan sejak proses pembentukannya lebih bersifat mandiri tidak banyak mendapatkan intervensi dari pemerintah. Di sisi lain, prosedur administrasi yang digunakan termasuk administrasi keuangannya masih menggunakan ketentuan sebagaimana proyek proyek reguler. Kelihatannya posisi BKM ini belum banyak dipahami oleh perangkat birokrasi yang ada. Hal itu yang menyebabkan PJOK merasa diperlakukan tidak adil; diminta jasanya pada saat pencairan dana akan tetapi tidak banyak dimintai pertimbangan dan diberi laporan dalam pemanfaatannya.

Pada tingkat daerah, perangkat program PNPM direpresentasikan oleh Korkot dan KMW, sementara unsur pemerintah oleh pemerintah kota, dan unsur masyarakat oleh masyarakat kota Pasuruan dengan berbagai peluang dan tantangan yang ada. Dari informasi yang diperoleh selama pengumpulan data, kontribusi pemerintah kota Pesuruan terhadap program PNPM adalah pemberian dana pendamping masing masing kelurahan sebesar Rp 50.000.000,-. Dilihat dari dukungan terhadap PNPM, hal ini cukup positif mengingat dari informasi yang diperoleh peneliti, banyak pemerintah daerah di Jawa Timur yang bersikap kurang positif terhadap program ini. Sebetulnya peran pemerintah kota dapat lebih dari itu, mengingat pemerintah kota mempunyai berbagai dinas yang program-programnya banyak berkaitan dengan program kegiatan sosial BKM. Oleh sebab itu sangat terbuka peluang untuk terciptanya sinergi antara program dinas terkait dengan

180

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP program sosial BKM, minimal ada koordinasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan belum banyak dinas dinas pemerintah yang dalam melaksanakan programnya bekerja sama atau berkoordinasi dengan program BKM, kecuali program kelurahan siaga yang merupakan program dinas kesehatan. Itupun lebih disebabkan karena di lapangan program sosial BKM banyak diintegrasikan dengan program posyandu yang merupakan binaan dari dinas kesehatan.

Dengan diterapkannya kebijakan perencanaan partisipatif yang bersifat bottom up dalam bentuk musyawarah perencanaan pembangunan(musrenbang), sebetulnya terbuka peluang program-program yang telah dibuat oleh BKM sebagai hasil pemetaan masalah dan pemetaan swadaya yang belum masuk prioritas pendanaan melalui BLM dan swadaya, diusulkan melalui mekanisme ini. Di kedua kelurahan, karena hubungan dengan LPMK belum dikondisikan untuk bersifat sinergis dan integratif, maka peluang itu belum dapat dimanfaatkan. Hal itu disebabkan karena di kedua kelurahan tersebut LPMK yang lebih banyak diberi peranan dalam pelaksanaan musrenbang tingkat kelurahan. Sebetulnya apabila BKM ikut terlibat dalam mekanisme perencanaan ini, juga dapat membuka peluang bagi usaha membangun jaringan dan mengusahakan hubungan yang sinergis dengan program sejenis dari dinas dinas tingkat pemerintah kota. Sudah tentu hal itu dapat terwujud apabila perencanaan partisipasif melalui musrenbag tersebut sudah berjalan dengan baik, sehingga proses bottom upnya tidak hanya prosedural akan tetapi substansial. Beberapa informasi menunjukkan bahwa di beberapa tempat banyak usulan dari bawah yang akhirnya tidak terakomodasi dan menetas menjadi program pembangunan tingkat daerah.

Di bandingkan dengan tingkat lokal, sudah tentu potensi dan kemungkinan membangun jaringan pada tingkat daerah ini lebih terbuka dan bervariasi, baik dengan instansi pemerintah, lembaga swasta khususnya melalui coorporate social responsibility, maupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Walaupun demikian berdasarkan informasi yang diperoleh, baru dengan perusahaan Nestle, hubungan tersebut pernah terjalin di Kelurahan Kepel. Itupun tidak berkelanjutan. Di Kelurahan Panggungrejo bahkan sama sekali belum ada.

Selain untuk memperluas jaringan, kemampuan BKM untuk memperhitungkan satuan wilayah yang lebih makro setingkat daerah perkotaan, juga akan memungkinkan dikembangkannya program-program yang berorientasi lebih makro yang memperhitungkan peluang pasar yang tidak hanya bersifat lokal. Pertimbangan ini dapat digunakan dalam merumuskan program pelatihan ketrampilan. Sepanjang informasi yang diperoleh di

181

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP lapangan, BKM di kedua kelurahan tersebut belum berfikir ke arah itu.

Dilihat dari representasi program PNPM pada level daerah ini, sebetulnya korkot dan KMW dapat memainkan perannya. Mereka dapat memfasilitasi kemungkinan terbangunnya jaringan antara BKM dengan dinas dinas pemerintah daerah atau dengan pihak swasta yang mempunyai program CSR. Di samping itu mereka sebetulnya juga dapat memfasilitasi kerja sama antar sesama BKM baik untuk saling belajar dalam mengembangkan institusi maupun kerjasama dalam menagkap peluang yang lebih bersifat makro, paling tidak yang terbuka pada level daerah. Dari wawancara dengan korkot, memang diakui bahwa usha untuk memperluas jaringan dengan berbagai stakeholder ini belum banyak dilakukan. Dikatakannya, yang sudah dilakukan baru terbatas pada tahap inisiasi dirintis kerjasama dengan pihak LPM Universitas Brawijaya Malang dan Danareksa. Itupun bukan untuk kedua kelurahan sasaran penelitian dan bukan untuk program sosial melainkan program penguatan ekonomi.

PNPM mandiri adalah suatu program nasional yang merupakan bagian dari kebijakan pengentasan kemiskinan. Masuknya PNPM dalam pengelolaan kementerian Kesra, sebetulnya memberikan indikasi bahwa program ini bukan bersifat sektoral yang dikelola oleh departemen teknis tetentu. Tidak dapat diingkari, bahwa dalam pelaksanaan program-program departemental sampai ke tingkat masyarakat, orientasi sektoral ini seringkali cukup menonjol. Salah satu indikasinya adalah bahwa BKM sebagai lembaga masyarakat yang menjadi wadah masyarakat lokal dalam upaya pengentasan kemiskinan, belum dijadikan sebagai media bagi pelaksanaan program berbagai departemen yang masuk ke tingkat kelurahan. Setidak tidaknya hal tersebut belum tampak baik di Kelurahan Kepel maupun Panggungrejo. Kenyataan bahwa program PNPM oleh beberapa instansi pemerintah masih dikesankan sebagai program Departemen Pekerjaan Umum mengindikasikan bahwa masuknya PNPM ke dalam pengelolaan Kementerian Kesra di tingkat pusat, implementasinya belum begitu kelihatan di ingkat bawah.

2. Kota Surabaya

Di Kota Surabaya sebenarnya terjadi perbedaan dalam pelaksanaan kegiatan sosial di antara dua kelurahan tersebut. Kelurahan Gundih merupakan representasi dari kelurahan yang dapat dikatakan memilki kegiatan-kegiatan sosial yang lebih memiliki orientasi keberlanjutan dibandingkan Kelurahan Sawunggaling. Ini tidak lepas dari peran BKM maupun struktur masyarakat yang ada di Kelurahan tersebut.

182

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP Jika melihat inisiasi program kegiatan sosial di kedua kelurahan tersebut, ide dan

inisiasi didominasi oleh pengurus BKM meskipun seperti di kelurahan lainnya secara prosedural proses kegiatan sosial di kelurahan tersebut muncul sebagai hasil dari pemetaan relawan dan rembug warga. KSM-KSM ditunjuk oleh BKM. Namun demikian struktur masyarakat yang berbeda diantara dua kelurahan tersebut yang menyebabkan kemudian kegiatan sosial yang ada di Kelurahan Gundih lebih memimiliki orientasi keberlanjutan dan pemberdayaan dibandingkan dengan kegiatan sosial di Kelurahan Sawunggaling. Di Kelurahan Sawunggaling yang merupakan kompleks perumahan TNI-AD Kodam IV Brawijaya, mayoritas warganya adalah anggota TNI sementara yang lain adalah pedagang keliling, buruh, PNS dan sebagainya. Struktur masyarakat demikian telah menyebabkan terjadinya segregasi dan polarisasi sosial dalam masyarakat. Terjadinya segregasi masyarakat tersebut menyebabkan partipasi masyarakat dalam kegiatan sosial pun menjadi kurang. Kegiatan-kegiatan sosial yang dibuat lebih berorientasi pada karitatif seperti pemberian beasiswa kepada anak-anak sekolah dari keluarga miskin, penyuluhan ibu hamil dan pemberian asupan makanan bergizi bagi anak Balita. Ini berbeda dengan di Gundih yang pola kegiatan sosialnya sudah mengarah ke keberlanjutan seperti pendidikan anak usia dini maupun pelatihan kewirausahaan. Dua pelatihan ini terintegrasi dengan kegiatan Pendidikan Anak Usia Dini yang sudah berkembang dan program kelurahan yaitu Gundih Green and clean. Kemudian di tingkat fasilitator, dirasakan oleh BKM cukup membantu dalam memandu kegiatan-kegiatan sosial. Di antara Faskel dengan Lurah juga terjalin hubungan yang cukup baik. Namun demikian rotasi Faskel yang seringkali kurang memperhatikan orientasi keberlanjutan juga menjadi kendala sendiri. Pada saat penelitian dilakukan, faskel yang ada adalah Faskel baru sehingga mereka belum mampu memahami persoalan di lapangan. Ironisnya proses transfer pengetahuan mengenai kondisi desa dan potensinya dari Faskel lama ke Faskel baru belum berlangsung secara baik. Di Surabaya ini, Korkot juga berperan dalam upaya mendorong orientasi program yang berkelanjutan. Berbagai upaya channeling program kegiatan sosial sudah mulai diinisiasi oleh Korkot dengan melakukan kontak dengan beberapa dinas dengan harapan tahun 2010 sudah ada program channeling yang terbentuk antara program BKM dengan program departemen.

Sedangkan terkait dengan peran pemerintah, untuk pemerintah kelurahan sebatas

pada fungsi koordinasi. Laporan yang dibuat BKM setiap bulannya di minggu ketiga dilaporkan di forum pertemuan. Hubungan BKM dengan lembaga sosial lainya yaitu Lembaga Pemberdayaan Masyarakat juga sebatas pada penyampaian informasi kegiatan saja ke LPMK. Di Gundih, BKM cenderung sudah mandiri dan mereka memiiki kantor

183

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP sendiri. Di tingkat kecamatan, fungsi PJOK juga cenderung pasif. PJOK merasa tidak perlu intervensi terlalu dalam dan seharusnya dari BKM yang melaporkan sendiri kegiatannya. Rata-rata BKM di Surabaya tidak memberikan laporan kepada PJOK. PJOK tidak turun ke lapangan karena kegiatan-kegiata sosial umumya dilakukan pada sore hari dan merasa cukup dari faskel saja yang melakukan pendampingan. Dengan demikian, PJOK merasa cukuip untuk monitoring saja dan BKM harus memberikan laporan setiap bulan secara rutin. Mengapa sampai BKM tidak memberikan laporannya PJOK tidak terlalu paham alasannya.

3.Kota Gorontalo

Seperti halnya dengan pelaksanana kegiatan PNPM di daerah lain, masyarakat cenderung menjadi penerima pasif dalam pelaksanaan program PNPM. Dengan demikian inisiasi-inisiasi program bersifat top down. Hal ini tidak lepas dikarenakan masyarakat masih trauma dengan program Kredit Usaha Tani di mana banyak program yang mengalami banyak salah sasaran. Dengan demikian, masyarakat seringkali sulit diajak untuk berpartisipasi.Biasanya kalau tidak ada uang masyarakat sulit untuk berpatisipasi.

Dengan kondisi itu, banyak program-program kegiatan sosial diinisiasi oleh para pengurus BKM dan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Secara procedural, proses inisiasi kegiatan sosial memang melewati pemetaan tim swadaya yang dilakukan oleh relawan. Banyak pengurus BKM yang juga menjadi pengurus Rukun Warga di Lingkungannya. Hal ini memberikan dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positifnya, untuk menggerakkan warga untuk berpartisipasi dapat lebih mudah akan tetapi dampak negatifnya, kebijakan-kebijakan yang ada seringkali bias elite. Sebagai contoh dapat dilihat di Kelurahan Lekobalo dan Limba B, ketika masyarakat khususnya masyarakat penerima manfaat tidak tahu menahu tentang inisiasi kegiatan soial tersebut. Tahunya ketika mereka diundang untuk menerima bantuan dari kegiatan sosial tersebut.

Dengan kultur masyarakat yang keras seperti itulah, maka diperlukan orang yang memiliki karakter yang kuat untuk memimpin BKM. Ini yang terjadi di Kelurahan Limba B. Sosok yang memimpin BKM Limba B ini merupakan sosok yang tegas. Namun demikian, tidak semua pengurus BKM aktif dalam mengelola kegiatan-kegiatan PNPM ini. Hanya ada dua orang dari pengurus BKM yang berperan aktif dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan BKM. Anggota yang aktif adalah ketua BKM dan anggota BKM yang bernama Bu Ulfa. Di BKM ini sempat muncul persoalan ketika ada penyelewengan dana bergulir yang dilakukan oleh sekretariat dimana dana sekretariat tidak disetor ke Bank.BKM sempat dirugikan sekitar 13

184

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP juta, baru ketahuan setelah 6 bulan berjalan. Solusi yang diambil pada waktu itu adalah dengan mengumpulkan anggota BKM, kemudian memecat seketariat tersebut. Banyak pengurus BKM yang sudah jenuh apalagi dulu pernah ada istilah P2 capek karena terlalu banyak prosedur yang harus dilewati sementara data tdak segera cair.

Peran faskel juga besar dalam pengembangan program-program kegiatan sosial yang ada di dua kelurahan di Gorontalo. Mereka juga cukup mampu melakukan pendekatan kepada masyarakat. Sebagian besar masyarakat Kota Gorontalo ini memiliki karakteristik yang keras. Untuk mendekati mereka tim Faskel melakukan berbagai strategi pendekatan yaitu dengan pembawaan dari Faskel sehingga bisa meraih simpati, keputusan melalui musyawarah, strategi silaturahmi, membicarakan hal-hal di luar P2KP/PNPM, mengajak masyarakat berfikir, dan kadangkala harus juga pakai shock terapy : Masyarakat besar suara rakyat pun harus besar suara. “ Pukul Rangkul. Selain itu juga dilakukan dengan pendekatan keagamaan melalui forum pengajian khususya ibu-ibu. Misalnya dengan memetik ayat suci Al Quran : Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut merubah sendiri. Namun sayangya, ada rumah Faskel Limba B yang rumahnya cukup juah dari kantor BKM Limba B yaitu sekitar 15 kilometer.

Kemudian terkait dengan peran Korkot cukup mendorong dalam membuat program kegiatan sosial yang berorientasi berkelanjutan. Namun realitasnya memang sulit. Persoalan sulitnya masyarakat untuk diajak berpartisipasi memang menjadi satu kendala dalam pelaksanaan program PNPM di daerah ini. Setiap bulan diselenggarakan pertemuan antara tim faskel dengan korkot, Senior Faskel dengan Korkot untuk melakukan koordinasi kegiatan. Lokasi KMW yang masih di Manado juga menjadi kendala dalam proses pengembangan program PNPM di kelurahan ini.

Kemudian dilihat dari sisi peran pemerintah. Di tingkat kelurahan, Lurah di kedua wilayah tersebut ternyata juga tidak begitu menguasai tentang Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Demikian juga dengan PJOK kecamatan. Dari hasil penelitian di lapangan mereka terkesan hanya sekedar menjalankan fungsi administratif untuk menandatangani laporan-laporan maupun penurunan dana dari pemerintah pusat. Hal ini menyebabkan dukungan mereka terhadap keberlangsungan program PNPM ini menjadi tidak optimal. Di level pemerintah Kota, sebenarnya dukungan untuk pengembangan program PNPM cukup baik terbukti dengan adanya cost sharing dari pemerintah untuk mendukung kegiatan ini. Memang sudah ada upaya dari pemerintah daerah untuk mendorong program-program chanelling kegiatan sosial dengan program-program pemerintah daerah seperti di Dinas Pendidikan. Namun hal tersebut belum terealisir.

185

KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP

4. Kota Makassar

Sosialisasi program P2KP di kelurahan di Kelurahan Rappokaling dimulai pada tahun 2004. Prosesnya dimulai dengan rekrutmen relawan, pemetaan swadaya masyarakat dan kemudian pemilihan pengurus BKM. Setelah melalui berbagai prosedur standar, program kegiatan sosial baru efektif dilaksanakan mulai tahun 2006. Sampai saat ini koordinator BKM telah berganti dua kali, berarti koordinator yang sekarang menjabat adalah yang ketiga. Pergantian pertama disebabkan oleh alasan transparansi, sedang pergantian kedua karena alasan kesibukan koordinator pada pekerjaan dan tugas pokoknya.

Wilayah Rappokalling terbagi dalam dua kawasan yang dibatasi oleh jalan raya dengan karakteristik yang agak berbeda. Salah satu kawasan dapat dikategorisasikan sebagai kawasan kumuh dengan penduduk mayoritas berada dalam kondisi miskin, perumahan yang tidak layak huni dan ada di atas lahan yang sebelumnya adalah rawa yang ditimbun. Kawasan kumuh terdiri dari 3 RW, sedang kawasan lainnya 2 RW. Penduduk kelurahan ini seluruhnya berjumlah 12 124 orang yang terdiri dari 6048 laki laki dan 6076 perempuan. Penduduk sebesar itu berasal dari 3006 kk terdiri dari 2792 laki laki dan 214