KAJIAN PUSTAKA
2.2 Hasil Penelitian yang Relevan
Ada beberapa penelitian tentang model pembelajaran Cooperatif
Integrated Reading and Composition yang pernah dilakukan sebelumnya. Salah
satu penelitian tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Nurul Inayah (2007) dengan judul ”Keefektifan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC
(Cooperative Integrated Reading and Compositio) Terhadap Kemampuan
Negeri 13 Semarang Tahun Ajaran 2006/2007”. Berdasarkan perhitungan uji t diperoleh t
hitung = 2,0447 dan t
tabel = 1,98 untuk α = 5% dan dk = 86. jadi t
hitung > t
tabel. Dengan demikian Ho ditolak. Ini berarti rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah siswa yang pembelajarannya dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih baik dari pada rata-rata siswa yang pembelajarannya dengan metode ekspositori pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun ajaran 2006/2007. Maka, disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC lebih efektif untuk meningkatkan aspek kemampuan pemecahan masalah pada pokok bahasan segiempat siswa kelas VII SMP N 13 Semarang tahun ajaran 2006/2007 dibanding dengan pembelajaran dengan metode ekspositori.
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and
Composition dalam pemecahan masalah pada mata pelajaran matematika.
Perbedaannya yaitu penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII SMP N 13 Semarang dengan materi pokok segiempat, sedangkan peneliti melaksanakan pada siswa kelas IV SD Negeri Langgen dengan materi pokok pecahan.
Selain itu, terdapat pula penelitian yang dilakukan oleh Sutrisno (2010) dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Tipe Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) dengan Metode Pemecahan Masalah
Berbantuan Lembar Kerja Kelompok untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika”. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII B SMP N 1 Semarang dengan materi pokok kubus dan balok. Dari perhitungan berdasarkan
analisis hasil penelitian, diperoleh ketuntasan belajar secara klasikal dari siklus I sebanyak 71% sedangkan pada siklus II sebanyak 97%. Dengan demikian mengalami peningkatan sebesar 26%. Dari hasil observasi terhadap keaktifan siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sebesar 4,94% dan untuk observasi kerja guru dengan menggunakan model pembelajaran tipe CIRC dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 10,23%.
Berdasarkan hasil angket siswa terhadap pembelajaran dengan model CIRC, menunjukkan bahwa siswa merasa senang dan mudah menerima serta bisa mengikuti pembelajaran matematika pada pokok bahasan kubus dan balok. Dengan demikian, pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe CIRC dengan metode pemecahan masalah dapat meningkatkan hasil belajar dan keaktifan belajar matematika siswa.
Penelitian ini memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu menerapkan model pembelajaran Cooperative Integrated Reading and
Composition dalam pemecahan masalah pada mata pelajaran matematika.
Perbedaannya yaitu penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VIII B SMP N 1 Semarang dengan materi pokok kubus dan balok, sedangkan peneliti melaksanakan pada siswa kelas IV SD Negeri Langgen dengan materi pokok pecahan.
2.3 Kerangka Berpikir
Mata pelajaran matematika memiliki ciri khusus yaitu abstrak. Sehingga, banyak siswa menganggap matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang
sulit dan kurang menarik, terutama pada materi yang berkaitan dengan pemecahan masalah yang biasanya dituangkan dalam bentuk soal cerita. Dalam hal ini, siswa mengalami kendala untuk memahami maksud atau isi dari soal cerita yang diberikan. Sehingga, hasil pekerjaannya menjadi tidak sesuai dengan harapan. Semakin sering hal ini terjadi menjadikan siswa mudah putus asa dalam mengerjakan soal cerita.
Permasalahan ini menjadi lebih sulit lagi saat dihadapkan pada materi pecahan. Siswa di satu sisi sulit untuk memahami maksud atau isi dari soal cerita dan di sisi lain juga mengalami kesulitan saat menemui soal tentang pecahan. Siswa terkadang mengalami kesulitan saat harus menjumlahkan dan mengurangkan pecahan dengan penyebut yang berbeda.
Model pembelajaran konvensional yang biasanya hanya diisi dengan ceramah guru dan tugas kurang sesuai dengan konsep pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM). Dalam model pembelajaran konvensional, pembelajaran lebih berpusat pada guru, siswa cenderung pasif, dan tidak ada interaksi antar siswa. Kegiatan siswa hanyalah mendengarkan penjelasan guru dengan seksama, mata mengahadap ke papan tulis, belajar hanya dari guru atau bahan ajar, bekerja sendiri, dan lebih banyak diam. Hal ini menjadikan motivasi dan hasil belajar siswa rendah. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran kooperatif yang dapat memudahkan siswa dalam memahami maksud atau isi dari soal cerita sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika pada materi pecahan.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan guru adalah model pembelajaran kooperatif tipe Cooperative Integrated Reading and Composition
(CIRC). Dengan penerapan model ini motivasi dan hasil belajar siswa akan lebih baik dibandingkan dengan penerapan model pembelajaran konvensional.
Dari uraian di atas, untuk mempermudah pemikiran tersebut digunakan ilustrasi kerangka berfikir sebagai berikut:
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir
2.4 Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, diajukan hipotesis sebagai berikut: Pemecahan masalah
matematika pada materi pecahan Harus dikuasai siswa SD kelas IV Diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC
Diajarkan secara konvensional dengan metode ceramah dan tugas.
1. Siswa pasif 2. Tidak ada interaksi
antar siswa 3. Tidak ada
kelompok kooperatif 1. Siswa aktif
2. Ada interaksi antar siswa
3. Ada kelompok kooperatif
Motivasi dan hasil belajar siswa
Motivasi dan hasil belajar siswa Membandingkan
(1) Ho1: Motivasi belajar siswa pada materi pecahan yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Cooperatif Integrated Reading and
Composition tidak lebih baik daripada yang menerapkan model
pembelajaran konvensional.
(2) Ha1: Motivasi belajar siswa pada materi pecahan yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Cooperatif Integrated Reading and
Composition lebih baik daripada yang menerapkan model pembelajaran
konvensional.
(3) Ho2: Hasil belajar siswa pada materi pecahan yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Cooperatif Integrated Reading and
Composition tidak lebih baik daripada yang menerapkan model
pembelajaran konvensional.
(4) Ha2: Hasil belajar siswa pada materi pecahan yang pembelajarannya menerapkan model pembelajaran Cooperatif Integrated Reading and
Composition lebih baik daripada yang menerapkan model pembelajaran
konvensional.