• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan Pasal 7 ayat (1) disebutkan : usaha penyediaan tenaga listrik dilakukan oleh negara dan diselenggarakan oleh badan usaha milik negara yang didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan Sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan, PLN mendapat tugas dari negara untuk menyediakan listrik di seluruh Indonesia. Dengan demikian jika terjadi pemadaman atau kekurangan pasokan listrik, maka PLN lah yang paling bertanggung jawab.95

Memang berat amanat yang ditanggung PLN, sebagai satu-satunya perusahaan listrik di Indonesia (monopoli), PLN diharuskan secara berkesinambungan menyediakan pasokan tenaga listrik dengan mutu dan keandalan yang bagi semua konsumennya. Mutu dan keandalan penyediaan tenaga listrik sangat tergantung pada kapasitas pembangkit dan sistem jaringan yang beroperasi, di mana kapasitas yang cukup diharapkan dapat menjamin kelangsungan pasokan listrik

95

Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hal. 17.

kepada semua pelanggannya. Beberapa permasalahan terkait dengan penyediaan pasokan tenaga listrik oleh PLN di tanah air,96

1. Penempatan pembangkit yang kurang optimal; antara lain :

2. Terpusatnya pembangkit di suatu tempat;

3. Kurangnya pemanfaatan sumber daya energi setempat;

4. Banyak kontrak jual beli Bahan Bakar Minyak (BBM) antara PLN dengan Pertamina yang tidak adil. Misalnya kasus pembelian BBM di Pontianak, dimana PLN membeli 100 (seratus) ton BBM kepada Pertamina, namun hanya 90 (sembilan puluh) ton yang direalisasikan kepada PLN. Sisanya 10 (sepuluh) ton ‘didiamkan’ begitu saja;

5. Beberapa sistem ketenagalistrikan mengalami kekurangan pembangkitan dimana beban puncak lebih besar dari daya maupun sistem, dan hampir semua sistem akan mengalami hal serupa bila unit pembangkit terbesar keluar dari sistem;

6. Sistem pembangkitan untuk wilayah yang masih tradisional di Sumatera Barat (Sumbar) dan Riau yang masih mengandalkan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel), kualitas energi listrik yang diterima konsumen masih jauh di bawah standar yang berlaku (sekitar 150-180 volt) disebabkan jaringan distribusi yang sangat panjang.

96

Berdasarkan wawancara dengan Ibu Fahmiwati, Ketua YLPK Banda Aceh, pada tanggal 23 Mai 2009

Selain masalah yang dihadapi di atas berkenaan dengan permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan pasokan listrik dengan mutu dan keandalan yang baik oleh PT. PLN kepada konsumennya, ternyata dalam penyediaan pasokan listrik yang cukup kepada masyarakat/konsumennya PT. PLN juga menghadapi beberapa masalah terkait penyediaan pasokan listrik ini, yaitu :

1. Perbandingan jumlah karyawan dengan pelanggan/konsumen yang dilayani, sudah ideal atau belum;

2. Tingkat kebocoran/kehilangan/susut energi listrik yang dihasilkan PT. PLN, baik secara tekhnis maupun non tekhnis.

Losses atau susut dalam industri ketenagalistrikan dikategorikan menjadi dua, yakni tekhnis dan non tekhnis.

1. Susut tekhnis dapat terjadi dalam tahap pembangkitan, jaringan maupun distribusi. Banyak faktor yang menyebabakan susut tekhnis antara lain umur kabel listrik yang sudah tua, sambungan yang tidak sempurna dan lain-lain. 2. Susut non tekhnis, di lapangan dijumpai dalam bentuk illegal connection atau

pencurian listrik yang dilakukan konsumen, baik oleh konsumen listrik rumah tangga, konsumen listrik industri, maupun penyambungan illegal untuk keperluan penerangan jalan umum.97

Dalam konteks kenaikan tarif listrik, tinggi rendahnya angka susut amatlah penting. Karena hal ini terkait secara financial dengan biaya atau pendapatan yang hilang dari PLN. Ranting Dewantara sekitar 60 % (enam puluh persen), namun pada Mei tahun 2009 angka losses yang dialami PT. PLN meningkat secara senifikan 98

97

Ibid, hal 70 98

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulfitri (Manager) PT. PLN Ranting Dewantara, pada tanggal 18 Mei 2009

Setiap satu persen losses setara dengan kehilangan pendapatan sebesar Rp. 7.474.388.230 selama 3 (tiga) bulan yaitu Januari, Februari dan Maret 2009 . Dengan berpatokan pada angka losses, maka tingkat losses PLN telah mengakibatkan PT. PLN kehilangan pendapatan sebesar Rp. 7,4 Milyar lebih. Sebuah nilai nominal yang tidak kecil, yang setara dengan jumlah subsidi yang diberikan pemerintah kepada PLN.99

1. PT. PLN tidak perlu menaikkan harga jual/tarif dasar listrik kepada konsumen, kalaupun terpaksa naik, besarannya tidak seperti kenaikan tarif dasar listrik selama ini;

Dengan demikian jika PT. PLN dapat menekan angka losses sampai batas 10 % (sepuluh persen) akan ada peningkatan pendapatan bagi PT. PLN, sehingga dapat berakibat kepada :

2. Pemerintah tidak perlu lagi memberikan subsidi kepada PT. PLN, sehingga dana subsidi tersebut bisa dialokasikan ke sektor lain;

3. PT. PLN dapat melakukan investasi baru di bidang ketenagalistrikan, khususnya penambahan jumlah pembangkit yang akan menambah jumlah pasokan energi listrik, yang selanjutnya dapat meningkatkan cakupan pelayanan kepada konsumennya.

Losses non tekhnis (pencurian) adalah fenomena khas Indonesia, sebab jika bicara losses di beberapa negara, pengertiannya adalah losses tekhnis. Namun tidak demikian di Indonesia. Untuk itu, cara menurunkan losses juga dengan cara khas Indonesia, yakni :

99

1. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pencurian listrik;

2. Secara internal, PT. PLN harus melakukan pembersihan terhadap oknum-oknum yang terlibat didalam berbagai kasus pencurian listrik; 3. Partisipasi masyarakat, karena hampir tidak mungkin PT. PLN dapat

melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan pencurian listrik; 4. Perlu adanya program bersama antara pemerintah, PT. PLN dan

lembaga konsumen dalam bentuk pendidikan konsumen, bahwa pencurian listrik pada akhirnya akan mengakibatkan kerugian konsumen itu sendiri..100

Menurut data dari PT. PLN Ranting Dewantara101

1. Tidak adanya penambahan mesin pembangkit listrik yang baru sejak tahun 1995; seringnya pemadaman aliran listrik yang dialami oleh konsumen listrik adalah akibat krisis listrik. Di mana pemadaman listrik terpaksa dilakukan disebabkan karena beberapa faktor, antara lain

2. Tidak adanya keseimbangan antara supply nandmdemand (persediaan daya listrik dengan permintaan konsumen baru) dengan pertumbuhan beban kemampuan penyediaan listrik;

3. Seringnya dilakukan pemeliharaan dan perbaikan mesin pembangkit listrik; 4. Masalah tingginya harga BBM dan kelangkaan pasokan BBM;

5. Macetnya pembayaran rekening listrik oleh pelanggan/konsumen.

Adanya permasalahan lain yang juga dirasakan sebagai penghambat terhadap perlindungan hak-hak konsumen listrik adalah kurangnya akses informasi dari PLN terhadap konsumen. Dapat dikatakan bahwa PLN belum berhasil memberdayakan konsumen, konsumen nyaris tidak merasakan apa yang dialami PLN. Misalnya menyangkut pemadaman bergilir. Hal itu dilakukan karena adanya krisis pasokan

100

Ibid,, hal 73 101

Sumber berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Zulfitri, Manager PT. PLN Ranting Dewantara, pada tanggal 18 Mei 2009

energi listrik. Semestinya PLN menjelaskan secara jernih dan menyeluruh tentang permasalahan konkrit yang dihadapinya, sehingga konsumen dapat merasakan kesulitan yang dialami oleh PLN. Hal ini terkait dengan hak atas informasi sebagaimana yang dijamin dalam UUPK.

Faktor dari konsumen itu sendiri sejauh mana tingkat pendidikan atau pengetahuan karena masing-masing konsumen memiliki cirri disesuaikan dengan latar belakang budaya, pendidikan dan pengaruh sosial. Perbedaan tingkat pengetahuan berpengaruh pada cara konsumen merespons berbagai produk barang dan jasa yang beredar dimasyarakat, ketika dihadapkan dengan banyak pilihan dari harga sampai mutu serta cara penyampaian informasi yang sangat menarik tapi belum tentu substansi dapat dipertanggungjawabkan dan konsumen lebih memilih diam dari pada melapor kepada PT. PLN atau yang menangani perlindungan konsumen listrik.

Keterbatasan penyediaan pasokan arus listrik dari PT PLN kepada konsumen/pelanggan dengan pemakaian lebih banyak sedangkan pasokan terbatas atau tidak seimbang maka pemadaman listrik sering terjadi atau pemadaman bergilir antara satu daerah dengan daerah yang lain dan penyediaan pasokan arus listrik untuk wilayah Aceh bersumber dari Sumatra Utara.

Sebagian besar konsumen akan tetap membutuhkan listrik dari PT. PLN walaupun setiap saat mati lampu. Hal tersebut sebenarnya membawa banyak manfaat bagi konsumen dari pada menghidupkan genset dengan biaya dan resiko yang tinggi.

Dokumen terkait