• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISA, DAN PEMBAHASAN

E. Paparan Hasil Analisis dan Pembahasan Implementasi

2. Hasil Analisis Kemunculan Indikator

Hasil implementasi dianalisis sesuai dengan 5 karakteristik PMRI. Pembahasan setiap karakteristik yang muncul pada implementasi perangkat pembelaran bangun ruang kubus dan balok sebagai berikut:

a. Penggunaan masalah kontekstual

Dalam karakteristik penggunaan masalah kontekstual terdapat lima indikator, berikut penjabaran dari indikator-indikator tersebut.

1) Menggunakan masalah kontekstual

a) Menggunakan cerita yang dekat dengan kehidupan siswa

Penggunaan cerita digunakan pada awal materi sifat-sifat balok dan materi jaring-jaring kubus. Penggunaan cerita digunakan sebagai pengantar masuk materi agar menarik minat siswa dalam belajar. Hal tersebut dapat dilihat pada transkrip video I1:46-56 (keterangan: I= pertemuan pertama, 1= karakteristik PMRI 1 yaitu penggunaan masalah kontekstual, 46= nomor baris transkripsi) yang menunjukkan penggunaan soal cerita yang dekat dengan kehidupan siswa:

46. G : Konon di tepi hutan tinggal seorang anak yang sangat kumal karena tidak pernah mandi

47. BS : hii….

48. G : Anak itu bernama Paijo. Di suatu malam dia bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Di dalam mimpinya kakek itu berpesan agar ia pergi ke sebuah gua untuk mengambil kotak ajaib. Pesannya apa anak-anak? Pesan kakeknya apa?

49. G dan BS : Pesannya adalah pergi ke gua untk mengambil kotak ajaib?

50. G : Lagi asik bermimpi, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok dan membangunkan Paijo. Jadi kalo ayamnya berkokok Paijo jadi bangun kan? Setelah matahari terbit, Paijo bergegas ke gua di tengah hutan sesuai yang dipesan dari kakek waktu dia bermimpi. Setelah sampai di gua, Paijo terkejut karena tiba-tiba muncul sebuah cahaya di dalam gua. Muncul apa anak-anak?

51. BS : Cahaya 52. G : Dari? 53. SS : Dalam gua

54. G : Gua itu khan tertutup ya, tiba-tiba ada cahaya dari gua.

(Melanjutkan cerita) Dengan takut dan penasaran, Paijo mulai memasuki gua. Sesampainya di dalam gua, dia menemukan sebuah kotak. Ketika Paijo hendak membuka kotak tersebut, terdengar suara kakek yang ada dalam mimpinya. Paijo terkejut hingga jatuh ke tanah. Paijo jatuh karena mendengar suara? 55. SS : Kakek

56. G : (Suara seperti kakek) Anakku Paijo, pergunakanlah kotak tersebut dengan baik. Kakeknya bilang seperti itu. Lalu Paijo bangun dan mendekati kotak tersebut dengan ragu-ragu. Paijo membuka kotak

tersebut pelan-pelan, kemudian Paijo mengeluarkan benda-benda dalam kotak ajaib itu satu per satu. Paijo kebingungan, namun tidak ada seorangpun yang mau membantunya. Sekarang tugasnya anak-anak membantu?

Masalah kontekstual tersebut terdapat dalam pertemuan I, Guru membacakan cerita “Paijo dan kotak ajaib”. Cerita yang digunakan adalah cerita tentang seorang anak yang tinggal di gua dan kehidupan anak tersebut terlihat dalam transkripsi tersebut sehingga siswa dapat membayangkan. Selain dari transkrip video di atas, penggunaan masalah kontekstual juga dapat dilihat pada I1:48, I1:50, I1:54, I1:56. Cerita di atas menggunakan nama yang jarang di kehidupan saat ini untuk menarik perhatian siswa. Cerita tersebut menggambarkan Paijo yang berada dalam gua yang gelap untuk mengambil kotak ajaib, namun ternyata gua tersebut diterangi cahaya karena kedatangan seorang kakek. Penggunaan kontekstual juga terdapat pada pertemuan IV1:35-40. Dalam penceritaan tersebut guru mengingatkan kembali cerita “Paijo dan kotak ajaib” yang dibacakan pada pertemuan I dan pertemuan IV tentang materi sifat-sifat bangun ruang dan jaring-jaring bangun ruang. Pada pertemuan IV cerita diubah oleh guru agar cerita lebih singkat dan mudah dipahami siswa apa yang akan dipelajari selanjutnya namun tetap menghubungkan dengan penggunaan kontekstual siswa.

b) Permasalahan kontekstual yang disampaikan mampu mengarahkan siswa menemukan konsep

Permasalah yang disampaikan berupa pertanyaan tentang benda-benda yang terdapat dalam cerita “Paijo dan kotak ajaib”. Permasalahan tersebut

mengarahkan siswa mengenal konsep bentuk-bentuk bangun ruang balok dan kubus. Hal tersebut dapat dilihat pada transkrip video I1:18-23:

18. G : Bangun ruang itu yang bagaimana coba? 19. S : Gak tau

20. S : Bangun ruang yang didalamnya ada ruangnya. 21. S : Bangun ruang permukaannya teratur.

22. G : (Menunjukkan kotak ajaib sambil bertanya) Ini bangun apa? 23. S : Balok

Hal tersebut juga muncul dalam transkrip video pertemuan yang lain yaitu transkripsi pada I1:85-86, I1:95-108, II1:97-112, II1:132-133, IV1:61-69.

c) Permasalahan kontekstual yang disampaikan mudah dimengerti siswa Permasalahan kontekstual yang disampaikan adalah “Paijo dan kotak ajaib”. Cerita tersebut menceritakan kehidupan Paijo yang tinggal di pinggir hutan yang bermimpi tentang seorang kakek tua yang menyuruhnya mengambil sebuah kotak yang berada di dalam gua. Berikut transkripsi yang menggambarkan permasalahan kontekstual yang mudah dimengerti siswa I1:48-49:

48. G : Anak itu bernama Paijo. Di suatu malam dia bermimpi

bertemu dengan seorang kakek. Di dalam mimpinya kakek itu berpesan agar ia pergi ke sebuah gua untuk mengambil kotak ajaib. Pesannya apa anak-anak? Pesan kakeknya apa?

49. G dan BS : Pesannya adalah pergi ke gua untk mengambil kotak ajaib?

Berdasarkan transkripsi video tersebut menandakan bahwa benda yang telah dibuat itu bisa berbentuk apa saja sesuai dengan apa yang siswa pikirkan. Kelanjutan cerita tersebut juga tampak pada I1:56-57. Transkripsi

lain yang menunjukkan permasalahan kontekstual mudah dimengerti siswa pada IV1:35-38.

2) Menggunakan permainan

Mengingat jumlah siswa yang terlalu banyak yaitu 44 orang dan ruangan kelas yang berukuran 6 x 8 m, pendidik tidak menggunakan permainan dalam proses pembelajaran. Guru mempertimbangkan jika menggunakan permainan suasana kelas menjadi tidak mendukung saat memasuki materi.

3) Menggunakan media dan alat peraga

a) Media dan alat peraga yang digunakan mudah ditemukan/dekat dengan siswa

Media yang dipergunakan dalam pembelajaran adalah kotak pasta gigi, kotak cat rambut, kotak susu, kotak sabun, kotak minyak telon, dan kotak brownies. Media adalah benda yang sering ditemukan di kehidupan sehari-hari. Media digunakan untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang diberikan guru. Media yang digunakan salah satunya tampak dalam gambar berikut:

Gambar 4.2. Siswa menggunakan kardus sabun

Gambar 4.3. Siswa menggunakan kardus pasta gigi

Siswa dapat menggunakan langsung benda yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Selain gambar di atas, terdapat transkripsi IV1:35-38, yang menunjukkan adanya penggunaan media/alat peraga yang dekat dengan kehidupan siswa.

b) Media dan alat peraga dapat menarik perhatian siswa

Media yang digunakan mampu menarik perhatian siswa karena menggunakan benda yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Berikut gambar yang menunjukkan hal tersebut:

Gambar 4.4. siswa memperhatikan guru menjelaskan dengan alat peraga

Gambar 4.5. siswa antusias mengerjakan LKS dengan media

Gambar 4.6. Siswa memperhatikan media yang diperoleh

Berdasarkan gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa alat peraga dan media dapat menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran. Kendala yang ditemukan saat penggunaan alat peraga ini adalah ada beberapa kelompok yang bekerja hanya sebagian anggota kelompok dan

lainnya hanya melihat atau bahkan mengajak berbicara teman kelompok lain. Kendala tersebut dikarenakan saat pembelajaran guru jarang menggunakan alat peraga dan media.

4) Menggali pengetahuan awal yang dimiliki siswa

Guru mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki tentang materi bangun ruang. Berikut cuplikan transkripsinya pada I1:7-23:

7. G : Nah, hari ini kita mau belajar matematika tentang bangun ruang. Kalian tahu gak sih apa itu bangun ruang? Ada yang tahu? 8. SS : Tahuuuu….

9. G : Siapa yang tahu apa sih bangun ruang itu? Coba tunjuk jari siapa yang tahu bangun ruang itu!

10. BS : Tahu

11. G : Oke anak-anak balok itu apa sih? Kenneth, bangun ruang itu apa sih keneth?

12. S : Contoh, kubus

13. Tiba-tiba ada Siswa lain yang menjawab

14. G : Contohnya kubus. Kok contohnya, Pak Gilang Tanya bangun ruang itu apa sih? Ada yang tahu apa enggak?

15. S : Bangun yang beruang

16. G : Bangun yang beruang? Serem dong, ada bulunya, ada taringnya, ada giginya. (Semua siswa tertawa mendengar Pak Gilang berkata seperti itu).

17. G : Bangun ruang itu yang bagaimana coba? 18. S : Gak tau

19. S : Bangun ruang yang didalamnya ada ruangnya. 20. S : Bangun ruang permukaannya teratur.

21. G : (Menunjukkan kotak ajaib sambil bertanya) Ini bangun apa? 22. S : Balok

Berdasarkan transkripsi di atas, guru berusaha menggali pengetahuan awal siswa mengenai arti bangun ruang. Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan melakukan tanya jawab dan siswa saling mengemukakan pendapat masing-masing. Guru menggali pengetahuan siswa juga tampak dalam transkripsi I2:31-37, I2:.31-37, IV2:37-38, IV2:61-66. Dalam transkripsi

tersebut guru dan siswa sedang melakukan tanya jawab apa yang telah diketahui sebelum memulai pembelajaran.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik penggunaan konteksual sudah muncul pada kegiatan pembelajaran namun ada salah satu indikator karakteristik penggunaan kontekstual yang tidak muncul yaitu menggunakan permainan. Guru tidak menggunakan permainan dalam pembelajaran dengan pertimbangan jumlah siswa yang banyak 44 anak dan ruangan kelas yang sempit hanya 6 x 8m sehingga membatasi ruang gerak bebas siswa. Guru mengawali kegiatan pembelajaran sudah menggunakan masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa sehingga mudah dipahami dan mampu menemukan konsep bangun ruang yang dipelajari. Media yang digunakan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan menarik perhatian siswa sehingga siswa tampak antusias dalam kegiatan pembelajaran dan mampu menyelesaikan permasalahan yang ada pada LKS.

b. Karakteristik penggunaan model

Indikator-indikator pada karakteristik penggunaan model antara lain sebagai berikut:

1) Penggunaan strategi informal oleh siswa dalam pemecahan masalah Siswa menemukan cara yang berbeda-beda dalam menemukan jaring-jaring bangun ruang balok dan kubus. Hal tersebut terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 4.7. Jaring-jaring kubus seperti angka 7

Gambar 4.8. Jaring-jaring kubus berbentuk salib

Berdasarkan gambar di atas terlihat bahwa siswa dapat menemukan bentuk jaring-jaring yang berbeda dari satu kelompok dengan kelompok yang lain. Di bawah ini terdapat gambar yang menunjukkan siswa dapat memahami sifat-sifat bangun ruang:

Gambar 4.10. Siswa mengukur kardus susu

Berdasarkan gambar di atas, menunjukkan bahwa siswa melakukan pengukuran untuk mengetahui salah satu sifat bangun ruang yaitu sisi.

2) Penggunaan strategi formal oleh siswa dalam pemecahan masalah a) Memodelkan masalah dalam kalimat matematika

Siswa memodelkan kalimat matematika dalam proses pembelajaran yang difasilitasi dengan petunjuk pada LKS. Hal tersebut terlihat pada gambar berikut:

Gambar 4.11. Siswa mengukur bangun ruang

Melalui tahap pengenalan terhadap bangun ruang yang digunakan pada setiap kelompok. Siswa melakukan pengamatan dan pengukuran pada bangun ruang yang diperoleh kemudian menuliskannya ke dalam LKS sesuai dengan petunjuk yang ada. Setelah menuliskan hasil pengamatan,

siswa menggambar bangun ruang sesuai dengan sifat bangun ruang yang diperoleh seperti di bawah ini:

Gambar 4.12. Siswa menggambar balok

Langkah selanjutnya setelah siswa mampu menggambar bangun ruang yaitu membongkar bangun ruang, menjiplak dan menggambar jaring-jaring baru yang akan dibuat menjadi bangun ruang.

Gambar 4.13. Siswa memotong bangun ruang

Gambar 4.15. Siswa menggambar jaring-jaring b) Menggunakan rumus matematika dalam pemecahan masalah

Penggunaan rumus matematika dalam pemecahan masalah tidak muncul dalam implementasi perangkat pembelajaran bangun ruang yang dilakukan. Penggunaan rumus matematika tidak diperlukan karena materi yang dipelajari tentang sifat-sifat bangun ruang dan jaring-jaring bangun ruang.

c) Menggunakan langkah-langkah matematis dalam pemecahan masalah Siswa telah menggunakan langkah-langkah matematis dalam memecahkan masalah. Hal ini tampak ketika siswa mempelajari jaring-jaring bangun ruang, terlihat pada gambar berikut:

Gambar di atas menunjukkan siswa sedang mengerjakan tugas LKS dengan mengidentifikasi bangun ruang yang diperoleh. Siswa mengukur bangun ruang yang diperoleh untuk mengetahui sisi, dan panjang rusuk.

Gambar 4.17. Siswa membongkar bangun ruang

Gambar 4.18. Menjiplak jaring-jaring bangun ruang

Gambar 4.20. Hasil prakarya siswa

Gambar di atas menunjukkan bahwa siswa mampu melakukan langkah-langkah matematis, siswa mampu mengidentifikasi bangun ruang, memotong bangun ruang menjadi bentuk rebahan kemudian dijiplak menjadi jaring-jaring kubus serta membuat bangun ruang yang baru dengan jaring-jaring kubus yang berbeda dari sebelumnya hingga membuat kubus.

Kelima gambar tersebut telah menunjukkan adanya langkah-langkah matematis yang dilakukan siswa dalam memperoleh pemahaman.

3) Pembimbingan oleh guru dalam menjembatani strategi informal siswa ke strategi formal

a) Guru memberi pertanyaan yang mengarah ke strategi formal

Guru memberikan beberapa pertanyaan yang mengarah ke strategi formal, hal tersebut terdapat pada transkripsi IV2:76-78 berikut:

76. G : Tulis ciri-cirinya terdiri dari enam bangun datar…. Ini nggone sopo iki? (mengambil pulpen di lantai) Nah sekarang nomor dua Apa yang dimaksud jaring-jaring kubus? Silahkan didiskusikan dengan teman-temannya apa itu jaring-jaring kubus?

77. S : Jaring-jaring itu apa pak?

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh guru membantu mengarahkan siswa untuk pemahaman materi. Guru memberi beberapa pertanyaan kepada siswa untuk mengarahkan siswa untuk menemukan pengertian jaring-jaring kubus berdasarkan hasil pengamatan melalui media pembelajaran. Transkripsi lain yang menunjukkan indikator tersebut terletak pada I2:14-21; IV2: 90-99.

b) Guru memberi soal dengan konteks lain yang mengarah ke strategi formal

Guru memberikan soal dengan konteks lain yang mengarah ke strategi formal ditunjukkan pada transkripsi II2:130-134:

130. S : Kotak brownies memiliki 6 sisi, 12 rusuk, 8 titik sudut yang berbentuk kubus

131. Guru sambil memancing anak dengan pertanyaan dan

menuliskannya di papan tulis

132. G: Sama Enggak sisinya? Sisinya sama besar, 12 rusuknya sama panjang dan 8 titik sudut disebut apa anak-anak?

133. SS : Kubus

134. G : Nah betul apa yang dikatakan Thomas tadi jadi bukan kotak brownies tapi bangun ruang yang memiliki 6 sisi yang sama, 12 rusuk yang sama panjang, dan 8 titik sudut disebut?

Saat pembelajaran berlangsung pemberian soal dengan konteks lain yang mengarah ke strategi formal juga tampak pada transkripsi I2:92, I2:149-151. Pendidik tidak banyak memberikan pertanyaan konteks karena siswa telah memahami tentang bangun ruang serta dari mengerjakan tugas LKS siswa telah memahami penggunaan strategi formal. Siswa hanya dibimbing untuk mengarahkan ke strategi formal.

c) Guru memberi contoh analogi yang mengarah ke strategi formal

Guru memberikan contoh kepada siswa dengan memberi pengarahan ke strategi formal dapat dilihat pada transkripsi II2:130-135 berikut:

130. S : Kotak brownies memiliki 6 sisi, 12 rusuk, 8 titik sudut yang berbentuk kubus

131. Guru sambil memancing anak dengan pertanyaan dan menuliskannya di papan tulis

132. G : Sama Enggak sisinya? Sisinya sama besar, 12 rusuknya sama panjang dan 8 titik sudut disebut apa anak-anak?

133. SS : Kubus

134. G : Nah betul apa yang dikatakan Thomas tadi jadi bukan kotak brownies tapi bangun ruang yang memiliki 6 sisi yang sama, 12 rusuk yang sama panjang, dan 8 titik sudut disebut?

135. BS : Kubus

Guru menjelaskan bangun ruang yang sedang dibahas dengan meminta siswa memberikan pendapat lebih dahulu tentang kesimpulan yang telah dipelajari. Siswa masih menyebutkan kotak brownies bukan bangun ruang kubus, maka guru mengarahkan pemahaman anak bahwa kotak brownies adalah bangun ruang kubus. Transkripsi lain yang menunjukkan indikator tersebut terdapat pada IV3:67, V3:15-19.

Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik penggunaan model telah muncul pada kegiatan pembelajaran. Siswa telah menggunakan strategi informal dalam memecahkan masalah. Siswa telah menggunakan langkah-langkah matematis untuk memecahkan masalah yang diberikan melalui tugas LKS secara diskusi kelompok. Guru juga telah membantu siswa dalam menjembatani pengetahuan siswa dari strategi informal menjadi strategi formal melalui pemberian contoh analogi dan pertanyaan dari

guru dan pemberian soal dengan konteks lain yang mengarah ke strategi formal. Namun penggunaan rumus dalam pemecahan masalah tidak muncul karena dalam pembelajaran sifat-sifat dan jaring-jaring bangun ruang tidak mempergunakan rumus.

c. Karakteristik penggunaan kontribusi siswa

Indikator-indikator karakteristik penggunaan kontribusi siswa sebagai berikut:

1) Pengungkapan berbagai strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah a) Muncul berbagai cara yang digunakan dalam pemecahan masalah oleh

siswa

Berbagai cara yang digunakan dalam pemecahan masalah tampak pada gambar berikut:

Gambar 4.21. Jaring-jaring berbentuk T

Berdasarkan gambar di atas, tampak bahwa siswa menemukan beberapa strategi dalam menemukan jaring-jaring bangun ruang. Terdapat 2 bentuk jaring-jaring yang berbeda dari satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Terdapat juga gambar yang menunjukkan siswa menemukan strategi dalam menemukan sifat bangun ruang dengan mengukur kardus dengan bangun ruang.

Gambar 4.23. Siswa mengukur kardus susu

b) Pemberian waktu yang mencukupi kepada siswa dalam pemecahan masalah

Pada kegiatan pembelajaran guru telah mengalokasikan waktu yang cukup bagi siswa untuk memecahkan masalah. Berikut transkripsi II3:71-76 yang menunjukkan indikator tersebut:

71. Anak-anak mulai berdiskusi dengan kelompoknya 72. G : Lima menit ya

73. Beberapa saat kemudian

74. G : Oke cukup. Ayo anak-anak yang membacakan hasil diskusi yang pertama. Ayo Sintia silahkan baca, berdiri

75. Kelompok Sintia membacakan hasil diskusinya dengan suara lantang dank eras.

76. G : Oke. Kelompoknya Thomas. Oke, tadi Pak Gilang liat

kelompoknya Thomas dan kelompoknya Justin. Kelompoknya Thomas masih ngukur-ngukur, kalau gitu kelompoknya Justin dulu. Ayo kelompoknya Justin.

Berdasarkan transkripsi di atas, sudah terlihat bahwa pemberian waktu untuk memecahkan masalah sudah cukup. Guru membagi waktu yang cukup dalam setiap kegiatan, misalnya 5 menit untuk mengerjakan kegiatan satu guru selalu bertanya kepada siswa apakah tugas yang diberikan telah diselesaikan atau belum. Jika terdapat kelompok yang belum selesai mengerjakan maka guru menambahkan alokasi waktu. Penambahan waktu tersebut juga tampak pada transkripsi I3:153-155, I3:78, II3:78, III3:4-8. c) Pemilihan media oleh siswa yang digunakan dalam pengungakapan

strategi yang digunakan

Pada pembelajaran yang menunjukkan adanya pemilihan media oleh siswa yang digunakan dalam pembelajaran untuk mengungkapkan strategi terlihat pada transkripsi I2:66-67:

66. G : Ayok Nak. Anak-anak ketua kelompok ke depan satu-satu silahkan mengambil benda. Jangan rebutan.

67. Setelah itu anak-anak kembali ke kelompok masing-masing

Berdasarkan transkripsi di atas menunjukkan bahwa siswa memilih salah satu media yang telah disediakan yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam diskusi kelompok. Transkripsi lain yang menunjukkan adanya pemilihan media pada II3:66-70. Terdapat juga gambar yang menunjukkan adanya pemilihan media oleh siswa seperti gambar di bawah ini:

Gambar 4.24. Siswa memilih kardus susu 2) Pemberian tanggapan terhadap strategi yang digunakan

a) Siswa memberi komentar/saran hasil pekerjaan siswa lain

Dalam proses pembelajaran siswa memberikan komentar/saran terhadap hasil pekerjaan siswa lain. Hal tersebut tampak dalam gambar berikut.

Gambar 4.25. Siswa menanggapi kelompok lain yang presentasi Berdasarkan gambar di atas, menunjukkan bahwa salah satu siswa membacakan hasil diskusi dengan teman kelompoknya di depan kelas dan teman kelompok lain memberikan pendapat yang tentang pendapat kelompoknya. siswa tidak banyak memberikan komentar dikarenakan hasil pekerjaan satu kelompok dengan kelompok lainnya hamper sama.

Siswa mampu menyimpulkan materi yang telah dipelajari pada hari itu dengan bimbingan guru. Berikut transkripsi IV3:90–99 yang menunjukkan bahwa siswa dengan bantuan guru mampu menyimpulkan hasil pembelajaran:

90. G : Oke nomor satu, ciri-ciri rebahan yang kamu bongkar bentuknya apa …

91. BS : Terdiri dari beberapa persegi yang menyambung 92. G : Bergabung atau sendiri-sendiri?

93. SS : Bergabung

94. G : Atau berdempetan atau menempel. Apa yang dimaksud dengan jaring-jaring kubus?

95. S : Ini jaring-jaring Pak (sambil menunjukkan bongkaran kotak brownies)

96. G : Apa? 97. S : Desain..

98. G : Desain apa? Desain gabungan enam persegi yang membentuk bangun …..

99. BS : Kubuuuss

Guru membuat pertanyaan untuk siswa yang mengarahkan tentang pengertian jaring-jaring kubus. Guru membuat pertanyaan dengan menyebutkan ciri-ciri kubus yang kemudian disimpulkan siswa sebagai jaring-jaring kubus. Transkripsi lain yang menunjukkan indikator tersebut pada IV3: 81-86; VI3:4-10.

3) Pemberian motivasi oleh guru kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya terhadap pemecahan masalah

Dalam hal ini guru memancing siswa bertanya dengan memberikan pertanyaan yang membuat siswa ingin tahu. Berikut transkripsi V3:7-19 yang sesuai dengan hal tersebut:

matematika. Kita berbicara tentang balok. Anak-anak masih ingat tentang kubus kemarin enggak? Kita kemarin membongkar kubus terus diapain anak-anak?

8. S : Dibongkar, Dikupasi 9. G : Dikupasiii

10. BS : Dibedah

11. G : Dibedah, digunting, lalu diapain anak-anak? 12. S : Dijembar

13. G : Dijembrengkan. Kemarin kita udah dapet dua bentuk jaring-jaring kubus, yang pertama bentuknya seperti salib (sambil menggambar di whiteboard) terus yang kedua ada yang seperti ini ya bentuknya (sambil kembali menggambarkannya di whiteboard). Ada lagi enggak yang beda? Nanti kita juga akan seperti ini 14. BS : Ada Pak

15. G : Kita nanti juga akan membongkar tapi bentuknya beda. Kalau yang sisinya sama disebuuutt

16. BS : Kubus

17. G : Nah, kalau sisinya berbeda 18. BS : Balok

19. G : Iya, nanti kita akan mengupasi yang balok. Kita akan merobek- robek lalu dijembrengkan seperti kemarin lalu digambar. Oke.. Ingat anak-anak perjanjiannya. Okto, Bayu masukin tasnya. Ingat kurangi bicaranya, kita kerjakan sesuai perintahnya. Oke nanti, peserta didik berkumpul dengan satu kelompoknya. Sudah berkumpul khan?

Berdasarkan transkripsi di atas terlihat bahwa guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan tentang membongkar kubus. Guru mengungkapkan kata dibongkar agar siswa tertarik dan mengungkapkan persamaan kata dari dioperasi dan selanjutnya membayangkan setelah

Dokumen terkait