• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Terhadap Distribusi Respons dari Responden dalam Indikator yang Signifikan Pada Setiap Variabel

IV HASIL DAN ANALISIS

4.16 Hasil Analisis Terhadap Distribusi Respons dari Responden dalam Indikator yang Signifikan Pada Setiap Variabel

Distribusi ini dilakukan untuk melihat indikator yang direspon oleh para responden secara signifikan guna melihat indikator secara detail yang dapat direkoemndasikan untuk menysuun implikasi manajerial dan hubungannya dnegan ahsil pengolahan data yang telah dilakukan. Untuk itu telah dilakukan inventarisasi dari hasil kuesioner yang signifikan pada masing-masing variabel untuk melihat indikator yang sudah tinggi dari persepsi responden untuk dikonsolidasikan dalam lingkup pengukuran tingkat nasional, serta perbaikan pada lokasi yang menjadi obyek penelitian untuk menyempurnakan tingkat kematangannya terutama pada masing-masing domain yang masih terdapat respon Tidak Setuju/Sangat Tidak Setuju.

Rekapitulasi distribusi respons dari responden dalam indikator yang signifikan pada setiap variabel untuk model Kementerian Keuangan dapat dilihat pada Tabel 39 berikut.

Tabel 38 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing indikator yang signifikan (Kemenkeu)

Aspek Distribusi respons dari responden (%) Total Sangat Tidak (%)

2. Belajar merupakan hal yang penting dalam pekerjaan sehari-hari

0.00 0.00 1.89 9.43 88.68 100

3. Saya tidak khawatir kehilangan posisi dalam

4. Data dan informasi yang tersedia dianalisis untuk perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan

1.89 0.00 5.66 35.85 56.60 100

UKPBJ kemenkeu merupakan UKPBJ pertama di lingkungan K/L yang telah meraih tingkat kematangan level proaktif dan ditetapkan secara struktural melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 558/KMK.01/2019 Tentang Penetapan

UKPBJ Kementerian Keuangan, yaitu dalam hal ini Biro Manajemen BMN dan Pengadaan di bawah Sekretariat Jenderal yang melaksanakan tusi sebagi UKPBJ Kemenkeu. Keberhasilan pencapaian level proaktif yang pertama di tingkat K/L ini juga tidak terlepas dari dukungan Program Modernisasi Pengadaan yang didukung oleh Pemerintah melalui LKPP, untuk melengkapi Program Reformasi Birokrasi Transformasi dan Kelembagaan Kemenkeu yang terus berjalan, yang salah satunya adanya kebijakan remunerasi 100% bagi pegawai Kemenkeu sehingga diharapkan mampu menjaga integritas dengan optimal termasuk dalam hal pelaksanaan Pengadaan barang/Jasa Pemerintah yang termasuk 10 besar di level K/L.

Pada pelaksanaan Fokus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada tanggal 14 Mei 2020, sebagai tindak lanjut dari rapat koordinasi UKPBJ yang diselenggarakan LKPP pada bulan Februari 2020 dengan mengambil tema UKPBJ Kementerian Keuangan Menuju Level Kematangan Strategis dan Unggul (Level 4 dan 5), terdapat 9 poin utama dan catatan yang menjadi pokok pembahasan agar UKPBJ Kemenkeu dapat menuju level kematangan selanjutnya, yaitu:

1. Manajemen Pengadaan, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti penerapan strategi dan metode yang sesuai, inovasi, definisi pengadaan strategis, dan contoh data dukung.

2. Manajemen Penyedia, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Program/Sistem Pengelolaan/Pembinaan Penyedia, Penerapan Pola Kemitraan, Analisis dan Kategorisasi Kinerja, Vendor Briefing, Daftar Penyedia Strategis Untuk Kepentingan Kemitraan Jangka Panjang, Dukungan dan Hambatan Regulasi, Permasalahan dalam Tender.

3. Manajemen Kinerja, pada poin ini terdapat tiga catatan yaitu Manajemen Kinerja PBJ, Laporan Kinerja, dan tindak lanjut pengendalian Kinerja PBJ.

4. Manajemen Risiko, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Profil Risiko PBJ, Program Pengendalian Risiko, dan Tindak Lanjut Pengendalian Risiko.

5. Pengorganisasian, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Peraturan/Keputusan Pimimpinan yang memungkinkan peran UKPBJ yang lebih strategis dan Kajian Kelembagaan UKPBJ yang strategis.

6. Tugas dan Fungsi, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Pembinaan Hubungan dengan Pemangku Kepentingan melalui stakeholder analysis PBJ, Laporan Monev, Hasil Kajian/Riset Kelembagaan PBJ, dan Laporan Ketertiban UKPBJ.

7. Perencanaan SDM, pada Poin ini terdapat beberapa catatan seperti Dokumen Analisis Jabatan (Anjab) dan Analisis Beban Kerja (ABK )SDM, dan Surat Pengangkatan Jabatan Fungsional PPBJ, PPK, PPHP, KPA sesuai dengan Anjab dan ABK.

8. Pengembangan SDM, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Laporan Pengembangan Kompetensi Pemangku Kepentingan PBJ, Peraturan Tentang Penetapan Insentif Berbasis Kinerja, Laporan Program Pembelajaran dan Laporan Pengendalian Kinerja SDM Pengadaan.

9. Manajemen Indormasi, pada poin ini terdapat beberapa catatan seperti Dokumen Arsitektur/Sistem Informasi Pengadaan Terintegrasi, Laporan Pengendalian Kinerja Pengadaan Yang Sudah Diperoleh, Dukungan Layanan seperti E-marketplace, Laporan Analitik Informasi Pengadaan yang digunakan untuk Perbaikan Kebijakan Pengadaan.

Berdasarkan hasi-hasil pelaksanaan FGD dan dikaitkan dengan hasil respons dari responden dalam tiap aspek utk masing-masing indikator yg signifikan tersebut, terdapat tantangan yang dihadapi oleh UKPBJ Kemenkeu dalam meningkatkan tingkat kematangan UKPBJ yang diharapkan yaitu: Perubahan Mindset layanan terpisah menjadi layanan terpadu, memetakan seluruh Fungsi UKPBJ ke dalam tugas dan fungsi organisasi, perubahan dari desentralisasi ke sentralisasi PBJ, serta rekrutmen lintas Unit Eselon I dan Peningkatan Kompetensi SDM yang diharapkan.

Sedangkan apabila mengacu pada survey kepuasan pengguna layanan asistensi pengadaan barang/jasa yang dilakukan oleh UKPBJ Kemenkeu pada tahun 2021, secara agregat adalah nilianya adalah 4,85 dari skala 5. Hasil tersebut menunjukkan bahwa para penerima layanan secara umum merasa sangat puas terhadap layanan Asistensi PBJ yang diberikan oleh UKPBJ Kementerian Keuangan. Namun dari hasil yang tinggi tersebut, terhadap masukan untuk meningkatkan performa layanan, yaitu:

1. Agar Biro Manajemen BMN dan Pengadaan yang mebawahi UKPBJ lebih proaktif dalam memberikan layanan asistensi sehingga sewaktu-waktu satker dapat bertanya tentang permasalahannya di lapangan;

2. Agar dilakukan penyusunan Frequently Asked Question dan disampaikan kepada seluruh PPK agar PPK tidak bertanya pada hal yang sama;

3. Agar memperbanyak sosialisasi terhadap peraturan-peraturan terbaru;

4. Agar dapat menerbitkan buku yang berisi kendala/masalah di lapangan dan cara penyelesaiannya.

Hasil survey tersebut juga menunjukkan bahwa indikator kematangan mengenai data dan informasi yang tersedia dianalisis untuk perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan yang masih mendapatkan nilai persepsi yang rendah, memang masih perlu ditingkatkan utilisasi dan transparansinya guna meningkatkan kualitas layanan pengadaan Barang/Jasa di Kemenkeu.

Rekapitulasi distribusi respons dari responden dalam indikator yang signifikan pada setiap variabel untuk model Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dapat dilihat pada Tabel 40 berikut ini.

Tabel 39 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing indikator yang signifikan (Kemendikbud)

Aspek Distribusi respons dari responden (%) Total

(%)

Tabel 40 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing indikator yang signifikan (Kemendikbud)

Aspek Distribusi respons dari responden (%) Total

Sangat Tidak (%)

4. Data dan informasi yang tersedia dianalisis untuk perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan

0.00 0.91 7.27 57.27 34.55 100

Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di lingkungan Kemendikbud mendapatkan tantangan antara lain berupa beberapa bentuk tindak pidana korupsi di Satuan Pendidikan berupa Pengadaan barang dan jasa di sekolah yang tidak sesuai aturan (Kompas, 2016). Untuk itu Pimpinan di Kemendikbud mengupayakan penerapan katalog elektronik (e-katalog) dan mitra pasar daring melalui Sistem Informasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) sejak bulan Juni 2019 dalam rangka upaya pencegahan korupsi di Satuan Pendidikan di wilayah kerjanya serta sebagai bentuk pengendalian mata rantai Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dapat dioptimalkan yang merupakan salah satu respon signifikan para responden di Kemendikbud. Dimana inovasi melalui SIPLah telah mendapatkan apresiasi sebagai praktik baik penerapan e-katalog dan lokapasar dalam pengadaan barang jasa pada program Aksi Nasional Pencegahan Korupsi (ANPK) tahun 2020 oleh Presiden Republik Indonesia. Tujuan dibangunnya Sistem tersebut adalah untuk memberikan kebebasan kepada kepala sekolah dalam pengadaan barang dan jasa di sekolah dengan memanfaatkan sistem yang disediakan oleh Kemendikbud.

Manfaat penerapan SIPLah ini dalam mewujudkan tata kelola keuangan pendidikan yang transparan dan akuntabel meliputi:

1. Meningkatkan rekapitulasi Dana Bos Nasional secara real time;

2. Meningkatkan tata kelola PBJ di Sekolah;

3. Meningkatkan peran serta UMKM di sekitar sekolah ke pasar nasional 4. Kompetensi harga yang baik;

5. Mempermudah pelaporan di sekolah.

Sejak diluncurkan pada Juni 2019, SIPLah telah digunakan di 78.112 satuan pendidikan dengan jumlah penyedia 11.000. Jumlah barang dan jasa kebutuhan satuan pendidikan yang telah tersedia mencapai 246.624 item dengan nilai transaksi tahun 2019 s.d. 2020 mencapai Rp5 triliun dari potensi mencapai Rp28 triliun. Pada tahun 2019, limit belanja sekolah per transaksi dibatasi hanya sampai Rp200 juta.

Namun pada tahun 2020, limit belanja per transaksi tidak lagi dibatasi dan juga

diperluas sumber dana belanjanya tidak hanya dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) akan tetapi dari seluruh sumber dana pendidikan yang dikelola satuan pendidikan. Hal ini yang perlu disikapi, terutama terkait dengan data dan informasi yang tersedia dianalisis untuk perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan, agar sistem tersebut mampu menjadi sistem yang handal, serta mampu menghadirkan dan mengoptimalkan transparasi untuk mendukung peran strategis organisasi UKPBJ di Kemendikbud.

Selain terkait dengan proses pengadaan, ruang perbaikan yang masih harus dilakukan di Kemendikbud adalah dalam konteks pemenuhan proses rekrutmen SDM UKPBJ yang dilakukan secara terencana di Kemendikbud dengan tantangan yang meliputi:

1. Kembalinya Ristekdikti ke Kemendikbud;

2. Rentang kendali wilayah, antar provinsi dan antar pulau yang membuat kurang maksimal KPA/PPK dalam melakukan koordinasi;

3. Masih ada satker Kemendikbudristek yang melaksanakan program penyederhanaan birokrasi;

4. Pembinaan karier Pengelola PBJ untuk naik jenjang setingkat lebih tinggi.

Hal ini membuat masih ada responden yang meragukan pemenuhan proses rekrutmen SDM UKPBJ yang dilakukan secara terencana di Kemendikbud dapat berjalan dengan baik. Namun dengan adanya kebijakan terkait proses Pengadaan Barang/Jasa Kemendikbud terpusat di UKPBJ Kemendikbud, yaitu dibawah Biro Umum dan PBJ yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri pendidikan dan Kebudayaan Nomor 45 Tahun 2019, diharapkan pusat rekrutmen juga akan dilakukan secara terpusat dan dapat dimonitor pelaksanaannya dengan baik.

Namun demikian isu organisasi UKPBJ sebagai unit organisasi strategis juga mengemuka untuk dapat diperjuangkan dalam konteks pengakuan dan peningkatan tunjangan bagi para anggota UKPBJ di dalamnya. Resiko pengadaan Barang/Jasa di Kemendikbud yang tinggi karena satuan kerja yang ditangani juga banyak serta reputation risk khususnya kasus-kasus korupsi di bidang pengadaan sektor pendidikan juga kerap terjadi membutuhkan pengakuan organisasi yang lebih baik dari jenjang karir dan paket remunerasi yang menarik

Rekapitulasi distribusi respons dari responden dalam indikator yang signifikan pada setiap variabel untuk model Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dapat dilihat pada Tabel 41 berikut ini.

Tabel 40 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing indikator yang signifikan (LKPP)

Aspek Distribusi respons dari responden (%) Total (100%)

Tabel 41 Distribusi respons dari responden dalam tiap aspek untuk masing-masing indikator yang signifikan (LKPP) (Lanjutan)

Aspek Distribusi respons dari responden (%) Total

(100%) memperlihatkan bahwa kualitas pelayanan UKPBJ dalam proses pengadaan barang/jasa pemerintah dari sisi kualitas pelayanan (reliability, responsiveness, assurance, empathy, and tangible) dianggap memiliki kinerja yang baik.

Perbandingan antara persepsi dan harapan responden terhadap kualitas pelayanan UKPBJ dalam pengadaan barang/jasa baik dengan perolehan nilai kesesuaian sebesar 103,92% (Imaniar 2019). Eksistensi UKPBJ LKPP sendiri tertuang dalam Peraturan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2021 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yaitu pada Biro Hubungan Masyarakat, Sistem Informasi dan Umum.

Hasil riset tersebut tidak berbeda jauh dengan fakta bahwa kepercayaan K/L lainnya untuk menyerahkan paket pengadaan Barang/jasa kentuk dilaksanakan oleh UKPBJ LKPP sebagai agen pengadaan juga semakin tinggi intensitasnya menjadi isu cakupan layanan UKPBJ yang diberikan, meliputi pihak internal dan eksternal dapat tidak dapat dikelola oleh baik. Semakin banyak paket yang dikelola akan membuat hor yang diperoleh juga semakin tinggi, namun demikian masalah beban kerja dan fokus pekerjaan yang harus diselesaikan juga semakin kompleks dan dinamis dan akan bermasalah apabila tidak dikelola dengan baik pada internal LKPP.

Tentunya apabila perbedaan isu remunerasi juga berlaku sama, tentunya profesionalisme UKPBJ dapat lebih ditingkatkan kualitasnya, dan menjadikan UKPBJ sebagai target pengembangan karir yang sepadan dengan resiko yang akan dijalani. Sedangkan rekapitulasi secara umum dapat dilihat pada Tabel 42 berikut ini.

Tabel 41 Distribusi respons dari responden dalam indikator yang signifikan pada setiap variabel

Aspek

Distribusi respons dari responden (%) Total (%)

1. Pimpinan UKPBJ secara moral

mempertanggungjawabkan kepemimpinan yang dilakukan

0.00 0.56 5.56 36.11 57.78 100

2. Belajar merupakan hal yang penting dalam pekerjaan

4. Data dan informasi yang tersedia dianalisis untuk perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan

0.56 0.56 8.33 51.67 38.89 100

Selain melihat distribusi respons dari responden terhadap indikator yang signifikan, digambarkan pula keterkaitan antar variabel secara sederhana dengan membentuk tabel silang. Tabel silang merupakan distribusi frekuensi yang menghubungkan dua atau lebih variabel. Sesuai pembahasan distribusi respons dari keseluruhan responden (model gabungan) sebelumnya, terdapat satu variabel dengan indikator yang signifikan pada pengaruh organisasi dan seluruh variabel dengan indikator yang signifikan pada tingkat kematangan UKPBJ yang memiliki respons Sangat Tidak Setuju dan Tidak Setuju. Variabel pada pengaruh organisasi tersebut adalah Authentic Leadership dan variabel-variabel pada tingkat kematangan UKPBJ adalah Proses, Kelembagaan, SDM, dan Sistem Informasi.

Berdasarkan kondisi di atas, maka disusun 4 tabel silang dengan menggunakan alat bantu SPSS untuk melihat keterkaitan antar tabel, sebagai berikut:

1. Variabel Authentic Leadership dengan variabel Proses. Keterkaitan antara dua variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 43 berikut ini.

Tabel 42 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan proses

ASPEK

Proses (P) (Sangat)

Tidak

Setuju Netral

(Sangat) Setuju

Authentic Leadership (Sangat) Tidak Setuju

0% 1% 0%

Netral 1% 1% 3%

(Sangat)

Setuju 0% 4% 90%

Berdasarkan tabel keterkaitan di atas, dapat dilihat bahwa semakin baik pertanggungjawaban gaya kepemimpinan yang dilakukan, responden sepakat bahwa akan semakin dapat diandalkan fokus organisasi UKPBJ dalam mengelola mata rantai PBJ.

2. Variabel Authentic Leadership dengan variabel Kelembagaan. Keterkaitan antara dua variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 44 berikut ini.

Tabel 43 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan kelembagaan

ASPEK

Kelembagaan (Sangat)

Tidak

Setuju Netral

(Sangat) Setuju

Authentic Leadership (Sangat) Tidak Setuju

0% 0% 1%

Netral 0% 1% 5%

(Sangat)

Setuju 2% 3% 89%

Berdasarkan tabel keterkaitan di atas, dapat dilihat bahwa semakin baik pertanggungjawaban gaya kepemimpinan yang dilakukan, responden sepakat bahwa akan semakin strategis posisi dari organisasi UKPBJ.

3. Variabel Authentic Leadership dengan variabel SDM. Keterkaitan antara dua variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 45 berikut ini.

Tabel 44 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan SDM

ASPEK

SDM (Sangat)

Tidak

Setuju Netral

(Sangat) Setuju

Authentic Leadership (Sangat) Tidak Setuju

0% 1% 0%

Netral 2% 2% 2%

(Sangat)

Setuju 6% 12% 76%

Berdasarkan tabel keterkaitan di atas, dapat dilihat bahwa semakin baik pertanggungjawaban gaya kepemimpinan yang dilakukan, responden sepakat bahwa akan semakin baik proses rekrutmen SDM UKPBJ yang telah direncanakan.

4. Variabel Authentic Leadership dengan variabel Sistem Informasi. Keterkaitan antara dua variabel tersebut dapat dilihat pada Tabel 46 berikut ini.

Tabel 45 Keterkaitan antara variabel authentic leadership dan sistem informasi

ASPEK

Sistem Informasi (Sangat)

Tidak

Setuju Netral

(Sangat) Setuju

Authentic Leadership (Sangat) Tidak Setuju

0% 1% 0%

Netral 1% 2% 3%

(Sangat)

Setuju 1% 6% 87%

Berdasarkan tabel keterkaitan di atas, dapat dilihat bahwa semakin baik pertanggungjawaban gaya kepemimpinan yang dilakukan, responden sepakat bahwa akan semakin analisis data dan informasi PBJ dalam rangka perbaikan sistem dan kebijakan yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan perbaikan yang dilakukan untuk mewujudkan Praktik leadership yang baik dan mempunyai output: Kelembagaan yang strategis, perencanaan rekrutmen SDM yang baik, Proses mata rantai PBJ yang maksimal serta Sistem Informasi untuk perbaikan analisis data. Praktik leadership yang baik juga berdampak untuk penanganan fraud yang terjadi misalnya seperti yang dilakukan di Kemendikbud dengan membangun keteladanan anti korupsi, antara lain dibutuhkan untuk membentuk Satdik Bebas Praktek Korupsi dan Budaya Anti Korupsi Satdik di lingkungan Kemendikbud (Kompas, 2016)

Selanjutnya berdasarkan pengolahan data melalui SEM-PLS diperoleh hasil adanya pengaruh perubahan organisasi yang merupakan merupakan bagian dari evolusi kelembagaan UKPBJ dalam membentuk Pusat Keunggulan (Center of Excellence) Pengadaan. Perubahan ini memberikan kerangka kerja yang memungkinkan organisasi pengadaan ini berkembang dari unit yang reaktif dengan pendekatan yang berorientasi kepatuhan menjadi organisasi yang proaktif berorientasi pada pelanggan, guna memastikan kegiatan pengadaan yang bersifat stategis di lingkungan pemerintah dapat dilaksanakan, sehingga mendukung pencapaian visi dan misi strategis organisasi. Terkait dengan hal itu unsur pengaruh organisasi yang terdiri dari leadership, culture dan human resources merupakan unsur-unsur evoluasi yang dipilih untuk membuktikan pengaruhnya terhadap variabel tingkat kematangan. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis SEM-PLS sebagai instrumen penelitian, hasil-hasil pengaruh organisasi tersebut meliputi:

a. Kepemimpinan yang mau mendengarkan dengan seksama pendapat dari sudut pandang yang berbeda sebelum menarik kesimpulan berpengaruh terhadap variabel Domain Proses dan Domain Sistem Informasi.

1) Hal yang perlu diwujudkan: Pengambilan keputusan di dukung oleh