• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implementasi perangkat pembelajaran bangun ruang dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia siswa kelas IV B SD Kanisius Sengkan - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Implementasi perangkat pembelajaran bangun ruang dengan pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia siswa kelas IV B SD Kanisius Sengkan - USD Repository"

Copied!
343
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN BANGUN RUANG DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

REALISTIK INDONESIA SISWA KELAS IV B SD KANISIUS SENGKAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh : M. Sri Widyaningtyas

091134082

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

IMPLEMENTASI PERANGKAT PEMBELAJARAN BANGUN RUANG DENGAN PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA

REALISTIK INDONESIA SISWA KELAS IV B SD KANISIUS SENGKAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Disusun Oleh : M. Sri Widyaningtyas

091134082

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Hidupmu adalah milikmu, kamu sendiri yg menentukan baik buruknya, dan kamulah yg memimpin dirimu sendiri, bukan orang lain.

Aku datang, aku belajar, aku ujian, aku revisi dan aku menang!

Impian tidak akan menggerakan seseorang utk maju, alasan kuat dibalik impian itulah yg menggerakannya.

karya ini aku persembahkan kepada:

Tuhan Yesus Kristus, dan Bunda Maria yang selalu ada dalam setiap langkahku, keputusasaanku.

Kedua orang tuaku tercinta,

Bapak Martinus Wakidjan dan Ibu Chatarina Siti Rahayuningsih yang tak pernah lelah menyemangati dalam doa dan setiap langkah.

Kakak-kakakku tersayang,

Yohana Susi Widiyastuti, Vincentia Sri Widiyantari dan Chatarina Tri Widiyaningrum atas motivasi dan doanya.

Keponakan tercinta:

Rosaria Purbaningrum dan Vincentius Vindy Arya Putra serta si kecil Fransiska Widya Arumsari yang dengan kepolosan dan kelucuannya memotivasi dan menyemangati dalam kepenatanku.

Sahabat terbaikku :

Shelly, Reno, Tyas, Nana, Megi, Eka Pras, Dian, Laura terima kasih atas segala semangat, dan kebersamaan.

(6)
(7)
(8)

vii ABSTRAK

M. Sri Widyaningtyas. 2013. Implementasi Perangkat Pembelajaran Bangun Ruang Dengan Pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia di Kelas IV B SD Kanisius Sengkan, Condongcatur, Depok, Sleman. Yogyakarta: Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sanata Dharma. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana implementasi perangkat pembelajaran matematika pada materi bangun ruang dengan pendekatan PMRI untuk peserta didik kelas IV di SD Kanisius Sengkan dan mengetahui kemunculan karakteristik PMRI yang direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika pada materi bangun ruang untuk peserta didik kelas IV di SD Kanisius Sengkan.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Terdapat 3 tahap dalam penelitian ini yaitu pralapangan, pekerjaan lapangan, dan analisis data. Pada penelitian ini subyek penelitian berjumlah 44 siswa, Obyek penelitian dilakukan di SD Kanisius Sengkan dan instrumen yang digunakan adalah data kualitatif dan kuantitatif.

Hasil implementasi perangkat pembelajaran menunjukkan bahwa penghitungan penggunaan konteks sebesar sebesar 72.92% dapat dikatakan telah muncul secara maksimal, penggunaan media telah muncul sangat maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 94.45%, penggunaan kontribusi telah muncul dengan maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 66.67%, penggunaan interaktivitas telah muncul secara maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 82.17%, dan karakateristik interwining muncul sangat maksimal ditunjukkan dengan penghitungan sebesar 87.22%.

(9)

viii ABSTRACT

M. Sri Widyaningtas. 2013. Implementation of Geometry Learning Device with PMRI approach at 4th grade. Kanisius Sengkan elementary school. Condong catur. Depok. Sleman. Yogyakarta: Primary School Teacher Education Program, Sanata Dharma University.

Purpose of this research is to understand the implementation of geometrical learning device of geometrical material with PMRI approach for 4th grader at Kanisius Sengkan elementary school and to know emergence of PMRI characteristic realized on mathematics learning activities of geometrical material for 4th grader at Kanisius Sengkan elementary school.

This research is descriptive research. There are 3 steps in this research, they are pre-field, Work field, and data analytics. In this research, subjects are 44 students. Research object done at Kanisisus Sengkan elementary school and instrument used are both qualitative and quantitative data.

Implementation result on learning device shows that context usage calculation as much as 72,92% is a maximum approach. Maximum media usage shown with 94.45 % calculation result. Contribution usage approached maximum, shown with 66.67% calculation result. Interactivity usage reached maximum result as much as 82,17%, and interwining characteristic approached maximum with the result as much as 87.22%.

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas limpahan kasihNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Implementasi Perangkat Pembelajaran Bangun Ruang dengan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia Siswa Kelas IV B SD Kanisius Sengkan” dengan lancar.

Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Sanata Dharma, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dalam penulisan ini penulis menyadari bahawa dalam penyusunan skripsi tidak lepas ari bimbingan, bantuan, dorongan dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasi kepada:

1. Rohandi, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. G. Ari Nugrahanta, SJ., S.S. BST., MA., Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. E. Catur Rismiati, S.Pd., M.A. Ed.D Wakaprodi serta dosen pembimbing akademik, yang telah memberikan pengarahan dan motivasi dalam penulisan skripsi.

4. Dra.Haniek Sri Pratini, M.Pd., dosen pembimbing I, yang telah membimbing, mengarahkan dan memotivasi dalam penulisan skripsi. 5. Veronika Fitri Rianasari, M.Sc., dosen pembimbing II, yang telah

(11)

x

6. Semua dosen dan karyawan PGSD, terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan.

7. Semua pegawai perpustakaan, terima kasih telah memberi pelayanan kepada penulis dalam mendapatkan referensi.

8. M. Sri Wartini, Kepala Sekolah SD Kanisius Sengkan yang telah memberikan izin untuk melaksanakan penelitian.

9. S. Gilang Adiwan Prayudha, A. Ma. Pd., Guru pelajaran Matematika yang telah bersedia bekerjasama dan membantu selama melakukan penelitian. 10. Siswa-siswi kelas IV B SD Kanisius Sengkan atas kerjasama selama

penelitian.

11. Orang tuaku tercinta, Martinus Wakidjan dan Chatarina Siti Rahayuningsih yang telah memberikan dukungan, kepercayaan, motivasi dan doa.

12. Kakak-kakakku tersayang dan keponakan yang telah memberi motivasi dalam menyelesaikan skripsi.

13. Sahabat-sahabatku terbaikku, Shelly, Reno, Agnes Tyas, Eka Pras, Megi, Nana, Dian, dan Laura terima kasih atas bantuan, perhatian, dukungan dan penghiburan yang telah diberikan.

14. Teman-teman seperjuangan paying yang telah membantu dan kerjasama dalam karya penyusunan skripsi.

(12)
(13)

xii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vi

(14)

xiii

1. Mempelajari Penelitian Sebelumnya ... 27

2. Revisi Perangkat Pembelajaran ... 28

BAB IV HASIL PENELITIAN, ANALISA, DAN PEMBAHASAN ... 34

A. Paparan Penelitian Tahun Lalu ... 34

B. Paparan Revisi Perangkat Pembelajaran ... 36

C. Validasi Perangkat Pembelajaran ... 63

D. Uji Keterbacaan ... 63

E. Paparan Hasil Analisis dan Pembahasan Implementasi Perangkat Pembelajaran ... 65

1. Deskripsi Pelaksanaan ... 65

2. Hasil Analisis Kemunculan Indikator Setiap Karakteristik PMRI ... 65

3. Rangkuman Kemunculan Indikator Setiap Karakteristik PMRI dalam Pembelajaran ... 108

F. Respon Guru dan Siswa ... 122

1. Respon Guru ... 123

2. Respon Siswa ... 125

(15)

xiv

BAB V PENUTUP ... 130

A. Kesimpulan ... 130

B. Saran ... 134

(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran ... 32

Tabel 3.2. Kriteria Kemunculan Indikator Karakteristik PMRI ... 33

Tabel 4.1. Hasil validasi perangkat pembelajaran ... 36

Tabel 4.2. Revisi alokasi waktu pembelajaran ... 37

Tabel 4.3. Revisi indikator Pembelajaran ... 37

Tabel 4.4. Revisi Pendekatan, model, dan metode pembelajaran ... 41

Tabel 4.5. Revisi nilai kemanusiaan ... 41

Tabel 4.20. Hasil Validasi perangkat pembelajaran ... 63

Tabel 4.21. Hasil uji keterbacaan di SD Kanisius Kalasan ... 64

Tabel 4.22. Rangkuman Kemunculan Indikator Karakteristik Penggunaan Konteks ... 109

Tabel 4.23. Rangkuman Kemunculan Indikator Karakteristik Penggunaan model ... 112

(17)

xvi

Tabel 4.25. Rangkuman Kemunculan Indikator Karakteristik

Penggunaan Interaktivitas ... 117

Tabel 4.26. Rangkuman Kemunculan Indikator Karakteristik Pemanfaatan Keterkaitan ... 120

Tabel 4.27. Hasil wawancara dengan guru ... 123

Tabel 4.28. Hasil wawancara dengan peserta didik ... 125

(18)

xvii

Gambar 3.1. Tahap penelitian kualitatif menurut Bogdan ... 24

Gambar 3.2. Tahapan Penelitian ... 27

Gambar 4.1. Siswa menggunakan kardus semir rambut ... 69

Gambar 4.2. Siswa menggunakan kardus sabun ... 70

Gambar 4.3. Siswa menggunakan kardus pasta gigi ... 70

Gambar 4.4. Siswa memperhatikan guru menjelaskan dengan alat peraga . 71 Gambar 4.5. Siswa antusias mengerjakan LKS dengan media ... 71

Gambar 4.6. Siswa memperhatikan media yang diperoleh ... 71

Gambar 4.14. Siswa menjiplak jaring-jaring balok ... 76

Gambar 4.15. Siswa menggambar jaring-jaring ... 77

Gambar 4.16. Siswa mengidentifikasi bangun ruang ... 77

Gambar 4.17. Siswa membongkar bangun ruang ... 78

Gambar 4.18. Menjiplak jaring-jaring bangun ruang ... 78

Gambar 4.19. Siswa membuat kubus ... 78

Gambar 4.20. Hasil prakarya siswa ... 79

Gambar 4.21. Jaring-jaring berbentuk T ... 82

Gambar 4.22. Jaring-jaring kubus berbentuk salib ... 82

(19)

xviii

Gambar 4.24. Peserta didik memilih kardus susu ... 85

Gambar 4.25. Siswa menanggapi kelompok lain yang presentasi ... 85

Gambar 4.26. Guru menggunakan alat peraga untuk menjelaskan materi ... 92

Gambar 4.27. Guru membimbing siswa dalam kelompok ... 93

Gambar 4.28. Bimbingan dalam kelompok ... 93

Gambar 4.29. Penilaian melalui presentasi ... 95

Gambar 4.30. Siswa membacakan hasil diskusi ... 95

Gambar 4.31. Siswa melakukan evaluasi ... 96

Gambar 4.32. Guru menggunakan isyarat tangan agar siswa tenang ... 97

Gambar 4.33. Guru mendatangi kelompok yang sedang bercanda ... 97

Gambar 4.34. Siswa mempresentasikan dengan media ... 98

Gambar 4.35. Siswa membacakan hasil diskusi ... 98

Gambar 4.36. Siswa bekerja sama dalam mengerjakan tugas LKS ... 99

Gambar 4.37. Menjiplak jaring-jaring bersama kelompok ... 99

Gambar 4.38. Bekerja sama menggambar jaring-jaring ... 99

Gambar 4.39. Bekerja sama membuat kubus ... 99

Gambar 4.40. Siswa memberikan komentar terhadap presentasi teman ... 100

Gambar 4.41. Siswa mengangkat tangan sebelum memberikan berpendapat . 101 Gambar 4.42. Salah satu siswa dalam kelompok berpendapat, teman yang lain memperhatikan ... 102

Gambar 4.43. Siswa memperhatikan teman yang sedang presentasi ... 102

Gambar 4.44. Siswa menghitung jumlah rusuk dengan media pembelajaran . 103 Gambar 4.45. Siswa membongkar bangun ruang kubus ... 107

Gambar 4.46. Siswa menjiplak bangun ruang kubus ... 107

Gambar 4.47. Siswa menggunting jaring-jaring bangun ruang kubus ... 108

(20)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Silabus ... 138

Lampiran 2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran I ... 150

Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran II ... 157

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran III ... 164

Lampiran 5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran IV ... 170

Lampiran 6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran V ... 177

Lampiran 7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran VI ... 184

Lampiran 8. Materi Ajar I ... 190

Lampiran 18. Soal Evaluasi sifat-sifat Bangun ruang ... 224

Lampiran 19. Soal Evaluasi jaring-jaring Bangun ruang ... 225

Lampiran 20. Kunci Jawaban Soal Evaluasi Pertemuan I ... 226

Lampiran 21. Kunci Jawaban Soal Evaluasi Pertemuan II ... 227

Lampiran 22. Instrumen Validasi Desain Pembelajaran ... 229

Lampiran 23. Lembar Angket Uji Keterbacaan ... 232

Lampiran 24. Indikator Karakteristik PMRI ... 233

Lampiran 25. Lembar Angket Respon Siswa ... 236

Lampiran 26. Lembar Pedoman Wawancara Guru ... 237

Lampiran 27. Lembar Pedoman Wawancara Siswa ... 238

Lampiran 28. Hasil Validasi Ahli ... 239

(21)

xx

Lampiran 30. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan I ... 252

Lampiran 31. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan II ... 258

Lampiran 32. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan IV ... 262

Lampiran 33. Hasil Pekerjaan Siswa pada LKS Pertemuan V ... 266

Lampiran 34. Hasil Evaluasi Sifat-sifat Bangun Ruang ... 270

Lampiran 35. Hasil Evaluasi jaring-jaring Bangun Ruang ... 271

Lampiran 36. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan I ... 272

Lampiran 37. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan II ... 281

Lampiran 38. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan III ... 290

Lampiran 39. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan IV ... 292

Lampiran 40. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan V ... 304

Lampiran 41. Transkrip Video Pembelajaran pertemuan VI ... 311

Lampiran 42. Hasil Penilaian Sifat-sifat Bangun Ruang ... 314

Lampiran 43. Hasil Penilaian Sifat-sifat Bangun Ruang ... 316

Lampiran 44. Surat Ijin Melakukan Penelitian ... 318

Lampiran 45. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 319

Lampiran 46. Dokumentasi Penelitian ... 320

(22)

1 BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini akan membahas latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan definisi operasional.

A. Latar Belakang Masalah

Banyak orang memandang matematika sebagai mata pelajaran yang paling sulit, namun matematika mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dan perkembangan IPTEK. Mata pelajaran matematika perlu diberikan mulai dari sekolah dasar untuk membekali kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama (BNSP, 2007: 143). Selama ini matematika dianggap sebagai ilmu yang abstrak dan kurang menyenangkan hanya berisi rumus-rumus dan tidak bermanfaat. Namun hal tersebut salah, karena matematika sangat bermanfaat untuk kehidupan kita. Agar hal tersebut tidak berkelanjutan, maka perlu adanya inovasi pembelajaran supaya siswa mulai tertarik dengan matematika.

(23)

17 Januari 2013, beliau mengemukakan kesulitan dalam memfokuskan perhatian siswa sealama proses pembelajaran matematika. Guru juga mengatakan bahwa siswa yang terlalu banyak yaitu 44 orang terdiri dari 22 laki-laki dan 22 perempuan dengan ukuran ruang kelas 6 x 8m sangat mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Pernyataan hasil wawancara tersebut didukung dengan hasil observasi peneliti pada tanggal 20 Januari 2013. Selama proses pembelajaran matematika, ada 8 siswa yang tidak bisa duduk tenang, mereka berjalan-jalan di kelas dan mengobrol sehingga konsentrasi siswa yang lain mudah terpecah. Terlihat bahwa ruangan berukuran 6 x 8 m dengan 44 siswa kurang memadai. Kelas terlihat sangat penuh oleh siswa. Selain itu metode mengajar yang sering digunakan guru adalah ceramah. Saat dilakukan observasi, materi yang diajarkan adalah materi sudut. Dalam menjelaskan materi guru hanya menggunakan media pembelajaran dengan hanya 5 siswa yang mencoba menggunakannya dan lainnya hanya melihat. Hal tersebut juga terlihat dari persentase hasil pembelajaran yaitu 41% dari 44 siswa belum mencapai nilai KKM 6,2.

Dari paparan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa siswa mudah sekali terganggu konsentrasinya karena metode ceramah yang banyak dilakukan saat pembelajaran, dan keterbatasan alat peraga yang digunakan sehingga menghambat penerimaan materi yang diberikan dari guru kepada siswa.

(24)

Matematika Realistik Indonesia (PMRI). Pendekatan PMRI merupakan pendekatan yang memfokuskan pada pelajaran matematika. Pendekatan PMRI adalah pembelajaran yang menggunakan masalah kontekstual yang dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari serta melibatkan partipasi seluruh siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga diharapkan dapat memaksimalkan pemahaman materi yang diterima oleh siswa. Penggunaan masalah kontekstual yang dekat dengan anak digunakan untuk menarik perhatian anak dan membantu anak dalam memahami pelajaran matematika dari hal yang konkret menjadi konsep matematika yang abstrak.

Penelitian dilakukan untuk mengimplementasikan perangkat pembelajaran bangun ruang pada mata pelajaran matematika kelas IV SD. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian sebelumnya yaitu untuk mengembangkan perangkat pembelajaran yang telah direvisi dan disesuaikan dengan kondisi sekolah SD Kanisius Sengkan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diidentifikasikan di atas maka peneliti merumuskan masalah yang diambil yaitu

a. Bagaimana implementasi perangkat pembelajaran matematika pada materi bangun ruang dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas IV di SD Kanisius Sengkan?

(25)

Berdasarkan rumusan masalah di atas penelitian ini bertujuan untuk:

a. Mengetahui implementasi perangkat pembelajaran matematika pada materi bangun ruang dengan pendekatan PMRI untuk siswa kelas IV di SD Kanisius Sengkan.

b. Mengetahui karakteristik PMRI direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran matematika pada materi ruang untuk siswa kelas IV di SD Kanisius Sengkan.

D. Manfaat Penelitian

1. Peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman menggunakan pendekatan PMRI untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dan membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran.

2. Siswa

Berpartisipasi aktif, berpikir kreatif, dan membangun sendiri pemahamannya dalam pembelajaran yang menyenangkan.

3. Sekolah

Menambah sumber bacaan yang dapat dimanfaatkan bagi guru sebagai referensi dalam mengajar.

4. Dunia Pengetahuan

(26)

1. Implementasi

Implementasi adalah penerapan suatu ide atau rancangan yang telah dibuat untuk disajikan ke dalam bentuk aksi/tindakan.

2. Perangkat pembelajaran

Perangkat pembelajaran adalah segala sesuatu yang berhubungan dalam penyampaian materi dalam proses pembelajaran. Perangkat pembelajaran tersebut dapat berupa RPP, silabus, alat peraga, LKS dan soal evaluasi. 3. Bangun ruang

Bangun ruang adalah benda tiga dimensi yang dibatasi oleh titik sudut, sisi dan rusuk. Bangun ruang pada penelitian ini adalah bangun ruang balok dan bangun ruang kubus.

4. PMRI

PMRI adalah pendekatan dalam pembelajaran matematika yang dalam proses pembelajarannya menggunakan masalah kontekstual kehidupan sehari hari siswa, penggunaan model, penggunaan kontribusi siswa, interaksi, keterkaitan dalam pembelajaran.

(27)

6 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab II ini akan membahas tentang landasan teori dan kerangka berpikir

penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti.

A. Landasan Teori

1. Pembelajaran Matematika

a) Pembelajaran

Pembelajaran menurut Daryanto (2012:154) adalah penyiapan suatu

kondisi agar terjadinya belajar yang didasarkan pada kebutuhan-kebutuhan

belajar anak.Sependapat dengan Daryanto, Arifin (2009:10) mengemukakan

pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan

agar seseorang dapat melakukan kegiatan belajar.Berbeda halnya dengan

pendapat Surya (2004:7) yang mengemukakan pembelajaran adalah suatu

proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan

perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu

itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan

bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang direncanakan agar kegiatan

belajar siswa berlangsung dengan lancar sehingga siswa memperoleh suatu

perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan.

b) Matematika

Menurut Heruman (2008:2-3) Landasan pembelajaran matematika di

(28)

1) Penanaman konsep dasar

Pembelajaran penanaman konsep merupakan jembatan untuk

menghubungkan kemampuan kognitif siswa yang konkret dengan

konsep baru matematika yang abstrak.Dalam tahap ini media atau

alat peraga sangat penting untuk membantu pemahaman siswa.

2) Pemahaman konsep

Dalam tahap ini siswa lebih memahami suatu konsep

matematika.Pemahaman konsep tersebut merupakan kelanjutan dari

penanaman konsep.

3) Pembinaan keterampilan

Pada tahap pembelajaran pembinaan keterampilan diharapkan siswa

lebih terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika

untuk menyelesaikan masalah

Dari beberapa tahap tersebut maka pembelajaran matematika adalah

kegiatan suatu kegiatan belajar yang direncanakan agar seorang anak

mengalami perubahan perilaku secara keseluruhan sebagai hasil dari

pengalaman setiap individu. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya

pemahaman siswa dari sesuatu yang konkret menjadi suatu konsep matematika

sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan untuk menyelesaikan

permasalahan sehari-hari anak.

2. Perangkat Pembelajaran

Menurut Trianto (2010:96) perangkat pembelajaran adalah perangkat yang

(29)

(2012:154) mengungkapkan bahwa pembelajaran adalah suatu kombinasi yang

tersusun meliputi unsur-unsur manuasiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan

prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa

perangkat pembelajaran adalah peralatan yang diperlukan untuk kelancaran

proses kegiatan belajar mengajar sehingga tujuan yang direncanakan tercapai.

Perangkat pembelajaran itu antara lain: silabus, Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), bahan ajar, dan evaluasi.

a. Silabus

Sanjaya (2006:26) mengungkapkan bahwa silabus adalah seperangkat

rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan

penilaian hasil belajar.

Muslich (2007:32) mengemukakan bahwa silabus merupakan penjabaran

standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok, kegiatan

pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Silabus menurut Mulyasa (2008:132-133) diartikan sebagai rencana

pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran, yang mencakup standar

kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator

pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar yang

dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan, berdasarkan standar nasional

pendidikan (BSNP).

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, silabus menurut peneliti

(30)

kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok, kegiatan pembelajaran, indikator,

penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar untuk mencapai tujuan

pembelajaran.

Komponen-komponen yang terdapat dalam silabus adalah sebagai

berikut: kompetensi dasar, hasil belajar, indikator, langkah pembelajaran,

alokasi waktu, sarana dan sumber belajar, penilaian (Sanjaya: 2006:26-27).

Pengembangan silabus yang baik terdapat tujuh prinsip dasar yaitu:

relevansi, fleksibilitas, kontinuitias, efektivitas, konsisten, dan memadai

(Mulyasa: 2008:138-141).

b. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Munthe (2009:200) menyatakan rencana pelaksanaan pembelajaran

(RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian

pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam

standar isi dan dijabarkan dalam silabus.

Sependapat dengan Munthe, BNSP (2007:445) menyatakan bahwa

rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan

prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai suatu kompetensi

dasar yang mengacu kepada kompetesi dan indikator yang telah dijabarkan

dalam silabus.

Supriadie dan Deni Darmawan (2012:122) merumuskan bahwa rencana

pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah sebuah rencana pembelajaran yang

(31)

serta mencapai indikator yang telah dibuat sebagai penanda bahwa kompetensi

dasar telah dicapai.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, maka rencana pelaksanaan

pembelajaran menurut peneliti adalah rencana pembelajaran untuk mencapai

kompetensi dasar yang telah dijabarkan dalam silabus.

Muslich (2007:53) mengungkapkan bahwa secara teknis RPP minimal

mencakup beberapa komponen, antara lain standar kompetensi, kompetensi

dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran, materi

pembelajaran, pendekatan dan metode pembelajaran, langkah-langkah kegiatan

pembelajaran, alat dan sumber belajar, dan evaluasi pembelajaran.

Trianto (2010:108) menyatakan bahwa mengembangkan RPP harus

berpedoman pada 4 prinsip pengembangan RPP, yaitu:

1. Kompetensi yang direncanakan harus jelas, konkret, dan mudah

dipahami oleh siapapun yang membaca.

2. Sederhana dan fleksibel.

3. Bersifat menyeluruh, utuh, dan jelas tujuannya.

4. Koordinasi dengan komponen pelaksana program sekolah, agar tidak

mengganggu jam pelajaran yang lain (jika sekolah menggunakan guru

mata pelajaran bukan guru kelas).

c. Lembar Kerja Siswa (LKS)

LKS merupakan lembar yang berisi informasi diperlukan oleh siswa dan

(32)

Trianto (2009:222-223) mengungkapkan bahwa LKS adalah panduan

siswa yang memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh

siswa untuk membantu pemahamannya sesuai indikator pencapaian yang telah

dibuat.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka LKS menurut peneliti

adalah panduan kegiatan siswa untuk belajar agar memahami suatu materi

sesuai dengan indikator yang telah dibuat.

d. Bahan Ajar

Bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan untuk

membantu guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar baik tertulis

maupun tidak tertulis (Mudjito,2009:2). Berbeda dengan pendapat Susilo

(2007:146) yang mengungkapkan materi pembelajaran adalah uraian singkat

materi yang akan dipelajari saat pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka menurut peneliti bahan

ajar adalah rangkuman materi disusun dan dipersiapkan untuk membantu guru

mencapai tujuan pembelajaran sesuai indikator yang telah dibuat.

e. Evaluasi

Menurut Aunurrahman (2012:209) evaluasi merupakan kegiatan

pengumpulan data untuk mengukur sejauhmana tujuan telah tercapai.Berbeda

hal dengan pendapat Harjanto (2008:277) mengemukakan bahwa evaluasi

adalah penilaian terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan

(33)

merupakan bagian dari proses belajar mengajar yang secara keseluruhan tidak

dapat dipisahkan dari kegiatan mengajar.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas, maka menurut peneliti

evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data berupa penilaian terhadap kegiatan

pembelajaran yang telah dilakukan untuk mengetahui kemajuan siswa dari

tujuan yang telah ditentukan.

3. Bangun Ruang

Menurut Shamsudin (2002:44) geometri adalah cabang matematika yang

mempelajari hubungan, ciri-ciri atau ukuran pada titik, garis, sudut, bidang

permukaan, dan benda ruang.

Shamsudin (2002:8) menyatakan bangun ruang adalah adalah bangun

ruang tiga dimensi, baik berongga maupun padat, misalnya kubus atau

bola.Sedangkan Patilla (2007:15) mengemukakan bahwa bentuk ruang adalah

semua bentuk yang memiliki panjang, lebar dan tinggi.Bentuk ruang memiliki

tiga dimensi (matra).Tidak semua bentuk ruang memiliki sisi datar (bidang

banyak, bidang banyak beraturan, tiga dimensi).

Mustaqim dan Astuty (2008:207) mengungkapkan bahwa bangun ruang

mempunyai tiga unsur, yaitu:

a. Sisi

Sisi merupakan bidang atau permukaan yang membatasi bagian dalam dan

bagian luar suatu bangun ruang.

b. Rusuk

(34)

c. Titik sudut

Titik sudut merupakan pertemuan dari tiga buah rusuk atau lebih pada

bangun ruang.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas, menurut peneliti bangun ruang

adalah bangun yang terdiri dari 3 dimensi sehingga membentuk ruang. Bangun

ruang dalam penelitian ini dibatasi pada bangun ruang balok dan kubus.

a. Balok

Mustaqim dan Astuty (2008:211) mengemukakan bahwa balok adalah

benda ruang yang dibatasi tiga pasang persegi panjang dimana setiap pasang

persegi panjang saling sejajar (berhadapan) dan kongruen (berukuran sama).

Sifat-sifat balok menurut Mustaqim dan Astuti (2008:210) antara lain:

Gambar 2.1.bangun ruang balok

1) Sisi-sisi pada balok ABCD.EFGH adalah:

- ABCD - DCGH

- ABFE - CBFG

- ADHE - EFGH

Jadi, sisi pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 6 sisi.

(35)

Sisi ABFE = sisi DCGH

Sisi ADFE = sisi BCGH

2) Rusuk pada balok ABCD.EFGH adalah:

Jadi, rusuk pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 12 rusuk.

= = =

= = =

= = =

3) Titik sudut pada balok ABCD.EFGH adalah:

Titik sudut A titik sudut E

Titik sudut B titik sudut F

Titik sudut C titik sudut G

Titik sudut D titik sudut H

Jadi, titik sudut pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 8 titik

sudut.

Marsigit (2009:178) menyatakan bahwa jaring-jaring suatu bangun ruang

adalah pola gambar dimensi dua yang digunakan untuk membentuk suatu

bangun ruang.Sedangkan Mustaqim dan Astuty (2008:214) mengungkapkan

bahwa jaring-jaring bangun ruang adalah gabungan dari beberapa bangun datar

yang membentuk sebuah bangun ruang.

Menurut peneliti jaring-jaring bangun ruang adalah gambar dua dimensi

(36)

Mustaqim dan Astuty (2008:214) mengungkapkan bahwa jaring-jaring

balok adalah gabungan dari beberapa persegi panjang.

Gambar 2.2.jaring-jaring balok

b. Kubus

Mustaqim dan Astuty (2008:208) mengungkapkan bahwa kubus

merupakan benda ruang yang dibatasi oleh enam buah persegi yang berukuran

sama.

Mustaqim dan Astuty (2008:208) menyatakan bahwa sifat-sifat kubus

adalah:

Gambar 2.3.bangun ruang kubus

1) Sisi pada kubus ABCD.EFGH adalah:

- ABCD - CBFH

- ABFE EFGH

- ADHE - DCGH

(37)

2) Rusuk pada kubus ABCD.EFGH adalah:

Jadi, rusuk pada bangun ruang kubus ABCD.EFGH memiliki 12 rusuk.

3) Titik sudut pada ABCD.EFGH adalah:

Titik sudut A titik sudut E

Titik sudut C titik sudut G

Titik sudut D titik sudut H

Jadi, titik sudut pada bangun ruang balok ABCD.EFGH memiliki 8 titik

sudut.

Jaring-jaring kubus menurut Mustaqim dan Astuty (2008:214) adalah

gabungan dari beberapa persegi yang berukuran sama yang membentuk kubus.

(38)

4. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia

a. Pengertian PMRI

Van den Heuvel Panhuizen dalam Wijaya (2011:20) menyatakan PMRI

merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang mengacu

pada penekanan penggunaan suatu situasi yang bisa dibayangkan oleh

siswa.Sedangkan menurut Suryanto (2010:37) menyatakan bahwa PMRI

adalah pendidikan matematika sebagai hasil adaptasi Realistik Mathematic

Education yang disesuaikan dengan kondisi budaya, geografi dan kehidupan

masyarakat Indonesia.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa

PMRI adalah suatu pendekatan dalam pelajaran matematika yang berpusat

pada siswa yaitu fokus pembelajarannya disesuaikan dengan kondisi budaya,

geografi dan kehidupan masyarakat Indonesia ataupun yang dekat kehidupan

keseharian sehingga dapat dibayangkan siswa.

b. Sejarah PMRI

Menurut Suryanto (2010:37) menyatakan PMRI merupakan pendekatan

pembelajaran matematika yang diadaptasi dari Belanda yaitu RME.PMRI

tersebut telah disesuaikan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan

masyarakat Indonesia.

Sekelompok kecil guru matematika di Indonesia yang peduli terhadap

masalah-masalah dalam pendidikan matematika mengupayakan suatu

pembaharuan dalam pengajaran matematika.Upaya tersebut diwujudkan

(39)

mengadaptasi pendekatan dalam pembelajaran matematika di Belanda yang

bernama RME.RME sendiri terbentuk dari suatu lembaga pendidikan

matematika Freudenthal Institute yang berada di Universitas Utrecht. Upaya

pembaharuan tersebut dipelopori oleh Hans Freudenthal pada tahun 1970-an.

Karya pembaharuan tersebut menggabungkan pandangan tentang apa itu

matematika, bagaimana siswa belajar matematika dan bagaimana matematika

harus diajarkan. Menurut Freudenthal pendidikan harus mengarahkan siswa

kepada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan untuk menemukan

kembali matematika dengan cara mereka sendiri. Konsep matematika muncul

dari proses matematisasi, yaitu mulai dari penyelesaian yang terkait dengan

konteks, secara perlahan siswa mengembangkan alat dan pemahaman

matematika ke tingkat yang lebih formal. Model-model yang muncul dari

kegiatan matematik siswa dapat membantu terjadinya interaksi di kelas,

sehingga mengarah pada level berpikir matematik yang lebih tinggi. Daryanto

(2012:150).

c. Prinsip PMRI

Suryanto (2010:42) menyatakan bahwa PMRI memiliki 3 prinsip, yaitu:

1) Guided Reinvention and Progressive Mathematization (Menemukan

Kembali dan Matematisasi Progresif)

Prinsip Guided Reinvention adalah penekanan pada penemuan

kembali secara terbimbing.Pembelajaran dimulai dengan masalah

kontekstual yang realistik sehingga siswa mendapat kesempatan untuk

(40)

matematis.Setelah siswa menemukan ide dan konsep kemudian siswa

diarahkan untuk berpikir matematis. Dikatakan progressive karena ada dua

tahap yang berurutan, yaitu matematisasi horizontal (berawal dari masalah

kontekstual dan berakhir pada matematika formal) dan matematisasi

vertikal (berawal dari matematika formal ke matematika formal yang lebih

rumit).

2) Didactical Phenomenology (Fenomenologi Didaktis)

Prinsip Didactical Phenomenology adalah prinsip yang

penekanannya pada fenomena pembelajaran yang bersifat mendidik dan

menekankan pentingnya masalah kontekstual untuk memperkenalkan

matematika kepada siswa. Pemilihan masalah kontekstual dengan

mempertimbangkan aspek kecocokan aplikasi yang harus diantisipasi

dalam pembelajaran dan kecocokan dengan proses penemuan siswa, yang

berarti bahwa siswa menemukan sendiri konsep, aturan, cara atau sifat dan

model Matematis.

3) Self-developed model (Membangun sendiri model)

Prinsip Self-developed model merupakan jembatan bagi siswa dari

situasi informal matematika ke formal matematika. Terdapat dua Model

yang digunakan yaitu model of dan model for. Model of disebut juga

matematika informal. Dalam model of siswa tidak berada dalam konteks

situasi, namun sudah merujuk pada konteks. Siswa membuat model untuk

menggambarkan situasi konteks yang mirip dengan permasalahan realistik

(41)

model of dan masih disebut matematika informal. Selanjutnya akan

bergeser menjadi model for saat siswa mengembangkan model yang

mengarah pada pencarian solusi secara matematis. Penemuan solusi

tersebut mengarahkan siswa pada pemikiran abstrak atau matematika

formal. Contoh Model of dan model for ditunjukkan pada gambar 2.5 di

bawah ini:

Gambar 2.5. model of dan for

Berdasarkan prinsip PMRI di atas, diketahui bahwa PMRI memberikan

kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri, mereka dapat dengan leluasa

menemukan dan membangun sendiri pengetahuan yang menjadi tujuan Rita membeli kado untuk temannya yang akan merayakan ulang tahun.

Dia akan membungkus kado dengan membentuk balok, namun tidak muat karena kardus balok dari bungkus pasta gigi yang Rita punya terlalu kecil. Rita akhirnya membuat kardus berbentuk balok yang lebih besar untuk membungkusnya. Untuk mengetahui cara membuatnya dia membongkar kardus yang dia punya untuk melihat bagaimana cara membuat sebuah balok.

Konteks Situasi Nyata

Dibongkar menjadi jarring-jaring balok:

(42)

pembelajaran dari permasalahan konteks yang sudah dikenal anak. Peran guru

hanya membimbing siswa.

d. Karakteristik PMRI

Menurut Treffers dalam Wijaya (2012:21-22) merumuskan 5

karakteristik PMRI, yaitu:

1) Penggunaan konteks

Konteks atau permasalahan realistik digunakan sebagai titik awal

pembelajaran Matematika yang dapat memotivasi siswa dalam belajar

matematika.Melaluipenggunaan konteks, siswa dilibatkan secara aktif untuk

melakukan kegiatan eksplorasipermasalahan.

2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif

Penggunaan model berfungsi sebagai jembatan dari pengetahuan dan

matematikatingkat konkrit menuju pengetahuan matematika tingkat formal.

Penggunaan modeldalam pembelajaran dapat memperjelas materi pelajaran

yang bersifat abstrak sehinggadapat memperlancar dan meningkatkan proses

belajar siswa.

3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa

Matematika tidak diberikan kepada siswa sebagai suatu produk yang

siap pakai tetapi sebagai suatu konsep yang dibangun oleh siswa.Siswa

diberikan kebebasan untukmenyelesaikan permasalahan dalam

pembelajaran sehingga dapat membantu siswamemahami konsep

(43)

4) Interaktivitas

Proses belajar siswa merupakan suatu proses sosial di mana dalam

proses tersebutterjadi interaksi/komunikasi antara guru dan siswa, siswa dan

guru serta antara siswa dan siswa. Proses belajar tersebut akan lebih singkat,

bermakna, mengembangkankemampuan kognitif dan afektif siswa secara

simultan.

5) Keterkaitan

Konsep-konsep dalam matematika saling berkaitan sehingga

konsep-konsep tersebuttidak dikenalkan siswa secara terpisah satu sama lain.

Pendidikan Matematika Realistikmenempatkan keterkaitan antar konsep

matematika yang harus dipertimbangkan dalamproses pembelajaran.

Melalui keterkaitan ini, satu pembelajaran matematika diharapkanbisa

mengenalkan dan membangun lebih dari satu konsep matematika secara

bersamaan.

Dari beberapa karakteristik PMRI di atas dapat dilihat bahwa PMRI

selalu dimulai dengan masalah kontekstual yang realistik sehingga dapat

memberikan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diberikan.Hal

tersebut juga memberikan motivasi kepada siswa untuk belajar secara mandiri.

Mandiri yang dimaksudkan adalah siswa menemukan sendiri pengetahuan

yang menjadi tujuan pembelajaran, kemampuan kognitif dan afektif siswa

dapat berkembang lebih bermakna sehingga dapat menerapkan pemahaman

(44)

B. Kerangka Berpikir

Matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang paling sulit, hal tersebut

terlihat dari persentase hasil pembelajaran yaitu 41% dari 44 siswa belum

mencapai nilai KKM.Pada anak usia SD tahap pemikiran anak termasuk dalam

tahap operasional konkret. Namun kebanyakan guru sering mengajar langsung

pada konsep matematika yang abstrak.Pengajaran yang langsung pada konsep

matematika membuat siswa kesulitan memahami materi matematika.Anak lebih

mudah memahami jika guru mengajarkan menggunakan media

pembelajaran.Media pembelajaran mempermudah anak memahami konsep

matematika.

Penggunaan PMRI merupakan suatu penerapan pendekatan matematika

yang memiliki lima karakteristik meliputi kontekstual, pemodelan, konstruktif,

interaksi, dan keterkaitan dalam pembelajaran sehingga siswa mudah dalam

memahami konsep matematika yang abstrak.

Salah satu materi dalam matematika adalah bangun ruang.Bangun ruang

merupakan materi mata pelajaran matematika yang dipelajari di kelas IV semester

2.Bangun ruang yang dipelajari meliputi bangun ruang balok dan bangun ruang

kubus. Pembelajaran tentang materi bangun ruang balok dan bangun ruang kubus

menggunakan pendekatan PMRI mempermudah siswa dalam memahami materi

tersebut karena adanya penggunaan permasalahan kontekstual yang dekat dengan

kehidupan sehari-hari, penggunaan model yang dapat membantu siswa memahami

konsep, adanya interaksi; antar siswa, siswa dengan guru, siswa dengan media

(45)

pelajaran matematika yang sudah dan sedang dipelajari oleh siswa, serta

(46)

24 BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam bab ini akan diuraikan tentang jenis penelitian, seting penelitian,

rancangan penelitian, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik

analisis data.

A. Jenis Penelitian

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemunculan indikator-indikator

karakteristik PMRI pada implementasi perangkat pembelajaran bangun ruang.

berdasarkan tujuan tersebut, penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian

deskriptif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif.

Menurut Sukmadinata (2011-73), penelitian deskriptif suatu penelitian yang

menggambarkan suatu kondisi apa adanya sesuai dengan fenomena yang terjadi,

baik yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.

Penelitian kualitatif ini dilakukan dengan 3 tahap (Bogdan dalam Barowi

dan Suwandi, 2008:84-92). Tiga tahapan yang menjadi dasar dalam penelitian ini

dapat dilihat melalui bagan berikut:

Gambar 3.1. Tahap penelitian kualitatif menurut Bogdan. Tahap penelitian kualitatif yang pertama adalah tahap pralapangan. Pada

tahap pralapangan terdapat enam kegiatan yang harus dilakukan peneliti yaitu

menyusun rancangan penelitian, memilih lokasi penelitian, mengurus perizinan

penelitian, menjajaki dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan

PRALAPANGAN PEKERJAAN

LAPANGAN

(47)

informan, dan menyiapkan perlengkapan penelitian. Kegiatan-kegiatan tersebut

untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan agar penelitian berjalan lancar.

Dalam penelitian ini, yang dilakukan peneliti adalah mempelajari penelitian

sebelumnya, merevisi perangkat pembelajaran, melakukan validasi kepada 3 ahli

matematika, melakukan uji keterbacaan kepada 3 orang siswa dengan subyek

yang berbeda, memilih SD yang akan dilakukan untuk implementasi

pembelajaran. Selain itu peneliti juga melakukan wawancara dengan guru

pelajaran dan observasi kegiatan pembelajaran.

Tahap penelitian kualitatif yang kedua adalah tahap pekerjaan lapangan.

Pada tahap pekerjaan lapangan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu memahami latar

penelitian dan persiapan diri, memasuki lapangan dan berperan serta

mengumpulkan data. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data saat penelitian

berlangsung sesuai yang peneliti butuhkan. Dalam penelitian ini yang peneliti

lakukan adalah melakukan implementasi ke SD Kanisius Sengkan. saat

pembelajaran berlangsung peneliti mengumpulkan data dengan merekam setiap

kegiatan pembelajaran. Peneliti juga membagikan angket respon siswa dan

wawancara kepada siswa dan guru untuk melihat pendapat mereka tentang proses

pembelajaran yang telah dilakukan menggunakan pendekatan PMRI.

Tahap penelitian kualitatif yang ketiga adalah tahap analisis data. Tahap

analisis data yang dilakukan adalah konsep dasar analisis data, menemukan tema

serta menganalisis berdasarkan data yang diperoleh. Pada tahap ini peneliti

memproses data yang telah dikumpulkan saat pekerjaan lapangan. Peneliti

(48)

siswa serta hasil pembelajaran menggunakan lembar pengamatan yang telah

dibuat.

B. Setting Penelitian

1. Tempat

Penelitian dilaksanakan di SD Kanisius Sengkan, yang beralamat di Jl.

Kaliurang Km 7 RT 002/10, Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta,

55283.

2. Subjek

Subjek penelitian ini yaitu siswa dan guru matematika kelas IV B SD

Kanisius Sengkan tahun pelajaran 2012/2013. Di dalam kelas IV SD Kanisius

Sengkan terdapat 44 peserta didik yang terdiri dari 22 putra dan 22 putri.

3. Objek Penelitian

Objek dalam penelitian ini adalah implementasi perangkat pembelajaran

dalam pembelajaran bangun ruang kubus dan balok menggunakan pendekatan

Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI).

C. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti merancang penelitian yang terdiri dari 5

tahapan. Lima tahapan itu yaitu: mempelajari penelitian sebelumnya, revisi

perangkat pembelajaran, validasi ahli, uji keterbacaan dan implementasi. Berikut

(49)

Gambar 3.2. Tahapan penelitian

Penjelasan mengenai rancangan penelitian di atas adalah sebagai berikut:

1. Mempelajari Penelitian Sebelumnya

Tahap pertama adalah mempelajari penelitian sebelumnya. Pada tahap ini

peneliti mempelajari penelitian tahun lalu yang telah dilakukan sebelumnya.

Tahap Penelitian sebelumnya telah menghasilkan produk berupa silabus, RPP,

bahan ajar, LKS, dan evaluasi materi bangun ruang. Peneliti mempelajari dan

memahami penelitian sebelumnya agar mengetahui materi yang dikembangkan

oleh peneliti sebelumnya. Setiap peneliti dalam penelitian sebelumnya hanya

membahas satu karakteristik dari lima karakteristik PMRI, berikut empat judul

penelitian tahun lalu:

a. Natalia Purwanti dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran

bangun ruang menggunakan masalah kontekstual sebagai starting point MEMPELAJARI PENELITIAN

SEBELUMNYA

REVISI PERANGKAT PEMBELAJARAN

VALIDASI AHLI

UJI

KETERBACAAN

(50)

pembelajaran dengan pendekatan PMRI di kelas IVB SD Tarakanita

Magelang.

b. Adella Citra Yuni Puspitasari dengan judul: Pengembangan perangkat

pembelajaran bangun ruang yang menggunakan kontribusi siswa dengan

pendekatan PMRI di kelas IVB SD Kanisius Kalasan.

c. Ag. Tri Hardianta dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran

bangun ruang yang mencakup interaktivitas dengan pendekatan PMRI di

kelas IV SDN Kledokan tahun pelajaran 2011/2012.

d. Antonius Kris Aditya dengan judul: Pengembangan perangkat pembelajaran

bangun ruang yang mencakup interwining dengan pendekatan PMRI di kelas IVB SD Kanisius Kalasan tahun pelajaran 2011/2012.

2. Revisi Perangkat Pembelajaran

Tahap kedua yang dilakukan adalah revisi perangkat pembelajaran.

Setelah mempelajari penelitian tahun lalu peneliti merevisi perangkat

pembelajaran:silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan soal evaluasi. Revisi

perangkat pembelajaran dilakukan dengan mengubah perangkat pembelajaran

yang telah ada disesuaikan dengan keadaan di lingkungan sekitar SD Kanisius

Sengkan.

3. Validasi Ahli

Tahap ketiga adalah validasi ahli. Peneliti melakukan validasi ahli untuk

mengetahui kelayakan perangkat pembelajaran yang telah direvisi sebelum

(51)

matematika Universitas Sanata Dharma dan 1 guru matematika SD Kanisius

Sengkan.

4. Uji Keterbacaan

Tahap keempat adalah uji keterbacaan. Setelah perangkat pembelajaran

divalidasi, peneliti melakukan uji keterbacaan. Uji keterbacaan dilakukan

kepada siswa kelas IV yang berbeda dengan subyek penelitian. Uji keterbacaan

dilakukan untuk mengetahui pemahaman peserta didik tentang perangkat

pembelajaran yang telah dibuat peneliti. Perangkat pembelajaran yang diuji

keterbacaan kepada siswa adalah LKS dan evaluasi.

5. Implementasi

Setelah melakukan uji keterbacaan tahap terakhir yang dilakukan peneliti

adalah implementasi. Implementasi dilakukan di kelas IV B SD Kanisius

Sengkan. Penelitian dilakukan sebanyak 6 kali pertemuan. Enam kali

pertemuan tersebut yaitu: pertemuan pertama adalah mempelajari sifat-sifat

balok, pertemuan kedua mempelajari sifat-sifat kubus, pertemuan ketiga

dilakukan evaluasi tentang sifat-sifat balok dan kubus yang telah dipelajari

dalam 2 pertemuan sebelumnya, pertemuan keempat adalah mempelajari

tentang jaring-jaring kubus, pertemuan kelima adalah mempelajari tentang

jaring balok, dan pertemuan keenam dilakukan evaluasi tentang

jaring-jaring balok dan kubus yang telah dipelajari dalam 2 pertemuan sebelumnya.

Selain itu peneliti juga menyebarkan angket respon peserta didik dan

(52)

mengetahui respon guru dan siswa tentang pembelajaran menggunakan

pendekatan PMRI yang telah dilakukan

D. Instrumen Penelitian

1. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data

kuantitatif dalam penelitian ini diperoleh dari hasil validasi perangkat

pembelajaran, hasil uji keterbacaan, dan hasil evaluasi. Data kualitatif

diperoleh dari hasil menganalisis implementasi perangkat pembelajaran yang

telah dilakukan berdasarkan indikator-indikator karakteristik PMRI yang

nampak dalam kegiatan pembelajaran bangun ruang dalam bentuk video dan

foto. Data kualitatif diperoleh juga dari hasil angket respon peserta didik, hasil

wawancara siswa dan guru matematika terhadap pembelajaran yang telah

dilakukan.

2. Instrumen Pengumpulan Data

a. Instrumen data kuantitatif

Instrumen data kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

lembar validasi perangkat pembelajaran oleh ahli, lembar uji keterbacaan, dan

lembar angket respon peserta didik. Lembar uji keterbacaan berisi penilaian

siswa kelas IV terhadap perangkat pembelajaran yang telah dibuat sebagai

hasil dari pemahaman siswa yang berupa LKS dan evaluasi. Lembar angket

respon siswa menggunakan skala likert dengan kategori 1. TS (tidak setuju),

(53)

b. Instrumen data kualitatif

Instrumen data kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

lembar pedoman wawancara guru matematika dan peserta didik, dan

dokumentasi selama pembelajaran berlangsung. Lembar pengamatan kegiatan

pembelajaran dan lembar soal evaluasi. Lembar pengamatan berisi

bentuk-bentuk aktivitas yang telah disusun peneliti sebelumnya berdasarkan

indikator-indikator 5 karakteristik PMRI.

E. Teknik Pengumpulan Data

Data kuantitatif dikumpulkan melalui hasil uji keterbacaan dan validasi ahli

perangkat pembelajaran yang berupa komponen-komponen pembelajaran yaitu

silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan evaluasi. Hasil uji keterbacaan dan hasil

perhitungan validasi digunakan sebagai gambaran bahwa perangkat pembelajaran

layak untuk implementasikan.

Data kualitatif dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan angket.

Observasi yang dilakukan ada dua macam, yaitu observasi langsung dan tidak

langsung. Observasi langsung dilakukan dengan melakukan pengamatan saat

pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar pengamatan. Observasi

tidak langsung dilakukan melalui transkrip data berdasarkan analisa video

pembelajaran. Video digunakan untuk melengkapi data yang saat pembelajaran

berlangsung terlewatkan, peneliti dapat melihat ulang pembelajaran secara

lengkap dari awal hingga akhir pembelajaran kembali untuk melengkapi data yang

dibutuhakan. Video pembelajaran diperoleh dengan merekam selama

(54)

melakukan wawancara terhadap beberapa siswa dan guru mata pelajaran

matematika. Angket dilakukan setelah semua pembelajaran selesai.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan ada dua yaitu analisis data kuantitatif

dan analisis data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dengan melakukan validasi

perangkat pembelajaran yang telah direvisi peneliti oleh ahli. Validasi diperlukan

untuk mengetahui apakah perangkat pembelajaran sudah layak diimplementasikan

atau masih perlu direvisi. Kriteria validitas perangkat pembelajaran menggunakan

kriteria penilaian dari disertasi Setiani (2011). Berikut ini tabel 3.1 kriteria yang

digunakan untuk penilaian perangkat pembelajaran:

Tabel 3.1. Kriteria Penilaian Perangkat Pembelajaran Angka Interval Skor Rata-rata Kategori

4 3.25 < M ≤ 4.00 Sangat Baik

M = rata-rata skor untuk setiap aspek yang dinilai

Data kualitatif diperoleh dengan menganalisis kemunculan indicator

karakteristik PMRI. Kemunculan indikator-indikator karakteristik PMRI

diharapkan dapat dilihat berdasarkan RPP yang telah disusun. Persentase

kemunculan indikator dapat dihitung dengan membandingkan kegiatan

(55)

kriteria kemunculan indikator yang telah ditentukan di awal penelitian. Kriteria

kemunculan indikator merupakan hasil persentase setiap indikator yang

berpedoman pada tabel kriteria kemunculan indikator karakteristik PMRI.

Rentangan skor dalam bentuk skor menggunakan kurva normal sebagai acuan.

Penggunaan kurva normal dengan melihat keadaan kelas yang heterogen dari

kemampuan peserta didik dan sebagian besar data memusat di bagian tengah.

Kriteria kemunculan indikator menggunakan persentil 56% dari total persentase

yang seharusnya dicapai, dan diberi kriteria cukup (Masijdo, 1995:157). Kriteria

kemunculan indikator karakteristik dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut:

Tabel 3.2. Kriteria Kemunculan Indikator Karakteristik PMRI No. Rentangan Persentase Kriteria

1 81% - 100% Sangat maksimal

2 66% - 80% Maksimal

3 56% - 65% Cukup Maksimal

4 46% - 55% Kurang Maksimal

(56)

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN, ANALISA, DAN PEMBAHASAN

A. Paparan Penelitian Tahun Lalu

Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian dan pengembangan

(Research and Development) yang telah dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya. Penelitian tahun lalu mengembangkan produk perangkat pembelajaran bangun

ruang khususnya kubus dan balok untuk kelas IV dengan pendekatan PMRI.

Penelitian sesuai dengan KTSP yaitu kompetensi 8.1. Menentukan sifat-sifat

bangun ruang sederhana dan 8.2. Menentukan jaring-jaring balok dan kubus.

Peneliti mempelajari penelitian tahun lalu sebelum melanjutkan tahap

penelitian selanjutnya. Peneliti sebelumnya dalam melakukan penelitian diawali

dengan melakukan pemilihan SD yang akan dijadikan penelitian. Setelah

mendapatkan SD sebagai tempat penelitian, peneliti melakukan analisis kebutuhan

untuk menemukan segala yang diperlukan di SD tersebut untuk penelitian.

Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan observasi dan wawancara. Observasi dan

wawancara dilakukan untuk melihat proses pembelajaran yang berlangsung

sehingga mengetahui komponen perangkat pembelajaran yang sesuai dengan

pembelajaran menggunakan pendekatan PMRI. Penelitian sebelumnya telah

menghasilkan produk pembelajaran berupa silabus, RPP, bahan ajar, LKS, dan

evaluasi.

Silabus disusun berdasarkan KTSP. Silabus dijabarkan dalam indikator yang

memuat 3 aspek yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek indikator

(57)

menjadi 6 pertemuan. Alokasi waktu untuk setiap pertemuan 35 menit, setiap sub

materi ada 3 pertemuan untuk materi sifat-sifat kubus dan balok, dan 3 pertemuan

selanjutnya untuk materi jaring-jaring kubus dan balok.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menjabarkan apa yang telah

dibuat pada silabus. Indikator dalam RPP dibuat menjadi 3 aspek: askep kognitif,

afektif, dan psikomotorik. Ketiga aspek indikator tersebut dikembangkan dalam

kegiatan pembelajaran yang memuat tiga kegiatan yaitu eksplorasi, elaborasi, dan

konfirmasi. Kegiatan pembelajaran yang memuat tiga kegiatan tersebut dibuat

agar proses pembelajaran menampakkan lima karakteristik PMRI pada setiap

kegiatannya. RPP dilengkapi dengan rubrik penilaian kognitif, afektif, dan

psikomotorik.

Bahan ajar yang disusun bersumber dari buku pegangan guru dan beberapa

referensi buku yang sesuai dengan materi. Peneliti juga membuat 2 cerita

kontekstual yang berjudul “Paijo dan Kotak Ajaib” sebagai pengantar untuk

materi sifat-sifat balok dan kubus, serta jaring-jaring kubus dan balok. Selain

membuat cerita peneliti juga menyiapkan media yang berbentuk balok dan kubus

untuk digunakan siswa dalam proses pembelajaran.

Lembar Kerja Siswa (LKS) disusun sesuai dengan materi RPP yang telah

dibuat. LKS berisi petunjuk kegiatan pembelajaran dan pedoman kegiatan belajar

yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran. Dalam pada bagian akhir LKS

terdapat refleksi yang berupa pertanyaan terhadap proses pembelajaran yang telah

(58)

setiap akhir kegiatan pembelajaran dan setiap kompetensi dasar. Evaluasi dibuat

berupa soal uraian yang memungkinkan variasi jawaban dari siswa.

Tahap selanjutnya perangkat pembelajaran yang telah dibuat kemudian

divalidasi oleh para ahli. Validasi dilakukan oleh 2 orang dosen ahli matematika

dan 1 guru matematika tempat penelitian dilakukan. Penelitian dilakukan di 3 SD

yang berbeda maka validasi ahli oleh 3 guru di sekolah yang berbeda. Berikut

tabel 4.1 menunjukkan hasil validasi oleh ketiga dosen dan ketiga guru:

Tabel 4.1. Hasil validasi perangkat pembelajaran

No Nama Sekolah Skor Rata-rata Kriteria

1 SD Kanisius Kalasan 3.64 Sangat Baik

2 SD Negeri Kledokan 3.46 Sangat Baik

3 SD Tarakanita Magelang 3.54 Sangat Baik

Setelah melakukan validasi ahli peneliti melakukan uji ketebacaan secara terbatas ke 6 siswa di SD Negeri 2 Turi untuk melihat kelayakan perangkat pembelajaran digunakan dalam penelitian. Setelah uji keterbacaan dilakukan, perangkat pembelajaran tersebut diujicobakan pada tempat penelitian yang telah dipilih yaitu ke SD Kanisius Kalasan, SD Negeri Kledokan, dan SD Tarakanita Magelang.

B. Paparan Revisi Perangkat Pembelajaran

Langkah selanjutnya setelah mempelajari penelitian tahun lalu adalah

merevisi perangkat pembelajaran yang telah ada disesuaikan dengan sekolah

tempat penelitian. Tempat penelitian di SD Kanisius Sengkan. Revisi perangkat

pembelajaran disesuaikan dengan lingkungan sekolah. Perangkat pembelajaran

yang direvisi menyesuaikan model pembelajaran yang dipakai di sekolah yaitu

PPR. Dalam merevisi perangkat pembelajaran peneliti mengakomodasikan model

pembelajaran PPR dan pendekatan PMRI. Hasil revisi yang dilakukan sebagai

(59)

37

1. Silabus dan RPP

Revisi yang dilakukan peneliti pada silabus dan RPP, yaitu:

a. Alokasi waktu

Tabel 4.2. Revisi alokasi waktu pembelajaran

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

1-2 dan 4-5 2 x 35 menit (2

JP) 3 x 40 menit (3 JP) Alokasi waktu pada penelitian ini alokasi waktu ditambah 1 JP, karena waktu penelitian pada tahun lalu kurang. Alokasi waktu disesuaikan dengan alokasi waktu di sekolah yaitu 1 JP = 40 menit

3 dan 6 2 x 35 menit (2

JP) 1 x 40 menit (1 JP) Alokasi waktu dikurangi karena dalam pada pertemuan 3 dan 6 hanya dilakukan pengerjaan soal evaluasi yang berjumlah 5 soal uraian.

b. Indikator Pembelajaran

Indikator yang awalnya dari kognitif, afektif, dan psikomotorik menjadi 3 C: compentence (akademik), conscience (hati

nurani), dan compassion (kepedulian terhadap sesama). Dalam silabus yang telah direvisi ditambahkan nilai kemanusiaan,

kecakapan hidup, model pembelajaran yang digunakan di sekolah yaitu PPR. Kegiatan pembelajarannya memuat refleksi dan aksi.

Berikut tabel 4.3 menunjukkan revisi yang telah dilakukan peneliti terhadap indikator pembelajaran:

Tabel 4.3. Revisi indikator Pembelajaran

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

(60)

38

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

balok/kubus.

- Menyebutkan sifat-sifat

balok/kubus.

- Menyebutkan sifat-sifat balok/kubus.

- Menggambar balok/kubus. menggunakan PPR, dan indikator yang menggambar balok yang pada

awalnya di indikator psikomotorik diganti menjadi indikator

competence.

1 dan 2

Afektif

- Menyampaikan pendapatnya

mengenai hasil identifikasi balok/kubus dengan percaya diri

Conscience

- Percaya diri dalam menyampaikan

pendapatnya mengenai hasil identifikasi balok/kubus.

Perbaikan dalam indikator ini hanya mengubah bentuk pola kalimatnya namun artinya tetap sama.

1 dan 2

Psikomotorik

- Terampil menggunakan media

balok dalam mengidentifikasi sifat- sifatnya.

- Menggambar balok dengan

tepat.

Compassion

- Bekerjasama dengan teman lain dalam

mengidentifikasi sifat-sifat balok. Perbaikan dalam indikator ini disesuaikan dengan aspek indikator yaitu compassion (bela rasa).

3

- Menentukan sifat-sifat balok

dan kubus.

- Menyebutkan sifat-sifat balok

dan kubus.

- Menyelesaikan evaluasi

sifat-sifat balok dan kubus dengan jujur.

- Menggambarkan balok dan

kubus dengan tepat.

Competence

- Menyebutkan sifat-sifat balok.

- Menyebutkan sifat-sifat kubus.

- Menyebutkan perbedaan sifat-sifat kubus

dan balok.

- Menggambarkan balok.

- Menggambarkan kubus.

Conscience

- Jujur dalam menyelesaikan soal evaluasi

Compassion

- Menghargai teman yang sedang

(61)

39

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

mengerjakan evaluasi.

4 dan 5

Kognitif

- Menjelaskan pengertian

jaring-jaring bangun ruang.

- Mengidentifikasi jaring-jaring

kubus/balok.

Competence

- Menjelaskan pengertian jaring-jaring

bangun ruang.

- Menjelaskan pengertian jaring-jaring

kubus/balok.

- Mengidentifikasi jaring-jaring

kubus/balok.

- Menjiplak jaring-jaring kubus/balok.

- Menggambarkan jaring-jaring

kubus/balok.

- Membuat jaring-jaring kubus/balok.

Perbaikan indikator dilakukan dengan menambahkan indikator yang sesuai dengan kompetensi dasar yang mampu menambah pemahaman siswa. Misalnya dalam penelitian tahun lalu menjelaskan jaring-jaring bangun ruang,

- Percaya diri dalam mempresentasikan

hasil diskusi.

Perbaikan indikator dengan

menghilangkan satu indikator yang telah ada pada penelitian

sebelumnya. Penghapusan indikator dilakukan karena tidak sesuai dengan indikator PPR.

Psikomotorik

- Menggambarkan jaring-jaring

kubus.

- Membuat jaring-jaring kubus.

Compassion

Bekerja sama dengan teman sekelompok dalam mengidentifikasi jaring-jaring kubus.

(62)

40

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

indikator PPR.

6

- Mengidentifikasi jaring-jaring

kubus dan balok.

- Menyelesaikan evaluasi

jaring-jaring kubus dan balok dengan jujur.

- Menggambarkan jaring-jaring

balok dan kubus.

Competence

- Menyebutkan ciri-ciri jaring-jaring kubus.

- Menyebutkan ciri-ciri jaring-jaring balok.

- Menyebutkan perbedaan jaring-jaring

kubus dan balok.

- Menggambarkan jaring-jaring kubus.

- Menggambarkan jaring-jaring balok.

Conscience

Jujur dalam menyelesaikan soal evaluasi jaring-jaring kubus dan balok.

Compassion

Menghargai teman yang sedang mengerjakan evaluasi soal sifat-sifat balok dan kubus.

Perbaikan indikator dengan menambahkan indikator dan

mengelompokkannya sesuai dengan aspek competence, conscience, dan compassion sesuai dengan PPR. dalam penelitian terdahulu tidak terdapat pengelompokkan indikator kognitif, afektif, dan psikomotorik.

c. Tujuan Penelitian

Pada tujuan penelitian, penulisan mengacu pada penulisan tujuan pembelajaran yang baik yaitu terdapat Audience, Behavior,

Condition, dan Degree (ABCD). Penulisan tujuan penelitian ini juga disesuaikan dengan format yang dipakai yaitu PPR. Perbaikan tujuan pembelajaran dengan mengubah kata “siswa” menjadi menyesuaikan “peserta didik”. Perbaikan tujuan

pembelajaran juga memperhatikan perbaikan yang telah dilakukan pada indikator pembelajaran. Perbaikan tujuan pembelajaran

(63)

41

d. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran

Tabel 4.4. Revisi Pendekatan, model, dan metode pembelajaran

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

1 – 6 Pendekatan, dan metode Pendekatan, teknik, dan metode Penambahan aspek model dalam hal ini karena menyesuaikan model yang dipakai di SD tempat penelitian yaitu PPR.

e. Nilai Kemanusiaan

Tabel 4.5. Revisi nilai kemanusiaan

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

1-2 dan 4-4 Tidak ada Percaya diri dan kerjasama Penambahan nilai kemanusiaan selain menyesuaikan

RPP tempat peneliti yaitu PPR juga membangun karakter anak melalui kegiatan pembelajaran.

3 dan 6 Tidak ada Kejujuran dan menghargai

f. Langkah-langkah pembelajaran

Pada langkah-langkah pembelajaran, kata “guru” diganti menjadi “pendidik” dan “siswa” diganti dengan “peserta didik”.

Hal ini dilakukan karena sekolah menggunakan kata pendidik.

1) Kegiatan Awal

Tabel 4.6. Revisi kegiatan awal

Pertemuan Penelitian Tahun Lalu Revisi Alasan

1 Peraturan: Siswa tidak diperkenankan berbicara ketika guru atau

Peraturan:

 Peserta didik tidak diperkenankan

Gambar

Tabel 4.25.  Rangkuman Kemunculan Indikator Karakteristik
Gambar 2.1.bangun ruang balok
Gambar 2.2.jaring-jaring balok
Gambar 2.4.jaring-jaring kubus
+7

Referensi

Dokumen terkait

keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi dicatat di laporan posisi keuangan konsolidasian pada nilai wajar dengan keuntungan atau kerugian

Nama Paket Peker jaa : Pengadaan Jasa Konsultansi Pengaw as Pembangunan Gedung Kantor Pengadilan Agama Kota. Padangsidimpuan

[r]

Kelebihan pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah (1) CIRC sangat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah, (2)

Hasil penelitian mendapatkan bahwa indeks dominansi berkisar pada 0.001 – 0.034, dengan nilai tertinggi ditemukan pada jenis ikan kerapu ( Epinephelus sp), dan nilai

berperan serta dalam menentukan keberhasilan anak tersebut, karena pada masa anak-anak perlu adanya dorongan atau bimbingan dari orang tua untuk meningkatkan

Pelaksanaan Pemberian Pembebasan Bersyarat oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas I A Makassar ternyata ada kendala atau hambatan, baik hambatan internal maupun hambatan

Untuk mengisi kekaburan norma maka dilakukanlah penafsiran ekstensif atau memperluas arti kata, atau pelebaran norma untuk memperoleh kekuatan pembuktian kesaksian