MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KONSEP PERUBAHAN SIFAT BENDA PADA MATA PELAJARAN IPA MELALUI METODE
DISCOVERY DI KELAS V SDN KOMPLEKS SAMBUNG JAWA KECAMATAN MAMAJANG
KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
OLEH :
MUHAMMAD RAPI LASBI 10540 3176 09
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDY PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
2014
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar Tlp. 0411 866973
PERSETUJUAN PEMBIMBING Nama Mahasiswa : MUH. RAPI LASBI
Stambuk : 10540 3176 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil belajar Konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA melalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar.
Setelah diperiksa dan diteliti ulang, skripsi ini dinyatakan telah memenuhi persyaratan untuk diujikan.
Makassar, Juni 2014 Disetujui Oleh
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Syarifuddin Kune, M.Si Dra. Andi Marliah Bakri, M.Si
Diketahui oleh :
Dekan/Penanggungjawab Program Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, Ma., Ph.D
NBM : 858 625 NBM. 970 635
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar Tlp. 0411 866973 LEMBAR PENGESAHAN
Nama : Muh. Rapi Lasbi
Nim : 10540 3176 09
Jurusan : S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil belajar Konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA melalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar.
Setelah diperiksa dan di teliti ulang, skripsi ini dinyatakan telah memenuhi persyaratan untuk diujikan.
Makassar, Juni 2014
Disetujui Oleh
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Syarifuddin Kune, M.Si Dra. Andi Marliah Bakri, M.Si Diketahui oleh :
Dekan/Penanggung jawab Program Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, Ma., Ph.D
NBM : 858 625 NBM. 970 635
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muh. Rapi Lasbi Nim : 10540 3176 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul : Meningkatkan Hasil belajar Konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA melalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar.
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan didepan tim penguji adalah asli karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Juni 2014 Yang Membuat Pernyataan
Muh. Rapi Lasbi Disetujui oleh,
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. Syarifuddin Kune, M.Si Dra. Andi Marliah Bakri, M.Si
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Muh. Rapi Lasbi
Nim : 10540 3176 09
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi ini (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam menyusun skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian ini seperti pada butir 1, 2, 3, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, Juni 2014 Yang Membuat Perjanjian
Muh. Rapi Lasbi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Ilmu ibarat perisai yang dapat mengalahkan segalanya Tanpa ilmu kita akan buta,
Maka tuntutlah ilmu selagi Tuhan memberikan nafas dan umur panjang
Karya ini kupersembahkan sebagai darma baktiku kepada
Ayahanda dan Ibunda tercinta yang telah mencurahkan kasih
sayang yang tulus, yang selalu berdoa untuk keselamatan, yang
mencintai dan menyayangiku dengan sepenuh hati beserta
keluarga besarku yang telah memberi kan dorongan dan motivasi
yang menjadi tumpuan untuk meraih kesuksesan.
ABSTRAK
Muh. Rapi Lasbi .2014. Skripsi.Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Perubahan Sifat Benda Pada Mata Pelajaran IPA Melalui Metode Discovery Di Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar. Pembimbing: (1) Syarifuddin Kune, dan (2) Andi Marliah Bakri, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ide awal penelitian ini karena rendahnya hasil belajar IPA khususnya pada pokok bahasan Perubahan Sifat Benda masih cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas tanpa melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut. masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Metode Discovery dapat meningkatkan hasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui apakah Metode Discovery dapat meningkatkan hasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kualitatif yang terdiri dari 2 siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.Data penelitian ini adalah data aktifitas siswa dan hasil belajar siswa dalam memahami konsep perubahan sifat benda yang diperoleh melalui observasi, tes, wawancara dan catatan lapangan.Hasil yang diperoleh dari Metode Discovery yang terdiri dari perumusan masalah, penetapan jawaban sementara, peserta didik mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis, menarik kesimpulan dari jawaban dan aplikasi kesimpulan menunjukan bahwa ada peningkatan yang berarti baik pada aktivitas guru maupun siswa pada saat proses belajar maupun hasil belajar memahami konsep perubahan sifat benda. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa dengan menggunakan metode discovery dapat meningkatkan hasil belajar siswa terhadap materi perubahan sifat benda di Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar. Saran peneliti adalah kepada guru, diharapkan dapat menerapkan Metode Discovery dalam pembelajaran IPA materi perubahan sifat benda.
KATA KUNCI :
KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT.atas segala petunjuk, rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Salam dan salawa tsemoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai rahmat bagi semesta alam dan teladan yang mulia.
Skripsi dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Konsep Perubahan Sifat Benda Pada Mata Pelajaran IPA melalui Metode Discovery di Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar””diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selama penulisan skripsi ini cukup banyak hambatan yang dihadapi, namun hanya dari pertolongan Allah SWT. Yang hadir lewat uluran tangan dan bantuan dari berbagai pihak sehingga semua rintangan dan hambatan dapat diatasi. Melalui kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan teristimewa dan terimakasih yang tak terhingga kepada Ayahanda (Alm.) B. Lasbi dan Ibunda Nursiah yang dengan segala pengorbanannya dalam mengasuh, mendidik penulis dengan penuh kasih sayang dan kesabaran serta senantiasa mendoakan keberhasilan penulis.
Demikian pula penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr. Syarifuddin Kune, M.Si.sebagai pembimbing I dan Ibu Dra. Andi Marliah Bakri, M.Si sebagai pembimbing II atas kesediaan dan kesungguhannya dalam memberikan bimbingan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir
penulisan skripsi ini. Selain itu ucapan terima kasih juga pada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, mereka yang telah berjasa di antaranya adalah:
1. Bapak Dr. H. Irwan Akib, M.Pd. sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Bapak Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum. sebagai Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Ibu Sulfasyah, MA., Ph.D selaku Ketua Jurusan S-1 PGSD FKIP Universitas Muhammadiyah makassar.
4. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan studi di perguruan tinggi ini.
5. Ibu Hj. Hasnawiah, S.Pd. sebagai Kepala Sekolah SDN Kompleks Sambung Jawa yang telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian.
6. Bapak Irwan Ali, S.Pd. sebagai Wali Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa atas kesediaannya menemani peneliti dalam melaksanakan penelitian
7. Siswa Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa atas kesediaannya menjadi subjek penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Saudara-saudaraku tercinta Julandi Lasbi, Sulpi Lasbi, Basuk I Lasbi, Rahmi Lasbi serta seluruh keluargaku yang telah memberikan perhatian, dorongan, bantuan dan doa yang tak henti-hentinya demi kesuksesan penulis.
9. Saudara-saudaraku di UKM SENI DAN BUDAYA TALAS Universitas Muhammadiyah Makassar yang senantiasa memberikan semangat.
10. Kakanda Sertu Irawan Syukur dan Rusmina S yang senantiasa memberikan dukungan semangat sekaligus motivasi.
11. Saudara-saudaraku di kelas O PGSD Unismuh Makassar dan seluruh keluarga besar PGSD yang tidak saya sebut namanya satu persatu, terima kasih atas cinta, ketulusan dan warna kehidupan yang telah kalian ukir dalam kehidupanku.
12. Saudara-saudaraku di Organda IPMIL LUWU RAYA dan PEMILAR LUWU UTARA yang tak bias saya sebutkan satu persatu.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa karya ini masih belum sempurna, maka dari itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat kepada mereka yang membutuhkannya. Amin.
Makassar, Juni 2014
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL SKRIPSI ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iv
SURAT PERJANJIAN ………... v
MOTTO ... vi
ABSTRAK ... …. vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
DAFTAR TABEL ……… xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar belakang masalah... 1
B. Rumusan dan pemecahan Masalah ... 7
C. Tujuan penelitian ... 9
D. Manfaat hasil penelitian ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS ... 11
A. Kajian Pustaka ... 11
1. Konsep perubahan sifat benda ... 11
2. Metode Discovery ... 14
3. Hasil Belajar IPA ... 19
4. Pembelajaran IPA di SD ... 22
B. Kerangka berpikir... 25
C. Hipotesis tindakan ... 27
BAB III METODE PENELITIAN ... 28
A. Jenis Penelitian... 28
B. Setting dan subjek penelitian ... 29
C. Fokus penelitian ... 29
D. Prosedur Penelitian ... 30
E. Tekhnik Pengumpulan data... 35
F. Teknik Analisis Data... 35
G. Indikator Keberhasilan ... 37
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 38
A. Hasil Penelitian ... 38
B. Pembahasan... 46
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
A. Kesimpulan ... 55
B. Saran ... 55
DAFTAR PUSTAKA ... 59
LAMPIRAN ... 60
RIWAYAT HIDUP………. 108
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.Kerangka Pikir ………... 27
Gambar 2.Tahap Penelitian ……… 31
Gambar 3.Perbandingan aktivitas murid siklus I dan II ………. 48
Gambar 4.Perbandingan skor statistik siklus I dan II ………. 51
Gambar 5.Perbandingan skor hasil belajar IPA ………. 53
Gambar 6.Perbandingan tingkat ketuntasan belajar murid siklus I dan II …….. 55
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP )... 60 RPP Siklus I... 60
RPP Siklus II...71 LAMPIRAN 2
Lembar observasi guru... 82 LAMPIRAN 3
Lembar observasi aktivitas murid... 86
LAMPIRAN 4
Lembar Tes Formatif Siklus I dan II... 88 LAMPIRAN 5
Daftar nilai siklus 1 dan 2 …... 90 LAMPIRAN 6
Data Penelitian Ketuntasan Murid... 94 LAMPIRAN 7
Analisis Data Siklus 1 dan 2………95
LAMPIRAN 8
Format pedoman wawancara... 97
Hasil wawancara siklus 1 dan 2... 98 LAMPIRAN 9
Lembar Kegiatan Siswa (LKS)...100 LAMPIRAN 10
Dokumentasi... 104 LAMPIRAN 11
Persuratan...107
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Observasi Aktivitas Murid Pada Siklus I………... .... 39
Tabel 2. Statistik Skor Hasil Belajar Murid Kelas V pada Siklus I ... 40
Tabel 3. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPA ... 41
Tabel 4. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas V pada Siklus I ... 42
Tabel 5. Observasi Aktifitas Murid Pada Siklus II ... 43
Tabel 6. Statistik Skor Hasil Belajar Murid Kelas V pada Siklus II ... 44
Tabel 7. Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPA ... 45
Tabel 8. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas V pada Siklus II... 45
Tabel 9. Perbandingan dan Presentase Aktifitas Murid Selama Proses Pembelanjaran pada Siklus I dan Siklus II ... 47
Tabel 10. Perbandingan Nilai Statistik Hasil Belajar Siklus I ... dan Siklus II ... 50
Tabel 11. Perbandingan Frekuensi Skor Hasil Belajar IPA Konsep perubahan sifat benda di Kelas V ... 52
Tabel 12. Perbandingan Tingkat Ketuntasan Belajar Murid Kelas V Siklus I dan Siklus II ... 54
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan salah satu tindakan edukatif yang dilakukan guru di dalam kelas melalui proses pembelajaran dengan tindakannya berorientasikan pada pengembangan diri atau pribadi siswa secara utuh, artinya terjadi pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam diri siswa. Proses pembelajaran merupakan salah satu faktor penting untuk memperoleh hasil yang baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai guna meningkatkan kualitas belajar siswa. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran guru harus benar-benar kompeten dalam menciptakan aktivitas pembelajaran melalui serangkaian kegiatan untuk memberikan pengalaman belajar yang berkaitan dengan aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor.
Adapun salah satu disiplin ilmu yang diajarkan di sekolah dasar adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran IPA berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.
Pembelajaran IPA yang tepat bagi siswa SD adalah harus sesuai dengan struktur kognitif anak, yaitu materi IPA harus menyederhanakan konsep yang terstruktur dan mereka bisa membangun sendiri pola pikir maupun ide-ide tentang peristiwa alam yang diperoleh dari pengalaman mereka, karena proses perkembangan belajar siswa SD memiliki kecenderungan beranjak dari hal-hal yang abstrak ke hal-hal yang konkrit (nyata), yaitu memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu kebutuhan melalui serangkaian proses.
Guru hendaknya memandang pembelajaran IPA tidak hanya menekankan pada hasil, tetapi juga menekankan pada proses memahami konsep, sehingga dapat membantu siswa
1
untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Jika guru dalam mengajarkan konsep IPA lebih menekankan pada proses yaitu siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri untuk memahami masalah atau objek yang diamati, dapat membawa dampak positif bagi kemajuan belajar siswa yang berorientasi pada peningkatan hasil dan prestasi belajar siswa.Dengan memberikan kesempatan kepada siswa mengkonstruksi pemikirannya sendiri, siswa dapat belajar aktif, kreatif, menumbuhkan kesan bermakna dan menarik bagi siswa.
Pendidikan IPA juga diharapkan dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dalam proses pembelajarannya diarahkan untuk ”mencari tahu” dan ”berbuat” dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah agar siswa menemukan sendiri bahan pembelajaran berdasarkan hasil pengamatannya sehingga materi yang dipelajari lebih membekas pada diri siswa. Melalui pemberian pengalaman langsung juga dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar secara ilmiah.
Melalui pembelajaran seperti itu, siswa dilatih untuk berpartisipasi secara aktif dan kreatif dalam melakukan berbagai praktikum, sehingga penguasaan konsep akan lebih mudah dan pembelajaranpun akan menjadi lebih bermakna (meaningful learning).
Selain itu, dengan pembelajaran melalui pengalaman langsung seperti disebutkan di atas, siswa dapat mengembangkan sikap ilmiah dan sistem nilai dalam proses keilmuannya.
Sikap ilmiah tersebut meliputi sikap kritis, hasrat ingin tahu, hati-hati, tekun, kreatif untuk penemuan baru, berpikiran terbuka, sensitif terhadap lingkungan dan bekerjasama dengan orang lain. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gega (Bundu, 2004) bahwa pada tingkat Sekolah Dasar ada empat sikap yang perlu dikembangkan, yakni (1) sikap ingin tahu
(curioucity), (2) penemuan (inventiveness), (3) berpikir kritis (critical thinking), (4) teguh pendirian (presistence). Semua sikap ilmiah tersebut relevan dengan karakteristik pembelajaran IPA, sehingga sangat penting untuk dimiliki siswa dalam upaya mengembangkan kepribadiannya.
Oleh karena itu, pembelajaran IPA di SD/MI hendaknya menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah melalui percobaan-percobaan yang materinya dihubungkan dengan konsepsi awal (skemata) siswa sebagaimana yang tercantum dalam standar isi kurikulum.
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD berdasarkan Kurikulum KTSP merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada kemampuan
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas,2006) mata pelajaran IPA di sekolah dasar mempunyai tujuan, yaitu:
1) Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya, 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep ilmu pengetahuan alam yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang hubungan yang saling mempengaruhi antara pembelajaran IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, 4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, 5) Meningkatkan kesadaran untuk lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
Hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil intraktif dengan lingkungan. Hasil belajar IPA tentu saja harus dikaitkan dengan tujuan pendidikan IPA yang telah dalam garis-garis besar program pembelajaran IPA di sekolah dengan tidak melupakan hakekat pembelajaran IPA itu sendiri.
Hasil belajar IPA diharapkan tercermin dari kemampuan siswa bersikap dan bertingkah laku yang baik, dalam memahami fenomena-fenomena alam yang terjadi dilingkungannya. Olehnya itu guru perlu merancang suatu pembelajaran yang menarik bagi siswa, sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran IPA tercapai.
Dalam KTSP 2006 pembelajaran IPA SD ada beberapa kajian materi yang harus dikuasai siswa SD, salah satu bahan kajian itu adalah Perubahan Sifat Benda. Konsep dan keterampilan yang tercakup dalam Perubahan Sifat Benda sangat baik untuk siswa karena siswa harus dibiasakan untuk melakukan eksperimen, observasi, mengumpulkan data, menguji konsep dan membuat suatu keputusan dan siswa dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembelajaran Perubahan Sifat Benda menjadi bermakna bagi siswa, namun kenyataan pembelajaran IPA di SD masih bersifat konvensional, artinya guru masih menggunakan metode ceramah, pemberian contoh dan latihan serta kurang melibatkan siswa untuk melakukan suatu percobaan secara langsung.
Sehingga siswa kurang memahami apa yang disajikan oleh guru.
Hal ini juga terjadi di SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makassar. Berdasarkan dari hasil pelaksanaan tes awal yang dilakukan di peroleh data hasil ulangan harian siswa kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kota Makasar dengan nilai rata-rata 57,17 dari 26 siswa. Nilai ini belum memenuhi standar ketuntasan minimal yang telah di tetapkan sebelumnya di sekolah tersebut yaitu 70. Hal ini juga di perkuat oleh data hasil tes awal dan yang dilakukan oleh peneliti di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang Kota Makassar.Hal tersebut terjadi karena: (1) Proses pembelajaran IPA khususnya pada pokok bahasan Perubahan Sifat Benda masih cenderung menggunakan metode ceramah dan pemberian tugas tanpa melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran tersebut, sehingga siswa hanya sebatas mengingat dan mengetahui apa yang disampaikan guru dalam proses pembelajaran,(2) Guru dalam memberikan pertanyaan hanya sebatas pertanyaan ingatan dan
pengetahuan saja, kurang mengarah pada pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada pengembangan kreativitas berfikir anak dengan menghubungkan antara materi Perubahan Sifat Benda yang diajarkan dengan fenomena-fenomena yang ada dilingkungan sekitar siswa, sehingga siswanya hanya memperoleh pengetahuan berdasarkan informasi dari guru, bukan berdasarkan pengalaman siswa, dimana siswa dengan kreativitas berfikirnya sendiri menemukan dan memahami materi Perubahan Sifat Benda,(3) Guru dalam mengajarkan materi Perubahan Sifat Benda hanya menggunakan dan menampilkan media gambar dari karton, dan siswa hanya berpatokan pada buku saja, sehingga siswa hanya sebatas menyimak dan menyaksikan media gambar yang ditampilkan guru, tanpa melihat secara langsung untuk apa konsep itu diajarkan, dan (4) siswa kurang diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pemikirannya sendiri dalam memahami, mengaitkan dan menghubungkan antara konsep Perubahan Sifat Benda yang diajarkan dengan fenomena-fenomena yang ada di lingkungan sekitar siswa, sehingga kreativitas berfikir siswa dalam memahami materi rendah. Hal ini menimbulkan kebosanan siswa dalam proses pembelajaran, oleh karena itu diperlukanlah suatu metode yang dapat meningkatkan minat belajar siswa. Salah satunya dengan menggunakan Metode Discovery.
Metode Discovery merupakan suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional yang biasa diberitahukan atau diceramahkan saja. Sejalan dengan itu menurutBurner (Syafrullah,2013) mengemukakan bahwa Discovey learning merupakan metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru lebih kreatif menciptakan situasi yang dapat membuat peserta didik belajar aktif menemukan pengetahuan sendiri.
Dengan demikian dapat dikatakan metode ini dapat membiasakan siswa untuk berfikir kreatif dalam menemukan fakta yang terjadi,Berdasarkan fenomena yang adapenulis akan melakukan penelitian tindakan dengan judul “Meningkatkan Hasil BelajarKonsep
Perubahan Sifat Benda pada mata pelajaran IPA melalui Metode Discovery di Kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar.
B. Rumusan Masalah dan Pemecahan masalah 1. Rumusan masalah
Dari pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah penelitian, yakni Bagaimana MeningkatkanHasil Belajar Konsep Perubahan Sifat Benda Pada Mata Pelajaran IPA melalui Metode Discovery Di KelasV SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar?
2. Pemecahan masalah
Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam memecahkan permasalahan pembelajaran yang dialami siswa di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar, dilakukan tindakan yang sesuai dengan kaidah penelitian tindakan kelas, yaitu:
a. Melakukan observasi untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadapmateri konsep perubahan sifat benda. Selain observasi, data hasil belajar juga diperoleh melalui guru kelas. Hal inilah yang menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan tindakan selanjutnya.
b. Mengadakan wawancara kepada siswa terhadap pembelajaran IPA yang diajarkan guru.
c. Menjalin hubungan kerjasama dengan guru mata pelajaran IPA di sekolah tersebut dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran yang dilakukan
d. Menyusun dan melaksanakan perangkat pembelajaran yang mengacu pada Metode Discovery dalam meningkatkan pembelajaran IPA, untuk tiap-tiap siklus tindakan, evaluasi dan refleksi.
e. Pelaksanaan tindakan di dalam kelas disesuaikan dengan langkah-langkah Metode Discovery dalam meningkatkan pembelajaran IPA, yaitu :
1. Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik 2. Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis
3. Peserta didik mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis
4. Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi 5. Aplikasi kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.
f. Evaluasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung melalui observasi terhadap guru dan siswa, serta fokus pengamatan adalah interaksi mengajar guru, dan bagaimana siswa dalam memahami materi yang diajarkan guru. Pada akhir setiap siklus tindakan dilakukan evaluasi untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Hasil evaluasi pada akhir setiap siklus akan direfleksi untuk memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan tindakan selanjutnya.
g. Hasil dari evaluasi setiap siklus dianalisis untuk menguji hipotesis tindakan dalam penelitian ini. Hipotesis tindakan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
“Melalui Metode Discovery dapat meningkatkan hasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar”.
h. Tindakan dalam penelitian ini berlangsung dalam dua siklus. Tindakan pada setiap siklus dikatakan berhasil apabila secara klasikal siswa mencapai tingkat penguasaan 85% dengan nilai 8,5 atau lebih.
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPAmelalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Melalui penelitian ini diharapkan guru SD dan peneliti memiliki pengetahuan dan wawasan tentang Metode Discovery dalam meningkatkanhasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA melalui metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar.
b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dalam melakukan penelitian selanjutnya dan memperoleh pengetahuan tentang penggunaan Metode Discovery dalam pembelajaran Perubahan Sifat Benda.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru, diharapkan guru sekolah dasar dan mahasiswa peneliti mendapatkan pengalaman langsung dalam menggunakan Metode Discovery dalam meningkatkan hasil belajar siswa terhadap konsep Perubahan Sifat Benda.
b. Bagi Siswa, dengan Metode Discovery siswa dapat mengembangkan hasil belajar konsep Perubahan Sifat Benda serta dapat menghubungkan antara kehidupan nyata, dan dapat mengaplikasikan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
c. Bagi Sekolah, sebagai masukan dalam upaya perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran IPA khususnya pada hasil belajar konsep Perubahan Sifat Benda, sehingga dapat menunjang tercapainya target kurikulum.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka
1. Konsep Perubahan Sifat Benda
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan perubahan pada bendayaitu:
a. Pemanasan
Amatilah air yang sedang dipanaskan! Air yang tenang dalam panci akan menjadi cairan yang bergejolak. Akhirnya uap akan keluar dari panci. Es batu yang dibiarkan di udara terbuka, lama-kelamaan akan mencair. Suhu ruangan yang lebih tinggi dari pada suhu udara di dalam freezer menyebabkan es batu yang menyerap panas dan mencair.
Mentega yang dipanaskan juga akan mencair atau melumer. Akan tetapi, jika mentega didinginkan, mentega kembali memadat seperti semula. Jadi pemanasan menyebabkan benda mengalami perubahan wujud. Wujud padat dapat berubah menjadi cair. Wujud cair dapat berubah menjadi gas.
b. Pendinginan
Air yang didinginkan dapat berubah menjadi es. Uap air yang mengalami pendinginan dapat berubah menjadi titik-titik air kembali. Contohnya, uap minuman yang menempel pada tutup gelas akan berubah menjadi butiran air kembali. Jadi pendinginan menyebabkan benda mengalami perubahan wujud. Wujud cair berubah menjadi padat. Wujud gas berubah menjadi cair.
c. Pembakaran
Kertas yang di bakar akan berubah menjadi abu. Bentuk kertas yang berupa lembaran berubah menjadi abu yang berupa serbuk. Warna kertas yang putih berubah menjadi abu yang berwarna hitam. Kertas yang lebih keras berubah menjadi abu yang rapuh. Bau kertas dan bau abu juga berbeda. Demikian juga dengan pembakaran kayu. Kayu juga akan mengalami beberapa perubahan sifat. Jadi pembakaran dapat menyebabkan benda mengalami perubahan bentuk, warna, kekerasan, kelenturan dan bau.
d. Pencampuran dengan air
Semen yang dicampur dengan air mula-mula menjadi cairan yang kental. Akan tetapi, lama-kelamaan semen akan memadat. Bentuk semen yang berupa serbuk berubah menjadi padat. Semen yang bersifat lunak menjadi semen yang keras. Demikian juga apabila gula dan garam yang dicampur dengan air, lalu diaduk, akan larut. Bentuk gula sudah tidak terlihat lagi. Bila airnya diuapkan, gula atau garam berubah kembali menjadi padat. Jadi, benda yang dicampur dengan air dapat mengalami perubahan bentuk dan kekerasan.
e. Pembusukan
Buah, sayur, atau makanan yang dibiarkan di udara tebuka, lama-kelamaan akan mengalami proses pembusukan. Buah atau sayur yang semula keras lama-kelamaan berubah menjadi lunak dan berair. Warna buah atau sayur berubah menjadi coklat. Baunya yang semula harum berubah menjadi busuk dan tidak sedap.
Daging hewan dan ikan yang semula kenyal, lama-kelamaan berubah menjadi lunak dan berair. Warnanya pun berubah menjadi coklat atau hitam. Baunya juga berubah menjadi busuk dan tidak sedap. Jadi, pembusukan dapat menyebabkan benda mengalami perubahan bentuk, warna, kelenturan, kekerasan dan bau.
f. Perkaratan
Logam, seperti besi dan seng, bila terkena air atau uap air, lama-kelamaan akan mengalami proses perkaratan. Warna besi atau seng berubah menjadi coklat. Besi atau seng
yang semula keras dan kokoh berubah menjadi rapuh dan mudah patah. Jadi, perkaratan dapat menyebabkan benda mengalami perubahan warna dan kekerasan.
Perubahan pada benda dapat digolongkan menjadi perubahan yang dapat kembali ke wujud semula (sementara) dan perubahan benda yang tidak dapat kembali ke wujud semula (tetap).
1) Perubahan benda yang dapat kembali ke wujud semula (sementara)
Pada perubahan wujud yang dapat balik, benda yang mengalami perubahan dapat kembali ke bentuk semula. Salah satu contohnya adalah perubahan pada air. Air jika didinginkan akan menjadi es. Es ini apabila dipanaskan akan kembali menjadi air. Dalam hal ini perubahan air merupakan perubahan wujud yang dapat balik.
2) Perubahan benda yang tidak dapat kembali ke wujud semula.
Sebagian besar benda yang mengalami perubahan wujud tidak dapat kembali ke bentuk atau wujud semula. Apabila kertas dibakar maka kertas menjadi serpihan abu yang berwarna hitam. Serpihan abu yang berwarna hitam ini tidak dapat kembali menjadi kertas.
Perubahan wujud kertas merupakan contoh perubahan wujud benda yang tidak dapat balik.
Selain itu, perubahan beras menjadi nasi yang kita makan sehari-hari juga merupakan perubahan wujud benda yang tidak dapat dibalik. Hal ini disebabkan karena setelah beras di masak menjadi nasi, nasi tersebut tidak dapat kembali menjadi beras dengan cara apapun juga.
2.Metode Discovery
a. Pengertian Metode Discovery
Teknik penemuan adalah terjemahan dari Discovery. Menurut Sund Discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Yang
dimaksudkan dengan proses mental tersebut adalah sebagai berikut: mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Suatu konsep misalnya: segi tiga, panas, demograsi dan sebagainya, sedangkan yang dimaksud dengan prinsip antaralain: logam apabila dipanaskan akan mengembang dalam teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi kepada siswa.
sejalan dengan itu Mulyatiningsih mengatakan bahwa Discovery learning merupakan strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah secara intensif di bawah pengawasan guru Sedangkan menurut Burner mengemukakan bahwa Discovey learning merupakan metode pembelajaran kognitif yang menuntut guru lebih kreatif menciptakan situasi yang dapat membuat peserta didik belajar aktif menemukan pengetahuan sendiri (syafrullah,2013).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan pembelajaranDiscovery,guru memberikan masalah dan siswa ditugaskan memecahkan masalah melalui percobaan. Keterampilan mental yang dituntut lebih tinggi dari Discovery antara lain: merancang dan melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data, dan mengambil kesimpulan.
b. Tujuan Metode Discovery
1) Mengembangkan sikap, keterampilan, kepercayaan siswa dalam memutuskan sesuatu secara tepat dan objektif
2) Mengembangkan kemampuan berpikir agar lebih tanggap, cermat dan melatih daya nalar (kritis, analitis dan logis).
3) Membina dan mengembangkan sikap ingin lebih tahu 4) Mengungkapkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik
c. Keunggulan Metode Discovery
Dalam penggunaan metode ini juga memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:
1) Membantu siswa mengembangkan memperbanyak kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif pengenalan siswa.
2) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi individual sehingga dapat kokoh mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut.
3) Dapat meningkatkan kegairahan belajar siswa.
4) Teknik ini dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
5) Mampu mengarahkan cara siswa belajar sehingga memiliki motivasi belajar yang sangat kuat dan giat.
6) Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri.
7) Strategi ini lebih berpusat kepada siswa tidak pada guru, guru sebagai teman dalam belajar saja atau dengan kata lain guru hanya terlibat sebagai fasilitator dalam pembelajaran membantu apabila diperlukan.
8) Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
d. Langkah-langkah Pelaksanaan Metode Discovery
Dalam penggunaan Metode Discovery seorang guru harus memperhatikan langkah-langkah pembelajaranMetode Discovery yaitu:
1) Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik.
2) Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis.
3) Peserta didik mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis.
4) Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi, 5) Aplikasi kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.
e. Penerapan Metode Discovery Dalam Pembelajaran Konsep Perubahan Sifat Benda Pelaksanaan Metode Discovery ini dimana guru berusaha meningkatkan aktifitas siswa melalui proses belajar mengajar. Memotifasi siswa dalam belajar sendiri dengan memberikan tugas dan latihan siswa berusaha untuk menyelesaikan tugas tersebut dengan pecaya diri dan tentu saja melalui pengawasan guru juga disini guru sangat berperan penting dalam menyusun teknik pembelajarannya sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan dan diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Salah satu metode mengajar yang akhir-akhir ini banyak digunakan di sekolah- sekolah yang sudah maju adalah Metode Discovery, hal itu disebabkan karena Metode Discovery ini:
1) Merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif,
2) Dengan menemukan sendiri, menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan setia dan tahan lama dalam ingatan, tidak akan mudah dilupakan siswa,
3) Pengertian yang ditemukan sendiri merupakan pengertian yang betul-betul dikuasai dan mudah digunakan atau ditransfer dalam situasi lain,
4) Dengan menggunakan strategi penemuan, anak belajar menguasai salah satu metode ilmiah yang akan dapat dikembangkannya sendiri,
5) Dengan metode penemuan ini juga, anak belajar berfikir analisis dan mencoba memecahkan masalah yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahapan-tahapan dalam Metode Discovery Syaiful Sagala (2008:197) Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1.
3. H asil Belaja r IPA
a. P engert
ian hasil Belajar
Belajar merupakan kegiatan fisik dan mental, sehingga perubahan yang ada harus tergambar pada perkembangan fisik dan mental siswa, keberhasilan belajar siswa dapat diukur berdasarkan pada besarnya rentang perubahan sebelum dan sesudah siswa mengikuti kegiatan belajar sedangkan Menurut Abeng,2013 belajar adalah perubahan serta peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang diberbagai bidang yang terjadi akibat melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungannya. Jika di dalam proses belajar tidak
Tahapan Indikator
Tahap 1 :
Perumusan masalah untuk dipecahkan peserta didik.
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
2. Memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
3. Guru mengajukan pertanyaan yang dapat menumbuhkan siswa mengemukakan pendapatnya.
Tahap 2 :
Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis.
4. Melalui bimbingan guru, siswa secara individu menetapkan jawaban sementara terhadap permasalahan.
Tahap 3 :
Peserta didik mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis.
5. Siswa secara berkelompok melakukan eksperimen/ percobaan untuk mengetahui perubahan sifat yang terjadi pada benda, baik perubahan bentuknya, warnanya, dan sebagainya.
Tahap 4 :
Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi.
6. Guru memberikan kesempatan kepada siswa secara individu untuk menarik kesimpulan atas jawaban yang diperoleh melalui kegiatan.
Tahap 5 :
Aplikasi kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru.
7. Siswa secara individu memperaktekkan hasil kesimpulannya di depan kelas.
mendapatkan peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, dapat dikatakan bahwa orang tersebut mengalami kegagalaqn di dalam proses belajar.
Dari proses belajar mengajar itu diharapkan terjadi perubahan-perubahan yang terjadi dan itulah yang dinamakan hasil belajar. Melihat kata hasil belajar berarti terkait dengan apa yang diperoleh dari belajar.Menurut Suharsimi “ hasil belajar adalah hasil akhir setelah mengalami proses belajar, dimana tingkah laku itu tampak dalam bentuk perubahan yang dapat diamati dan diukur
”.
Belajar menurut konsensi modern adalah proses perubahan tingkah laku dalam arti seluas-luasnya meliputi pengamatan, pengenalan, pengertian, pengetahuan, minat, penghargaan dan sikap. Belajar tidak hanya berkaitan bidang intelektual saja, melainkan mengenai seluruh aspek badan. Hasil merupakan kemampuan seseorang (siswa) yang didapat setelah ia melakukan kegiatan belajar. belajar merupakan sejenis perubahan yang diperlihatkan dalam perubahan tingkah laku, yang keadaaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan yang serupa itu. Perubahan terjadi akibat adanya suatu pengalaman atau latihan. Berbeda dengan perubahan serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Gagne (Haryanto,2013).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku atau kemampuan yang dimiliki siswa setelah mengalami proses belajar yang menunjukkan sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan ketercapaian tujuan pembelajaran yang dilaksanakan yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat.
b.Ciri-Ciri Hasil Belajar.
Ciri-ciri hasil belajar IPA mengandung tiga hal yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (apektif), keterampilan (psikomotor). Sedangkan menurut ciri-ciri hasil belajar adalah:
1) Menghasilkan perubahan pada diri individu yang belajar, baik aktual maupun potensial.
2) Perubahan itu pokoknya adalah didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu relatif lama.
3) Perubahan itu terjadi karena usaha, jadi ciri-ciri hasil belajar adalah dapat menghasilkan perubahan kognitif, afektif, psikomotor pada diri siswa karena usahanya sendiri.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slamento (Usman:2011) ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu:
1) Faktor internal yakni faktor yang ada pada diri siswa itu sendiri yang disebut faktor individual. Menurut Slamento faktor internal dibedakan menjadi tiga faktor yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan.
2)
Faktor eksternal yakni faktor yang ada diluar siswa atau faktor sosial. Slamento menjabarkan lagi fkctor ini menjadi tiga fkctor yaitu faktor keluarga, sekolah, dan masyarakat.Pendapat lain mengatakan yang mempengaruhi hasil belajar adalah:
1) faktor guru yang dipengaruhi oleh pandangannya tentang mengajar, konsep, psikologi dan kurikulum.
2) faktor siswa yang meliputi kecakapan potensi maupun kecakapan yang diperoleh dari hasil belajar.
3) faktor lingkungan.
Hasil belajar siswa juga tergantung pada lingkungan tempat tinggal dan pergaulannya sehari-hari.
Sejalan dengan itu, Ria (2013) mengungkapkan bahwa Faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar Faktor Internal, Faktor Eksternal. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa di sekolahnya sifatnya relatif, artinya dapat berubah setiap saat. Hal ini terjadi karena prestasi belajar siswa sangat berhubungan dengan faktor yang mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Prestasi belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah mengikuti proses pembelajaran. Jadi prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada periode tertentu.
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor dari dalam diri siswa dan faktor dari luar diri siswa.
d. Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar 1) Hakikat Pembelajaran IPA
Pada tingkat SD, perkembangan mental anak baru sampai tingkat berfikir konkret.
Pikiran anak terbatas pada objek di sekitar lingkungannya. Pada dasarnya sama saja hanya harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan mentalnya. Artinya, cara penyajian dan apa yang disajikan harus sesuai dengan tingkat kemampuan berpikir anak. Pada tingkat ini anak harus dapat mengenal bagian-bagian dari benda seperti, berat, warna dan bentuknya.
Kemampuan ini harus kita kembangkan sampai anak dapat :
a) Menggolong-golongkan dengan berbagai cara, misalkan penggolongan benda atas tingkatan atau perbedaan tertentu.
b) Melakukan penyusunan atau rangkaian yang berurutan
c) Melakukan proses berfikir kebalikan
d) Melakukan berbagai operasi metematik seperti menambah, mengurangi, membagi, mengalikan dan sebagainya.
Dengan demikian anak SD harus sudah dapat mengklasifikasikan sesuai dengan bagian, struktur, dan fungsinya. Dia harus mampu berpikir kebalikan. Misal, Nuri termasuk kelas burung dan burung itu bertelur. Maka anak harus dapat menyimpulkan bahwa nuri dapat bertelur. Meskipun pada tingkatan ini anak belum dapat berfikir abstrak, seperti berhipotesa secara deduktif, tetapi dia sudah dapat membuat hipotesis sederhana, hanya meliputi satu variabel. Dia akan dapat memecahkan masalah dengan baik kalau konkret melakukannya.
Berdasarkan pemikiran di atas maka materi yang disajikan haruslah konsep-konsep dalam bentuk klasifikasi, konsep berkorelasi dan semuanya dalam tingkatan konsep konkret.
Tindakan atau menyimpulkan secara menggeneralisasi sudah mengarah ke berpikir abstrak.
Demikian juga halnya dengan konsep teoretis. Maka disinilah peran disajikannya model dan percobaan.
Konsep ini harus dicarinya sendiri, kita tidak sekedar memberikan. Guru hanyalah menciptakan lingkungan belajar yang baik agar siswa dapat menemukan sendiri konsep.
Konsep yang ditemukan menjadi bermakna kalau dia dapat menemukan hubungannya dengan konsep lain yang lebih diketahui.
Kegiatan belajar berlangsung atas dasar kemampuan, minat, keperluan dan kebutuhan siswa. Tujuannya adalah untuk mengembangkan keterampilan belajar, kemampuan belajar bebas, mandiri, dan kemampuan memecahkan masalah. Guru bersama siswa menelaah tiap aspek yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Tugas guru bukan memberitahukan cara memecahkan masalah. Guru harus pula menciptakan suasana sarana pendidikan yang ada, berhipotesis, dan menarik kesimpulan.
Pembelajaran IPA (Sains) dalam arti sempit adalah disiplin ilmu yang terdiri dari ilmu fisik (physical sciences) dan ilmu biologo (life sciences). Secara umum kata Sains biasa diterjemahkan dengan Ilmu Pengetahuan Alamyang berasal dari kata natural science. Natural artinya adalah alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya Ilmu Pengetahuan. Jadi Sains secara harafiah dapat disebut sebagai Ilmu Pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Di SD istilah IPA lebih dikenal dengan istilah sains.Menurut Nash (Yana:2011) bahwa IPA adalah suatu cara atau metode untuk mengamati alam. Cara IPA mengamati ini bersifat analisis, lengkap, cermat, serta menghubungkan antara satu fenomena dengan fenomena lain, sehingga keseluruhannya membentuk suatu perspektif yang baru tentang obyek yang diamatinya.
Belajar IPA tidak sekedar belajar informasi tentang fakta-fakta dan prinsip dalam wujud pengetahuan deklaratif, tetapi belajar IPA adalah bagaimana memperoleh informasi tentang alam, cara Sains dan teknologi dan bekerja ilmiah dengan menerapkan metode dan sikap ilmiah, dimana dalam memahami pembelajaran IPA harus didasari pada percobaan- percobaan karena dalam mengajarkan IPAtanpa melakukan percobaan bukan lagi mengajarkan IPA melainkan bercerita tentang IPA.
2) Tujuan Pembelajaran IPA
Secara umum Sekolah Dasar diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik mengikuti pendidikan menengah.
Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan pendidikan dan pengajaran dari berbagai disiplin ilmu, agama, kesenian dan keterampilan. Salah satu disiplin ilmu adalah
pembelajaran IPA. IPA diperlukan oleh siswa sekolah dasar karena dapat memberikan iuran untuk tercapainya sebagian dari tujuan pendidikan di sekolah dasar. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Depdiknas,2006) mata pelajaran IPA di sekolah dasar mempunyai tujuan, yaitu:
1) Memperoleh keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaanNya, 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep ilmu pengetahuan alam yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang hubungan yang saling mempengaruhi antara pembelajaran IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat, 4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan, 5) Meningkatkan kesadaran untuk lingkungan alam, 6) meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.
B. Kerangka Pikir
Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Peristiwa belajar mengajar banyak berakar pada berbagai pandangan dan konsep. Oleh karena itu konsep perubahan sifat benda pada pembelajaran IPA adalah sebagai pengetahuan yang diperoleh lewat serangkaian proses sistimatis guna mengungkap segala sesuatu yang berkaitan dengan alam. Yang mana konsep ini dapat di ajarkan dengan menggunakan Metode Discovery dengan dua siklus (siklus I dan II) untuk menumbuhkan refleksi dalam pembelajaran sebagai wadah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara menganalisis data sehingga menemukan konsep dan prinsip pembelajaran.Metode discovery dalam pembelajaran IPA juga dapat menolong anak didik untuk berpikir logis terhadap kejadian sehari-hari dan memecahkan masalah-masalah sederhana yang dihadapinya, kemampuan berpikir semacam itu akan selalu berguna sepanjang hidupnya.
Berdasarkan kerangka teori yang mendasari pelaksanaan penelitian untuk meningkatkan hasil belajar konsep Perubahan Sifat Benda pada mata pelajaran IPA melalui
Metode Discovery pada siswa kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa dapat dilihat pada kerangka pikir dalam bagan berikut ini:
Gambar I.Kerangka pikir penelitian Pembelajaran IPA di
kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa
Konsep Perubahan Sifat Benda
Metode Discovery
Refleksi
Siklus II Siklus I
Hasil Belajar
Rekomendasi Temuan
Analisis
C. Hipotesis Tindakan
Jika metode discovery diterapkan, maka hasil belajar konsep perubahan sifat benda pada mata pelajaran IPA di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang kota Makassar dapat meningkat.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) karakteristik yang khas dari penelitian tindakan kelas yakni tindakan-tindakan (aksi) yang berulang-ulang untuk memperbaiki proses belajar-mengajar di kelas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Arikunto (2012;2-3):
“yang menyatakan ada tiga pengertian yang dapat diterangkan :1.Penelitian –menunjukkan pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang`bermamfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti; 2. Tindakan –menunjuk pada Sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk murid; 3. Kelas –dalam hal ini tidak terlibat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud deng istilah kelas adalah sekelompok murid yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula”.
Pelaksanaan penelitian ini melalui proses pengkajian berdaur yang terdiri dari empat tahap, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Daur PTK ditujukan sebagai perbaikan atas hasil refleksi tindakan sebelumnya yang dianggap belum berhasil, maka masalah tersebut dipecahkan kembali dengan mengikuti daur sebelumnya.
B. Setting dan Subjek Penelitian 1. Setting Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makasar sebagai mitra kerja. Jumlah keseluruhan tenaga pengajar adalah 9 orang
termasuk Kepala Sekolah. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada semester genap tahun pelajaran 2013/2014 selama 2 bulan.
2. Subjek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah murid kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassardengan jumlah murid 11 orang yang terdiri dari 4 laki- laki dan 7 perempuan. Peneliti memilih murid kelas V SDNKompleks Sambung Jawa sebagai responden dengan alasan (1) adanya variasi murid dan masalah yang dialami murid kelas VSDN Kompleks Sambung Jawa (2) di sekolah tersebut belum pernah dilakukan penelitian yang menggunakan metode discovery.
C. Fokus Penelitian (Faktor-faktor yang diteliti)
Fokus penelitian dalam meningkatkan hasil belajar konsep Perubahan Sifat Benda pada mata pelajaran IPA Melalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassar adalah sebagai berikut:
1. Faktor Guru yaitu kemampuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran apakah sesuai dengan langkah-langkah utama Metode Discovery.
2. Faktor Siswa yaitu dengan mengamati aktivitas siswa dalam proses pembelajaran apakah hasil belajar siswa terhadap konsep Perubahan Sifat Benda pada mata pelajaran IPA dapat meningkat dengan menerapkan Metode Discovery.
3. Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan pendidikan yang ditempuh.
D. Prosedur Penelitian
Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berdaur ulang (siklus) yang mengacu pada pendapat Kemmis dan Mc Taggart (Bahri 2012). Terdiri dari 4
komponen, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Adapun tahapan penelitian ini digambarkan seperti pada bagan berikut:
Gambar 2. Gambaran Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (Kemmis dan MC.Taggart (Bahri,2012).
Berdasarkan gambar tersebut, maka dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Tahap Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan adalah persiapan perencanaan pembelajaran Perubahan Sifat Benda dengan menggunakan Metode Discovery, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
SIKLUS I
Pelaksanaan Perencanaan
Observasi dan evaluasi
SIKLUS II
Belum berhasil Refleksi
Perencanaan
Berhasil Refleksi
Observasi dan evaluasi Pelaksanaan
Kesimpulan
a. Menyamakan persepsi antara guru dengan peneliti, guru dan teman sejawat tentang konsep dan Metode Discovery dalam pembelajaran Perubahan Sifat Benda, lampiran b. Secara kolaboratif menyusun perencanaan tindakan pembelajaran, lampiran
c. Menentukan bahan dan media pembelajaran yang akan digunakan, lampiran
d. Menyusun rambu-rambu instrumen data keberhasilan guru maupun instrumen data keberhasilan siswa, berupa format observasi, pedoman wawancara, tes dan persiapan perekaman kegiatan tindakan, lampiran.
e. Membuat LKS, lampiran.
f. Membuat media pembelajaran, lampiran.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan a. Kegiatan Awal (10 menit)
1) Memberikan salam, lampiran 10 2) Berdoa, lampiran 10
3) Mengecek kehadiran siswa, lampiran 10 4) Apersepsi, lampiran 10
5) Siswa dimotivasi agar melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan penuh semangat, lampiran 10
b. Kegiatan Inti (45 menit) 1) Perumusan masalah
a) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, lampiran 10
b) Guru memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya, lampiran 10
c) Guru mengajukan pertanyaan yang dapat menumbuhkan siswa mengemukakan pendapatnya, lampiran 10
2) Penetapan jawaban sementara atau pengajuan hipotesis. Melalui bimbingan guru siswa secara berkelompok menetapkan jawaban sementara terhadap permasalahan, lampiran 10
3) Peserta didik mencari informasi, data, fakta, yang diperlukan untuk menjawab atau memecahkan masalah dan menguji hipotesis,
a) Guru membagikan lembar LKS pada siswa, lampiran 10
b) Siswa secara berkelompok melakukan eksperimen/ percobaan untuk mengetahui perubahan sifat yang terjadi pada benda, baik perubahan bentuknya, warnanya, dan sebagainya, lampiran 10
4) Menarik kesimpulan dari jawaban atau generalisasi,
a) Guru memberikan kesempatan kepada siswa secara berkelompok untuk mempersentasekan pemecahan atas yang telah dikemukakan sebelumnya, lampiran 10
b) Guru bersama siswa menyimpulkan materi, lampiran 10
5) Aplikasi kesimpulan atau generalisasi dalam situasi baru. Siswa secara individu atau kelompok mempraktekkan hasil kesimpulannya di depan kelas, lampiran 10
c. Kegiatan Akhir (15 menit)
1) Guru memberikan tes secara individual kepada siswa, lampiran 10
2) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan hasil dari proses-proses kegiatan pembelajaran yang mereka lakukan, lampiran 10
3) Memberikan motivasi kepada siswa, lampiran 10
4) Menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya, lampiran 10 5) Menutup pelajaran, lampiran 10
3. Tahap Observasi dan evaluasi
Tahap observasi adalah mengamati seluruh proses tindakan pada saat selesai tindakan.
Fokus observasi adalah guru dan siswa. Aktifitas guru dapat diamati mulai tahap pembelajaran, saat pembelajaran dan akhir pembelajaran. Data aktifitas guru dan siswa diperoleh dengan menggunakan format observasi, pedoman wawancara dan perekaman.
Sedangkan tahap evaluasi yaitu Cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses belajar dan untuk mengetahui hasil dari pembelajaran tersebut.
4. Tahap Refleksi
Tahap refleksi adalah serangkaian tindakan dalam penelitian yang mencakup kegiatan menganalisis, memahami, menyelesaikan dan menyimpulkan pengamatan. Hasil dari refleksi ini menjadi informasi tentang sesuatu yang terjadi dan diperlukan selanjutnya informasi ini dapat menjadikan dasar perencanaan selanjutnya.
Untuk keberhasilan dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek guru dan siswa.
Keberhasilan dari aspek guru dapat dilihat pada kemampuan mengimplementasikan perencanaan pembelajaran melalui tiga tahap yaitu tahap awal, inti dan akhir kegiatan pembelajaran dengan menerapkan Metode Discovery sedangkan pada siswa dapat dilihat pada saat pembelajaran dan hasil yang dicapai pada saat melakukan percobaan pada pembelajaran IPA.
E. Teknik pengumpulan data
Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tes, observasi, wawancara dan catatan lapangan.
1. Observasi dilakukan untuk mengamati kesesuaian antara pelaksanaan tindakan dan perencanaan yang telah disusun dan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang sesuai dengan yang dikehendaki.
2. Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar siswa terhadap konsep perubahan sifat benda. Tes dilakukan pada awal penelitian, pada akhir setiap tindakan, dan akhir setelah diberikan serangkaian tindakan.
3. Wawancara dilakukan untuk mendapat masukan dari siswa yang menjadi subjek penelitian dan guru mata pelajaran kelas V SD, mengenai pembelajaran dengan Metode Discovery.
4. Catatan lapangan dilakukan untuk melengkapi data yang memuat deskripsi tentang kegiatan pembelajaran yang meliputi aktivitas siswa dan guru serta kasus-kasus yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan alat perekam atau foto-foto.
F. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian, analisis data dilakukan selama dan setelah penelitian pada saat refleksi dari setiap tindakan pembelajaran. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (Muliasa: 2001) yang terdiri dari 3 tahap kegiatan yaitu: 1) mereduksi data; 2) menyajikan data; 3) menarik kesimpulan dan verifikasi.
1. Mereduksi data
Mereduksi data adalah proses kegiatan menyeleksi, memfokuskan, dan menyederhanakan semua data yang telah diperoleh, mulai dari awal pengumpulan data sampai penyusunan laporan penelitian.
Hasil observasi dimungkinkan masih belum dapat memberikan informasi yang jelas.
Untuk memperoleh informasi yang jelas maka dilakukan reduksi data. Yang dilakukan dengan menggunakan cara pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan dan transformasi kasar yang diperoleh dari wawancara, dan observasi. Hal ini dilakukan untuk
memperoleh informasi yang jelas dari data tersebut, sehingga peneliti dapat membuat kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
2. Penyajian Data
Penyajian data dilakukan dalam rangka mengorganisasikan hasil reduksi dengan cara menyusun secara naratif sekumpulan informasi yang telah diperoleh dari hasil reduksi, sehingga dapat memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Data yang telah disajikan tersebut selanjutnya dibuat penafsiran dan evaluasi untuk membuat perencanaan tindakan selanjutnya.
3. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi
Penarikan kesimpulan adalah memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi. Kegiatan ini mencakup pencarian makna data serta memberi penjelasan.
Selanjutnya dilakukan kegiatan verifikasi, yaitu menguji kebenaran, kekokohan, dan kecocokan makna-makna yang muncul dari data.
G. Indikator Keberhasilan Penelitian
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar IPA melalui Metode Discovery di kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa kecamatan Mamajang kota Makassardari siklus pertama ke siklus berikutnya. Perlakuan dianggap berhasil bila 85% siswa mencapai skor 70 ke atas dari hasil tes belajar yang dicapai.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Setelah penyajian materi konsep perubahan sifat benda melalui Metode Discovery di siswa kelas V SDN Kompleks Sambung Jawa Kecamatan Mamajang Kota Makassar, dimana pada setiap siklus dilaksanakan tes hasil belajar sebanyak dua kali yaitu tes akhir siklus I dan tes akhir siklus II. Hasil analisa data dari kedua siklus tersebut diuraikan sebagai berikut :
1. Siklus I
a. Aktivitas Murid
Berhubungan dengan aktivitas murid, observasi dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang perilaku-perilaku murid sebagai pengaruh tindakan yang dilakukan guru.
Misalnya mencatat perilaku murid dalam mengikuti suatu proses pembelajaran. Disamping itu, juga dapat digunakan mendapatkan informasi atau data tentang keadaan atau kondisi tertentu. Aktivitas murid yang diamati selama proses pembelajaran sebanyak 9 opsi. Aktivitas murid tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1.Observasi Aktivitas Murid pada Siklus I
S umber
: Diolah dari Observ
asi Aktivit
as Murid, Lampi ran 3
D ari hasil obseva si pada siklus I di atas, maka di peroleh beberapa informasi yaitu:
1) Persentase kehadiran murid 93,34 %.
2) Persentase murid yang memperhatikan penjelasan guru 76,67 %.
3) Persentase murid yang mengajukan pertanyaan kepada guru 18.33 %.
4) Persentase murid yang mengajukan tanggapan 11,67 %.
5) Persentase murid yang mencatat tugas/ penjelasan yang diberikan guru 78,34 %.
6) Persentase murid yang kerjasama dalam kelompok 63,34 %.
7) Persentase murid yang meminta bimbingan guru saat kerja tugas 56,67 %.
8) Persentase murid yang pasif (diam terus) 26,47 %.
No Aktifitas Murid
Siklus I Pertemuan I II III Rata-
rata (%) 1 Murid yang hadir ketika pelajaran
berlangsung 26 23 24 24 93,34
2 Memperhatikan penjelasan guru 20 21 23 21 76,67 3 Mengajukan pertanyaan tentang
materi yang belum dimengerti 7 4 8 7 18,33
4 Mengajukan tanggapan 5 4 4 4 11,67
5 Mencatat tugas/ penjelasan yang
diberikan guru 17 16 20 17 78,34
6 Kerjasama dalam kelompok 13 16 18 16 63,34
7 Meminta bimbingan guru saat kerja
tugas 12 17 11 12 56,67
8 Pasif (diam terus) 10 8 6 8 28,34
9 Aktifitas mengganggu 8 9 4 8 21,67