PERBEDAAN SABAR PADA KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT DEWASA AWAL
HASIL ANALISA
Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa nilai mean sabar pada tipe kepribadian ekstrovert sebesar 50,77 dan nilai mean pada kepribadian introvert sebesar 48,48 yang berarti bahwa adanya perbedaan sabar pada individu dengan kepribadian ekstrovert dan introvert.
Namun, berdasarkan Tabel 2 nilai Sig. pada Levene’s Test penelitian ini sebesar 0,379 dengan nilai P-Value (P>0,005) yang berarti varians dari tipe kepribadian ekstrovert dan introvert adalah sama. Hal ini, menunjukan bahwa nila t pada penelitian ini adalah 1.264 dan
signifikan sebesar 0,208 dengan nilai P-Value (P>0,005) yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada kepribadian ekstrovert dan introvert pada dewasa awal. Sehingga, dapat diambil kesimpulan bahwa individu dengan kepribadian ekstrovert maupun introvert dapat memiliki kesabaran dalam semua tingkatan.
DISKUSI
Penelitian ini dilakukan pada 136 reponden, yang terdiri dari 27 (19.8%) responden laki-laki dan 109 (80.2%) responden perempuan, dan jumlah subjek dengan tipe kepribadian ekstrovert sebanyak 90 (66.2%) responden dan subjek dengan tipe kepribadian sebanyak 46 (33.8%) responden. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adanya perbedaan sabar pada kepribadian ekstrovert dan introvert dewasa awal.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden dengan rentan umur 18 hingga 25, menggambarkan bahwa tidak adanya perbedaan sabar yang signifikan pada kepribadian ekstrovert dan introvert pada dewasa awal. Sehingga dapat dikatakan bahwa individu dengan kepribadian ekstrovert maupun introvert dapat memiliki kesabaran dalam setiap tingkatan. Hal ini juga didukung oleh penemuan peneliti terhadap sifat-sifat yang menjadi unsur komponen sabar berjumlah seimbang disetiap kepribadiannya.
Terdapat dua sifat yang dimiliki oleh individu dengan tipe kepribadian ekstrovert, salah satunya adalah optimis yang menjadi komponen penunjang dalam sabar. Sifat optimis tersebut dimiliki oleh individu dengan tipe kepribadian ekstrovert yang berarti bahwa individu tersebut optimis dalam mencapai tujuannya (Eysenck & Wilson, 1980). Begitu pula sifat semangat yang juga didukung oleh pernyataan Jung dalam ektrovert-perasaan bahwa sifat tersebut dimiliki oleh individu dengan kepribadian ekstrovert, yang berarti bahwa individu tersebut bersemangat dalam mencari
[71]
solusi/mencari ilmu untuk setiap tujuannya (Semiun, 2013).
Sedangkan pada individu dengan tipe kepribadian introvert mampu menahan emosi postif maupun
negatifnya. Menahan emosi disini adalah sebagai salah satu unsur komponen utama dalam sabar, yang berarti bahwa individu dengan kepribadian ini mampu menahan emosinya dalam setiap kejadian atau peristiwa yang menimpanya (Eysenck & Wilson, 1980). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Ratnaningsing (2015) yang dilakukan pada wiraniaga yang harus menghadapi tuntutan kerja, yang mengharuskannya tetap berekspresi positif seperti tersenyum meskipun mereka memiliki resiko ditolak oleh konsumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa individu dengan tipe kepribadian introvert lebih mampu menejemen emosinya dibandingkan individu dengan tipe kepribadian ekstrovert.
Selain itu, hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Sinuraya (2009) yang menyimpulkan bahwa semakin tinggi kecenderungan ekstrovert pada individu akan semakin tinggi perilaku agresinya, yang berarti bahwa individu dengan tipe kepribadian introvert memiliki unsur kompenen utama sabar dengan mengendalikan pikiran, perkataan, dan perilaku yang tidak sesuai nilai/norma yang berlaku.
Selain sifat tersebut, sifat konsisten juga dimiliki oleh kepribadian introvert sebagai salah satu unsur komponen penunjang dalam sabar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa individu dengan kepribadian introvert tidak mudah berubah-ubah dalam mencapai tujuannya meskipun terdapat banyak rintangan yang menghampirinya, entah sebuah kebahagiaan atapun kesulitan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dengan demikian, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah Hipotesis Null pada penelitian ini diterima dan Hipotesis Alternatifnya ditolak yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada kepribadian ekstrovert dan introvert. Nilai mean sabar pada tipe kepribadian ekstrovert sebesar 50,77 dan nilai mean pada kepribadian introvert sebesar 48,48 yang berarti bahwa adanya perbedaan sabar pada individu dengan kepribadian ekstrovert dan introvert, namun tidak signifikan karena nilai t pada penelitian ini adalah 1.264 dengan nilai P Value (P>0,005) yaitu 0,208.
Saran
1. Subjek Peneliti
Sebagai individu yang memiliki karakter/kepribadian yang berbeda-beda hendaknya sebagai manusia yang diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangan senantiasa meningkatkan nilai sabar pada diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
2. Peneliti Lain
Saran bagi peneliti yang merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan kajian yang hampir sama, disarankan mengambil subjek dewasa awal yang lebih luas, tidak hanya berstatus sebagai mahasiswa/mahasiswi disebuah institusi perguruan tinggi karena banyak individu dengan rentan usia tersebut yang juga tidak melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Alwison (2012). Psikologi Kepribadian: Edisi Revisi. Malang: UMM Press. Al Jauziyah, I.A.Q. (2006). Kemuliaan
Sabar dan Keagungan Syukur. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
[72]
Burger, J.M. (2011). Introduction to Personality. Wadsworth: Cengange Learning.
Corvone, D. & Pervine, L.A. (2011).Kepribadian (Teori dan Penelitian): Edisi 10 Buku 1.Jakarta: Salemba Humanika.
Creswell, J.W (2013). Research Design:Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Darmawan, D. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya
El Hafiz, S., Mundzir, I., Rozi, F., & Pratiwi., L. (2015). Pergeseran Makna Sabar dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Ilmiah Penelitian Psikologi: Kajian Empiris & Non-Empiris. 1 (1). 33-38. El Hamdy, U. (2015). Sabar Tanpa Batas,
Syukur Tiada Akhir. Jakarta: WahyuQolbu.
Eysenck, H.J. & Wilson, G (1980).Mengenal Diri Pribadi. Jakarta: Ans Sungguh Bersaudara.
Feist, J. & Feist, G.J. (2011). TeoriKepribadian: Edisi 7 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika.
Feist, J. & Feist, G.J. (2014). TeoriKepribadian: Edisi 7 Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.
Friedman, H.S. & Schustack, M.W. (2008).Kepribadian (Teori Klasik dan Riset Modern): Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Fudyartanta (2012). Psikologi Kepribadian:Paradigma Filosofis, Tipologis, Psikodinamik dan Organismik-Holistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Karomah, S. N. (2014). PerbedaanKecenderungan Perilaku Bunuh Diri Ditinjau Dari Tipe Kepribadian (Doctoral Dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).
Khalid, A.M. (2006). Sabar dan Bahagia: 3Metode Nabi Mencerdaskan Emosi. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta. Kritiyani, Y.M. (2009). Hubungan
AntaraTipe Kepribadian
Ekstrovert-Introvert dengan Orientasi Ketrampilan Komunikasi Interpersonal Pada Distributor Multi Level Marketing. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Malahayati (2002). Ketika Wanita HarusBersabar. Semarang: Pustaka Widyamara.
Papalia D.E., Olds, S.W, & Feldman, R.D.2009. Human Development (Perkembangan Manusia): Edisi 10 Buku 2. Jakarta: Salemba Humanika. Paramitha, R. (2010). Perbedaan
PrestasiBelajar Ditinjau dari Tipe Kepribadian Ekstravert-Introvert pada Mahasiswa Universitas Negeri Malang. Skripsi Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi-Fakultas Ilmu Pendidikan UM.
Pervin, L.A., Cervone, D., & John, O.P(2010). Kepribadian (Teori dan Penelitian): Edisi 9. Jakarta: Kencana. Ratnaningsih, I. Z. (2015).
ManajemenEmosi Sesuai Tuntutan Kerja (Emotional Labor) Ditinjau Dari Tipe Kepribadian Pada Wiraniaga. Jurnal Psikologi Undip, 14(1), 21-28. Santrock, J.W. (2012). Life
SpanDevelopment: Edisi Ketigabelas Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Sarwono, J. (2006). Metode PenelitianKuantitatif & Kualitatif. Yogyakarrta: Graha Ilmu.
Semiun, Y. (2013). Teori-Teori Kepribadian: Psikoloanalitik Kontemporer. Yogyakarta: Kanisius. Seniati, L., Yulianto, A., & Setiadi,
B.N.(2015). Psikologi Eksperimen. Jakarta: PT. Indeks.
Subandi (2011). Sabar: Sebuah KonsepPsikologi. Jurnal Psikologi. 38 (2). 215-227.
Sugiyono (2007). Metode PenelitianKuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono (2015). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.
Sunarti, N. (2012). Tipe Kepribadian,Tingkat Pendidikan, Status Sosial Ekonomi dan Ide Bunuh Diri
[73]
(Studi Kasus di Kota Surakarta) (Doctoral dissertation, Universitas Muham-madiyah Surakarta).
Sinuraya, D. (2009). Hubungan antaraKepribadian Ekstrovert Dengan Perilaku Agresi Pada Remaja (Doctoral
dissertation, Universitas Muhammadiyah Surakarta).
Suyabrata (1993). Psikologi Kepribadian.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Suryabrata (2008). Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
[75]
Prosiding Konferensi Nasional Peneliti Muda Psikologi Indonesia 2017 Vol. 2, No. 1, Hal 75-84