HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Analisis Uji Coba Instrumen
4.2.2 Hasil Analisis Uji Coba Instrumen Soal Matematika
Instrumen soal matematika yang diujicobakan berbentuk soal uraian dengan jumlah soal 10 butir. Berikut ini merupakan beberapa langkah-langkah pengujian instrumen, antara lain:
4.2.2.1 Uji Validitas Instrumen Soal Matematika
Peneliti melakukan uji validitas data sebelum dan sesudah uji coba instrumen untuk menganalisis validitas logis dan empiris pada instrumen yang akan digunakan. Untuk lebih jelasnya diterangkan secara lengkap di bawah ini. 4.2.2.1.1 Validitas Logis Soal Tes Matematika
Validitas logis dan empiris dilakukan untuk mengetahui bahwa soal yang telah disusun sudah sesuai dalam hal konstruk, isi, dan bahasa. Dalam penelitian ini, peneliti membuat 10 butir soal matematika. Sebelum soal diujicobakan, seluruh butir soal tersebut telah dinilai validitas logis dan empirisnya oleh dua orang ahli, yaitu Dra. Noening Andrijati, M.Pd dosen matematika program studi PGSD Universitas Negeri Semarang dan Ujiati, S.Pd.SD guru kelas IVA SD Negeri Langgen. Setelah soal dinilai dan dinyatakan layak untuk diujicobakan, maka dilakukan uji coba soal kepada siswa kelas IVA dan IVB SD Negeri Pesayangan 01 pada tanggal 26 April 2013.
4.2.2.1.2 Pengujian Validitas Empiris Soal Tes Matematika
Pengujian validitas empiris dilakukan terhadap nilai hasil uji coba soal tes matematika di kelas IVA dan IVB SD Negeri Pesayangan 01. Data nilai hasil uji coba soal metematika dapat dilihat pada Lampiran 27. Deskripsi data nilai Uji coba soal matematika dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.6 Deskripsi Data Nilai Uji Coba Instrumen Soal Tes Matematika pada Kelas Uji Coba
No. Kriteria Data Kelas Uji coba
1. Jumlah siswa 48 2. Skor rata-rata 78,13 3. Median 77,08 4. Skor minimal 45,83 5. Skor maksimal 100,00 6. Rentang 54,17 7. Varians 213,04 8. Standar deviasi 14,75
Berdasarkan nilai hasil belajar matematika siswa di kelas uji coba, maka dilakukanlah uji validitas instrumen menggunakan metode bivariate pearson. Untuk mempermudah penghitungan, peneliti menggunakan bantuan program SPSS versi 20. Pengambilan keputusan pada uji validitas dilakukan dengan batasan rtabel dengan signifikansi 0,05 dan uji dua sisi. Untuk batasan r tabel dengan jumlah n = 48 didapat nilai rtabel sebesar 0,284. Jika nilai korelasi setiap soal lebih besar dari nilai rtabel maka item tersebut dianggap valid, sedangkan jika nilai korelasi lebih kecil dari nilai rtabel maka item dianggap tidak valid. Hasil ouput
validitas soal menggunakan SPSS 20 dapat dilihat pada Lampiran 28. Rekapitulasi data hasil perhitungan SPSS 20 dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut.
Tabel 4.7 Rekapitulasi Uji Validitas Soal Tes Uji Coba dengan rtabel = 0,284; Taraf Sinifikansi 0,05 dan n= 48
Nomor Item Pearson Correlations (r11) Validitas Nomor Item Pearson Correlations (r11) Validitas 1 0,868 Valid 6 0,602 Valid 2 0,427 Valid 7 0,879 Valid 3 0,726 Valid 8 0,884 Valid 4 0,561 Valid 9 0,609 Valid 5 0,465 Valid 10 0,652 Valid
Dari perhitungan data dengan menggunakan program SPSS 20 diketahui bahwa semua item soal valid yaitu sebanyak 10 butir soal. Butir soal yang valid adalah nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10.
4.2.1.2 Uji Reliabilitas
Berdasarkan perhitungan validitas instrumen soal matematika, diperoleh item yang valid sebanyak 10 butir soal. Butir soal tersebut, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Dari item yang valid tersebut kemudian dihitung reliabilitasnya menggunakan reliability analysis. Untuk dapat mengetahui reliabilitas tiap butir soal, peneliti menggunakan rumus cronbach’s alpha. Setelah diketahui nilai r11
kemudian diinterpretasikan dengan nilai r menurut Arikunto. Reliabilitas 0,000-0,200 adalah sangat rendah, 0,201-0,400 adalah rendah, 0,401-0,600 adalah agak rendah, 0,601-0,800 adalah cukup, dan 0,801-1,00 adalah tinggi. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut.
Tabel 4.8 Hasil Uji Reliabilitas Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items
Dari hasil perhitungan reliabilitas menggunakan rumus Cronbach’s alpha
diperoleh nilai rhitung sebesar 0,852. Apabila mengacu pada pendapat Arikunto, nilai 0,852 termasuk dalam realibilitas tinggi, sehingga semua butir soal matematika yang valid dapat dinyatakan sudah reliabel.
4.2.1.3 Analisis Tingkat Kesukaran
Untuk dapat mengetahui tingkat kesukaran dari instrumen maka dibutuhkan pengujian tingkat kesukaran. Untuk mengetahui tingkat kesukaran dilakukan perhitungan dengan membandingan nilai rata-rata yang diperoleh dengan skor maksimal tiap butir soal. Berdasarkan hasil perhitungan manual diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.9 Analisis Tingkat Kesukaran
No. Soal P Kriteria No. Soal P Kriteria
1 0,90 Mudah 6 0,76 Mudah
2 0,95 Mudah 7 0,78 Mudah
3 0,83 Mudah 8 0,76 Mudah
4 0,85 Mudah 9 0,61 Sedang
5 0,85 Mudah 10 0,56 Sedang
Harga tingkat kesukaran yang diperoleh, kemudian dikonsultasikan dengan ketentuan sebagai berikut: soal dengan P 0,00 sampai 0,30 adalah soal sukar; soal dengan P 0,31 sampai 0,70 adalah soal sedang; soal dengan P 0,71 sampai 1,00 adalah soal mudah (Depdiknas, 2008: 9). Hasil analisis tingkat kesukaran soal metamtika menunjukkan bahwa terdapat 8 soal yang termasuk dalam kategori soal mudah dan 2 soal yang masuk dalam kategori soal sulit.
4.2.1.4 Uji Daya Pembeda Butir Soal
Daya pembeda butir soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang kurang pandai (berkemampuan rendah). Sebelum perhitungan kelompok siswa dibagi dua sesuai jumlah skor soal atau jawaban benar yang didapat menjadi kelompok atas dan kelompok bawah (Lampiran 35). Pengujian daya beda diperoleh dari hasil perhitungan selisih antara rata-rata skor pada kelompok atas dengan rata-rata skor pada kelompok bawah dibagi skor maksimum butir soal. Berdasarkan hasil perhitungan manual diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.10 Daya Pembeda Soal
No. Soal X X MaksimumSkor DP Kriteria
1 5,00 3,96 5 0,21 Diperbaiki
2 3,96 3,63 4 0,07 Dibuang
3 4,92 3,42 5 0,30 Diterima tetapi perlu diperbaiki 4 4,83 3,71 5 0,23 Diperbaiki 5 3,75 3,08 4 0,13 Dibuang 6 4,50 3,08 5 0,28 Diperbaiki 7 4,96 2,88 5 0,42 Diterima baik 8 4,83 2,75 5 0,42 Diterima baik 9 3,67 2,46 5 0,24 Diperbaiki 10 3,46 2,17 5 0,26 diperbaiki
Harga daya pembeda yang diperoleh, kemudian dikonsultasikan dengan ketentuan sebagai berikut: 0,00 – 0,19: soal tidak dipakai/dibuang; 0,20 – 0,29: soal diperbaiki; 0,30 – 0,39: soal diterima tetapi perlu diperbaiki; 0,40 – 1,00: soal diterima baik (Crocker dan Algina dalam Depdiknas, 2008: 12). Dari tabel diatas dapat dilihat terdapat 2 soal dengan kategori diterima baik, 4 soal dengan kategori
diterima tetapi perlu diperbaiki, 2 soal dengan kategori diperbaiki dan 2 soal dengan kategori tidak dipakai atau dibuang. Soal yang dapat digunakan sebagai instrumen harus minimal termasuk dalam kategori diperbaiki. Butir soal yang dapat digunakan sebagai instrumen yaitu butir soal nomor 1, 3, 4, 6, 7, 8, 9, dan 10.