• Tidak ada hasil yang ditemukan

Harga Pokok Perdagangan

Dalam dokumen ADMINISTRASI FARMASI (Halaman 40-45)

INVENTORY CONTROL (PENGENDALIAN PERSEDIAAN)

A. Harga Pokok Perdagangan

Harga poko perdagangan ialah harga pembelian barang ditambah biaya – biaya lain yang diperhitungkan sampai barang siap dijual.

Fungsi harga pokok adalah :

1. Untuk menetapkan harga jual 2. Untuk menghitung laba / rugi

3. Untuk menilai efisiensi ( alat pengawasan ) 4. Untuk menilai persediaan barang ( dalam neraca )

Unsur – unsur harga pokok dalam perhitungan laporan rugi / laba :

1. Persediaan awal 2. Pembelian 3. Retur pembelian

4. Potongan pembelian dan pengurangan harga 5. Beban angkut pembelian

6. Barang tersedia untuk dijual 7. Persediaan akhir

Format – format perhitungan harga pokok :

Persediaan Awal xx

Pembelian = xxxx Retur pembelian = x (-)

= xxx Pot.Pembelian& pengur.harga = x (-)

= xx Beban angkut pembelian = x (+)

Pembelian bersih = xxx xxx (+)

Barang tersedia untuk dijual xxxxx

Persediaan akhir x (-)

Harga Pokok xxxx Contoh Soal :

Diketahui data persediaan barang PT. ABC sbb : Persediaan awal = Rp. 2.000.000

Pembelian = Rp. 4.000.000 Retur pembelian = Rp. 1.000.000

Potongan pembelian dan pengurangan harga = Rp. 500.000 Beban angkut pembelian = Rp. 750.000

Persediaan akhir = Rp. 1.000.000 Hitung harga pokok penjualan barang tersebut ! Jawab ...

Jawab :

Persediaan awal Rp. 2.000.000

Pembelian Rp. 4.000.000 Retur pem & pengurangan.harga Rp. 500.000 (-)

Rp. 3.500.000

Beban angkut pembelian Rp. 750.000 (+)

Pembelian bersih Rp. 4.250.000 Rp. 4.250.000 (+)

Barang tersedia untuk dijual Rp. 6.250.000

Persediaan akhir Rp. 1.000.000 (-)

Harga Pokok Rp. 5.250.000 Jadi :

HP = Persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir

Pembelian bersih = Pembelian – Retur pembelian – Potongan pembelian + Beban angkut pembelian

Nota Pembelian Barang :

1) Format nota pembelian barang / faktur pembelian barang

Berat kotor = ...…kg

Tara ekstra (%) = ...…kg - (bulat) = ...…kg Tara % = ...…kg - (bulat) = ...…kg Refaksi % = ...…kg - (bulat) = ...…kg Potongan lain = ...…kg - Berat bersih = ...…kg x Rp.../kg = Rp...… Rabat % = Rp...… - = Rp...… Biaya lelang % = Rp...… + = Rp...… Potongan tunai = Rp...… - = Rp...… Ongkos – ongkos : Kurtasi 10 % = Rp...… Lainnya = Rp...… + = Rp...… + = Rp...… Komisi % = Rp...… + Pembelian bersih = Rp...… Catatan :

½ kg keatas dibulatkan menjadi 1 kg Kurang dari ½ kg, hilangkan

½ rupiah ke atas dibulatkan menjadi 1 rupiah kurang dari ½ rupiah, hilangkan

2). Keterangan Istilah – Istilah Dalam Nota / Faktur Pembelian dan Nota / Faktur Penjualan

(a) Potongan berat meliputi :

 Tara ekstra atau tara istimewa, potongan terhadap pembungkus (kemasan) khusus, biasanya dinyatakan dalam % ttara = pembungkus

 Tara atau pembungkus dapat dinyatakan dalam %

 Refaksi, potongan yang diperhitungkan terhadap kemungkinan menyusutnya baran, dinyatakan dalam %

 Potongan lainnya secara khusus adalah yang sering disebutkan dalam satuan Kg.

(b) Bruto atau Berat kotor adalah berat barang beserta pembungkus / kemasannya. Netto atau Berat bersi adalah berat barang setelah dikurangi potongan – potongan berat.

(c) Potongan harga meliputi :

 Rabat, potongan yang diberikan jika membeli dalam partai besar dan biasanya diberikan kepada pihak yang akan menjual kembali

 Potongan tunai atau potongan kontan, diberikan apabila pembayaran dilakukan tunai.

(d) Macam – macam biaya :

 Biaya lelang, bila jual beli dilakukan melalui pelelangan umum. Biaya ini biasanya dinyatakan dalam % dan selalu ditambahkan baik dalam faktur pembelian ataupun faktur penjualan.

 Kurtasi atau propisi merupakan ongkos jasa seorang perantara (makelar) biasanya dinyatakan dalam %

 Komisi, ongkos jasa perantara komisioner yang dinyatakan dalam %

 Biaya / ongkos lain – lain, seperti ongkos angkuta, sewa gudang, ongkos bongkar muat, dll

Ketiga biaya (1, 2, 3) dalam faktur pembelian ditambahkan, sedang dalam faktur penjualan dikurangkan.

Contoh Soal dan Jawab Pembelian Barang Dagangan :

1. Seorang pedagang simplisia di jakarta menyuruh komisioner di semarang untuk membeli 12,650Kg simplisia. Tara 2%, tara ekstra 1%, harga Rp. 800,00/kg netto. Rabat 4%, pot. Tunai 1 ½ dan biaya lelang 1%. Komisioner memperhitungkan ongkos angkut ke jakarta sebesar Rp. 240.000,00 kurtasi 1% dan komisi 5%. Susunlah faktur pembelian sebagaimana harus dibuat oleh komisioner tersebut.

Jawab : Berat kotor = 12.650 Kg Tara ekstra = 127 Kg (-) = 12.523 Kg Tara = 250 Kg (-) Berat bersih = 12.273 Kg x Rp. 800,00 = Rp. 9.818.400,00 Rabat 4% ……….. = Rp. 392.736,00 (-) = Rp. 9.425.664,00 Biaya lelang 1% = Rp. 94.256,64 (+) = Rp. 9.519.920,64

Pot. Tunai 1 ½% = Rp. 141.384,96 (-) = Rp. 9.378.535,68 Ongkos – ongkos : Kurtasi 1% 94.256,64 Angkutan 240.000,00 = Rp. 334.256,64 (+) = Rp. 9.712.792,32 Komisi 5% = Rp. 485.639,62 (+) Harga pokok = Harga pembelian bersih = Rp. 10.198.431,94

Nota penjualan / Faktur penjualan barang dagangan

1). Format Nota / Faktur Penjualan Barang

FAKTUR PENJUALAN

Berat kotor a.d. berat bersih lihat faktur pembelian : (sama caranya dengan faktur pembelian)

Berat bersih = ……… Kg x Rp. ……….. / Kg = Rp. ……….. Rabat % = Rp. ……….. (-) = Rp. ……….. Biaya Lelang % = Rp. ………. (-) = Rp. ……….. Ongkos – ongkos : Kurtasi % = Rp. ………. Lainnya = Rp. ………. Komisi % = Rp. ………. = Rp. ……….. (-) Penjualan bersih = Rp. ………..

2) Keterangan tentang perantara dalam perdagangan barang

Dikenal ada 2 ( dua ) macam perantara, yaitu :

Makelar : Seorang perantara perdagangan yang diangkat oleh pejabat negara atas nama presiden dan diambil sumpahnya sebelum melaksanakan tugasnya. Ia menjalankan tugas pekerjaannya atas nama orang lain (pihak penyuruhnya atau prinsipalnya) tetapi tidak mempunyai hubungan tetap atau tidak terikat dengan hubungan tetap. Atas jasanya ia memperoleh imbalan : kurtasi atau propisi yang dinyatakan dalam %.

Komisioner : Seorang perantara yang melakukan usahanya dapat mengadakan persetujuan atas nama sendiri, tetapi atas perintah dan tanggung jawab pihak lain ( prinsipalnya ).Imbalan jasanya : komisi dalam % Perbedaan antara Komisioner dengan Makelar.

KOMISIONER Makelar

a. Jabatan bebas

b. Bertindak atas nama sendiri, tetapi atas perintah dan tanggung jawab penyuruhnya

c. Memikul kewajiban keuangan

d. Merupakan perwakilan tidak langsung

a. Diangkat pemerintah dan disumpah b. Bertindak atas nama penyuruhnya c. Tidak memikul kewajiban keuangan d. Merupakan perwakilan langsung

Contoh soal dan jawab Nota / Faktur Penjualan Barang Dagangan

Seorang saudagar kopra di Ujung Pandang menyuruh komisioner di Surabaya untuk menjualkan 2,186 Kg Simplisia dengan ketentuan sbb : Tara 2%, Tara istimewa 1%, Rabat 3%, Pot. Tunai 1%, ongkos angkutan dan bongkar muat sebesar Rp. 225.000,00. Komisi dan kurtasi yang diperhitungkan 4% dan 1%. Susunlah faktur penjualan dengan harga netto Rp. 2.000,00 per Kg.

Jawab : Berat kotor = 2.186 Kg Tara ist. 1% = 22 Kg (-) = 2.164 Kg Tara 2% = 43 Kg (-) Berat bersih = 2.121 Kg x Rp. 2.000,00 = Rp. 4.242.000,00 Rabat 3% = Rp. 127.000,00 (-) = Rp. 4.114.740,00 Potongan tunai 1 ½% = Rp. 41.147,40 (-) = Rp. 4.073.592,60 Ongkos – ongkos : Kurtasi 1% = Rp. 41.147,40 Ongk. Angkut = Rp. 225.000,00 Komisi 4% = Rp. 162.943,70 (+)

Harga penjualan bersih = Rp. 348.901,10 (-) = Rp. 3.689.501,50

Harga Pokok Barang di Apotik

1. Harga Netto Apotik ( HNA )

Harga netto apotik sama dengan harga beli yang dibayarkan apotik kepada penyalur tanpa memperoleh potongan penjualan. Sering disebut Harga Pokok Penjualan. Untuk menetapkan Harga Jual maka apotik mempunyai kebijaksanaan sendiri dalam menentukan % (persentase) laba.

Jadi :

Harga Jual = HNA + Laba Contoh :

1. Tanggal 3/3 2003 Apotik Jaya Abadi membeli Kalpicillin Kaplet 500mg 1 (satu) dos @ Rp. 85.000. dari PT. Prima Medika dengan Harga Netto Apotik (HNA). Bila laba yang diinginkan apotik = 30% dari harga pokok, hitunglah harga jualnya !

Jawab :

Diketahui : HNA = Rp. 85.000 Laba = 30 %

Perhitungan : Harga jual = HNA + Laba

= 85.000 + ( 0,3 x 85.000 ) = 85.000 + 25.500

= Rp. 110.500,00

2. Tanggal 5/3 2003 Apotik Jaya Abadi membeli separtai obat – obatan dengan harga Rp. 2.000.000,00 ( HNA ) PPN 10% = Rp. 200.000,00 maka jumlah yang dibayar apotik kepada PT. Sumber Makmur = Rp. 2.200.000,00. Bila apotik mempunyai kebijaksanaan laba 331/3% dari harga pokok, maka harga jualnya ?

Jawab :

Harga jual = HNA + PPN Laba

= 2.000.000,00 + 200.000,00 + ( 331/3 % x 2.200.000 ) = 2.200.000,00 + 733.333,00

= 2.933.333,00

Harga Eceran Tertinggi (HET)

Harga eceran tertinggi adalah harga jual yang tertinggi yang ditetapkan oleh penyalur / oleh produksi farmasi sebagai imbalan keuntungan yang diperoleh apotik berupa potongan penjualan.

Harga Pokok Penjualan Apotik = HET – Potongan Penjualan Atau

HPP = HET – Potongan Penjualan ( Laba ) Contoh -1:

5/5 2003 dibeli Pehacort tablet sebanyak 1 fls (500 Tab.) seharga Rp. 210.000,00 (HET) dari PT.Bhakti Wira Husada dengan potongan penjualan 331/3%. Hitunglah harga pokok penjualan !

Jawab :

Harga Jual Tertinggi = Rp. 210.000,00 Lab / Potongan Penjualan = 33 1/3 = Rp. 70.000,00 (-)

Harga Pokok Penjualan = Rp. 140.000,00 Contoh-2 :

7/5 2003 dibeli Bartolium Kapsul 1 fls (50 kapsul) dengan harga Rp. 81.000 (HET) dengan PPN 10% (Rp. 8100,00) dengan potongan 33 1/3%. Maka harga pokok penjualan sbb :

HET = Rp. 81.000,00

Potongan Penjualan = 33 1/3% = Rp. 27.000,00 (-) Harga Netto Apotik = Rp. 54.000,00

Pajak ( PPN 10% ) = Rp. 5.400,00 (+)

Harga Pokok Penjualan = Rp. 59.400,00

Jadi :

HPP = HET – Potongan Penjualan + PPN

Dalam dokumen ADMINISTRASI FARMASI (Halaman 40-45)

Dokumen terkait