• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE- A MACTH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE- A MACTH"

Copied!
131
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE- A MACTH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONSEP

DAUR HIDUP HEWAN PADA MURID KELAS IV SD INPRES KAJENJENG KOTA MAKASSAR

SKRIPSI

OLEH:

FIRNAWATI NIM. K 10540 04872 10

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2013

(2)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE- A MACTH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONSEP

DAUR HIDUPHEWAN PADA MURID KELAS IV SD INPRES KAJENJENG KOTA MAKASSAR

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian guna Memperoleh Gelar Serjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas

Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh FIRNAWATI NIM. K 10540 04872 10

JURUSAN S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2013

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul : PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MAKE- A MACTH UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA KONSEP DAUR HIDUP HEWAN PADA MURID KELAS IV SD INPRES KAJENJENG KOTA MAKASSAR

Atas Nama :

Nama : FIRNAWATI

NIM : K. 10540 04872 10

Jurusan/ Prodi : S.1 PGSD

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Setelah diperiksa dan diteliti, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan dan layak untuk diujikan.

Makassar,...Oktober 2013

Pembimbing I Pembimbing II

DR. Syarifuddin Kune, M.Si Haerul Syam, S.Pd M.Pd

Mengetahui :

Dekan FKIP Unismuh Ketua Jurusan

Makassar Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum Sitti Fithriani Saleh, S.Pd, M.Pd

NBM. 858 625 NBM. 858 638

(4)

SURAT PERJANJIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : FIRNAWATI

Nim : K 10540 04872 10

Juruasan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:

1. Mulia dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya, saya akan Menyusun sendiri skripsi saya ( tidak dibuatkan oleh siapapun )

2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.

3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan ( plasiat ) dalam penyusunan skripsi saya.

4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.

Makassar, Oktober 2013 Yang membuat perjanjian.

Firnawati Diketahui oleh :

Plt. Ketua Prodi PGSD

Sitti Fithriani Saleh, S.Pd.,M.Pd NBM. 858 638

(5)

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : FIRNAWATI

Stambuk : K 10540 04872 10 Program sudi : Strata satu ( S1 )

Juruasan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Dengan ini menyatakan:

“ Skripsi yang saya ajukan didepan tim penguji adalah asli karya saya sendiri, bukan hasil jiplakan dan tidak dibuat oleh siapapun”

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.

Makassar, Oktober 2013.

Yang membuat pernyataan.

Firnawati

Diketahui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

DR. Syarifuddin Kune, M.Si Haerul Syam, S.Pd M.Pd

(6)

ABSTRAK

Firnawati, 2012. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make- A Macth Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Hidup Hewan Pada Murid Kelas Iv Sd Inpres Kajenjeng Kota Makassar. Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Skripsi ini dibimbing oleh Syarifuddin Kune dan Haerul Syam. Permasalahan dalam penelitian ini yaitu Apakah hasil belajar murid IPA konsep daur hidup hewan dapat meningkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar? Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar. Jenis penelitian yang dipilih yaitu Penelitian tindakan yang berbasis kelas (classroom action research) yang bersifat deskriptif. Fokus penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make - A Match pada bidang studi IPA dan hasil belajar IPA setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make - A Match. Subjek penelitian ini adalah guru dan murid kelas IV sebanyak 20 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan observasi guru dan murid. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif Make- A Match belum sempurna hal ini terlihat hasil belajar IPA yang diperoleh berada pada kategori sedang. Pada siklus II hasil belajar IPA pada siklus II nilai rata-rata hasil belajar murid pada mata pelajaran IPA berada pada kategori tinggi. Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match dapat meningkatkan hasil belajar IPA Konsep Daur Hidup Hewan pada murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar.

Kata Kunci : Hasil Belajar, Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make- A Macth

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan anugerah-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

Penulis menyadari bahwa sejak penelitian direncanakan sebagai akhir penyusunan skripsi banyak hambatan yang dihadapi, namun dengan dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, hambatan tersebut dapat teratasi. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Ayahanda H. Juma Dg. Bella dan Ibunda Hj. Kanang serta saudara-saudara yang telah memberikan dukungan moril, materil dan motivasi serta doa yang senantiasa diberikan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan studi. Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Dr. Syarifuddin Kune, M.Si Pembimbing I dalam penyusunan skripsi yang banyak memberikan motivasi dan bimbingan selama penulis menjalani kuliah sampai selesainya skripsi ini dan Haerul Syam, S.Pd M.Pd Pembimbing II yang bersedia meluangkan waktu dan tenaga serta pikiran untuk membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi.

Selanjutnya ucapan terima kasih yang sama penulis ucapkan kepada: Dr. H.

Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr Andi Sukri Syamsuri. M.Hum., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Sitti Fithriani Saleh, S.Pd, M.Pd.,Plt Ketua Jurusan

(8)

Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Bapak dan Ibu dosen yang selama ini rela menyumbangkan pengetahuan kepada penulis. Kepala SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar yang telah memberi izin dan bantuannya dalam pelaksanaan penelitian, rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar atas kerjasamanya dalam perkuliahan maupun dalam penulisan skripsi iniasar atas kerjasamanya dalam perkuliahan maupun dalam penulisan skripsi ini.

Demikianlah, semoga karya tulis ini dapat memberikan manfaat dan nilai tambah dan usaha yang dilaksanakan mendapat rahmat dan Ridha Allah Swt.

Makassar,…. Oktober 2013 Penulis

Firnawati

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN DEPAN……… i

HALAMAN JUDUL……… ii

PENGESAHAN PEMBIMBING……… iii

SURAT PERJANJIAN……… iv

SURAT PERNYATAAN……….. vi

ABSTRAK………. vii

KATA PENGANTAR……….. vii

DAFTAR ISI ………. ix

DAFTAR TABEL……… xi

DAFTAR GAMBAR………... xii

DAFTAR LAMPIRAN………. xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identikasi Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Pemecahan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

1. Belajar dan Hasil Belajar ... 8

2. Hakekat IPA di SD ... 15

3. Model Pembelajaran Make-A Match ... 18

(10)

4. Konsep Daur Hidu Hewan ... 20

B. Kerangka Pikir ... 24

C. Hipotesis Tindakan... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A. Jenis Penelitian ... 26

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 26

C. Fokus penelitian ... 26

D. Prosedur Penelitian... 27

E. Instrumen Penelitian... 31

F. Teknik Pengumpulan Data ... 32

G. Teknik Analisis Data ... 33

H. Indikator Keberhasilan ... 34

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 35

B. Pembahasan ... 44

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 45

B. Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 47

LAMPIRAN ... 50

(11)

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identikasi Masalah ... 5

C. Rumusan Masalah ... 6

D. Pemecahan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN ... 8

A. Kajian Pustaka ... 8

1. Belajar dan Hasil Belajar ... 8

2. Hakekat IPA di SD ... 15

3. Model Pembelajaran Make-A Match ... 18

4. Konsep Daur Hidu Hewan ... 20

B. Kerangka Pikir ... 24

C. Hipotesis Tindakan... 25

BAB III METODE PENELITIAN ... 26

A. Jenis Penelitian ... 26

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 26

C. Fokus penelitian ... 26

D. Prosedur Penelitian... 27

E. Instrumen Penelitian... 29

F. Teknik Pengumpulan Data ... 30

G. Teknik Analisis Data ... 31

H. Indikator Keberhasilan ... 32

DAFTAR PUSTAKA ... 33

(12)

iii

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman 1. Tabel 3.1 Kriteria Presentase Pada Surat Edaran Direktorat

Pendidikan Menengah Umu N. 288/MN/1999………… 31

(13)

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman 1. Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir……… 25

(14)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Judul Halaman 1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I dan Siklus II……… 35 2. Lembar Observasi Guru dan Siswa………. 60 3. Media Kartu Soal dan Jawaban………... 78 4. Instrumen Soal Siklus I dan Siklus II………. 82

(15)

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Di sekolah dasar IPA merupakan ilmu yang mencari tahu tentang alam secara sistematis sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Sejalan dengan itu kata “IPA” biasa diterjemahkan dengan Ilmu Pengetahuan Alam yang berasal dari kata Natural Science. Natural artinya alamiah dan berhubungan dengan alam, sedangkan science artinya ilmu pengetahuan. Jadi IPA secara harafiah dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan tentang alam atau yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.

Fisher (Bundu 2007: 3), menyebutkan beberapa pengertian IPA sebagai berikut:

(1) IPA adalah bangunan atau deretan konsep dan skema konseptual yang saling berhubungan dengan hasil eksperimentasi (2) IPA adalah bangunan pengetahuan yang diperoleh dengan menggunakan metode observasi. (3) IPA adalah suatu sistem untuk memahami alam semesta melalui data yang dikumpulkan melalui observasi atau eksperimen

Dari pengertian tersebut di atas, dapat dipahami tentang langkah-langkah yang ditempuh dalam memahami alam (proses IPA) dan pengetahuan yang dihasilkan berupa fakta, prinsip, konsep, dan teori (produk IPA). Kedua aspek tersebut harus didukung oleh sikap IPA (sikap ilmiah) berupa keyakinan akan nilai yang harus dipertahankan ketika mencari atau mengembangkan pengetahuan baru.

Sehubungan dengan pengertian IPA diatas, maka IPA di Sekolah Dasar merupakan salah satu program pembelajaran yang bertujuan untuk membina dan

1

(16)

2

menyiapkan murid agar nantinya murid tanggap dalam menghadapi lingkungannya.

Sejalan dengan itu Abruscato, (Khairudin dan Soedjono, 2005: 15) mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran Sains di kelas: “(1) mengembangkan kognitif murid, (2) mengembangkan afektif murid, (3) mengembangkan psikomotorik murid, (4) mengembangkan kreativitas murid, dan (5) melatih murid berfikir kritis”.

Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa tujuan pembelajaran IPA di sekolah dasar adalah membentuk dan mengembangkan kognitif, afektif, psikomotor, dan kreativitas serta melatih murid berfikir kritis dalam mengaktualisasikan diri memahami fenomena-fenomena alam yang ada di lingkungannya, sehingga nantinya murid dapat menghadapi tantangan hidup yang semakin kompetitif serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang akan terjadi di lingkungan sekitarnya, dan sangat diharapkan murid dapat merasakan atau melakukan langsung apa yang dipelajarinya.

Namun kenyataan pembelajaran IPA di SD masih kurang melibatkan murid untuk melakukan secara langsung. Menurut Bundu (2007: 5) mengatakan bahwa

”rendahnya pembelajaran IPA diakibatkan pengajaran fakta-fakta IPA dilakukan melalui ceramah dan kurang memberikan kesempatan kepada murid untuk menguasai konsep IPA pada ranah kognitif yang lebih tinggi”. Dalam pembelajaran IPA di SD, guru harus lebih banyak melibatkan murid secara langsung atau memberikan kesempatan kepada murid untuk berhubungan langsung dengan apa yang dipelajarinya sehingga murid dapat sepenuhnya terlibat dalam setiap situasi pembelajaran.

(17)

3

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), konsep pembelajaran IPA mengandung seluruh aspek tentang yang berhubungan dengan pengetahuan untuk dapat menanggapi isu lokal, nasional, kawasan dunia, sosial, ekonomi, lingkungan dan etika serta menilai secara krisis perkembangan dalam bidang IPA di SD hendaknya dapat dirancang dan dipersiapkan untuk memotivasi dan dapat menimbulkan suatu pertanyaan. Menurut Rusmin (1995: 18) Ciri utama pembelajaran IPA adalah “menimbulkan suatu pertanyaan atau masalah dilanjutkan dengan arahan guru menggali informasi, mengkonfirmasikan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki dan mengarahkan pada tujuan apa yang belum dan harus diketahui”.

Menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 Salah satu tujuan pengajaran IPA adalah “agar murid memahami konsep-konsep IPA dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari”. Dalam proses belajar mengajar IPA penggunaan metode pembelajaran yang baik mempermudah murid untuk menyerap konsep-konsep pelajaran yang disampaikan guru sehingga berdampak pada tingkat keberhasilan murid dalam belajar. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid.

Berdasarkan hasil observasi di SD Inpres Kajenjeng Makassar, Dari hasil observasi penulis dapat menyimpulkan bahwa: 1) guru dalam mengajarkan materi IPA masih menggunakan metode konvensional sehingga murid hanya pasif dalam kegiatan pembelajaran, 2) materi yang diajarkan hanya menekankan pada faktor

(18)

4

ingatan dan pengetahuan tanpa melibatkan murid secara langsung menghubungkan pengetahuan dengan lingkungannya, 3) masih kurangnya pemahaman murid terhadap materi IPA hal ini terlihat dari hasil ujian Semeser I tahun ajaran 2011/2012 dimana nilai yang diperolehnya masih dibawah rata-rata yaitu 50.45 dimana murid yang tuntas hanya mencapai 9 murid sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 11 orang sementara Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA yaitu 65.00 hal ini merupakan sebuah permasalahan yang harus dicari jawabannya.

Selanjutnya hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru terungkap bahwa: 1) guru dalam mengajarkan materi IPA masih menggunakan metode konvensoional karena guru menganggap bahwa metode ini murid akan mudah memahami materi, 2) guru kurang melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran karena membutuhkan waktu yang banyak sementara guru mengejar target kurikulum, 3) kurangnya pengetahuan guru tentang model-model pembelajaran. Peneliti merancang pemecahan masalah melalui tindakan perbaikan dengan melakukan penelitian tindakan kelas (Classroom action Research) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Makassar.

Pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match (mencari pasangan) adalah model pembelajaran dimana murid mencari pasangan kemudian bergabung untuk saling menanyakan atau mencocokkan antara soal dengan jawaban. Model pembelajaran mencari pasangan memungkinkan murid untuk melakukan pertukaran informasi sehingga mendapatkan informasi tambahan tentang suatu materi dari pasangan yang lain. Biasanya materi yang cocok untuk model ini adalah materi-materi yang

(19)

5

memerlukan pertukaran informasi dan membahas informasi serta membahas konsep- konsep

Salah satu faktor keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah pendekatan mengajar, saat ini masih banyak guru yang menganut paradigma lama yaitu guru masih menganggap dalam proses pembelajaran hanya ada transfer pengetahuan dari guru kepada murid. Sudah seharusnya kegiatan pembelajaran juga lebih mempertimbangkan murid. Proses belajar tidak harus berasal dari guru menuju murid, murid bisa juga saling mengajar dengan sesama murid lainnya. Alternatif pemecahan masalah adalah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match. Model pembelajaran ini diharapkan murid dalam memahami materi

yang diajarkan. penerapan metode ini murid mampu mengembangkan kemampuan komunikasi mereka. Model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar IPA konsep Daur hidup hewan.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis mengadakan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran kooperatif tipe Make- A Macth Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA Konsep Daur Hidup Hewan Pada Murid Kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar”.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Guru dalam mengajarkan materi IPA masih menggunakan metode konvensoional karena guru, guru kurang melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran karena membutuhkan waktu yang banyak

(20)

6

sementara guru mengejar target kurikulum, dan kurangnya pengetahuan guru tentang model-model pembelajaran.

2. Masih kurangnya pemahaman murid terhadap materi IPA hal ini terlihat pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 nilai rata-rata murid berada pada kategori rendah atau 50.45 dimana murid yang tuntas hanya mencapai 9 murid sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 11 orang sementara Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk mata pelajaran IPA yaitu 65.00.

C. Pemecahan Masalah

Berdasarkan masalah di atas, peneliti merancang pemecahan masalah melalui tindakan perbaikan dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (Classroom action Research) dengan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada

murid kelas SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar.

D. Rumusan Masalah

Sebagaimana uraian pada latar belakang yang telah dikemukakan, maka secara umum permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah hasil belajar murid IPA konsep daur hidup hewan dapat meningkatkan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar?”

E. Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari permasalahan di atas, tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar”

(21)

7

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat memberikan tiga manfaat sebagai berikut : 1. Manfaat Teoretis

a. Bagi akademis, khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), tentang kondisi objektif dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match dalam meningkatkan hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan di Sekolah dasar.

b. Bagi peneliti selanjutnya dan sebagai bahan perbandingan atau referensinsi terhadap penelitian yang relevan.

2. Manfaat Praktis

Dilihat dari segi praktis, ada tiga manfaat yang ingin dicapai :

a. Bagi sekolah, memaksimalkan tujuan pendidikan serta visi dam misi yang dikembangkanannya sebagai suatu unit satuan pendidikan dan menciptakan sumber daya manusia dalam hal ini lulusan yang handal dan potensi dibidang studi.

b. Bagi guru, memiliki pengetahuan tentang teori model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match sebagai salah satu bentuk pembelajaran di SD

c. Bagi murid, memotivasi murid untuk aktif dan mampu dalam mengikuti proses pembelajaran IPA dengan baik

(22)

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka

1. Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar

Pada hakikatnya, manusia belajar karena mempunyai hasrat ingin tahu.

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan.

Belajar bukan hanya mengingat, melainkan meliputi kegiatan yang lebih luas, yakni mengalami perubahan tingkah laku.

Belajar terjadi bila seseorang menghadapi suatu situasi yang di dalamnya tidak dapat menyesuaikan diri dengan menggunakan bentuk-bentuk kebiasaan untuk menghadapi tantangan atau apabila ia harus mengatasi rintangan dalam aktivitasnya.

Dengan demikian, belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi yang dihadapi dalam hidupnya.

Hamalik (2001: 27) menyatakan bahwa:

Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami, hasil belajar bukan suatu penguasaan latihan melainkan pengubahan kelakuan.

Belajar dapat diartikan secara luas dan secara sempit. Secara luas Belajar Haling (2007: 2) mengemukakan bahwa “Secara luas, belajar diartikan sebagai kegiatan psikofisik menuju perkembangan pribadi seutuhnya sedangkan secara sempit, belajar diartika sebagai usaha penguasaan materi pelajaran”Sedangkan

8

(23)

9

Oemar Hamalik dalam Wiriatmojo (2002: 54) memberikan defenisi belajar sebagai berikut: “Belajar adalah suatu perbuatan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam bertingkah laku berkat pengalaman latihan”

Kemudian Slameto (1995:37) menyatakan bahwa: “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Selanjutnya Syah (2003: 68) mengemukakan bahwa ”belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang mengakibatkan proses kognitif”.

Selanjutnya menurut Suryono, dkk (2011: 9) mengemukakan bahwa ”belajar adalah suatu aktivitas atau suatu proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap, dan mengokohkan kepribadian”.

Sedangkan menurut Budiningsih (2004: 20) mengemukakan bahwa ”belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antar stimulus dan respon”. Menurut Rahardjo & Daryanto (2012: 16) mengemukakan bahwa ”belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar individu.

Sedangkan hasil Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, berarti nilai yang dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya), (Poerwadarminta, 1991: 33) hasil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah nilai yang dicapai seseorang dari rangkaian usahanya (belajar) dengan kemampuan, kecakapan, keterampilan, yang dapat diukur nilainya (evaluasi) setelah melakukan pekerjaan tertentu. Gagne dan

(24)

10

Briggs (Abied, 2009: 21) memberikan definisi bahwa: „hasil adalah berbagai jenis kemampuan yang diperoleh dari belajar‟. Sedangkan menurut Sudjana (2005 : 49) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah terjadinya perubahan pada diri siswa ditinjau dari tiga aspek yaitu kognitif, Afektif dan Psikomotor siswa”.

b. Pengertian Hasil Belajar

Berbicara mengenai hasil belajar, maka terlebih dahulu akan dikemukakan arti belajar itu sendiri, sebelum membahas pengertian hasil belajar. Hasil yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil nyata yang dicapai seseorang dari rangkaian usahanya (belajar) dengan kemampuan, kecakapan, keterampilan, yang dapat diukur nilainya (evaluasi) setelah melakukan pekerjaan tertentu). Untuk mendapatkan pengertian yang objektif tentang belajar, maka dibawah ini beberapa pendapat ahli psikologi, khususnya ahli psikologi pendidikan tentang balajar sebagai berikut

Dari pernyataan yang telah dikemukakan di atas baik itu pengertian mengenai hasil maupun pengertian mengenai belajar, maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar. Gagne dan Briggs (Abied, 2009:21) memberikan definisi bahwa “hasil belajar adalah berbagai jenis kemampuan yang diperoleh dari belajar”. Ada 5 jenis kemampuan hasil belajar, yaitu :

1) Keterampilan intelektual 2) Informasi verbal

3) Strategi kognitif.

4) Keterampilan motorik.

(25)

11

5) Sikap.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah usaha yang dilakukan seseorang dalam proses perubahan tingkah laku yang merupakan hasil pengalaman sendiri dan interaksinya dengan lingkungan sendiri.

Dari pernyataan yang telah dikemukakan di atas baik itu pengertian mengenai hasil maupun pengertian mengenai belajar, maka hasil dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar, hal ini sama seperti yang diungkapkan Muslich, Mansur (2004: 28), mengemukakan bahwa Hasil belajar adalah hasil belajar yang dicapai murid dalam bidang studi tertentu dengan menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan belajar seseorang.

Hal demikian penguasan pengetahuan dan keterampilan merupakan wujud dari hasil belajar. Tinggi rendahnya hasil belajar tergantung pada tingkat penguasaan materi pelajaran kurang maka hasil belajar yang dicapai kurang atau rendah, demikian pula sebaliknya, bila tingkat penguasaan terhadap materi pelajaran tinggi, maka hasil belajar pun tinggi.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar murid.

Usaha untuk hasil belajar tidak lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya, faktor yang mempengaruhi hasil belajar murid banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua yaitu: faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri murid yang sedang belajar sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada diluar diri murid.

(26)

12

Hasil belajar yang dicapai murid pada hakekatnya merupakan hasil interaksi berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru, orang tua, terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar murid penting sekali demikian halnya dengan murid itu sendiri.

Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar (Syafri, 2009:23) adalah:

1. Faktor intern yang terdiri dari:

a) Faktor jasmaniah seperti kesehatan, cacat tubuh

Proses belajar murid akan terganggu jika kesehatan jasmani murid terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan fungsi alat inderanya serta tubuhnya.

Agar murid dapat belajar dengan baik haruslah mengusahakan kesehatan jasmaninya tetap terjamin dengan cara selalu mengindahkan ketentuan tentang bekerja, tidur, makan, olahraga, dan lain-lain.

b). Faktor Psikologi

Faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar murid antara lain:

(1) Integensi (2) Perhatian (3) Minat (4) Bakat (5) Motovasi

(27)

13

(6) Kamatangan (7) Kesiapan c). Faktor kelelahan

Faktor kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: kelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbulnya kecenderungan untuk membaringkan tubuh.

Sedangkan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk sesuatu hilang.

2. Faktor ekstern yang terdiri dari:

a). Faktor keluarga meliputi:

(1). Cara orang tua mendidik (2). Relasi antar anggota keluarga (3). Suasana rumah

(4). Keadaan ekonomis keluarga (5). Pengertian orang tua

(6). Latar belakang kebudayaan

b). Faktor sekolah meliputi:

(1). Guru sebagai pengajar (2). Metode mengajar (3). Alat pengajaran (4). Disiplin sekolah

(5). Relasi guru dengan murid (6). Waktu sekolah

(28)

14

(7). Standar pelajaran di atas ukuran

Dari sekian banyaknya faktor yang mempengaruhi hasil belajar, media gambar dalam pengajaran merupakan salah satu bagian dari faktor yang juga mempengaruhi hasil belajar, olehnya itu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dianggap perlu dalam proses belajar mengajar bagi murid sehingga menunjang peningkatan hasil balajar.

c. Ciri-Ciri Belajar

Ciri-ciri belajar dapat dilihat sebagai berikut :

1) Belajar ditandai adanya perubahan tingkah laku melatih perubahan tingkah laku relatif permanen

2) Perubahan tingkah laku itu pada dasarnya merupakan kecakapan baru Dalam belajar perubahan tingkah laku tersebut merupakan hasil belajar dan pengalaman atau latihan

Menurut Hamalik (1994: 49-50) menyatakan belajar sesungguhnya memiliki ciri-ciri (karaekteristik) tertentu:

1) Belajar bebrbeda dengan kematangan

2) Belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental 3) Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap.

d. Tujuan Belajar

Tujuan berkaitan dengan arah atau sasaran yang ingin dicapai dalam proses pendidikan. Satriani (2009: 39) Adapun tujuan belajar pada diri manusia sebagai berikut :

1) Perubahan tingkah laku ke arah yang lebih berkualitas 2) Sasaran pembentukan pemahaman

3) Pembentukan nilai dan sikap

4) Pembentukan keterampilan-keterampilan personal.

(29)

15

e. Penilaian Hasil Belajar

Menurut Wahidin (2006: 61-62) penilaian berbasis kelas merupakan kewenangan pada sekolah untuk menentukan kriteria keberhasilan, cara, dan jenis penilaian. Kegiatan penilaian berbasis kelas menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut : a. Berorientasi pada kompetensi, b. Mengacu pada patokan atau kriteria, c.

Ketuntasan belajar, d. Menggunakan berbagai cara, dan e. Valid, adil, terbuka dan berkesinambungan.

Sekolah melaporkan hasil penilaian kepada orang tua murid, dan pihak lain yang berkepentingan. Laporan menggambarkan kemajuan dan hasil belajar pada kurun waktu tertentu. Isi laporan memuat deskripsi kemajuan dan hasil belajar secara menyeluruh. Hasil penilaian dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memberikan umpan balik.

2. Pembelajaran IPA di SD

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip- prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah dasar bermanfaat bagi murid untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar.

Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkan kompetensi agar murid mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah (Depdiknas, 2006). Pendidikan Sains diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu murid untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk

(30)

16

mengembangkan kompetensi agar murid mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, dan narasumber lain.

IPA sebagai produk berisi prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan teori-teori yang menjelaskan berbagai fenomena yang terjadi di alam. IPA sebagai proses merupakan sejumlah keterampilan untuk mengkaji fenomena-fenomena alam dengan cara-cara tertentu untuk memperoleh ilmu dan pengembangan ilmu itu selanjutnya.

Sedangkan sikap ilmiah adalah sikap yang dimiliki para ilmuwan dalam mencari dan mengembangkan pengetahuan baru, misalnya objektif terhadap fakta, hati-hati, bertanggung jawab, dan sebagainya. Hal ini diperjelas oleh Trianto (2008:61) yang mengemukakan bahwa:

IPA adalah suatu kumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah seperti observasi dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, terbuka, jujur, dan sebagainya.

Sedangkan James, 1997 (Samatowa, 2006:1) mendefinisikan “IPA sebagai suatu deretan konsep serta skema konseptual yang berhubungan satu sama lain dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan observasi, serta berguna untuk diamati dan dieksperimentasikan lebih lanjut”.

Ardhana (1999:21) memberikan definisi pendidikan IPA sebagai berikut:

(1) suatu cabang pengetahuan yang menyangkut fakta-fakta yang tersusun secara sistematis dan menunjukan berlakunya hukum-hukum umum, (2) pengetahuan yang didapatkan dengan jalan studi dan praktek, dan (3) suatu cabang yang bersangkut paut dengan observasi dan klasifikasi fakta-fakta, terutama dengan disusunnya hukum-hukum umum dengan induksi dan hipotesis.

(31)

17

Untuk memahami IPA bisa kita tinjau dari istilah dan dari sisi dimensi IPA.

Dari istilah, IPA adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang alam sekitas beserta isinya. Hal ini berarti IPA mempelajari semua benda yang ada di alam, peristiwa, dan gejala-gejala yang muncul di alam. Ilmu dapat diartikan sebagai suatu pengetahuan yang bersifat objektif. Jadi dari sisi istilah IPA adalah suatu pengetahuan yang bersifat objektif tentang alam sekitar beserta isinya.

Hakekat IPA ada tiga yaitu IPA sebagai proses, produk, dan pengembangan sikap. Proses IPA adalah langkah yang dilakukan untuk memperoleh produk IPA.

Proses IPA ada dua macam yaitu proses empirik dan proses analitik. Proses empirik suatu proses IPA yang melibatkan panca indera. Yang termasuk proses empirik adalah observasi, pengukuran, dan klasifikasi.

Di dalam IPA termuat aktivitas mempertanyakan dan meneliti fenomena alam melalui dua karakteristik, yaitu empiris dan analitis. Karakteristik empiris diperoleh melalui kegiatan observasi dan mendeskripsikan segala sesuatu yang ada di sekitar.

Sedangkan karakteristik analitis berupa pencarian makna dari hasil observasinya. Prosedur empiris dan analitis dalam usaha mengungkapkan dan menjelaskan fenomena tersebut disebut dengan proses ilmiah pembelajaran IPA mencakup aktivitas yang mengembangkan keterampilan-keterampilan proses, sehingga pembelajaran IPA tidak hanya mencakup produk IPA tetapi juga proses pembelajaran itu sendiri

Untuk memperjelas pengetahuan kita tentang hakekat IPA perlu dikemukakan istilah-istilah ”fakta, konsep, prinsip, dan teori” (Rusmin, 1995: 9) sebagai berikut:

(32)

18

1) Fakta dalam IPA adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif.

2) Konsep IPA adalah suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta.

Konsep merupakan penggabungan antara fakta-fakta yang ada hubungannya satu sama lain.

3) Prinsip IPA adalah generalisasi tentang hubungan antara konsep- konsp IPA. Contohnya: udara yang dipanaskan memuai, adalah prinsip menghubungkan konsep udara, panas, pemuaian. Artinya udara akan memuai jika udara tersebut dipanaskan.

4) Teori ilmiah merupakan karangka yang lebih luas dari fakta-fakta, konsep-konsep, dan prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Teori bisa juga dikatakan sebagai model, atau gambar yang dibuat oleh ilmuan untuk menjelaskan gejala alam.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang mempelajari fenomena-fenomena yang terjadi di alam semesta ini yang berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip dan juga proses penemuan itu sendiri melaui kegiatan empirik dan analiti yang dilakukan oleh para ilmuwan yang diperoleh dari pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah

3. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make-A Match a. Pengertian Model Pembelajaran Make-A Match

Pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match (mencari pasangan) adalah model pembelajaran dimana murid mencari pasangan kemudian bergabung untuk saling menanyakan atau mencocokkan antara soal dengan jawaban. Menurut Widodo (2009: 56) “Model pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match (mencari pasangan) termasuk pembelajaran dengan tingkat mobilitas cukup tinggi, di mana murid akan mencari pasangan dan nantinya harus mencocokkan antar soal dengan jawaban”. Model Pembelajaran kooperatif tipe Make a Match artinya model pembelajaran Mencari Pasangan. Setiap murid mendapat sebuah kartu (bisa soal atau jawaban), lalu secepatnya mencari pasangan yang sesuai dengan kartu yang ia

(33)

19

pegang. Suasana pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe Make a Match akan riuh, tetapi sangat asik dan menyenangkan.

Model pembelajaran mencari pasangan memungkinkan murid untuk melakukan pertukaran informasi sehingga mendapatkan informasi tambahan tentang suatu materi dari pasangan yang lain. Biasanya materi yang cocok untuk model ini adalah materi-materi yang memerlukan pertukaran informasi dan membahas informasi serta membahas konsep-konsep.

b. Langkah-langkah model pembelajaran Kooperatif Tipe Make-A Match Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match (mencari pasangan) Jamal ma‟mur (2011: 45) sebagai berikut:

1) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaiknya satun bagian kartu berisi soal dan bagian lainnya berisi jawaban

2) Setiap murid mendapat satu buah kartu

3) Tiap murid memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegangnya

4) Setiap murid mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya

5) Setiap murid yang dapat memcocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin

6) Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya

7) Demikian seterusnya 8) Kesimpulan/penutup

Sedangkan menurut Dzaki (2009: 56) Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipeMake-A Match sedagai berikut:

1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep/topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi kartu berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban)

2. Setiap murid mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.

3. Murid mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal/kartu jawaban)

(34)

20

4. Murid yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin

5. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya

6. Kesimpulan.

c. Kelebihan dan Kekurangan model pembelajaran Kooperatif Tipe Make-A Match

Model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match memberikan kelebihan bagi murid, di antaranya sebagai berikut:

1. Mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan 2. Materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian

murid

3. Kerjasama antar sesama murid terwujud dengan dinamis.

Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match memberikan kekurangan bagi murid, di antaranya sebagai berikut:

1. Pada kelas yang gemuk (<30 murid/kelas) jika kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali.

2. Memerlukan waktu yang lama dalam proses pembelajaran.

4. Materi IPA

Konsep Daur Hidup Hewan

Daur hidup pada beberapa hewan serangga, agar kamu dapat mengetahui tahap-tahap perubahan bentuk yang dialami oleh berbagai hewan dalam hidupnya.

a. Daur hidup tanpa metamorphosis

Sebagian besar hewan mengalami daur hidup tanpa metamorphosis. Seperti yang telah diterangkan bahwa ayam dalam daur hidupnya tidak mengalami

(35)

21

metamorphosis. Begitu juga dengan kucing, ka mbing, ikan, burung, dan banyak hewan lain.

1. Daur hidup ayam

Ayam menghasilkan anak dengan cara bertelur. Telur ayam perlu dierami kira-kira 21hari agar dapat menetas. Setelah pertumbuhan bakal anak ayam di dalam telur sempurna, telur menetas menjadi anak ayam. Anak ayam ini tampak lucu dengan bulu-bulu halus berubah menjadi bulu-bulu seperti induknya. Bulu ayam dewasa ini lebih besar dan memiliki semacam poros di tengahnya. Akhirnya, semua bulu halus anak ayam bergantian menjadi seperti bulu induknya. Ayam betina seperti induk betina. Ayam jantan menjadi seperti ayam jago dewasa.

2. Daur hidup kucing

Kucing menghasilkan anak dengan cara beranak (melahirkan).

Sebelum naka lahir, kucing dewasa mengalami masa mengandung selama kira-kira tiga bulan. Setelah itu lahirlah anak kucing yang belum dapat bergerak dengan lincah. Anak kucing ini belum dapat makan sendiri. Dia menyusu ke induknya. Setelah umunya lebih dari sebulan, anak kucing baru dapat memakan makanan lain. Sejak lahir sampai dewasa, tubuh kucing tidak berubah bentuk.

3. Daur hidup kanguru

Kanguru banyak hidup di benua Australia. Beberapa jenis kanguru juga hidup di papua (Irian Jaya). Kanguru menghasilkan anak dengan cara beranak (melahirkan). Berbeda dengan kucing, kanguru mengandung kira-

(36)

22

kira hanya sebulan. Anak kanguru yang lahirpun masih sangat kecil dan lemah.

b. Daur Hidup Dengan Metamorfosis

Berdasarkan perubahan bentuk tubuh hewan, metamorphosis dibagi menjadi dua golongan sebagai berikut:

1) Metamorfosis sempurna (lengkap)

Metamorphosis sempurna dialami hewan yang saat lahir berbeda sekali bentuknya dengan hewan dewasa. Metamorphosis sempurna antara lain pada kupu-kupu, lalat, nyamuk, dan katak.

a) Daur hidup nyamuk

Jika nyamuk betina bertelur, telur nyamuk menetas menjadi jentik- jentik. Jentik-jentik berubah menjadi kepompong. Kepompong berubah bentuk menjadi nyamuk muda, dan kemudian menjadi nyamuk dewasa.

Karena perubahan bentuknya mengalami tahap kepompong, maka nyamuk dikatakan mengalami metamorfosis sempurna.

b) Daur hidup kupu-kupu

Ketika kupu-kupu dewasa bertelur, telurnya akan menetas menjadi larva yang berbentuk ulat, ulat menjadi kepompong dan kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu dewasa. Seperti pada nyamuk, Kupu- kupu mengalami tahap kepompong sehingga dikatakan kupu-kupu melakukan metamorfosis sempurna.

(37)

23

c) Daur hidup lalat

Daur hidup lalat dimulai dari telur. Telur lalat biasanya berada di tempat-tempat yang kotor, misalnya di atas timbunan sampah dan kotoran.

Telur menetas menjadi belatung. Bentung belatung seperti cacing kecil.

Belatung bergerak dan merayap mencari makanannya. Belatung aling banyak berada ditempat yang kotor dan bau. Kemudian belatung tumbuh dan berubah menjadi pupa. Pupa tidak bergerak. Pupa menempel ditempat kotor.

d) Daur hidup katak

Katak adalah salah satu hewan bukan serangga yang megalami metamorfosis. Kupu-kupu, nyamuk, lalat dan kecoa termasuk golongan serangga. Katak merupakan hewan amfibi, yaitu hewan yang hidup di air dan di darat. Sepanjang hidupnya katak hidup di dua alam. Katak tidak dapat bertahan hidup jika tinga di air saja atau di darat saja.

Daur hidup katak dimulai dari telur. Telur katak berada di air. Telur menetas menjadi kecebong (berudu). Bentuk kecebong seperti ikan teri.

Kecebong hidup dan tumbuh dalam air. Kecebong bernafas dengan insang.

Kemudian, pada kecebong tumbuh sepasang kaki belakang dan disusul sepasang kaki depan. Kecebong berubah menjadi katak berekor.

Semakin lama ekor katak semakin mengerut. Katak berekor tumbuh dan berubah menjadi katak muda. Akhirnya ekor katak hilang.

(38)

24

2) Metamorfosis tidak sempurna (tidak lengkap).

Metamorfosis tidak sempurna dialami hewan yang saat lahir tidak terlalu berbeda bentuknya dengan hewan dewasa. Metamorfosis tidak sempurnaterjadi pada kecoa (lipas) dan belalang

B. Kerangka Pikir

IPA merupakan ilmu yang mempelajari tentang alam secara sistematis, sehingga diharapkan dapat dijadikan wahana bagi murid untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya. Rendahnya hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan disebabkan karena pemilihan model pembelajaran yang kurang melibatkan murid untuk aktif dalam proses pembelajaran.

Dengan dasar inilah sehingga peneliti menjadikan sebagai landasan berpikir bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipeMake- A Match dapat membantu murid dalam mempelajari materi IPA konsep daur hidup hewan sehingga dapat meningkatkan pemahaman murid. Adapun bagan kerangka pikir di bawah ini adalah sebagai berikut:

(39)

25

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis tindakan

Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Jika model pembelajaran Kooperatif Tipe Make- A Match diterapkan dalam proses belajar mengajar maka hasil belajar IPA Konsep daur hidup hewan pada kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar meningkat”.

Model pembelajaran Kooperatif TipeMake- A

Match Proses Belajar Mengajar

Di SD Inpres Kajenjeng

Konsep

Daur Hidup Hewan

Hasil Belajar IPA

Siklus I Siklus I

Analisis

Temuan

Rekomendasi Refleksi

(40)

26

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dimana jenis penelitian ini merupakan kajian tentang sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan didalamnya. Langkah-langkah tindakan yang ditempuh merupakan kerja yang berulang (siklus-siklus) sebagaimana yang dikembangkan oleh Kenmis dan MC. Taggar yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi, hingga diperoleh pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar murid pada mata pelajaran IPA konsep daur hidup hewan kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar. PTK merupakan salah satu alternatif cara yang sangat strategis bagi guru untuk meningkatkan dan/atau memperbaiki layanan pendidikan bagi guru dalam konteks untuk perbaikan proses pembelajaran.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar.

Pelaksanaan penelitian ini mulai dari bulan Mei dan berakhir pada bulan Juni 2013.

Subjek penelitian ini adalah murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar yang bejumlah 20 orang yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 10 orang perempuan.

26

(41)

27

C. Fokus Penelitian

Untuk menjawab permasalahan tersebut di atas maka fokus penelitian sebagai berikut :

1. Faktor guru, yaitu melihat Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make - A Match pada bidang studi IPA konsep daur hidup hewan murid kelas IV SD

Inpres Kajenjeng Kota Makassar.

2. Faktor proses, yaitu yang diselidiki interaksi antara guru dan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik lainnya agar kegiatan belajar mengajar dapat optimal dengan penerapan penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Make - A Match.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II, dimana antara pelaksanaan tindakan siklus I dengan pelaksanaan tindakan siklus II merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan. Dalam artian bahwa, pelaksanaan tindakan siklus II merupakan kelanjutan dan perbaikan dan pelaksanaan tindakan siklus I.

Selanjutnya desain penelitian secara umum digambarkan seperti bagan di bawah ini:

1. Perencanaan

2. pelaksanaan 4. Refleksi

3. Observasi SIKLUS I

(42)

28

Gambar 3.1. Desain Penelitian Tindakan Kelas (Sumber : wina Sanjaya, 2010 :6 )

Secara rinci pelaksanaan penelitian untuk dua siklus ini sebagai berikut:

1. Siklus I dilaksanakan dengan dua kali pertemuan, sebanyak empat jam pelajaran (4x35 menit).

2. Siklus II dilaksanakan dengan dua kali pertemuan sebanyak empat jam pelajaran (4x35 menit).

Prosedur tindakan dalam penelitian ini terdiri atas 4 komponen, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.

Siklus I

a. Perencanaan

1) Menelaah kurikulum KTSP kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada semester genap.

2) Membuat rencana pembelajaran untuk setiap pertemuan, Lampiran I

3) Membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan murid selama tindakan berlangsung, Lampiran II

4) Membuat media kartu yang berisi soal dan jawaban, Lampiran III 5) Membuat instrument tes hasil belajar murid, Lampiran IV

b. Pelaksanaan tindakan

Pada tahap ini melaksanakan rencana pembelajaran yang telah direncanakan yaitu:

(43)

29

1) Mengemukakan standar kompetensi yang ingin dicapai dan menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar ini akan dilaksanakan model pembelajaran aktif.

2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari

3) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk resi review, sebaliknya datu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

4) Setiap murid mendapatkan satu buah kartu.

5) Tiap murid memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

6) Setiap murid mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawab)

7) Setiap murid yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu diberi poin.

8) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelemnya.

9) Demikian seterusnya

10) Guru memberikan kesimpulan 11) Kesimpulan/penutup

12) Evaluasi c. Observasi

Pada prinsipnya tahap observasi dilakukan selama penelitian berlangsung dan yang terdapat pada lembar observasi adalah keadaan murid selama proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas.

(44)

30

d. Refleksi

Refleksi ini dilakukan pada akhir siklus I. Data yang diperoleh pada siklus pertama inilah yang dijadikan acuan penulis untuk merencanakan siklus kedua, sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya hendaknya lebih baik dan siklus sebelumnya

Siklus II

a. Perencanaan

1) Menelaah kurikulum KTSP kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada semester genap.

2) Membuat rencana pembelajaran untuk setiap pertemuan, Lampiran I

3) Membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan murid selama tindakan berlangsung, Lampiran II

4) Membuat media kartu yang berisi soal dan jawaban, Lampiran III 5) Membuat instrument tes hasil belajar murid, Lampiran IV

b. Pelaksanaan tindakan

Pada tahap ini melaksanakan rencana pembelajaran yang telah direncanakan yaitu:

1) Mengemukakan standar kompetensi yang ingin dicapai dan menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar ini akan dilaksanakan model pembelajaran aktif.

2) Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari

(45)

31

3) Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk resi review, sebaliknya datu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.

4) Setiap murid mendapatkan satu buah kartu.

5) Tiap murid memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.

6) Setiap murid mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawab)

7) Setiap murid yang dapat mencocokkan kartu sebelum batas waktu diberi poin.

8) Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap murid mendapat kartu yang berbeda dari sebelemnya.

9) Demikian seterusnya

10) Guru memberikan kesimpulan 11) Kesimpulan/penutup

12) Evaluasi c. Observasi

Pada prinsipnya tahap observasi dilakukan selama penelitian berlangsung dan yang terdapat pada lembar observasi adalah keadaan murid selama proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas.

d. Refleksi

Refleksi ini dilakukan pada akhir siklus II. Data yang diperoleh pada siklus kedua inilah yang dijadikan acuan penulis untuk merencanakan siklus

(46)

32

berikutnya, sehingga hasil yang dicapai pada siklus berikutnya hendaknya lebih baik dan siklus sebelumnya.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini dilakukan dengan tes, observasi, dan angket.

Tiga teknik tersebut diuraikan sebagai berikut:

1. Tes

Tes dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang hasil belajar murid terhadap mata pelajaran IPA. Tes dilaksanakan pada akhir setelah diberikan serangkaian tindakan.

2. Observasi

Obsevasi dilaksanakan oleh orang yang terlibat aktif dalam pelaksanaan tindakan yaitu guru yang mengajar di kelas IV Pada pengamatan ini peneliti bertindak sebagai observer digunakan pedoman pengamatan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting.

3. Dokumentasi

Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari data sekunder dari guru atau kepala sekolah. Adapun data yang akan diperoleh dari teknik dokumentasi ini, misalnya hasil belajar murid, portofolio murid, murid nakal, murid pintar dan lain-lain serta foto-foto kegiatan pelaksanaan penelitian dan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang berlangsung di kelas pada mata pelajaran IPA setelah Model pembelajaran kooperatif tipe Make-A Match.

(47)

33

F. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi bertujuan untuk mengetahui kesesuaian antara perencanaan dan tindakan yang telah disusun serta untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat menghasilkan perubahan yang sesuai dengan yang dikehendaki.

2. Tes

Tes yang dilakukan untuk mengetahui hasil setiap akhir siklus setelah penggunaan penerapan kooperatif tipe Make-A Match dalam proses pembelajaran.

3. Dokumentasi

pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mencari data sekunder dari guru atau kepala sekolah. Adapun data yang akan diperoleh dari teknik dokumentasi ini, misalnya hasil belajar murid.

G. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh dari pelaksanaan observasi dianalisis secara kualitatif sedangkan data hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Makassar dianalisa secara kuantitatif dengan menggunakan statistik deskriptif yaitu skor rata-rata, persentase, nilai minimun dan nilai maksimun yang dicapai murid setiap siklus.

Perhitungan persentase kemampuan tiap responden dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

(48)

34

P= x 100%

Ket :

P= Kemampuan

F= Jumlah jawaban benar N= Jumlah item

Sumber : Arif Tiro (2010 :103)

Kriteria yang digunakan untuk menentukan kategari hasil belajar murid adalah berdasarkan teknik kategorisasi skala lima. Menurut Depdikbud (2003 : 7) bahwa : skor standar umum yang digunakan adalah skala lima yaitu pembagian tingkat penguasaan yang terbagi atas lima kategori, yaitu :

Tabel 3.1 Tabel Kategorisasi Standar untuk mata pelajaran IPA di SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar

No Kemampuan Tingkat penugasan

1 2 3 4 5

0 – 59 60 – 69 70 – 79 80 – 89 90 – 100

Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi (Modifikasi dari Nurgiantoro, 2010:253)

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dari penelitian ini adalah apabila terjadi peningkatan skor rata-rata hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan dari tahap pertama ke tahap kedua dan 85% murid yang mencapai nilai KKM yaitu sebesar 65.

N F

(49)

35

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan pada pokok bahasan daur hidup hewan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar. Pada bagian ini

dibahas secara rinci mengenai hasil penelitian berdasarkan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif adalah rumusan penelitian dalam bentuk pernyataan yang diarahkan untuk mencapai indikator keberhasilan yang diajukan dalam penelitian ini, sedangkan hasil analisis kuantitatif adalah gambaran tingkat hasil belajar IPA konsep daur hidup hewan. Pernyataan itu didasarkan pada data yang diperoleh dan hasil pengamatan selama proses pembelajaran pada akhir siklus.

1. Siklus I

a. Aktifitas Belajar Hasil Observasi

Kegiatan observasi dalam pelaksanaan tindakan siklus I diamati oleh satu orang pengamat yaitu guru kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar.

Berdasarkan hasil observasi murid yang dilakukan pada kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match pada siklus I pertemuan I dilaksanakan dengan alokasi waktu 2 x 45 menit didapatkan data sebagai berikut:

(50)

36

Tabel 4.1 Distribusi dan Frekuensi Aktifitas Belajar Murid pada Siklus I

No Kriteia Penilaian Pertemuan

I II Rata-

rata Persen

1 Murid yang memikirkan

jawaban/soal dari kartu yang dipegang

9 13 11 55%

2 Murid yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberikan

9 12 10.5 52.50%

3 Murid yang dapat mencocokkan

kartunya dengan benar 10 13 11.5 57.50%

4 Murid yang tertib dalam proses

pembelajaran 10 12 11 55%

Sumber:Hasil Lembar Obseravsi Murid, di Olah Dari Lampiran VI

Berdasarkan tabel 4.1 di atas, diperoleh pada siklus I pertemuan I hanya 9 murid pada pertemuan II meningkat menjadi 13 murid dari 20 orang jumlah murid secara keseluruhan dengan rata-rata presentase 55%, murid yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberikan pada pertemuan I hanya 9 murid pada pertemuan II meningkat sebanyak 12 murid dari 20 orang jumlah murid secara keseluruhan dengan rata-rata presentase 52.50%, murid yang dapat mencocokkan kartunya dengan benar pada pertemuan I hanya 10 murid kemudian mengalami peningkatan pada pertemuan II sebanyak 13 murid dari 20 orang jumlah murid secara keseluruhan dengan rata-rata presentase 57.50%, dan murid tertib dalam proses pembelajaran pada pertemuan I hanya 10 murid kemudian pada pertemuan II mengalami peningkatan menjadi 12 murid dari 20 orang jumlah murid secara keseluruhan dengan rata-rata presentase 55%.

Berdasarkan hasil observasi tersebut di atas disimpulkan bahwa pada siklus pertama pertemuan kedua sudah mengalami peningkatan dari pertemuan pertama.

Dalam proses pembelajaran pertemuan kedua ini peneliti memperbaiki kesalah-

(51)

37

kesalah yang terjadi pada pertemuan pertama namun masih memerlukan perbaikan.

Hal ini terlihat banyaknya murid yang tidak dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberikan dalam proses pembelajaran berlangsung pada saat penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match.

b. Hasil Belajar

Pada akhir siklus I ini, diperoleh gambaran tentang hasil belajar IPA di kelas IV yang menjadi subjek penelitian dengan pokok bahasan konsep daur hidup hewan.

1) Nilai Statistik hasil belajar

Nilai statistik hasil belajar akhir siklus ini diikuti oleh semua murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar yang berjumlah 20 orang. Adapun data nilai statistik hasil belajar murid pada tes akhir siklus I ini dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.2. Statistik Hasil Belajar Murid pada Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Subjek Nilai ideal Nilai tertinggi Nilai terendah Rentang Nilai Nilai rata-rata

20 100

85 45 40 67.00 Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah dari lampiran VII

Tabel 4.2 diatas diperoleh informasi bahwa nilai rata-rata hasil belajar murid IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar setelah proses belajar mengajar dengan menerapka model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match yang dilaksanakan pada Siklus I adalah 67.00 dengan nilai ideal yang mungkin dicapai 100. Sedangkan secara individual, nilai yang dicapai responden tersebar dari nilai terendah 45 dari

(52)

38

nilai minimum ideal yang mungkin dicapai 0 sampai dengan nilai tertinggi 85 dari nilai ideal yang mungkin dicapai 100 dengan rentang nilai 40.

2) Kategori hasil belajar

Kategori hasil belajar nilai penguasaan murid di atas dikelompokkan ke dalam lima kategori maka diperoleh distribusi frekuensi nilai seperti ditunjukkan pada Tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada Siklus I

No Nilai Kategori Frekuensi Persen (%)

1.

2.

3.

4.

5.

90 – 100 80 – 89 70 – 79 60 – 69 0 – 59

Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah

0 3 9 4 4

0.00 15.00 45.00 20.00 20.00

Jumlah 20 100.00

Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah dari lampiran VII

Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat dikemukakan bahwa dari 20 murid Kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar tidak terdapat murid yang masuk dalam kategori sangat tinggi, 15% masuk dalam kategori tinggi, 45% masuk dalam kategori sedang, 20% masuk dalam kategori rendah dan 20% masuk dalam kategori sangat rendah.

Nilai rata-rata hasil belajar murid yang diperoleh setelah proses belajar mengajar selama Siklus I berlangsung yaitu sebesar 67.00. Setelah dikategorisasikan berdasarkan tabel di atas, mengetahui bahwa tingkat hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar berada ada kategori sedang.

(53)

39

3) Tingkat ketuntasan hasil belajar

Apabila tes hasil belajar murid pada Siklus I kemudian dikategorikan dalam kriteria ketuntasan minimum yang berlaku di SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar untuk mata pelajaran IPA konsep Daur Hidup Hewan maka diperoleh persentase ketuntasan belajar murid pada Siklus I seperti pada Tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Tingkat Ketuntasan hasil Belajar murid kelas IV SD Inpres Kajenjeng Kota Makassar pada Siklus I

kriteria

Ketuntasan Kategori Frekuensi Persen (%) 0 – 64

65 – 100

Tidak tuntas Tuntas

8 12

40.00 60.00

Jumlah 20 100

Sumber: Analisis data hasil tes murid, di olah dari lampiran VII

Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa persentase ketuntasan belajar murid setelah diterapkannnya model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match sebesar 60%

atau 12 orang murid dari 20 orang murid termasuk dalam kategori tuntas, dan 40%

atau 8 orang murid dari 20 orang murid termasuk dalam kategori tidak tuntas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat 10 murid perlu perbaikan karena belum mencapai kriteria ketuntasan minimum yang ditetapkan yaitu 65.00.

c. Refleksi

Pelaksanaan tindakan kegiatan siklus I difokuskan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Make- A Match dengan konsep daur hidup hewan.

Untuk memperoleh data tentang pelaksanaan tindakan siklus I dilakukan pengamatan, tes, dan dokumentasi. Hasil pengamatan, tes, dan dokumentasi selama pelaksanaan tindakan dianalisis dan didiskusikan dengan pengamat sehingga diperoleh hal-hal sebagai berikut:

Gambar

Tabel                                       Judul                                                        Halaman  1
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pikir
Tabel 3.1 Tabel Kategorisasi Standar untuk mata pelajaran IPA di SD Inpres  Kajenjeng Kota Makassar
Tabel 4.1 Distribusi dan Frekuensi Aktifitas Belajar Murid pada Siklus I
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penggunaan media kartu kata bergambar untuk meningkatkan kemampuan ekspresif struktur kalimat pada anak tunarungu kelas V di SLBN 02 Lenteng Agung Jakarta (penelitian

PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PPh FINAL DAN PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK OBJEK PAJAK TETAPI TERMASUK DALAM PEREDARAN USAHA. JUMLAH (3a

Dalam penelitian ini, peneliti berperan mengumpulkan data dan menganalisis secara langsung melalui wawancara agar dapat mendeskripsikan alur berpikir siswa dalam

Menimbang, bahwa terhadap saksi-saksi yang dihadirkan Penggugat adalah dari pihak keluarga dekat Penggugat, dan dari keterangan yang disampaikan oleh

(2) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Sekretaris Jenderal atas nama Menteri menyampaikan usulan pengangkatan PNS dalam Jabatan Fungsional

Masih banyak siswa kelas V SD IT Baitul Jannah yang belum dapat melakukan gerak dasar roll depan dengan benar.. Kurangnya kemampuan melakukan tolakan untuk gerak dasar

Pengadaan Kontruksi Turap Kantor Inspektorat Kabupaten Bengkayang di Bengkayang. Lansung /

Puji syukur Penulis persembahkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya Penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum (skripsi) yang berjudul “ IMPLEMENTASI