• Tidak ada hasil yang ditemukan

KELUARGA PADA KELUARGA BERSTATUS EKONOMI MENENGAH KE BAWAH

PENGARUH LONELINESS TERHADAP SUBJECTIVE WELL BEING DI KALANGAN DEWASA AWAL MAHASISWA UNIVERSITAS

KELUARGA PADA KELUARGA BERSTATUS EKONOMI MENENGAH KE BAWAH

Eva Novalina [email protected]

Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Abstrak

Ketahanan keluarga adalah kemampuan seluruh anggota keluarga dalam menghadapi kesulitan, stres, atau masalah keluarga. Berdasarkan fenomena dimana pasangan suami istri yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah cenderung menimbulkan stres dan konflik. Penelitian ini melihat adanya pengaruh fungsi keluarga dan sabar terhadap ketahanan keluarga. Subjek penelitian ini adalah 220 orang, dengan kriteria suami atau istri bekerja, memiliki status ekonomi menengah ke bawah dan keluarga yang bertahan. Pengambilan subjek tersebut secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala fungsi keluarga diadaptasi dari MsMaster Family Assessment Device (FAD) 12 item (Katrina dkk, 2015), skala sabar dalam Subhan dkk (2012), dan skala ketahanan keluarga diadaptasi dari Family Resilience Assessement Scale-Chinese Version (FRAS-C) dalam Li dkk (2016). Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda, memperoleh hasil bahwa fungsi keluarga memiliki pengaruh terhadap ketahanan keluarga dengan R sebesar 0,316, R Square 0,100 pada level signifikan 0,000 < 0,05. Sedangkan sabar terhadap ketahanan keluarga dengan R sebesar 0,440, R Square 0,194 pada level signifikan 0,000 < 0,05. Selanjutnya, fungsi keluarga dan sabar terhadap ketahanan keluarga dengan R sebesar 0,480, R Square 0,230 pada level signifikan 0,000 < 0,05. Artinya, fungsi keluarga dan sabar berkontribusi terhadap ketahanan keluarga sebesar 23% dan 77% variabel lain yang tidak diketahui dalam penelitian ini.

Kata kunci:fungsi keluarga, sabar, ketahanan keluarga, pasangan suami istri, ekonomi

menengah ke bawah

PENDAHULUAN

Pernikahan menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Summa, 2005). Sedangkan pernikahan menurut hukum Islam adalah suatu akad atau perikatan untuk menghalalkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga yang diliputi rasa ketentraman serta kasih sayang dengan cara yang diridai Allah (Basyir, 2004). Kedua pengertian tersebut memiliki persamaan bahwa pernikahan harus didasarkan akad atau

ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan untuk mencapai keluarga yang bahagia.

Keluarga memiliki hubungan antara anggota keluarga, yaitu hubungan pasangan suami istri, hubungan orangtua-anak, dan hubungan antarsaudara (Lestari, 2012). Untuk mencapai keharmonisan hubungan antara suami dan istri tidaklah mudah karena terdapat beberapa konflik dalam keluarga, salah satunya masalah ekonomi (Lestari, 2012) terutama pada keluarga yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah. Bila dilihat data kemiskinan di Indonesia pada bulan Maret tahun 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penduduk orang miskin secara

[48]

nasional tercatat sebanyak 28,005 juta jiwa atau 10,86 %.

Dari fenomena tersebut menunjukkan bahwa banyak keluarga yang memiliki status ekonomi menengah ke bawah, dan berisiko mengalami tekanan ekonomi. Tekanan ekonomi adalah ketidakmampuan untuk membayar kebutuhan dasar, ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan, dan harus mengurangi biaya yang diperlukan, menyebabkan peningkatan risiko tekanan orangtua (Neppl, Shinyoung & Thomas, 2015). Sehingga dapat mempengaruhi stres pada pasangan suami istri.

Masalah ekonomi pada keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah tersebut dapat menimbulkan stres pada istri. Hal ini didukung oleh Saefullah (2010) yang mengatakan bahwa stres yang menimpa para istri biasanya menyangkut persoalan ekonomi, karena harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, misalnya, sementara penghasilan suami yang tidak mengalami perubahan, membuat para istri bingung bagaimana mengatur keuangan rumah tangga. Kemudian menurut Hawari (2001) salah satu penyebab stresor psikososial yaitu masalah keuangan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pendapatan lebih kecil dari pengeluaran sehingga menimbulkan stres, cemas dan depresi.

Selanjutnya, dalam penelitian yang dilakukan oleh Tenah K. A. Hunt, Cleopatra H. Caldwell & Shervin Assari (2015) bahwa ayah yang berusia remaja berisiko gejala depresi dan merasakan stres ekonomi pada keluarga yang memiliki tekanan ekonomi. Stres didefinisikan sebagai reaksi tubuh pada diri seseorang akibat berbagai persoalan yang dihadapi. Gejala-gejalanya mencakup mental, sosial, dan fisik; bisa berupa kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan (Saefullah, 2010).

Menurut penelitian Baker dkk (1987), stres pada seseorang akan mengubah cara

kerja sistem kekebalan tubuh. Para peneliti ini juga menyimpulkan bahwa stres bisa menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit berupa menurunnya jumlah fighting desease cells atau sel-sel kekebalan tubuh (Saefullah, 2010). Seperti pada keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah yang mengalami stres menyebabkan konflik keluarga, atau bahkan terjadinya kekerasan dalam keluarga karena adanya pengangguran dan tidak mampu lagi mencari nafkah yang benar serta halal. Namun, ada pula keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah mampu bertahan dengan situasi ekonomi tersebut, hal ini dikarenakan adanya ketahanan yang dimiliki dalam keluarga.

Daya tahan atau ketahanan menurut Luthar et al. (2000) adalah mengacu pada proses dinamis meliputi adaptasi positif dalam konteks kesulitan yang signifikan (Rand D. Conger & Katherine J. Conger, 2002). Menurut Hawley dan DeHaan (1996) ketahanan keluarga merupakan lintasan keluarga melalui penyesuaian dan berhasil dalam menghadapi stres, baik di masa sekarang dan dari waktu ke waktu. Ketahanan keluarga menanggapi kondisi ini dengan cara unik yang positif, tergantung pada konteks, tingkat perkembangan, risiko kombinasi interaktif dan faktor pelindung, serta harapan bersama keluarga.

Menurut Li dkk (2016) ketahanan keluarga terdiri dari tiga faktor yaitu komunikasi keluarga dan pemecahan masalah, memanfaatkan sumber daya sosial, dan mempertahankan pandangan positif. Dimana ketiga faktor tersebut berhubungan dengan teori Walsh (2003) dan termasuk dalam model atau proses ketahanan keluarga. Hubungan ketiga faktor dengan teori Walsh yaitu proses komunikasi, pola organisasi, dan sistem kepercayaan keluarga. Selain tiga faktor tersebut, ada faktor lain yang membuat keluarga bertahan dalam situasi ekonomi tersebut yaitu keuletan, kuat dan optimisme (Xiaonan Yu & Jianxin Zhang, 2007).

[49]

Selanjutnya, Keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah secara keseluruhan bisa bertahan karena adanya kohesi, fleksibilitas dan komunikasi (Olson, 2011). Dimana ketiga dimensi tersebut termasuk kedalam fungsi keluarga, karena tujuan dari fungsi keluarga adalah untuk menciptakan harmonisasi keluarga (Hidayat, 2012). Menurut Mustafa (2008) Keharmonisan keluarga bersumber dari kerukunan hidup didalam keluarga (Hidayat, 2012). Ciri-cirinya sesama anggota keluarga terdapat hubungan yang nyata, teratur dan baik (Hidayat, 2012).

Fungsi keluarga menurut Patterson (2002) adalah cara di mana keluarga memenuhi fungsinya. Maksudnya ialah, dalam hubungan antara anggota keluarga saling membutuhkan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan anggotanya. Secara hakikat, keluarga memiliki fungsi keagamaan, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi atau pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pembinaan lingkungan (Hidayat, 2012).

Menurut Olson (2011) model Circumplex terdiri dari tiga konsep untuk memahami fungsi keluarga yaitu kohesi, fleksibilitas, dan komunikasi. Kohesi mencerminkan kekuatan ikatan emosional antara anggota keluarga. Fleksibilitas mencerminkan kualitas kepemimpinan dan organisasi keluarga seperti yang terlihat dalam aturan dan kinerja yang terkait dengan peran, dan komunikasi mencerminkan metode komunikasi positif yang digunakan anggota keluarga.

Fungsi keluarga yang baik yaitu adanya keseimbangan antara setiap dimensi, yaitu kohesi, fleksibilitas dan komunikasi. Hal ini didukung oleh Olson (2011) mengatakan bahwa tingkat yang seimbang antara kohesi dan fleksibilitas termasuk karakteristik keluarga yang lebih sehat sedangkan masalah dalam keluarga biasanya tidak seimbang. Sedangkan menurut Katrina dkk (2015) untuk menilai fungsi keluarga dapat menggunakan model MsMaster. Model MsMaster ini terdiri dari

enam dimensi yaitu pemecahan masalah, komunikasi, peran, respon afektif, keterlibatan afektif, dan kontrol perilaku (Miller dkk, 2000).

Fungsi keluarga mempengaruhi ketahanan keluarga karena dalam faktor ketahanan terdapat lingkungan keluarga yang berkolerasi dengan ketahanan. Hal ini didukung oleh Herrman dkk (2011) yang menyatakan bahwa faktor ketahanan terdiri dari faktor pribadi, faktor biologis dan faktor lingkungan. Dimana tingkat lingkungan mikro terdapat dukungan sosial, termasuk hubungan dengan keluarga dan teman sebaya, ikatan emosional dengan ibu, stabilitas keluarga, hubungan yang aman dengan orang tua, orangtua yang baik, dan tidak adanya ibu yang depresi berkorelasi dengan ketahanan. Selain itu, menurut Oshri dkk (2015) fungsi keluarga dapat dikonseptualisasikan sebagai proses dan memunculkan hasil ketahanan.

Penelitian yang dilakukan Oshri dkk (2015) tentang ketahanan dalam konteks keluarga dan secara empirismenjelaskan jenis fungsi keluarga yang mendukung ketahanan antara anggota keluarga. Menurut Walsh (1998) temuan dari berbagai penelitian, identifikasi dan sintesis mengenai proses kunci dalam tiga domain dari fungsi keluarga, yaitu sistem kepercayaan keluarga, pola organisasi, dan proses komunikasi (Walsh, 2003). Tiga domain tersebut dijadikan proses ketahanan keluarga, dan menurut Walsh (2003) fungsi keluarga mempengaruhi proses ketahanan keluarga.

Selain fungsi keluarga, yang membuat keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah bisa bertahan, mereka harus menahan diri untuk tidak berkeluh kesah. Dalam Islam disebut dengan sabar, karena menurut Ibn Al-Qayyim (2005) sabar adalah menahan diri untuk tidak berkeluh kesah, mencegah lisan untuk merintih dan menghalangi anggota tubuh untuk tidak menampar pipi dan merobek pakaian dan sejenisnya. Sabar menurut Malahayati (2002) adalah kekuatan akhlak yang dapat menyupai energi untuk

[50]

memikul berbagai kesulitan, penderitaan, cobaan dan perjuangan.

Amr bin Utsman Al- Makki berkata, sabar ialah tegar bersama Allah dan menghadapi ujian-Nya dengan lapang dada dan tenang (Ibnu Qayyim, 2000). Hampir sama dengan pengertian sabar sebelumnya, menurut Subhan dkk (2012) sabar adalah respon awal yang aktif dalam menahan emosi, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang taat pada aturan untuk tujuan kebaikan dengan didukung oleh optimis, pantang menyerah, semangat mencari informasi atau ilmu, memiliki semangat untuk membuka alternatif solusi, konsisten, dan tidak mudah mengeluh.

Sabar dapat mempengaruhi ketahanan keluarga karena menurut Xiaonan Yu & Jianxin Zhang (2007) ketahanan memiliki tiga faktor yaitu, faktor keuletan, kuat dan optimisme. Dari ketiga faktor tersebut, salah satu diantaranya optimisme merupakan bagian dari unsur pendukung sabar. Dimana sabar tersebut memiliki tujuan kebaikan dan adanya rasa optimis serta pantang menyerah yang termasuk kedalam faktor keuletan dan faktor optimisme. Menurut Walsh (2003) dalam proses ketahanan keluarga, keluarga juga harus memiliki rasa optimis dan optimis tersebut dapat dipelajari, maka sabar dapat mempengaruhi ketahanan keluarga.

Menurut Herrman dkk (2011) terdapat faktor pribadi seperti, ciri-ciri kepribadian yang optimisme dimana optimis tersebut berkaitan dengan komponen pendukung sabar (Subhan dkk, 2012). Selain itu, salah satu faktor dari Li dkk (2006) yaitu komunikasi keluarga dan pemecahan masalah berkaitan dengan semangat untuk membuka alternatif solusi dari unsur pendukung sabar (Subhan dkk, 2012) karena dalam faktor tersebut salah satunya memiliki kemampuan melakukan solusi untuk pemecahan masalah. Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh fungsi keluarga dan sabar terhadap ketahanan

keluarga pada keluarga berstatus ekonomi menengah ke bawah.

METODE