BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Analisis dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di kelas VIII D SMP Budi Cendekia Islamic School, peneliti berhasil merangkum beberapa hasil analisa dan pengamatan yakni sebagai berikut:
45
1. Penggunaan media pembelajaran elektronik pada mata pelajaran PAI Sebelum pembelajaran dimulai peneliti disini meminta izin masuk kedalam ruang guru untuk melihat persiapan guru sebelum memulai proses belajar mengajar, mulai dari menyiapkan materi, membuat soal evaluasi, menyiapkan media pembeajaran dalam bentuk slide, dan ada juga yang sibuk membuat video pembelajaran. Jadi penggunaan media pembelajaran elektronik ini hampir digunakan oleh seluruh guru baik itu guru mata pelajaran PAI maupun mata pelajaran umum lainnya. Seperti yang dikatakan Pak Asep:
“Saya kira kalau melihat dari teman-teman gitu kan, semua sudah hampir rata-rata semua menggunakan ini, dan itu cocok. Karena saya kira perkembangan zaman sekaran ya itu tadi, ya lebih menarik perhatian anak, lebih mampu mengendalikan keadaan kondisi kelas itu kan yang terpenting gitu kan. Ketika kita mengajar terus anak tidak memperhatikan kita itu PR sebenarnya. Karena kalo misalkan anak tidak memperhatikan kita berarti ada yang salah nih dalam proses pengajaran kita. Makanya, kita buat semenarik mungkin, salah satu menarik minat anak dalam proses pengajaran yaitu menggunakan media tersebut.”
Dan memang hampir semua merasa bahwa media sangat perlu untuk mendukung keberhasilan proses belajar mengajar.
“Menurut saya, selama proses pembelajaran di sekolah ini terhitung dari saya mulai masuk tanggal 7 agustus 2017, saya memang dari sekolah yang lama memang sudah lama menggunakan media ini. Ya salah satunya kenapa saya menggunakan media ini karena ini sangat membantu. Tentunya sangat membantu kami para guru-guru dalam proses mentransfer ilmu ataupun memberi pemahaman kepada siswa, karena memang kita harus memanfaatkan itu, ya memanfaatkan fasilitas dan kondisi situasi yang memang saat ini dibutuhkan oleh anak-anak zaman sekarang.”
46
Karena disini Pak Asep menuturkan bahwa kini zaman sudah berubah dan menuju ke era modern, yang mana murid zaman sekarang sudah berbeda dengan zaman ia dulu.
“Nah, ketika saya dulu pas lagi proses belajar juga belum pernah mengenal yang namanya media ini, tapi begitu saya sekarang diberi amanah untuk menjadi seorang pengajar mau tidak mau kita menggunakan media ini, karena zaman sekarang anaknya tentunya bereda dengan zamannya kita. Jadi maka saya sangat setuju dengan media ini. kenapa, karena media ini tuh sangat membantu, mempermudah karena proses pengajaran. Ya jadi, saya lebih menyukai media-media yang seperti itu. Namun tidak mengurangi rasa hormat saya kepada orang-orang yang memang masih belum menggunakan media tersebut.”
Pak Asep mengatakan bahwa awalnya ia berprofesi sebagai guru PAI tidak langsung menggunakan media elektronik, bahkan beliau merasa bingung dalam mengajar. Beliau melanjutkan bahwa yang membuatnya kini merubah gaya belajarnya sebab ia sering mengikuti kegiatan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang diikutinya diluar sekolah.
“Awal-awal ngajar tentunya kan kami juga tidak langsung menemukan yang namanya media ini, tapi setelah kita mengikuti kegiatan, terus kemudian melihat situasi di sekolah yang lama, terus kita juga belajar tentang kemampuan kita dalam proses pengajaran, mengikuti kegiatan MGMP dan lain sebagainya, di ajari disana dan melihat teman-teman yang lain juga, akhirnya kita menggunakan.”
“Salah satu program MGMP dan juga ya kita jangan malu untuk bertanya tentunya, karena kalo misalkan kita malu akan kesulitan, ya jadi teman-teman yang ada di lingkungan kami itu di kantor ya itu adalah merupakan guru saya juga karena ya saya juga awalnya tidak tahu apa-apa, akhirnya kita sedikit banyak jadi tahu.”
47
Sekarang Pak Asep mengaku senang bisa mengenal media-media tersebut.
Selain karena terbantu dalam kegiatannya dalam mengajar tapi juga dapat membantu siswa dalam menerima materi yang diajarkan.
“Karena sekali lagi jadi anak itu bisa lebih fokus untuk menerima tujuan pembelajaran ini sangat penting, karena setiap kita mau masuk ke sub materi atau pembelajaran, kita harus sampaikan juga nih dari awal, kira-kira manfaat apa yang bisa kita dapatkan, tujuan apa yang kalian bisa raih kaitan dengan materi yang akan disampaikan pada kesempatan kali itu kan yak. Jadi saya kira sangat bermanfaat.”
Adapun disini Pak Asep juga mengamati antusiasme dari para murid selama pembelajaran berlangsung. Pak Asep menyebutkan jika bukan hanya dia yang merasa terbantu tetapi para murid pun juga jadi jauh lebih fokus dalam menerima pelajaran.
“Respon dari peserta didik dalam proses pembelajaran seperti ini saya kira mereka sangat antusias. Yang saya alami tentunya ya. Berbeda dengan mungkin ketika dulu memang bukan karena anaknya yang seneng-seneng banget terhadap pelajaran tersebut emang susah. Nah ini tuh bisa masuk kedalam berbagai macam kalangan. Yang tadinya tidak suka, ketika kita tampilkan media elektronik tersebut jadi akan ada sedikit menarik bagi mereka dan tentunya mereka akan lebih fokus dalam memperhatikan setiap pembelajaran.”
Setelah itu selesai, penulis ikut dengan Pak Asep untuk melakukan pengamatan langsung dengan cara mengamati dan melihat proses pembelajaran di kelas VIII D SMP Budi Cendekia Islamic School. Yang mana penulis disini ikut bergabung kedalam kelas dimana Bapak Asep Mulyana selaku guru menerapkan media pembelajaran elektronik pada mata pelajaran PAI yang diajarnya.
Penulis mengungkapkan bahwa suasana kelas lebih kondusif dan teratur karena guru disini menggunakan metode pembelajaran yang beragam, mulai dari metode ceramah, lalu kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang mana guru
48
mengarahkan murid untuk berdiskusi dengan metode tutor sebaya. Sehingga guru disini lebih mengutamakan keterlibatan murid dalam proses pembelajaran.
Ini pun diungkapkan Pak Asep dalam sesi wawancara yaitu:
“Ya kalo saya sendiri termasuk salah seorang yang cenderung bukan sebagai sumber utama dalam proses pendidikan ini. jadi sangat menghindari itu. Tapi saya kira anak juga memiliki potensi itu setiap pembelajaran saya, pasti akan saya libatkan setiap kegiatan anak itu.
Jadi anak lebih aktif, bukan hanya sumbernya dari kita tapi di awal biasanya kita ceramah tuh kan ada metode pembelajarannya. Setelah itu nanti sedikit kita jelaskan baru nanti anak-anak diskusi. Nah setelah diskusi biasanya nanti saya akan menggunakan metode yang lain tutor sebaya. Nah, tutor sebaya ini sangat efektif juga bagi saya dalam proses pembelajaran. Misalkan ada satu anak yang belum paham nanti akan di ajarkan oleh temannya. Mungkin yang kita jelaskan sebagai guru mungkin belum dipahami atau pendekatannya berbeda dengan temannya. Nah, nanti temannya ini akan dibantu. Nah jadi tutor sebaya ini membantu tugas kami selaku guru-guru untuk memberikan pemahaman kepada temen-temennya yang belum ngerti.”
Metode tutor sebaya merupakan metode pembelajaran dimana murid yang berperan sebagai pengajar (yang mana murid tersebut biasanya dipilih oleh guru karena dirasa lebih paham dari murid yang lain) dan murid yang lain cukup mendengarkan. Jadi dengan kata lain metode ini ibarat diskusi dengan kelompok belajar yang lebih kecil, sehingga murid dapat lebih aktif dan lebih efektif serta murid lebih fokus dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Jadi dengan adanya metode yang dianggapnya efektif tersebut, Pak Asep meyakini dan percaya bahwa kualitas hasil evaluasi akan jauh lebih baik dan lebih meningkat.
“Ya kalo berbicara mengenai kualitasnya, ya berarti kita ngomongin masalah hasil evaluasi. Nah, baik evaluasi dalam bentuk ulangan harian, tugas-tugas dan lain sebagainya. Saya kira semua ini dapat
49
meningkatkan kualitas pembelajaran anak didik. Karena menurut saya semakin bagus medianya juga maka akan semakin bagus cara mengajarnya tentunya anak pun akan semakin mengerti, semakin paham materi yang disampaikan, dan ini akan sejalan dengan evaluasi yang didapatkan. Tentunya bisa mencapai hasil yang maksimal saya kira.”
Jadi dapat dikatakan bahwa penggunaan media pembelajaran elektronik atau e-learning ini dapat membantu keberlangsungan pembelajaran PAI di SMP Budi Cendekia Islamic School.
2. Bentuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi multimedia pada mata pelajaran PAI
Menurut Himpunan Masayarakat Amerika untuk kegiatan Pelatihan dan Pengembangan, berdasarkan bentuknya, media pembelajaran elektronik mempunyai beberapa macam penerapan di antaranya:
a) Pembelajaran Berbasis Web
Menurut Muhammad Riska Babo, pembelajaran berbasis web adalah proses belajat mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauannya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan.
Fasilitas tersebut antara lain: e-mail,Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).57
Berdasarkan penerapannya di SMP Budi Cendekia melalui wawancara saya bersama Pak Asep, adapun rata-rata guru PAI yang mengajar di sekolah ini menerapkan fasilitas pembelajaran berbasis web di antaranya sebagai berikut.
57 Rizka Babo, Muhammad, (2012), Pembelajaran Berbasis Web, Jakarta. Diakses pada 16 November 2021, 16.25. WIB.
50
Fasilitas Penerapan
e-mail √
Telnet X
Internet Relay Chat X
Newsgroup X
Mailing List X
File Transfer Protocol (FTP) X
World Wide Web (WWW) √
Adapun Pak Asep mengaku bahwa dalam penerapannya, beliau sering sekali menggunakan fasilitas email dan WWW.
Beliau menambahkan jika penggunaan fasilitas ini khususnya fasilitas email lebih sering digunakan untuk mengirimkan tugas pekerjaan rumah (PR). Karena beliau merasa jika menggunakan email beliau dapat mengirimkan bahan ajar ataupun soal berkapasitas besar dengan mudah dan cepat.
Untuk WWW itu sendiri beliau lebih sering menerapkannya saat di dalam kelas, yang mana fasilitas ini membantu beliau dalam mencari bahan ajar di sebuah artikel terkait ataupun istilah-istliah penting yang berhubungan dengan pembelajaran.
“Sering, sering sekali kita menggunakan pembelajaran berbasis web, karena sekali lagi fasilitas ini sangat membantu kami para guru disini khususnya saya sebagai guru PAI. Kalo masalah perencanaannya sih, kita biasanya kan sebelum pembelajaran dimulai kita guru-guru disini harus prepare tentang apa aja yang harus di ajar. Nah, saya ada sesekali mencari artikel mengenai harta waris ataupun mengenai zakat, itu tentunya tidak semua dijelaskan secara rinci di buku paket. Jadi kita
51
sebagai guru punya inisiatif untuk mengunggah artikel-artikel yang membahas materi-materi seperti itu. Untuk email sendiri saya kira sering banget kita pakai buat mengirimkan tugas-tugas PR melalui email.
Apalagi file-file tugas tersebut terkadang ada yang melebihi kapasitas kalo dikirim lewat WA. Jadi mau gak mau kita kirim lewat email. Kalo untuk yang lainnya saya kira jarang bahkan tidak ada yang kami gunakan, seperti misalnya newsgroup. Kita sih biasanya daripada menggunakan aplikasi itu, kita lebih sering menggunakan aplikasi whatsapp untuk memberi kabar atau berita penting kepada grup kelas.
Saya rasa itu sih.”
b) Pembelajaran Berbasis Komputer
Istilah yang digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang menggunakan komputer dalam proses belajar mengajarnya di sebut Computer Based Instruction (CBI) atau Pembelajaran Berbasis Komputer. Dalam pembelajaran berbasis komputer , komputer digunakan sebagai perangkat sistem pembelajaran secara individual dan menerapkan prinsip belajar tuntas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis komputer merupakan suatu bentuk pembelajaran yang menempatkan komputer sebagai piranti sistem pembelajaran secara langsung kepada para siswa dengan cara berinteraksi dengan mata pelajaran yang diprogramkan ke dalam sistem komputer serta mengacu pada asas pembelajaran tuntas yang sengaja dirancang atau dimanfaatkan oleh guru.58
Adapun beberapa bentuk penggunaan media komputer yang dapat digunakan dalam pembelajaran di antaranya meliputi: Mutimedia Presentasi, CD Multimedia Interaktif, Video Pembelajaran, dan Internet.
Berdasarkan penerapannya di SMP Budi Cendekia melalui wawancara saya bersama Pak Asep, adapun rata-rata guru PAI yang mengajar di sekolah ini
58 Ega Destia Nurama, (2012), Efektivitas Penggunaan Game Pembelajaran dengan Konsep RPG (Role Playing Game) untuk mengingkatkan Hasil Belajar Siswa, Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia. Hal. 17.
52
menerapkan fasilitas pembelajaran berbasis komputer di antaranya sebagai berikut.
Fasilitas Penerapan
Multimedia Presentasi √
CD Multimedia Interaktif X
Video Pembelajaran √
Internet √
Dalam wawancara kami dengan Pak Asep, beliau menuturkan bahwa dalam penjabaran semua fasilitas atau bentuk-bentuk pembelajaran berbasis komputer di atas, hampir semua digunakan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ia ampu. Mulai dari multimedia presentasi yang memang hampir setiap pertemuan selalu ia gunakan, karena menurut beliau itu sangat cocok dengan penerapan di hampir semua materi yang di ajarkan karena bersandingan dengan metode tutor sebaya yang ia gunakan.
Sama juga hal nya dengan penggunaan video pembelajaran yang beliau anggap sangat membantu dia dan muridnya untuk menerima pembelajaran, seperti misalnya para murid yang lebih fokus dan santai dalam kegiatan pembelajaran dikarenakan murid akan lebih antuasias dengan adanya tampilan video singkat, baik yang dibuat sendiri oleh guru, ataupun yang guru unggah lewat aplikasi youtube.
Untuk hal nya dengan penggunaan internet, adapun menurut pengamatan dari penulis bahwa SMP Budi Cendekia memang sudah memiliki jaringan internet yang cukup kencang, dan dapat bebas diakses untuk guru maupun murid yang ada di sekolah. Itu juga yang mendorong Pak Asep memanfaatkan jaringan internet untuk membuat suasana pembelajaran agar lebih menarik dengan
53
menggunakan aplikasi kuis online seperti Quizziz dan Kahoot. Karena menurutnya selain seru, dengan adanya aplikasi ini akan membuat pembelajaran lebih efektif dan menarik.
Beda hal nya dengan penggunaan CD Multimedia Interaktif, yang menurutnya cocok digunakan pada pembelajaran PAI. Akan tetapi, beliau mengatakan bahwa fasilitas yang ada di sekolah masih belum menyediakan CD pembelajaran interaktif khusus untuk mata pelajaran PAI. Jadi menurutnya akan lebih baik jika CD multimedia interaktif diadakan untuk pembembelajaran PAI seperti halnya mata pelajaran yang lain.
“Saya kira hampir semua ya. Mulai dari media presentasi sama video pembelajaran saya kira, khususnya saya ya hampir tiap hari, tiap pertemuan saya pakai. Karena kan cocok ya dengan materi ataupun dengan metode yang saya terapkan yaitu metode tutor sebaya. Apalagi kayak misalkan video pembelajaran, itu pasti jadi andalan saya buat mengajar. Jadi seperti yang sudah saya bilang diawal tadi bahwa kami guru-guru emang menyiapkan semuanya dari sebelum pembelajaran dimulai. Misalkan hari ini materi tentang sejarah Rasulullah, yaudah kita langsung siapkan bahan ajar, minimal ya kalo gak ada kita siapkan video pembelajaran gitu. Kita juga biasanya ada bermain kuis pakai aplikasi quizziz sama aplikasi kahoot. Tapi untuk penggunaan CD Interaktif saya kira jarang atau hampir gak pernah ya kita gunakan.
Karena dari pihak sekolah juga belum menyediakan dan keberadaan CD ini masih minim ya khususnya dalam mata pelajaran PAI gitu. Kecuali untuk mata pelajaran biologi ataupun bahasa inggris, itu biasanya banyak CD yang begituan. Tapi intinya untuk yang lainnya sih disini sering dan sangat sering kita gunakan.”
c) Kelas Virtual
Kelas virtual merupakan kelas yang diciptakan melalui bantuan internet.
Dalam kelas ini semua kegiatan pembelajaran dilakukan secara online menggunakan internet. Proses pembelajaran dilaksanakan tanpa menuntut
54
peserta didik hadir di ruang kelas nyata. Melalui kelas virtual, peserta didik dapat mengikuti pembelajaran di tempat masing-masing yang terkoneksi dengan internet, misalnya di rumah, di kantor, di warnet, atau di sekolah dan kampus.
Konten materi pembelajaran, tanya jawab, diskusi, komunikasi, video streaming, monitoring kegiatan belajar, tes hasil belajar dan menampilkan hasil dari tes dapat dilakukan di kelas virtual. Jadi dalam kelas virtual dapat memfasilitasi pembelajaran seperti kelas fisik. Dalam kelas virtual juga peserta didik dapat berinteraksi dengan peserta didik lain, peserta didik dengan pendidik serta peserta didik dengan konten pembelajaran yang telah disediakan oleh pendidik, dalam hal ini guru dan dosen. Kelas virtual bersifat maya tetapi dapat berfungsi layaknya kelas fisik.
Kelas virtual sering kali disebut sebagai pembelajaran online (online courses) karena semua aktivitas pembelajaran dilakukan secara online. Kelas virtual merupakan lingkungan belajar mengajar yang diciptakan dalam bentuk perangkat lunak yang dapat diperoleh lewat layanan akses internet. Kelas virtual memungkinkan suatu proses pembelajaran di dalam kelas dapat dibagi secara virtual dengan kelas lain di tempat berbeda yang terkendala dengan jarak.
Konsep kelas virtual menawarkan kesempatan yang lebih baik untuk dapat melakukan kolaborasi, akses terhadap suatu informasi, menampilkan visualisasi yang lebih menarik dan mendorong pihak terkait untuk lebih produktif dan lebih cepat dalam memahami informasi maupun suatu pengetahuan.59
Adapun beberapa bentuk penggunaan kelas virtual yang dapat digunakan dalam pembelajaran di antaranya meliputi: Edmodo, Google Classroom, Sevima Edlink, Schoology, Zoom, dan Class Dojo.
Berdasarkan penerapannya di SMP Budi Cendekia melalui wawancara saya bersama Pak Asep, adapun rata-rata guru PAI yang mengajar di sekolah ini menerapkan fasilitas pembelajaran berbasis komputer di antaranya sebagai berikut.
59 Hety Mustika Ani dan Wiwin Hartanto, Pemanfaatan Kelas Virtual untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran, Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Jember. Hal. 214.
55
Fasilitas Penerapan
Edmodo X
Google Classroom √
Sevima Edlink X
Schoology X
Zoom √
Class Dojo X
Dalam kelas virtual ini, menurut Pak Asep lebih sering digunakan ketika pandemi covid-19 mewabah. Karena menurut beliau pendidikan harus tetap bisa dilaksanakan walau tidak dengan bertatap muka. Menurutnya dari sekian banyak aplikasi kelas virtual yang ada, beliau lebih sering menggunakan media google classroom dan aplikasi zoom. Yang mana kedua aplikasi ini yang menurutnya lebih dikenal dan lebih mudah digunakan oleh para guru maupun murid. Tetapi jika boleh dijelaskan secara rinci, menurutnya jika yang dipakai hanya salah satu aplikasi saja dari kedua aplikasi tersebut, pasti dirasa kurang lengkap.
Biasanya beliau menggunakan aplikasi google classroom terlebih dahulu untuk mengecek absensi kehadiran murid, lalu mengunggah tugas untuk dibaca.
Baru kemudian pembelajaran dilanjutkan dengan aplikasi zoom untuk melanjutkan sesi diskusi dan juga penjelasan sedikit dari guru.
Berdasarkan dari penjabaran bentuk-bentuk media pembelajaran elektronik di atas, adapun menurut Pak Asep khususnya, beliau lebih sering menggunakan media Slide Power Point, tape recorder yang merupakan bentuk dari pembelajaran berbasis komputer pada saat penyampaian beberapa kegiatan praktek keagamaan, serta video bergambar.
“Kalo saya sih lebih kepada slide ya, tentunya PPT. Terus kemudian kita juga sedikit mengambil dari media-media yang lain. misalkan dari
56
youtube dan lain sebagainya. Apalagi materi-materi yang berkaitan dengan sejarah. Nah ini sangat erat kaitannya dengan media. Harus dibutuhkan media yang lain. Sejarah ketika kita melihat tentang lahirnya Rasulullah dan lain sebagainya, itu kan bukan kita sekedar menggunakan metode ceramah saja tapi anak langsung menonton, itu anak bakal lebih mengenal. Jadi kita menggunakan media-media yang lain.”
Selain itu, menurut Pak Asep, pihak sekolah pun ia rasa sudah cukup mendukung dan menunjang seluruh proses kegiatan belajar mengajar melalui sarana dan prasarana yang sudah disediakan. Mulai dari jaringan akses internet Wifi, Lab Komputer, serta alat proyektor yang tersedia di seluruh ruangan kelas siswa.
“Saya kira sudah maksimal ya. Karena memang salah satu berkembangnya sebuah sekolah yaitu daya dukung sekolah terhadap proses pembelajaran itu sendiri. Setiap kelas sudah ada media proyektor, setiap kelas sudah ada jaringan internetnya. Semuanya sudah di tata dengan rapi, biar anak mampu memahami materi-materi yang disampaikan oleh guru. jadi semua fasilitasnya sudah lengkap. Terus kemudian media-media yang lain juga sudah memadai. Daya dukung sekolah terhadap proses pembeajarannya juga sudah maksimal saya kira alhamdulillah.”
Akan tetapi menurut pengamatan penulis, para siswa tidak sepenuhnya dapat menggunakan internet dengan bebas. Dikarenakan semua murid sebelum memasuki kelas harus menitipkan gadget mereka di ruang guru sebelum pelajaran dimulai. Dan dapat diambil ketika jam pelajaran selesai ataupun dapat diambil jika diizinkan oleh guru yang mengajar di kelas.
“Iya, pada dasarnya memang mulai dari masuk itu anak-anak sebelum masuk kedalam kelas hp itu dikumpulkan. Namun, dalam proses pembelajaran pada kenyataannya ada beberapa guru yang memang menggunakan media itu. Jadi anak itu misalkan berdiskusi. Nah
57
berdiskusi itu mereka kan butuh referensi ya, baik itu selain buku cetak juga mereka harus dari media elektronik gitu ya dari internet, ya mereka
berdiskusi itu mereka kan butuh referensi ya, baik itu selain buku cetak juga mereka harus dari media elektronik gitu ya dari internet, ya mereka