• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen PDF TESIS - Unismuh (Halaman 100-113)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN

B. Pembahasan

menunjukkan bahwa perempuan bisa melakukan berbagai hal yang sama dengan laki-laki. Salah satunya adalah menyampaikan pendapat. Sosok Tria merefleksikan upaya perempuan dalam memperjuangkan salah satu haknya yang seringkali disepelekan dalam lingkungan sosial, yakni berpendapat dan menyampaikan diri.

Dari buku, penyembuhan alternatif, bisnis, sampai logika- logika ilmiah dibalik ayat-ayat Allah. Kami menyukai hal yang sama yang dapat membuat kami merasa senang. Travelling, musik, beristirahat di rumah. Dan kami berdua senang bercanda (MCSI:20).

Kutipan di atas merupakan gambaran perjuangan Tria dalam memperjuangkan haknya sebagai perempuan, yakni untuk belajar dan memperoleh pendidikan. Tria menunjukkan bahwa ia mampu mempelajari dan menguasai banyak hal sebagaimana laki-laki.

Dengan demikian, Tria membuktikan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah dan bisa disepelekan. Singkatnya, kehidupan keluarga Tria merupakan refleksi sederhana cita-cita feminisme.

cerita rekaan lainnya, novel CHSI dan MCSI karya Asma Nadia, memiliki unsur-unsur fundamental tersebut.

Kedua tokoh perempuan, baik dalam novel CHSI maupun MCSI karya Asma Nadia, serta perjuangan kedua tokoh perempuan tersebut merefleksikan ideologi feminisme liberal. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Lubis (2006) bahwa feminisme liberal dipengaruhi paham individualisme yang menekankan pentingnya kebebasan, khususnya kebebasan dalam memilih. Gerakan feminisme liberal bermaksud agar perempuan mendapatkan kontrol, baik terhadap tubuh dirinya maupun dalam dunia sosialnya (Lubis, 2006). Para feminis liberal menolak otoritas patriarkat yang dijustifikasi dogma agama, menolak perlakuan khusus yang diberikan pada perempuan, tetapi masih mengakui perbedaan fungsi reproduksi.

Berdasarkan uraian di atas, selanjutkan disajikan secara lebih rinci tentang unsur struktural, deskripsi tokoh perempuan, dan bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel CHSI maupun MCSI berdasarkan perspektif feminisme. Secara umum novel CHSI dan MCSI, memiliki tema seputar keluarga dan kehidupan di dalamnya dalam ruang lingkup yang terbatas. Kedua novel tersebut membatasi pengembangan cerita pada konflik yang terjadi antara pasangan suami istri dalam rumah tangganya.Tema inilah yang

kemudian menjadi dasar berkembangnya cerita yang diwarnai konflik-konflik tertentu. Berdasarkan tema tersebut, kemudian dapat ditarik sebuah amanah dari sebuah cerita.

Secara khusus, tema yang mendasari cerita dalam novel CHSI adalah perceraian.Tema perceraian sangat kental diceritakan mulai dari awal hingga akhir cerita. Konflik yang terjadi antartokoh, maupun pergolakan batin tokoh utamanya merupakan refleksi dari tema perceraian yang menjadi pusat perkembangan alur cerita. Hal tersebut, terlihat pada bagian awal cerita yang diawali dengan ungkapan penderitaan Nejla selaku tokoh utama menghadapi kisruh rumah tangganya yang sudah tidak sanggup ia hadapi. Tema perceraian yang terdapat dalam novel CHSI semakin jelas dengan terlibatnya beberapa tokoh tambahan seperti pegawai pengadilan agama.

Dalam novel CHSI, terdapat beberapa tempat yang menjadi latar terjadinya setiap peristiwa dan konflik dalam cerita. Beberapa tempat tersebut adalah rumah, pengadilan agama dan tempat seminar. Adapun latar suasana dalam novel CHSI dapat dideskripsikan berdasarkan perasaan tokoh utama selama terjadinya konflik dengan sang suami. Latar suasana di antaranya mencekam, tertekan, dan ketakutan. Peristiwa perceraian terjadi pada bulan Agustus.

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel CHSI, di antaranya adalah Nejla Humaira selaku tokoh utama yang berfungsi sebagai tokoh protagonis. Berdasarkan perkembangan watak sepanjang alur cerita, Nejla dikategorikan sebagai tokoh dinamis. Nejla dideskripsikan sebagai figur yang berhati mulia, sabar, istri yang bertanggung jawab, tetapi sebagai manusia biasa ia memiliki batas kesabaran dalam menghadapi perlakuan yang tidak adil kepada dirinya. Menanggapi perlakuan suaminya yang memiliki perempuan idaman lain, Nejla yang merasa telah diinjak-injak harga dirinya, dengan tegas memutuskan untuk menggugat cerai sang suami.

Keputusan itu diambilnya demi mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai perempuan. Ia menolak segala bentuk penghinaan atas dirinya.

Tokoh kedua adalah suami Nejla. Suami dalam novel CHSI adalah figur laki-laki yang tidak tahu malu, pemalas, yang mengeksploitasi istrinya dengan memaksanya bekerja keras, sementara ia hanya menunggu dan menikmati hasilnya. Watak suami dalam novel CHSI di antaranya adalah kasar, pengkhianat, pembohong, dan tidak menghormati istri yang telah dengan ikhlas bekerja demi mengikuti kehendaknya. Selain kedua tokoh yang terlibat dalam konflik perceraian, terdapat pula beberapa tokoh tambahan di antaranya ustadz dan dokter. Kedua tokoh ini

merupakan tokoh tambahan, yang berdasarkan pengembangan wataknya dikategorikan sebagai tokoh statis protagonis.

Novel CHSI menggunakan alur kilas balik, karena pada awal penceritaan, dikisahkan tentang suasana sidang perceraian di gedung pengadilan agama yang berlangsung pada bulan Agustus, merupakan klimaks dari konflik yang terjadi. Selanjutnya, diceritakan asal muasal terjadinya perceraian tersebut pada pertengahan cerita.

Bagian akhir cerita merupakan resolusi yang mendeskripsikan sikap dan tanggapan tokoh utama atas peristiwa yang telah terjadi.

Novel CHSI sangat sarat akan pesan-pesan yang ditujukan kepada kaum perempuan. Amanat tersebut dapat disimpulkan berdasarkan aksi dan reaksi tokoh utama pada setiap konflik yang terjadi. Melalui novel CHSI, penulis menitipkan pesan yang sangat berharga bagi kaum perempuan, yaitu perempuan harus menjaga kehormatan diri serta harus mandiri dan bekerja untuk diri sendiri.

Perempuan tidak harus selalu bergantung kepada suami dalam hal finansial. Karena bagaimanapun, perempuan memiliki daya dan kemampuan untuk mengambil sebuah keputusan demi mempertahankan hak-haknya sebagai individu dalam kehidupan sosial, hak yang dimaksud adalah hak untuk bahagia, dan menikmati hasil jerih payahnya sendiri.

Dalam novel CHSI, tokoh perempuan, yakni Nejla, dideskripsikan sebagai seorang istri yang sangat patuh kepada suami, seorang perempuan mandiri yang mampu menjadi tulang punggung keluarga.Tokoh perempuan dalam novel CHSI digambarkan sebagai perempuan yang tertindas dan diperlakukan tidak sebagaimana mestinya oleh suaminya. Nejla yang merupakan tokoh utama novel CHSI adalah figur perempuan yang dirampas haknya sebagai “ratu” dalam keluarga dan diperlakukan seperti babu oleh suaminya. Bukan hanya dipaksa untuk menjadi sumber finansial keluarga, melainkan ia diperlakukan secara tidak layak dengan berbagai perlakuan kasar dan semena-mena. Tidak dihargai perasaannya dan pendapatnya sebagai seorang istri. Mengalami penindasan batin yang luar biasa hingga akhirnya ia bangkit dan melawan ketika perbuatan suaminya dianggap sudah di luar batas kewajaran.

Novel CHSI secara keseluruhan menampilkan sebuah fenomena sosial yang umum ditemukan dalam kehidupan sehari- hari. Yaitu sisi lain dalam kehidupan rumah tangga, di mana seorang perempuan yang menyandang status sebagai seorang istri diperlakukan tidak adil dalam rumah tangganya sendiri. Ia kehilangan hak-haknya baik haknya sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai seorang perempuan yang memiliki hak-hak

individu. Kisah Nejla merupakan gambaran kehidupan sosial di mana perempuan ditempatkan sebagai “makhluk nomor dua”, yang dengan sendirinya memberi otoritas kepada laki-laki sebagai

“makhluk utama” untuk mengatur dan mengendalikan perempuan selaku “makhluk nomor dua” sesuai kehendaknya. Nejla selaku tokoh utama dalam Novel CHSI merupakan representasi sosok perempuan yang tertindas dalam lingkungan sosial, khususnya dalam lingkungan keluarga. Menanggapi penindasan tersebut, ia melakukan perlawanan demi mempertahankan eksistensinya sebagai makhluk sosial.

Tokoh perempuan dalam novel CHSI dalam memperjuangkan feminisme, di antaranya adalah menentang segala bentuk penindasan terhadap dirinya. Ia menggugat cerai suaminya sebagai upaya untuk mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai seorang perempuan dan sebagai individu dalam kehidupan sosial yang berhak untuk dihormati dan dihargai. Selain itu, Nejla dalam keterpurukan dan kesedihan yang mendalam memilih bangkit dan meyakinkan diri bahwa perempuan berhak bahagia. Perempuan mampu hidup mandiri tanpa bergantung pada pihak laki-laki. Ia membuktikan dirinya mampu menghidupi diri dan anak-anaknya dengan bekerja keras tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang ibu.

Suami Nejla merupakan penggambaran fenomena social, seorang laki-laki (suami) yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga bersikap seolah penguasa dalam rumah tangganya. Ia memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin untuk melakukan penyiksaan batin terhadap Nejla. Selain itu, ia telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang seharusnya menafkahi dan melindungi Nejla. Tanpa rasa malu ia mengeksploitasi Nejla untuk menjadi tulang punggung keluarga bahkan membiarkannya bekerja di daerah lain. Sikap dan sifat suami Nejla merupakan representasi sikap laki-laki yang mendominasi perempuan dengan segala bentuk otoritas yang dimilikinya. Bahkan perlakuan suami Nejla sudah tidak dapat ditolerir sebagai tindakan yang wajar. Selain menikmati hasil jerih payah Nejla, ia juga melakukan pengkhianatan yang menurut penulis tidak dapat diterima dalam aturan pernikahan mana pun di dunia.

Berkebalikan dengan CHSI, MCSI menyuguhkan tema cerita yang bahagia. Cerita dalam novel MCSI berkembang berdasarkan suasana keluarga yang harmonis.Tema keluarga yang harmonis sudah terlihat sejak awal cerita, Tria, selaku tokoh utama mendeskripsikan suaminya sebagai pelengkap hidupnya.

Selanjutnya, digambarkan suasan kehidupan rumah tangga Tria yang diwarnai dengan berbagai peristiwa yang menyenangkan, Tria

dan suami saling melengkapi satu sama lain, saling menghormati, saling percaya. Secara keseluruhan, kehidupan rumah tangga mereka digambarkan sebagai wujud ideal sebuah keluarga harmonis.

Cerita dalam novel MCSI karya Asma Nadia ini terbatas pada kehidupan sepasang suami istri dalam rumah tangganya. Dengan demikian, tempat-tempat yang menjadi latar cerita tidak lepas dari lingkungan keluarga itu sendiri, seperti ruang kerja Tria sebagai istri, kamar mandi, dan kamar tidur. dan terdapat beberapa tempat lain yang disebutkan seperti jalan dan pasar. Tidak disebutkan latar waktu secara spesifik, dan hanya diceritakan beberapa bagian cerita pada periode tertentu, yaitu pada sore hari dan pada hari Minggu.

Alur yang digunakan dalam mengembangkan cerita dalam novel MCSI yaitu alur campuran. Hal ini, diketahui berdasarkan pola cerita yang diawali dengan ungkapan rasa bahagia Tria terhadap kehidupan rumah tangganya. Selanjutnya, diceritakan pengalaman- pengalaman sepanjang pernikahan yang kemudian menjadi alasan perasaan bahagia Tria pada pertengahan cerita. Pada tahap selanjutnya, diceritakan kembali suasana yang terjadi pada hari-hari bisas secara berkelanjutan.

Amanat yang terdapat dalam novel MCSI karya Asma Nadia, tidaklah jauh berbeda dengan yang terdapat dalam novel CHSI

karya Asma Nadia. Adapun amanat yang dimaksud adalah perempuan (istri) harus mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Sedangkan amanat dalam novel MCSI adalah perempuan sebagai mana laki-laki memiliki hak-hak individual atau hak asasi yang sama dengan laki-laki, yaitu hak untuk berpendapat dan mengekspresikan dirinya.

Figur perempuan dalam novel MCSI dideskripsikan sebagai sosok yang perfeksionis, mandiri, cerewet, menyayangi keluarganya.

Tokoh perempuan yang dimaksud adalah Tria, yang dalam kehidupan rumah tangganya memiliki tempat yang sangat penting bagi anak dan suaminya. Hal ini dapat dilihat dari setiap keputusan dan pendapatnya yang dihargai dan dihormati oleh sang suami.

Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia tetap diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, produktif dan bermanfaat bagi dirinya maupun keluarganya.

Perjuangan tokoh perempuan dalam novel MCSI di antaranya adalah mempertahankan hak-hak individualnya tanpa melalaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia bebas memilih pekerjaan yang cocok untuknya, menyampaikan pendapatnya meski harus berdebat dengan suami jika terjadi perbedaan pendapat, mempertahankan haknya untuk mendapatkan pengetahuan dan pendidikan, serta mengekspresikan dirinya dengan melakukan

kegiatan-kegiatan yang produktif, dalam hal ini menjadi seorang penulis.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa perempuan dalam novel CHSI dan MCSI menunjukkan eksistensi mereka sebagai manusia yang mandiri, terlepas dari segala bentuk penindasan atas nama gender, serta mampu menunjukkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Eksistensi tersebut terwujud dalam bentuk kebebasan memilih dan memutuskan sendiri apa yang menurut mereka baik, tanpa harus bersumber atau ditentukan oleh laki-laki maupun orang lain di luar dirinya sebagai perempuan. Oleh karena itu, adanya partisipasi aktif perempuan dalam berbagai aspek kehidupan sebagai mitra sejajar laki-laki, akan dapat mempercepat tercapainya tujuan bersama dalam masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa Novel MCSI merepresentasikan fenomena sosial di mana laki-laki dan perempuan berdiri setara. Tria merupakan penggambaran cita-cita kaum feminisme yang mampu mendobrak budaya partriaki. Hal ini terlihat pada tokoh Tria yang tetap mampu menjalani profesinya sebagai seorang penulis tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga. Meskipun dideskripsikan bahwa Tria lebih dominan dalam mengatur segala sesuatu, sementara suaminya hanya menurut dan mengalah, hal ini tidaklah berarti bahwa Tria menindas suaminya, tetapi kesediaan

keduanya yang saling memberi ruang dan kesempatan untuk mengejar cita-cita pribadi demi kepentingan bersama.

Di sisi lain, tokoh suami Tria merupakan representasi fenomena sosial yang dapat dikatakan tidak lagi terikat pada budaya partriaki di mana laki-laki menjadi penguasa tunggal. Dalam kehidupan rumah tangga Tria, sang suami menunjukkan penghormatan dan pengakuan terhadap hak-hak perempuan sebagai makhluk sosial. Hal ini terlihat pada kesediaan sang suami memberi kebebasan kepada Tria dalam memilih dan melakukan berbagai hal yang disukainya selama tidak melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya.

Secara keseluruhan, berdasarkan hasil analisis novel CHSI maupun MCSI karya Asma Nadia disimpulkan, bahwa perempuan dengan segala dinamikanya cenderung menjadi isu yang menarik untuk dikaji. Menurut Mubin (2008:7) kecenderungan tersebut muncul karena kehidupan perempuan senantiasa dianggap unik sehingga selalu menjadi stressing dalam berbagai aspek kehidupan.Tetapi, bagi perempuan sendiri, keunikan tersebut tidak selalu berarti sesuatu yang menyenangkan karena dalam banyak hal mereka merasakan ketidakadilan. Novel CHSI dan MCSI dapat dikatakan sebagai bentuk gerakan perlawanan protes dan penentangan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan terhadap

kaum perempuan. Gerakan ini berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, hingga upaya penciptaan pembebasan perempuan (Nugroho, 2008:30).

99 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Secara umum Novel CHSI dan MCSI karya Asma Nadia merupakan kompilasi cerita pendek tentang rumah tangga dan prahara yang terdapat di dalamnya. Meskipun demikian, kedua novel tersebut disajikan dengan kisah yang berbeda. Novel CHSI menyuguhkan tragedi yang mengharu biru dalam rumah tangga, perempuan diposisikan sebagai pihak yang tertindas dan berjuang melawan penindasan tersebut, seperti yang tampak dalam catatan 8 yang merupakan fokus kajian penelitian ini.

Berkebalikan dengan CHSI, novel MCSI merupakan kompilasi cerita tentang perempuan sebagai pihak yang memiliki posisi yang setara dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupannya, memiliki hak-haknya sebagai makhluk sosial dalam lingkungan rumah tangga tanpa mengabaikan kewajiban dan kodratnya sebagaimana yang tampak pada catatan 2. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa, novel CHSI dan MCSI mengusung

tema yang sama, yakni tentang keluarga dan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Novel CHSI karya Asma Nadia secara khusus dikembangkan berdasarkan tema perceraian, sementara novel MCSI karya Asma Nadia dikembangkan berdasarkan tema keluarga harmonis. Latar dalam novel CHSI karya Asma Nadia adalah rumah, pengadilan agama, dan ruang seminar, sementara dalam novel MCSI tempat yang menjadi latar cerita adalah rumah, jalan, dan jembatan.Tokoh dalam novel CHSI adalah Nejla Humaira, suami, pegawai pengadilan agama, ustadz dan dokter. Sedangkan dalam novel MCSI hanya terdapat dua tokoh yakni Tria dan suaminya. Adapun alur dalam novel CHSI adalah alur kilas balik, sedangkan novel MCSI menggunakan alur campuran. Amanat yang terdapat dalam novel CHSI yaitu perempuan harus mempertahankan hak dan martabatnya, harus mampu hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang lain.

Sedangkan novel MCSI mengungkapkan amanat bahwa perempuan harus berani menyampaikan pendapat, mempertahankan hak-hak individu berupa hak untuk berpendapat dan berekspresi diri.

2. Tokoh perempuan dalam novel CHSI adalah Nejla, dideskripsikan sebagai sosok yang tertindas dalam kehidupan rumah tangganya. Nejla tersebut kemudian melakukan

perlawanan ketika merasa telah direndahkan martabatnya sebagai seorang istri. Tokoh perempuan dalam novel MCSI karya Asma Nadia adalah Tria, dideskripsikan sebagai seorang perempuan yang cerdas, pekerja keras, imajinatif, romantis tetapi juga keras kepala.

3. Tokoh perempuan dalam novel CHSI memperjuangkan feminisme dengan menggugat cerai suaminya. Bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel MCSI dalam memperjuangkan feminisme adalah dengan mempertahankan haknya untuk berpendapat, berekspresi diri, dan hak untuk mengambil keputusan.

B. Saran

Fenomena sosial dalam novel CHSI dan MCSI dianalisis berdasarkan perspektif feminisme liberal, sehingga hanya terbatas pada perjuangan perempuan dalam mempertahankan hak-hak individu dalam kehidupan sosialnya. Dengan demikian, disarankan kepada pembaca untuk mencari dan membaca kajian serupa dengan perspektif serupa agar lebih mengembangkan wawasan tentang pengkajian sastra pada umumnya, dan fenomena sosial dalam novel CHSI dan MCSI pada khususnya.

Penulis lainnya, disarankan untuk mengkaji novel CHSI dan MCSI dengan perspektif yang berbeda untuk lebih memperluas kajian tentang fenomena sosial yang terdapat dalam kedua novel tersebut.

Dalam kaitannya dengan dunia pendidikan, perjuangan tokoh perempuan dalam novel CHSI dan MCSI karya Asma Nadia dalam mewujudkan feminisme, dapat digali nilai-nilai pengembangan karakter yang dapat ditanamkan pada diri siswa, yaitu harus saling menghormati antara hak dan kewajiban setiap orang tanpa diskrimasi ras, agama, dan jenis kelamin. Dengan demikian, guru bahasa Indonesia diharapkan mampu menciptakan terobosan baru dalam menyampaikan pelajarannya, salah satunya adalah dengan mempelajari novel sebagai bahan ajar bagi siswa.

103

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, A. 2009. Perspektif Feminis dalam Novel Perempuan di Titik Nol Terjemah Novel Imra’atun’inda Nuqtah Al-Shifr Karya Nawal El-Sa’dawi dan Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El-Khalieqy. Jurnal Muwazah, 1(1).

Aminuddin. 2007. Pengantar Apresiasi Sastra. Bandung: Sinar Baru.

Arimbi, H., & Valentina, R. 2004. Feminisme vs Neoliberalisme.

Jakarta: Debt Watch Indonesia.

Berger, P. L., & Luckman, T. 1990. Tafsir Sosial dan Kenyataan.

Jakarta: LP3ES.

Bhasin, & Khan. 1995. Persoalan Pokok mengenai Feminisme dan Relevansinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bungin, B. 2007. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta:

Kencana.

Djunaedie, Moha. 1995. Apresiasi Sastra Indonesia. Ujung Pandang:

FPBS IKIP Press.

Esten, M. 1980. Sastra Indonesia dan Tradisi. Bandung: Angkasa.

Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra: Sebuah Penjelajahan Awal.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Haryanto, S. 2012. Spektrum Teori Sosial dari Klasik hingga Postmodern. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Humm, M. 2002. Ensiklopedia Feminisme. (Rahayu, Terj.) Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Jaggar, A. M. 1983. Feminist, Politics, and Human Nature. Sussex:

The Harvester Press.

Jassin. H. B. 1991. Pengarang Indonesia dan Dunianya. Jakarta:

Gramedia Pustaka Utama.

Kadarusman. 2005. Agama, Relasi, dan Feminisme. Yogyakarta:

Kreasi Wacana.

Kurnia, I., Priyadi, A. T., & Wartiningsih, A. 2010. Kajian Feminisme dalam Novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden Karya Vanny Chrisma W.Diakses30Desember, 2014, dari download.portalgaruda.org/article.php?article=112069&val=23 38

Lubis, A. Y. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Modern dari Postmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.

Lubis, M. 1981. Teknik Mengarang. Jakarta: Kurnia Esa.

Mandrastuty, R. 2010. Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini:

Kajian Feminisme.Diakses24Desember, 2014, dari eprints.uns.ac.id:/7246/1/122673007201007331.pdf

Mubin, N. 2008. Semesta Keajaiban Wanita, Tirai-Tirai Rahasia Keajaiban Penciptaan, Spiritualitas, dan Energi. Yogyakarta:

Diva Press.

Nadia, A. 2009. Muhasabah Cinta Seorang Istri. Jakarta: Lingkar Pena Publishing House.

Nadia, A. 2011. Catatan Hati Seorang Istri. Jakarta: Lingkar Pena Publishing House.

Nugroho, R. 2008. Gender dan Strategi Pengarus-utamaannya di Indonesia. Yogyakarta: University Press.

Nurgiyantoro, B. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada.

Semi, M. A. 1993. Anatomi Sastra. Bandung: Angkasa Raya.

Soemardjo, J., & Saini K. M. 1986. Apresiasi Kesusastraan. Jakarta:

Gramedia.

Stanton, R. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiono, D., dkk2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 4).

Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.

Suharto, & Sugihastuti. 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Suroto. 1989. Teori dan Bimbingan Apresiasi Sastra Indonesia.

Jakarta: Erlangga.

Waluyo, H. J. 2002. Pengkajian Prosa Fiksi. Surakarta: UNS Press.

Wellek, R., & Warren, A. 1995. Teori Kesusasteraan. (Budianta, Terj.) Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis. Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Zulfahnur, F., Kurnia, S., & dan Yuniar, Z. A. 1996. Teori Sastra.

Jakarta: Pustaka Utama.

106 LAMPIRAN

SINOPSIS NOVEL CATATAN HATI SEORANG ISTRI KARYA ASMA NADIA

Catatan 8: Sebab Aku Berhak Bahagia

Catatan Hati Seorang Istri menceritakan tentang sepasang suami istri yang telah 10 tahun hidup dalam sebuah rumah tangga.

Adalah Nejla Humaira, sang istri yang begitu penyabar, dan mencintai suami serta anaknya sepenuh hati yang menjadi kodratnya sebagai seorang istri sekaligus ibu bagi anaknya. Rumah tangga Nejla tidaklah seperti yang dibayangkan. Di dalamnya tidak ada kebahagiaan, hanya kebohongan dan pengkhianatan yang menjadi pelengkap kehidupan Nejla bersama sang suami yang sangat dicintainya itu.

Nejla Humaira adalah seorang istri yang berbakti. Berkali-kali ia mendapati suaminya bersikap tidak wajar, ia tetap percaya dan berbaik sangka kepadanya. Dengan alasan yang tidak bertanggung jawab, sang suami menjadikan Nejla sebagai tulang punggung keluarga. Nejla demi menuruti kehendak suami, harus rela bekerja di daerah yang jauh dari kediamannya.

sang suami yang seharusnya bertanggung jawab menafkahi keluarga, bukannya berusaha agar mereka tetap bisa hidup dalam rumah yang sama, malainkan meyakinkan Nejla untuk tetap bertahan dengan kondisi yang demikian. Nejla harus tinggal di daerah lain bersama anaknya, sementara sang suami menikmati segala fasilitas yang diperolehnya dari sang istri.

Tanpa rasa malu sedikit pun, sang suami meminta Nejla membeli tanah, rumah, mobil atas namanya. Selain itu, ia berkali-kali

Dalam dokumen PDF TESIS - Unismuh (Halaman 100-113)

Dokumen terkait