BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah ketercapaian suatu tujuan dari proses pembelajaran yang meliputi aspek koqnitif dalam bentuk tes sehingga hasil belajar dapat dilihat dari perolehan nilainya.
3. Siswa SD Kelas IV
Siswa kelas IV adalah siswa sekolah dasar yang berusia 7-12 tahun dan berada pada tahap operional konkret dalam berpikir, di mana konsep masih samar-samar dan tidak jelah menjadi konkret.
4. Matematika
Matematika adalah penalaran logika yang dikembangkan dari proses perhitungan, pengurangan, pembagian, perkalian pemecahan suatu masalah dalam kehidupan sehari-hari.
5. Materi KPK dan FPB
Konsep KPK adalah konsep yang dapat dipahami dengan makna kelipatan, sedangkan konsep FPB adalah konsep yang dapat dipahami dengan faktor persekutuan suatu bilangan.
6. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang membantu belajar secara berpasangan atau kelompok kecil yang dapat menyelesaikan permasalahan nyata sebagai konteks untuk peserta didik belajar berpikir kritis dengan menganalisis masalah, memecahkan masalah masalah.
12 BAB II
LANDASAN TEORI
Bab II berisikan kajian pustaka, hasil penelitian yang relevan, kerangka, dan hipotesis penelitian. Kajian pustaka membahas teori-teori yang mendukung dalam pelaksanaan penelitian dan hasil penelitian sebelumnya yang berisikan pengalaman yang pernah ada. Selanjutnya dirumuskan kerangka berpikir dan hipetesis penelitian yang berisi degaan sementara atau jawaban sementara rumusan masalah penelitian.
A. Kajian Pustaka
1. Keterampilan Abad 21
a. Pengertian Keterampilan Abad 21
Fadel (dalam Sani, 2019: 52) mengatakan bahwa keterampilan belajar dan inovasi yang dibutuhkan pada abad 21 adalah kreatvitas (creativity), kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kemampuan berkolaborasi (collaboration) dan kemampuan berkomunikasi (communication). Keempat keterampilan tersebut merupakan perkembangan keterampilan abad 21 yang mempersiapkan generasi muda yang kreatif, luwes, mampu berpikir kritis, dapat mengambil keputusan dengan tepat, serta terampil memecahkan masalah. Adapun menurut Hosnan (2014: 87) keterampilan abad 21 menuntut anak harus memiliki keterampilan di antaranya adalah keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, berkomunikasi dan kreativitas. Baswedan (dalam Arif, Mursalin, &
Sugiyarti 2018: 440) berpendapat bahwa keterampilan 4C adalah sebagai berikut:
1) Critical thinking (berpikir kritis) yaitu kemampuan siswa dalam berpikir kritis berupa bernalar, mengungkapkan, menganalisis dan menyelesaikan masalah. Di era reformasi critical thinking, juga digunakan untuk menangkal dan memfilter paham radikal yang dianggap tidak masuk akal. Kemampuan berpikir kritis biasanya diawali dengan kemampuan seseorang mengkritisi berbagai fenomena yang terjadi di sekitarnya, kemudian menilai dari sudut pandang yang digunakannya. Selanjutnya ia memposisikan dirinya, dari situasi yang tidak tepat menjadi situasi yang berpihak padanya.
2) Communication (komunikasi) yaitu bentuk nyata keberhasilan pendidikan dengan adanya komunikasi yang baik dari para pelaku pendidikan demi peningkatan kualitas pendidikan.
3) Collaboration (kolaborasi) yaitu mampu bekerja sama, saling bersinergi dengan berbagai pihak dan bertanggung jawab dengan diri sendiri, masyarakat dan lingkungan. Dengan demikian ia akan senantiasa berguna bagi lingkungannya.
4) Creativity (kreativitas) yaitu kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Kreativitas peserta didik perlu diasah setiap hari agar menghasilkan terobosan atau inovasi baru bagi dunia pendidikan. Kreatifitas membekali seorang peserta didik yang memiliki daya saing
dan memberikan sejumlah peluang baginya untuk dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Berdasarkan pendapat beberapa para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa keterampilan abad 21 adalah keterampilan belajar dan inovasi yang harus dimiliki dan dikembangkan oleh siswa untuk mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi dan kreatif. Keempat keterampilan tersebut sering disebut keterampialn 4C. Di sekolah, pembelajaran sudah dituntut untuk menerapkan keterampilan 4C (Critical Thinking, Communiaction, Collaboration, Creativity), hal ini dapat terwujud membiasakan anak-anak menerapkan 4C dalam kehidupan sehari-hari guna menghadapi tantangan abad 21. Keempat keterampilan tersebut, peneliti fokus dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya.
b. Pengertian Berpikir Kritis
Menurut Lambertus (dalam Fridanianti, Murtianto & Purwati, 2018: 12) berpikir kritis merupakan potensi yang dimiliki setiap orang, dapat diukur, serta dikembangkan dengan merencanakan penyelesaian suatu persoalan. Kegiatan berpikir kritis dapat melatih siswa untuk merumuskan masalah, menyusun langkah-langkah penyelesaian masalah, sehingga diperlukan kegiatan yang disebut berpikir kritis. Berbeda dengan pendapat Sies (dalam Sani, 2018: 15) mengatakan bahwa berpikir kritis adalah proses berpikir terampil dan bertanggungjawab ketika seseorang
mempelajari suatu permasalahan dari semua sudut pandang, dan terlibat dalam penyelidikan sehingga dapat memperoleh opini, penilaian atau pertimbangan terbaik menggunakan kecerdasannya untuk menarik kesimpulan. Berpikir kritis dilandasi dengan upaya mencari alasan, berupaya mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, memcari alternative, mempertimbangkan pemahaman orang lain, yang diperlukan untuk dapat meyakini sebelum melakukan sesuatu (Norris, dalam tan 2018: 15). Menurut Lunnerburg (dalam Amalia & Pujiastuti, 2018) The concept of critical thinking may be one of the most significant trends in education relative to the dynamic relationship between how teachers teach and how students learn” yang artinya berpikir kritis menjadi trend yang paling berpengaruh di pendidikan dalam hubungannya dengan bagaimana guru mengajar dan bagaimana siswa belajar. Yani dan Ruhimat (2018: 42) menyatakan ada sejumlah keterampilan yang direkomendasikan untuk dimiliki oleh siswa abad ke-21. Keterampilan tersebut dibagi atas soft skill dan hard skill. Soft skill yang perlu dikembangkan adalah kreativitas dan inovasi, berpikir kritis dan problem solving, komunikasi dan kolaborasi. Sedangkan hard skill yang perlu dikembangkan adalah keterampilan berpikir fungsional dan kritis, seperti literasi informasi, literasi media, dan literasi ICT (informasi, komunikasi, dan teknologi).
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa berpikir kritis adalah proses berpikir dalam memahami suatu permasalahan untuk dilakukan penyelidikan dengan merencanakan
solusi, menentukan tindakan, mencari alasan, dan membuat keputusan untuk menarik kesimpulan. Proses berpikir kritis siswa dapat dilihat dari bagaimana siswa belajar dalam proses pembelajaran. Selama proses pembelajaran, guru memiliki peran untuk dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa. Cara melihat perkembangannya dapat dilihat pada indikator yang dijadikan acuan guru untuk mengembangkan keterampilan berpiki kritis siswa.
c. Indikator Keterampilan Berpikir Kritis
Menurut Watson & Glaser (dalam Sani 2019: 17) indikator keterampilan berpikir kritis meliputi: (1) kemampuan mendefinisikan permasalahan, (2) kemampuan memilih hipotesis yang relevan, (3) kemampuan memilih informasi yang relevan untuk menyelesaikan masalah, dan (4) kemampuan membuat kesimpulan dan mengevaluasi tindakan. Adapun menurut Enis (dalam Fridanianti, Purwati, & Murtianto 2018: 12-13) indikator berpikir kritis meliputi: (1) siswa memahami permasalahan pada soal yang diberikan, (2) siswa memberikan alasan berdasarkan fakta/bukti yang relevan pada setiap langkah dalam membuat keputusan, (3) siswa menggunakan semua informasi yang sesuai dengan permasalahan, dan (4) siswa meneliti atau mengecek kembali secara menyeluruh mulai dari awal sampai akhir. Menurut Fisher (dalam Amalia & Pujiastuti 2018) indikator berpikir kritis terdiri dari: (1) menganalisis pertanyaan atau pernyataan, (2) memprediksi (termasuk membenarkan prediksi), dan (3) memutuskan misalnya apakah cukup bukti.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, rangkuman indikator-indikator keterampilan berpikir kritis, dapat dilihat pada tabel 2.1.
Tabel 2.1 Kesimpulan Indikator-indikator Keterampilan Bepikir Kritis
Ahli 1 Watson & Glaser dalam Sani
R.A. (2019:17) Ahli 2 Enis dalam Fridanianti, Purwati, & Murtianto (2018: 12-13) Ahli 3 Fisher dalam Amalia & Pujiastuti, (2018) Kesimpulan Indikator 1.Kemampuan mendefinisikan permasalahan. 1.Siswa memahami permasalahan pada soal yang diberikan. 1. Menganalisis pertanyaan atau pernyataan; 1. Mengerti pertanyaan atau pernyataan yang diajukan. 2. Membedakan pertanyaan atau pernyataan yang diajukan. 2.Kemampuan memilih hipotesis yang relevan. 2.Siswa memberikan alasan berdasarkan fakta/bukti yang relevan pada setiap langkah dalam membuat keputusan. 2. Memprediksi (termasuk membenarkan prediksi); 3. Memberikan alasan berdasarkan fakta/bukti yang relevan. 3.Kemampuan memilih informasi yang relevan untuk menyelesaikan masalah. 3.Siswa menggunakan semua informasi yang sesuai dengan permasalahan. 4. Siswa meneliti atau mengecek kembali secara menyeluruh mulai dari awal sampai akhir. 3. Memutuskan misalnya apakah cukup bukti; 5. Memilih informasi yang relevan untuk menyelesaikan masalah. 6. Mengecek kembali secara menyeluruh mulai dari awal sampai akhir.
4. Kemampuan membuat kesimpulan dan mengevaluasi tindakan. 5. Siswa membuat kesimpulan dengan tepat. 6. Siswa mengunakan penjelasan yang lebih lanjut tentang apa yang dimaksudkan dalam kesimpulan yang dibuat. 7. Membuat kesimpulan dengan tepat. 8. Mengevalua-si tindakan kepada orang lain dan diri sendiri.
Bedasarkan pendapat para ahli di atas, terdapat beberapa kesamaan dengan menyimpulkan indikator keterampilan berpikir kritis adalah (1) mengerti pertanyaan atau pernyataan yang diajukan; (2) membedakan pertanyaan atau pernyataan yang diajuka; (3) memberikan alasan berdasarkan fakta/bukti yang relevan; (4) memilih informasi yang relevan untuk menyelesaikan masalah; (5) mengecek kembali secara menyeluruh mulai dari awal sampai akhir; (6) membuat kesimpulan dengan tepat; (7) mengevaluasi tindakan kepada orang lain dan diri sendiri. 7 indikator tersebut akan digunakan peneliti untuk melakukan observasi keterampilan berpikir kritis siswa. Dari uraian di atas, ada pula faktor – faktor yang dapat mempengaruhi meningkatkannya keterampilan berpikir kritis agar dapat dilatih.
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi Keterampilan Berpikir Kritis Prameswari, S.W., Suharno, dan Sarwanto (2018: 746) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi keterampilan berpikir kritis siswa adalah sebagai berikut:
1) Kondisi fisik
Kondisi fisik adalah satu kesatuan utuh dari komponen-komponen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja, baik peningkatan maupun pemeliharaannya. Apabila kondisi siswa terganggu, maka akan berpengaruh pada kemampuan berpikir kritis siswa. Konsentrasi siswa akan menurun dan semangat belajarnya menjadi berkurang.
2) Motivasi
Motivasi merupakan dorongan yang ada didalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhan. Motivasi dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Dengan diberikan motivasi maka akan tumbuh minat siswa untuk belajar maka tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah.
3) Kecemasan
Kecemasan merupakan keadaan emosional seseorang terhadap suatu kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya atau orang lain.
4) Perkembangan intelektual
Tingkat perkembangan intelektual siswa berbeda antara satu dengan lain. Perkembangan intelektual juga dipengaruhi oleh usia dari siswa itu sendiri. Semakin bertambahnya umur anak, semakin tampak jelas kecenderungan dalam kematangan proses.
5) Interaksi
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kemampuan berpikir kritis adalah interaksi antara pengajar dan siswa. Suasana pembelajaran yang kondusif akan meningkatkan semangat siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa dapat berkonsentrasi dalam memecahkan masalah yang diberikan.
Berdasarkan penjabaran di atas, perlu diketahui bahwa keterampilan berpikir kritis dapat dilatih dan dikembangkan dengan memperhatikan kondisi fisik, motivasi, kecemasan, perkembangan intelektual, dan interaksi. Kelima hal tersebut, dapat dilihat pada kondisi siswa saat pembelajaran berlangsung. Melatih dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dapat dilakukan secara berulang-ulang karena membutuhkan waktu untuk setiap siswa dapat mengembangkan keterampilan yang dimilikinya, sehingga siswa mampu terbiasa berpikir kritis, sehingga berpengaruh pada hasil belajar siswa.
2. Hasil Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan proses usaha untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan dan sikap (Baharuddin & Wahyuni, 2015: 75). James (dalam Djamarah, 2011: 45) mengatakan bahwa belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Proses ini yang dinamakan tahapan untuk mengubah diri sendiri dan perubahan perilaku dapat dianggap mewakili belajar. Adapun menurut pendapat Rusman, (2017: 76) belajar adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu yang membentuk sikap, keterampilan, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan serta perubahan yang timbul dilakukan secara sadar dan direncanakan.
Berdasarkan beberapa penjelasan menurut para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang membentuk sikap, keterampilan, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan melalui proses pendidikan atau pengalaman sosial yang dapat dilihat dari serangkaian aktivitas yang terjadi pada tingkat pengetahuan dan perubahan tingkah laku. Perubahan dapat dilihat dari perubahan tingkah laku atau hasil belajar setiap individu melalui aktivitas belajar.
b. Pengertian Hasil Belajar
Gagne (Dahar, 2011: 120) menyatakan bahwa hasil belajar berupa keterampilan koqnitif yaitu pengetahuan tentang bagaimana cara
melakukan sesuatu. Abdurrahman (dalam Haris & Jihad, 2012: 14) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Susanto (2018: 56) mendefenisikan hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa menyangkut perkembangan koqnitif, afektif, dan psikomotorik (pengetahuan, sikap, dan keterampilan).
Dari beberapa pengertian belajar tersebut dapat pahami bahwa belajar adalah kemampuan yang diperoleh siswa melalui kegiatan belajar. Jadi dapat disimpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku siswa meliputi koqnitif, afektif, serta psikomotoriknya melalui pengalaman aktivitas dari lingkungan dan pengetahuan dari proses pembelajaran. Pada perubahan hasil belajar siswa tersebut pastinya akan meningkat setelah proses pembelajaran.
c. Klasifikasi Hasil Belajar
Menurut Parwati, Suryawan, & Apsari (2018: 36) hasil belajar dinyatakan dalam klasifikasi yang dikembangkan oleh Bloom dan kawan-kawannya, yaitu:
1) Ranah Kognitif
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir siswa. Dalam taksonomi Bloom terdapat enam jenjang di ranah kognitif. Jenjang di ranah kognitif merupakan jenjang satu lebih tinggi dari yang lain, jenjang yang lebih tinggi akan dapat dicapai apabila yang rendah sudah dapat dikuasai (bersifat hierarki). Jenjang dalam
ranah kognitif yaitu: pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dam evaluasi.
2) Ranah Afektif
Ranah afektif berhubungan dengan minat, perhatian, sikap, emosi, penghargaan, proses, internalisasi, dan pembentukan karakter diri. Ranah afektif dibagi dalam lima jenjang, dan setiap jenjang bersifat hierarki seperti dalam ranah kognitif. Jenjang dalam ranah afektif yaitu: penerimaan, penanggapan, penghargaan, pengorganisasian, dan penjatidirian.
3) Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor berhubungan dengan kemampuan gerak atau manipulasi yang bukan disebabkan oleh kematangan biologis. Kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja, tetapi juga organ-organ tubuh yang lain. Ranah psikomotor meliputi: persepsi, kesiapan, respon terpimpin, mekanisme, respons kompleks, penyesuaian, penciptaan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar meliputi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Hasil ranah kognitif ditunjukkan dengan kemampuan intelektual berpikir siswa pada pemahaman pembelajran yang diberikan. Sedangkan ranah afektif dan psikomotor berkenaan dengan sikap dan keterampilan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa agar dapat mencapai tujuan tertentu.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar dipengaruhi oleh dua hal yaitu faktor dari dalam yaitu dari siswa sendiri dan faktor dari luar yaitu lingkungan (Susanto, 2013: 12). Faktor dari dalam diri berarti kemampuan untuk berpikir atau tingkah laku, motivasi, minat, dan kesiapan siswa baik jasmani dan rohani. Sedangkan faktor dari luar yaitu sarana dan prasaranan, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan. Adapun menurut Walisman (dalam Susanto, 2012: 12) hasil belajar yang diperoleh siswa merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yaitu:
1) Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri siswa, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal meliputi kecerdasan minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan.
2) Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar seprti keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Sedangkan menurut Munadi (dalam Rusman, 2017: 120) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1) Faktor internal yaitu meluputi faktor fisiologis: secara umum mempengaruhi kondisi fisiologis siswa, seperti kesehatan, tidak dalam keadaan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya. Sedangkan faktor psikologi: setiap individu dalam hal siswa pada
dasarnya memiliki kondisi psikologi yang berbeda tentunya hal ini sangat berpengaruh dalam proses belajar.
2) Faktor eksternal yaitu faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Sedangkan faktor instrumental berupa kurikulum, sarana, dan guru.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Pada penelitian ini, faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang terdiri dari minat, kondisi jasmani dan rohani, sikap dan kebiasaan belajar. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa yang terdiri dari lingkungan, masyarakat, sekolah dan keluarga. Faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi hasil belajar dapat dilihat melalui perkembangan siswa.