HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Verifikasi Hipotesis
4) Hasil belajar Siklus II
Siklus II merupakan lanjutan dari siklus I yang telah mengalami refleksi, sehingga dari hasil tes pada siklus I kita bisa melihat bagaimana perkembangan hasil belajar murid kelas IV terhadap mata pelajaran IPA konsep daur hidup hewan setelah tindakan kelas yaitu model pembelajaran Make- A Match. Tes akhir siklus II ini diikuti oleh semua murid kelas IV yang berjumlah 20 orang. Adapun data nilai hasil tes murid pada akhir siklus II dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut ini.
Tabel 4.7. Statistik Hasil Tes Murid pada Siklus II
Statistik Nilai Statistik Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah pada lampiran VII
Tabel 4.7 diatas diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata hasil belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar setelah proses belajar mengajar melalui model pembelajaran Make- A Match yang dilaksanakan pada Siklus II adalah 79.00 dengan nilai ideal yang mungkin dicapai 100.
Sedangkan secara individual, nilai yang dicapai responden tersebar dari nilai terendah 65 dari nilai minimum ideal yang mungkin dicapai 0 sampai dengan nilai
62
tertinggi 95 dari nilai ideal yang mungkin dicapai 100 dengan rentang nilai 30. Jika nilai penguasaan murid di atas dikelompokkan ke dalam lima kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti ditunjukkan pada Tabel 4.5 berikut ini.
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada Siklus II
No Nilai Kategori Frekuensi Persen (%)
Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah pada lampiran VII
Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 20 murid Kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar 20% murid yang masuk dalam kategori sangat tinggi, 45% masuk kategori tinggi, 20% masuk dalam kategori sedang, 15%
masuk dalam kategori rendah dan tidak ada masuk dalam kategori sangat rendah.
Nilai rata-rata hasil belajar murid yang diperoleh setelah proses belajar mengajar selama Siklus II berlangsung yaitu sebesar 79.00 Setelah dikategorisasikan berdasarkan tabel di atas, mengetahui bahwa hasil belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar berada ada kategori Tinggi.
Apabila tes hasil belajar murid pada Siklus II kemudian dikategorikan dalam kriteria ketuntasan minimum yang berlaku di SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar untuk mata IPA konsep daur hidup hewan maka diperoleh persentase ketuntasan belajar murid pada Siklus II seperti pada Tabel 4.9.
63
Tabel 4.9 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada Siklus II
Kriteria
Ketuntasan Kategori Frekuensi Persen (%) 0 – 64
Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah pada lampiran VII
Tabel 4.9 dapat dilihat bahwa persentase ketuntasan belajar murid setelah diajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match sebesar 20 murid termasuk dalam kategori tuntas dan tidak ada murid yang masuk dalam kategori tidak tuntas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa jumlah murid yang berada dalam kategori tuntas mengalami peningkatan yakni 14 orang atau 60% pada Siklus I, kemudian
naik menjadi 20 orang atau 100% pada Siklus II. Hal ini juga menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar murid diatas 85%. Untuk melihat peningkatan hasil belajar IPA konsep Daur Hidup Hewan melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match berdasarkan hasil tes untuk setiap siklus akan disajikan secara sederhana pada
tabel 4.7 berikut:
Tabel 4.10 Gambaran Peningkatan Hasil Belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada setiap siklus
Hasil
Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah pada lampiran VII
64
Tabel 4.10 di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPA Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar yang dilaksanakan dalam dua siklus mengalami peningkatan pada akhir siklus I nilai rata-rata yang diperoleh murid adalah 67.00 dan berada pada kategori Sedang, sedangkan pada akhir siklus II nilai rata-rata yang diperoleh murid adalah 79.00 dan berada pada kategori yang tinggi.
Dari hasil ini menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match dari 60% menjadi 100%.
Besarnya persentase peningkatan hasil belajar murid berdasarkan kriteria ketuntasan belajarnya adalah 40%. Ini berarti murid yang mengalami peningkatan hasil belajar dari Siklus I ke Siklus II dan adalah 8 orang murid dari 20 murid.
Secara umum pembelajaran IPA konsep Daur Hidup Hewan melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar sudah bisa mengantar murid untuk lebih mudah memahami materi pelajaran yang diberikan.
B. Pembahasan
Di samping adanya peningkatan penguasaan materi pelajaran IPA konsep daur hudip hewan murid dalam proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match, juga ditemukan hal-hal lain di antaranya:
a. Semangat/antusias
Dari pengamatan yang dilakukan peneliti selama dua siklus pengajaran melalui proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match, terlihat adanya peningkatan hasil belajar juga adanya semangat murid dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan penerapan model pembelajaran Make- A
65
Match dalam pembelajaran IPA. Poerwadaminto (1998:108) mengemukakan
“Belajar sebagai kegiatan berusaha berlatih dan sebagainya supaya mendapatkan kepandaian”. Pendapat ini menekankan pada aspek perubahan tingkah laku sebagai dampak dari adanya inetraksi dengan lingkungan baik lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah murid yang aktif pada saat proses belajar berlangsung.
b. Motivasi dan minat
Selama penelitian dilaksanakan motivasi dan minat belajar murid terhadap pelajaran IPA meningkat, hal ini dilihat semakin kurangnya murid yang melakukan kegiatan lain selama pembahasan materi berlangsung. Bahkan murid sudah mampua menyelesaikan soal yang dibuat sendiri dan soal yang dibuat oleh teman yang lainnya. Mereka merasa senang belajar IPA dengan materi yang diberikan sesuai dengan model pembelajaran yang diterapkan serta soal-soal yang diberikan sangat menarik karena berjenjang sesuai dengan kemampuan awal murid hingga mendapatkan pengembangan ke soal-soal yang sukar dalam IPA. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Muhibin (2000: 3) faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik meliputi 2 aspek, yaitu aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek Psikologis (yang bersifat rohaniah). Dari hal tersebut motivasi dan minat belajar murid berasal dalam diri seorang peserta didik.
c. Percaya diri
Demikian juga halnya dengan rasa percaya diri murid meningkat selama mengikuti dua siklus dalam proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match. Pada umumnya murid mempunyai pendapat bahwa mereka tidak yakin dapat menyelesaikan tugas-tugas dan memperoleh hasil yang
66
maksimal dalam mempelajari IPA melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match. Akan tetapi dengan adanya dorongan dan motivasi selama pelaksanaan
tindakan pandangan murid yang demikian semakin berkurang. Hal ini bisa terlihat dari soal-soal yang diberikan baik sebagai tugas di rumah, latihan, maupun keinginan murid untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dan juga dalam mengejarkan soal tes, yang keseluruhan itu menunjukkan adanya peningkatan percaya diri murid untuk memberikan jawaban soal yang benar. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Brown dan Walter dalam Hamzah (2003: 15) terdiri atas dua aspek penting, yaitu accepting dan challenging. Accepting berkaitan dengan kemampuan murid memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang telah ditentukan. Sementara challenging, berkaitan dengan sejauh mana murid merasa tertantang dari situasi yang telah diberikan sehingga melahirkan kemampuan untuk mengajukan masalah atau soal IPA.
d. Interaksi murid dengan murid, murid dengan guru
Dari pengamatan yang dilakukan peneliti selama dua siklus pengajaran melalui proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match, terlihat bahwa dengan diberikannya kesempatan kepada murid lain untuk membuat soal sendiri dan menjawab soal yang dibuat sendiri maupun oleh teman yang lainnya dalam proses belajar mengajar melalui penerapan model pembelajaran Make- A Match, dan membantu temannya yang masih kurang dalam memahami konsep daur
hidup hewan, maka tercipta interaksi antara murid dengan murid lainnya. Sedangkan kepercayaan diri yang sudah dimiliki oleh murid menimbulkan keberanian untuk bertanya pada hal-hal yang kurang dimengerti. Oleh karena itu, kondisi ini menimbulkan interaksi antara guru dengan murid.
55 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN