BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori dan Konsep
4. Hakikat Feminisme dalam Sastra
kehidupan setiap individu ada suatu urutan waktu, dan selama itu pula ia diimbaskan sebagai partisipan ke dalam dialektika masyarakat. Individu tidak dilahirkan sebagai anggota masyarakat, tetapi hanya dilahirkan dengan suatu predisposisi ke arah sosialisasi, dan ia menjadi anggota masyarakat. Dengan demikian, internalisasi dalam arti umum merupakan dasar bagi pemahaman mengenai “sesama saya”, yaitu pemahaman individu dan orang lain serta pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial.
4. Hakikat Feminisme dalam Sastra
Gerakan feminisme berakar pada posisi perempuan dalam dunia (filsafat, politik, ekonomi, budaya, sosial) patriarki dan berorientasi pada perubahan pola hubungan kekuasaan (Arimbi dan Valentina, 2004:7). Perempuan relatif memiliki banyak kesulitan dalam menemukan eksistensinya dan dalam menentukan sikap menyambut kerumitan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. Perempuan yang ingin menemukan eksistensinya seringkali dipandang sebagai bentuk ’perlawanan’ oleh sebagian orang yang masih dilingkupi pemikiran patriarkis. Padahal, perempuan hanya ingin menemukan jati dirinya, membentuk, dan mengembangkan kesadaran bahwa ada potensi nonfisik yang harus dikembangkan dalam eksistensi dirinya sebagai manusia. Seiring berkembangnya zaman, pola pemikiran pun berkembang. Begitu pula dengan perempuan yang mulai berani mendobrak belenggu yang selama ini menjerat.
Berbagai persoalan perempuan yang berhubungan dengan masalah kesetaraan gender ini selanjutnya mengundang simpati yang cukup besar dari masyarakat luas karena dianggap erat kaitannya dengan persoalan keadilan sosial dalam arti lebih luas (Nugroho, 2008:28). Berbagai ketimpangan gender yang dialami kaum perempuan kemudian dipersoalkan dan digempur oleh sebuah gerakan yang disebut gerakan feminisme. Gerakan feminsime
berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, hingga upaya penciptaan pembebasan perempuan (Nugroho, 2008:30).
Secara umum dapat dikatakan bahwa feminisme merupakan sebuah ideologi pembebasan perempuan, karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002:158). Sedangkan feminisme menurut Bhasin dan Khan (1995:5) adalah sebuah kesadaran tentang ketidakadilan yang sistematis bagi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut. Oleh karena itu, feminisme merupakan sebuah gerakan yang didasari oleh kesadaran akan adanya ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupuan masyarakat. Gerakan feminisme berusaha menjembatani tuntutan persamaan hak antara perempuan dengan laki-laki.
Menurut Bhasin dan Khan (1995:5) feminisme mengandung 3 konsep penting, yaitu:
a. Feminisme adalah sebuah keyakinan bahwa tidak ada perbedaan seks. Artinya, feminisme menentang adanya posisi hierarkis yang menyebabkan posisi superior dan inferior di antara jenis kelamin, di mana perempuan selalu ditempatkan pada posisi nomor dua.
b. Feminisme adalah sebuah pengakuan bahwa dalam masyarakat telah terjadi konstruksi sosial budaya yang merugikan perempuan c. Feminisme menggugat perbedaan yang mencampuradukan seks dan gender sehingga perempuan dijadikan sebagai kelompok tersendiri dalam masyarakat.
Singkatnya, feminisme adalah gerakan yang bertujuan menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki, memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, dan mempertahankan hakikat perempuan sebagai manusia merdeka seutuhnya (women demanding their full rights as human beings).
b. Aliran-aliran dalam Feminisme
Komitmen dasar kaum feminis adalah terwujudnya kesetaraan dan menolak ketidakadilan terhadap perempuan. Meski demikian, gender adalah fenomena sosial yang memiliki kategori analisis yang berbeda-beda, sehingga dengan sendirinya muncul perbedaan pandangan antarfeminis terhadap persoalan gender itu sendiri.
Perbedaan pandangan tersebut melahirkan aliran-aliran feminisme.
Menurut Lubis (2006: 83), meskipun pada perkembangannya, muncul berbagai aliran feminisme, tetapi secara keseluruhan aliran yang berbeda tersebut memiliki satu persamaan yang mendasar, yaitu keyakinan bahwa perempuan adalah bagian dari masyarakat
yang tidak beruntung, yang dirugikan secara sosial dan budaya.
Sementara perbedaannya terletak pada perbedaan pendapat terkait asal usul ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dalam masyarakat. Perbedaan pendapat ini kemudian menimbulkan perbedaan pada penekanan dan alternatif solusi perlawanan (Arimbi dan Valentina, 2004:30-50).
Kadarusman (2005: 27) membedakan aliran feminisme atas feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosialis. Sementara Tong dalam Lubis (2006) mengemukakan adanya delapan aliran feminisme, yaitu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis dan sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme posmodern, feminisme multikultural dan global, dan ekofeminisme.
Feminisme Liberal, berkeyakinan bahwa akar penindasan perempuan terletak pada adanya perbedaan hak untuk memajukan diriserta peluang pembudayaan yang sama. Perempuan mendapat diskriminasi hak, kesempatan, kebebasannya karena ia perempuan.
Untuk melawannya feminis liberal mengajukan kesetaraan antara pria dan perempuan. Para feminis liberal menolak otoritas patriarkal yang dijustifikasi dogma agama, menolak perlakuan khusus yang diberikan pada perempuan.Tetapi masih mengakui perbedaan fungsi
reproduksi, bagaimanapun fungsi reproduksi bagi perempuan sangat memengaruhi kehidupan bermasyarakat.
Feminisme liberal dipengaruhi paham individualisme yang menekankan pentingnya kebebasan, khususnya kebebasan dalam memilih. Gerakan feminisme liberal bermaksud agar perempuan mendapatkan kontrol, baik terhadap tubuh dirinya maupun dalam dunia sosialnya. Mereka menolak simbol-simbol gender yang melekat pada masing-masing jenis kelamin dan sosialisasi gender kepada anak-anak yang selama ini dilakukan. Mereka juga melihat kebanyakan stereotype, baik yang menyangkut laki-laki maupun perempuan dibentuk oleh budaya.
Feminisme liberal yang berorientasi pada kesejahteraan menganggap bahwa masyarakat seharusnya tidak hanya mengompensasi perempuan untuk ketidakadilan di masa lalu, tetapi juga menghilangkan hambatan sosial ekonomi dan juga hambatan hukum bagi kemajuan perempuan kini (Wiyatmi, 2012:20). Menurut aliran feminisme liberal, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang rasional dan mempunyai kapasitas yang sama. Masalah yang dihadapi perempuan lebih banyak disebabkan oleh banyaknya kebijakan negara yang bias gender. Aliran ini juga mencari pendekatan kehidupan yang lebih autentik, individual, dan tidak
direkayasa. Berdasarakan pemikiran tersebut, feminism liberal kemudian lebih dikenal sebagai feminisme kesetaraan.
Teori Marxis klasik sangat menyadari bahwa relasi gender merupakan produk kehidupan sosial dan menunjukkan adanya ketimpangan. Sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara-cara produksi yang tentunya menguntungkan laki-laki. Proses produksi mengalami perubahan ketika kapitalisme berkembang. Perubahan tersebut bergerak dari sifatnya yang subsistem ke arah pertukaran. Sistem produksi seperti ini dikontrol laki-laki dan pada saat yang sama laki-laki juga mengontrol hak-hak sosial perempuan. Solusi terhadap ketimpangan gender adalah menghapus kapitalisme karena kapitalisme memarginalisasikan hak-hak perempuan terhadap hak milik dan juga hak waris.
Feminisme Marxis dapat dikatakan sebagai kritik terhadap feminism liberal. Karya Frederick Engels, The Origins of The Family, Private Property and The State, yang ditulis pada tahun 1884 merupakan awal mula pemikiran Marxis tentang penyebab penindasan perempuan. Penindasan terhadap perempuan bukan akibat tindakan individual yang disengaja melainkan hasil dari struktur politik, sosial, dan ekonomi yang dibangun dalam sistem
kapitalisme. Argumentasi kaum Marxis didasarkan kepada persoalan ketidakadilan dalam pembagian kerja dan status kepemilikan.
Feminisme radikal menilai perempuan dan laki-laki sebagai spesies yang terpisah. Perbedaan yang semula berdasarkan faktor biologis, kemudian digenderkan oleh masyarakat sehingga pada akhirnya laki-laki menjadi berbeda dan mendominasi. Menurut Jaggar (1983:249), jenis kelamin seseorang adalah faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan posisi sosial, pengalaman hidup, kondisi fisik dan psikologis, serta kepentingan dan nilai- nilainya
Perempuan dipandang sebagai kelompok sosial yang berada di posisi penindasan paling bawah. Situasi ini digambarkan sebagai berikut: (1) perempuan dalam sejarah digambarkan sebagai kelompok yang pertama tertindas; (2) penindasan terhadap perempuan tersebar luas ke berbagai kehidupan sosial; (3) penindasan terhadap perempuan adalah paling dalam, dan tidak dapat digeser hanya oleh perubahan sosial antarkelas; (4) penindasan perempuan menyebabkan penderitaan kaum korban, secara kuantitatif dan kualitatif walaupun penindasan itu tidak selalu diakui dan disadari pelaku maupun korban; (5) penindasan terhadap perempuan dapat memberikan konseptual model untuk mengetahui
bentuk penindasan yang lain (Murniati 2004, dalam Haryanto, 2012:121).
Sebagai kritik terhadap feminisme Marxian, maka muncullah feminisme sosialis. Pada saat feminisme Marxian menganggap bahwa sistem patriarki muncul pada waktu masyarakat mencapai tahap perkembangan kapitalisme, feminisme sosialis berpendapat bahwa sistem patriarki tersebut sudah ada sebelum kapitalisme.
Selain itu, feminisme sosialis mempunyai keyakinan bahwa sistem tersebut tidak akan lenyap meski kapitalisme mengalami keruntuhan. Dalam memahami berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender. Feminisme sosialis sepaham dengan feminisme liberal yang beranggapan bahwa patriarki juga merupakan sumber lain penindasan perempuan. Oleh karena itu, solusi yang harus ditempuh untuk menghapus penindasan perempuan adalah dengan menghapuskan baik sistem patriarki maupun kapitalisme.
Arimbi dan Valentina (2004: 30-50) berpendapat bahwa feminisme sosial memahami penindasan terhadap perempuan melalui sudut pandang teori epistimologi yang mendalilkan bahwa semua pengetahuan mempresentasikan kepentingan dan nilai-nilai kelompok sosial tertentu. Komitmen dasar feminisme sosialis adalah mengatasi penindasan kelas. Menurut aliran sosialis, konsep “the
personal is political” dalam aliran feminisme radikal dapat memperluas konsep Marxis tentang dasar-dasar material suatu masyarakat, untuk memasukkan reproduksi sama dengan produksi.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Kadarusman (2005) juga menyatakan terdapat 4 aliran dalam feminisme, dan menegaskan bahwa prinsip, nilai dan prespektif feminisme adalah pijakan bagi semuanya. Perbedaannya terdapat pada sumber masalah, penekanan, dan alternatif solusi perlawanan.
c. Kritik Sastra Feminis
Dalam khazanah kritik sastra di Indonesia, kritik sastra feminis adalah tipe kritik sastra yang relatif baru. Pembelajaran kritik sastra feminis masuk dalam kurikulum pendidikan tinggi sastra baru sekitar awal 2000-an, seiring dengan munculnya perhatian para intelektual dan pemegang kebijakan terhadap persoalan kesetaraan gender (Wiyatmi, 2012). Kritik sastra feminis merupakan salah satu tipe kritik sastra yang memiliki keunikan tersendiri karena memberikan perhatian pada persoalan keadilan (kesetaraan) gender, yang berkaitan dengan tokoh-tokoh (fiksi, drama, maupun puisi) yang terdapat dalam karya pengarangnya. Kritik sastra feminis berasal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis wanita di masa silam untuk mewujudkan citra wanita dalam karya penulis pria
yang menampilkan wanita sebagai makhluk dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkat yang dominan.
Suharto dan Sugihastuti (2002:7) mengemukakan bahwa kritik sastra feminis memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang menjadi perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada situasi luar yang memengaruhi situasi karang mengarang.
Ada beberapa kritik sastra feminis, yaitu kritik ideologis, kritik ginokritik, kritik sastra feminis sosial, kritik sastra psikoanalitik, kritik feminis lesbian, dan kritik feminis ras atau etnik. Kritik ideologis melibatkan wanita sebagai pembaca. Kritik ini juga meneliti kesalah pahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering diabaikan. Cara ini memperkaya wawasan pembaca wanita dan membebaskan cara berpikir mereka. Dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre dan struktur penulis wanita. Kemudian kritik sastra feminis sosial meneliti tokoh wanita yaitu kelas masyarakat.
Pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas. Selain itu, ada pula
kritik sastra feminis psikoanalitik yang biasanya ditempatkan pada tulisan wanita, karena tokoh wanita biasanya merupakan cerminan penciptanya.
Pada kritik feminis lesbian tujuannya adalah mengembangkan suatu definisi yang tepat tentang makna lesbian. Kemudian pengkritik sastra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada diri penulis atau pada teks karyanya. Kemudian yang terakhir adalah kritik feminis ras atau etnik yang berusaha mendapatkan pengakuan bagi penulis etnik dan karyanya, baik dalam kajian wanita maupun dalam sastra tradisional dan sastra feminis.