BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN
A. Hasil Penelitian
3) Penokohan
Dalam novel CHSI catatan 8 ini terdapat beberapa tokoh yang terlibat dalam rangkaian cerita, tokoh utama dalam cerita ini adalah Nejla. Berdasarkan penceritaannya, Nejla Humaira adalah tokoh protagonis. Sementara tokoh suami diposisikan sebagai tokoh antagonis.Tokoh-tokoh lainnya yang merupakan tokoh tambahan di antaranya, pegawai pengadilan agama, ustadz, dan dokter.
Tokoh dan penokohan dalam novel CHSI ini diuraikan berdasarkan kutipan-kutipan berikut:
a) Nejla Humaira
Nejla Humaira adalah tokoh utama yang mengalami konflik dan menjadi pusat penceritaan. Berdasakan karakternya, Nejla merupakan tokoh protagonis, dan berdasarkan pengembangan perwatakannya, Nejla termasuk tokoh dinamis. Nejla dideskripsikan sebagai seorang istri yang berbakti dan memiliki hati yang sabar. Ia sangat mencintai suami dan anak-anaknya.
Adapun watak tokoh Nejla dapat dilihat pada beberapa kutipan berikut,
Tentulah ia benar menyuruhku untuk terus bekerja dan melepasku pergi ke daerah lain (CHSI:168).
Berdasarkan kutipan tersebut, Nejla adalah seorang istri yang berbakti dan patuh kepada suami. Demi membantu ekonomi keluarga dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ia siap ikut menafkahi keluarganya walaupun harus bekerja di tempat yang terpisah dengan suaminya.
Nejla dideskripsikan sebagai seorang istri yang selalu berusaha berbaik sangka dan percaya sepenuhnya kepada suami.
Ia tetap berusaha percaya kepada sang suami meskipun seringkali ia mendapati sikap tidak wajar dari sang suami. Bahkan ia mempercayakan seluruh hasil kerja kerasnya untuk dikelola sang suami demi menyenangkan hati dan memperoleh cintanya kembali.
Bukankah aku ingin menjadi istri yang baik? Maka aku tak boleh berpikiran buruk tentang suamiku. (CHSI: 168-169).
Tapi kutekan semua prasangka itu dan selalu kumeminta ampun pada Allah, setiap kali pikiran seperti itu muncul.
(CHSI: 169).
Pada kutipan di atas, diketahui bahwa Nejla adalah seorang yang berbaik sangka. Ia selalu berusaha membuang prasangka buruknya terhadap sikap suaminya yang dianggapnya tidak wajar.
Sang suami selalu meyakinkannya untuk bekerja di tempat yang berbeda. Bahkan tidak mempermasalahkan sama sekali jika Nejla bekerja di luar daerah selama berbulan-bulan. Sementara sang suami hanya bisa menunggu kiriman bulanan.
Baiklah! Aku ini perempuan. Sudah menjadi tugasku untuk mengatur semua urusan rumah tangga. (CHSI:172).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Nejla adalah seorang istri dan ibu yang bertanggung jawab. Sekalipun menjadi tulang punggung keluarga, ia tidak melalaikan kewajibannya melaksanakan tugas sebagai ibu rumah tangga, merawat anak dan mengurus keperluan suami. Sekalipun Nejla tidak pernah mengeluh, meskipun di lain sisi ia bertanya-tanya suaminya menunjukkan gelagat yang tidak wajar. Bahkan ia rela bekerja di luar kota atas permintaan suaminya. Nejla tetap berprasangka baik terhadap suaminya.
Karakter Nejla yang bertanggung jawab ditunjukkan dalam kutipan berikut;
Namun tangis bayi membuatku menarik keinginan itu. Bayi bermata indah itu membutuhkanku. Juga ketiga anakku yang lain. Aku harus hidup. Apa pun yang terjadi. (CHSI:174).
Watak Nejla lainnya adalah sabar, dan tabah. Sebagaimana pada kutipan berikut,
Maka kupilih untuk bersabar. Kupikir lagi, barangkali kalau ada rizki dan aku bisa membawa suamiku berhaji, itu akan menjadi obat baginya, bagi kami. (CHSI:174).
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa Nejla berwatak sabar, bertangung jawab, berbakti dan patuh pada suami.
Seorang yang selalu berbaik sangka. Berdasarkan penceritaan, Nejla adalah tokoh utama sekaligus merupakan tokoh dinamis karena mengalami perkembangan karakter. Berdasarkan fungsinya, Nejla dikategorikan sebaga tokoh protagonis.
b) Suami
Tokoh kedua yang menjadi salah satu pusat penceritaan adalah suami Nejla. Sepanjang penceritaan, tidak disebutkan secara spesifik nama maupun deskripsi fisik. Sehingga sebagaimana Nejla, tokoh suami pun hanya dideskripsikan berdasarkan tindakan dan sikapnya sepanjang cerita.
Tokoh suami dalam novel CHSI, digambarkan sebagai seorang suami yang tidak bertanggung jawab terhadap keluarga dan istrinya. Memiliki watak keras dan kejam, sering membohongi istrinya, bermain perempuan, bahkan memperalat Nejla untuk
bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya. Bahkan tanpa rasa malu ia meminta istrinya membeli tanah, mobil, dan rumah atas namanya.
Selengkapnya watak tokoh suami dideskripsikan berdasarkan kutipan-kutipan berikut,
Ia yang semula begitu kasihan melihatku bekerja keras, malah menjadi orang yang paling tega membiarkanku bekerja seharian dan kemudian menggunakan hasil kerjaku untuk kepentingannya; Membuka bisnis ini dan itu, yang tak satu pun berhasil. (CHSI:167).
Kutipan di atas mendeskripsikan salah satu watak tokoh suami, yang tidak bertanggung jawab dalam menafkahi keluarganya.
Ketika seharusnya ia harus bekerja membanting tulang menghidupi anak dan istri, ia justru memanfaatkan istrinya untuk menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, sementara ia hanya menunggu dan menikmati hasil jerih payah istrinya. Tetapi Nejla yang begitu cinta kepada suaminya tetap patuh dan menuruti permintaan sang suami.
Selanjutnya sifat tidak bertanggung jawab tokoh suami diperlihatkan dalam kutipan berikut.
Suamiku selalu berkata, bahwa aku harus tetap bekerja demi masa depan keluarga kami. (CHSI:169).
Yah, kamu boleh saja berhenti bekerja, asalkan kamu sanggup hidup dengan gajiku yang tak seberapa. (CHSI:170) Dalam kutipan tersebut, jelas bahwa tokoh suami ini hanya memperalat istrinya untuk bekerja dan ia menikmati hasilnya di
tempat yang jauh dari sang istri. Dengan berbagai alasan, sang suami memaksa Nejla untuk tetap bekerja sekaligus mengurus anak-anaknya.
Selain tidak bertanggung jawab tokoh suami dalam novel CHSI juga memiliki karakter pemarah, sebagaimana yang dideskripsikan dalam kutipan berikut.
Semakin ia marah dan makin lama mendiamkanku, semakin aku merasa harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku. (CHSI:173).
Kubelikan ia hadiah-hadiah, yang seringkah malah tak cocok dengan seleranya dan menjadi kemarahan lainnya.
(CHSI:173).
Sifat pemarah sang suami ini tentunya memiliki alasan, terutama kemarahannya seringkali terjadi begitu saja tanpa sebab.
Pada kenyataannya sang suami hanya menyayangi istrinya ketika ia mengirimkan hasil keringatnya, tetapi tidak benar-benar menghormati istrinya saat bersama. Hal ini dikarenakan sang suami memiliki perempuan lain.
Kenyataan bahwa suamiku menggoda beberapa perempuan, bahkan hingga pada tahap menjurus pada hubungan badan, telah menghancurkan kepercayaanku padanya. (CHSI: 175).
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh suami dalam novel CHSI adalah seorang suami yang menelantarkan istrinya, mengeksploitasi dan memperlakukannya secara tidak adil. Tokoh suami dalam novel
ini memiliki sifat tidak setia, mengkhianati pernikahannya dengan sang istri.
Kelakuan tidak terpuji inilah yang kemudian menjadi alasan Nejla memutuskan untuk bercerai. Berikut adalah komentar Nejla tentang suaminya,
Bagaimana mungkin aku terus hidup dengan orang yang mengkhianatiku? Yang membohongiku? Yang menyia-nyiakan ku? (CHSI:176).
Watak suami yang tidak bertanggung jawab, pemarah, dan pengkhianat dlengkapi dengan sifat lainnya. Tokoh suami dalam novel CHSI ini memiliki watak keras, dan kasar. Seringkali mengancam akan membunuh istrinya saat marah. Sebagaimana tampak pada kutipan berikut,
Suamiku memang beberapa kali melontarkan ancaman akan membunuhku, hingga membuatku takut sendirian bersamanya. (CHSI: 178-179).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh suami dalam novel CHSI adalah tidak bertanggung jawab, pembohong, pengkhianat, pemalas, pemarah, dan selalu bersikap kasar. Berdasarkan fungsinya tokoh suami adalah tokoh protagonis.
Karena memiliki watak yang tidak terpuji.
c) Pegawai Pengadilan Agama
Pegawai pengadilan agama adalah tokoh tambahan dalam novel CHSI. Watak tokoh ini hanya dapat diketahui dari penceritaan maupun dialog-dialognya.
Pikirkan juga ini, Bu. Dalam Islam, tak dibenarkan seorang suami mengambil hasil jerih payah istrinya.Tidak sepeser pun kecuali atas izin si istri. Apa-apa yang dihasilkan istri adalah haknya dan si istri berhak untuk membelanjakannya sesuka hatinya asalkan di jalan yang benar dan sesuai syariat.
(CHSI:179).
Berdasarkan kutipan dialog dari tokoh pegawai pengadilan agama di atas, dapat disimpulkan bahwa pegawai pengadilan agama dalam novel CHSI ini adalah seorang yang bijak, ramah, berpengetahuan luas, memiliki pemahaman agama yang memadai.
Berdasarkan penceritaan tokoh ini merupakan tokoh statis, yakni tokoh yang tidak mengalami perubahan ataupun pengembangan watak dan tidak mengalami konflik secara langsung.
d) Ustadz
Tokoh tambahan lainnya yang juga merupakan tokoh statis adalah tokoh ustadz, sebagaimana tokoh-tokoh lainnya, tidak terdapat deskripsi detail mengenai fisik maupun sifat. Karakter tokoh ustadz ini dapat dilihat berdasarkan dialog dan penceritaan.
Adapun watak tokoh ini, dapat dilihat pada kutipan berikut, Mbak, Allah membenci perceraian itu, adalah Allah yang sama yang juga mengajari kita cara melakukan perceraian yang
ma’ruf. Jadi, Allah sudah tahu bahwa akan ada di antara hamba-Nya yang tidak akan berhasil dengan rumah tangganya, sehingga Dia pun membolehkan perceraian untuk mengatasi masalah yang sudah tidak dapat lagi dicarikan jalan keluarnya (CHSI:184)
Berdasarkan kutipan tersebut, disimpulkan bahwa tokoh ustadz dalam novel CHSI memiliki kepribadian yang santun, bijaksana, paham dengan ajaran agama. Sebagai seorang yang dalam kesehariannya mengajarkan ilmu Islam, ia sangat paham bahwa Islam tidak dimaksudkan untuk mempersulit urusan manusia.
Dengan ilmu dan pengetahuan itu sang ustadz mencerahkan pemikiran Nejla.
e) Dokter
Tokoh dokter dalam novel CHSI, adalah tokoh tambahan.
Dalam penceritaan hanya tampil satu kali. Adapun watak tokoh dokter ini berdasarkan kutipan berikut,
Stress tak ada obatnya. Obatnya datang dari diri sendiri. Dari penguatan diri. Saran saya, apapun masalah Ibu, perbanyaklah berdoa dan shalat malam. Semua masalah ada jalan keluarnya. Berserah diri pada Allah," kata dokter itu sambil tersenyum. (CHSI:183).
Kutipan di atas mendeskripsikan watak tokoh dokter. Watak tokoh dokter dalam novel CHSI dapat disimpulkan ramah, baik hati, sholeh, dan bijaksana.