Leverage of Attributes Aspek Manfaat
B.7. HASIL ANALISIS PROVINSI SULAWESI SELATAN 1. PROFIL KELOMPOK/DESA
Prosedur analisis Multi Dimension Scalling (MDS) dalam kajian program peningkatan ketahanan pangan masyarakat khususnya pada kegiatan Desa Mandiri Pangan yang berbasis gender dilakukan melalui tahapan sebagai berikut :
1. Analisis terhadap data Desa Mandiri Pangan di Desa Patallasang dan Desa Padang Lampe Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan.
2. Pengambilan data melalui survei, pengamatan, diskusi terarah dan studi literatur. 3. Melakukan skoring dengan mengacu pada literatur dengan menggunakan Excel. 4. Melakukan analisis sensitifitas (leverage analysis) dan Monte Carlo analysis untuk
memperhitungkan aspek ketidakpastian.
Penggunaan MDS dan analisis gender diharapkan dapat menghasilkan gambaran yang jelas dan komprehensif mengenai sumber daya Desa Mandiri Pangan yang ada dan permasalahan gender, khususnya di desa Patallasang dan desa Padang Lampe, Kecamatan Pangkajene Kepulauan di daerah pengamatan sehingga akhirnya dapat dijadikan bahan untuk menentukan kebijakan yang tepat bagi pelaksanaan kegiatan Desa Mandiri Pangan yang mandiri dan berbasis gender.
Hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan di desa Patallasang dan desa Padang Lampe dapat digambarkan sebagai berikut :
I. Profil Desa Patallasang dan Desa Padang Lampe sebagai berikut :
a. Desa Patallasang, Kecamatan Patallasang Kabupaten Pangkajene Kepulauan telah dibina 5 Kelompok Afinitas Desa Mandiri Pangan yaitu :
a. Kelompok Bonto Bilabila (terbentuk tgl.7 Oktober 2010) dengan jumlah anggota tetap 10 orang;
b. Kelompok Kasuarang (terbentuk tgl. 25 Nopember 2010) dengan jumlah anggota tetap 8 orang;
c. Kelompok Bonto Manai (terbentuk tgl.8 Nopember 2011) dengan jumlah anggota 15 orang;
d. Kelompok Tapole Bersatu (terbentuk tgl. 5 September 2011) dan
e. Kelompok Bonto-bonto (terbentuk tgl.25 Januari 2011) dengan jumlah anggota 8 orang.
Kelompok di desa Patallasang didampingi oleh seorang Tenaga Harian Lepas (THL) bernama Muh. Arsad. Berdasarkan hasil wawancara bahwa secara teknis kemampuan pendamping THL masih sangat minim sebagai akibat kurangnya kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan teknis dan kurangnya pemahaman tentang perencanaan berbasis gender.
Responden dalam pengamatan kali ini adalah kelompok Afinitas Bonto Manai yang terbentuk tanggal 8 Nopember tahun 2011 dengan jumlah anggota 15 orang terdiri dari 8 orang perempuan dan 7 orang laki-laki, yang diketuai oleh Ibu Lise (pendidikan terakhir SD) dan sekertaris adalah Bapak Hanapi (pendidikan terakhir SMP). Ada hal yang cukup menarik dilihat dari tingkat pendidikan ada 3 orang anggota kelompok berpendidikan SMA dan cukup berpengaruh dalam memajukan kelompok, terutama pengaruhnya dalam menularkan jiwa wirausaha terutama usaha kios atau warung sebagai upaya menambah pendapatan keluarga.
b. Desa Padang Lampe, Kecamatan Ma’rang Kabupaten Pangkajene Kepulauan telah dibina 4 Kelompok afinitas Desa Mandiri Pangan yaitu :
a. Kelompok Padaelo (terbentuk bln. September 2009) dengan jumlah anggota 25 orang dengan usaha kelompok Jual usaha campuran;
b. Kelompok Samaturu (terbentuk bln. September 2009) dengan jumlah anggota 30 orang dengan usaha kelompok Jual usaha campuran dan kupas jambu mete;
c. Kelompok Sipurennu (terbentuk bln. September 2009) dengan jumlah anggota 15 orang dengan usaha kelompok Jual Beli Pakaian dan
d. Kelompok Sipatuo (terbentuk bln.September 2009) dengan jumlah anggota 50 orang dengan usaha kelompok Usaha kupas jambu.
Kelompok di desa Padang Lampe telah didampingi oleh Samsu Riayah,Spi sampai tahun 2013 namun masih sangat minim mendapat pelatihan teknis, dan melakukan pendampingan ke kelompok dilakukan 3 kali per bulan. Pemahaman pendamping terhadap perencanaan berbasis gender sangat minim namun paham akan kesetaraan gender sehingga dalam kelompok yang di bina terlihat bagaimana kerjasama dan pembagian tugas antara pengurus dan anggota tanpa melihat jenis kelamin.
Responden pada kunjungan kali ini adalah kelompok afinitas Samaturu yang terbentuk bulan September 2009 dengan jumlah anggota 30 orang terdiri dari 7 orang perempuan dan 13 orang laki-laki, anggota kelompok sangat dinamis dengan latar belakang pendidikan minimal SMP dan usaha masing-masing
kelompok sebagian besar pedagang (Kios sembako, Jual beli sapi, Kios Saprodi, Kios Pulsa).
B.7.2.HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode Multi Dimension Scalling (MDS) diharapkan dapat memperbaiki kondisi pada obyek pengamatan, dengan melihat permasalahan dan mengintegrasikan dengan informasi/data dari keseluruhan aspek yaitu aspek Akses, Partisipasi, Kontrol dan Manfaat bagi Laki-laki dan Perempuan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan yang mandiri dan berkelanjutan.
Nilai Indeks Keberlanjutan Desa Mandiri Pangan di Provinsi Sulawesi Selatan untuk kegiatan PUG dilakukan di Kabupaten Pangkajene digambarkan sebagai berikut : 1. Aspek Akses
Berdasarkan hasil analisis Multi Dimensional Scalling yang diolah dengan menggunakan alat Rapfish 2.0, ditunjukkan bahwa yang paling mempengaruhi aspek Akses adalah : 1). Memperoleh bantuan pemerintah; 2). Mendapatkan
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Menjadi Anggota Kelompok
Mendapatkan Pengetahuan dan Keterampilan Memperoleh bantuan pemerintah Mendapatkan pinjaman dalam atau luar
kelompok
Kesempatan menjadi pengurus kelompok Mendapatkan dana Perguliran Modal Usaha
Kelompok (PMUK)
Mengolah Administrasi LKD
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100) A tt ri b u te
Leverage of Attributes
pengetahuan dan keterampilan; dan 3). Mendapatkan pinjaman dalam atau luar kelompok.
Hal ini menunjukkan indikator kegiatan pada aspek Akses yang sensitif responsif gender terdapat pada ketiga indikator tersebut. Kesempatan anggota untuk memperoleh bantuan pemerintah yang paling sensitif terhadap gender. Hal ini disebabkan karena komposisi jumlah anggota kelompok laki-laki memang lebih besar dari jumlah anggota kelompok perempuan dari total jumlah anggota sebesar 35 orang, jumlah laki-laki sebanyak 20 orang (57 %) dan jumlah perempuan sebanyak 15 orang (43 %). Hal ini mengakibatkan kesempatan terhadap laki-laki menjadi lebih besar dibanding anggota kelompok perempuan. Hal serupa juga berlaku untuk indikator mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dan indikator mendapatkan pinjaman dalam atau luar kelompok, kondisi di kelompok Samaturu selain jumlah laki-laki didominasi oleh laki-laki termasuk pengurus, mengakibatkan keputusan yang diambil sebagian besar diperuntukkan bagi anggota kelompok laki-laki, termasuk untuk pinjaman jika dilihat dari perputaran pinjaman hanya anggota laki-laki yang mendapat kesempatan meminjam sampai 4 kali perputaran, sedangkan anggota kelompok perempuan hanya 2 sampai 3 kali putaran.
2. Aspek Kontrol
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 Menerima bantuan Pemerintah
Memilih jenis usaha Memilih tempat usaha Menentukan skala usaha Membuat rencana usaha Menentukan pembiayaan usaha Pembagian tugas Menggelola keuangan Membeli sarana produksi Menjual produk
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100) A tt ri b u te
Leverage of Attributes
Berdasarkan hasil analisis Multi Dimension Scalling yang diolah dengan menggunakan alat Rapfish 2.0, ditunjukkan bahwa yang paling mempengaruhi aspek Kontrol adalah : 1). Mengelola Keuangan; 2). Pembaian tugas dan 3). Menentukan pembiayaan usaha.
Aspek kontrol sangat menunjukkan adanya sensitifitas gender yang sangat tinggi dapat dilihat dari diagram batang diatas sebagian besar dari indikator menjauhi titik nol. Terutama untuk indikator mengelola keuangan, dari kedua kelompok yang menjadi responden perempuan dipercaya menjadi bendahara, namun dalam keputusan pengelolaan keuangan kelompok sangat didominasi oleh anggota kelompok laki-laki. Demikian juga untuk pembagian tugas dan menentukan pembiayaan usaha terlihat begitu dominan anggota laki-laki dalam menentukan pembagian tugas kelompok bagi kaum perempuan lebih diarahkan pada kegiatan pencatatan dan pembukuan, terlebih dalam menentukan pembiayaan usaha anggota kelompok perempuan biasanya menerima usul dan saran dari anggota laki-laki, dari pengamatan hal ini terjadi akibat pada kelompok Samaturu yang dominan laki-laki, sebagian besar anggota kelompok wanita adalah keluarga atau istri dari salah satu anggota kelompok laki-laki, akibatnya anggota perempuan sangat mudah dipengaruhi oleh anggota kelompok laki-laki. 3. Aspek Manfaat 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Akses modal Akses pasar Kesempatan berusaha Peningkatan pendapatan Peralatan usaha *) Peningkatan Kapasitas SDM/Pelatihan
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100) A tt ri b u te
Leverage of Attributes
Sumber daya dan keuntungan (manfaat) adalah konsep dasar yang perlu dikaji untuk memahami bagaimana kegiatan Desa Mandiri Pangan dapat mengakses dan diakses oleh perempuan dan laki-laki, dan sejauh mana memberikan manfaat bagi keduanya, jadi manfaat adalah kegunaan sumber daya yang dapat dinikmati secara optimal.
Berdasarkan hasil analisis Multi Dimension Scalling yang diolah dengan menggunakan alat Rapfish 2.0, ditunjukkan bahwa yang paling mempengaruhi aspek Manfaat adalah : 1). Peralatan Usaha; 2). Akses Modal dan 3). Peningkatan Pendapatan.
Di Provinsi Sulawesi Selatan berdasarkan analisis yang dilakukan bahwa anggota kelompok Perempuan memiliki kesempatan yang sangat minim dalam menentukan Peralatan Usaha, hal ini sangat berpengaruh besar terhadap indikator lainnya dalam aspek Manfaat, seharusnya jika anggota perempuan diberi kebebasan dalam menentukan Peralatan Usaha yang cocok bagi dirinya, maka secara signifikan hal ini diharapkan juga dapat meningkatkan manfaat bagi anggota kelompok Perempuan terutama untuk meningkatkan pendapatan melalui pengembangan usaha dengan menambah modal usaha.
4. Aspek Partisipasi
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Memilih jenis usaha kelompok Memilih tempat usaha Menentukan skala usaha Membuat rencana usaha Membagi tugas/peran dalam usaha kelompok Pengelolaan pendapatan kelompok Membeli sarana usaha kelompok Pengelolaan usaha kelompok Menjual hasil usaha kelompok Membagi hasil usaha kelompok Menghadiri pertemuan rutin Menghadiri pelatihan oleh pendamping
Root Mean Square Change % in Ordination when Selected Attribute Removed (on Status scale 0 to 100) A tt ri b u te
Leverage of Attributes
Berdasarkan hasil analisis Multi Dimension Scalling yang diolah dengan menggunakan alat Rapfish 2.0, ditunjukkan bahwa yang paling mempengaruhi aspek Partisipasi adalah : 1). Menjual Hasil Usaha Kelompok; 2). Menghadiri Pelatihan oleh Pendamping dan 3). Menghadiri Pertemuan Rutin.
Gambaran grafik batang di atas, aspek yang sangat dominan terlihat untuk indikator Menjual Hasil Usaha Kelompok, partisipasi anggota kelompok Perempuan sangat minim untuk indikator ini, dan dalam pelatihan yang dilakukan oleh pendamping peran dan partisipasi anggota kelompok perempuan juga sangat dominan termasuk menghadiri pertemuan kelompok.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa untuk kelompok yang keragaan anggota kelompoknya terdiri dari orang satu rumah, sangat sulit memisahkan antara tugas dan fungsi di kelompok dengan tugas dan fungsi di rumah, sehingga anggota kelompok perempuan lebih banyak hanya menjadi anggota pasif dan menerima keputusan yang ditetapkan oleh anggota kelompok laki-laki.
B.7.3. KESIMPULAN
Dari hasil penelaahan terhadap indikator yang dominan dari aspek Akses, aspek Kontrol, aspek Manfaat dan aspek Partisipasi, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Akses Anggota kelompok perempuan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan di Desa Patallassang dan Desa Padang Lampe, Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, sangat minim untuk memperoleh bantuan dari pemerintah baik bantuan modal maupun pelatihan, dampaknya terlihat pada aktifitas usaha anggota kelompok perempuan hanya disekitar lingkungan rumah tangga.
2. Kontrol Anggota kelompok perempuan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan di Desa Patallassang dan Desa Padang Lampe, Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, sangat minim untuk mengelola keuangan kelompok sesuai fungsi sebagai bendahara, karena pengaruh anggota laki-laki sangat kuat mengatur keuangan kelompok, dampaknya kontrol anggota kelompok perempuan juga dipengaruhi oleh besarnya peran laki-laki dalam menentukan pembagian tugas dalam kelompok dan menentukan besarnya pembiayaan usaha kelompok.
3. Manfaat Anggota kelompok perempuan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan di Desa Patallassang dan Desa Padang Lampe, Kabupaten Pangkajene
Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, tidak terlihat karena dampak dari aspek Akses dan Kontrol yang sangat dibatasi oleh anggota laki-laki dalam kebebasan dalam memilih aktifitas berakibat pada tidak bermanfaatnya peralatan usaha yang telah di beli oleh kelompok (Juicer) untuk pembuatan Jus Jeruk Kemasan bagi anggota kelompok perempuan menjadi tidak efisien. Demikian juga modal yang diberikan untuk kaum perempuan, perputarannya menjadi tidak maksimal akibat skala usaha yang sangat kecil di lingkungan rumah tangga.
4. Partisipasi Anggota kelompok perempuan dalam kegiatan Desa Mandiri Pangan di Desa Patallassang dan Desa Padang Lampe, Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan, sangat minim dalam memutuskan akan menjual hasil usaha kelompok ke pihak lain, karena hal ini sudah ditetapkan dalam pembagian tugas kelompok tentang waktu menjual dan membeli hasil usaha kelompok.