• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5. Hambatan Pendidikan Karakter di SMP Stella Maris Tangerang

Pendidikan merupakan usaha sadar manusia dalam mencapai tujuan yang dalam prosesnya diperlukan metode yang efektif dan menyenangkan. Oleh karena itu ada sebuah prinsip dalam belajar bahwa pembelajaran perlu disampaikan dalam suasana interaktif, menyenangkan, menggembirakan, penuh dorongan, dan memberikan ruang gerak yang lebih leluasa kepada peserta didik dalam mencapai tujuannya. Proses mendidik yang semacam ini tentunya didapatkan tidak hanya di bangku sekolah mengingat peserta didik hanya 7 jam di sekolah dan selebihnya berada di rumah. Jadi, orang

tua turut berperan dalam pendampingan karakter anak. Berikut kesimpulan hasil wawancara dengan guru SMP Stella Maris.

a. Ada orang tua yang mendidik anaknya dengan pola perilaku hidup yang semaunya dan bertentangan dengan pola pengajaran guru di sekolah.

Lembaga pendidikan pertama dan utama anak adalah keluarga. Anak belajar banyak hal dari orang tuanya baik hal yang positif ataupun hal yang negatif. Berdasarkan informasi yang diperoleh peneliti, hambatan dalam pendidikan karakter yang terjadi di SMP Stella Maris, salah satu diantaranya berasal dari orang tua. Gaya hidup mewah dan memandang orang lain lebih rendah derajatnya merupakan faktor terbesar dalam mendukung gagalnya pendidikan karakter. Sikap mental anak mengalami benturan terhadap apa yang ia pelajari di sekolah dan kenyataan yang ia dapatkan dirumah. “Hambatan yang terbesar adalah bagaimana mengkomunikasikan pemahaman dengan anak-anak, dengan orang tua. Itulah yang biasanya beda pola pendampingannya. Biasanya dalam pola berpakaian dan menyapa atau menegur orang yang lebih tua. Anak-anak terbiasa untuk menyebut nama pada orang-orang yang menjadi pembantu ataupun supir mereka. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini yang sebenarnya ingin kami ubah pada diri si anak, bahwa untuk mamanggil orang yang lebih tua perlu memanggil mas atau mbak. Kadang anak juga menjawab tapi di rumah papa atau mama manggilnya begitu bu. maka kami ikut seperti itu.” (B4. HPK. K.SEK)

Permasalahan yang demikian muncul dapat disebabkan oleh keterbatasan anak untuk menyaring informasi yang di dapatnya sehingga ia belum bisa menilai dan menimbang perbuatannya tersebut tergolong sebagai tindakan yang benar atau salah. Anak merasa sah-sah saja berbuat demikian karena belajar dari orang tuanya. Hal ini akan menjadi masalah apabila anak mendapat informasi baru yang bertentangan dengan kebiasaan yang terbentuk dari rumah. Anak berusaha untuk merekonstruksi ulang pikirannya dan terus bertanya-tanya tindakan manakah yang benar. Disinilah peran guru dalam mengarahkan anak untuk membuka wawasan peserta didik untuk berpikir kritis mengenai kehidupannya.

Subjek 1 dalam pemaparannya menunjukkan keprihatinannya terhadap pola asuh yang diberikan oleh beberapa keluargaa. Pola asuh tersebut menjadikan anak apatis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya dan yang jauh lebih parah lagi adalah merendahkan orang lain. Pendapat subjek 1 juga didukung oleh guru lain yang memberikan pengalamannya mendidik salah seorang peserta didiknya yang mengikuti tingkah laku orang tuanya yang tidak pantas untuk ditiru.

Kesulitan itu banyak, ketika saya menjadi wali kelas di suatu kelas yang paling saya rasakan, anak itu mengalami masalah di keluarganya. Selain yang ayahnya ringan tangan, juga berbicaranya tidak sopan. Lalu akan terbawa ke sekolah. Si anak tadi di sekolah tidak disukai teman-teman karena perangainya yang mudah emosian kemudian pemarah. Lalu kalau sudah marah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan. (B4. HPK. G.BI)

Berdasarkan pemaparan subjek 3, peserta didik melakukan peniruan langsung yang dilakukan oleh orang tuanya baik di sadari ataupun tidak disadari olehnya. Sikap semacam ini mengindikasikan bahwa anak kerap kali mendapat perlakuan yang kurang baik dari orang tuanya dan berdampak pada pengelolaan perasaan atau manajemen perasaan yang rendah. Peserta didik yang rendah manajemen perasaannya akan mengalami kesulitan bergaul dengan teman-teman sebayanya. Oleh sebab itu peranan orang tua sangat penting untuk dalam mendukung terwujudnya karakter anak yang baik. Sekolah telah mengusahakan terbentuknya karakter anak berdasarkan visi dan misi sekolah, apabila terjadi perilaku-perilaku yang tidak mendukung terbentuknya karakter seperti yang telah dipaparkan sebelumnya kemungkinan besar akan terjadi kegagalan.

b. Orang tua membela perilaku anaknya yang salah dan berusaha menutupinya.

Hasil wawancara dengan para guru SMP Stella Maris, Tangerang, Banten sebelumnya berbicara mengenai “Orang tua yang mendidik anaknya dengan pola perilaku hidup yang semaunya dan bertentangan dengan pola pengajaran guru di sekolah” dan kini kesimpulan lain adalah orang tua membela perilaku anaknya yang salah dan berusaha menutupinya. Berikut pernyataan salah seorang guru: “Kadang ada anak yang masa bodoh dan cuek lalu kita itu jengkel karena orang tua menutupi. Misalnya: anak bapak terlambat sudah beberapa kali, makanya terpaksa saya pulangkan. Padahal itu saya yang mengantar bu,

anaknya sudah bangun. Anaknya saya tanya bangun kesiangan lalu bapaknya bilang macet. Berarti itu menutupi kejelekan anaknya.” (B4. HPK. G.PKN)

Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mengintepretasikan bahwa orang tua tidak ingin anaknya disalahkan terhadap situasi yang mendera anaknya. Orang tua berkeinginan untuk membantu anaknya keluar dari masalah yang ada. Orang tua bertindak sebagai pahlawan agar mampu menolong anaknya. Permahasalahannya adalah peserta didik tidak menjadi pribadi yang mandiri dan berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Tampak jelas dari hasil penuturan guru bahwa peserta didik datang terlambat karena bangun kesiangan namun sang ayah membela dengan mengatakan jalan macet. Dapat ditarik benang merah, apabila anak bangun lebih pagi maka tidak akan terjebak macet akan tetapi karena peserta didik bangun terlambat maka terjebak macet. Guru perlu bertindak tegas untuk menegur tindakan-tindakan semacam ini dan memberikan pendampingan pada orang tua. Permasalahan pembentukan karakter tidak selalu terletak pada faktor internal peserta didik namun faktor eksternal peserta didik juga memberikan sumbangsih yang cukup besar.

c. Perbedaan kemampuan berpikir dan konsentrasi peserta didik yang dominan membuat anak memperlakukan temannya secara rendah (menghina) sehingga butuh pendampingan khusus.

Peserta didik mengembangkan kemampuan berpikirnya dengan mengikuti proses pembelajaran di sekolah. SMP Stella Maris dalam sistem pembelajarannya menghapus sistem rangking, supaya tidak terjadi diskriminasi pendidikan dimana secara tidak langsung akan memberikan label pada peserta didik sebagai siswa cerdas atau bodoh. Penghapusan sistem tersebut telah dilakukan dalam kurun waktu ± 5 tahun yang lalu. Selama proses belajar mengajar yang dilakukan, beberapa guru mendapati bahwa terjadi fenomena dimana peserta didik yang lebih cerdas menghina teman-teman yang kemampuan kognisinya terbilang rendah. “Hambatan yang biasanya saya temui dalam kelas adalah kemampuan konsentrasi anak yang begitu rendah. Di sekolah ini memang ada anak yang begitu cerdas, sedang dan dibawah rata meskipun sedikit. Bagi anak-anak yang cerdas biasanya yang menjadi masalah adalah mereka dimana mereka menganggap diri mereka bisa dan mengejek teman-temannya yang belum bisa. Biasanya apabila terjadi hal seperti ini saya akan mendampingi anak tersebut untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan sehingga nantinya ia mampu mengerti kesulitan seperti apa yang temannya hadapi tersebut.” (B4. HPK. G.F)

Berdasarkan penuturan subjek 4, hambatan pendidikan karakter yang ditemui selama memberikan pembelajaran adalah para peserta didik yang memiliki daya konsentrasi yang rendah dan peserta didik yang cerdas merendahkan peserta didik lainnya. Subjek 4, perlu mencari alternatif mengajar supaya mampu mengembangkan kemampuan berkonsentrasi siswa dan melakukan evaluasi belajar untuk memberikan pemahaman mengenai cakupan bahan ajar serta penanaman nilai-nilai karakter yang berguna bagi peserta didik. Peneliti mendengar apa yang dikatakan oleh subjek 4 merupakan sebuah bukti keprihatinan yang dimiliki oleh seorang guru dimana harapan guru yang bersangkutan, peserta didik yang mengalami kemampuan lebih seyogyanya mampu membantu temannya yang kurang mampu, namun malah teman-teman yang mampu menghina teman yang kesulitan belajar. Kenyataan seperti ini mengindikasikan bahwa tingkat kesadaran siswa untuk mengembangkan nilai-nilai karakter dan menghidupi nilai-nilai karakter masih rendah.

6. Usaha-Usaha Sekolah Mengatasi Hambatan Pendidikan Karakter di