• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara Internet Addiction dan Self Regulated Learning pada Siswa SMP di Kecamatan Karawaci

Yosua Natanael

[email protected]

Stefanus Soejanto Sandjaja

[email protected]

Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci. Subjek dalam penelitian ini melibatkan 288 siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) berusia 11-16 tahun di Kecamatan Karawaci yang terdiri dari kelas VII, VIII, dan IX. Subjek penelitian ini dipilih dengan cluster random sampling. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan MSLQ (Motivated Strategies for Learning Questionnaire) yang diadaptasi dari Wolters, Pintrich, dan Karabenick (2005) untuk mengukur self regulated learning. Sementara itu, skala internet addiction diadaptasi dari skala gabungan AICA-S dan CIUS oleh Kuss, Shorter, van Rooij, Griffiths dan Schoenmakers (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci (r = -0,087; p> 0,05). Analisis tambahan menunjukkan tidak ada hubungan antara internet addiction dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi dengan self regulated learning. Implikasi dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kesadaran akan dampak perkembangan teknologi pada kehidupan siswa terhadap proses pembelajaran siswaguna mendapatkan hasil yang baik.

Kata kunci: internet addiction, self regulated learning, siswa SMP Pendahuluan

Belajar merupakan suatu proses kegiatan yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia seumur hidup. Penelitian mengenai belajar telah menjadi topik utama dan memiliki sejarah panjang dalam penelitian psikologi (Mayer & Alexander, 2011). Belajar diartikan sebagai proses aktivitas mental yang terjadi dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan pada pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap-sikap secara relatif konstan dan berbekas (Winkel, 2009). Dalam proses pembelajaran diperlukan pengalaman, praktik, dan latihan serta diperlukan proses evaluasi pada akhir pembelajaran untuk mengetahui perkembangan belajar (Slavin, 2009). Dalam memenuhi proses

pembelajaran tersebut, sekolah diciptakan bagi individu untuk memperoleh proses pembelajaran dan proses sosial, sehingga individu dapat terdidik, berkembang dan memperoleh bekal untuk kehidupan di masyarakat.

Pada tanggal 15 Maret - 15 Juni 2016, peneliti melakukan survei awal penelitian dengan membagikan angket Daftar Cek Masalah (DCM) kepada 338 siswadi salah satu SMP di Kecamatan Karawaci. Survei awal penelitian yang dilakukan bertujuan untuk melihat fenomena yang terjadi di Kecamatan Karawaci. Daftar Cek Masalah (DCM) yang dibagikan peneliti terdiri dari 12 topik, yaitu kesehatan, ekonomi, rekreasi dan hobi, keluarga, agama dan moral, sosial dan organisasi, pribadi dan sosial, muda-mudi, penyesuaian terhadap

[28]

sekolah, penyesuaian terhadap kurikulum, karier, dan sosial media. Berdasarkan hasil survei awal penelitian ditemukan topik penyesuaian terhadap kurikulum merupakan topik yang paling menonjol, yaitu sebesar 18,63% dibandingkan rata-rata seluruh topik permasalahan sebesar 13,98%.

Berdasarkan aitem-aitem paling bermasalah pada topik penyesuaian terhadap kurikulum dan sekolah dalam DCM, ditemukan bahwa 45-60%siswa merupakan siswa dengan self regulated learning. Penemuan jumlah 45-60% siswa dengan self regulated learning ini tergolong jumlah yang tinggi, karena siswa dengan self regulated learning merupakan siswa dengan prestasi akademik yang tinggi. Sementara itu biasanya dalam satu sekolah, siswa yang memiliki prestasi akademik yang tinggi hanya sedikit, yaitu sebesar 15,86% (Wardatul & Pudjisstuti, 2015). Selain ditemukan fenomena jumlah siswa dengan self regulated learning yang tinggi, data DCM juga menemukan terdapat permasalahan pada topik sosial media, yaitu terdapat fenomena internet addiction sebesar 32 - 45%.

Santrock (2008) menyebutkan adanya regulasi diri (self regulated learning) dalam belajar akan membuat individu mengatur tujuan akademik dan sosioemosional, melakukan evaluasi dan membuat adaptasi yang diperlukan demi mencapai prestasi yang ditetapkan. Self regulated learning adalah kemampuan seseorang mengatur diri dalam belajar disertai kedisiplinan dalam mempertahankan pikiran, perasaan, dan perilaku untuk mencapai tujuan akademik (Zimmerman & Martinez-Pons, 1988; Zimmerman, 1990; Zimmerman, 2002; Zimmerman & Schunk, 2011; Santrock, 2008). Menurut Zimmerman (1989), self regulated learning mencakup tiga aspek yang diaplikasikan dalam belajar, yakni a) metakognitif, yaitu kemampuan proses untuk memahami dan memilah pendekatan pembelajaran dan hal yang perlu dikerjakan dalam suatu keadaan yang diberikan; b) motivasi, yaitu

ketertarikan individu terhadap tugas yang diberikan dan berusaha dengan tekun dalam belajar dengan memilih, menyusun, dan menciptakan lingkungan yang disukai untuk belajar; c) perilaku, yaitu upaya individu untuk mengatur diri, menyeleksi, memanfaatkan, dan menciptakan lingkungan yang mengoptimalkan pencapaian atas aktivitas yang dilakukan. Siswa dengan self regulated learning membuat tujuan belajar, mengimplementasikan strategi belajar yang efektif, memonitor dan menilai kemajuan tujuan mereka, menciptakan lingkungan yang produktif untuk belajar, dan menjaga sense of self efficacy (Zimmerman & Schunk, 2011). Siswa dengan self regulated learning menjadi ahli dalam belajar, seperti lebih mengenal diri sendiri, mengetahui cara belajar dan gaya belajar yang tepat untuk mengatasi persoalan yang sulit, dan mengetahui minat bakat diri siswa (Woolfolk, 2010).

Selain hal-hal mengenai self regulated learning di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai variabel ini, yaitu self regulated learning kurang tepat untuk kelas 3 SD ke bawah (Woolfolk, 2010). Selanjutnya, menurut Zimmerman dan Martinez Pons (1990), bertambahnya usia dan tingkat kelas membuat strategi belajar siswa dalam meninjau dari bahan bacaan ke catatan pribadi mereka menjadi berkurang, sehingga menurunkan self regulated learning. Selain itu, siswa perempuan lebih mampu menjaga dan mengawasi belajar mandiri, menata lingkungan, dan menentukan tujuan perencanaan daripada siswa laki-laki (Zimmerman & Martinez-pons, 1990). Pada survey awal penelitian ini ditemukan juga adanya fenomena internet addiction sebesar 32 - 45%. Internet addiction adalahperilaku individu menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam berinteraksi dengan internet hingga mengabaikan aspek-aspek kehidupan pribadi (Young, 1996; Widyanto & Griffiths, 2006). Menurut Griffiths (2000) perilaku internet addiction memiliki ciri

[29]

komponen utama dari perilaku adiksi, yaitu a). salience, terjadi ketika penggunaan internet menjadi aktivitas yang paling penting dalam kehidupan individu; b). mood modification, yaitu suasana hati yang dihasilkan sebagai konsekuensi dari keterlibatan tinggi saat menggunakan internet; c). tolerance, yaitu proses dimana terjadi peningkatan jumlah aktivitas penggunaan internet untuk mencapai efek yang dirasakan sebelumnya; d). withdrawal, merupakan perasaan tidak menyenangkan atau efek fisik yang terjadi ketika penggunaan internet dikurangi atau tidak dilanjutkan; e). conflict, ditandai dengan munculnya permasalahan-permasalahan dengan orang-orang di sekelilingnya (keluarga atau teman-teman) yang disebabkan karena internet; f). relapse, ditandai dengan indikator kecenderungan atau dorongan untuk mengulangi perilaku menggunakan internet secara terus menerus.

Penelitian yang telah ada menunjukkan bahwa internet addiction memiliki korelasi negatif dengan self regulated learning, yaitu siswa dengan internet addiction menghabiskan sejumlah waktu di depan internet hingga membuat siswa kehabisan waktu untuk mengerjakan kewajiban belajar sebagai seorang pelajar (Lee, Cho, Kim, & Noh, 2015; Dhull & Sangeeta, 2012; Jin, dalam Lee et al, 2015; Kibona & Mgaya, 2015). Siswa dengan internet addiction memiliki kontrol yang kurang terhadap self regulated learning. Hal ini dikarenakan siswa terus-menerus terganggu oleh keinginan untuk berinteraksi dengan internet ketika sedang belajar dan tidak memiliki cukup kontrol atas penggunaan internet. Penemuan survei awal pada DCM berbeda dengan penemuan-penemuan tersebut, yaitu jumlah siswa yang memiliki masalah internet addiction dan siswa dengan self regulated learning berbanding lurus, padahal secara teoritis seharusnya berbanding terbalik. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melihat bagaimana hubungan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di

Kecamatan Karawaci. Alasan peneliti memilih siswa SMP dikarenakan generasi remaja sekarang merupakan generasi yang tumbuh dengan teknologi internet, sehingga disebut "Generasi Net" (Tapscott, 2008). Siswa yang memiliki self regulated membuat tujuan belajar, mengimplementasikan strategi belajar yang efektif, memonitor dan menilai kemajuan tujuan mereka, menciptakan lingkungan yang produktif untuk belajar, dan menjaga sense of self efficacy (Zimmerman & Schunk, 2011). Namun, untuk mencapai self regulated learning, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor personal, faktor perilaku dan faktor lingkungan (Zimmerman, 1986). Lingkungan yang semakin berkembang dengan teknologi, yaitu handphone, pemutar CD, komputer, dan televisi mengajak siswa untuk ikut menikmati perkembangan teknologi, sehingga banyak siswa tidak memiliki pengaturan diri dalam belajar akibat gangguan konstan tersebut (Zimmerman, 2002).

Berkembangnya teknologi, disertai dengan perkembangan internet, yaitu alat baru yang berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari di seluruh dunia dan penggunaannya meningkat terutama di kalangan anak muda (Yen, Yen, Chen, Chen, & Ko, 2007). Penggunaan yang menghabiskan sejumlah waktu sangat banyak dalam menggunakan internet dan tidak mampu mengontrol penggunaannya saat online disebut sebagai internet addiction (Young, 1996). Internet addiction mempengaruhi kinerja akademik siswa sekolah, terutama kelompok internet addiction yang parah dan mendalam, karena siswa kehabisan waktu untuk mengerjakan tugas demi bermain internet.Siswa yang tidak dapat mengatur diri akibat internet addiction mengalami defisit dalam aspek metakognitif self regulated learning, yaitu pengambilan keputusan dan kehilangan strategi belajar yang efektif, sehingga sulit dalam mengikuti dan mempelajari suatu pelajaran (Sun, Chen, Ma, Zhang, Fu, & Zhang,

[30]

2009). Hal ini membuat siswa menjadi tidak memahami pelajaran dengan baik dan mengakibatkan motivasi yang dimiliki siswa dengan self regulated learning menurun dalam usaha memahami pelajaran (Purnomo, 2013).

Siswa yang memiliki self regulated learning memiliki aspek perilaku, dapat mengatur lingkungan sekitar untuk belajar, yaitu mengatur lingkungan yang kondusif, mengelola waktu (mengingatkan diri sendiri dalam pengerjaan tugas), menangani gangguan-gangguan yang mengganggu belajar, melakukan pemantauan motivasi dan mengendalikan emosi saat belajar (Ramdass & Zimmerman, 2011). Internet addiction membuat siswa lebih suka berinteraksi dengan mesin dibandingkan dengan manusia (Griffiths, 2000). Siswa yang tidak memiliki interaksi sosial, maka akan memiliki hambatan dalam proses penerimaan informasi dalam belajar. Hal ini dikarenakan dalam interaksi sosial terdapat proses penyampaian pesan oleh individu kepada individu lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh pada prestasi belajar (Mulyaningsih, 2015).

Berdasarkan penjabaran latar belakang penelitian di atas, makatujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci. Adapunpenelitian ini bermanfaat bagi perkembangan psikologi pendidikan dan cyber psychology di Indonesia. Selanjutnya, penelitian ini juga bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran akan dampak perkembangan teknologi terhadap proses pembelajaran siswa. Selain itu, hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisa

korelasional, karena peneliti ingin melihat hubungan antara internet addiction dan self regulated learning.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa SMP dengan rentang usia 11-16 tahun, pria dan wanita, berstatus sebagai siswa aktif di SMP dan bersekolah di SMP swasta dan negeri yang berlokasi di Kecamatan Karawaci. Teknik cluster random sampling digunakan dalam pengambilan sampel.Adapun sistem pengambilan data dilakukan dengan memilih secara acak enam dari 13 Kelurahan di Kecamatan Karawaci, kemudian memilih tiga Kelurahan sebagai data uji coba dan tiga Kelurahan sebagai data penelitian. Jumlah kuesioner yang disebar berjumlah 482, yaitu 194 kuesioner sebagai data uji coba dan 288 kuesioner sebagai data penelitian.

Instrumen Pengukuran

Instrumen pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) untuk mengukur variabel self regulated learning dan Internet Addiction Component Scale (IACS) yang merupakan analisis aitem gabungan alat ukur internet addiction, yaitu AICA-S dan CIUS.Kedua alat ukur yang digunakan dalam penelitian berbentuk skala Likert.

Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) yang digunakan dalam penelitian ini merupakan alat ukur self regulated learning yang dikembangkan oleh Wolters, Pintrich, dan Karabenick (2005). Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) terdiri dari 96 aitem yang mewakili tiga dimensi self regulated learning yaitu metacognition(26 aitem), motivation (36 aitem), dan behavior (34 aitem). Respons dan skoring setiap aitem MSLQ adalah 1 (sangat tidak sesuai) sampai 7 (sangat sesuai). Akan tetapi, respons dan skoring MSLQ pada penelitian ini diubah menjadi 1 (sangat tidak sesuai) hingga 5 (sangat sesuai), dikarenakan peneliti menyesuaikan dengan subjek

[31]

penelitian yang belum dapat memilih dengan rentang yang banyak (Azwar, 2012). Berdasarkan uji validitas isi oleh tiga guru bahasa Indonesia, enam anak SMP dan psikolog pendidikan, didapatkan 81 aitem dari 96 aitem skala self regulated learning. Setelah uji validitas isi, peneliti melakukan uji validitas konstruk, yaitu validitas untuk melihat apakah skala tersebut mengukur konsep atau teori yang sedang diteliti. Peneliti melakukan uji validitas konstruk dengan menyebar skala uji coba self regulated learning terhadap 192 siswa SMP di Kecamatan Karawaci dan didapatkan 43 aitem dengan validitas 0,301 - 0,461 yang digunakan untuk mengukur variabel self regulated learning. Selain itu, uji coba terhadap 192 siswa memperoleh koefisien  = 0,889.

Internet Addiction Component Scale (IACS) yang digunakan adalah hasil analisis aitem gabungan AICA-S dan CIUS yang dibuat oleh Kuss, Shorter, van Rooij, Griffiths dan Schoenmakers (2014). Alat ukur ini terdiri dari 11 aitem yang mengukur enam komponen internet addiction, yaitu salience, withdrawal, mood modification, tolerance, relapse, dan conflict. IACS menggunakan skala sikap berbentuk Likert dengan pilihan respon: 1 (tidak pernah), 2 (jarang), 3 (cukup sering), 4 (sering), dan 5 (sangat sering). Pada penelitian ini, peneliti menambah dua aitem dari masing-masing komponen internet addiction, karena jumlah aitem terlalu sedikit untuk uji try out. Berdasarkan uji validitas isi oleh tiga guru bahasa Indonesia, enam anak SMP dan psikolog pendidikan, didapatkan skala internet addiction menjadi 24 aitem yang dapat dikatakan menggambarkan konstruk

penelitian serta memiliki bahasa yang mudah dimengerti. Penambahan jumlah aitem ini dikarenakan ada satu aitem dari 23 aitem bermakna ganda, sehingga aitem tersebut dipecah menjadi dua aitem. Setelah uji validitas isi, peneliti melakukan uji validitas konstruk terhadap 194 siswa SMP di Kecamatan Karawaci dan didapatkan 19 aitem dengan validitas 0,315 - 0,717 yang digunakan untuk mengukur variabel internet addiction. Selain itu, uji coba terhadap 194 siswa memperoleh koefisien  = 0,904.

Prosedur

Peneliti memilih tiga sekolah berbeda dari 16 sekolah di setiap kelurahan yang terdiri dari dua sekolah swasta dan satu sekolah negeri secara acak. Hal ini dilakukan agar sampel diharapkan dapat menggambarkan populasi siswa SMP di Kecamatan Karawaci yang terdiri dari sekolah swasta dan negeri. Setelah itu, peneliti melakukan penyebaran kuesioner di kelas VII, VIII, dan IX masing-masing satu kelas di setiap sekolah. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 13 Januari 2017 dan 16 Januari 2017.

Analisis Data Uji Asumsi

Peneliti melakukan uji normalitas dan uji linearitas pada data sebelum melihat hubungan antar variabel bersifat parametric atau non-parametric. Hasil uji normalitas pada sampel self regulated learning menunjukkan nilai signifikansi Shapiro-Wilk sebesar 0,784 (p > 0,05). Hasil uji normalitas pada sampel internet addiction menunjukkan nilai signifikansi Shapiro-Wilk sebesar 0,015 (p < 0,05).

[32]

Berdasarkan hasil-hasil uji normalitas tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sampel self regulated learning berdistribusi normal, sedangkan internet addiction tidak berdistribusi normal.

Hasil uji linearitas menunjukan nilai sig. Linearity sebesar 0,522 (p > 0,05) dan nilai sig. Deviation of Linearity sebesar 0,019 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa variabel internet addiction dengan self regulated learning tidak linear.

Uji Hipotesis

Uji korelasi non-parametric Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci. Hal ini dikarenakan terdapat pelanggaran terhadap uji asumsi, yaitu internet addiction tidak berdistribusi normal dan data penelitian tidak linear, sehingga statistik non-parametric digunakan untuk melihat korelasi antar variabel. Untuk mengetahui perbedaan internet addiction dan self regulated learning dalam variabel demografis, digunakan uji t untuk membandingan dua kelompok dan ANOVA untuk membandingkan lebih dari tiga kelompok.

Hasil

Internet Addiction

Berdasarkan Tabel 1, dapat dilihat bahwa nilai rata-rata empirik internet addiction sebesar 49,79, sedangkan nilai rata-rata hipotetik internet addiction sebesar 57. Nilai rata-rata empirik tersebut termasuk dalam kategori sedang. Hal ini berdasarkan kategorisasi yang dibuat peneliti, yaitu 19 - 43 kategori rendah, 44 -

69 kategori sedang, dan 70 - 95 kategori tinggi. Nilai minimum (terendah) internet addiction 288siswa SMP di Kecamatan Karawaci sebesar 19 dan nilai maksimum (tertinggi) sebesar 88. Berdasarkan kategori di atas, nilai subyek sebesar 19 termasuk dalam kategori rendah dan nilai subyek sebesar 88 tergolong kategori tinggi. Secara keseluruhan, terdapat 11,46% subyek termasuk dalam kategori tinggi, 53,82% subyek termasuk kategori sedang dan

34,72% subyek termasuk kategori rendah. Berdasarkan Tabel 2, tidak ditemukan perbedaan internet addiction pada siswa laki-laki dan perempuan (t = 3,881; p > 0,05). Selanjutnya, tidak ada perbedaan antara siswa berusia 14-16 tahun dan usia 11-13 tahun (t = -0,813; p > 0,05). Berdasarkan Tabel 3, tidak ada perbedaan antara kelas VII, kelas VIII, dan kelas IX (F = 0,194; p > 0,05). Terakhir, tidak ada perbedaan antara sekolah SMPN 15 Tangerang, SMP Puspita dan SMP Islamic Centre (F = 2,065; p > 0,05).

Self Regulated Learning

Pada Tabel 1 menunjukkan nilai rata-rata empirik self regulated learningsebesar 161,78, sedangkan nilai rata-rata hipotetik self regulated learning sebesar 129. Nilai rata-rata empirik tersebut termasuk kategori tinggi. Hal ini berdasarkan kategorisasi yang dibuat peneliti, yaitu 43 - 99 kategori rendah, 100 - 157 kategori sedang, dan 158 - 215 kategori tinggi. Nilai minimum (terendah) self regulated learning288siswa SMP di Kecamatan Karawaci sebesar 111 dan nilai maksimum (tertinggi) sebesar 208. Berdasarkan kategori di atas, nilai

[33]

subyek sebesar 111 termasuk dalam kategori sedang dan nilai subyek sebesar 208 tergolong kategori tinggi. Secara keseluruhan, terdapat 57,99% subyek yang termasuk kategori tinggi, 42,01% subyek termasuk dalam kategori sedang, dan tidak ada subyek termasuk kategori rendah. Berdasarkan Tabel 2, tidak ditemukan perbedaan self regulated learningpada siswa laki-laki dan perempuan (t = -2,625; p > 0,05). Selanjutnya, tidak ada perbedaan antara usia 14-16 tahun dan usia 11-13 tahun (t = 3,875; p > 0,05). Berdasarkan Tabel 3, ada perbedaan antara kelas VII, VIII, dan IX (F = 0,194; p < 0,05). Terakhir, tidak ada perbedaan antara sekolah SMPN 15 Tangerang, SMP Puspita, dan SMP Islamic Centre (F = 0,992; p > 0,05).

Internet Addiction dan Self Regulated Learning

Hasil uji korelasi menunjukkan nilai r = -0,087 dan p > 0,05. Berdasarkan hasil uji korelasi tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesa ditolak, karena tidak terdapat hubungan yang signifikan antara internet addiction dan self-regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci. Selanjutnya, peneliti membagi internet addiction berdasarkan kategori rendah, sedang dan tinggi untuk melihat hubungan internet addiction pada setiap tingkat adiksi terhadap self-regulated learning. Berdasarkan pembagian kategori tersebut, tidak ditemukan adanya hubungan antara internet addiction kategori rendah, sedang dan tinggi dengan self regulated learning. Tabel 4, menunjukkan hasil uji korelasi

antara 100 siswa internet addiction kategori rendah dengan self regulated learning menunjukkan nilai r = -0,032 dengan p > 0,05. Selanjutnya, hasil uji korelasi antara 155 siswa internet addiction kategori sedang dengan self regulated learning menunjukkan nilai r = -0,038 dengan p > 0,05. Terakhir, hasil uji korelasi antara 33 siswa internet addiction kategori tinggi dengan self regulated learning menunjukkan nilai r = 0,019 dengan p > 0,05. Pada penelitian ini, peneliti juga menemukan tidak ada hubungan antara internet addiction kategori rendah, sedang, dan tinggi terhadap aspek-aspek self regulated learning dengan nilai p > 0,05 dan r < 0,2.

Diskusi

Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa hipotesis null penelitian ini diterima, yaitu tidak ada hubungan yang signifikan antara internet addiction dan self regulated learning pada siswa SMP di Kecamatan Karawaci (r = -0,087; p > 0,05). Penelitian ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya, yaitu kecanduan internet melalui penggunaan smartphone yang tinggi memiliki kontrol yang kurang terhadap self regulated learning (Lee, Cho, Kim, & Noh, 2015). Kontrol yang kurang dikarenakan siswa terus-menerus terganggu oleh aplikasi pada ponsel ketika sedang belajar dan tidak memiliki cukup kontrol atas penggunaan smartphone. Penelitian ini juga berbeda denganpenemuan sebelumnya, yaitu ada hubungan negatif antara internet addiction dan self regulated learning (Kibona & Mgaya, 2015; Dhull

[34]

&Sangeeta, 2012; Jin dalam Lee dkk, 2015)

Temuan berbeda dalam penelitian ini dikarenakan berdasarkan amatan peneliti di lapangan, hampir sebagian subjek penelitian saat penyebaran data mengaku tidak diberikan ponsel dan layanan internet yang memadai proses belajar oleh orangtua serta tidak sering bersentuhan dengan internet sehari-hari. Oleh karena itu, siswa lebih banyak berinteraksi dengan teman-teman sebaya dengan belajar bersama dan mengerjakan tugas sekolah daripada menggunakan internet. Kemungkinan lainnya, ada perbedaan biaya SPP per-bulan antara sampel sekolah dengan sekolah yang dijadikan survei awal yang menyebabkan adanya perbedaan kondisi ekonomi yang dilihat dari kondisi gedung dan fasilitas sekolah. Kondisi tidak memiliki smartphone dan perbedaan ekonomi menyebabkan uji normalitas internet addiction tidak berdistribusi normal.

Peneliti membagi tiga pengguna internet addiction berdasarkan kategori data yang peneliti temukan untuk melihat hubungan internet addiction pada setiap tingkatan adiksi terhadap self regulated learning. Uji korelasi terhadap 100 siswa dengan kategori internet addiction rendah, 155 kategori sedang, dan 33 kategori tinggi terhadap self regulated learning. Peneliti menemukan bahwa pada skor internet addiction kategori rendahdengan self regulated learning menunjukkan nilai r = -0,032 dan p > 0,05, yang berarti tidak ada hubungan yang signifikan. Sedangkan, pada skor internet addiction kategori sedang dengan self regulated learning menunjukkan nilai r = -0,038 dan p > 0,05, yang berarti juga tidak terdapat hubungan yang signifikan. Selanjutnya, pada skor internet addiction kategori tinggi dengan self regulated learning menunjukkan nilai r = 0,019 dan p > 0,05, juga menunjukkan