BAB II KAJIAN TEORITIK DAN PENGAJUAN TINDAKAN
3. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Hamalik, “Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku subjek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamannya berulang-ulang”. Adapun menurut Sudjana, “Hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, berupa tes yang disusun secara terencana,
baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan”.13
“Hasil belajar adalah prestasi yang dapat dihasilkan oleh anak dalam usaha belajarnya, dalam tingkat yang sangat menggembirakan. Prestasi tersebut dapat dicapai dengan beberapa cara, dimana cara tersebut dapat
ditempuh melalui beberapa usaha”.14
Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), “hasil belajar dirumuskan dalam bentuk kompetensi, yaitu: kompetensi akademik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi vokasional. Keempat kompetensi tersebut harus dikuasai oleh siswa secara menyeluruh/komprehensif, sehingga menjadi pribadi yang utuh dan
bertanggung jawab”.15
Dari beberapa pengertian belajar dan hasil belajar diatas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan diantara keduanya yaitu belajar lebih kepada bagaimana prosesnya sedangkan hasil belajar yaitu apa yang didapat (hasil) dari proses belajar yang telah mendapat perlakuan berupa tes-tes yang dilakukan selama proses belajar berlangsung.
Hasil belajar merupakan pengukuran sejauh mana seseorang menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru baik berupa pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Hasil belajar pada umumnya merupakan proses belajar yang diwujudkan dalam bentuk nilai.
13Ahmad Jamalong, “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Model Kooperatif NHT di Kelas X SMA Negeri 1 Beduai Kabupaten Sanggau”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 2012, h. 398.
14 Munawir, “Beberapa Faktor Pendukung Dalam Mengantar Keberhasilan Belajar”, Jurnal Kependidikan dan Kemasyarakatan, 2006, h. 23.
15 Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2011), h. 140.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Dari beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian belajar, bahwa belajar merupakan sebuah proses dalam diri siswa dalam bentuk „perubahan’ baik dari pengetahuan, tingkah laku, keterampilan dan sebagainya. Perubahan yang terjadi pada diri siswa didasari dari beberapa faktor yang ada pada diri masing-masing siswa. Tiap-tiap anak memiliki faktor yang berbeda-beda. “Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar anak banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar individu”.16
Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar antara lain:
1) Faktor dari luar yaitu lingkungan alam, sosial serta instrumental seperti bencana alam, latar belakang keluarga dan masyarakat, kurikulum/bahan ajar, guru, sarana dan fasilitas serta administrasi/manajemen.
2) Faktor dari dalam baik dari segi fisik seperti kesehatan jasmani dan rohani maupun psikologi seperti bakat, minat, kecerdasan, motivasi, dan kemampuan kognitif anak.
Segala macam bentuk faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar merupakan cerminan bagi diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dalam memperbaiki kualitas hasil belajar. Hasil belajar merupakan efek yang akan diterima dalam pencapaian proses pembelajaran yang telah mendapat perlakuan berupa tes-tes selama proses belajar mengajar berlangsung.
16 Slameto, op. cit., h. 54.
c. Bentuk Tes Kognitif
Ada beberapa bentuk tes kognitif yang biasa diterapkan dalam penilaian autentik yaitu tes lisan di kelas, pilihan ganda, uraian objektif, uraian non objektif, jawaban singkat, menjodohkan, unjuk kerja atau performansi, dan portofolio. Namun, dalam hal ini difokuskan hanya pada tes berupa pilihan ganda.
Pedoman utama dalam pembuatan butir soal bentuk pilihan ganda adalah sebagai berikut:
1) Pokok soal harus jelas.
2) Pilihan jawaban homogen dalam arti isi. 3) Panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama. 4) Tidak ada petunjuk jawaban benar.
5) Hindari menggunakan pilihan jawaban: semua benar atau semua salah.
6) Pilihan jawaban angka diurutkan. 7) Semua pilihan jawaban logis. 8) Jangan menggunakan negatif ganda.
9) Kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes.
10)Bahasa yang digunakan baku.
11)Letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak.17
Tes pilihan ganda adalah bentuk tes yang jawabannya merupakan pilihan-pilihan objektif hanya terdapat satu jawaban yang benar sehingga pilihan-pilihan yang lain hanya bertugas sebagai pengecoh semata. Pilihan jawaban harus logis dan homogen sehingga memudahkan dalam menjawab pertanyaan serta tidak memiliki pengertian yang ganda atau ambigu.
17 Masnur Muslich, Authentic Assessment: Penilaian Berbasis Kelas dan Kompetensi, (Bandung: PT. Refika Aditama, 2011), h. 110.
d. Pedoman Penskoran Tes Kognitif
Pedoman penskoran merupakan petunjuk yang menjelaskan tentang batasan atau kata-kata kunci untuk melakukan penskoran terhadap soal bentuk uraian, dan kriteria jawaban yang digunakan untuk melakukan penskoran pada soal bentuk uraian non-objektif. Pendoman penskoran dalam hal ini hanya dibatasi pada pedoman penskoran soal bentuk pilihan ganda yaitu cara penskoran tes bentuk pilihan ada dua, yaitu pertama tanpa ada koreksi terhadap jawaban tebakan, dan yang kedua adalah dengan koreksi terhadap jawaban tebakan.
1) Penskoran tanpa koreksi terhadap jawaban tebakan adalah satu untuk tiap butir yang dijawab benar, sehingga jumlah skor yang diperoleh peserta didik adalah banyaknya butir yang dijawab benar. Skor =
x 100
B = banyaknya butir yang dijawab benar N = banyaknya butir soal
2) Penskoran dengan koreksi terhadap jawaban tebakan adalah sebagai berikut:
Skor = [(B -
)/N] x 100
B = banyaknya butir soal yang dijawab benar S = banyaknya butir yang dijawab salah P = banyaknya pilihan jawaban tiap butir N = banyaknya butir soal
Butir soal yang tidak dijawab diberi skor 0.18
Pedoman penskoran memudahkan guru dalam penghitungan hasil belajar siswa pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Walaupun dalam hal ini hanya difokuskan pedoman penskoran pada aspek kognitif saja yang berkaitan dengan hasil belajar siswa dalam bentuk soal pilihan ganda.
18Ibid., h. 114.