BAB 5 HASIL PELAKSANAAN KAJIAN
C. Hasil Analisis Kontekstual 1. Analisis Kontekstual Umum
Variasi kegiatan sosial di masing-masing lokasi akan ditentukan oleh peran dari aktor-aktor yang terlibat dalam kegiatan PNPM ini. Aktor ini dapat dibedakan dari sisi masyarakat (KSM), UPS/relawan dan BKM yang mendampingi masyarakat. Dari hasil temuan di lapangan menunjukkan demikian. Kapasitas kelembagaan BKM, Kapasitas KSM, pengalaman dan kapasitas relawan, proporsi lapisan tidak miskin dan keberadaan institusi sosial ternyata memiliki peran dalam pembentukan pola kegiatan sosial.
Secara lebih jelas mengenai bagaimana peran dari aktor-aktor tersebut dalam mengembangkan pola kegiatan sosial dapat dilihat pada tabel V.6 di bawah ini :
Tabel V.6
Kapasitas Aktor Dan Pola Kegiatan Sosial
No Kapasitas Aktor Fakta Yang Terjadi
1 Kapasitas Kelembagaan BKM BKM yang anggotanya memiliki tingkat pendidikan lebih baik, aktif, administrasi dan dokumentasi lebih tertata dan ada transparansi ternyata memiliki jenis program yang lebih bervariasi dan lebih memiliki orientasi keberlanjutan.
2 Kapasitas KSM KSM yang memiliki tingkat pendidikan lebih
baik dan pengalaman sebagai aktivitis sosial cukup ternyata mampu membangun jaringan dalam pengembangan kegiatan sosial yang lebih baik.
3 Kapasitas Relawan Relawan yang lebih terasah melaui
partisipasi dalam institusi yang ada ternyata mampu memberikan usulan program yang lebih bervariasi dan berkelanjutan
4 Stratifikasi sosial Dalam masyarakat yang memiliki lapisan tidak miskin lebih besar ternyata sudah ada indikasi partisipasi lapisan tidak miskin dalam mendukung program.
76
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP 5 Keberadaan institusi sosial Pada kelurahan yang memiliki cukup
banyak institusi sosial yang kegiatannya relevan dengan program sosial ternyata mendorong pola kegiatan sosial menjadi lebih bervariasi dan ada sinergi antara kegiatan sosial dengan institusi yang sudah ada.
6 Lingkungan Sosial Dalam lingkungan sosial masyarakat yang ada pembauran diantara warganya ternyata ada indikasi kebersamaan dalam partisipasi seluruh warga dalam program yang dipilih.
Dari tabel V.6 tersebut menunjukkan bahwa terbentuknya kegiatan sosial yang berkelanjutan di masing-masing daerah tidak hanya ditentukan oleh peran satu aktor saja akan tetapi juga oleh berbagai aktor baik oleh BKM, KSM maupun relawan. Demikian juga struktur yang ada dalam masyarakat maupun potensi institusi sosial di dalamnya akan menentukan juga dalam pembentukan pola kegiatan sosial.
2. Analisis Kontekstual Antar Kelurahan a. Kota Pasuruan
Dilihat dari jenis program kegiatan sosial yang direncanakan dan dilaksanakan dalam tahun 2007 dan 2008, di antara Kelurahan Kepel dan Kelurahan Panggungrejo terdapat perbedaan baik jika dilihat dari variasi jenis programnya maupun dari keberadaan program yang berorientasi keberlanjutan. Bahwa dari hasil perbandingan tersebut jenis program di Kelurahan Kepel lebih variatif dan sudah lebih banyak memunculkan program yang berorientasi keberlanjutan, perlu dianalis faktor-faktor yang diperhitungkan mempengaruhi perbedaan tersebut. Secara teoretik, faktor-faktor tersebut dapat berasal dari pengaruh eksternal maupun internal. Berdasarkan penelitian lapangan, faktor eksternal yang banyak terkait dalam pelaksanaan program adalah fasilitator, pemerintah kelurahan, PJOK, dan Pemda kota Pasuruan. Walaupun difasilitasi oleh orang yang berbeda, akan tetapi dari hasil penelitian ditemukan realita bahwa kontribusi fasilitator di kedua kelurahan tersebut dapat dikatakan seimbang. Hal itu dapat dilihat dari intensitas interaksi dengan masyarakat, dorongan untuk mengembangkan program yang dampaknya berkelanjutan, keberadaan baik fasilitator parasarana, ekonomi maupun sosial (community development) di masing
77
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP masing kelurahan. Demikian juga dengan kontribusi pemerintah kelurahan, di kedua kelurahan pemerintah setempat menyediakan sebagian ruang kantor kelurahan untuk sekretariat BKM. Selebihnya pemerintah kelurahan tidak banyak memberikan peranan yang berarti bagi perkembangan BKM. Faktor peranan PJOK juga dapat dianggap sebagai bukan penyebab perbedaan kinerja BKM di kedua kelurahan tersebut, karena keduanya terletak dalam wilayah kecamatan yang sama, sehingga PJOK-nya juga sama. Sementara itu peran pemerintah daerah juga sama karena masing masing kelurahan peserta program PNPM diberi dana dampingan yang jumlahnya sama yaitu sebesar Rp 50.000.000,-
Hal itu bukan berarti faktor eksternal tersebut tidak mempengaruhi perkembangan BKM. Dalam analisis perbandingan antar dua kelurahan tersebut, karena faktor-faktor eksternal tersebut setara, maka menjadi faktor konstan sehingga tidak dapat dianalisis sebagai faktor yang menyebabkan perbedaan variasi dan kualitas program di kedua kelurahan. Oleh sebab itu, dalam uraian berikut ini analisis akan lebih memperhitungkan pengaruh faktor internal. Faktor-faktor tersebut adalah kapasitas kelembagaan BKM, kapasitas KSM, kapasitas relawan, stratifikasi sosial, lingkungan sosial dan keberadaan institusi sosial dalam masyarakat. Agar dapat mudah diikuti, analisis tentang faktor-faktor yang berpengaruh btersebut diwujudkan dalam bentuk tabel V.7 berikut.
78
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP
Tabel V.7
Perbandingan Pengaruh Kapasitas BKM Di Kota Pasuruan
Kelurahan Kapasitas Kelembagaan BKM Jenis dan
kesinambungan program
Kepel - Pendidikan pengurusnya
mayoritas setingkat SMA - Sebagian besar pengurus aktif - Administrasi dan dokumentasi
lebih tertata
- Ada transparansi dan komunikasi, tersedia papan komunikasi
- Jenis program cukup bervariasi - Sudah ada program
yang berorientasi keberlanjutan, terutama pada tahun kedua Panggungrejo - Pendidikan pengurus mayoritas
setingkat SLTP
- Hanya beberapa anggota pengurus yang aktif
- Administrasi dan dokumentasi kurang lengkap
- Tidak tersedia papan untuk media komunikasi - Jenis program kurang bervariasi - Belum ada program yang berorientasi keberlanjutan
Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009
Perbedaan variasi jenis program dan perbedaan keberadaan program yang berorientasi keberlanjutan ditemukan pada tahun kedua. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa di Kelurahan Kepel lebih ditemukan adanya proses pembelajaran. Faskel di kedua kelurahan tersebut sama sama memberi dorongan kepada BKM untuk merumuskan program yang lebih bervariasi dan lebih keberlanjutan. Walaupun demikian karena kondisi yang menjadi basis kapasitas kelembagaan berbeda, menyebabkan responnya terhadap stimuli dari faskel juga berbeda. Di samping itu perbedaan kapasitas kelembagaan BKM juga menyebabkan perbedaan kemampuan dalam mengolah dan memanfaatkan pengalaman masa lalu sebagai umpan balik untuk melakukan perbaikan. Kenyataan bahwa pada tahun pertama program-program di kedua kelurahan masih bersifat karitatif dan ditahun kedua Kelurahan Kepel lebih banyak memunculkan program yang berorientasi keberlanjutan, memberikan indikasi bahwa BKM Kelurahan Kepel lebih mampu belajar dari pengalaman. Hal itu juga mengisyaratkan perlunya digunakan pendekatan yang berbeda dalam memberikan pendampingan dan fasilitasi kepada BKM yang mempunyai kapasitas kelembagaan yang berbeda. Sepanjang wawancara dengan faskel, korkot dan KMW, terkesan bahwa perlunya memberikan pendekatan yang berbeda yang disesuaikan dengan kapasitas
79
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP kelembagaan masing masing BKM belum menjadi pemikiran, apalagi dilaksanakan dalam praktik.
Berpengaruhnya kapasitas kelembagaan terhadap pelaksanaan program PNPM tidak hanya ditemukan pada level BKM, melainkan juga pada institusi kelengkapan BKM terutama KSM yang menjadi ujung tombak terdepan dalam pelaksanaan program. Hal itu dapat diamati dalam tabel V.8 berikut ini.
Tabel V.8
Perbandingan Pengaruh Kapasitas KSM Di Kota Pasuruan
Kelurahan Kapasitas KSM Kemampuan membangun
jaringan
Kepel - Tingkat pendidikan mayoritas
SLTA atau sederajat
- Pengalaman sebagai aktivis kegiatan sosial cukup
- Walaupun masih
terbatas sudah pernah membangun jaringan dengan Nestle
Panggungrejo - Tingkat pendidikan mayoritas SLTP atau sederajat
- Pengalaman sebagai aktivis kegiatan sosial kurang
- Sama sekali belum
pernah membangun
jaringan Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009
Sebetulnya dari penelitian lapangan diperoleh informasi, bahwa usaha membangun jaringan baik yang dilakukan oleh BKM Kelurahan Kepel maupun Panggungrejo masih sangat terbatas. Salah satu penyebabnya adalah karena perangkat program PNPM mulai dari faskel, korkot dan KMW tekesan lebih berkonsentrasi pada bagaimana pemanfaatan dana BLM bagi berbagai program yang dibuat termasuk program kegiatan sosial. Fasilitasi kepada BKM dan KSM untuk mencoba menjalin kerjasama dan membangun jaringan dengan stakeholder terkait tidak banyak mendapat porsi perhatian, bahkan boleh dikatakan belum ada sama sekali. Demikian juga halnya dengan unsur pemerintah dari tingkat kelurahan, kecamatan sampai pemerintah daerah. Usaha untuk memfasilitasi bagi terwujudnya chanelling juga belum dilakukan.
Dengan demikian walaupun masih sangat terbatas, apabila ada usaha membangun jaringan, hal itu merupakan inisiatif masyarakat sendiri, dalam hal ini BKM atau KSM. Untuk maksud tersebut BKM/KSM Kelurahan Kepel pernah bekerja sama dengan perusahaan Nestle bagi penyediaan makanan tambahan khususnya susu dalam mendukung program penyuluhan pola hidup bersih dan sehat. Sayangnya kerja sama
80
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP itu hanya berjalan dalam satu tahun program dan tidak dilanjutkan pada tahun berikutnya. Sementara itu di Kelurahan Panggungrejo hal semacam itu belum pernah dilakukan. Inisiatif dari pengurus KSM untuk menjalin kerja sama lebih disebabkan karena wawasan yang diperoleh dari pengalaman sebagai aktivis sosial. Sebagaimana sudah dilaporkan sebelumnya, pada umumnya pengurus KSM di kedua kelurahan tersebut berasal dari aktivis sosial institusi yang sudah ada sebelumnya terutama PKK dan posyandu. .Walaupun sama sama berbasis institusi PKK dan posyandu, karena intensitas kegiatan di kedua kelurahan berbeda, menyebabkan kapasitas aktivis yang kemudian menjadi pengurus KSM juga berbeda, termasuk dalam berinisiatif menjalin kerjasama dengan pihak luar.
Di samping kapasitas BKM dan KSM, faktor internal yang juga diperhitungkan mempengaruhi pebedaan dalam pelaksanaan program kegiatan sosial di kedua kelurahan tersebut adalah kapasitas relawan. Sebagaimana sudah disampaikan pada bagian lain laporan ini, di kedua kelurahan keberadaan relawan dalam program PNPM ini memegang peraan yang cukup strategis. Di saat kondisi lapisan miskin masih sebagai silent mass yang belum terbiasa menggunakan peluang untuk menyatakan aspirasinya, relawan berposisi sebagai mediator yang menjembatani aspirasi dan kebutuhan lapisan miskin dengan program-program yang dibuat.
Berdasarkan pemikiran tersebut, sudah tentu perbedaan kapasitas relawan akan mempengaruhi terakomodasikannya kebutuhan dan aspirasi lapisan miskin ke dalam program yang dirumuskan BKM. Gambaran tentang hal tersebut dapat diamati pada tabel V.9 berikut ini.
81
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP
Tabel V.9
Perbandingan Pengaruh Kapasitas Relawan Di Kota Pasuruan
Kelurahan Kapasitas Relawan Jenis dan
keberlanjutan program
Kepel - Lebih terasah melalui
partisipasinya dalam institusi yang ada sebelumnya
- Mampu memberikan
usulan program yang lebih bervariasi dan berkelanjutan
Panggungrejo - Karena institusi sebelumnya
aktivitasnya kurang,
pengalaman kurang terasah
- Kurang berperanan dalam memberikan usulan program
Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009
Walaupun secara prosedural permasalahan dan kebutuhan lapisan miskin digali dari bawah dan perumusan program diputuskan melalui rembug warga, akan tetapi dalam kenyataannya inisiator dan pengusul program masih lebih banyak datang dari tokoh tokoh masyarakat khususnya pengurus BKM, UPS, KSM dan relawan. Di antara pihak yang menjadi inisiator dan pengusul program tersebut, yang dapat dianggap paling dekat dengan lapisan miskin adalah relawan. Mereka banyak berinteraksi langsung dan memiliki kesempatan berempati dengan kehidupan lapisan miskin. Oleh sebab itu apabila mereka lebih banyak berperanan dalam mengusulkan program, diharapkan aspirasi lapisan miskin dapat terjembatani. Karena intensitas aktivitas institusi PKK dan Posyandu yang menjadi basis asal mereka sebelum aktif di PNPM berbeda, maka pengalaman mereka juga berbeda. Dalam hal ini Kelurahan Kepel lebih diuntungkan, sehingga kapasitas relawan juga lebih baik karena pengalamannya sudah lebih terasah. Itulah sebabnya relawan dari Kelurahan Kepel lebih banyak memberikan usulan program dibandingkan relawan dari Kelurahan Panggungrejo.
Selanjutnya, prospek BKM sebagai institusi yang mampu melembaga dan bersifat mandiri juga banyak ditentukan oleh dukungan modal sosial yang ada dalam masyarakat. Dalam pelaksanaannya kemudian, lebih ditentukan dari kemampuan mengidentifikasi dan memanfaatkan modal sosial tersebut. Melalui cara seperti itu potensi lapisan tidak miskin dalam memberikan kontribusi bagi program sosial dapat lebih diaktualisasikan. Potensi lapisan tidak miskin tersebut dapat dilihat dari stratifikasi sosialnya dan hubungan serta jarak sosial antar lapisan yang ada. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa baik di Kelurahan Kepel maupun Panggungrejo
82
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP dalam stratifikasi sosialnya terdapat lapisan miskin dan tidak miskin. Di kedua kelurahan, hubungan kedua lapisan tersebut sama sama tidak bersifat eksklusif. Perbedaannya adalah, Kelurahan Panggungrejo memiliki lapisan miskin yang lebih banyak dan lapisan tidak miskin yang lebih sedikit. Pengaruh dari kondisi tersebut dapat diamati dalam tabel V.10 berikut.
Tabel V.10
Perbandingan Pengaruh Stratifikasi Sosial Di Kota Pasuruan
Kelurahan Stratifikasi sosial Partisipasi lapisan
tidak miskin Kepel - Ada lapisan tidak miskin dan
miskin, hubungan tidak eksklusif
- Lapisan tidak miskin lebih besar
- Mulai ada indikasi partisipasi lapisan tidak miskin dalam mendukung
program Panggungrejo - Ada lapisan miskin dan tidak
miskin, hubungan tidak eksklusif
- Lapisan tidak miskin jumlahnya lebih kecil
- Belum telihat
keterlibatan lapisan tidak miskin dalam mendukung
program Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009
Pada umumnya kontribusi dan partisipasi warga masyarakat yang berasal dari lapisan tidak miskin selain yang berkedudukan sebagai pengurus BKM, UPS, KSM dan relawan, memang relatif masih terbatas. Di Kelurahan Kepel mulai ada indikasi kontribusi mereka dalam bentuk kesediaan untuk menjadi donatur tetap bagi program sosial dan kesediaan menjadi tutor kursus menjahit yang kemudian juga mempekerjakan para peserta setelah selesai mengikuti kursus. Sementara di Kelurahan Panggungrejo realita tersebut belum ditemukan. Hal itu disebabkan oleh kenyataan bahwa lapisan tidak miskin di Kelurahan Kepel memang lebih banyak dibandingkan Panggungrejo. Di samping itu, sudah tentu juga disebabkan oleh kemampuan BKM dan KSM dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi yang ada.
Bukan tidak mungkin bahwa di kedua kelurahan tersebut terdapat warga masyarakat lain yang berpotensi seperti itu. Pada masa mendatang, sebagai upaya meningkatkan kemandirian BKM dan secara perlahan mengurangi ketergantungan kepada BLM, potensi tersebut perlu digali dan dimanfaatkan. Untuk maksud tersebut
83
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP peningkatan kapasitas kelembagaan BKM yang memungkinkan tumbuhnya trust oleh masyarakat terhadap BKM menjadi syarat utamanya. Hal itu akan menyebabkan warga masyarakat yang tidak miskin yang mempunyai minat untuk berpartisipasi, tidak khawatir menyalurkan kontibusinya melalui BKM.
Faktor lain yang berasal dari masyarakat yang dapat mendukung program sosial adalah keberadaan institusi sosial dalam masyarakat yang memilikin kegiatan sejenis dengan program sosial BKM. Dari hasil penelitian lapangan diperoleh kenyataan bahwa Kelurahan Kepel mempunyai institusi sosial seperti itu yang bukan saja lebih bervariasi akan tetapi juga memiliki intensitas kegiatan yang lebih tinggi. Institusi tersebut adalah PKK, Posyandu, Muslimat NU, Kelurahan siaga. Sementara di Kelurahan Panggungrejo hanya ditemukan dukungan dari PKK dan Posyandu. Sudah tentu perbedaan tersebut juga menyebabkan perbedaan dukungannya bagi program sosial BKM. Pengaruh institusi sosial tersebut dapat diamati dalam tabel V.11 berikut.
Tabel V.11
Perbandingan Pengaruh Institusi Sosial Di Kota Pasuruan
Kelurahan Keberadaan institusi sosial Faktor pendukung
Program
Kepel - Cukup banyak institusi
sosial yang kegiatannya relevan dengan program sosial(PKK, Posyandu, Muslimat NU, Kelurahan Siaga) - Intensitas kegiatannya rendah - Program BKM yang diintegrasikan lebih bervariasi - Ada sinergi - Institusi yang sebelumnya sudah ada dapat menjaga keberlanjutan Panggungrejo - Institusi yang aktivitasnya
relevan dengan program sosial terbatas(hanya PKK dan posyandu) - Intensitas kegiatannya rendah - Program BKM yang diintegrasikan kurang bervariasi - Program BKM lebih dominan - Kurang terjamin keberlanjutannya Sumber : Data Lapangan Tim Kajian Kegiatan Sosial, 2009
Dari perbedaan kondisi institusi sosial yang sudah ada tersebut, mengakibatkan di Kelurahan Kepel lebih banyak dan lebih bervariasi program-program sosial yang diintegrasikan ke dalam kegiatan institusi tersebut. Di samping itu juga lebih dapat dilihat adanya sinergi antara kegiatan yang ada dengan program BKM yang
84
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP diintegrasikan. Sementara itu di Kelurahan Panggungrejo sifatnya tidak sinergis karena program BKM yang kemudian lebih menonjol.
Kenyataan tersebut juga akan berpengaruh terhadap prospek keberlanjutan program. Oleh karena di Kelurahan Kepel kegiatan kegiatan institusi sosial tersebut sudah melembaga, maka institusi tersebut dapat digunakan sebagai penerima tongkat estafet untuk melanjutkan program yang sudah dilaksanakan oleh BKM. Sebagai ilustrasi program keaksaraan fungsional kemudian dilanjutkan oleh Muslimat NU, program penyuluhan hidup bersih dan sehat dilanjutkan oleh institusi kelurahan siaga. Agak berbeda dengan yang terjadi di Panggungrejo, program yang semula dilaksanakan BKM berhenti setelah tidak lagi didanai melalui BLM.
Ada suatu realitas yang cukup menarik apabila mengamati institusi sosial yang memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program sosial ini. Baik di Kelurahan Kepel maupun di Panggungrejo institusi tersebut pada umumnya berbasis perempuan. PKK, Posyandu dan Muslimat NU ketiganya adalah wadah kegiatan warga masyarakat dengan jenis kelamin perempuan. Tidak mengherankan apabila program sosial yang diintegrasikan ke dalam institusi- institusi tersebut banyak melibatkan kaum perempuan, mulai dari pengurus KSM, relawan dan penerima manfaatnya. Seperti sudah dilaporkan sebelumnya relawan dan pengurus KSM program sosial di kedua kelurahan tersebut semuanya adalah aktivis atau kader PKK dan Posyandu.
Dengan demikian dilihat dari partisipasinya dalam program sosial, hal tersebut dapat dinilai positif, karena menunjukkan keterlibatan kaum perempuan yang cukup dominan dalam program PNPM terutama melalui program sosial. Tidak berlebihan apabila dalam program sosial ini sudah terwujud pengarusutamaan gender. Bahkan sebetulnya dalam pelaksanaan program sosial ini, dilihat dari gerakan penyetaraan perempuan terhadap laki laki telah terjadi bias gender dalam pengertian yang positif, oleh karena justru kegiatannya lebih didominasi kaum perempuan. Sebagai ilustrasi dapat dilaporkan, sewaktu dilaksanakan FGD yang melibatkan UPS, KSM dan penerima manfaat di Kelurahan Kepel, semua pesertanya adalah perempuan, yang berjenis kelamin laki laki hanya peneliti.
Dilihat secara sepintas, pelibatan mayoritas perempuan dalam program sosial BKM ini dapat diejelaskan dari kenyataan bahwa program sosial ini sebagian diintegrasikan ke dalam program yang sudah ada sebelumnya yang dilaksanakan oleh PKK dan Posyandu. Kedua institusi tersebut pada umumnya lebih banyak melibatkan kaum perempuan. Akan tetapi interpretasi tadi perlu dikaji kembali apabila dilihat
85
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP bahwa program kreasi baru yang tidak terkait dengan kedua institusi tadi ternyata juga hanya melibatkan kaum perempuan. Kursus menjahit, tabungan ibu hamil dan keaksaraan fungsional keduanya hanya melibatkan perempuan baik tutor maupun pesertanya. Oleh sebab itu ada kesan bahwa dalam persepsi masyarakat, program sosial memang lebih pantas melibatkan perempuan. Apabila pertimbangannya adalah bahwa kaum perempuan diberi porsi untuk program sosial karena dianggap tidak memiliki kapasitas untuk menangani program yang lain, parasarana misalnya, maka hal itu telah mengindikasikan adanya bias gender. Pemberian porsi kepada perempuan untuk hanya mengelola program sosial dan kurang memberi ruang untuk banyak terlibat dalam program lain tersebut dapat diartikan menempatkann perempuan pada posisi marginal. Apalagi jika diingat bahwa dibandingkan program BKM yang lain, program sosial memperoleh alokasi anggaran paling kecil. Interpretasi itu juga semakin diperkuat melihat proporsi perempuan yang relatif rendah pada posisi yang lebih memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan. Kepengurusan BKM misalnya, di kedua kelurahan tersebut, di antara 13 orang anggota pengurus BKM masing masing kelurahan hanya menempatkan seorang perempuan.
Dengan demikian dominasi keterlibatan perempuan dalam program sosial ini dapat diinterpretasikan dalam dua pandangan, positif dan negatif. Dilihat dari sisi program sosial saja tanpa melihat perbandingannya dengan keterlibatannya dalam program lain, kenyataan itu dapat diberi makna positif. Hal itu menunjukkan peranan dan partisipasi perempuan yang cukup menonjol, bahkan lebih dominan dibandingkan dengan laki laki. Di sisi lain, dilihat dengan membandingkan keterlibatan perempuan pada program lain termasuk bidang yang lebih mempunyai kewenangan dalam pengambilan keputusan seperti kepengurusan BKM, realitas ini dapat dimaknai sebagai semacam stereotip, bahwa perempuan memang lebih tepat menangani program sosial dan tidak untuk program atau bidang yang lain. Kenyataan ini menggambarkan kondisi yang bias gender dalam pengertian negatif terutama dilihat dari kesetaraan perempuan, karena justru menempatkan perempuan dalam posisi marginal.
Jika interpretasi terakhir itu yang benar, maka diperlukan upaya untuk merubah persepsi tersebut. Kaum perempuan tidak hanya dapat terlibat dalam program sosial, karena mereka juga memmiliki kemampuan yang sama dengan laki laki untuk terlibat program lain. Sebaliknya kaum laki laki dan institusi pendukungnya juga bukan tabu untuk terlibat dalam program sosial. Hal itu diperlukan untuk memperluas daya dukung program sosial dan untuk memperluas kelompok sasaran. Kaum laki laki
86
KAJIAN KEGIATAN SOSIAL YANG DIORGANISIR OLEH MASYARAKAT DALAM PNPM P2KP juga dapat diberi porsi sebagai pengelola, di samping dapat pula menjadi penerima