PENGATURAN HUKUM APABILA HARTA BERSAMA DIJADIKAN SEBAGAI JAMINAN FIDUSIA DI PEGADAIAN
B. Harta Bersama Sebagai Jaminan Kredit di Pegadaian
Menurut R. Wirjono Prodjodikoro, bahwa yang dimaksud dengan harta benda yang diperoleh selama perkawinan harta bawaan dari masing-masing suami dan istri serta harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan adalah di bawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain.65 Jadi apabila ada harta benda yang diperoleh semasa perkawinan oleh suami istri, maka harta tersebut akan menjadi milik bersama dengan tanpa mempersoalkan siapa yang mendapatkannya atau yang mencari nafkah. Jika ada harta benda yang dibawa ke dalam perkawinan oleh si istri atau si suami, maka harta tersebut berada dalam kekuasaan masing-masing.66
64 Ibid, hal 86.
65 R. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, (Bandung : Sumur, 1992), hal 29.
66 Ibid.
Terhadap harta bersama suami atau istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak. Tegasnya jika istri atau suami ingin melakukan sesuatu terhadap harta bersama, haruslah terlebih dahulu mendapat persetujuan kedua belah pihak, suami istri tersebut. Dengan demikian dalam perjanjian kredit dengan jaminan harta bersama dalam perkawinan, maka harus ada persetujuan pihak suami atau istri yang bersangkutan.67 Seperti halnya yang terjadi di Pegadaian Cabang Medan Sunggal, ketika suami menjaminkan harta bersama untuk memperoleh fasilitas kredit, maka istrinya wajib mengetahui, menyetujui dan menandatangani perjanjian kredit di depan notaris pada saat proses pencairan kredit. Menurut M. Yahya Harahap bahwa jika terjadi perjanjian kredit dengan jaminan harta bersama dan tidak ada persetujuan dari pihak suami atau istri, maka atas perjanjian tersebut dapat dimintakan pembatalan perjanjian kredit dengan jaminan harta bersama tersebut.68
Dalam Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa mengenai harta bersama, suami istri dapat bertindak atas persetujuan kedua belah pihak.
Dari bunyi ketentuan di atas maka jelas bahwa:69
1. Suami dapat bertindak atas harta bersama setelah ada persetujuan istri.
2. Istri dapat bertindak atas harta bersama setelah mendapat persetujuan suami.
Dengan demikian, pada prinsipnya harta bersama itu diatur bersama dan dipergunakan bersama dan dalam segala sesuatunya harus ada persetujuan
67 Ibid.
68 M. Yahya Harahap, Op.Cit., hal 49.
69 Ibid., hal 50.
bersama. Berlainan halnya dengan prinsip yang diatur dalam hukum perdata (KUH Perdata) menurut Pasal 124 ayat (1) KUH Perdata ditentukan bahwa harta bersama berada di bawah urusan suami. Malah dalam Pasal 124 ayat 92) KUH Perdata tersebut dinyatakan bahwa si suami dapat menguasai, mengasingkan menggunakan barang harta bersama tanpa persetujuan dan campur tangan istri, kecuali sebelumnya ada perjanjian kawin (huwelijke voorwaarden) sesuai dengan Pasal 140 ayat (3) KUH Perdata.70
Dari bunyi Pasal 36 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1974 sebagaimana diuraikan di atas, maka dapat dilihat fungsi dan kegunaan harta bersama. Harta bersama itu dapat dipergunakan untuk kepentingan keluarga tetapi dalam penggunaannya boleh dilakukan salah satu pihak dengan syarat adanya persetujuan dari pihak lain, yaitu dalam hal:71
1. Baik dipergunakan untuk kepentingan kebutuhan dan perbelanjaan rumah tangga. Tentu inilah pertama kegunaan dari harta bersama. Maksud Pasal tersebut tidaklah begitu kaku penafsirannya, artinya tidaklah persetujuan kedua belah pihak dalam menggunakan harta bersama, merupakan kewajiban mutlak dalam segala hal. Sebab kalau setiap penggunaan harta bersama ini mesti diartikan selamanya harus ada persetujuan bersama, hal ini jelas akan membawa malapetaka bagi kehidupan rumah tangga dan mekanisme kehidupan rumah tangga akan macet dengan sendirinya. Oleh sebab itu dalam perbelanjaan yang menyangkut penggunaan sehari-hari adalah istri patut bertindak tanpa persetujuan suami atau sebaliknya jika
70 Ibid., hal 54.
71 Ibid., hal 55.
hendak belanja rokok, suami tidak perlu mendapat persetujuan istri, sehingga ukuran obyektif dalam hal ini, jika tindakan itu sepanjang yang menyangkut keperluan rutin, masing-masing pihak bebas tanpa persetujuan salah satu pihak. Dapat diperluas sekedar menyangkut kepentingan rumah tangga yang bersifat rutin serta kepentingannya suami istri dengan kondisi-kondisi kebudayaan masyarakat sekarang dalam batas-batas status sosial ekonomi keluarga yang dimungkinkan oleh besarnya harta bersama tersebut, tidaklah merupakan kewajiban adanya persetujuan yang mutlak dari masing-masing pihak. Sebab itu hubungan ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini pada pihak ketiga tidak membawa akibat hukum sekalipun tidak ada persetujuan pihak suami atau istri, jika penggunaan harta bersama itu merupakan perbelanjaan yang lazim dalam kehidupan sehari-hari. Kecuali misalnya membeli barang-barang kemewahan yang cukup tinggi harganya dan sudah di luar kepentingan yang masih tergolong pada keperluan sehari-hari barulah ketentuan Pasal 26 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan itu harus dipenuhi, artinya harus ada persetujuan dari kedua belah pihak. Jadi ketentuan tentang persetujuan itu harus dipahamkan sedemikian rupa sepanjang tindakan-tindakan yang menyangkut kepentingan-kepentingan sehari-hari yang tidak melampaui batas-batas kemampuan sosial ekonomi keluarga sendiri sehingga
mekanisme rumah tangga tidak terhambat kelancarannya sebagaimana suatu kehidupan rumah tangga normal.72
2. Harta bersama dapat diperuntukkan untuk membayar hutang suami atau istri, jika hutang itu sebab yang lahir untuk kepentingan keluarga. Akan tetapi kalau hutang-hutang pribadi yang timbul sebelum perkawinan sudah jelas harta bersama tidak dapat bertanggung jawab membayar hutang tersebut, harta pembayarannya diambil dari harta pribadi yang berhutang itu sendiri. Ini sesuai dengan ketentuan Pasal 35 ayat 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jadi hutang pribadi sebelum perkawinan adalah hutang yang terlepas hutang harta bersama yang pemenuhan pembayarannya diambil dari harta pribadi kecuali pihak lain (suami/istri) setuju pembayarannya dari harta bersama. Jika harta pribadi suami tidak cukup membayar hutangnya, maka untuk kepastian yang memberi jaminan hukum pada kehidupan keluarga agar jangan setiap kebocoran dan kecerobohan salah satu pihak harus dilimpahkan pada harta bersama yang akan membawa kesengsaraan pada kehidupan keluarga dan sebaliknya memberi peringatan kepada pihak ketiga supaya jangan dengan mudah saja tanpa memikirkan resiko begitu bebas memberi hutang pinjaman tanpa batas kepada seseorang tanpa perhitungan yang cermat sampai dimana batas kemampuan kekayaan pribadi yang bersangkutan.73 Adanya hak suami dan istri untuk mempergunakan atau memakai harta bersama ini dengan persetujuan kedua belah pihak (secara timbal balik) adalah
72 Ibid., hal 60.
73 Ibid., hal 64.
sudah sewajarnya mengingat bahwa hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kewajiban suami dalam lingkungan kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat dimana masing-masing berhak untuk melakukan perbuatan hukum, sebagaimana hal ini ditegaskan dengan jelas dalam Pasal 31 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Ketentuan Pasal 31 ayat 1 dan 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mensejajarkan antara hak dan kedudukan suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat adalah sangat jauh sekali berbeda dengan tata hidup dan kehidupan masyarakat zamannya KUH Perdata yang dibuat ratusan tahun yang telah lalu, dimana wanita yang berada dalam ikatan perkawinan dianggap dan dinyatakan tidak cakap untuk melakukan perbuatan hukum. Ini tercermin pada Pasal 108 dan Pasal 110 KUH Perdata.74
Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa suami dan istri sama-sama berhak untuk mempergunakan atau memakai harta bersama dengan persetujuan kedua belah pihak secara timbal balik. Syarat persetujuan kedua belah pihak, hendaknya dipahami sedemikian rupa dengan luwes, dimana tidaklah dalam segala hal mengenai penggunaan atau pemakaian harta bersama sebagai jaminan kredit ini diperlukan adanya persetujuan kedua belah pihak secara formil atau secara tegas. Dalam beberapa hal tertentu persetujuan kedua belah pihak ini harus dianggap ada, sebagai persetujuan yang diam-diam. Misalnya dalam hal ini mempergunakan atau memakai harta bersama untuk keperluan hidup sehari-hari
74 Ibid., hal 65.
sebagaimana diuraikan di atas adalah untuk menghindari permasalahan suami istri dalam pergaulan hidup bersama di tengah-tengah masyarakat.75
Suami atau istri dapat melakukan perbuatan hukum terhadap harta bersama dengan persetujuan kedua belah pihak.76 Perbuatan hukum yang dimaksud antara lain menyewakan, menjual dan menjaminkan harta bersama untuk memperoleh fasilitas kredit.77 Diperlukannya persetujuan suami atau istri jika salah satu pihak hendak menggunakan harta bersama adalah didasarkan kepada asas keseimbangan antara hak dan kedudukan suami istri baik dalam rumah tangga maupun kehidupan masyarakat.78
Pada prakteknya di Pegadaian, sebelum dilakukan pencairan kredit, petugas administrasi mikro, analis dan asisten manajer mikro sudah memeriksa segala berkas persyaratan yang diajukan, sudah melihat langsung ke lapangan, sudah berkali-kali melakukan survey sehingga mampu memutuskan apakah layak untuk diberikan kredit atau tidak. Terhadap harta bersama yang dijadikan jaminan fidusia di Pegadaian, maka Pegadaian awalnya memeriksa berkas jaminan tersebut, jika dibeli selama masa perkawinan, maka disimpulkan bahwa itu adalah harta bersama. Segala tindakan hukum yang terjadi terhadap harta bersama tersebut maka wajib diketahui suami dan istri. Pada saat proses pencairan kredit, si suami dan si istri harus datang ke Pegadaian untuk menandatangani seluruh perjanjian kredit di hadapan notaris yang turut hadir di Pegadaian.
75 Ibid., hal 67.
76 Pasal 36 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974
77 Pasal 91 ayat 4 Kompilasi Hukum Islam
78 Pasal 31 ayat 1 UU No 1 Tahun 1974.
BAB III
PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT TERHADAP HARTA