• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Analisis Novel MCSI Karya Asma Nadia

Dalam dokumen Hj. ROSLINDA Nomor Induk Mahasiswa: (Halaman 85-100)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN

A. Hasil Penelitian

2. Hasil Analisis Novel MCSI Karya Asma Nadia

a. Unsur Struktural Novel MCSI Karya Asma Nadia

1) Tema

Sebagaimana CHSI, dalam novel MCSI, kisah-kisah yang diceritakan masih berkaitan dengan kehidupan rumah tangga, dan tetap ditulis dari sudut pandang istri dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Perbedaannya terletak pada hidup dan kehidupan yang ada di dalamnya. Novel MCSI mengangkat tema keluarga

bahagia dan harmonis, di mana istri menjadi ratu dalam rumah tangga. Dalam novel MCSI, kaum perempuan ditempatkan pada posisi yang sederajat dengan laki-laki dalam hal menentukan keputusan dan hak untuk berpenghasilan sendiri, tanpa melalaikan kewajiban. Sementara suami menjadi pendamping seutuhnya, yang menjadikan istrinya sebagai teman hidup, rekan satu tim, partner bahkan “lawan” berdiskusi dan berdebat.

Tema keluaga bahagia dalam novel MCSI dapat dilihat pada kutipan berikut,

He completes me. Ini bukan sekadar mencontek ucapannya Tom Cruise di film Jerry Maguire, tapi itu yang aku rasakan terhadap suamiku. Bukan sekadar cinta lagi, tapi tanpanya aku merasa tak lengkap. (MCSI:18).

Kutipan di atas merupakan ungkapan Tria, tokoh utama dalam Novel MCSI tentang suami dan rumah tangganya.Tria menganggap sang suami adalah pelengkap, menjadikannya merasa sempurna sebagai seorang istri. Bukan hanya karena banyaknya persamaan yang menyatukan keduanya, tetapi kemampuan Tria dan suaminya mengatasi berbagai perbedaan tanpa pertengkaran.

Ia luar biasa sabar menghadapi perbedaan karakter kami yang kadang terasa bagai bumi dan langit. (MCSI:19).

Demikianlah Tria mengagumi sosok suaminya yang begitu penyabar dalam menghadapi karakternya yang keras, perfeksionis, dan cerewet. Hal serupa dapat dilihat dalam kutipan dialog berikut,

"Papa senang deh kalau Mama marah, rasanya dipeduliin sama istri," begitu kata suamiku. (MCSI:21).

Penggalan dialog di atas mengilustrasikan bagaimana suami Tria dengan begitu tenang dan sabar menghadapi karakternya yang tidak sabaran dan sering ngoceh.

Kemudian, tema keluarga bahagia dalam novel MCSI dipertegas dalam kutipan berikut,

Sering pula kami berdebat tentang suatu hal, tapi pada akhirnya kesamaan prinsip dan pola pikir ini yang membawa kami pada satu kesimpulan bersama. Dari sejak awal menikah, aku selalu merasa hubungan kami begitu kaya dialog. Sampai sekarang, kami masih senang berdialog, bertukar pikiran tentang apa saja. (MCSI:19).

Apalagi yang dapat ku tuntut dari seorang suami? Dia telah memberikan segalanya. Sempurna? Sebagai manusia, tentu saja tidak. Kalau sempurna tentu aku tak akan suka mengomel memintanya bergerak lebih cepat. Tapi ia membuatku bahagia. Dan mudah-mudahan di hari akhir nanti, ia dapat membawaku ke surga Allah bersamanya. (MCSI:28).

Kutipan di atas mengilustrasikan tentang Tria dan suaminya saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Keduanya saling mensyukuri kebersamaannya dalam biduk rumah tangga. Mensyukuri persamaan dan berusaha menyatukan perbedaan, saling menerima apa adanya, saling mendukung, saling mendampingi, saling percaya, serta saling menyayangi sepenuh hati.

2) Latar

Dalam novel MCSI, terdapat beberapa tempat yang disebutkan secara langsung, maupun secara tidak langsung. Tetapi secara umum cerita kehidupan rumah tangga Tria beserta anak dan suaminya terbatas pada lingkungan rumah. Selain itu, terdapat tempat lain seperti pasar dan jalan. Berikut kutipan-kutipan yang mengilustrasikan latar penceritaan dalam novel MCSI,

"Papa ini gimana sih, udah beberapa kali dibilangin, kalau keluar dari kamar mandi, itu tutup toilet diturunin lagi dong!"

(MCSI:21)

"Duh, banyak yang jual bunga ya, Pa," kataku, berharap ia membuka kaca jendela mobil dan memanggil tukang bunga lalu membelikan satu kuntum untukku. (MCSI:22).

Tiga kali seminggu aku keluar pagi, menggendong anakku berjalan jauh, menaiki jembatan penyeberangan untuk mencegat taksi pergi ke sekolahnya. (MCSI:24).

Aku banyak menyusahkan. Kebelet pipis di tengah kemacetan jalan tol di Jakarta, misalnya. (MCSI: 25).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, diketahui terdapat beberapa tempat yang menjadi latar dalam novel MCSI karya Asma Nadia ini. tempat-tempat tersebut di antaranya rumah, di jalan, dan di jembatan yang tidak jauh dari rumah.

Sementara latar waktu tidak disebutkan secara spesifik, tetapi terdapat beberapa kutipan yang mengilustrasikan latar waktu pada

satu bagian cerita, yakni pada sore hari dan hari minggu, sebagaimana yang terdapat dalam kutipan berikut,

Saat itu ketika rasa kantuk di sore hari menyerang dan anakku tengah bertingkah, kepalaku rasanya hampir pecah.

(MCSI:24).

Di akhir Minggu ia yang banyak mengerjakan tugas-tugas berat, dan tidak keberatan untuk sesekali menyetrika.

(MCSI:24).

Sementara latar suasana, sepanjang penceritaan, digambarkan dalam suasana yang bahagia, dapat dilihat pada kutipan berikut,

Kalau sempurna tentu aku tak akan suka mengomel memintanya bergerak lebih cepat. Tapi ia membuatku bahagia. (MCSI:28).

Kamu sudah berbuat yang terbaik, tidak perlu jadi sempurna, yang penting lean sudah berusaha. Yang penting kan aku bahagia. (MCSI:28).

3) Penokohan

Dalam novel MCSI, terdapat dua tokoh, yakni Tria, suaminya.

Tria merupakan tokoh utama yang menjadi pusat penceritaan, sementara suami tokoh tambahan.

Adapun watak setiap tokoh dideskripsikan sebagai berikut, a) Tria Barmawi

Tria adalah tokoh utama. Watak Tria dideskripsikan sebagai seorang istri yang sangat mencintai suami dan anaknya, memiliki

rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap keberlangsungan keluarganya.

Secara terperinci berikut disajikan kutipan-kutipan yang mendeskripsikan tokoh Tria,

Aku cenderung cerewet, galak, senang bersosialisasi, dan sering over optimis. (MCSI:20).

Aku seorang perfeksionis yang tak tahan kalau orang bergerak lambat, sering melihat jam, dan memburu-buru.

(MCSI:20).

Keras kepala, sensitif, tidak sabaran. (MCSI:21).

Kalau sudah melihat sesuatu berjalan tidak sesuai rencana atau jadwal, mulutku sudah tidak berhenti nyerocos.

(MCSI:20).

Aku pun orang yang imajinatif, jadinya super romantic.

(MCSI:21).

Tidak sedang hamil atau PMS pun aku sering bikin ulah.

Rasanya gatal kalau tidak berbuat iseng. (MCSI:25).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat disimpulkan watak tokoh Tria adalah cerewet, galak, senang bersosialisasi, dan sering over optimis, perfeksionis, keras kepala, sensitif, tidak sabaran, imajinatif, romantis, usil, dan iseng. Tria sebagai seorang individu memiliki karakter yang kompleks, sehingga berdasarkan fungsi dalam cerita, Tria termasuk sebagai tokoh protagonis sekaligus tokoh antagonis, karena dalam sosoknya tersemat dua karakter yang berlainan, tetapi saling melengkapi. Di satu sisi Tria adalah

seorang yang penyayang, romantis, imajinatif, pekerja keras, dan di lain sisi ia adalah seorang yang galak, cerewet, sensitif, gampang marah, dan suka berbuat usil kepada suaminya.

b) Suami

Tokoh suami dalam novel MCSI karya Asma Nadia, digambarkan sebagai sosok suami yang sabar, perhatian, dan pengertian, meski memiliki sifat cuek, dan terkesan tidak romantis terhadap istrinya. Suami Tria dalam Novel MCSI, memiliki kepribadian yang “sempurna” sebagai seorang suami.

Secara terperinci, watak tokoh suami dapat dilihat dalam kutipan-kutipan berikut.

Sebaliknya suamiku, keluargaku bilang ia bicara hanya setahun sekali. Luar biasa penyabar. Introvert. Dan sering pesimis. (MCSI:20).

Sebaliknya suamiku begitu santai, kadang membuatku gemas.

(MCSI:20).

Seseorang dengan kepribadian yang halus, tapi juga tegas.

Seseorang yang bisa mencairkan kekerasanku. Ternyata, begitulah suamiku (MCSI:20).

Ia luar biasa sabar menghadapi perbedaan karakter kami yang kadang terasa bagai bumi dan langit. (MCSI:20).

Dan suamiku, secuek bebek. (MCSI:20).

Suamiku sigap mengurusi segala urusan, termasuk mengurusi aku yang keras kepalanya sering kambuh ketika sakit. Dan yang paling penting, tetap berada di sampingku. (MCSI:22).

Berdasarkan kutipan-kutipan di atas, dapat diketahui bahwa tokoh suami dalam novel MCSI karya Asma Nadia memiliki kepribadian yang pendiam, sabar, santai, cuek, halus, tegas, penyayang dan perhatian kepada istrinya. Berdasarkan fungsi dalam cerita, tokoh suami adalah tokoh protagonis

4) Alur

Novel MCSI karya Asma Nadia, memiliki alur campuran.

Cerita diawali dengan mendeskripsikan perasaan Tria tentang kehidupan rumah tangganya yang bahagia. Kemudian pada bagian pertengahan, dikisahkan pengalaman hidup Tria dan suaminya di awal pernikahan. Selanjutnya diceritakan pengalaman sehari-hari yang memberikan penjelasan lebih jelas tentang Tria yang merasa bahagia dengan kehidupannya bersama keluarga kecilnya.

5) Amanat

Novel MCSI karya Asma Nadia sangat sarat akan pesan-pesan yang berhubungan dengan kehidupan perempuan dalam keluarga. Novel ini secara gamblang memberikan deskripsi posisi yang ideal bagi seorang istri dalam sebuah rumah tangga. Bukan hanya sebagai seorang ibu rumah tangga yang wajib mengurusi segala urusan rumah tangga, melainkan juga memiliki hak untuk

menyampaikan pendapat dan melakukan berbagai kegiatan produktif dalam menyalurkan bakat dan minatnya.

Amanat-amanat tersebut, diuraikan berdasarkan kutipan-kutipan berikut,

Sering pula kami berdebat tentang suatu hal, tapi pada akhirnya kesamaan prinsip dan pola pikir ini yang membawa kami pada satu kesimpulan bersama. Dari sejak awal menikah, aku selalu merasa hubungan kami begitu kaya dialog. Sampai sekarang, kami masih senang berdialog, bertukar pikiran tentang apa saja.(MCSI:19).

Kutipan di atas mengilustrasikan bagaimana seharusnya seorang istri diperlakukan dalam kehidupan keluarga, bukan hanya sebagai seorang yang bertugas sebagai “babu” yang hanya bertugas di dapur, di sumur, dan di kasur. Novel MCSI karya Asma Nadia, mendeskripsikan perempuan sebagai kelompok yang memiliki derajat yang setara dengan kaum laki-laki dalam lingkungan sosial. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kutipan di atas menitipkan amanat bahwa perempuan memiliki hak untuk berpendapat.

Selain itu, novel MCSI lebih jauh menitipkan pesan bahwa perempuan sebagai makhluk sosial juga memiliki hak untuk mengekspresikan diri dan menyalurkan bakat dan minatnya dalam berbagai kegiatan yang produktif, bahkan ketika perempuan tersebut

sudah menyandang status sebagai seorang istri. Amanat tersebut dititipkan melalui kutipan berikut,

Ketiga, persamaan minat. Jelas saja, karena sama-sama berdasar ilmu komputer, kami berdua senang berada di depan komputer. Tapi kami pun ternyata memiliki ketertarikan pada banyak hal yang sama. Dari buku, penyembuhan alternatif, bisnis, sampai logika-logika ilmiah di balik ayat-ayat Allah.

Kami menyukai hal yang sama yang dapat membuat kami merasa senang. Travelling, musik, beristirahat di rumah. Dan kami berdua senang bercanda. Melakukan banyak hal yang kami sukai bersama-sama rasanya membuat kehidupan berumah tangga tak membosankan. (MCSI:20).

Dalam kutipan di atas dapat dipetik hikmah bahwa perempuan adalah bagian dari kelompok sosial, manusia yang memiliki hak untuk berekspresi dengan berbagai kegiatan yang disukainya, tanpa harus dibatasi berbagai aturan-aturan yang mengikat. Singkatnya, perempuan berhak mengekspresikan diri untuk menyalurkan bakat dan minatnya.

Selanjutnya, amanat ketiga dalam novel ini adalah bahwa perempuan memiliki hak untuk mengambil keputusan dan menentukan nasibnya sendiri. Hal tersebut terdapat dalam kutipan berikut,

Ketika aku memutuskan berhenti kerja kantoran, ketika aku memutuskan untuk menulis, ketika aku membuat keputusan apa pun yang berkaitan dengan anakku, suamiku selalu percaya aku telah melakukan proses berpikir yang dalam.

(MCSI:22).

Dalam kutipan tersebut dideskripisikan bahwa perempuan pada umumnya atau seorang istri pada khususnya, bagaimanapun tetaplah individu yang memiliki pemikiran yang independen, sekalipun terikat dengan kewajiban untuk mengurus rumah tangga, perempuan tetap memiliki hak untuk mengambil sebuah keputusan.

Selain itu, kutipan tersebut juga mengilustrasikan hak perempuan untuk memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri yang terlepas dari campur tangan suami.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa novel MCSI menitipkan amanat-amanat yang menonjolkan paham feminisme khususnya feminisme liberal. Dalam novel ini, dideskripsikan tentang hak-hak perempuan sebagai individu untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang produktif, mandiri, tanpa bergantung pada pihak lain. Perempuan dalam novel MCSI secara umum dideskripsikan memiliki tiga hak yang fundamental, yakni hak untuk berekspresi diri, hak menentukan nasibnya sendiri, dan hak untuk menyampaikan pendapat.

b. Deskripsi Tokoh Perempuan dalam Novel MCSI Karya Asma Nadia

Tokoh perempuan dalam novel MCSI adalah Tria, yang merupakan tokoh utama.Tria dideskripsikan memiliki karakter yang kompleks, sehingga termasuk dalam kategori protagonis sekaligus

antagonis. Di satu sisi Tria adalah sosok istri yang keras kepala, cerewet, perfeksionis, dan sering iseng kepada suaminya, di sisi lain ia adalah sosok istri yang penyayang, romantis, imajinatif, pekerja keras, dan sangat bertanggung jawab dalam melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri.Tria adalah seorang perempuan yang tidak terikat dalam budaya partriaki.

Selengkapnya tokoh Tria sebagai tokoh perempuan dalam novel MCSI dideskripsikan berdasarkan kutipan-kutipan berikut,

Aku cenderung cerewet, galak, senang bersosialisasi, dan sering over optimis. (MCSI:20).

Aku seorang perfeksionis yang tak tahan kalau orang bergerak lambat, sering melihat jam, dan memburu-buru.

(MCSI:20).

Keras kepala, sensitif, tidak sabaran. (MCSI:21).

Kalau sudah melihat sesuatu berjalan tidak sesuai rencana atau jadwal, mulutku sudah tidak berhenti nyerocos.(MCSI:20).

Aku pun orang yang imajinatif, jadinya super romantis (MCSI:21).

Ditambah aku pun superperfeksionis. (MCSI:23).

Tidak sedang hamil atau PMS pun aku sering bikin ulah.

Rasanya gatal kalau tidak berbuat iseng. (MCSI:25).

Kutipan-kutipan di atas merupakan deskripsi kepribadian Tria sebagai seorang perempuan dan istri. Ia memiliki karakter yang galak, cerewet, perfeksionis, imajinatif, dan romantis.

Dalam novel MCSI Tria dideskripsikan sebagai sosok perempuan yang mampu memperjuangkan hak-haknya sebagai individu dalam lingkungan sosial, seperti memiliki pekerjaan sendiri tanpa bergantung pada suami sepenuhnya, berani menyatakan pendapatnya, serta mengekspresikan dirinya dalam kegiatan yang produktif dengan bekerja sebagai seorang penulis. Dengan kebebasan yang dimilikinya tersebut ia merasa sangat bahagia.

Ketika aku memutuskan berhenti kerja kantoran, ketika aku memutuskan untuk menulis, ketika aku membuat keputusan apa pun yang berkaitan dengan anakku, suamiku selalu percaya aku telah melakukan proses berpikir yang dalam.

(MCSI:22).

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Tria tidak terbatasi oleh kewajiban-kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Ia mampu menjalankan kewajibannya dan tetap memiliki hak-haknya sebagai makhluk sosial. Figur Tria adalah gambaran istri yang ideal, karena kemampuannya mengelola rumah tangga tanpa kehilangan hak-hak individualnya. Ia mampu menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya dan memperoleh perlakuan adil sesuai kodratnya dalam keluarga.

Tokoh perempuan dalam novel MCSI karya Asma Nadia adalah figur seorang istri yang menentang budaya partriaki yang mengekang kaum perempuan. Tria, dengan dukungan sang suami merupakan gambaran sederhana bahwa perempuan bukanlah “the

second” dalam rumah tangga, tetapi pasangan hidup, partner dalam menjalankan rumah tangga, sahabat dalam berdiskusi, bahkan lawan berdebat yang baik. Tokoh Tria merefleksikan sosok perempuan imajiner yang mewakili cita-cita perempuan dalam kehidupan sosial. Tanpa mengabaikan kodrat sebagai seorang istri, ia tetap mempertahankan segala hal yang berkaitan dengan hak-haknya sebagai manusia individu, di antaranya kebebasan berpendapat, mengekspresikan diri, dan melakukan berbagai kegiatan-kegiatan produktif serta memiliki penghasilan sendiri.

c. Deskripsi Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Mewujudkan Feminisme dalam Novel MCSI Karya Asma Nadia

Salah satu tujuan ideologi feminisme adalah memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Dalam novel MCSI, perjuangan tersebut direfleksikan dalam sikap dan sifat tokoh perempuan yang merupakan tokoh utama, yaitu Tria. Tria dalam kehidupannya sebagai seorang istri tidaklah serta-merta tunduk dengan aturan-aturan budaya partriaki yang mengekang kebebasannya sebagai makhluk individu dalam lingkungan sosial.

Salah satu bentuk perjuangan Tria dalam memperjuangkan feminisme adalah dengan bekerja dan berpenghasilan sendiri.Tria, dengan dukungan sang suami memutuskan sendiri profesi apa yang cocok untuk dijadikannya sebagai sumber penghasilan. Tria

memutuskan untuk berhenti bekerja di kantor dan menjadi seorang penulis. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut,

Ketika aku memutuskan berhenti kerja kantoran, ketika aku memutuskan untuk menulis, ketika aku membuat keputusan apa pun yang berkaitan dengan anakku, suamiku selalu percaya aku telah melakukan proses berpikir yang dalam.

(MCSI:22).

Memiliki pekerjaan sendiri adalah bentuk perjuangan nyata Tria dalam memperjuangkan dan mempertahankan posisinya, agar setara dengan laki-laki dalam kehidupannya sebagai perempuan maupun seorang istri. Tria tidak begitu saja melepaskan hak-haknya karena tuntutan kewajibannya sebagai seorang istri. Bahkan Tria mampu membuktikan bahwa ia tetap bisa melaksanakan kewajibannya meski ia memiliki pekerjaan untuk memperoleh penghasilan sendiri. Bentuk perjuangan lainnya adalah memepertahankan haknya untuk menyampaikan pendapat dan mengekspresikan diri dalam kegiatan-kegiatan yang produktif.

Sering pula kami berdebat tentang suatu hal, tapi pada akhirnya kesamaan prinsip dan pola pikir ini yang membawa kami pada satu kesimpulan bersama. Dari sejak awal menikah, aku selalu merasa hubungan kami begitu kaya dialog. Sampai sekarang, kami masih senang berdialog, bertukar pikiran tentang apa saja. (MCSI:19).

Kutipan di atas mengilustrasikan salah satu bentuk perjuangan kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki. Tria

menunjukkan bahwa perempuan bisa melakukan berbagai hal yang sama dengan laki-laki. Salah satunya adalah menyampaikan pendapat. Sosok Tria merefleksikan upaya perempuan dalam memperjuangkan salah satu haknya yang seringkali disepelekan dalam lingkungan sosial, yakni berpendapat dan menyampaikan diri.

Dari buku, penyembuhan alternatif, bisnis, sampai logika-logika ilmiah dibalik ayat-ayat Allah. Kami menyukai hal yang sama yang dapat membuat kami merasa senang. Travelling, musik, beristirahat di rumah. Dan kami berdua senang bercanda (MCSI:20).

Kutipan di atas merupakan gambaran perjuangan Tria dalam memperjuangkan haknya sebagai perempuan, yakni untuk belajar dan memperoleh pendidikan. Tria menunjukkan bahwa ia mampu mempelajari dan menguasai banyak hal sebagaimana laki-laki.

Dengan demikian, Tria membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah dan bisa disepelekan. Singkatnya, kehidupan keluarga Tria merupakan refleksi sederhana cita-cita feminisme.

Dalam dokumen Hj. ROSLINDA Nomor Induk Mahasiswa: (Halaman 85-100)