• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

1. Hasil Belajar PAI Mapel Akhlak

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003:2). Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial, bermacam-macam ketrampilan lain, dan cita-cita (Hamalik, 2002:45). Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan.

Secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto, 2003: 2). Dari beberapa pendapat tentang belajar yang telah dikemukakan diatas dapat dipahami bahwa belajar adalah

suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur, yaitu jiwa dan raga. Gerak raga yang ditunjukkan harus sejalan dengan proses jiwa untuk mendapatkan perubahan. Tentu saja perubahan yang didapatkan bukanlah perubahan fisik melainkan perubahan yang didapat adalah perubahan jiwa dengan sebab masuknya kesan-kesan baru. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dan interaksi dengan lingkungan yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor (Djamarah, 2011: 13)

Darsono mengemukakan ciri-ciri belajar antara lain sebagai berikut (2000: 30) :

1) Belajar dilakukan dengan sadar dan mempunyai tujuan. Tujuan ini digunakan sebagai arah kegiatan, sekaligus tolak ukur keberhasilan belajar.

2) Belajar merupakan pengalaman sendiri, tidak dapat

diwakilkan kepada orang lain. Jadi, belajar bersifat individual.

3) Belajar merupakan proses interaksi antara individu dan lingkungan. Hal ini berarti individu harus aktif apabila dihadapkan pada lingkungan tertentu. Keaktifan ini dapat

terwujud karena individu memiliki berbagai potensi untuk belajar.

4) Belajar mengakibatkan terjadinya perubahan pada diri orang yang belajar. Perubahan tersebut bersifat integral, artinya perubahan dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotor yang terpisahkan satu dengan yang lain.

Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan intruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, guru harus memerhatikan kondisi internal dan eksternal siswa (Hamdani, 2011: 22).

Berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dari komponen yang telah ada didalamnya, komponen dalam belajar mengajar tersebut adalah peserta didik, guru. Tujuan pembelajaran, materi/isi, metode, media dan evaluasi.

b. Hasil Belajar

Hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian tentang hasil belajar sebagaimana diuraikan diatas dipertegas lagi oleh Nawawi dalam bukunya Ibrahim (2007: 39) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat

keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi tertentu (Susanto, 2013: 5).

Menurut Poerwadarminta (2007: 121) hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang setelah melakukan pekerjaan atau aktifitas tertentu, adapun arti belajar dalam kamus besar bahasa indonesia adalah berusaha untuk mendapatkan kepandaian. Sedang menurut Muhibbin Syah (2009:69) Belajar adalah tahapan perubahan pada tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi lingkungan yang melibatkan proses kognitif, dengan kata lain yang dimaksud hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang atau siswa setelah melalui proses belajar.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melakukan kegiatan belajar, karena belajar sendiri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif mantap. Untuk memperoleh hasil belajar dilakukan evaluasi atau tindak lanjut atau cara untuk mengukur penguasaan siswa. Hasil belajar termasuk komponen pendidikan yang harus disesuaikan dengan pendidikan, karena hasil belajar diukur untuk mengetahui

ketercapaian tujuan pendidikan melalui proses belajar mengajar (Purwanto, 2009: 47).

Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan,nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan ketrampilan. Merujuk pemikiran Syah (2003), menyatakan bahwa ada sembilan wujud hasil belajar yaitu:

1) Kebiasaan, adalah adanya perubahan kebiasaan dalam diri individu. Keberhasilan belajar akan menjadikan seseorang berperilaku positif yang relatif menetap dan otomatis.

2) Ketrampilan, merupakan kegiatan yang berhubungan

dengan urat syaraf dan otot yang bersifat motorik. Kegiatan ini membutuhkan kordinasi gerak yang teliti dan memerlukan kesadaran yang tinggi. Oleh sebab itu, hasil belajar dapat dilihat dari tingkat ketrampilan yang ada dalam diri individu.

3) Pengamatan, dapat diartikan proses menerima, menafsirkan

dan mengartikan rangsangan yang masuk melalui panca indra, terutama mata dan telinga.

4) Berpikir asosiatif dan daya ingat, maksudnya yaitu berpikir untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu lainnya. 5) Berpikir rasional dan kritis, berpikir rasional berarti mampu

menggunakan logika untuk menentukan sebab-akibat, menganalisis, menyimpulkan, bahkan meramalkan sesuatu.

6) Sikap, adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk mereaksi terhadap sesuatu hal. Hasil belajar akan ditandai muncul kecenderungan baru dalam diri seseorang dalam menghadapi suatu objek, tata nilai, peristiwa, dan sebagainya.

7) Inhibisi dalam konteks belajar dapat diartikan kesanggupan individu untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu dan mampu memilih dan melakukan tindakan lain yang lebih baik. hasil belajar dapat dilihat adanya kesanggupan individu dalam melakukan sesuatu secara baik.

8) Apresiasi merupakan kemampuan untuk menilai dan

menghargai terhadap suatu objek tertentu.

9) Tingkah laku efektif, yang mana tingkah laku ini dapat dilihat sebagai wujud hasil belajar. Maksudnya, seseorang dikatakan berhasil belajar jika orang tersebut memiliki tingkah laku yang efektif, yaitu tingkah laku yang memiliki manfaat (Lilik Sriyanti, dkk, 2009: 20-21).

Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dijelaskan pengertian hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang dialami oleh subyek belajar di dalam suatu interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, setelah mengalami belajar, siswa berubah perilakunya dibanding

sebelumnya. Belajar dilakukan untuk mengusahakan adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar. Perubahan tingkah laku sebagai hasil proses pembelajaran diri sendiri dari pengaruh lingkungan. Baik perubahan kognitif, afektif, maupun pesikomotori dalam diri siswa.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Suryabrata (2005: 77), keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1) Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar diri individu. Dalam proses belajar di sekolah, faktor eksternal berarti faktor-faktor yang berada diluar diri siswa. Faktor terdiri dari faktor nonsosial dan faktor sosial.

a) Faktor nonsosial

Merupakan faktor-faktor diluar individu yang berupa kondisi fisik yang ada di lingkungan belajar. Kondisi fisik berupa keadaan cuaca, alat belajar, gedung sekolah, waktu yang digunakan belajar siswa dan metode mengajar guru.

Metode pengajaran seorang guru akan sangat mempengaruhi belajar siswa. Dimana metode mengajar yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa

menjadi tidak baik pula. Dalam penggunaan metode mengajar yang kurang baik itu dapat disbabkan karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menerangkannya tidak jelas. Akibatnya siswa menjadi malas untuk belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan yang setepat, seefisien, dan seefektif mungkin. Sehingga siswa menjadi semangat dalam belajar dan meningkatkan hasil belajar siswa. b) Faktor sosial

Merupakan faktor di luar individu yang berupa manusia. Faktor eksternal yang bersifat sosial, bisa dipilih menjadi faktor yang berasal dari keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat (termasuk teman pergaulan anak). Misalnya, kehadiran orang dalam belajar, kedekatan hubungan antara anak dengan orang lain, keharmonisan atau pertengkaran keluarga, hubungan antara personil sekolah dan sebagainya (Hamadi, 2011: 144).

Faktor ini terdiri dari dua macam, yaitu: (a) Faktor keluarga

Keluarga akan sangat memberikan pengaruh kepada siswa yang belajar seperti : cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga (relasi orang tua dengan anaknya dan relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga lainnya), suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga.

Pola asuh keluarga yang berbeda akan menghasilkan tingkah laku berbeda satu dengan yang lain. Begitu juga dengan anak yang dibesarkan

dengan lingkungan manja, akan berbeda

perkembangan kognitif dan sikapnya dengan anak yang dibesarkan dari lingkungan mandiri (Karwono, 2017: 51).

(b) Faktor masyarakat

Abu Ahmad mendefinisikan masyarakat dengan suatu kelompok yang telah memiliki tatanannkehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya. Masyarakat merupakan faktor yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Kehidupan atau kebiasaan di sekitar siswa seperti kebiasaan berjudi, suka mencuri, dan

kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik akan

lingkungan tersebut. Maka dari itu tugas orang tua, pendidik untuk mengawasi dan memberi pengarahan dan pembinaan kepada anak (siswa) agar tidak terjerumus pada lingkkungan yang buruk.

Teman bergaul dalam lingkungan masyarakat juga mempengaruhi belajar siswa, dimana teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik terhadap diri siswa dan teman bergaul yang buruk pasti akan berpengaruh buruk pula. Agar siswa dapat belajar dengan baik, maka perlula diusahakan agar siswa memiliki teman bergaul yang baik dan pembinaan pergaulan yang baik serta pengawasan dari orang tua dan pendidikan harus bijaksana ( Abu Ahmadi, 1997: 97).

Pola interaksi individu dengan lingkungan inilah yang akan menghasilkn model tingkah laku individu. Jadi, faktor eksternal dapat merubah tingkah laku individu,

mengubah karakter, bahkan dapat memodifikasi

temperamen/ karakter individu. Sebagai ilustrasi orang yang hidup di lingkungan pesisir (pantai) akan memiliki tingkah laku yang berbeda dengan orang yang hidup di daerah bukan pantai seperti daerah pegunungan. Perbedaan ini terlihat

sebagainya. Orang yang hidup di daerah iklim tropis dan subur akan memiliki perbedaan tingkah laku dengan orang yang tinggal di daerah tandus dari sisi perkembangan kognitifnya.

Namun demikian, individu yang berbeda hidup dalam lingkungan yang sama juga akan berbeda tingkah lakunya, hal ini terjadi karena individu yang berbeda merespons lingkungan yang sama dengan cara yang berbeda. Jadi faktor yang mempengaruhi perbedaan tingkah laku individu adalah karena setiap individu berbeda satu dengan yang lain, berinteraksi dengan lingkungan yang berbeda serta merespons lingkungan dengan cara berbeda pula. Oleh sebab itu, tingkah laku manusia adalah unik satu dengan yang lain yang juga sangat mempengaruhi hasil belajar mereka (Karwono, 2017: 51).

2) Faktor internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor internal terdiri dari faktor fisiologis dan faktor psikologis, yaitu:

a) Faktor fisiologis

Merupakan kondisi fisik yang terdapat dalam diri individu. Faktor fisiologis terdiri dari:

Keadaan tonus jasmani secara umum yang ada dalam diri individu sangat mempengaruhi hasil belajar. Keadaan tonus jasmani secara umum ini, misalnya tingkat kesehatan dan kebugaran fisik individu. Apabila badan individu dalam keadaan bugar dan sehat maka akan mendukung hasil belajar. Sebaliknya, jika badan individu dalam keadaan kurang bugar dan kurang sehat akan menghambat hasil belajar. Oleh karena itu untuk mempertahankan jasmani yang sehat maka siswa dianjurkan untuk mengkonsumsi makan dan minum yang bergizi. Selain itu siswa juga dianjurkan memilih pola

istirahat dan olah raga ringan yang

berkesinambungan.

(2) Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu

Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu adalah keadaan fungsi jasmani tertentu, terutama yang terkait dengan fungsi panca indra yang ada dalam diri individu. Panca indra merupakan pintu gerbang masuknya pengetahuan dalam diri individu. b) Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah faktor yang ada dalam diri individu. Faktor-faktor psikis tersebut

antara lain intelegensi, motivasi,minat, bakat, sikap, dan kepribadian (Lilik Sriyanti, dkk, 2009: 23-25). c) Faktor kematangan fisik maupun psikis (kesiapan dan

kelelahan)

Faktor kematangan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:

(1) Kematangan

Kematangan merupakan suatu tingkatan atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana seluruh

organ-organ biologisnya sudah siap untuk

melakukan kecakapan baru. Belajar akan lebih berhasil apabila anak sudah siap (matang) untuk belajar. Dalam konteks proses pembelajaran kesiapan untuk belajar sangat menentukan aktivitas belajar siswa.

(2) Kesiapan

Kesiapan atau readiness merupakan

kesediaan untuk memberi respons atau bereaksi. Kesediaan itu datang dari dalam diri siswa dan juga berhubungan dengan kematangan. Kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dengan kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.

Kelelahan ada dua macam, yaitu jasmani (fisik) dan kelelahan rohani (psikis). Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh (beristirahat). Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk berbuat sesuatu termasuk belajar menjadi menurun dan hilang (Tohirin, 2005: 136-137).

3) Faktor pendekatan belajar

Sebagai cara atau strategi yang digunakan siswa untuk menunjukkan keefektifan dan efisiensi proses mempelajari sesuatu. Strategi dalam hal ini menjadi seperangkat langkah oprasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu. Dalam hal ini faktor pendekatan belajar diambil sebagai sarana untuk meningkatkan hasil belajar

PAI materi akhlak dengan menggunakan metodi group

investigation.

d. Pendidikan Agama Islam

1) Pengertian Pendidikan Agama Islam

Kata pendidikan (tarbiyah) menurut Suwaid (2004: xvii) memiliki tiga kata dasar yaitu: Rabba-yarbuu

(bertambah dan berkembang), Rabaa- yarbii (tumbuh dan mekar), dan Rabba-yarubbu (memperbaiki dan mengurus suatu perkara). Menurut Yusuf Qaradhawy sebagaimana dikutip Azyumardi Azra pendidikan agama Islam yaitu pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan ketrampilannya. Karena pendidikan islam menyiapkan manusia untuk hidup dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya (Azyumardi Azra, 2000: 5).

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terrencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertaqwa, dan berakhlakul karimah dalam mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci Qur’an dan Al-Hadit, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman (Majid, 2012: 11).

Menurut Zakiah Daradjat (1987: 87) pendidikan agama islam adalah suatu usaha membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup. Pendidikan Islam adalah

suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah SWT kepada Muhammad SAW (Azyumardi Azra, 1998: 85). Seperti firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut :





































Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu

suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bago orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat

dan Dia banyak menyebut Allah” (Q.S al-Ahzab : 21)

Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa kita sebagai manusia harus memiliki akhlak yang baik, sesuai dengan ayat di atas telah disebutkan bahwa nabi Muhammad merupakan suri teladan yang baik untuk kita contoh,agar kita selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam itu secara keseluruhannya meliputi dalam lingkup Al-Qur’an dan Hadist, keimanan, akhlak, fiqih/ibadah, dan sejarah, sekaligus menggambarkan bahwa keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, akhlak lainnya maupun lingkungannya (Hablum minallah wa hablum minannas).

Salah satu fungsi pendidikan secara umum yaitu proses memanusiakan manusia dalam rangka mewujudkan budayanya. Manusia di ciptakan dalam keadaan fitrah (Al-Qur’an). Fitrah dalam Al-Qur’an pada dasarnya memiliki arti potensi yaitu kesiapan manusia untuk menerima kondisi yang ada di sekelilingnya dan mampu menghadapi tantangan serta mempertahankan dirinya untuk survive dengan tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan sunnah.

Sedangkan menurut hasil rumusan Seminar

Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai “bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasu7h dan mengawasi berlakuny6a semua ajaran Islam”. (Muzayyin Arifin, 2003: 15). Jadi pendidikan Islam adalah proses bimbingan kepada peserta didik secara sadar dan terencana dalam rangka mengembangkan potensi fitrahnya untuk mencapai kepribadian Islam berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam (Ahmad Taufiq, Dkk, 2011: 219-220).

2) Tujuan Pendidikan Agama Islam pada Jenjang SMA

Tujuan daripada pendidikan agama islam adalah upaya menyiapkan peserta didik agar menjadi muslim yang

dapat menyesuaikan hidupnya dengan ajaran-ajaran islam. Dengan tujuan ini diharapkan peserta didik juga mampu untuk memiliki pengetahuan dan mampu mengamalkan ajaran islam, karena manusia hidup di dunia ini tidak lain adalah jembatan untuk menuju kehidupan di akhirat (Ahmad Taufiq, dkk, 2011: 220-221).

Adapun Pendidikan Agama islam jenjang SMA bertujuan untuk:

a. Menumbuhkembangkan aqidah melalui pemberian,

pemupukan, dan pengembangan pengetahuan,

penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta

pengamalan peserta didik tentang agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT demi mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

b. Mewujudkan peserta didik yang taat beragama,

berakhlak mulia, berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, santun, disiplin, toleran, dan mengembangkan budaya islami dalam komunitas sekolah.

dan aturan-aturan yang islami dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan secara harmonis.

d. Mengembangkan nalar dan sikap moral yang selaras dengan nilai-nilai islami dalam kehidupan sebagai warga masyaratkat, warga negara, dan warga dunia (Novi, 2013: 44)

Tujuan khusus Pendidikan Agama adalah tujuan yang disesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan jenjang pendidikan yang dilaluinya, sehingga setiap tujuan Pendidikan Agama pada setiap jenjang sekolah mempunyai tujuan yang berbeda-beda, seperti tujuan Pendidikan Agama di sekolah dasar berbeda dengan tujuan Pendidikan Agama di SMP, SMA dan berbeda pula dengan tujuan Pendidikan Agama di perguruan tinggi.

Tujuan khusus pendidikan seperti di SMA adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut serta meningkatkan tata cara membaca Al-Qur’an dan tajwid sampai kepada tata cara menerapkan hukum bacaan mad dan wakaf. Membiasakan perilaku terpuji seperti qanaah dan tasawuh dan menjawukan

diri dari perilaku tercela seperti ananiah, hasad, ghadab dan namimah serta memahami dan meneladani tata cara mandi wajib dan shalat-shalat wajib maupun shalat sunat.

3) Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam

Ruang lingkup PAI meliputi perwujudan, keserasian, keselarasan, dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, makhluk lainnya maupun lingkungannya (Muhaimin, 2002: 75). Sedangkan dalam PERMENDIKNAS RI NO 22 Tahun 2006 Ruang

lingkup PAI SMA meliputi Al-Qur’an dan Hadits, Aqidah,

Akhlak, Fiqih, Tarikh/Sejarah Islam (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomer 22 Tahun 2006)

Ruang lingkup pendidikan islam tidak hanya dalam ranah keagamaan (ilmu-ilmu agama seperti akidah, ilmu Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan lain-lain), namun juga dalam aspek yang lain dan lebih komprehensif sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan manusia. Abdullah Nashih ‘Ulwan (1981: xxxi) merumuskan ruang lingkup pendidikan islam terdiri dari: pendidikan islam (akidah), pendidikan

akhlak/moral, pendidikan fisik/jasmani, pendidikan

intelektual/ akal, pendidikan psikhis/ jiwa, pendidikan sosial, dan pendidikan seksual yang kesemuanya satu kesatuan

e. Mapel Akhlak

1) Pengertian Mata Pelajaran Akhlak

Akhlak merupakan salah satu mata pelajaran yang termasuk dalam rumpun Pendidikan Agama Islam. Penekanan mata pelajaran Akhlak yang terfokus pada penggalian pemahaman dan implementasi tentang akhlak dan perilaku peserta didik, membuat mata pelajaran Akhlak dianggap penting dalam membentuk karakter peserta didik. Hal ini sesuai dengan tujuan yang tercantum Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003.

Akhlak merupakan mata pelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di SMA. Secara bahasa pengertian Akhlak dijabarkan melalui dua kata, yakni akidah dan akhlak. Akidah secara umum membahas tentang ketauhidan seseorang dan pengakuan ketaqwaan seseorang terhadap Tuhannya. Sedangkan Akhlak dapat disimpulkan sebagai perilaku manusia yang berfungsi sebagai sarana berinteraksi sosial dengan sesamanya.

Adapun hakikat dan tujuan mata pelajaran Akhlak secara garis besar adalah sebagai pedoman tertulis dan penerapan dalam berperilaku sesuai ajaran Islam.

Karakteristik mata pelajaran Akhlak adalah penekanan pada pembiasaan Akhlaqul Karimah dan menjauhi segala

sifat Akhlaqul Madzmumah (Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 117 tahun 2014).

2) Ruang Lingkup Mapel Akhlak

Menurut Ibn Maskawaih dalam bukunya Ahmad Taufiq (2011: 227), menyebut ada tiga hal pokok yang dapat dipahami sebagai materi pendidikan akhlak yaitu :

a) Hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh b) Hal-hal yang wajib bagi jiwa

c) Hal-hal yang wajib sebagai hubungannya dengan sesama

manusia.

Sedang ruang lingkup mapel Akhlak adalah sebagai berikut :

a) Aspek aqidah terdiri atas keimanan kepada sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah, keimanan kepada kitab Allah, Rasul Allah, sifat-sifat dan mukjizatnya dan hari akhir. b) Aspek Akhlak terpuji yang terdiri dari khauf, taubat,

Dokumen terkait