HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Hasil Belajar
a. Perbandingan Nilai Statistik Hasil Belajar Kedua Siklus
Berdasarkan analisis terhadap nilai tes akhir siklus I dan II setelah menerapkan Metode Discovery dapat dilihat perbandingan antara kedua siklus. Berikut tabel
perbandingan statistik skor hasil belajar IPA konsep perubahan sifat benda.
Tabel 10. Distribusi Nilai Statistik Hasil Belajar Siklus I dan siklus II
No Statistik Silus I Siklus II
1 Subjek 26 26
2 Skor ideal 100 100
3 Skor maksimum 90 100
4 Skor minimum 40 59
5 Rentang skor 50 41
6 Rata-rata 57,17 73,07
Sumber : Diolah dari daftar nilai Kedua Siklus,Lampiran 5
Berdasarkan Tabel diperoleh data skor statistik yaitu subjek siklus I dan siklus II sama yaitu 26 orang, skor ideal siklus I sama dengan siklus II 100,skor rata-rata siklus I 57,17 meningkat menjadi 73,07 pada siklus II, skor maksimum pada siklus I 90 dan siklus II yaitu 100, kemudian untuk siklus I skor terendah 40 dan siklus II skor terendah 59, dan rentang skor pada siklus I yaitu 50 dan siklus II yaitu 41. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik perbandingan nilai statistik antara siklus I dan II.
Gambar 4. Distribusi Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II
Adanya perubahan perolehan skor statistik hasil belajar murid pada siklus II yang meningkat karena penggunaan metode Discovery pada siklus II dibuat lebih menarik dengan memberi penghargaan bagi kelompok yang terbaik sehingga murid lebih bergairah dan bersemangat dalam mempelajari materi. Dalam diskusi, setiap murid juga dituntut turut berpartisipasi secara aktif memperoleh kesempatan berbicara atau berdialog satu sama lain untuk bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik sehingga banyak yang mereka pelajari.
Menurut Putra (2009:127) salah satu komponen yang sangat menentukan terhadap berhasil atau tidaknya suatu proses pengajaran adalah metode. Dalam hal ini, dipilih metode diskusi karena metode ini akan mendorong siswa berpikir sistimatis dengan menghadapkannya dengan masalah-masalah yang akan dipecahkan. Selain itu, dengan metode diskusi, murid pun dapat terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan diskusi pula, murid bisa saling bertukar informasi, menerima informasi, dan mempertahankan pendapatnya dalam rangka pemecahan masalah yang dapat di tinjau dari berbagai segi.
b. Perbandingan Kategori Hasil Belajar Kedua Siklus
Berdasarkan hasil evaluasi siklus I dan siklus II, hasil belajar siswa kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar terjadi peningkatan. Adapun analisa terhadap nilai tes akhir siklus I dan II setelah menerapkan Metode Discovery dikelompokkan dalam 5 kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi skor.
Tabel 11. Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar IPA
Skor Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Siklus I Siklus II Siklus I Siklus II
0 – 48 7 - 27 0 Sangat rendah
49 – 61 7 1 27 3 Rendah
62 – 74 8 14 29 55 Sedang
75 – 87 4 9 17 37 Tinggi
88 – 100 - 2 0 5 Sangat Tinggi
Jumlah 26 26 100 100
Sumber : Diolah dari Analisis Data Kedua Siklus, Lampiran 7
Berdasarkan Tabel di atas distribusi frekuensi skor hasil belajar IPA konsep perubahan sifat benda dikelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar untuk kategori sangat rendah pada Siklus I terdapat 7 orang atau 27 % dan siklus II tidak terdapat murid yang mendapat skor sangat rendah, untuk kategori rendah pada Siklus I terdapat 7 orang atau 27 % dan siklus II terdapat 1 orang atau 3 %, untuk kategori sedang pada Siklus I terdapat 8 orang atau 29 % dan siklus II terdapat 14 orang atau 55 %, untuk kategori tinggi pada Siklus I terdapat 4 orang atau 17 % dan siklus II terdapat 9 orang atau 37 %, dan untuk kategori sangat tinggi pada Siklus I tidak ada siswa yang memperolehnya atau 0 % dan siklus II terdapat 2 orang atau 5 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 5. Distribusi Hasil Belajar IPA Konsep Perubahan sifat benda dikelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar
Melihat hasil perbandingan skor perolehan murid pada pembelajaran IPA konsep perubahan sifat benda menunjukan peningkatan pada siklus II. Dalam peningkatan ini guru memberikan inisiasi, apersepsi, eksplorasi terhadap murid agar lebih ikut serta dalam memaknai pembelajaran dan pemilihan media pembelajaran yang tepat. Selain itu penerapan Metode Discovery pada konsep perubahan sifat bendalebih dioptimalkan seperti identifikasi masalah-masalah setempat, penggunaan sumber setempat, penekanan pada keterampilan proses sehingga murid bisa memecahkan masalah dan memberi kesempatan bagi murid untuk berperan memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi.
Putra (2009:144) juga menjelaskan bahwa berdasarkan kerakteristik Metode Discovery dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan Metode Discovery diawali dengan penajuan hipotesis, dan itulah yang yang merupakan ciri utamanya. Sebab dengan mengajukan hipotesis murid terdorong untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah yang diakibatkan oleh hipotesis tersebut.
27 27 29
Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi
Siklus I
c. Ketuntasan Belajar Kedua Siklus
Hasil belajar siswa pada siklus I dan II dianalisis, maka adapun perbandingan dan peningkatan ketuntasan belajar siswa pada siklus I dan II dapat dilihat dari tabel Ketuntasan Belajar di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar siklus I dan II.
Tabel 12. Distribusi Ketuntasan Belajar Murid siklus I dan Siklus II Tingkat
Sumber: Diolah dari Penilaian Ketuntasan Murid, Lampiran 6
Berdasarkan tabel tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I persentase ketuntasan murid sebesar 45 % yaitu 12 murid termasuk kategori tuntas dan 12 murid atau 45 % dari 26 murid yang termasuk kategori tidak tuntas. Sedangkan pada siklus II persentase ketuntasan murid sebesar 97 % yaitu 25 murid termasuk kategori tuntas dan 1 murid atau 3 % dari 26 murid yang termasuk kategori tidak tuntas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik berikut ini.
Gambar 6. Distribusi Ketuntasan Belajar Murid Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Siklus I dan Siklus II
55
Dari kedua penjelasan diatas menunjukan peningkatan ketuntusan belajar murid dari siklus I ke siklus II. Hal ini berdasarkan hasil yang dicapai pada siklus I yang tergolong rendah maka perencanaan siklus II perlu direvisi yang hasilnya akan dijadikan acuan pada pelaksanaan tindakan siklus II dan membuat rancangan pembelajaran dengan baik.
Perencanaan ini sejalan dengan pendapat Kurt Lewin (Sanjaya,2009) yang menyatakan penelitian tindakan kelas mengikuti proses siklus daur ulang melalui perencanaan, pelaksanaan, obsevasi dan refleksi.