REALISASI KEBIJAKAN PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DUNIA DI BAL
A. Gede Oka Parwata, Dewa Gde Rudy Tlp 081237485549/081337005156.
3.2 Hambatan Pelaksanaan Kebijakan Pengelolaan warisan Budaya Dunia di Bal
dewan Pengelola Warisan Budaya dunia sejak dibentuk, sempat menyelenggarakan beberapa kali pertemuan, namun dalam petemuan pihak yang diundang seringkali mewakilkan kehadirannya, sehingga dewan tidak dapat mengambil keputusan-keputusan yang bersifat strategis, akhirnya dewan non-aktif hingga saat ini.setahun setelah ditetapkan, oleh World Heritage CommitteeLansekap Budaya Provinsi Bali mendapatkan catatan negatif karena dianggap situs terebut tidak dikelola dengan baik. rencana pengelolaan yang telah dibuat tidak berjalan dan badan pengelola tidak dapat melaksankan fungsinya. disamping itu puladalam realitas kebijakan lebih menunjukkan peran sentral pemerintah, (Pusat dan daerah) dalam perencanaan dan pengelolaan, dan kemudian mengalihkan posisi demikian itu kepada dewan, serta memberikan posisi sekunder kepada desa adat, dan subak.
Masyarakat pada setiap Kawasan, menunggu pelaksanaan pengelolaan sebagai tindak lanjut dari penetapan Lansekap tersebut. Masyarakat mulai resah dengan penetapan itu, karena di satu sisi penetapan itu mengakibatkan masyarakat tidak dapat memberikan perlakuan yang wajar secara ekonomi terhadap tanah milik mereka yang berada di dalam Lansekap. Pemerintah Provinsi dan Kabupaten tidak melakukan tindakan lanjutan sesuai dengan rencana pengelolaan. situasi pada setiap kawasan obyek penelitian, secara umum, dapat digambarkan sebagai berikut:
i. Kawasan Lansekap Pakerisan:
- masyarakat mulai membangunan, tempat pemukiman pada kawasan persawahan yang merupakan bagian dari kawasan Lansekap dAs (daerah Aliran sungai) Pakerisan;
- masyarakat menanyakan tindak lanjut pengelolaan kawasan termasuk perhatian pemerintah - sudah mulai ada bangunan untuk kepentingan fasilitas kepariwisataan.
- pembagian suluran air irigasi yang sebelumnya hanya untuk subak Kulub semenjak dipecah menjadi subak Kulub Bawah dan Kulub Atas pembagian air irigasinya tidak merata atau tidak lancar terutama
bagi subak Kulub Bawah yang ada di hilir sungai disamping itu saluran air irigasi dan pura yang terkait dengan subak banyak yang rusak. 10
ii. Kawasan Catur Angga Batukaru:
Permasalahan di Kawasan Catur Angga Batukaru dapat dipilah menjadi dua (2), yaitu: a) Permasalah sebagai Warisan Budaya dunia, dan
b) Permasalahan sebagai daerah Tujuan Wisata.
- semenjak ditetapkan sebagai Warisan Budaya dunia perhatian pemerintah (Kabupaten, Provinsi) sangat kurang. Para petani di kawasan ini sangat mengharapkan subsidi pemerintah apa berupa pupuk atau bantuan dana untuk memelihara pura-pura yang terkait dengan subak di Catur Angga. disamping itu pula para petani dengan menyandang predikat sebagai Warisan Budaya dunia pajak yang dikenakan kepada para petani dihapus dari sebelumnya kena 50%.
- sejak tahun 2014 banyak sawah-sawah yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya dunia oleh UnEsCo
- semenjak ditetapkan sebagai Warisan Budaya dunia banyak wisatawan yang berkunjung ke kawasan Jatiluwih,para petani banyak mengeluh karena pematang sawah yang dilalui wisatawan banyak yang rusak, termasuk saluran irigasi, namun tidak mendapat perhatian pemerintah. disamping itu pula berkembang bangunan fasilitas pariwisata (hotel, parkir, restaurant, warung makan, dan sebagainya.)
- belum ada lembaga yang yang bisa mengakomodir kepentingan desa adat atau subak sebagai pemilik atau rumah Warisan Budaya sekaligus mengkoordinasikan dengan pihak pemerintah11 Keadaan seperti tersebut pada masing-masing kawasan, menimbulkan berbagai perkembangan yang tidak sesuai dengan tujuan penetapan Kawasan, jika dibiarkan berlarut-larut dapat mengakibatkan penurunan kualitas kawasan, lebih jauh kehilangan status kawasan sebagai Warisan dunia.
10
Wawancara dengan nyoman Budiastra, Pekaseh subak Kulub Bawah dan Made Perasi Pekaseh Kulu Atas, tanggal 29 oktober 2017.
11
. Wawancara dengan nyoman sutama, Pekaseh Jatiluwih dan sebagai Pekaseh gede di Kawasan Catur Angga Batukaru,, tgl 28 oktober 2017.
4. KESIMPULAN
Menetapkan kebijakan dalam pengaturan pengelolaan warisan budaya dipandang perlu adanya respon pembentuk kebijakan terhadap ekspektasi komunitas yang merupakan masyarakat tempat dimana satu kebijakan dibentuk dan diberlakukan.Ekspektasi komunitas merupakan harapan komunitas terhadap isi, fungsi dan tujuan kebijakan. Tujuan kebijakan harus ada kontek dengan tujuan komunitas, yang mencakup pemeliharaan identitas komunitas, peningkatan kualitas hidup komunitas, pemeliharaan keberlanjutan hidup komunitas, pemeliharaan posisi dan fungsi komunitas, dan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi komunitas. Formulasi kebijakan dalam pengaturan pengelolaan warisan budaya dimaksudkan agar bisa mengakomodir harapan desa adat dan subak sebagai pemilik dan rumah kebudayaan. dari sisi nilai, suatu kebijakan adalah otoritatif hanya jika kebijakan itu merupakan transformasi nilai dari nilai-nilai yang dijunjung masyarakat adat di Bali yang bersifat khusus dan khas, yang masih hidup, tumbuh dan berkembang dalam tatanan kehidupan masyarakat adat di Bali sebagai penanda identitas. orientasi kebijakan sangat relevankarena dalam menentukan/membuat formulasi kebijakan keharusan mempertimbangkan kontek atau ekspektasi komunitas (masyarakat adat atau subakdi Bali) harus dikontruksikan secara kontruktif dalam bentuk struktur dan rumusan norma hukum dalam pembentukan hukum. Hal ini dipandang penting untuk menghindari hukum yang mendesak dan mematikan harapan atau ekspektasi komunitas, termasuk di dalamnya nilai-nilai dalam komunitas, yang dengan hukum itu seharusnya dipelihara, diperkuat dan dikembangkan. dengan demikian formulasi kebijakan dalam pengelolaan Warisan Budaya dunia di Bali harus memberikan penguatan terhadap subyek pengelolaan (desa Adat, subak maupun perorangan)yang menempatkan pemilik Lansekap sebagai pelaku utama pengelolaan.
Faktor penghambat pengelolaan Warisan Budaya dunia di Bali adalah rendahnya komitmen lembaga-lembaga Pemerintah daerah terkait, demikian juga pemangku kepentingan lainnya.rencana pengelolaan sebagimana telah disusun tidak berjalan dan badan pengelola yang dibentuk tidak dapat melaksankan fungsinya. disamping itu pula dalam realitas kebijakan lebih menunjukkan peran sentral pemerintah, (Pusat dan daerah), dalam perencanaan dan pengelolaan, dan kemudian mengalihkan posisinya itu kepada dewan, yang seharusnya sebagai pihak eksternal.sedangkan kepada desa adat, dan subak diberi posisi sekunder. Kekosongan kehadiran kelembagaan pengelolaan pada masing- masing kawasan, telah menimbulkan berbagai perkembangan yang tidak sesuai dengan tujuan penetapan kawasan. Keadaan demikian itu jika dibiarkan dapat mengakibatkan penurunan kualitas kawasan, lebih jauh akan kehilangan status kawasan sebagai Warisan dunia. Pada sisi lain, masyarakat setempat pada setiap menunggu penyelenggaraan pengelolaan sebagai tindak lanjut dari penetapan Lansekap tersebut. Masyarakat setempat mulai resah dengan penetapan itu, karena di satu sisi penetapan itu mengakibatkan masyarakat tidak dapat memberikan perlakuan yang wajar secara ekonomi terhadap tanah milik mereka yang berada di dalam Lansekap, pada sisi lainnya Pemerintah Provinsi dan Kabupaten tidak melakukan tindakan lanjutan sesuai dengan rencana pengelolaan. Ucapan Terimakasih
dengan selesainya penelitian ini, ijinkanlah peneliti mengucapkan terimakasih kepada para pihak yang telah mendukung dan memberikan kontribusi dalam penelitian ini, diantaranya: Universitas Udayana melalui LPPMatas dana yang diberikan dengan dana diPA PnBP UniversitasUdayanasesuai dengan surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitiannomor: 2016/Un14.2.4/PP/2017. Tertanggal 05 Juli 2017, Bapak dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana melalui UnitPenelitian dan Pengabdian Fakultas Hukum atas segala bantuan dan fasilitasnya dalam penelitian ini, juga terimakasih peneliti sampaikan kepada Bapak nyoman sutama (Pekaseh subak Jatiluwih dan sebagai Pekaseh gede di Lansekap subak Catur Angga Batukaru; danbapaki nyoman Budiastra Pekaseh Kulub Bawah, bapak i Made Perasi Pekaseh Kulub Atas di Lansekap daerah Aliran sungai Pekeringan, atas informasi dan waktu yang diberikan dalam mengadakan penelitian ini. demikian juga terimakasih kepada para pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu atas segala bantuan dan partisipasinya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan pada waktunya.
16 | Kuta, 15 - 16 Desember 2017 DAFTAR PUSTAKA
Achmad Ali, dan Wiwie Heryani, 2012, Menjelajahi Kajian Empiris Terhadap Hukum, Kencana Penada Media group, Jakarta.
Hs, H.salim dan Erlies septiana nurbani,2014. Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, rajagrafindo Persada, Jakarta.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan republik indonesia, 2013, Rencana Pengelolaan Lansekap Budaya Propinsi Bali.
Marijan, Kacung, direktur Jenderal Kebudayaan, 2013 “Prakata”, Rencana Pengelolaan Lansekap Budaya Propinsi Bali, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan republik indonesia
sumandi suryabrata, 1992, Metodelogi Penelitian, CV. rajawali, Jakarta.
Wyasa Putara, dkk, 2016, Naskah Akademik Rancangan Peraturan Daerah Propinsi Bali tentang Badan Pengeloaan Lansekap Budaya Provinsi Bali, dina KebudayaanProvinsi Bali.
http://id.mwikipedia.org>wiki>Waris... diunduh tgl 24 november 2016, pukul 06.17 WiTA