b) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HARTA BERSAMA ORANG YANG TIDAK BERADA DI TEMPAT (AFWEZIG)
A. Harta Benda Perkawinan
1. Harta Benda Perkawinan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Pengaturan harta benda perkawinan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mempunyai ketentuan yang berlainan dengan Undang-Undang Perkawinan. Dalam pasal 119 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata “mulai saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum berlakukah persatuan bulat antara harta kekayaan suami dan istri sepanjang tidak di tentukan lain”. Persatuan itu meliputi harta kekayaan suami dan istri, bergerak dan tidak bergerak, baik
57M. Yahya Harahap dalam Abdul Manaf, Aplikasi Asas Equalitas Hak dan Kedudukan Suami Istri dalam Penjaminan Harta Bersama Pada Putusan Mahkamah Agung, Bandung, Mandar Maju, h. 23
yang sekarang maupun yang kemudian, maupun pula yang mereka peroleh dengan cuma-cuma, kecuali si pewaris atau yang memberi hibah dengan tegas menetukan sebaliknya.58
Persatuan itu juga meliputi segala utang suami istri masing-masing yang terjadi baik sebelum maupun sepanjang perkawinan.59 Luasnya kebersamaan (percampuran) harta kekayaan dalam perkawinan adalah mencakup seluruh aktiva dan pasiva, baik yang diperoleh suami-istri , sebelum atau selama masa perkawinan mereka berlangsung, yang juga termasuk di dalamnya adalah modal, bunga dan bahkan utang-utang yang diakibatkan oleh suatu perbuatan yang melanggar hukum.
Dari isi pasal tersebut di atas, terlihat bahwa menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sejak dimulainya perkawinan terjadi suatu percampuran antara kekayaan suami dan kekayaan istri (algele gemeenschap van goederen). Ketentuan ini bersifat memaksa dan harus dipatuhi oleh suami istri tersebut, akan tetapi undangundang memberikan kesempatan untuk dapat disimpangi dengan adanya suatu perjanjian kawin.60
Terhadap persatuan bulat harta tersebut terdapat penyimpangan yaitu adanya harta pribadi disamping harta persatuan.Harta pribadi tersebut bisa diperoleh dengan adanya perjanjian kawin dan bisa juga karena adanya kehendak/syarat dari si penghibah atau si pewaris.61
Jadi menurut KUH Perdata, apabila suami dan istri pada waktu akan melakukan pernikahan tidak mengadakan perjanjian pisah harta diantara mereka maka akibat dari perkawinan itu ialah pencampuran kekayaan suami dan istri menjadi satu milik orang berdua bersama-sama dan bagian masing-masing dalam kekayaan bersama itu adalah separuh.62
Kebersamaan harta kekayaan dalam perkawinan itu merupakan hak milik bersama yang terikat, yaitu kebersamaan harta yang terjadi karena adanya ikatan diantara para pemiliknya.Hak
58Pasal 120 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
59Pasal 121 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
60Sonny Dewi Judiasih, op. cit, h. 22
61Fahmi Al Amruzi, Hukum Harta Kekayaan Perkawinan, (Studi Komparatif Fiqh, KHI, Hukum Adat dan KUHPerdata), Yogyakarta, Aswaja Pressindo, 2014, h.. 74
62Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, Abadi, Jakarta 2002, h.. 38-39
milik bersama yang terikat ini berbeda dengan hak milik bersama yang bebas, yaitu suatu bentuk hak milik, tetapi diantara pemiliknya tidak ada hubungan hukum kecuali mereka bersama-sama merupakan pemiliknya.Suami dan isteri yang memiliki hak atas kekayaan masing-masing, mereka tidak dapat melakukan kesalahan atau penyimpangan atas bagian mereka.63
Mengenai harta perkawinan, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menganut asas yang berbeda dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu : 64
a. Berdasarkan Pasal 119 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata , pada asasnya semua harta suami dan istri, baik yang dibawa masuk ke dalam perkawinan maupun yang diperoleh kedalam harta persatuan. Sedangkan Pasal 31 ayat (2) : Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatakan bahwa seorang istri sepanjang perkawinan tetap cakap untuk bertindak.
b. Menurut Pasal 124 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pengelolaan atas harta persatuan dilakukan oleh suami sendiri, sedangkan Pasal 35 ayat (2) UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatakan bahwa harta bawaan istri dan suami, yang dibawa masuk kedalam perkawinan, dengan sendirinya menjadi harta pribadi masing-masing suami/istri yang membawanya ke dalam perkawinan. Bercampurnya harta tersebut melauli perjanjian perkawinan justru merupakan pengecualian.
c. Menurut Pasal 105 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pengurusan atas harta pribadi istri, kalau ada, termasuk kalau ada hibah atau warisan yang jatuh pada si istri sepanjang perkawinan dan ditentukan tidak boleh masuk dalam harta persatuan, dilakukan oleh suami. Sedangkan menurut Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatakan bahwa atas harta pribadi, masing-masing suami/istri berhak untuk mengambil tindakan hukum sendiri, tanpa kerjasamanya garwa
63Soetojo Prawirohamidjojo dan Martalena Pohan, Hukum Orang dan Keluarga, (Airlangga University Press, Surabaya, h.. 54-44
64J. Satrio, Hukum Waris Tentang Pemisahan Boedel, PT. Citra Aditya, Bandung, 1998, h.. 12
yang lain (suami istrinya). Sedangkan tindakan atas harta bersama, suami harus mendapat persetujuan dari istri dan demikian pula sebaliknya.
Berdasarkan ketentuan Pasal 124 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, suamilah yang berhak mengurus harta bersama termasuk wewenang melakukan berbagai perbuatan terhadap harta tersebut. Isi Pasal 124 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut antara lain adalah :
a. Hanya suami saja yang boleh mengurus harta bersama itu;
b. Dia boleh menjual, memindahtangankan dan membebaninya tanpa bantuan istrinya, kecuali dalam hal yang diatur dalam Pasal 140;
c. Dia tidak boleh memberikan harta bersama sebagai hibah antara mereka yang sama-sama masih hidup, baik barang tak bergerak maupun keseluruhannya atau suatu bagian atau jumlah yang tertentu dan barang-barang bergerak, bila bukan kepada anak-anak yang lahir dan perkawinan mereka, untuk memberi suatu kedudukan;
d. Bahkan dia tidak boleh menetapakan ketentuan dengan cara hibah mengenai sesuatu barang yang khusus, bila dia memperuntukkan untuk dirinya hak pakai hasil dari barang itu.
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa si suami sendiri yang mengurus persatuan harta kekayaan, hanya sisuami yang berwenang melakukan perbuatan-perbuatan terhadap harta kekayaan tersebut. Namun demikian pengecualian, yakni suami tidak diperbolehkan menurus sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 140 ayat (3) KUH Perdata yang menyatakan, mereka juga berhak untuk membuat perjanjian, bahwa meskipun ada golongan harta bersama, barang-barang tetap, surat pendaftaran dalam buku besar pinjaman negara, surat-surat berharga lainnya dan piutang-piutang yang diperoleh atas nama istri, atau yang selama perkawinan dan pihak istri jatuh ke dalam harta bersama, tidak boleh dipindahtangankan atau dibebani oleh suaminya tanpa persetujuan istri.
Dalam Pasal 140 ayat (2) KUH Perdata ditentukan bahwa, demikian pula perjanjian itu tidak boleh mengurangi hak-hak yang diperuntukkan bagi si suami sebagai kepala persatuan
suami istri, namun hal ini tidak mengurangi wewenang istri untuk mensyaratkan bagi dirinya penurusan harta kekayaan pribadi, baik barangbarang bergerak maupun barang-barang tak bergerak, disamping penikmatan penghasilannya pribadi secara bebas.
Perbuatan-perbuatan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 140 ayat (2) KUH Perdata tersebut sifatnya memutus, bukan dalam pengertian mengurus (seperti dalam Pasal 140 ayat (1) KUH Perdata). Maksudnya perbuatan suami dibatasi, yaitu bahwa dia tidak berhak mengurusi harta-harta kekayaan diluar harta bersama, seperti harta bawaan dan harta perolehan karena kedua macam harta tersebut tetap menjadi wewenang masing-masing pasangan. Seorang istri dalam perkawinan mempunyai kewenangan untuk mengurus harta bersama, demikian pula membebani atau memindahkantangankan barangbarang persatuan dalam hal keadaan yang seperti diatur dalam pasal 125 KUH Perdata, yaitu jika suami tidak ada atau berada dalam keadaan tidak mungkin untuk menyatakan kehendaknya, sedangkan hal itu dibutuhkan segera, maka istri boleh mengikatkan atau memindahtangankan barang-barang dari harta bersama itu, setelah dikuatkan oleh pengadilan negeri.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata juga menentukan bahwa istri mempunyai hak untuk melepaskan bagiannya dalam kebersamaan harta kekayaan perkawinan dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Isteri tidak berhak lagi atas bagiannya dari aktiva harta bersama, kecuali hak atas pakaian, selimut dan seprai. Hal ini diatur dalam Pasal 132 ayat (1) KUH Perdata yang menyatakan bahwa hak isteri untuk melepaskan bagiannya tidak dihapuskan oleh perjanjian antara isteri dan suami atau antara isteri dengan phak ketiga. Artinya segala perjanjian yang bertentangan dengan ketentuan ini batal.
b. Isteri dibatasi kewajibannya dalam hal membayar utang-utang harta bersama. Hal ini diatur dalam pasal 132 ayat (2) KUH Perdata yang menyatakan bahwa dengan pelepasan ini, dia dibebaskan dari kewajiban untuk ikut membayar utang-utang harta bersama.
Batas waktu yang ditentukan adalah sebulan setelah terjadinya pembubaran atas
kebersamaan harta bersama. Dalam tempo tersebut istri juga dapat mengajukan hak pelepasan kepada Panitera pengadilan negeri di tempat kediaman suami-isteri terakhir.