FENOMENA SOSIAL DALAM NOVEL CATATAN HATI SEORANG ISTRI DAN NOVEL MUHASABAH CINTA
SEORANG ISTRI KARYA ASMA NADIA (Perspektif Feminisme)
SOCIAL PHENOMENON ON CATATAN HATI SEORANG ISTRI AND MUHASABAH CINTA SEORANG ISTRI
NOVELS BY ASMA NADIA (Perspective of Feminism)
TESIS
Hj. ROSLINDA
Nomor Induk Mahasiswa: 04.08.942.2013
PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
i
FENOMENA SOSIAL DALAM NOVEL CATATAN HATI SEORANG ISTRI DAN NOVEL MUHASABAH CINTA
SEORANG ISTRI KARYA ASMA NADIA (Perspektif Feminisme)
TESIS
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar Magister
Program Studi
Bahasa dan Sastra Indonesia
Kekhususan: Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Disusun dan diajukan oleh
Hj. ROSLINDA
Nomor Induk Mahasiswa: 04.08.942.2013
PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2015
ii TESIS
FENOMENA SOSIAL DALAM NOVEL CATATAN HATI SEORANG ISTRI DAN NOVEL MUHASABAH CINTA
SEORANG ISTRI KARYA ASMA NADIA (Perspektif Feminisme)
yang disusun dan diajukan oleh
Hj. ROSLINDA
Nomor Induk Mahasiswa: 04.08.942.2013
Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Pembimbing I, Pembimbing II,
Prof. Dr. H.M. Ide Said D.M., M.Pd. Dr.H.Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
Mengetahui, Direktur Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Makassar
Ketua Program Studi Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia
Prof. Dr. H.M. Ide Said D.M., M.Pd. Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.
iii
LEMBAR PENERIMAAN PENGUJI
Judul : Fenomena Sosial dalam Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Novel Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia
Nama : Hj. ROSLINDA NIM : 04.08.942.2013
Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Telah diseminarkan dan dipertahankan di depan Panitia Penguji pada tanggal 14 Oktober 2015 dan dinyatakan telah memenuhi prasyarat dan dapat diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Bahasa dan Sastra Indonesia pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar.
Makassar, 14 Oktober 2015 TIM Penguji
Prof. Dr. H.M. Ide Said D.M., M.Pd.
(Ketua/Pembimbing/Penguji)
(……….)
Dr.H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
(Sekretaris/Pembimbing/Penguji)
(……….)
Dr. Abd. Rahman Rahim, M.Hum.
(Penguji)
(……….)
Dr. Munirah, M.Pd.
(Penguji)
(……….)
iv
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS
Yang Bertandatangan di bawah ini Nama : Hj. Roslinda
NIM : 04. 08. 942. 2013
Program Studi : Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pemikiran orang lain.
Apabila di kemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.
Makassar, 14 Oktober 2015 Yang Menyatakan
Materai 6000
Hj. Roslinda
v MOTO
Untuk meraih kesuksesan belum cukup dengan bermodalkan materi semata, tetapi usaha, kesabaran, ketabahan dan keikhlasan serta doa kepada-Nya adalah penentu. Walau terkadang, harus meniti, menapak, dan merangkak untuk menggapainya.
vi ABSTRAK
Roslinda, Hj. 2015.Fenomena Sosial dalam Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Novel Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia (Perspektif Feminisme).Tesis Magister Bahasa dan Sastra Indonesia Unismuh Makassar.
Dibimbing oleh M. Ide Said D.M., dan Andi Sukri Syamsuri.
Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimanakah unsur struktural, deskripsi tokoh perempuan, serta deskripsi perjuangan tokoh perempuan dalam memperjuangkan feminisme dalam novel CHSI dan MCSI Karya Asma Nadia?Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur struktural, tokoh perempuan dalam memperjuangkan feminisme, serta perjuangan tokoh perempuan dalam novel CHSI dan MCSI Karya Asma Nadia berdasarkan perspektif feminisme.
Penelitian ini adalahpenelitian deskriptif kualitatif.Sumber data penelitian ini adalah novel CHSI dan MCSI Karya Asma Nadia.Data penelitian berupa kalimat atau paragraf dalam novel CHSI catatan 8 dan novel MCSI catatan 2. Data dianalisis dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi kalimat dan ungkapan berdasarkan ciri, dan fenomena sosialnya.
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa baik novel CHSI dan MCSI mengusung tema yang sama, yakni tentang keluarga dan kehidupan suami istri dalam rumah tangga. Amanat yang terdapat dalam novel CHSI yaitu perempuan harus mempertahankan hak dan martabatnya, harus mampu hidup mandiri tanpa bergantung kepada orang lain. Sedangkan novel MCSI mengungkapkan amanat bahwa perempuan harus berani menyampaikan pendapat, mempertahankan hak-hak individu berupa hak untuk berpendapat dan berekspresi diri.Tokoh perempuan dalam novel CHSI adalah Nejla, dideskripsikan sebagai sosok yang tertindas dalam kehidupan rumah tangganya.Nejla tersebut kemudian melakukan perlawanan ketika merasa telah direndahkan martabatnya sebagai seorang istri.Tokoh perempuan dalam novel MCSI karya Asma Nadia adalah Tria, dideskripsikan sebagai seorang perempuan yang cerdas, pekerja keras, imajinatif, romantis tetapi juga keras kepala.Tokoh perempuan dalam novel CHSI memperjuangkan feminisme dengan menggugat cerai suaminya.Bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel MCSI dalam memperjuangkan feminisme adalah dengan mempertahankan haknya untuk berpendapat, berekspresi diri, dan hak untuk mengambil keputusan.
Kata Kunci: Fenomena Sosial, Novel
vii ABSTRCT
Roslinda, Hj. 2015.Social Phenomenon on Catatan Hati Seorang Istri and Muhasabah Cinta Seorang Istri Novels By Asma Nadia (Perspective of Feminism). A Thesis of Magister of Indonesian Literature and Language University of Muhammadiyah Makassar.Supervised by M. Ide Said D.M., dan Andi Sukri Syamsuri.
The significants of this research are to describe is struktural elements, figure of female character, and the effort of the female character on maintaining the ideology of feminism on the novel of CHSI and MCSI by Asma Nadia.
This research is a qualitative descriptive research. Source of the data collection are novel CHSI and MCSI by Asma Nadia. Data of the research are sentence and paragraph of the novel CHSI note 8 and novel MCSI note 2. Those datas was analyzed through identifying, classifying the sentences and expression based on the characteristic of their social phenomenon.
Based on the result of the research, it found that the female character of CHSI is described as a woman who under pressure on her household. She agined the situation of injustice by force her housband in divorce. The female character of MCSI is described as a hardworker, temperament, but she loves her housband.
In her effort to maintain her social right, she depends her right to express her premise, her right for selfexpresing, and decicion making.
Keywords: Novel, Social Phenomenon, Catatan Hati Seorang Istri, dan Muhasabah Cinta Seorang Istri.
viii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhana wa ta’ala, Sang Maha Pencipta lagi Maha Penyayang, pemilik segala ilmu pengetahuan yang telah menganugerahkan kemampuan berpikir dan bernalar kepada manusia untuk dapat membedakan baik dan buruk dalam menjalani kehidupan. Salam dan Shalawat bagi Baginda Rasulullah Muhammad saw., utusan pembawa pesan terakhir penyempurna pesan-pesan surgawi dari kitab-kitab sebelumnya dalam sempurnanya kitab suci Al-Quran, karya sastra tiada tandingan, yang menuntun manusia dunia akhirat.
Tesis dengan judul “Fenomena Sosial dalam Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Novel Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia (Perspektif Feminisme)” ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar S-2 pada Program Pasca sarjana Universitas Muhammadiyah Makassar. Tesis ini akhirnya rampung setelah melalui serangkaian penelitian pustaka yang cukup menyita waktu dan tenaga.Meski demikian, karya tulis sederhana ini dapat diselesaikan tepat pada waktu yang diharapkan.
Tentu saja, penulis tidak akan mampu menyelesaikan tesis ini tanpa adanya bantuan, bimbingan, dan dukungan yang tidak ternilai harganya dari berbagai pihak. Untuk itu, rasa syukur yang
ix
tidak terkira penulis panjatkan kepada Sang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui kelemahan hamba-Nya, yang telah mengutus hamba- hamba-Nya yang berhati ikhlas untuk membantu dan mendukung penulis selama proses penyusunan hingga terselesaikannya tesis ini.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua pembimbing, Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd., pembimbing I dan Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum., pembimbing II, yang telah dengan sabar memberi bimbingan dan arahan sejak penyusunan proposal hingga terselesaikannya tesis ini.
Terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada pihak Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu dan menyelesaikan studi S-2 di “Kampus Biru” yang selalu saya banggakan, kepada yang terhormat Rektor Unismuh Makassar, Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Direktur Program Pascasarjana Unismuh Makassar, Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M.,M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Dr. Abd .Rahman Rahim, M.Hum.
Pihak-pihak yang telah turut memberi sumbangsi, baik dalam bentuk tenaga, pikiran, maupun dukungan moral, penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besar nya. Segenap keluarga besar, terkhusus kepada Ayahanda dan
x
Ibunda tercinta, yang selalu setia mendampingi dan mendoakan penulis dalam mengejar cita-cita, serta sahabat-sahabat terbaik yang tidak sempat penulis sebutkan satu-satu, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberi arahan dan semangat selama penyusunan tesis ini.
Demikian penulis ungkapkan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghormatan yang setinggi-tingginya, kepada semua pihak yang telah berjasa dalam penyusunan tesis ini, serta rasa syukur yang tidak terkira kepada Allah Swt., atas limpahan kesehatan dan kesempatan yang tidak ternilai sehingga tesis ini terselesaikan sebagaimana yang diharapkan. Semoga hasil penelitian ini memberi manfaat yang berarti bagi bangsa Indonesia pada umumnya, dan dunia pendidikan di Indonesia pada khususnya.
Makassar, 14 Oktober 2015
Hj. Roslinda
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESHAN PEMBIMBING ...ii
HALAMAN PERBAIKAN HASIL ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TESIS ...iv
MOTO ... v
ABSTRAK ...vi
ABSTRCT ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ...xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 7
C.Tujuan Penelitian ... 7
D.Manfaat Penelitian ... 8
1.Manfaat Teoretis ... 8
2.Manfaat Praktis ... 8
a.Bagi Penulis ... 8
b.Bagi Pembaca ... 9
c. Bagi Penulis Lain ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 10
A.Tinjauan Hasil Penelitian ... 10
B.Tinjauan Teori dan Konsep ... 12
1.Novel ... 12
2.Unsur-Unsur Struktural Novel ... 14
a.Tema ... 14
b.Latar (Setting) ... 15
c. Tokoh dan Penokohan ... 16
1) Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan ... 17
2) Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis ... 17
3) Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat ... 17
4) Tokoh Statis dan Tokoh Dinamis ... 17
xii
d.Alur Cerita (Plot) ... 18
e.Amanat ... 20
3.Konstruksi Fenomena Sosial ... 22
4.Hakikat Feminisme dalam Sastra ... 28
a.Pengertian Feminisme ... 28
b.Aliran-aliran dalam Feminisme ... 31
c. Kritik Sastra Feminis ... 37
C.Kerangka Pikir ... 39
BAB III METODE PENELITIAN ... 41
A.Pendekatan Penelitian ... 41
B.Teknik Pengumpulan Data ... 43
1.Teknik Baca ... 43
2.Teknik Catat ... 44
C.Teknik Analisis Data ... 44
D.Pengecekan Keabsahan Temuan ... 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMAHASAN ... 47
A.Hasil Penelitian ... 47
1.Hasil Analisis Novel CHSI Karya Asma Nadia ... 47
a.Unsur Struktural Novel CHSI Karya Asma Nadia ... 47
1) Tema ... 47
2) Latar ... 49
3) Penokohan ... 51
4) Alur ... 60
5) Amanat ... 61
b.Deskripsi Tokoh Perempuan dalam Novel CHSI Karya Asma Nadia ... 63
c. Deskripsi Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Mewujudkan Feminsime dalam Novel CHSI Karya Asma Nadia ... 69
2.Hasil Analisis Novel MCSI Karya Asma Nadia ... 71
a.Unsur Struktural Novel MCSI Karya Asma Nadia ... 71
1) Tema ... 71
2) Latar ... 74
3) Penokohan ... 75
4) Alur ... 78
xiii
5) Amanat ... 78
b.Deskripsi Tokoh Perempuan dalam Novel MCSI Karya Asma Nadia ... 81
c. Deskripsi Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Mewujudkan Feminisme dalam Novel MCSI Karya Asma Nadia ... 84
B.Pembahasan ... 86
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 99
A.Kesimpulan ... 99
B.Saran... 101
DAFTAR PUSTAKA ... 103
LAMPIRAN ... 106
RIWAYAT HIDUP ...110
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Karya sastra adalah pengejawantahan kehidupan, hasil pengamatan sastrawan atas kehidupan sekitarnya, kehidupan yang diwarnai dengan sikap penulisnya, latar belakang pendidikan, keyakinan, dan sebagainya (Suharianto, 1982: 11). Artinya, karya sastra tercipta karena adanya pengalaman batin pengarang, berupa peristiwa atau pengalaman hidup yang kemudian menghadirkan gagasan atau imajinasi yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Dengan kata lain, karya sastra tercipta karena adanya peristiwa atau persoalan dunia yang terekam oleh jiwa pengarang. Melalui karya sastra, seorang sastrawan mengungkapkan berbagai pengalaman manusia agar memetik pelajaran baik daripadanya, lebih mengerti manusia lain, dan menjadi lebih baik hidupnya. Oleh karena itu, sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengarang dan kehidupan manusia, karena sastra itu sendiri tidak lahir dari kekosongan sosial, melainkan hasil racikan perenungan dan pengalaman sastrawan dalam menghadapi problema dan nilai-nilai kehidupan yang merupakan jawaban yang utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan.
Menurut Wellek dan Warren (1995: 3) karya sastra merupakan sebuah cerita dan karena itu, di dalamnya terkandung sebuah tujuan memberikan hiburan kepada pembaca. Aminuddin (2007:37), berpendapat bahwa karya sastra yang baik tidak hanya menampilkan nilai-nilai keindahan yang bersifat aktual dan imajinatif yang menghibur serta memberi kepuasan batin bagi pembacanya.
Sementara menurut Soemardjo dan Saini (1986: 14), "dengan membaca karya sastra, pengetahuan yang dimiliki akan lebih hidup dan berdaya guna, rohani akan lebih kaya sehingga pembaca akan lebih mampu menjadi manusia yang berbudaya". Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa karya sastra yang baik adalah karya sastra yang menunjukkan suatu pengalaman sehingga manusia dapat belajar daripadanya. Karya sastra dapat membuka mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.
Karya sastra selalu menampilkan gambaran hidup dari kehidupan itu sendiri, yang merupakan refleski hasil interaksi pengarang dengan kenyataan yang ditemukannya dalam masyarakat (realitas objektif) yang dapat berbentuk peristiwa, norma (tata nilai), ajaran-ajaran agama, dan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat. Karena itu, seorang pencipta sastra tidak hanya mengekspresikan pengalaman jiwanya, tetapi juga bermaksud
mendorong, memengaruhi, dan menyadarkan penikmatnya tentang permasalahan serta ide yang dituangkan dalam karyanya.Interaksi tersebut merupakan ikatan timbal balik antara karya sastra dengan masyarakat. Sehingga, sekalipun sebuah karya sastra hanyalah sebuah cerita rekaan, tetapi mampu memberikan manfaat bagi pembacanya. Meski demikian, tidak berarti bahwa sastra yang baik adalah sastra yang penuh nasihat. Sebagai representasi kehidupan social sebuah karya sastra menyumbangkan tata nilai figur dan tuntutan masyarakat.Tidak heran jika kemudian karya sastra dianggap sebagai salah satu medium yang paling efektif untuk membina karakter dan kepribadian suatu kelompok masyarakat.
Novel sebagai salah satu karya sastra adalah suatu bentuk karya sastra yang menceritakan atau melukiskan kejadian yang melingkupi kehidupan manusia, baik dalam kondisi sedih, gembira, cinta, benci, bahagia, sengsara, dan derita. Menurut Jassin (1991:
64-65), novel adalah suatu karya prosa yang bersifat cerita, yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita), dari kejadian ini muncul konflik suatu pertikaian yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Disebut luar biasa karena kejadian ini lahir suatu konflik, sesuatu pertikaian yang menimbulkan pergolakan jiwa tokoh-tokohnya, sehingga mengubah jalan hidup tokoh-tokoh tersebut.
Novel bukan sekadar serangkaian tulisan yang menarik ketika dibaca, melainkan merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur yang padu. Seorang pengarang mampu mengarang sebuah novel dengan baik dan biasanya tema yang diangkat berasal dari kehidupan yang pernah dialaminya sendiri, pengalaman orang lain yang pengarang lihat dan dengar, ataupun hasil imajinasi pengarang. Wujud dari novel adalah konsentrasi, pemusatan atau memfokuskan kehidupan dalam suatu krisis yang menentukan.
Novel merupakan salah satu bentuk karya fiksi yang menyampaikan permasalahan kehidupan yang kompleks dalam kehidupan sehari- hari. Sebagai salah satu bentuk karya sastra yang merupakan potret kehidupan sosial, novel, dapat dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Asma Nadia merupakan salah seorang penulis perempuan yang turut meramaikan dunia kesastraan Indonesia.Tema-tema yang diangkatnya umumnya berkaitan dengan feminisme, khususnya di Indonesia yang memang menganut budaya partriarki.
Karya-karyanya banyak memperoleh penghargaan, salah satunya sebagai peraih penghargaan pengarang terbaik Nasional Adi Karya IKAPI Award 2000, 2001, dan 2005. Karya-karya Asma Nadia disambut positif oleh masyarakat dari berbagai kalangan, dan segera menjadi bahan pembicaraan yang hangat di mana-mana.
Salah satu karyanya, Catatan Hati Seorang Istri, diangkat dan diadaptasi dalam sebuah sinetron dengan judul yang sama.
Bersama sinetron tersebut, Asma Nadia semakin dikenal sebagai salah seorang penulis perempuan yang mampu mengangkat fenomena sosial dalam lingkungan keluarga yang seringkali luput dari perhatian. Tema-tema kehidupan keluarga dari sudut pandang perempuan tentu saja merupakan sesuatu yang layak dikaji.
Di tengah maraknya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, karya-karya Asma Nadia merupakan bentuk protes atas ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Asma Nadia melalui karya-karyanya, menyuguhkan sebuah fenomena sosial yang paling dekat dengan manusia, yakni hubungan pernikahan. Di antara sekian karya-karya Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri, merupakan dua novel cukup menarik perhatian. Kedua buku ini memikat bukan hanya dari segi gaya bahasa yang mengalir, padat, dan indah, melainkan juga kisah-kisah yang diceritakan dalam novel ini.Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri menceritakan tentang perjuangan perempuan, seorang istri, sekaligus ibu dalam menghadapi berbagai prahara rumah tangga, sekaligus untuk menghadapi realitas sosial budaya di sekelilingnya.
Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri menggambarkan kedalaman hati kaum perempuan dalam menjalani kehidupan dalam lingkungan sosial khususnya dalam lingkungan keluarga. Bukan hanya kisah seorang istri dengan kesedihan yang mengaru biru, melainkan juga tentang bagaimana seorang wanita menghadapi semua problema rumah tangga dengan segenap hati dan kedalaman perasaan. Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri ditulis berdasarkan kisah nyata yang disampaikan oleh para istri kepada penulis.
Fokus utama kedua novel ini adalah cara seorang istri menyikapi prahara rumah tangga. Karya Asma Nadia ini memberikan ruang yang besar untuk melihat dominasi maskulin yang begitu kuat dalam kehidupan sosial manusia, terutama dalam upaya pembentukan keluarga.Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia ini merupakan sebuah karya sastra yang tidak cukup dinikmati saja, tetapi perlu mendapat tanggapan ilmiah.
Berdasarkan uraian di atas maka muncul inisiatif untuk menyikapi, menanggapi, dan menganalisis fenomana sosial dalam novel Catatan Hati Seorang Istridan Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia berdasarkan perspektif feminisme.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut;
1. Bagaimanakah deskripsi unsur struktural novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Cinta Seorang Istri catatan 2 karya Asma Nadia?
2. Bagaimanakah deskripsi tokoh perempuan dalam novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Cinta Seorang Istri catatan 2 karya Asma Nadia?
3. Bagaimanakah deskripsi perjuangan tokoh perempuan dalam mewujudkan feminisme dalam novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Cinta Seorang Istri catatan 2 karya Asma Nadia?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini bertujuan;
1. Untuk mendeskripsikan unsur struktural novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Cinta Seorang Istri catatan 2 karya Asma Nadia.
2. Untuk mendeskripsikan tokoh perempuan dalam novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Cinta Seorang Istri catatan 2 karya Asma Nadia.
3. Untuk mendeskripsikan perjuangan tokoh perempuan dalam novel Catatan Hati Seorang Istri catatan 8 dan Muhasabah Seorang Istri catatan 2 Karya Asma Nadia.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini yaitu:
1. Manfaat Teoretis
a. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang penerapan teori- teori feminisme dan kritik sastra feminisme dalam sastra Indonesia.
b. Memperoleh gambaran struktur masyarakat Indonesia dalam dinamika eksistensi perempuan di Indonesia.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan memberi sumbangsih berupa pengetahuan tentang bentuk-bentuk perlawananan feminisme terhadap ketidakadilan gender dalam karya sastra Indonesia.
b. Bagi Pembaca
Menambah wawasan tentang kritik sastra feminisme dalam novel Indonesia, khususnya novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia.
c. Bagi Penulis Lain
Menambah pengetahuan tentangcara menganalisis novel yang berdasarkan perspektif feminisme.
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Hasil Penelitian
Kajian feomena sosial karya sastra dengan pendekatan feminisme telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya.Salah satunya adalah Mandrastuty (2010) dengan judul, “Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini: Kajian Feminisme”. Berdasarkan hasil penelitiannya, Mandrastuty (2010) menyimpulkan bahwa perempuan seringkali dihadapkan pada persoalan yang cukup rumit. Hal ini diakibatkan oleh adanya anggapan bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan memiliki tingkatan yang tidak sejajar, sehingga mengakibatkan perempuan seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Ketidakadilan ini diakibatkan dari sosialisasi masyarakat dan keluarga tentang kedudukan perempuan dalam masyarakat. Di sisi lain kaum perempuan sendiri seringkali menerima keadaan tersebut dan menganggapnya sebagai sebuah kodrat.
Penelitian serupa dilakukan oleh Kurnia, dkk. (2010) dengan judul, “Kajian Feminisme dalam Novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden Karya Vanny Chrisma W.”. Berdasarkan hasil penelitiannya, Kurnia, dkk., menyimpulkan (1) terdapat ketidakadilan gender yang dialami tokoh utama dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden
Karya Vanny Chrisma W., berupa pelabelan negatif, kekerasan yang meliputi kekerasan domestik, dan kekerasan publik. (2) Bentuk perjuangan tokoh utama untuk melawan penindasan dalam novel Secuil Hati Wanita di Teluk Eden Karya Vanny Chrisma W., berupa pemberian pemahaman dan mengutarakan pendapat.
Ambarwati (2009), dalam penelitian yang berjudul, “Perspektif Feminis dalam Novel Perempuan di Titik Nol Terjemah Novel Imra’atun’inda Nuqtah Al-Shifr Karya Nawal El-Sa’dawi dan Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El-Khalieqy”, juga mengungkapkan perjuangan perempuan dalam novel PdTN dan PBS yang menunjukkan eksistensi mereka sebagai manusia yang mandiri, terlepas dari segala bentuk penindasan atas nama gender, serta mampu menunjukkan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Eksistensi tersebut terwujud dalam bentuk kebebasan memilih dan memutuskan sendiri apa yang menurut mereka baik, tanpa harus bersumber atau ditentukan oleh laki-laki maupun orang lain di luar dirinya sebagai perempuan.
Ketiga penelitian sebelumnya yang diuraikan di atas, memiliki persamaan, yakni mengkaji fenomena sosial dalam karya sastra dari perspektif feminisme demi menguak ketidakadilan yang dialami kaum perempuan serta bentuk-bentuk perjuangan kaum perempuan tersebut dalam mempertahankan eksistensi mereka.
Dalam penelitian ini, peneliti mengkaji fenomena sosial dalam novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri berdasarkan perspektif yang sama, yakni perspektif feminisme.
Secara khusus fenomena sosial dalam novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri dianalisis berdasarkan perspektif feminisme liberal. Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri, merupakan buah karya Asma Nadia. Buku ini ditulis berdasarkan kisah-kisah yang disampaikan para istri kepada penulis. Fokus utamanya adalah bagaimana seorang istri menyikapi prahara rumah tangga.
B. Tinjauan Teori dan Konsep 1. Novel
Novel berasal dari bahasa Italia, Novella. Secara harfiah Novella berarti ‘sebuah barang baru yang kecil’, yang kemudian diartikan sebagai ‘cerita pendek dalam bentuk prosa. Dewasa ini istilah Novella mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia Novelet (Inggris: Novelette), yang berarti sebuah karya prosa fiksi yang panjang cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2005: 9). Menurut Jassin (1991:
64-65), novel adalah suatu karya prosa yang bersifat cerita, yang menceritakan suatu kejadian luar biasa dari kehidupan orang-orang
(tokoh cerita), dari kejadian ini muncul konflik suatu pertikaian yang mengalihkan jurusan nasib mereka. Menurut Sugiono,dkk. (2008:
969) novel adalah karangan prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seorang tokoh dan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Sebagai bentuk karya sastra fiksi, novel mengandung unsur tokoh, alur, latar, rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan mengandung nilai dasar konvensi penulisannya (Lubis, 1981).
Novel tidak sekadar merupakan serangkaian tulisan yang menarik ketika dibaca, tetapi merupakan struktur pikiran yang tersusun dari unsur-unsur yang padu. Novel lebih ditekankan pada peristiwa yang terjadi pada diri sendiri, pengembangan tokoh cerita, keberpihakan atau ketidakberpihakan pada beberapa kejadian dan banyak lagi penekanan lainnya. Dengan kata lain, wujud dari novel adalah konsentrasi, pemusatan atau memfokuskan kehidupan dalam suatu krisis yang menentukan. Oleh karena itu, novel menceritakan kejadian yang luar biasa dari kehidupan seseorang, maka terjadilah digresi yaitu peristiwa-peristiwa lain yang tidak langsung berhubungan dengan peristiwa pokok. Novel hanya menceritakan salah satu segi kehidupan tokoh yang benar-benar istimewa sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan nasib.
2. Unsur-Unsur Struktural Novel
Unsur struktural adalah unsur fundamental yang secara langsung membangun cerita dari dalam novel itu sendiri. Unsur inilah yang menyebabkan sebuah karya sastra hadir secara faktual ketika seseorang membaca sebuah karya sastra (Nurgiyantoro, 2005:23). Adapun unsur struktural yang dimaksud adalah tema, penokohan dan perwatakan, latar (setting), alur cerita (plot), dan amanat yang akan dijelaskan dalam uraian berikut:
a. Tema
Zulfahnur,dkk. (1996: 25) mengemukakan bahwa istilah tema berasal dari bahasa Inggris thema yang berarti ide.Sejalan dengan pengertian tema yang diutarakan oleh Zulfahnur, Semi (1993: 42), berpendapat bahwa tema adalah gagasan sentral yang menjadi dasar dan tujuan atau amanat pengarang kepada pembaca.Tema merupakan pokok suatu pembicaraan atau ide pokok suatu tulisan.Tema adalah ide sentral yang mendasari suatu cerita dan memiliki tiga fungsi, yaitu sebagai pedoman pengarang dalam membuat cerita, sasaran tujuan penggarapan cerita, dan mengikat peristiwa-peristiwa cerita dalam suatu alur.
Berdasarkan uraian dan pendapat yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa tema merupakan makna keseluruhan yang
mendukung cerita, yang tersirat dalam cerita itu sendiri.Tema adalah hasil pemikiran pengarang berdasarkan hati, perasaan, dan jiwanya.Tema suatu cerita dapat dinyatakan secara implisit maupun eksplisit.Tema sering disebut sebagai dasar cerita, karena pengembangan cerita harus sesuai dengan dasar cerita, sehingga dapat dipahami oleh pembaca. Meskipun tema hanya salah satu dari sejumlah unsur pembangun cerita lain, tetapi tetap menjadi unsur terpenting dalam membentuk suatu karya fiksi.
b. Latar (Setting)
Suroto (1989:94)mengartikan latar atau setting sebagai penggambaran situasi tempat dan waktu serta suasana terjadinya peristiwa. Pendapat lainnya, diungkapkan oleh Soemardjo dan Saini (1986:76) yang mengatakan bahwa latar bukan hanya menunjuk tempat, atau waktu tertentu, melainkan juga hal-hal yang hakiki dari satu wilayah, sampai pada macam debunya, pemikiran rakyatnya, kegiatan mereka dan lain-lain. Latar memliki peranan yang sangat penting dalam sebuah karya fiksi. Karena sekalipun hanya cerita rekaan belaka, cerita fiksi tetap menyajikan sebuah dunia yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh yang dikisahkan hidup sebagaimana manusia pada kehidupan nyata. Kehadiran tokoh ini mutlak memerlukan ruang, tempat, dan waktu.
Unsur latar dalam karya fiksi dibedakan atas tiga unsur pokok, yaitu tempat, waktu, dan sosial/suasana. Ketiga unsur ini saling berkaitan dan saling memengaruhi. Latar tempat merupakan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, sedangkan latar waktu berhubungan dengan kapan terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi, dan latar sosial/suasana berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat pada suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi.
c. Tokoh dan Penokohan
Terdapat hubungan erat antara penokohan dan perwatakan.
Penokohan berhubungan dengan cara pengarang menentukan dan memilih tokoh-tokohnya serta memberi nama tokoh tersebut.
Perwatakan berkaitan dengan karakteristik watak tokoh-tokoh dalam suatu cerita sementara penokohan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokohnya, jenis-jenis tokoh, hubungan tokoh dengan cerita yang lain, watak tokoh, dan cara pengarang menggambarkan watak tokoh tersebut.
Nurgiyantoro (2005: 176-194) membedakan tokoh dalam beberapa jenis penamaan berdasarkan dari sudut mana penamaan itu dilakukan. Pembagian jenis tokoh tersebut diuraikan sebagai berikut:
1) Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan
Tokoh utama adalah tokoh yang menjadi pusat penceritaan.
Sedangkan tokoh tambahan adalah tokoh yang tidak begitu dipentingkan dalam cerita, dalam keseluruhan cerita pemunculan lebih sedikit. Perbedaan tersebut dapat dilihat berdasarkan segi peran. Tokoh utama memiliki peran yang lebih kompleks sementara tokoh tambahan peranannya lebih sederhana, dan tidak begitu banyak memengaruhi alur cerita.
2) Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis
Tokoh protagonis adalah tokoh yang dikagumi dalam suatu cerita. Tokoh protagonis, adalah tokoh yang digambarkan memiliki karakter baik. Sementara tokoh penyebab terjadinya konflik disebut antagonis. Perbedaan ini berdasarkan fungsi penampilan tokoh.
3) Tokoh Sederhana dan Tokoh Bulat
Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas sisi kepribadian yang diungkapkan pengarang, sedangkan tokoh bulat memiliki berbagai sisi kehidupan dan jati dirinya.
4) Tokoh Statis dan Tokoh Dinamis
Tokoh statis adalah tokoh yang tidak mengalami pengembangan perwatakan sebagai akibat terjadinya konflik.
Sedangkan tokoh dinamis mengalami pengembangan perwatakan.
d. Alur Cerita (Plot)
Menurut Semi (1993:43), alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Djunaedie (1995:8), mengemukakan hal serupa bahwa alur adalah rangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh. Alur mengatur jalinan peristiwa yang dialami oleh tokoh dalam hubungan kausalitas, di mana satu peristiwa menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Hubungan unsur cerita yang satu dengan peristiwa yang lain bersifat logis, juga mengandung hubungan kualitas, yaitu peristiwa yang satu menjadi penyebab timbulnya peristiwa yang lain.
Alur cerita ditentukan dengan menguji sebab akibat peristiwa pokok.
Sebab alur cerita adalah sambung-sinambung.
Alur (plot) merupakan unsur fiksi yang penting, karena kejelasan alur memperjelas kaitan antarperistiwa yang dikisahkan secara linier sehingga mempermudah pemahaman pembaca tentang cerita yang ditampilkan. Secara garis besar tahapan plot dapat dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap tengah, tahap akhir. Tahap awal disebut juga tahap perkenalan. Tahap tengah, dimulai dengan pertikaian yang dialami tokoh, dalam tahap
ini ada dua unsur penting yaitu konflik dan klimaks.Tahap akhir, disebut juga sebagai tahap penyelesaian (Nurgiyantoro, 2005: 42).
Semi (1993:4) menyebutkan bahwa alur cerita rekaan berdasarkan urutan kelompok kejadian terdiri dari:
a. Alur buka yaitu situasi awal dimulainya cerita yang kemudian dilanjutkan dengan cerita berikutnya.
b. Alur tengah yaitu cerita mulai bergerak dengan adanya permasalahan antartokoh dan kondisi mulai memuncak.
c. Alur puncak, yaitu kondisi mencapai titik puncak sebagai klimaks peristiwa.
d. Alur tutup yaitu permasalahan yang terjadi sudah bisa diselesaikan.
Berdasarkan cara penyusunan bagian-bagian tersebut, alur cerita dapat dibedakan menjadi alur lurus atau alur sorot balik. Suatu cerita disebut beralur lurus apabila cerita tersebut disusun mulai kejadian awal diteruskan dengan kejadian-kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan permasalahan. Apabila suatu cerita disusun secara sebaliknya, yakni dari bagian akhir dan bergerak ke muka menuju titik awal cerita, alur cerita demikian disebut alur sorot balik (Semi (1993:7). Selain itu, terdapat pula cerita yang menggunakan kedua alur tersebut secara bergantian. Maksudnya sebagian ceritanya menggunakan alur lurus dan sebagian
menggunakan alur sorot balik. Akan tetapi, keduanya dijalin dalam kesatuan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan adanya dua buah cerita atau peristiwa yang terpisah, baik waktu maupun tempat kejadiannya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa alur adalah suatu bagian dari karya sastra yang berisi kronologis peristiwa, usaha-usaha pemecahan konflik yang terjadi antarunsur karya sastra yang dihadirkan oleh pelaku, dalam suatu cerita sehingga menjadi bermakna. Alur merupakan kerangka dasar yang mengatur peristiwa demi persitiwa saling bertalian satu sama lain, satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain, tokoh digambarkan dan berperan dalam setiap peristiwa yang terikat dalam kesatuan waktu. Alur dapat dikatakan sebagai aliran cerita yang menghubungkan setiap aspek dalam suatu cerita menjadi satu kesatuan yang utuh dari awal hingga akhir.
e. Amanat
Amanat suatu cerita berkaitan erat dengan tema yang diangkat oleh penulis. Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang lewat karyanya kepada para penikmat sastra. Pada sastra lama, umumnya amanat disampaikan secara tersurat, tetapi dalam karya sastra modern, amanat yang disampaikan cenderung
dikemukakan secara tersirat. Amanat dalam karya sastra biasanya mencerminkan pandangan hidup pengarang yang bersangkutan, yakni pandangan tentang nilai-nilai kebenaran, dan hal itulah yang ingin disampaikan kepada pembaca.
Esten (1990: 92) mengemukakan bahwa amanat merupakan hasil akhir dari pemecahan berbagai persoalan yang terkandung dalam tema sentral. Amanat ada kalanya diungkapkan secara implisit sehingga menimbulkan penafsiran yang berbeda sesuai dengan kadar kemampuan yang dimiliki setiap orang dalam menghayati setiap persoalan. Penikmat sastra dituntut untuk menggali lebih dalam untuk menemukan amanit yang dititipkan oleh pengarang. Sedangkan amanat yang diungkapkan secara eksplisit memungkinkan setiap orang berada dalam kadar keputusan yang sejalan atau satu dengan yang lainnya.
Amanat dimaksudkan sebagai suatu saran yang berkaitan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis dan dapat diambil serta ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan oleh pembaca.
Penafsiran setiap pembaca berbeda-beda tentang apa dan bagaimana amanat dari sebuah karya sastra. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan kepada pembaca dan biasanya bersifat tersirat, sehingga penafsiran pembaca berbeda-beda mengenai amanat.
3. Konstruksi Fenomena Sosial
Dalam penjelasan ontologi, paradigma konstruktivisme, realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu.
Namun, kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh perilaku sosial (Hidayat dalam Bungin, 2007: 187). Realitas menurut pandangan paradigma definisi sosial adalah hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial sekeliling.
Realitas dunia sosial itu berdiri sendiri di luar individu, yang menurut kesan bahwa realitas itu “ada” dalam diri sendiri dan hukum yang menguasainya. Realitas sosial itu “ada” dilihat dari subjektivitas
“ada” itu sendiri dan dunia objektif di sekeliling realitas sosial itu.
Individu itu tidak hanya dilihat dari mana “kedirian” itu berada, bagaimana ia menerima dan mengaktualisasikan dirinya serta bagaimana lingkungan menerimanya. Realitas sosial sebagai perilaku sosial yang memiliki makna subjektif, karena itu perilaku memiliki tujuan dan motivasi. Perilaku sosial ini menjadi “sosial”, apabila yang dimaksudkan subjektif dari perilaku sosial membuat individu mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan kepada subjektif itu. Perilaku itu memiliki kepastian kalau menunjukkan keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam masyarakat (Veeger dalam Bungin, 2007:188).
Pada kenyataannya, realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran individu, baik di dalam maupun di luar realitas tersebut.
Realitas sosial itu memiliki makna, mana kala realitas sosial dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Individu mengonstruksi realitas sosial, dan mengonstruksinnya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan subjektivitas individu lain dalam institusi sosialnya.
Istilah konstruksi sosial terhadap realitas (social construction of reality), menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Berger dan Luckman (1990) melalui bukunya yang berjudul “The Social Construction of Reality, a Treatise in the Sociological of Knowledge”.
Asal mula konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme, yang dimulai dari gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme, (1) konstruktivisme radikal, hanya dapat mengakui apa yang dibentuk oleh pikiran manusia, (2) konstruktivisme realism hipotesis, pengetahuan adalah sebuah hipotesis dari struktur realitas dan menuju kepada pengetahuan yang hakiki, (3) konstruktivisme biasa, memahami pengetahuan sebagai gambaran realitas itu kemudian pengetahuan individu dipandang sebagai suatu gambaran yang dibentuk realitas objek dalam dirinya sendiri (Suparno dalam Bungin, 2007:190).
Ketiga paham konstruktivisme tersebut memiliki persamaan, yaitu sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada, karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang di sekitarnya. Setiap individu membangun pengetahuan atas realitas yang dilihatnya itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Konstruktivisme ini yang oleh Berger dan Luckman (1990:1), disebut dengan konstruksi sosial. Berger dan Luckman (1990:1), mengartikan realitas sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung pada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik (Berger dan Luckman, 1990:1). Realitas sosial tersebut adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di masyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana publik, sebagai hasil dari konstruksi sosial.
Realitas sosial yang dimaksudkan terdiri atas realitas objektif, realitas simbolis dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia objektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari realitas objektif dalam berbagai bentuk. Sedangkan realitas subjektif
adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas objektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses internalisasi (Subiakto dalam Bungin, 2007:192).
Parera (dalam Berger dan Luckman, 1990:xx) menjelaskan tugas pokok sosiologi pengetahuan yaitu menjelaskan dialektika antara diri (self) dengan dunia sosiokultur. Dialektika ini berlangsung dalam proses dengan tiga momen simultan, (1) eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosialkultur sebagai produk manusia; (2) objektivasi, yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilambangkan atau mengalami proses institusionalisasi; sedangkan (3) internalisasi, yaitu proses individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya. Parera (dalam Berger dan Luckman, 1990: xx) menambahkan, tiga momen dialektika itu memunculkan suatu proses konstruksi sosial yang dilihat dari segi asal mulanya merupakan hasil ciptaan manusia, yaitu buatan intersubjektif.
Melalui proses dialektika ini, realitas sosial dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internaliasi.
Eksternalisasi adalah bagian penting dalam kehidupan individu dan menjadi bagian dari dunia sosialkulturalnya. Dengan kata lain, ekstranalisasi terjadi pada tahap yang sangat mendasar, dalam satu
pola perilaku interaksi antara individu dengan produk-produk sosial masyarakatnya. Maksud dari proses ini adalah ketika sebuah produk sosial telah menjadi sebuah bagian penting dalam masyarakat yang setiap saat dibutuhkan oleh individu, maka produk sosial itu menjadi bagian penting dalam kehidupan seseorang untuk melihat dunia luar. Dengan demikian, tahap ekteranalisasi ini berlangsung ketika produk sosial tercipta di dalam masyarakat, kemudian individu mengeksternalisasikan (penyesuaian diri) ke dalam dunia sosiokulturalnya sebagai bagian dari produk manusia (Bungin, 2007:
193-194).
Tahap objektivasi produk sosial, terjadi dalam dunia intersubjektif masyarakat yang dilembagakan. Pada tahap ini sebuah produk sosial berada dalam proses institusionalisasi, sedangkan individu oleh Berger dan Luckman (1990), dikatakan memanifestasikan diri dalam produk-produk kegiatan manusia yang tersedia, baik bagi produsen, maupun bagi orang lain sebagai unsur dari dunia bersama. Objektivasi ini bertahan lama sampai melampaui batas tatap muka di mana mereka dapat dipahami secara langsung. Dengan demikian, individu melakukan objektivitas terhadap produk sosial, baik penciptanya maupun individu lain.
Kondisi ini berlangsung tanpa harus mereka saling bertemu, artinya objektivitasi itu bisa terjadi melalui penyebaran opini sebuah produk
sosial yang berkembang di masyarakat melalui proses diskursus opini masyarakat tentang produk sosial, dan tanpa harus terjadi tatap muka antarindividu dan pencipta produksi sosial itu.
Hal terpenting dalam objektivasi adalah pembuatan signifikasi, yakni pembuatan tanda-tanda oleh manusia. Sebuah wilayah penandaan (signifikasi) menjembatani wilayah kenyataan, yang dapat didefinisikan sebagai sebuah simbol dan modus linguistik, juga dengan apa trensendensi seperti itu dicapai, dapat juga dinamakan sebagai simbol. Bahasa merupakan alat simbolis untuk melakukan signifikasi dengan menambahkan logika secara mendasar kepada dunia sosial yang objektivasi. Bahasa digunakan untuk mensignifikasikan makna yang dipahami sebagai pengetahuan yang relevan dengan masyarakatnya, sebagaimana dikatakan oleh Berger dan Luckman (1990:100), pengetahuan itu dianggap relevan bagi semua orang dan sebagian lagi hanya relevan bagi tipe orang tertentu saja.
Dengan demikian, yang terpenting dalam objektivasi ini adalah signifikasi, yang memberikan tanda bahasa dan simbolisasi benda yang disignifikasikan. Melakukan tipifikasi terhadap kegiatan seseorang yang kemudian menjadi objektivasi linguistik, yaitu pemberian tanda verbal maupun simbolisasi yang kompleks (Bungin, 2007:196). Berger dan Luckman (1990), mengatakan, dalam
kehidupan setiap individu ada suatu urutan waktu, dan selama itu pula ia diimbaskan sebagai partisipan ke dalam dialektika masyarakat. Individu tidak dilahirkan sebagai anggota masyarakat, tetapi hanya dilahirkan dengan suatu predisposisi ke arah sosialisasi, dan ia menjadi anggota masyarakat. Dengan demikian, internalisasi dalam arti umum merupakan dasar bagi pemahaman mengenai “sesama saya”, yaitu pemahaman individu dan orang lain serta pemahaman mengenai dunia sebagai sesuatu yang maknawi dari kenyataan sosial.
4. Hakikat Feminisme dalam Sastra
a. Pengertian Feminisme
Perempuan dengan segala dinamikanya seakan menjadi sumber inspirasi yang tak akan pernah habis. Merebaknya bentuk kajian yang membahas tentang isu-isu perempuan merupakan suatu kelaziman dibanding mencuatnya permasalahan yang membahas tentang isu laki-laki. Kecenderungan tersebut muncul karena kehidupan perempuan senantiasa dianggap unik sehingga selalu menjadi stressing dalam berbagai aspek kehidupan. Bagi perempuan sendiri, keunikan tersebut tidak selalu berarti sesuatu yang menyenangkan karena dalam banyak hal mereka merasakan ketidakadilan (Mubin, 2008:7).
Gerakan feminisme berakar pada posisi perempuan dalam dunia (filsafat, politik, ekonomi, budaya, sosial) patriarki dan berorientasi pada perubahan pola hubungan kekuasaan (Arimbi dan Valentina, 2004:7). Perempuan relatif memiliki banyak kesulitan dalam menemukan eksistensinya dan dalam menentukan sikap menyambut kerumitan masalah-masalah yang muncul dalam kehidupannya. Perempuan yang ingin menemukan eksistensinya seringkali dipandang sebagai bentuk ’perlawanan’ oleh sebagian orang yang masih dilingkupi pemikiran patriarkis. Padahal, perempuan hanya ingin menemukan jati dirinya, membentuk, dan mengembangkan kesadaran bahwa ada potensi nonfisik yang harus dikembangkan dalam eksistensi dirinya sebagai manusia. Seiring berkembangnya zaman, pola pemikiran pun berkembang. Begitu pula dengan perempuan yang mulai berani mendobrak belenggu yang selama ini menjerat.
Berbagai persoalan perempuan yang berhubungan dengan masalah kesetaraan gender ini selanjutnya mengundang simpati yang cukup besar dari masyarakat luas karena dianggap erat kaitannya dengan persoalan keadilan sosial dalam arti lebih luas (Nugroho, 2008:28). Berbagai ketimpangan gender yang dialami kaum perempuan kemudian dipersoalkan dan digempur oleh sebuah gerakan yang disebut gerakan feminisme. Gerakan feminsime
berupaya melakukan pembongkaran terhadap ideologi penindasan atas nama gender, pencarian akar ketertindasan perempuan, hingga upaya penciptaan pembebasan perempuan (Nugroho, 2008:30).
Secara umum dapat dikatakan bahwa feminisme merupakan sebuah ideologi pembebasan perempuan, karena yang melekat dalam semua pendekatannya adalah keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya (Humm, 2002:158). Sedangkan feminisme menurut Bhasin dan Khan (1995:5) adalah sebuah kesadaran tentang ketidakadilan yang sistematis bagi perempuan dalam berbagai sektor kehidupan, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut. Oleh karena itu, feminisme merupakan sebuah gerakan yang didasari oleh kesadaran akan adanya ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan, baik dalam keluarga maupuan masyarakat. Gerakan feminisme berusaha menjembatani tuntutan persamaan hak antara perempuan dengan laki-laki.
Menurut Bhasin dan Khan (1995:5) feminisme mengandung 3 konsep penting, yaitu:
a. Feminisme adalah sebuah keyakinan bahwa tidak ada perbedaan seks. Artinya, feminisme menentang adanya posisi hierarkis yang menyebabkan posisi superior dan inferior di antara jenis kelamin, di mana perempuan selalu ditempatkan pada posisi nomor dua.
b. Feminisme adalah sebuah pengakuan bahwa dalam masyarakat telah terjadi konstruksi sosial budaya yang merugikan perempuan c. Feminisme menggugat perbedaan yang mencampuradukan seks dan gender sehingga perempuan dijadikan sebagai kelompok tersendiri dalam masyarakat.
Singkatnya, feminisme adalah gerakan yang bertujuan menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki, memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, dan mempertahankan hakikat perempuan sebagai manusia merdeka seutuhnya (women demanding their full rights as human beings).
b. Aliran-aliran dalam Feminisme
Komitmen dasar kaum feminis adalah terwujudnya kesetaraan dan menolak ketidakadilan terhadap perempuan. Meski demikian, gender adalah fenomena sosial yang memiliki kategori analisis yang berbeda-beda, sehingga dengan sendirinya muncul perbedaan pandangan antarfeminis terhadap persoalan gender itu sendiri.
Perbedaan pandangan tersebut melahirkan aliran-aliran feminisme.
Menurut Lubis (2006: 83), meskipun pada perkembangannya, muncul berbagai aliran feminisme, tetapi secara keseluruhan aliran yang berbeda tersebut memiliki satu persamaan yang mendasar, yaitu keyakinan bahwa perempuan adalah bagian dari masyarakat
yang tidak beruntung, yang dirugikan secara sosial dan budaya.
Sementara perbedaannya terletak pada perbedaan pendapat terkait asal usul ketidakadilan yang dialami kaum perempuan dalam masyarakat. Perbedaan pendapat ini kemudian menimbulkan perbedaan pada penekanan dan alternatif solusi perlawanan (Arimbi dan Valentina, 2004:30-50).
Kadarusman (2005: 27) membedakan aliran feminisme atas feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis, dan feminisme sosialis. Sementara Tong dalam Lubis (2006) mengemukakan adanya delapan aliran feminisme, yaitu feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme marxis dan sosialis, feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialis, feminisme posmodern, feminisme multikultural dan global, dan ekofeminisme.
Feminisme Liberal, berkeyakinan bahwa akar penindasan perempuan terletak pada adanya perbedaan hak untuk memajukan diriserta peluang pembudayaan yang sama. Perempuan mendapat diskriminasi hak, kesempatan, kebebasannya karena ia perempuan.
Untuk melawannya feminis liberal mengajukan kesetaraan antara pria dan perempuan. Para feminis liberal menolak otoritas patriarkal yang dijustifikasi dogma agama, menolak perlakuan khusus yang diberikan pada perempuan.Tetapi masih mengakui perbedaan fungsi
reproduksi, bagaimanapun fungsi reproduksi bagi perempuan sangat memengaruhi kehidupan bermasyarakat.
Feminisme liberal dipengaruhi paham individualisme yang menekankan pentingnya kebebasan, khususnya kebebasan dalam memilih. Gerakan feminisme liberal bermaksud agar perempuan mendapatkan kontrol, baik terhadap tubuh dirinya maupun dalam dunia sosialnya. Mereka menolak simbol-simbol gender yang melekat pada masing-masing jenis kelamin dan sosialisasi gender kepada anak-anak yang selama ini dilakukan. Mereka juga melihat kebanyakan stereotype, baik yang menyangkut laki-laki maupun perempuan dibentuk oleh budaya.
Feminisme liberal yang berorientasi pada kesejahteraan menganggap bahwa masyarakat seharusnya tidak hanya mengompensasi perempuan untuk ketidakadilan di masa lalu, tetapi juga menghilangkan hambatan sosial ekonomi dan juga hambatan hukum bagi kemajuan perempuan kini (Wiyatmi, 2012:20). Menurut aliran feminisme liberal, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang rasional dan mempunyai kapasitas yang sama. Masalah yang dihadapi perempuan lebih banyak disebabkan oleh banyaknya kebijakan negara yang bias gender. Aliran ini juga mencari pendekatan kehidupan yang lebih autentik, individual, dan tidak
direkayasa. Berdasarakan pemikiran tersebut, feminism liberal kemudian lebih dikenal sebagai feminisme kesetaraan.
Teori Marxis klasik sangat menyadari bahwa relasi gender merupakan produk kehidupan sosial dan menunjukkan adanya ketimpangan. Sumber penindasan perempuan berasal dari eksploitasi kelas dan cara-cara produksi yang tentunya menguntungkan laki-laki. Proses produksi mengalami perubahan ketika kapitalisme berkembang. Perubahan tersebut bergerak dari sifatnya yang subsistem ke arah pertukaran. Sistem produksi seperti ini dikontrol laki-laki dan pada saat yang sama laki-laki juga mengontrol hak-hak sosial perempuan. Solusi terhadap ketimpangan gender adalah menghapus kapitalisme karena kapitalisme memarginalisasikan hak-hak perempuan terhadap hak milik dan juga hak waris.
Feminisme Marxis dapat dikatakan sebagai kritik terhadap feminism liberal. Karya Frederick Engels, The Origins of The Family, Private Property and The State, yang ditulis pada tahun 1884 merupakan awal mula pemikiran Marxis tentang penyebab penindasan perempuan. Penindasan terhadap perempuan bukan akibat tindakan individual yang disengaja melainkan hasil dari struktur politik, sosial, dan ekonomi yang dibangun dalam sistem
kapitalisme. Argumentasi kaum Marxis didasarkan kepada persoalan ketidakadilan dalam pembagian kerja dan status kepemilikan.
Feminisme radikal menilai perempuan dan laki-laki sebagai spesies yang terpisah. Perbedaan yang semula berdasarkan faktor biologis, kemudian digenderkan oleh masyarakat sehingga pada akhirnya laki-laki menjadi berbeda dan mendominasi. Menurut Jaggar (1983:249), jenis kelamin seseorang adalah faktor yang paling berpengaruh dalam menentukan posisi sosial, pengalaman hidup, kondisi fisik dan psikologis, serta kepentingan dan nilai- nilainya
Perempuan dipandang sebagai kelompok sosial yang berada di posisi penindasan paling bawah. Situasi ini digambarkan sebagai berikut: (1) perempuan dalam sejarah digambarkan sebagai kelompok yang pertama tertindas; (2) penindasan terhadap perempuan tersebar luas ke berbagai kehidupan sosial; (3) penindasan terhadap perempuan adalah paling dalam, dan tidak dapat digeser hanya oleh perubahan sosial antarkelas; (4) penindasan perempuan menyebabkan penderitaan kaum korban, secara kuantitatif dan kualitatif walaupun penindasan itu tidak selalu diakui dan disadari pelaku maupun korban; (5) penindasan terhadap perempuan dapat memberikan konseptual model untuk mengetahui
bentuk penindasan yang lain (Murniati 2004, dalam Haryanto, 2012:121).
Sebagai kritik terhadap feminisme Marxian, maka muncullah feminisme sosialis. Pada saat feminisme Marxian menganggap bahwa sistem patriarki muncul pada waktu masyarakat mencapai tahap perkembangan kapitalisme, feminisme sosialis berpendapat bahwa sistem patriarki tersebut sudah ada sebelum kapitalisme.
Selain itu, feminisme sosialis mempunyai keyakinan bahwa sistem tersebut tidak akan lenyap meski kapitalisme mengalami keruntuhan. Dalam memahami berbagai bentuk penindasan terhadap perempuan, feminisme sosialis menggunakan analisis kelas dan gender. Feminisme sosialis sepaham dengan feminisme liberal yang beranggapan bahwa patriarki juga merupakan sumber lain penindasan perempuan. Oleh karena itu, solusi yang harus ditempuh untuk menghapus penindasan perempuan adalah dengan menghapuskan baik sistem patriarki maupun kapitalisme.
Arimbi dan Valentina (2004: 30-50) berpendapat bahwa feminisme sosial memahami penindasan terhadap perempuan melalui sudut pandang teori epistimologi yang mendalilkan bahwa semua pengetahuan mempresentasikan kepentingan dan nilai-nilai kelompok sosial tertentu. Komitmen dasar feminisme sosialis adalah mengatasi penindasan kelas. Menurut aliran sosialis, konsep “the
personal is political” dalam aliran feminisme radikal dapat memperluas konsep Marxis tentang dasar-dasar material suatu masyarakat, untuk memasukkan reproduksi sama dengan produksi.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Kadarusman (2005) juga menyatakan terdapat 4 aliran dalam feminisme, dan menegaskan bahwa prinsip, nilai dan prespektif feminisme adalah pijakan bagi semuanya. Perbedaannya terdapat pada sumber masalah, penekanan, dan alternatif solusi perlawanan.
c. Kritik Sastra Feminis
Dalam khazanah kritik sastra di Indonesia, kritik sastra feminis adalah tipe kritik sastra yang relatif baru. Pembelajaran kritik sastra feminis masuk dalam kurikulum pendidikan tinggi sastra baru sekitar awal 2000-an, seiring dengan munculnya perhatian para intelektual dan pemegang kebijakan terhadap persoalan kesetaraan gender (Wiyatmi, 2012). Kritik sastra feminis merupakan salah satu tipe kritik sastra yang memiliki keunikan tersendiri karena memberikan perhatian pada persoalan keadilan (kesetaraan) gender, yang berkaitan dengan tokoh-tokoh (fiksi, drama, maupun puisi) yang terdapat dalam karya pengarangnya. Kritik sastra feminis berasal dari hasrat para feminis untuk mengkaji karya penulis wanita di masa silam untuk mewujudkan citra wanita dalam karya penulis pria
yang menampilkan wanita sebagai makhluk dengan berbagai cara ditekan, disalahtafsirkan, serta disepelekan oleh tradisi patriarkat yang dominan.
Suharto dan Sugihastuti (2002:7) mengemukakan bahwa kritik sastra feminis memandang sastra dengan kesadaran khusus, kesadaran bahwa ada jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan kita. Jenis kelamin inilah yang menjadi perbedaan di antara semuanya yang juga membuat perbedaan pada diri pengarang, pembaca, perwatakan, dan pada situasi luar yang memengaruhi situasi karang mengarang.
Ada beberapa kritik sastra feminis, yaitu kritik ideologis, kritik ginokritik, kritik sastra feminis sosial, kritik sastra psikoanalitik, kritik feminis lesbian, dan kritik feminis ras atau etnik. Kritik ideologis melibatkan wanita sebagai pembaca. Kritik ini juga meneliti kesalah pahaman tentang wanita dan sebab-sebab mengapa wanita sering diabaikan. Cara ini memperkaya wawasan pembaca wanita dan membebaskan cara berpikir mereka. Dalam ragam ini termasuk penelitian tentang sejarah karya sastra wanita, gaya penulisan, tema, genre dan struktur penulis wanita. Kemudian kritik sastra feminis sosial meneliti tokoh wanita yaitu kelas masyarakat.
Pengkritik feminis mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas. Selain itu, ada pula
kritik sastra feminis psikoanalitik yang biasanya ditempatkan pada tulisan wanita, karena tokoh wanita biasanya merupakan cerminan penciptanya.
Pada kritik feminis lesbian tujuannya adalah mengembangkan suatu definisi yang tepat tentang makna lesbian. Kemudian pengkritik sastra lesbian akan menentukan apakah definisi ini dapat diterapkan pada diri penulis atau pada teks karyanya. Kemudian yang terakhir adalah kritik feminis ras atau etnik yang berusaha mendapatkan pengakuan bagi penulis etnik dan karyanya, baik dalam kajian wanita maupun dalam sastra tradisional dan sastra feminis.
C. Kerangka Pikir
Dalam penelitian ini, dikaji dua karya Asma Nadia yang mengusung tema pernikahan dan praharanya, dari sudut pandang perempuan. Kedua karya yang dimaksud adalah novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri Peneliti menganalisis unsur strukural (tema, penokohan, latar, alur, dan amanat), figur tokoh perempuan, dan bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia berdasarkan perspektif feminisme liberal.
Adapun kerangka pikir penelitian ini dapat dilihat pada bagan kerangka pikir berikut:
Karya Sastra
Drama Prosa
Puisi
FENOMENA SOSIAL:
(Perspektif Feminisme)
Tokoh Perempuan dalam Novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri
Karya Asma Nadia
Perjuangan Tokoh Perempuan dalam Novel Catatan Hati Seorang
Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia
Analisis
Unsur Struktural Novel Catatan Hati Seorang Istri dan
Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia
Temuan
Tema, Latar/Setting, Penokohan, Alur (Plot), dan
Amanat
41 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Faruk (2012:17) memberi penjelasan bahwa pendekatan penelitian adalah cara untuk memperoleh pengetahuan mengenai objek tertentu dan karenanya harus sesuai dengan kodrat keberadaan objek itu sebagaimana yang dinyatakan oleh teori.
Untuk dapat menghasilkan suatu penelitian yang baik harus sesuai dengan kenyataan adanya objek yang bersangkutan, sesuai dengan apa yang disebut sebagai kodrat keberadaan objek itu (Faruk, 2012:
23).
Penelitian ini bersifat studi pustaka yang disajikan secara deskriptif kualitatif. Desain penelitian kualitatif ini dipilih karena data penelitian berupa kata, kalimat, maupun paragraf yang menggambarkan adanya figur perempuan serta perjuangannya dalam mewujudkan kemerdekaan secara sosial, baik berupa kalimat-kalimat maupun paragraf-paragraf akan dianalisis menggunakan metode deskriptif dengan menggunakan berdasarkan feminisme. Data yang dimaksud adalah kutipan dari isi cerita dalam Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri karya Asma Nadia yang mengandung apek figur serta perjuangan tokoh
perempuan dalam mewujudkan feminisme dalam novel tersebut.
Sumber data penelitian ini adalah novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia, penerbit Lingkar Pena Publising House cetakan pertama.
Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri, merupakan kompilasi dari berbagai kisah hidup dari narasumber yang berbeda sehingga cerita pada setiap babnya tidak berkaitan satu sama lain. Maka dalam penelitian ini, pada masing- masing novel, dipilih salah satu bab yang dianggap paling merefleksikan fenomena sosial yang menonjolkan perjuangan perempuan dalam kehidupan rumah tangga.
Dengan demikian, penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji unsur struktural novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia, serta figur dan bentuk perjuangan tokoh perempuan dalam novel Catatan Hati Seorang Istri dan Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia berdasarkan perspektif feminisme.
Pada novel Catatan Hati Seorang Istri Karya Asma Nadia, kisah yang dikaji adalah catatan 8 yang berjudul, “Sebab Aku Berhak Bahagia”. Sementara pada novel Muhasabah Cinta Seorang Istri Karya Asma Nadia, yang dikaji adalah catatan 2 yang berjudul, “Aku Perlu Suami yang Sabar”.