• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

B. Deskripsi Data Sebelum Tindakan

3) Hasil Belajar

Hasil test pada siklus I materi makanan dan minuman halal dengan diikuti oleh 35 siswa dan menggunakan metode advokasi terdiri dari data nilai Pretest maupun Postest.

Pretest diperoleh dari hasil test sebelum siswa mempelajari materi tersebut dan belum diterapkannya metode pembelajaran advokasi, sedangkan nilai Postest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran Advokasi.

Data nilai Pretest dan Postest tersebut sebagai berikut : Tabel 4.1

Nilai N-Gain Siklus I

No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi

1 Abdul Rahman 60 70

0.25 Rendah

2 Afrizal 50 70

0.4 Sedang 3 Ahmad Abdan Sykuuron 50 60

4 Amelia Salsabila 60 80

0.5 Sedang

5 Arya Jaya Komara 60 70

0.25 Rendah 6 Aryani Astuti 60 60 0 Rendah 7 Bagas Sudjito 60 70 0.25 Rendah 8 Dewi Yulianti 60 70 0.25 Rendah 9 Diaz Erlangga 70 80 0.3 Sedang 10 Erifa Rohana Kholifah 50 70

0.4 Sedang 11 Fahrizki Zulfanur 40 60 0.3 Sedang 12 Hanifah Nurmalasari 70 80 0.3 Sedang 13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah 14 Irvan Fadhillah 70 80 0.3 Sedang 15 Kartika Sapitri 60 70 0.25 Rendah 16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang 17 M.Abdul Khodir 50 70 0.4 Sedang 18 M.Ridwansyah Pramudita H. 60 80 0.5 Sedang 19 Mardiana 70 90 0.67 Sedang 20 Megawati Sapitri 60 70 0.25 Rendah 21 Muhamad Arsyad 50 70 0.4 Sedang 22 Muhammad Fahmi Syahid 60 80

0.5 Sedang

23 Nanang Akkum 60 70

0.25 Rendah

24 Novitasari 60 70

0.25 Rendah 25 Prasasti Suci Rahayu 70 90

0.67 Sedang 26 Puput Fitriyani 40 70 0.5 Sedang 27 Rani Febriani 50 60 0.2 Rendah 28 Riki Setiawan 70 80 0.3 Sedang 29 Safitri 50 70 0.4 Sedang 30 Sekar Faddilah Mahharani 50 70

0.4 Sedang 31 Septiadi Biwa Putra 50 60

0.2 Rendah 32 Sherly Indah Permatasari 60 70

0.25 Rendah

33 Siti Fatimah 70 80

34 Sofi Sugiarti 60 80 0.5 Sedang 35 Wanda Maulidia 60 70 0.25 Rendah Jumlah 2050 2550 Rata-rata 58.6 72.9 0.35 Sedang

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar pada saat Pretest nilai terbesarnya adalah 70, dan nilai terkecil adalah 40 dengan jumlah 2050, dan nilai rata-rata 58,6. Sedangkan pada saat Postest, nilai terbesar adalah 90, dan nilai terkecil adalah 60 dengan jumlah total 2550, dengan rata-rata 8,45. Dengan begitu ketuntasan hasil belajar dapat di lihat dari hasil Postest dengan nilai KKM di atas 70 yang diperoleh pada siklus I adalah 72,9 hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pembelajaran advokasi mengalami peningkatan. Jika diukur dengan N-Gain, kemampuan rata-rata siswa sebesar 0,35 dengan kategori sedang. Namun penelitian ini harus dilanjutkan pada siklus II, karena belum mencapai ketuntasan hasil belajar atau dengan kata lain siswa di kelas belum 100% mencapai nilai lebih dari 70.

Berikut tabel distribusi frekuensi Pretest pada Siklus I : Tabel 4.2

Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif 1 40 – 45 2 2 ÷ 35 × 100 = 5,7 % 2 46 – 51 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 % 3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 4 58 – 63 16 16 ÷ 35 × 100 = 45,7 % 5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 6 70 - 75 8 8 ÷ 35 × 100 = 22,9 % Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai 40 – 45 sebanyak 2 siswa dengan persentase 5,7 %, nilai 46 – 51 sebanyak 9 siswa dengan persentase 25,7 %, rentang nilai 58 – 63 sebanyak 16 siswa dengan

persentase 45,7 %, Pada rentang 52 – 57 dan rentang 64 – 69 siswa tidak masuk dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0 %, sedangkan pada rentang nilai 70 - 75 terdapat 8 siswa dengan persentase 22,9 %.

Gambar 4.1

Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus 1

Berikut tabel distribusi frekuensi Postest pada Siklus I: Tabel 4.3

Distribusi Frekuensi Postest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif 1 60 – 65 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,3 % 2 66 – 71 18 18 ÷ 35 × 100 = 51,4 % 3 72 – 77 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 4 78 – 83 9 9 ÷ 35 × 100 = 25,7 % 5 84 – 89 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 6 90 – 95 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 % Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai 60 – 65 sebanyak 5 siswa dengan persentase 14,3 %, nilai 66 – 71 sebanyak 18 siswa dengan persentase 51,4 %, rentang nilai 78 – 83 sebanyak 9 siswa dengan

0 2 4 6 8 10 12 14 16 40 –45 46 –51 52 –57 58 –63 64 –69 70 - 75 Frekuensi frekuensi

persentase 25,7 %, Pada rentang 72 – 77 dan rentang 84 – 89 siswa tidak masuk dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0 %, sedangkan pada rentang nilai 90 - 95 terdapat 3 siswa dengan persentase 8,6 %.

Gambar 4.2

Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus 1

d. Tahap Refleksi

Dari hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan minat belajar siswa yang terlihat dari peningkatan hasil belajar siswa. Tapi, peningkatan tersebut belum maksimal, sehingga perlu adanya revisi pembelajaran dalam upaya meningkatkan motivasi belajar siswa. Hasil observasi yang telah dilaksanakan pada siklus I terdapat beberapa kendala dalam penerapan pembelajaran kooperatif , diantaranya, yaitu:

1) Siswa masih belum terbiasa menerapkan metode pembelajaran Advokasi. 2) Masih banyak siswa yang kurang mendengarkan dan memerhatikan ketika penyampaian materi dan peraturan debat karena siswa masih banyak yang saling bercanda serta mengobrol. Untuk selanjutnya guru harus lebih tegas terhadap siswa, memerhatikan dan mendengarkan ketika penyampaian materi.

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 60 –65 66 –71 72 –77 78 –83 84 –89 90 –95 Frekuensi Frekuensi

3) Masih belum tercipta pembelajaran yang efektif edukatif, karena siswa masih dihinggapi rasa takut dalam mengemukakan ide.

4) Alokasi waktu pembelajaran harus dapat di maksimalkan agar di akhir pembelajaran dapat menyimpulkan materi yang diberikan.

e. Keputusan Siklus I

Peneliti bersama guru mata pelajaran fiqih yang bertugas sebagai kolaborator dan observer menganalisis sekaligus mengevaluasi proses pembelajaran pada siklus I, tindakan yang diberikan sudah sesuai atau belum dengan konsep penelitian. Hasil penelitian siklus I dibandingkan dengan indikator keberhasilan.

Berdasarkan refleksi, siklus I ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa belum mencapai KKM yang ditentukan sebesar 70. Masih banyak siswa yang mendapatkan nilai di bawah KKM. Nilai rata-rata untuk Pretest hanya sebesar 58,9, saat Postest nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 72,8. Meskipun mengalami peningkatan pada saat postest namun masih ada siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM. Oleh karena itu perlu dilakukan tindak lanjut untuk memperoleh hasil belajar siswa yang diharapkan. Penelitian ini dilanjutkan pada siklus II, dengan memperbaiki desain pembelajaran sebaik mungkin, serta guru (peneliti) harus lebih berinteraksi dan membimbing siswa lebih baik lagi dalam proses belajar. 2. Tindakan Pembelajaran Siklus II

a. Tahap Perencanaan

Kegiatan pada siklus II, dilaksanakan pada hari selasa, 17 Maret 2015 membahas materi tentang “Makanan dan Minuman Haram”. Perencanaan yang akan dilaksanakan pada siklus II berdasarkan refleksi pada siklus I.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Tahap dalam pelaksanaan tindakan pada Siklus II sebenarnya sama saja pada tahap pelaksanaan tindakan pada Siklus I, hanya saja materi yang berbeda.

Pada Siklus II materi yang dibahas tentang makanan dan minuman haram. Namun dalam Siklus II ini, sudah terlihat perbaikan-perbaikan dari Siklus I.

c. Tahap Observasi 1) Catatan Lapangan

Berdasarkan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada saat siklus II berlangsung dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif metode advokasi, diperoleh catatan lapangan sebagai berikut:

Saat pembelajaran kelompok berlangsung suasana kelas sudah kondusif, hal ini terjadi karena siswa sudah mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan pembelajaran Fiqih di kelas dengan menggunakan metode advokasi. Mereka mulai terlihat saling bergotong royong dalam menyiapkan debat yang diarahkan oleh guru. Semua siswa dalam satu kelompok saling bergantian dalam debat sebagai juru bicara dalam kelompok, seluruh siswa telihat aktif dalam mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS).

Saat proses debat berlangsung, seluruh siswa sudah terlihat percaya diri dalam melakukan debat atau diskusi, mengemukakan pendapatnya, serta beradu argument dengan kelompok lawannya.

2) Wawancara

Berdasarkan catatan lapangan pada Siklus II dapat diketahui bahwa tindakan yang diberikan dengan menerapkan metode pembelajaran advokasi pada siklus II sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Suasana pembelajaran dengan menerapkan metode pembelajaran advokasi sudah optimal. Hal ini dikarenakan siswa sudah memahami langkah-langkah metode pembelajaran advokasi secara utuh, sehingga dapat menciptakan suasanan pembelajaran yang efektif.

Setelah pelaksanaan tindakan Siklus II selesai, dilakukan wawancara, di luar kelas. sama pada halnya Siklus I. Wawancara dilakukan kepada 4 orang siswa. Pencatatan dilakukan oleh peneliti dengan mewawancarai masing-masing siswa dalam satu kelompok yang dijadikan sebagai sampel wawancara. Berikut diperoleh data secara garis besar :

a) Siswa sudah dapat dengan mudah menerapkan metode pembelajaran advokasi, meskipun awalnya masih membingungkan menurut beberapa orang siswa, tetapi siswa merasa senang karena ada metode belajar baru yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

b) Sebagian besar siswa senang beradu argument dalam debat karena siswa dapat belajar untuk mengemukakan pendapatnya dalam debat atau diskusi .

c) Siswa merasa senang, karena mereka dapat menganalisis materi kemudian mempresentasikannya dalam bentuk debat, tanpa harus membuka buku dan membaca materi satu persatu, karena masing-masing kelompok mendapatkan satu materi yang nantinya akan dipelajari oleh seluruh siswa yang mencakup materi keseluruhan. d) Seluruh siswa sudah aktif dalam tanya jawab pada saat debat atau

diskusi, semua siswa bergantian menjadi juru bicara dalam debat, dan kelompok yang ditanya dapat menjawab pertanyaan yang diajukan dengan baik, dan benar.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 4 orang siswa sebagai sampel, dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa mulai terbiasa dan menyukai metode pembelajaran advokasi. Dengan metode pembelajaran advokasi siswa termotivasi untuk memerhatikan penjelasan dari guru dan terbiasa untuk mengemukakan pendapat di depan kelas serta diharapkan mampu menganalisis materi kemudian menyajikannya dalam debat.

3) Hasil Belajar

Berdasarkan hasil test (Pretest dan Postest) yang diperoleh pada siklus II, dengan jumlah siswa sebanyak 35 orang dalam satu kelas dengan menggunakan metode pembelajaran advokasi. Data nilai Pretest diperoleh dari hasil test sebelum siswa mempelajari materi tersebut dan belum diterapkannya metode pembelajaran advokasi, serta nilai Postest diperoleh dari hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran advokasi. Adapun data tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 4.4 Nilai N-Gain Siklus II

No Nama Siswa Pretes Postes Gain (g) Interpretasi

1 Abdul Rahman 60 80

0.5 Sedang

2 Afrizal 60 70

0.25 Rendah 3 Ahmad Abdan Sykuuron 60 80

0.5 Sedang

4 Amelia Salsabila 40 70

0,5 Sedang

5 Arya Jaya Komara 70 80

0.33 Sedang 6 Aryani Astuti 60 80 0.5 Sedang 7 Bagas Sudjito 60 90 0.75 Tinggi 8 Dewi Yulianti 60 80 0.5 Sedang 9 Diaz Erlangga 70 80 0.33 Sedang 10 Erifa Rohana Kholifah 50 70

0.4 Sedang 11 Fahrizki Zulfanur 60 80 0.5 Sedang 12 Hanifah Nurmalasari 70 100 1 Tinggi 13 Hardiansyah 60 70 0.25 Rendah 14 Irvan Fadhillah 70 80 0.33 Sedang 15 Kartika Sapitri 60 80 0.5 Sedang 16 Leni Sopiani 70 90 0.67 Sedang 17 M.Abdul Khodir 50 80 0.6 Sedang 18 M.Ridwansyah Pramudita H. 50 100 1 Tinggi 19 Mardiana 70 80 0.33 Sedang 20 Megawati Sapitri 60 90 0.75 Tinggi 21 Muhamad Arsyad 60 80 0.5 Sedang 22 Muhammad Fahmi Syahid 70 80

0.33 Sedang

23 Nanang Akkum 60 70

0.25 Rendah

24 Novitasari 70 90

0.67 Sedang 25 Prasasti Suci Rahayu 70 80

0.33 Sedang

26 Puput Fitriyani 60 90

0.75 Tinggi

27 Rani Febriani 60 80

28 Riki Setiawan 70 80

0.33 Sedang

29 Safitri 70 100

1 Tinggi 30 Sekar Faddilah Mahharani 60 80

0.5 Sedang 31 Septiadi Biwa Putra 60 80

0.5 Sedang 32 Sherly Indah Permatasari 70 100

1 Tinggi 33 Siti Fatimah 70 80 0.33 Sedang 34 Sofi Sugiarti 70 90 0.67 Sedang 35 Wanda Maulidia 60 80 0.5 Sedang Jumlah 2190 2890 18.7 Rata-rata 62.6 82.6 0.53 Sedang

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, dapat dilihat bahwa hasil belajar pada saat Pretest nilai terbesarnya adalah 70, dan nilai terkecil adalah 40 dengan jumlah total 2190 dengan nilai rata-rata 62,6. Sedangkan pada saat Postest, nilai terbesar adalah 100, dan nilai terkecil adalah 70 dengan jumlah total 2890, dengan rata-rata 82,6. Dengan begitu ketuntasan hasil belajar dapat di lihat dari hasil Postest dengan nilai KKM di atas 70 yang diperoleh pada siklus II adalah 82,6 hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode pembelajaran advokasi mengalami peningkatan. Jika diukur dengan N-Gain, kemampuan rata-rata siswa sebesar 0,53 dengan kategori sedang.

Berikut tabel distribusi frekuensi Pretest pada Siklus II : Tabel 4.5

Distribusi Frekuensi Pretest Siklus I

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif 1 40 – 45 1 1 ÷ 35 × 100 = 2,8 % 2 46 – 51 3 3 ÷ 35 × 100 = 8,6 % 3 52 – 57 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 4 58 – 63 17 17 ÷ 35 × 100 = 48,6 % 5 64 – 69 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 %

6 70 - 75 14 14 ÷ 35 × 100 = 40 %

Jumlah 35 100%

Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang masuk dalam rentang nilai 40 – 45 sebanyak 1 siswa dengan persentase 2,8 %, nilai 46 – 51 sebanyak 3 siswa dengan persentase 8,6 %, rentang nilai 58 – 63 sebanyak 17 siswa dengan persentase 48,6 %, Pada rentang 52 – 57 dan rentang 64 – 69 siswa tidak masuk dalam kategori rentang nilai tersebut dan memiliki kesamaan persentase sebesar 0 %, sedangkan pada rentang nilai 70 - 75 terdapat 14 siswa dengan persentase 40 %.

Gambar 4.3

Diagram Batang Frekuensi Nilai Pretest Siklus II

Dari gambar di atas, terlihat bahwa frekuensi tertinggi pada nilai pretest siklus dua terdapat pada rentang nilai 58-63. Selanjutnya, berikut tabel distribusi frekuensi Postest pada Siklus II:

Tabel 4.6

Distribusi Frekuensi Postest Siklus II

No. Nilai Frekuensi Frekuensi Relatif 1 70 – 75 5 5 ÷ 35 × 100 = 14,29 % 2 76 – 81 20 20 ÷ 35 × 100 = 57,14 % 3 82 – 87 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 0 5 10 15 20 40 –45 46 –51 52 –57 58 –63 64 –69 70 - 75

Frekuensi

Frekuensi

4 88 – 93 6 6 ÷ 35 × 100 = 17,14 % 5 94 - 99 0 0 ÷ 35 × 100 = 0 % 6 100 – 105 4 4 ÷ 35 × 100 = 11,43 %

Jumlah 35 100%

Berikut gambaran diagram batang frekuensi nilai postest pada siklus II : Gambar 4.4

Diagram Batang Frekuensi Nilai Postest Siklus II

Dari gambar di atas tampak bahwa frekuensi tertinggi terdapat pada rentang nilai 76-81, ini menunjukkan bahwa rata-rata siswa pada saat postest siklus 2 memperoleh skor pada kisaran nilai 76-81. Sedangkan siswa yang mendapatkan nilai tertinggi berjumlah 4 orang dengan skor 100. Pada postest ini tidak ada siswa yang mendapat nilai dibawah KKM.

d. Tahap Refleksi

Berdasarkan pengamatan selama penelitian siklus II diperoleh keterangan bahwa pembelajaran Fiqih di kelas VIII sudah mulai efektif. Siswa mulai terbiasa menggunakan metode pembelajaran advokasi. Siswa nampak lebih aktif saat proses pembelajaran sehingga menciptakan keadaan pembelajaran yang lebih efektif dibandingkan siklus I.

0 5 10 15 20 70 –75 76 –81 82 –87 88 –93 94 - 99 100 –105

Frekuensi

Frekuensi

Nilai rata-rata untuk Pretest pada siklus II (62,6) lebih meningkat dibandingkan Pretest Siklus I yang hanya sebesar 58,6. Setelah dilakukan Postest pun nilai rata-rata hasil postest siklus ke II lebih tinggi jika dibandingkan nilai Postest Siklus I.

Seluruh siswa sudah memperoleh nilai melebihi standar KKM atau dapat dikatakan keberhasilan mencapai 100%. Jika dihitung menggunakan rumusan N-Gain kemampuan siswa setelah belajar menggunakkan metode Advokasi mengalami peningkatan sebesar 0,53 dan termasuk dalam kategori sedang.

e. Keputusan Siklus II

Berdasarkan hasil refleksi siklus II diperoleh dari hasil belajar dan aktivitas belajar siswa juga respons siswa yang positif tentang metode pembelajaran yang digunakan yaitu metode pembelajaran advokasi, hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan kemampuan siswa dalam memahami materi hukum Islam tentang makanan dan minuman sudah mencapai kriteria yang diharapkan. Hasil dari siklus II sudah mencapai di atas KKM berarti tindakan sudah dapat dihentikan dan tidak perlu melanjutkan pada siklus selanjutnya.

D. Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan observasi peneliti sebelum menerapkan metode pembelajaran Advokasi berbagai masalah dalam pembelajaran fiqih siswa kelas VIII-1 MTs Al-Huda Bekasi Timur diantaranya adalah metode pembelajaran yang digunakan oleh guru adalah ceramah sehingga siswa merasa bosan dan jenuh. Kelas terlihat pasif karena siswa kurang terlibat dalam proses pembelajaran, hal inilah yang membuat minat belajar siswa rendah dan membuat hasil belajar mereka juga menurun.

Saat memberlakukan metode Advokasi di dalam proses pembelajaran secara keseluruhan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I telah berpusat pada siswa, siswa lebih aktif dibandingkan guru. Metode pembelajaran advokasi terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa, ini dapat terlihat pada nilai Pretest dan Postest pada siklus I dengan nilai rata-rata pretest 58,6 mengalami

peningkatan sebesar 72,9 pada saat postest namun masih ada siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Sehingga dilanjutkan pada siklus II dengan perolehan nilai rata-rata pretest sebesar 62,6 yang kemudian nuga mengalami peningkatan pada saat postest dengan perolehan nilai rata-rata postest sebesar 82,6.

Setelah diterapkannya Siklus I dan Siklus II dapat dilihat ternyata dengan diterapkannya metode Advokasi hasil belajar siswa pada mata pelajaran fiqih mengalami peningkatan dibandingkan sebelum diterapkannya metode pembelajaran advokasi, karena dengan menggunakan metode pembelajaran ini tiap siswa dapat belajar dengan aktif.

Seperti yang dikatakan oleh Oemar Hamalik, belajar dengan menggunakan metode advokasi menuntut siswa menjadi advokat dari pendapat tertentu yang bertalian dengan topik yang tersedia. Para siswa dapat menggunakan keterampilan riset, keterampilan analisis, dan keterampilan berbicara dan pendengar, sebagaimana mereka berpartisipasi dalam kelas pengalaman advokasi, mereka dihadapkan pada isu-isu kontoversial dan harus mengembangkan suatu kasus untuk mendukung pendapat mereka di dalam perangkat petunjuk dan tujuan-tujuan khusus. Pada akhir pelajaran pada siklus I, dan siklus II guru menarik kesimpulan secara bersama-sama dengan siswa untuk menghindari terjadinya miskonsepsi.

Dokumen terkait