• Tidak ada hasil yang ditemukan

Amanat

Dalam dokumen PDF TESIS - Unismuh (Halaman 75-85)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN

A. Hasil Penelitian

5) Amanat

Novel CHSI ini, mengusung tema keluarga serta prahara dan permasalahan yang ada di dalamnya. Setiap konflik yang terjadi diceritakan berdasarkan sudut pandang perempuan (istri) yang diposisikan sebagai korban. Karena itu, amanat yang terdapat dalam novel ini pun secara general berkaitan dengan perempuan.

Dalam novel ini disematkan pesan-pesan yang sangat bernilai bagi kaum perempuan. Amanat-amanat tersebut dapat ditemukan sepanjang penceritaan, baik yang diungkapkan secara langsung maupun yang disisipkan dalam dialog-dialog antartokoh.

Aku berhasil membuat sebuah pilihan yang meski pahit dan menyakitkan. Tapi, kutahu merupakan pilihan yang benar agar aku tetap hidup. Hidup yang bahagia. Sebab, aku berhak untuk berbahagia (CHSI:166-167).

Kutipan di atas mengilustrasikan bagaimana sikap Nejla dalam menghadapi prahara rumah tangganya yang semakin memburuk. Berdasarkan ketegasan sikap Nejla tersebut, dapat dipetik sebuah hikmah bahwa setiap orang berhak untuk merasa bahagia. Sikap Nejla yang tegas menentukan langkah tersebut juga menggambarkan bahwa seorang perempuan pun memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri, dan mencari kebahagiaan dengan caranya sendiri tanpa harus bergantung kepada siapa pun. Setiap perempuan memiliki hak untuk memilih jalan hidupnya sebagaimana kaum laki-laki.

Sikap serupa beberapa kali diungkapkan sepanjang cerita, sebagaimana dalam kutipan berikut ini

Dari apa yang kujalani, aku pun banyak belajar. Salah satunya adalah, bahwa akulah satu-satunya yang mampu membuat keputusan untuk hidupku, atas pertolongan Allah. Bahwa sebenarnya, akulah yang paling mengerti apa yang kubutuhkan, apa yang kurasakan, apa yang harus kulakukan.

(CHSI:186).

Pengalaman ini juga memperkuat apa yang selama ini kuyakini; bahwa bagaimanapun, sebaiknya perempuan haruslah mandiri dan bekerja. Tentu tak harus bekerja di luar rumah jika itu memang menyulitkan. Bekerja dari rumah dan menghasilkan sesuatu bagi dirinya sendiri, merupakan hal yang baik untuk memupuk kemandirian serta kesiapan mental ketika terjadi musibah. (CHSI:186).

Dalam kutipan di atas teradapat sebuah pesan yang merupakan intisari dari cerita yang terdapat dalam novel CHSI ini.

Dalam kutipan tersebut secara gamblang penulis mengutarakan pandangannya tentang sosok perempuan (istri) yang tidak harus selalu bergantung pada orang lain (suami). Seorang perempuan dituntut harus mampu menentukan pilihan dan mengambil keputusan tegas untuk mempertahankan eksistensinya dalam lingkungan sosial.

Kaum perempuan walaupun seringkali dianggap lemah haruslah tetap mampu dan berhak mengambil keputusan berdasarkan situasi yang dihadapinya. Dalam kutipan di atas penulis secara jelas mengungkapkan sikapnya bahwa perempuan harus dapat hidup mandiri. Sekalipun itu tidak berarti harus memiliki pekerjaan di luar rumah, tetapi sangat penting kaum perempuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa amanat dalam novel ini adalah; perempuan harus menjaga kehormatan diri serta harus mandiri dan bekerja untuk diri sendiri.

b. Deskripsi Tokoh Perempuan dalam Novel CHSIKarya Asma Nadia

Tokoh perempuan yang dalam novel CHSI ini merupakan tokoh itu sendiri. Tokoh yang dimaksud adalah Nejla. Nejla merupakan pusat penceritaan yang mengalami penderitaan dengan konflik berupa permasalahan rumah tangga yang tidak harmonis.

Dengan berbagai cobaan dan kesabarannya, Nejla berusaha mempertahankan rumah tangganya, menuruti kehendak sang suami yang tidak wajar, demi anak-anaknya yang masih kecil.

Adapun tokoh Nejla dideskripsikan berdasarkan kutipan- kutipan berikut,

Tapi bahkan kerusakan sekalipun, ketika itu menjadi jalan satu-satunya cara untuk tetap hidup, menghindarkan diri dari kehancuran, untuk kemudian membangun hidup baru yang lebih baik, maka pilihan itu pun harus diambil dan dilakukan.

Selebihnya memperkuat kesabaran dan berlapang dada menerima segala cobaan. (CHSI: 166).

Kutipan di atas merupakan deskripsi tokoh Nejla yang tegar dan tabah. Kesabaran dan ketabahan Nejla tersebut terlihat ketika ia menggugat cerai suaminya demi “bertahan hidup”. Keputusan untuk bercerai tentu bukanlah sebuah keputusan yang mudah, mengingat sepuluh tahun pernikahannya serta anak-anaknya yang masih kecil.Tetapi ketika Nejla menyadari bahwa tidak ada plihan lain, dikarenakan sikap suaminya yang sedikit pun tidak menunjukkan perubahan yang lebih baik, bahkan kian hari semakin menjadi-jadi,

Nejla pun dengan tegas memilih jalan “yang tidak diridhai Allah meski halal”, sebagai jalan terakhir.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai tulang punggung keluarga, Nejla adalah sosok istri yang bertanggung jawab terhadap keluarganya. Ia tidak melalaikan tugasnya sebagai seorang istri yang memiliki tanggung jawab mengurus rumah tangga, suami dan anak-anaknya. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan kutipan berikut,

Baiklah! Aku ini perempuan. Sudah menjadi tugasku untuk mengatur semua urusan rumah tangga. Ketika pembantu rumah tanggaku alpa, maka itu adalah salahku. Tanggung jawabku! Aku terima. (CHSI:172).

Namun, tangis bayi membuatku menarik keinginan itu. Bayi bermata indah itu membutuhkanku. Juga ketiga anakku yang lain. Aku harus hidup. Apa pun yang terjadi. (CHSI:174).

Kutipan di atas mengilustrasikan watak Nejla yang tetap menomorsatukan urusan rumah tangga yang memang sudah menjadi tugas pokoknya sebagai seorang istri. Meski kelelahan dengan pekerjaannya, ia tetap meluangkan waktu mengurus keperluan suami dan anak-anaknya. Bahkan ketika rumah tangganya ambruk, Nejla tetap berusaha bertahan dan tidak berputus asa demi anak-anaknya.

Meski pahit, tapi aku harus mulai mau menerima kenyataan, bahwa apa yang dilakukan suamiku tidaklah benar menurut

hukum perkawinan universal maupun hukum agama. Aku telah dikhianati. (CHSI:175).

Kutipan di atas mendeskripsikan pemikiran Nejla yang realistis. Seberapa pun besarnya ia mencintai sang suami, ia tidak membiarkan dirinya dibodohi oleh suami yang dicintainya. Dengan lapang dada ia menerima kenyataan bahwa suaminya adalah seorang yang tidak bertanggung jawab, seorang suami yang tanpa malu mengkhianati istri yang telah bersusah payah menghidupinya dan memenuhi segala kebutuhannya. Berdasarkan kenyataan itu, Nejla pun mengambil langkah tegas, yakni menggugat cerai suaminya. Nejla tidak ingin harga dirinya sebagai perempuan diinjak- injak dan dibuat terhina dengan tindakan suaminya yang salah menurut “hukum perkawinan universal”. Sikap Nejla tersebut dideskripsikan dalam kutipan berikut,

Kenyataan bahwa suamiku menggoda beberapa perempuan, bahkan hingga pada tahap menjurus pada hubungan badan, telah menghancurkan kepercayaanku padanya. Aku pun merasa terhina. Harga diriku sebagai istri dan perempuan diinjak-injak. (CHSI:175).

Kutipan di atas menunjukkan sikap Nejla yang menganggap bahwa perselingkuhan yang dilakukan oleh suaminya adalah bentuk penghinaan terhadap dirinya sebagai seorang istri. Ia tidak dapat mentolerir perbuatan suaminya yang lancang melakukan hubungan

badan dengan perempuan lain. Nejla tidak ingin harga dirinya diinjak-injak begitu saja tanpa perlawanan apa-apa.

Sikap tegas Nejla dalam mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai perempuan kembali ditunjukkan dalam kutipan berikut,

Bagaimana mungkin aku terus hidup dengan orang yang mengkhianatiku? Yang membohongiku? Yang menyia-nyiakan ku? (CHSI: 176)

Kutipan di atas mengilustrasikan pergolakan batin Nejla yang tidak bersedia hidup berdampingan dengan orang yang tidak menghormati dan menghargainya.

Sikap tegas Nejla yang telah diuraikan di atas tidaklah serta merta adalah sikap yang mudah dan tanpa pergolakan batin yang menyiksanya. Nejla merasa tertekan, terombang-ambing karena kenyataan yang harus diterimanya sangatlah berat. Bagaimanapun, Nejla adalah seorang perempuan yang memiliki perasaan yang lembut.

Aku terombang-ambing dalam keadaan tanpa keputusan. Aku takut mengajukan gugatan cerai. Aku terpuruk, tenggelam dalam kekalutan dan kesedihan yang amat sangat. Aku takut mengambil keputusan. (CHSI:176).

Tidak mudah bagi Nejla untuk mengambil keputusan bercerai begitu saja. Bagaimanapun, ia memikirkan masa depan anak- anaknya yang masih kecil dan belum mengerti apa-apa.

Berdasarkan uraian di atas, maka tokoh perempuan dalam novel CHSI, yakni Nejla, adalah seorang istri yang sabar, pekerja keras, pengertian dan bertanggung jawab, seorang istri yang selalu berbaik sangka kepada sikap suaminya yang tidak wajar, selalu memikirkan matang setiap keputusannya, mengutamakan kepentingan keluarga daripada kepentingan sendiri.

Sebagai seorang perempuan tentu saja Nejla memiliki kesamaan dengan perempuan lainnya, yang memiliki perasaan yang lembut, dan gampang tersakiti. Bahkan Nejla mengalami pergolakan batin yang membuatnya tertekan dan terombang-ambing dikarenakan perlakuan suaminya yang tidak menghormatinya sebagai seorang istri. Meski demikian, Nejla merupakan seorang perempuan yang tegas dalam menentukan keputusan. Bahkan pada akhirnya, Nejla mampu keluar dari kesedihannya, menyadari bahwa tidak ada yang dapat menentukan kebahagiannya selain dirinya sendiri.

Nejla menyadari bahwa perempuan meski dianggap lemah dan seringkali dinomorduakan, tetap memiliki hak untuk membela dan mempertahankan diri, dan mampu hidup di atas pijakan kakinya

sendiri. Ia berkeyakinan bahwa perempuan bahkan yang telah berstatus sebagai seorang istri harus bisa mandiri, mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus selalu bergantung kepada suami. Menurut Nejla, perempuan juga berhak bahagia dengan caranya sendiri.

c. Deskripsi Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Mewujudkan Feminsime dalam Novel CHSI Karya Asma Nadia

Melalui tokoh Nejla dalam novel CHSI, Asma Nadia merefleksikan idealismenya tentang feminisme. Sosok Nejla serta perjuangannya dalam menghadapi prahara rumah tangganya, sangat kental dengan pemikiran-pemikiran feminisme, khususnya feminisme liberal.

Perjuang tokoh Nejla dalam mewujudkan feminisme dapat dilihat pada kutipan berikut,

Kenyataan bahwa suamiku menggoda beberapa perempuan, bahkan hingga pada tahap menjurus pada hubungan badan, telah menghancurkan kepercayaanku padanya. Aku pun merasa terhina. Harga diriku sebagai istri dan perempuan diinjak-injak. (CHSI:175).

Kutipan di atas merepresentasikan bagaimana tokoh Nejla memperjuangkan haknya sebagai perempuan yang berhak untuk dihargai dan dihormati. Meskipun selalu dianggap lemah dalam budaya partriaki, tokoh Nejla membuktikan bahwa perempuan harus

berani bertindak tegas apabila diperlakukan semena-mena.

Perempuan dapat menentang dan berdiri melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan oleh kaum laki-laki. Dalam hal ini Nejla mengambil langkah tegas dengan menceraikan suaminya yang telah berlaku tidak adil kepadanya, yang telah mengkhianatinya dengan melakukan tindakan tidak terpuji dengan perempuan lain. Tindakan sang suami ini merupakan bentuk penghinaan dan penindasan atas harkat dan martabatnya sebagai perempuan.

Bentuk perjuangan Nejla terdapat dalam dua kutipan berikut, Pengalaman ini juga memperkuat apa yang selama ini kuyakini; bahwa bagaimanapun, sebaiknya perempuan haruslah mandiri dan bekerja. (CHSI:186).

Semua pengalaman ini membuatku yakin, bahwa sebenarnya perempuan mampu bila keadaan memaksa untuk hidup dan berjuang sendirian.(CHS:186-187).

Kutipan di atas merupakan bentuk perjuangan Nejla dalam mewujudkan feminisme, khususnya feminisme liberal. Nejla menunjukkan bahwa seberapa pun perempuan dianggap lemah, tetapi mereka juga memiliki hak untuk bekerja, harus mandiri.

Melalui kutipan tersebut, Nejla sebagai seorang perempuan sekaligus istri memperjuangkan haknya sebagai makhluk yang setara dengan laki-laki dalam hal memiliki pekerjaan dan berpenghasilan sendiri tanpa harus bergantung pada penghasilan suami.

Berdasarkan urian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel CHSI.

Pertama adalah bertindak tegas dengan menggugat cerai suaminya yang tidak menghargai dan mehormatinya sebagai istri. Kedua, Nejla berusaha bertahan hidup dan menghidupi diri serta anak- anaknya dengan meyakinkan diri bahwa perempuan harus mandiri.

Kedua bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel CHSI ini merepresentasikan ideologi feminisme liberal, yang menuntut adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial. Perjuangan Nejla mewakili tuntutan feminisme liberal bahwa perempuan juga berhak menentukan keputusan dan menentukan nasib hidupnya sendiri.

2. Hasil Analisis Novel MCSI Karya Asma Nadia

Dalam dokumen PDF TESIS - Unismuh (Halaman 75-85)

Dokumen terkait