1. Pengertian Harga Pokok Produksi
Harga pokok produksi merupakan jumlah daripada produksi yang melekat pada produksi yang dihasilkan yaitu meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan mmulai pada saat pengadaan bahan baku tersebut sampai dengan proses akhir produk, yang siap digunakan atau dijual.
Untuk mmenentukan laba rugi perusahaan dan sarana informasi untuk menetapkan harga jual pada produk tersebut diperlukan penentuan harga pokok produksi. Dalam hal ini harga pokok produksi sangat penting dalam menentukan harga jual. Berikut ini beberapa pengertian harga pokok produksi dari beberapa pengamat akuntansi :
Menurut Iman Firmansyah (2014:57), harga pokok produksi adalah :
“Penjumlahan seluruh pengorbanan sumber ekonomi yang digunakan dalam penolahan bahan baku menjadi produk jadi”.
Sedangkan menurut Blocher dkk (2007:90),
“Harga pokok produksi adalah harga pokok produk yang sudah selesai dan ditransfer ke produk dalam proses pada periode berjalan”.
Dari pendapat-pendapat di atas dapat di ambil kesimpulan bahwa harga pokok produksi merupakan semua biaya-biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang atau jasa yang dinyatakan dalam satuan uang.
Suatu perusahaan perlu menentukan harga pokok produksi yang dihasilkan karena hargga pokok merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi harga jual dasar penentuan kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan pengolahan perusahaan. Harga pokok produksi juga digunakan untuk menentukan keuntungan yang diperoleh suatu perushaan. Suatu harga dapat diketahui jumlahnya dari jumlah biaya produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi suatu produk tersebut.
Jumlah seluruh biaya yang diperlukan untuk memperoleh dan mempersiapkan barang untuk dijual disebutt dengan harga pokok penjualan (cost of good sold).
2. Tujuan Penentuan Harga Pokok Produksi
Penentuan harga pokok produksi bertujuan untuk mmengetahui berapa besarnya biaya yang dikorbankan dalam hubungannya dengan pengolahan bahan baku menjadi barang jadi yang siap untuk dipakai atau dijual. Penentuan harga pokok produksi sangat penting dalam suatu perusahaan, karena merupakan salah satu elemen yang dapat digunakan sebagai pedoman dan informasi bagi pimpinan untuk mengambil keputusan.
Adapun tujuan penentuan harga pokok produksi yang lain, diantaranya adalah :
a. Sebagai dasar untuk menilai efisiensi perusahaan
b. Sebagai dasar dalam penentuan kebijakan pimpinan perusahaan
c. Sebagai dasar penilaian penyusunan neraca menyangkut penilaian terhadap aktiva.
d. Sebagai dasar untuk menetapkan harga penawaran atau harga jual kepada konsumen
e. Menentukan nilai persediaan dalam neraca, yaitu harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses akhir periode
f. Untuk menghitung harga pokok produksi dalam laporan rugi laba perusahaan
g. Sebagai evaluasi hasil kerja
h. Pengawasan terhadap efisiensi biaya, terutama biayaa produksi i. Sebagai dasar pengambilan keputusan
j. Untuk tujuan perencanaan laba.
3. Komponen Harga Pokok Produksi
Komponen biaya produksi dimulai dengan menghubungkan biaya ketahap yang berbeda dalam operasi bisnis. Pada akhir suatu jangka waktu operasi, penghitungan persediaan secara fisik harus dilakukan atas bahan baku, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi. Kemudiaan, pada akhir periode dibuat kalkulasi biaya barang yang dihasilkan (laporan beban pokok produksi). Dalam akuntansi yang konvesional, komponen harga pokok produksi terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
a. Biaya bahan baku
Biaya ini timbul akibat adanya pemakaian bhan baku. Biaya bahan baku merupakan harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi untuk membuat barang atau produk.
b. Biaya tenaga kerja langsung
Biaya ini timbul akibat adanya pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.
c. Biaya overhead pabrik
Biaya ini timbul akibat adanya pemakaian fasilitas untuk mengolah barang berupa mesin, alat-alat, tempat kerja, dan lain-lain.
4. Manfaat Harga Pokok Produksi
Menurut Mulyadi (2014) informasi harga pokok produksi bermanfaat bagi manajemen dalam :
a. Menentukan harga jual produk tersebut
Perusahaan yang berproduksi massa memproses produknya untuk memenuhi persediaan dipersatuuan produk. Dalam penetapan harga jual produk, biaya produksi per unit merupakan salah satu informasi yang dipertimbangkan di samping informasi biaya lain serta informasi non biaya.
b. Memantau realisasi biaya produksi
Akuntansi biaya digunakan untuk mengumpulkan informasi biaya produksi yang dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu untuk memantau apakah proses produksi mengkonsumsi total biaya produksi sessuai yang diperhitungkan sebelumnya.
c. Menghitung laba atau rugi bruto periode tertentu
Untuk mengetahui apakah kegiatan produksi dan pemasarran perusahaan dalam periode tertentu mampu menghasilkan laba bruto atau mengakibatkan rugi bruto. Menentukan harga pokok persediaan barang jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca. Pada saatnya manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban keuangan periodik, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laba rugi.
5. Penghitungan Harga Pokok Produksi
Didalam akuntansi biaya yang konvesional komponen-komponen harga pokok produk terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan overhead pabrik baik yang berssifat tetap maupun variabel.
Konsep harga pokok tersebut tidak selalu relevan dengan kebutuhan manajemen. Oleh karena itu timbul konsep lain yang tidak diperhitungkan semua biaya produksi sebagai komponen harga pokok produk.
Perhitungan harga pokok produksi pada produk diperhitungkan secara menyeluruh mulai dari perhitungan biaya administrasi dan penjualan suatu produk. Adanya perbedaan perlakuan terhadap FOH (Factory Over Head) tetapi ini akan mempunyai pengaruh terhadap perhitungan harga pokok produk dan penyajian laporan rugi laba.
Pendekatan Full Costing elemen biaya periodik hanya terdiri dari biaya administrasi dan penjualan. Elemen harga pokok produk. Dalam pendekatan Variable Costing dari semua unsur biaya produksi hanyalah biaya-biaya produksi
variabel yang diperhitungkan sebagai elemen harga pokok produk. Oleh karena itu pendekatan Full costing bagi manajemen lebih baik digunakan sebagai alat perencanaan dan pengambilan keputusan-keputusan jangka panjang yang mengharuskan untuk mempertimbangkan biaya-biaya produksi dan non produksi.
Dalam arus biaya Full Costing elemen biaya periodik hanya terdiri dari biaya administrasi dan penjualan. Elemen harga pokok produknya terdiri dari biaya overhead tetap, biaya overhead variabel serta biaya bahan baku dan tenaga kerja langsung. Dalam arus biaya Variable Costing elemen biaya periodik terdiri dari biaya overhead tetap ditambah dengan biaya administrasi penjualan.
Metode Full Costing dalam laporan laba rugi hasil perhitungan harga pokok tersebut akan ditempatkan sebagai pengurang atas total penjualan sebagai elemen bahan pokok penjualan dalam menghitung laba bruto.
Perbedaan antara metode Full Costing dan Variable Costing adalah pada tiap elemen biaya yang disebabkan oleh proses klasifikasi sesuai dengan kebutuhan dalam masing-masing pendekatan penyusunan laporan laba rugi.
5. Unsur-Unsur Harga Pokok Produksi
Biaya produksi perlu diklasifikasikan menurut jenis atau objek pengeluarannya. Hal ini penting agar pengumpulan data biaya dan alokasinya yang sering kali menuntut adanya ketelitian yang tinggi. Menurut Witjaksono (2006) biaya-biaya dalam penentuan harga pokok produksi terdiri dari tiga unsur :
a. Bahan Langsung (Direct Materials) Adalah semua bahan yang membentuk bagian integral dari barang jadi. Contoh : tepung terigu sebagai bahan baku dasar pembuatan mie atau roti.
b. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour) Adalah tenaga kerja yang dikerahkan untuk mengubah bahan langsung menjadi barang jadi. Contoh : upah pekerja pabrik pengolahan tepung terigu menjadi roti, dimulai dari pekerja yang mengolah campuran bahan baku hingga pengemasannya.
c. Biaya Overhead Pabrik (BOP) Adalah biaya-biaya produk selain biaya bahan langsung dan baiya tenaga kerja. BOP ini dibagi menjadi tiga:
1. Bahan tidak langsung Adalah bahan yang dibutuhkan guna menyelesaikan suatu produk, tetapi pemakaiannya sedemikian kecil atau sulit diukur per unit produk. Contoh : dalam perusahaan percetakan buku, adalah sangat sulit mengukur konsumsi / kebutuhan lem per unit buku.
2. Tenaga kerja tidak langsung Adalah tenaga kerja yang dikerahkan secara tidak langsung mempengaruhi pembuatan barang jadi. Contoh : supervisor produksi yang mengawasi mutu proses pembuatan roti dan melakukan uji petik kualitas atas produk akhir.
3. Biaya tidak langsung lainnya Adalah didefinisikan sebagai BOP selain BOP bahan tidak langsung dan BOP tenaga kerja tidak langsung.
Contoh : berbagai macam pungutan atau retribusi seperti keramaian / kebisingan, pemakaian air tanah, kebersihan dan sebagainya.