• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teoritis

2.1.10 Pembelajaran Kooperatif

Slavin (2005: 4) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran. Dalam model pembelajaran kooperatif, para siswa diharapkan dapat saling membantu, mendiskusikan dan berargumentasi untuk mengasah pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing. Hal ini senada dengan pendapat Acikgoz dalam Gocer (2010: 441) yang menyatakan bahwa “cooperative learning comprised the efforts of small groups of students, by assisting each other in

learning towards a common goal”. Pendapat Acikgoz ini dapat diartikan bahwa

mereka saling membantu satu sama lain dalam pembelajaran untuk menuju tujuan bersama.

Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif menurut Slavin (2005: 33) adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi anggota masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Melalui pembelajaran kooperatif siswa dalam kelompok saling berinteraksi, bekerjsama, dan berkontribusi sehingga tidak hanya menjadikan siswa berhasil dalam bidang akademik saja tetapi juga melatih sikap sosial siswa untuk dapat hidup bersama dalam masyarakat.

Dilihat dari aspek motivasional, struktur tujuan dari pembelajaran kooperatif menciptakan sebuah situasi dimana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi mereka adalah jika kelompok mereka bisa sukses (Slavin, 2005: 34). Jadi, dalam pembelajaran kooperatif siswa akan berhasil jika kelompok mereka berhasil. Hal ini mendorong anggota tiap kelompok untuk membantu teman satu kelompoknya yang mengalami hambatan untuk dapat melakukan suatu hal yang menjadikan kelompok mereka berhasil. Sebuah kelompok tidak akan berhasil jika salah satu anggotanya tidak dapat menguasai materi. Oleh karena itu anggota kelompok akan saling membantu satu sama lain untuk dapat meraih keberhasilan.

Hakim (2009: 53) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang sesuai dengan falsafah dari pendekatan konstruktivis. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran kooperatif

siswa beinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok, sehingga memungkinkan terjadinya penggabungan dan pemeriksaan ide-ide siswa dalam suasana yang tidak tertekan. Mengingat esensi pembelajaran konstruktivis adalah siswa secara individu menemukan dan mentransfer informasi yang kompleks apabila menghendaki informasi itu menjadi miliknya (Rifa’i dan Anni, 2009: 226)

Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik, unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik (Trianto, 2007: 44).

Roger dan Johnson dalam Suprijono (2012: 58) mengemukakan bahwa tidak semua belajar kelompok bisa dianggap sebagai pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut yaitu:

2.10.1.1 Positive Interdependence (Saling Bergantung Antara Satu Sama Lain Secara Positif)

Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran ada dua pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut. Beberapa cara membangun saling ketergantungan positif yaitu:

(1) Menumbuhkan perasaan siswa bahwa dirinya terintegrasi dalam kelompok, pencapaian tujuan terjadi jika semua anggota kelompok mencapai tujuan. Siswa harus bekerjasama untuk dapat mencapai tujuan. (2) Mengusahakan agar semua anggota kelompok mendapatkan penghargaan

yang sama jika kelompok mereka berhasil mencapai tujuan.

(3) Mengatur sedemikian rupa sehingga setiap peserta dalam kelompok hanya mendapatkan sebagian dari keseluruhan tugas kelompok. Artinya, mereka belum dapat menyelesaikan tugas, sebelum mereka menyatukan perolehan tugas mereka menjadi satu.

(4) Setiap siswa ditugasi dengan tugas atau peran yang saling mendukung dan saling berhubungan, saling melengkapi, dan saling terikat dengan siswa lain dalam kelompok.

2.10.1.2 Personal Responsibility (Tanggung Jawab Perseorangan)

Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota kelompok menjadi pribadi yang kuat. Tanggung jawab perseorangan adalah kunci untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama. Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus dapat menyelesaikan tugas yang sama. Beberapa cara menumbuhkan tanggung jawab perseorangan yaitu:

(1) Kelompok belajar jangan terlalu besar. (2) Melakukan asesmen terhadap setiap siswa.

(3) Memberi tugas kepada siswa, siswa dipilih secara random untuk mempresentasikan hasil kelompoknya di depan kelas.

(4) Mengamati setiap kelompok dan mencatat frekuensi individu dalam membantu kelompok.

(5) Menugasi siswa mengajar temannya.

2.10.1.3 Face to Face Promotive Interaction (Interaksi Promotif)

Unsur ini dapat menghasilkan ketergantungan positif. Ciri-ciri interaksi promotif yaitu :

(1) Saling membantu secara efektif dan efisien.

(2) Saling memberi informasi dan sarana yang diperlukan.

(3) Memproses informasi bersama secara lebih efektif dan efeisien. (4) Saling mengingatkan.

(5) Saling membantu dalam merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan wawasan terhadap masalah.

(6) Saling memotivasi untuk memperoleh keberhasilan bersama. 2.10.1.4 Interpersonal Skill (Komunikasi Antaranggota)

Untuk mengoordinasikan kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan, siswa harus:

(1) Saling mengenal dan mempercayai.

(2) Mampu berkomunikasi secara akurat dan tidak ambisius. (3) Saling menerima dan saling mendukung.

(4) Mampu menyelesaikan konflik secara konstruktif. 2.10.1.5 Group Processing (Pemrosesan Kelompok)

Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari

anggota kelompok. Guru dapat mengetahui siapa yang membantu dan tidak membantu. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif untuk mencapai tujuan kelompok.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran yang menekankan adanya aktivitas belajar siswa secara bersama-sama dalam sebuah kelompok kecil untuk mencapai tujuan bersama yakni keberhasilan kelompok. Kelompok dalam pembelajaran kooperatif dibangun dari anggota yang heterogen yang terdiri dari siswa berprestasi tinggi, sedang, rendah, laki-laki, dan perempuan. Siswa secara bersama-sama mengembangkan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Guru dalam model pembelajaran kooperatif ini hanya berperan sebagai motivator dan fasilitator.

2.1.11 Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition

Dokumen terkait