• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Uji Asumsi

2. Hasil analisis data individual

Analisis individual dilakukan dengan membandingkan skor self esteem setiap subjek dengan rerata skor kelompok pada saat pretest, post test dan follow up. Hasil analisis ini kemudian disajikan dalam bentuk grafik. Selain itu, hasil analisis individual juga dilengkapi dengan data yang diperoleh dari lembar tugas subjek maupun dari hasil buku tugas rumah subjek serta dari wawancara pada tahap follow up (tindak lanjut). Setiap subjek diberi inisial huruf abjad secara berurutan. Berikut ini secara berturut-turut disajikan hasil data subjek A, B, C, D, dan E.

a. Subjek A

Subjek A merupakan salah satu korban bullying di sekolahnya. Berdasarkan Skala Bullying diketahui bahwa subjek A mengalami bullying beberapa kali dalam seminggu. Ia mengalami bullying baik secara fisik, verbal maupun relasional dari teman-teman sekelasnya.

Gambar 3. Perbandingan Skor Self Esteem Antara Subjek A Dengan Mean Kelompok REBT

Dari Gambar 3, terlihat bahwa pada saat pretest skor self esteem subjek A adalah 98 (kategori rendah). Pada saat post test, skornya meningkat menjadi 135 (kategori sedang), namun pada saat follow up skornya turun menjadi 133, tetapi masih berada dalam kategori sedang. Terlihat juga bahwa pada saat pretest subjek A memperoleh skor di atas mean (rerata) kelompoknya. Pada saat post test subjek A memperoleh skor sama dengan mean (rerata) kelompoknya, namun pada saat follow up, skornya berada di bawah mean (rerata) kelompoknya. Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor Skala Self Esteem terlihat bahwa pada saat post test, peningkatan subjek A terutama terjadi pada aspek self esteem yakni merasa mampu, dan skornya tetap bertahan pada saat follow up. Rangkuman skor Skala Self Esteem subjek A dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Rangkuman Skor Skala Self Esteem Subjek A Perasaan Berharga Perasaan Mampu Perasaan Diterima Pretest Post Test Follow Up Pretest Post Test Follow Up Pretest Post Test Follow Up 98 135 133 97 135 137 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Pretest Post test Follow up

S k or S e lf E s te e m Skor Subjek A

Berdasarkan hasil lembar tugas 1 diketahui bahwa subjek A mampu menuliskan kejadian bullying yang ia alami, pikiran-pikiran yang terlintas saat kejadian bullying tersebut terjadi, bagaimana perasaan serta apa yang ia lakukan saat itu. Adapun kejadian bullying yang dialami subjek A antara lain secara fisik, uang jajannya dipalak, baju olah raganya disembunyikan, ditendang dan dipukul jika tidak mau melaksanakan hal yang disuruh kepadanya, dan diancam akan dipukul jika memberitahukan kepada orangtua mengenai kejadian bullying yang dialaminya oleh teman-temannya. Selain itu secara verbal, ia diejek dengan sebutan gobsu (bungkuk) dan nama orangtuanya ditertawakan/ diejek oleh teman-temannya. Secara relasional, ia merasa kurang diterima karena ia tidak diikutsertakan bermain bola bersama teman-temannya.

Subjek A masih memiliki pikiran yang irasional terhadap kejadian bullying yang dialaminya, seperti menganggap teman-temannya selalu jahat kepadanya, tidak mau bermain dengannya, dan tidak menghargai nama orangtuanya, mungkin karena nama orangtuanya jelek. Ia juga menganggap tubuhnya kecil, ia lemah dan tidak berani melawan/ mempertahankan dirinya dari kejadian bullying yang menimpanya. Pikiran tersebut menyebabkan ia merasa sangat sedih. Selama ini yang dapat ia lakukan hanya berdiam diri, menyendiri, menangis dan tidak mau berteman dengan pelaku bullying. Setelah berdiskusi dalam kelompok, subjek A sudah mampu memahami hubungan antara pikirannya dengan perasaan dan perilakunya yakni pikirannya yang

menentukan bagaimana perasaan dan perilakunya, bukan kejadian. Selain itu ia juga mampu memahami dampak dari pikiran terhadap perasaan dan perilaku yaitu pikiran positifnya akan berdampak pada perasaan dan perilaku yang positif. Sebaliknya, pikirannya yang negatif akan berdampak pada perasaan dan perilakunya yang negatif.

Berdasarkan hasil lembar tugas 2 diketahui bahwa subjek A sudah mampu memahami definisi, aspek-aspek dan ciri-ciri dari self esteem yang tinggi dan rendah. Ia sudah mampu menggolongkan pikiran, perasaan dan perilakunya ke dalam beberapa aspek-aspek self esteem yaitu perasaan dihargai, mampu, dan diterima. Ia merasa tidak dihargai

karena diejek “gobsu/bungkuk”, nama orantuanya diejek, uang

jajannya sering dipalak, diperlakukan seperti pembantu dan baju olah raganya disembunyikan oleh teman-temannya. Ia merasa tidak mampu karena tidak berani atau tidak sanggup untuk melawan pelaku bullying dan merasa tidak diterima oleh teman-temannya karena ia ditolak atau tidak boleh bermain bola bersama teman-temannya.

Berdasarkan hasil lembar tugas 3 diketahui bahwa subjek A sudah mampu mengidentifikasi pikiran-pikiran negatifnya. Ia menyadari bahwa pikiran tersebut merupakan opini dan dapat dirubah. Pada lembar tugas 4 diketahui bahwa ia sudah mampu membedakan mana pikiran yang merupakan fakta dan opini. Berdasarkan hasil lembar tugas 5 diketahui bahwa ia sudah mampu mengubah pikiran negatif menjadi pernyataan-pernyataan yang positif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Berdasarkan hasil lembar

tugas 6 diketahui bahwa ia sudah mampu menuliskan pikiran-pikiran positif dari dirinya maupun kelebihan dirinya.

Berdasarkan hasil lembar tugas 7 diketahui bahwa subjek A sudah mampu menuliskan komitmennya agar ia memiliki perasaan dan perilaku yang lebih positif ditengah kejadian bullying yang ia alami yaitu dengan berani melaporkan kejadian bullying yang dialami kepada orangtua dan guru, merubah pikiran-pikiran negatifnya menjadi pikiran yang lebih positif, memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang dirasakan pada pelaku bullying dan meminta mereka untuk tidak melakukan tindakan bullying lagi kepada dirinya. Kemudian mengumpulkan bukti dan saksi bahwa ia mengalami bullying. Berdasarkan hasil lembar tugas 8 diketahui bahwa ia sudah mampu menuliskan reward yang akan diterimanya jika ia mampu melaksanakan komitmennya, yaitu ia akan berenang, menonton atau bermain bersama teman-temannya.

Berdasarkan hasil buku tugas rumah diketahui bahwa subjek A sudah mencoba mempraktikkan komitmen atau keterampilan yang ia peroleh selama terapi. Ia mengalami kejadian bullying seperti diejek dengan sebutan gobsu (bungkuk), ditolak untuk bergabung dalam kelompok sepak bola teman-temannya, nama orangtuanya ditertawakan/ diejek oleh teman-temannya, dipukul saat belajar dan ditendang saat berjalan oleh teman-teman sekelasnya.

Secara umum pikiran yang terlintas saat itu adalah ia memandang dirinya memang memiliki tubuh yang bungkuk, tidak sehebat

teman-temannya dalam bermain bola, menganggap teman-teman-temannya nakal, memandang dirinya bertubuh kecil, lemah dan tidak berani melawan. Pikiran tersebut secara umum membuatnya merasa sedih, merasa tidak diterima, tidak dihargai dan tidak mampu mempertahankan atau melindungi dirinya.

Akan tetapi ia mampu merubah pikirannya tersebut dengan pikiran yang lebih positif antara lain berpikir bahwa meskipun ia bungkuk, tapi tidak sebungkuk nenek-nenek. Meskipun tidak sehebat teman-temannya dalam bermain bola, namun ia memiliki keinginan yang besar untuk pandai bermain bola. Teman-temannya tidak selalu jahat kepadanya dan nama orangtuanya lebih bagus dari pada nama teman-temannya yang suka mengejek nama orangtuanya. Meskipun tubuhnya kecil, tapi tubuhnya tidak sekecil Ucok Baba, ia harus lebih kuat dan meskipun ia tidak berani melawan, setidaknya ia berusaha mengungkapkan hal yang ia rasakan. Dengan merubah pikirannya menjadi lebih positif, subjek A merasa tidak sedih lagi, lebih tenang, dan tetap percaya diri. Selain itu ia juga memberanikan diri menasehati temannya agar tidak melakukan bullying kepada dirinya dan tetap mau berteman dengan pelaku bullying.

Berdasarkan hasil wawancara dengan subjek A pada tahap tindak lanjut (dua minggu setelah pemberian terapi) diketahui bahwa ia masih mengalami kejadian bullying. Ia masih disuruh-suruh oleh teman-temannya untuk membelikan jajan ke kantin sekolah. Saat ia menolaknya, ia malah diejek gobsu (bungkuk). Selain itu ia dipukul

oleh teman sekelasnya saat ujian karena ia tidak memberikan contekan. Ia juga dilempar dengan es batu saat keluar main-main oleh temannya. Saat kejadian bullying tersebut terjadi, subjek A mengakui bahwa masih ada pikiran negatif yang terlintas dipikirannya sehingga membuatnya merasa sedih, seperti berpikir bahwa teman-temannya selalu jahat kepadanya dan ia memang bungkuk. Akan tetapi ia langsung mengganti pikiran-pikiran negatif tersebut dengan pikiran yang lebih positif, yaitu teman-temannya tidak selalu jahat, mereka hanya sedang khilaf, dan meskipun ia bungkuk, namun tidak sebungkuk nenek-nenek. Perasaannya jauh lebih tenang dan rasa sedihnya juga berkurang dengan memiliki pikiran yang lebih positif.

Subjek A merasa dirinya cukup berharga bagi teman-temannya meskipun dengan kejadian bullying yang ia alami. Ia merasa berharga karena menurutnya dan kata teman-temannya bahwa ia adalah anak yang baik dan suka membantu teman yang sedang kesusahan saat mengerjakan tugas. Awalnya ia merasa tidak berharga karena temannya selalu jahat kepadanya dan ia selalu diejek gobsu. Akan tetapi dengan mengubah pikiran negatif tersebut menjadi pikiran yang lebih positif membuatnya merasa lebih berharga bagi teman-temannya.

Subjek A merasa cukup mampu menangani kejadian bullying yang ia alami karena menurutnya ia sudah mulai berani mempertahankan dirinya saat mengalami bullying, misalnya dengan meminta agar teman-temannya tidak melakukan bullying kepada dirinya lagi. Selain itu ia juga merasa mampu menjalin interaksi dengan teman-temannya.

Ia dapat memulai percakapan terlebih dahulu dengan teman-temannya dan bahkan dengan pelaku bullying.

Meskipun demikian, subjek A merasa kurang diterima oleh teman-temannya karena saat ia menawarkan diri unuk bergabung dalam kelompok tugas Matematika, ia ditolak padahal kelompok tersebut masih membutuhkan anggota. Setelah ia bergabung dengan kelompok lain, kelompok tersebut malah menerima temannya untuk bergabung dalam kelompok tersebut. Kejadian tersebut membuatnya merasa tidak diterima oleh teman-temannya.

Berdasarkan hasil analisis individual dapat dilihat bahwa self esteem subjek A meningkat. Self esteem subjek A tergolong rendah sebelum terapi, namun setelah diberikan terapi meningkat menjadi sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa REBT dapat membantu meningkatkan self esteem subjek A.

b. Subjek B

Subjek B merupakan salah satu korban bullying di sekolahnya. Berdasarkan Skala Bullying diketahui bahwa subjek B mengalami bullying beberapa kali dalam seminggu. Ia mengalami bullying baik secara fisik, verbal maupun relasional dari teman-teman sekelasnya.

Gambar 4. Perbandingan Skor Self Esteem Antara Subjek B Dengan Mean Kelompok REBT

Dari Gambar 4, terlihat bahwa pada saat pretest skor self esteem subjek B adalah 98 (kategori rendah). Pada saat post test, skornya meningkat menjadi 132 (kategori sedang) dan pada saat follow up skornya juga naik menjadi 139 (kategori sedang). Terlihat juga bahwa pada saat pretest subjek B memperoleh skor di atas mean (rerata) kelompoknya, namun pada saat post test skornya berada di bawah mean (rerata) kelompok. Pada saat follow up skornya naik kembali yaitu di atas mean (rerata) kelompoknya. Berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor Skala Self Esteem terlihat bahwa pada saat post test, peningkatan subjek B terutama terjadi pada aspek self esteem yakni merasa diterima, dan skornya semakin meningkat pada saat follow up. Rangkuman skor Skala Self Esteem subjek dapat dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Rangkuman Skor Skala Self Esteem Subjek B Perasaan Berharga Perasaan Mampu Perasaan Diterima Pretest Post Test Follow Up Pretest Post Test Follow Up Pretest Post Test Follow Up 98 132 139 97 135 137 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Pretest Post test Follow up

S k o r S e lf E s te e m Skor Subjek B

Berdasarkan hasil lembar tugas 1 diketahui bahwa subjek B mampu menuliskan kejadian bullying yang ia alami, pikiran-pikiran yang terlintas saat kejadian bullying tersebut terjadi, bagaimana perasaan serta apa yang ia lakukan saat itu. Adapun kejadian bullying yang dialami subjek B antara lain secara fisik, subjek B dicubit, rambutnya dijambak, kepalanya dipukul, kakinya dijegal, dan ditendang jika tidak melakukan hal yang disuruh oleh teman-teman sekelasnya. Selain itu secara verbal, ia diejek sok pintar dan dihina jika ia mengalami kesulitan oleh teman sekelasnya.

Secara umum, subjek B masih memiliki pikiran yang irasional terhadap kejadian bullying yang dialaminya, seperti menganggap teman-temannya jahat, menganggap dirinya memiliki tubuh yang kecil sehingga pantas dipukul, dan memandang dirinya sebagai orang yang sok pintar karena ejekan teman-temannya. Selain itu ia juga memiliki pikiran bahwa ia adalah anak yang lemah karena tidak sanggup dan tidak berani melawan/mempertahankan dirinya. Pikiran tersebut menyebabkan ia merasa sedih, merasa tidak dihargai dan dan sakit hati. Selama ini yang dapat ia lakukan hanya berdiam diri, menghindari pelaku bullying dan membalas mengejek teman-temannya yang mengejek dirinya. Meskipun demikian, ia sudah mencoba untuk memberanikan diri untuk menasehati teman-temannya agar tidak melakukan bullying kepada dirinya lagi. Setelah berdiskusi dalam kelompok, subjek B sudah mampu memahami hubungan antara pikirannya dengan perasaan dan perilakunya yakni pikirannya yang

menentukan bagaimana perasaan dan perilakunya, bukan kejadian. Selain itu ia juga mampu memahami dampak dari pikiran terhadap perasaan dan perilaku yaitu pikiran positifnya akan berdampak pada perasaan dan perilaku yang positif. Sebaliknya, pikirannya yang negatif akan berdampak pada perasaan dan perilakunya yang negatif.

Berdasarkan hasil lembar tugas 2 diketahui bahwa subjek B sudah mampu memahami definisi, aspek-aspek dan ciri-ciri dari self esteem yang tinggi dan rendah. Ia sudah mampu menggolongkan pikiran, perasaan dan perilakunya ke dalam beberapa aspek-aspek self esteem yaitu perasaan dihargai, mampu, dan diterima. Ia merasa tidak dihargai karena kepalanya dipukul jika tidak mau melakukan hal yang disuruh kepadanya, kakinya dijegal, ditendang, dan diejek sok pintar oleh teman-temannya. Ia merasa tidak mampu karena tidak berani atau tidak sanggup untuk melawan pelaku bullying.

Berdasarkan hasil lembar tugas 3 diketahui bahwa subjek B sudah mampu mengidentifikasi pikiran-pikiran negatifnya. Ia menyadari bahwa pikiran tersebut merupakan opini dan dapat dirubah. Pada lembar tugas 4 diketahui bahwa ia sudah mampu membedakan mana pikiran yang merupakan fakta dan opini. Berdasarkan hasil lembar tugas 5 diketahui bahwa ia sudah mampu mengubah pikiran negatif menjadi pernyataan-pernyataan yang positif dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang. Berdasarkan hasil lembar tugas 6 diketahui bahwa ia sudah mampu menuliskan pikiran-pikiran positif dari dirinya maupun kelebihan dirinya.

Berdasarkan hasil lembar tugas 7 diketahui bahwa subjek B sudah mampu menuliskan komitmennya agar ia memiliki perasaan dan perilaku yang lebih positif ditengah kejadian bullying yang ia alami yaitu dengan merubah pikiran-pikiran negatifnya menjadi pikiran yang lebih positif, mulai memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang dirasakan pada pelaku bullying dan meminta mereka untuk tidak melakukan tindakan bullying lagi kepada dirinya. Kemudian mengumpulkan bukti dan saksi bahwa ia mengalami bullying, serta berani melaporkan kejadian bullying yang dialami kepada orangtua dan guru. Berdasarkan hasil lembar tugas 8 juga diketahui bahwa ia sudah mampu menuliskan reward yang akan diterimanya jika ia mampu melaksanakan komitmennya, yaitu ia akan bersepeda dengan teman baiknya.

Berdasarkan hasil buku tugas rumah diketahui bahwa subjek B sudah mencoba mempraktikkan komitmen atau keterampilan yang ia peroleh selama terapi. Ia mengalami kejadian bullying seperti didorong saat berdiri, dicubit, rambutnya dijambak, kakinya dijegal, kepalanya dipukul, dilempar dengan botol, wajahnya disemprot dengan air, diludahi dan ditendang jika tidak melakukan hal yang disuruh oleh teman-teman sekelasnya. Selain itu ia juga diejek pesek, sok pintar, dihina jika ia mengalami kesulitan oleh teman sekelasnya, nama orangtuanya diejek, dan dituduh menyembunyikan barang-barang temannya seperti tas dan handphone. Disamping itu, ia juga kurang diterima oleh teman-temannya saat ingin masuk kelompok sepak bola

temannya di sekolah dan merasa kurang diterima karena teman-temannya mendiami atau tidak mau berbicara dengan dirinya.

Secara umum pikiran yang terlintas saat itu adalah subjek B menganggap teman-temannya jahat, usil, suka memfitnah dirinya, teman-temannya tidak suka pada dirinya, dirinya diperlakukan seperti pembantu/budak, kedelai, tempat sampah, dan seperti tanaman yang biasanya disiram. Selain itu ia juga memandang dirinya lemah/tidak berani melawan, tidak setinggi dan sehebat teman-temannya dalam bermain bola, memiliki hidung yang pesek, sok pintar, dan kurang pintar. Pikiran tersebut secara umum membuatnya merasa sedih, sakit hati, merasa tidak diterima, tidak dihargai dan tidak mampu mempertahankan dirinya.

Akan tetapi subjek B mampu merubah pikirannya tersebut dengan pikiran yang lebih positif antara lain berpikir kalau saat itu teman-temannya memang jahat dan usil, tapi lain kali teman-teman-temannya tidak akan mengulanginya kembali, menganggap temannya wajar memfitnahnya karena mereka belum mengetahui bukti yang sesungguhnya, jika temannya sudah mengetahui buktinya, temannya tidak akan memfitnahnya lagi. Ia juga berpikir bahwa teman-temannya bukan tidak suka pada dirinya sehingga mendiami dirinya, tetapi karena memang teman-temannya sedang membicarakan hal lain yang tidak ada kaitannya dengan dirinya. Selain itu, ia juga merubah pikirannya dari pembantu menjadi menganggap dirinya membantu teman sekaligus mengulang pelajaran saat disuruh menyalinkan tugas

temannya. Ia juga merubah pikirannya bahwa ia bukan kedelai, budak, tempat sampah tetapi teman-teman memperlakukannya seperti demikian karena mereka khilaf, tidak selamanya mereka bersikap demikian dan mereka akan berubah/tidak mengulanginya kembali.

Pikiran subjek B yang negatif terhadap dirinya dirubah menjadi pikiran yang lebih positif yaitu meskipun ia tidak setinggi dan sehebat teman-temannya dalam bermain bola, namun ia masih bisa bermain bola dan tubuhnya tidak sependek Ucok Baba. Selain itu, meskipun hidungnya pesek, namun hidungnya tidak seperti tengkorak dan ia masih dapat bernafas dengan hidungnya. Disamping itu ia berpikir bahwa ia bukan siswa yang sok pintar, hanya saja ia ingin lebih berkonsentrasi dalam belajar dan kesalahannya dalam menjawab suatu soal tidak lantas membuatnya menganggap dirinya kurang pintar, tapi kesalahan yang dibuat seseorang wajar saja terjadi bahkan pada orang pintar. Oleh sebab itu, ia merubah pikirannya menjadi ia adalah anak yang pintar.

Subjek B merasa lebih tenang, tidak merasa sedih lagi, dan tidak merasa sakit hati dengan merubah pikirannya menjadi lebih positif. Selain itu ia juga tetap memberanikan diri menasehati temannya agar tidak melakukan bullying kepada dirinya dan tetap mau berteman dengan pelaku bullying.

Berdasarkan hasil wawancara dengan subjek B pada tahap tindak lanjut (dua minggu setelah pemberian terapi) diketahui bahwa ia masih mengalami kejadian bullying. Kepalanya pernah dipukul secara

tiba-tiba oleh kawannya yang melintasinya saat ia duduk dibangkunya. Selain itu kakinya juga dijegal saat ia berjalan masuk ke kelas hingga ia hampir terjatuh. Awalnya pikiran negatif langsung timbul di dalam pikirannya, seperti berpikir bahwa teman-temannya selalu jahat dan lasak. Akan tetapi karena ia menyadari bahwa pikiran tersebut hanya membuatnya bersedih, ia langsung menukar pikiran tersebut dengan pikiran yang lebih positif yaitu berpikir bahwa temannya tidak selalu jahat, masih ada perilaku mereka yang baik.

Subjek B juga melakukan positive self talk pada dirinya sendiri dengan mengatakan teman-temannya tidak selalu jahat, ia adalah anak yang baik sehingga ia juga akan diperlakukan dengan baik oleh teman-temannya dan ia tidak perlu bersedih. Dengan menukar pikiran negatif menjadi pikiran positif serta melakukan positive self talk, ia merasa lebih tenang dan tidak larut dalam kesediahan atas kejadian bullying yang ia alami.

Subjek B merasa dirinya cukup berharga bagi teman-temannya meskipun ia masih mengalami kejadian bullying karena sebagian teman-temannya memandangnya sebagai siswa yang pintar, rajin, patuh pada guru, dan tdak suka mengganggu teman. Sejauh ini ia juga merasa dirinya diterima dan diikutsertakan oleh teman-temannya karena saat ada tugas kelompok Matematika dan Pendidikan Jasmani, ia diterima untuk bergabung dalam kelompok tema-temannya. Saat mengerjakan tugas kelompok, teman-temannya juga mau mendengarkan dan menerima pendapatnya.

Subjek B merasa cukup mampu menangani kejadian bullying yang ia alami karena menurutnya ia berani mempertahankan dirinya apabila mengalami bullying dengan meminta agar teman-temannya tidak melakukan bullying lagi kepadanya. Ia juga merasa mampu menjalin interaksi dengan teman-teman sekelasnya, bahkan dengan pelaku bullying yaitu dengan berani memulai percakapan terlebih dahulu tanpa harus menunggu teman yang memulai percakapan.

Berdasarkan hasil analisis individual dapat dilihat bahwa self esteem subjek B meningkat. Self esteem subjek B tergolong rendah sebelum terapi, namun setelah diberikan terapi meningkat menjadi sedang. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa REBT dapat membantu meningkatkan self esteem subjek B.

c. Subjek C

Subjek C merupakan salah satu korban bullying di sekolahnya. Berdasarkan Skala Bullying diketahui bahwa subjek C mengalami bullying beberapa kali dalam seminggu. Ia mengalami bullying baik secara fisik, verbal maupun relasional dari teman-teman sekelasnya.

Gambar 5. Perbandingan Skor Self Esteem Antara Subjek C

91 131 130 97 135 137 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180

Pretest Post test Follow up

S k o r S e lf Es te e m Skor Subjek C

Dari Gambar 5, terlihat bahwa pada saat pretest skor self esteem subjek C adalah 91 (kategori rendah). Pada saat post test, skornya