• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Teori yang Mendukung

2.1.3. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan baru yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses belajar-mengajar tentang mata pelajaran tertentu (Supratiknya, 2012: 5). Hasil belajar merupakan terbangunnya pengetahuan baru melalui interaksi dengan lingkungan. Hasil belajar diperoleh siswa secara aktif dan mandiri. Winkel (2004: 62) mengungkapkan bahwa hasil belajar yang diperoleh melalui proses belajar dapat berupa kemampuan baru sama sekali maupun penyempurnaan atau pengembangan dari suatu kemampuan yang telah dimiliki .

Susanto (2013: 5) mengungkapkan bahwa hasil belajar adalah perubahan- perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar. Hasil belajar dapat

diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi tertentu.

Menurut beberapa pendapat tentang hasil belajar, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar yang aktif dan mandiri. Kemampuan baru yang ditekankan lebih sebagai pengetahuan, pemahaman, sikap, dan keterampilan psikomotorik.

2.1.4. Kurikulum

Pendidikan bertujuan menguasai pengetahuan, pengembangan kepribadian, kemampuan sosial, ataupun kemampuan dalam bekerja. Penyampaian tujuan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan tersebut membutuhkan metode penyampaian serta alat-alat bantu. Menilai hasil dan proses pendidikan juga memerlukan cara-cara dan alat penilaian. Tujuan, bahan ajar, metode-alat, dan penilaian merupakan komponen utama dalam kurikulum. Kurikulum dikatakan sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan serta pedoman pelaksanaan bagi semua jenjang pendidikan (Sitepu, 2012: 57).

2.1.4.1. Perkembangan Kurikulum

Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan sistem kurikulum dalam penyelenggaraan pendidikan. Indonesia pernah mengalami 10 kali perubahan kurikulum (Suparlan, 2011: 87-92). Kurikulum yang pertama adalah Rencana Pelajaran 1947. Rencana Pelajaran 1947 merupakan kurikulum pertama di Indonesia. Rencana pelajaran yang disusun memperhatikan

diantaranya: (1) mengurangi pendidikan pikiran; (2) menghubungkan isi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari; (3) memberikan perhatian kepada kesenian; (4) meningkatkan pendidikan watak; (5) meningkatkan pendidikan jasmani; dan (6) meningkatkan kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Rencana Pelajaran termasuk kurikulum dengan mata pelajaran terpisah-pisah.

Perubahan yang pertama menjadi Rencana Pelajaran Tahun 1950. Rencana Pelajaran 1950 lahir karena tuntutan kelahiran UU No. 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengajaran di Sekolah. Kurikulun yang ketiga adalah Rencana Pelajaran 1958. Rencana Pelajaran 1958 merupakan penyempurnaan dari Rencana Pelajaran 1950. Kurikulum yang keempat adalah Rencana Pelajaran 1964, merupakan kurikulum penyempurnaan dari Rencana Pelajaran 1958. Terdapat pembagian kelompok cipta, rasa, karsa, dan krida.

Kurikulum yang kelima adalah Kurikulum 1968. Kurikulum 1968 merupakan kurikulum terpadu pertama di Indonesia. Mata pelajaran Ilmu Hayat, Ilmu Alam, dan sebagainya mengalami perubahan menjadi Ilmu Pengetahuan Alam atau yang sekarang disebut Sains. Struktur program dibagi menjadi (1) pembinaan jiwa pancasila; (2) pengetahuan dasar; dan (3) kecakapan khusus. Struktur program untuk Sekolah Dasar program pembinaan jiwa pancasila meliputi mata pelajaran (1) Pendidikan Agama, (2) Pendidikan Kewarganegaraan, (3) Pendidikan Bahasa Indonesia, (4) Bahasa Daerah, dan (5) Pendidikan Olahraga. Program pengetahuan dasar meliputi mata pelajaran (1) Berhitung, (2) IPA, (3) Pendidikan Kesenian, dan (4) Pendidikan Kesejahteraan Keluarga.

Kurikulum keenam adalah Kurikulum 1975. Kurikulum ini lahir sebagai ketetapan MPR No.IV/MPR/1973 tentang GBHN 1973, dengan tujuan pendidikan

“membentuk manusia Indonesia untuk pembangunan nasional di berbagai bidang. Struktur program untuk Sekolah Dasar meliputi bidang studi (1) Agama, (2) Pendidikan Moral Pancasila, (3) Bahasa Indonesia, (4) Ilmu Pengetahuan Sosial, (5) Matematika, (6) Ilmu Pengetahuan Alam, (7) Olahraga dan Kesehatan, (8) Kesenian, dan (9) Keterampilan Khusus.

Kurikulum yang ketujuh adalah Kurikulum 1984. Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 1975. Terdapat empat aspek yang disempurnakan dalam Kurikulum 1984, yakni: (1) pelaksanaan PSBB, (2) penyesuaian tujuan dan struktur program kurikulum, (3) pemilihan kemampuan dasar serta keterpaduan dan keserasian antara ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, (4) pelaksanaan pembelajaran berdasarkan tuntutan belajar yang disesuaikan dengan kecepatan belajar masing-masing peserta didik.

Kedelapan adalah Kurikulum 1994. Kurikulum 1994 merupakan pelaksanaan amanat UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum 1994 berisi 3 lampiran: (1) Landasan, Program, dan Pengembangan Kurikulum, (2) GBPP, dan (3) Pedoman Pelaksanaan Kurikulum. Kurikulum kesembilan adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum KBK belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia.

Perubahan kurikulum yang kesembilan menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal yang berorientasi pada hasil belajar.

Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi dengan sumber belajar bukan hanya guru tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Perubahan atau perkembangan kurikulum menunjukkan bahwa sistem pendidikan itu dinamis. Perubahan kurikulum dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi. Pemerintah sekarang ini juga sedang melakukan memperbaiki Kurikulum 2006 atau KTSP dengan diberlakukannya Kurikulum 2013. Perubahan tersebut dilakukan sebagai bentuk umpaya menyempurnakan sistem pendidikan di Indonesia.

2.1.5. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang baru mulai diterapkan pada tahun 2013/2014. Pengembangan kurikulum 2013 menyempurnaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006. Titik tekan pada kurikulum 2013 adalah adanya peningkatan dan penyeimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Fadlillah, 2014: 16). Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan pola pikir, penguatan proses pembelajaran, dan penyesuaian beban belajar agar mampu menjamin kesesuaian antara tujuan yang diinginkan dengan hasilnya. Penyempurnaan Kurikulum 2013 diharapkan dapat menjadi jawaban atas globalisasi bagi dunia pendidikan.

2.1.5.1. Rasionalisasi dan Elemen Perubahan Kurikulum 2013

Elemen-elemen perubahan Kurikulum 2013 mencakup Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Standar Isi (SI), dan Standar Penilaian (Kemendikbud, 2014: 6). Perubahan Kurikulum 2013 pada Kompetensi Lulusan adalah konstruksi holistik, didukung oleh semua mata pelajaran yang terintegrasi secara vertikal dan horisontal. Elemen utama perbaikan Kurikulum 2013 seperti terlihat Tabel 2.3

Tabel 2.2

Elemen Perubahan Kurikulum 2013

ELEMEN DESKRIPSI

Sekolah Dasar

Kompetensi Lususan Adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan Kedudukan mata

pelajaran

Kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi

Pendekatan Kompetensi dikembangakan melalui Tematik terpadu dalam semua mata pelajaran

Struktur Kurikulum (Mata Pelajaran

Holistik dan integratif berfokus kepada alam, sosial, dan budaya Pembelajaran dilaksanakan dengan pendekatan saintifik Jumlah mata pelajaran dari 10 menjadi 6

Jumlah jam pelajaran bertambah 4JP/ minggu akibat perubahan pendekatan pembelajaran

Proses pembelajaran Standar proses yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi dengan mengamati, menanya, mengolah, menalar, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta

Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat

Guru bukan satu-satunya sumber belajar

Sikap tidak dijabarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan Penilaian Penilaian berbasis kompetensi

Pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja), menuju penilaian autentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil)

Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada posisi skor yang diperoleh terhadap skor ideal (maksimal)

Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga pada kompetensi inti dan SKL

Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian.

ELEMEN DESKRIPSI Sekolah Dasar

Ekstrakulikuler Pramuka (Wajib) UKS

PMR

Bahasa Inggris

Sumber: (Mulyasa, 2013: 77-79)

Elemen perubahan perubahan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Kurikulum 2013 mempunyai tujuan untuk menata ulang dan menyempurnakan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah berlaku. Penataan ulang yang dilakukan dengan memperhatikan perkembangan zaman dan kesenjangan yang terjadi saat ini, dengan memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang diterapkan pada siswa. Siswa diharapkan nantinya dapat memperoleh pembentukan pengetahuan, sikap, dan keterampilan secara merata melalui pembelajaran Kurikulum 2013.

2.1.5.2. Pendekatan Tematik Terpadu

Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan tematik terpadu sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran di tingkat Sekolah Dasar. Pendekatan tematik integratif menurut Kemendikbud (2014; 16) mempunyai ciri (a) berpusat pada anak; (b) memberikan pengalaman langsung kepada anak; (c) muatan pembelajaran menyatu dalam satu pemahaman kegiatan pembelajaran; (d) menyajikan konsep dari berbagai pembelajaran dalam satu proses pembeljaran saling terkait antar muatan pembelajaran satu dengan yang lain; (e) keterpaduan berbagai muatan pembelajaran bersifat luwes; dan (f) hasil belajar dapat berkembang menyesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa melalui proses dan

hasil belajar siswa. Perubahan kurikulum 2013 dilandasi berbagai hal, antara lain ladasan yuridis, teoritis dan konseptual.

Landasan konseptual pengembangan Kurikulum 2013 ialah pembelajaran kontekstual (Mulyasa, 2013: 65). Pembelajaran konstekstual diupayakan untuk menciptakan kondisi belajar menjadi semenarik mungkin dengan situasi aslinya atau kondisi nyata. Sagala (2009: 88 – 91) menjelaskan komponen pembelajaran kontekstual adalah konstruktivisme atau yang berhubungan dengan perkembangan pemikiran siswa, bertanya, menemuka, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian sebenarnya yang diperoleh dari data – data yang dikumpulkan dari kegitan yang dilakukan oleh siswa. Data bisa berupa proyek atau kegiatan, laporan, tugas rumah, kuis, karya siswa, presentasi, atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis dan karya tulis (Riyanto, 2010: 176). Penciptaan pembelajaran kontestual bertujuan supaya guru mudah dalam mengaitkan pembelajaran dengan kondisi pada kenyataannya.

Pendapat para ahli mengenai pendekatan tematik terpadu, dapat peneliti simpulkan bahwa pendekatan tematik terpadu adalah sebuah pendekatan yang mengusahakan keterkaitan antara bidang studi, antar konsep, antar pokok bahasan, antar tema. Pendekatan tematik terpadu dapat memberikan kebermaknaan bagi peserta siswa. Kebermaknaan tersebut dikarenakan pembelajaran tematik terpadu mengusahakan peserta siswa memperoleh pembelajaran secara holistik, bermakna, dan otentik.

2.1.5.3. Pendekatan Saintifik

Pendekatan yang digunakan dalam pengembangan Kurikulum 2013 adalah dengan pendekatan saintifik (ilmiah). Penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran mempunyai alasan bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Proses pembelajaran dapat dipandang menjadi suatu proses ilmiah. Pendekatak saintifik diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan (Kemendikbud, 2014: 18).Kondisi pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik diharapkan tercipta diarahkan untuk mendorong peserta didik. Pendekatan saintifik sejalan dengan pendekatan keteramapilan proses yang dimaskud oleh Semiawan (1987: 14-15).

Pendekatan keterampilan proses sebagai suatu keterampilan yang menerapkan proses bekerja ilmuan yang sama halnya dengan anak yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, maka guru perlu menyediakan tempat yang tepat agar kebutuhan rasa ingin tahu anak dapat terpenuhi. Semiawan juga memaparkan 13 kemampuan atau sikap dalam keterampilan proses, yaitu: (1) observasi, (2) perhitungan; (3) pengukuran; (4) klasifikasi; (5) hubungan ruang dan waktu; (6) membuat hipotesis; (7) perencanaan penelitian atau eksperimen; (8) pengendalian variabel; (9) interpretasi data; (10) kesimpulan sementara; (11) peramalan; (12) penerapan; dan (13) komunikasi. Penjelasan dari beberapa kemampuan tersebut diuraikan sebagai berikut: Observasi atau pengamatan merupakan keterampilan yang paling mendasar, kita memanfaatkan semua indera kita melalui melihat, mendengar, merasa, mengecap, dan mencium.

Perhitungan dikenal dekat dengan matematika, namun sebenarnya keterampilan menghitung juga digunakan pada ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, bahkan bahasa Indonesia. Guru perlu menciptakan kegiatan yang menarik bagi anak misalnya, menghitung jumlah batu dalam sebuah pot, menghitung jumlah bangku di kelas, dan benda atau objek yang ada disekitar sekolah. Hasil perhitungan tersebut bisa dikomunikasikan atau dikonversikan dengan cara membuat tabel, grafik, atau histogram.

Pengukuran adalah keterampilan yang sering dilakukan oleh ilmuwan untuk melihat suatu perbandingan, sebab dasar dari pengukuran adalah pembanding. Klasifikasi merupakan kegiatan menggolong-golongkan, dengan mengklasifikasikan anak mampu untuk menemukan suatu persamaan maupun perbedaan antara benda-benda disekitarnya. Hubungan ruang atau waktu mengajak siswa belajar misalnya dengan mengenal bangun datar dan bangun ruang.

Membuat suatu hipotesis memerlukan suatu alasan yang dapat menerangkan pengamatan akan suatu kejadian. Misalnya anak diminta untuk membuat hipotesis dari kegiatan menanam tanaman yang diberi pupuk. Anak lalu menduga apa yang terjadi setelah tumbuhan dalam pot diberi pupuk, dan bagaimana jika tidak.

Merencanaan penelitan atau eksperimen dapat dilakukan dengan merancangkan kegiatan untuk anak melakukan suatu percobaan sederhana. Variabel merupakan faktor yang mempengaruhi dalam percobaan, variabel bisa berupa faktor-faktor yang mempengaruhi objek percobaan. Contohnya anak

dilatih mencoba menanam pohon, pengendalian variabel dilakukan dengan memberikan pupuk dengan jumlah yang sama, menyiram air dengan frekuensi yang sama, atau bisa dalam kata lain, perakuan yang diberikan pada objek penelitian adalah sama. Hal tersebut untuk melihat bagaimana pengaruh terhadap objek.

Interpretasi atau penafsiran dilakukan setelah semua tahap sebelumnya terpenuhi. Sebuah data dapat ditafsirkan apabila telah diamati, dihitung, diukur, dan dilakukan eksperimen. Penafsiran data dilakukan bisa dengan membuat tabel atau grafik, dan bisa dengan alat penyajian data yang lainnya. Seorang peneliti membuat kesimpulan sementara setelah melakukan eksperimen. Kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil pengamatan saat melakukan eksperimen. Sehingga sifatnyapun sementara hingga waktu eksperimen yang ditentukan.

Peramalan mengajak anak bisa meramalkan suatu hal berdasarkan hasil pengamatnnya. Contohnya, kemungkinan yang terjadi apabila tumbuhan yang mereka tanam di pot kemudian diletakkan di bawah terik matahari, apa yang terjadi? Lalu kemungkinan bila diberi air terlalu banyak, apa yang terjadi? Keterampilan tersebut akan melatih anak berfikir tentang kemungkinan- kemungkinan yang terjadi sehingga akan baik untuk proses belajarnya.

Penerapan adalah keterampilan yang paling mudah namun sulit untuk diterapkan. Melalui keterampilan menerapkan konsep yang dimiliki dalam kehidupan, anak akan berlatih untuk memecahkan masalah yang dihadapi. Komunikasi adalah keterampilan dasar yang terakhir pada pendekatan keterampilan proses, dalam keterampilan ini anak dilatih untuk menyampaikan

hasil segala belajarnya (eksperimen) yang dilakukan ke dalam sebuah paper ayau sebuah karangan atau bahkan laporan sederhana. Siswa melalui komunikasi ini, menyampaikan hasil percobaan melalui grafik, gambar, model dan sebuah cerita singkat.

Ketigabelas keterampilan perlu dilatihkan guru pada anak melalui pembelajaran, melalui proses tersebut anak akan dilatih belajar layaknya para ilmuwan untuk menemukan pembelajaran baru. Pendapat yang disampaikan Semiawan sejalan dengan pendektan saintifik yang ingin diterapkan pemerintah melalui Kurikulum 2013. Pendekatan saintifik yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 tidak semua keterampilan yang diurakan oleh Semiawan diterapkan dalam pembelajaran. Pemerintah menyesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan siswa.

Pendekatan saintifik Kurikulum 2013 menurut Permendikbud No. 81A Tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran terdiri atas lima pembelajaran pokok yaitu (a) mengamati; (b) menanya; (c) mengumpulkan informasi / eksperimen; (d) mengasosiasikan / mengolah informasi; dan mengomunikasikan. Keterkaitan antara langkah pendekatan saintifik dengan kegiatan belajar dan maknanya dapat dilihat pada tabel 2.3

Tabel 2.3

Pendekatan Saintifik Kurikulum 2013

Langkah

Pembelajaran Kegiatan Belajar Kompetensi yang dikembangkan

Mengamati Membaca, mendengar, menyimak, melihat.

Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi

Menanya Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau

Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan

Langkah

Pembelajaran Kegiatan Belajar Kompetensi yang dikembangkan

pertanyaan untuk mendapat informasi tambahan tentang apa yang diamati

membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat Mengumpulkan

informasi / eksperimen

Melakukan eksperimen Membaca sumber lain selain buku teks

Mengamati objek, kejadian Aktivitas

Wawancara dengan narasumber

Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan

mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat Mengasosiasikan /

mengolah informasi

Mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan / eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi

Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kedapa pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berfikir induktif serta deduktif dalam

menyimpulkan

Mengomunikasikan Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya

Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir kritis sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar

Sumber: (Kemendikbud, 2014: 19)

Pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013, pada dasarnya merujuk pada suatu proses pembelajaran yang menuntun siswa untuk menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Siswa menghadapi permasalahan tersebut dengan mengedepankan ide-ide kreatif siswa, sehingga dapat mengembangkan kemampuan siswa secara holistik mulai dari pengetahuan siswa, pengembangan sikap, sampai dengan keterampilan.

2.1.5.4. Penilaian Otentik

Penilaian otentik merupakan cermin nyata dari kondisi pembelajaran siswa. Penilaian tersebut disebut otentik karena berdasarkan pada pengalaman pribadi, pengalaman langsung di dunia nyata setiap siswa (Basuki, 2014: 168). Secara singkatnya penilaian autentik dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penilaian yang mengharuskan para siswa untuk melaksanakan tugas-tugas dunia nyata yang menunjukkan penerapan dari suatu pengetahuan atau keterampilan. Penilaian autentik pada dunia pendidikan mempunyai pengertian proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.

Pendapat yang sama juga diungkapkan Kemendikbud (2014:36) penilaian otentik memandang penilaian dan pembelajaran adalah dua hal yang saling berkaitan. Penilaian autentik harus menceriminkan masalah dunia nyata. Menggunakan beberbagai cara dan kriteria holistik. Kurikulum 2013 menggunakan penilaian otentik untuk menilai aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kemendikbud (2014: 36) mengungkapkan bahwa guru harus merefleksikan pada diri sendiri, khususnya hal yang berkaitan dengan: (1) sikap, pengetahuan, dan keterampilan apa yang akan dinilai, (2) fokus penilaian akan dilakukan, misalnya berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan, dan (3) tingkat pengetahuan apa yang akan dinilai, seperti penalaran, memori, atau proses.

Penilaian otentik yang telah dipaparkan oleh para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penilaian otentik adalah penilaian yang tidak hanya mengukur atau memberi penilaian pada hasil belajar saja, melainkan lebih menekankan kepada penilaian proses dari awal sampai akhir yang dilakukan oleh siswa. Penilaian otentik ini dapat mengukur tingkat perkembangan siswa dalam menerima pembelajaran. Melalui penilaian otentik ini diharapkan siswa mampu mengeksplorasi segala kemampuan yang mereka miliki secara maksimal.

2.1.5.5. Subtema Gemar Bernyanyi dan Menari

Tabel 2.4 adalah tema-tema yang telah disiapkan untuk siswa Sekolah Dasar kelas I pada Kurikulum 2013.

Tabel 2.4

Pembagian Tema Kelas I SD

Tema Kelas I Diriku Kegemaranku Kegiatanku Keluargaku Pengalamanku

Lingkungan Bersih dan Sehat

Benda, Binatang, dan Tanaman di Sekitar Peristiwa Alam

Sumber: (Kemendikbud, 2014: 17).

Tema kegemaranku adalah tema ke dua dalam semester satu kelas I SD. Tema tersebut dijabarkan dalam 4 subtema yaitu (1) gemar berolahraga; (2) gemar bernyanyi dan menari; (3) gemar menggambar; dan (4) gemar membaca (Kemendikbud, 2014: xxi). Materi dalam tema kegemaranku memuat topik kegemaran atau minat yang dikaitkan antara muatan pembelajaran. Penelitian ini merupakan penelitian kolaboratif, dalam pembagian tema peneliti mendapatkan tema kegemaranku subtema gemar bernyanyi dan menari.

Subtema gemar benyanyi dan menari adalah subtema yang mengajarkan tentang kegemaran siswa bernyanyi dan menari. Pada gemar bernyanyi memuat materi tentang alat musik, dan lagu. Alat musik yang menjadi pembahasan dalam materi ialah gong, saron, suling, rebana, piano, drum, pianika, dan gitar. Lagu cing gemerincing, lagu naik-naik ke puncak gunung, Cublak-Cublak Suweng, dan Ampar-Ampar Pisang menjadi materi pada kegemaran bernyanyi. Gemar menari memuat materi tentang tarian anak yang bertemakan hewan dan macam-macam tari daerah setempat. Tarian anak yang bertemakan hewan contohnya kupu-kupu. Tari topeng, Tari gantar, Tari Panji Semirang, Tari Kipas, Tari Tor-tor, Tari Saman, Tari Yospan dan Poco-poco menjadi pembahasan pada macam-macam tari daerah (Kemendikbud, 2014: 34-62).

2.1.6. Perangkat Pembelajaran

Trianto (2010: 96) menyatakan bahwa perangkat pembelajaran merupakan perangkat yang digunakan dalam proses pengelolaan proses pembelajaran yang meliputi buku peserta didik, silabus, RPP, LKS, soal evaluasi atau tes hasil belajar dan media pembelajaran. Perangkat pembelajaran dapat disusun dan dikembangkan oleh guru maupun peneliti.

Perangkat pembelajaran yang dihasilkan harus sesuai dengan kemampuan peserta didik. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa berangkat pembelajaran adalah segala perlengkapan belajar yang disusun untuk mendukung proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Silabus, RPP, bahan ajar, LKS adalah perangkat pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar

mengajar, namun pengembangan yang dilakukan peneliti hanya akan terfokus pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

2.1.6.1. Silabus

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pembelajaran, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar (Fadlillah, 2014: 135). Ruang lingkup silabus merupakan bagian-bagian yang terdapat dalam silabus yang menjadi gambaran umum untuk bentuk materi yang harus diajarkan kepada siswa. Komponen-komponen dalam silabus, Fadlillah (2014: 136) menjelaskannya sebagai berikut: (1)Kompetensi Inti (KI) adalah tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimilik oleh seorang siswa melalui pembelajaran. (2)Kompetensi Dasar (KD) adalah kemampuan untuk mencapai kompetensi Inti yang harus diperoleh siswa melalui pembelajaran. (3)Materi pembelajaran, berisi tentang materi ajar yang akan diberikan kepada siswa dalam kegiatan pembelajaran. (4)kegiatan pembelajaran, proses kegiatan antara guru-siswa, siswa-siswa, guru-siswa-sumber belajar pada suatu lingkungan pembelajaran. (5)Penilaian, penilaian adalah proses pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar siswa. Pada pelaksanaan Kurikulum 2013 menggunakan penilaian Autentik (Kemendikbud, 2014: 34). (6)Alokasi waktu, alokasi waktu adalah beban waktu yang diberikan untuk setiap kompetensi yang akan dicapai, dan terakhir sumber belajar. Sumber belajar adalah rujukan, objek, dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

2.1.6.2.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Permendikbud No. 81A Tahun 2013 lampiran IV tentang implementasi kurikulum pedoman umum pembelajaran (Kemdikbud, 2013: 37) tahap pertama

Dokumen terkait